You are on page 1of 4

BAB IV ANALISA KASUS

Pada presentasi kasus Ny. RU, G4P1A2, 30 tahun, H 8 minggu ditegakkan diagnosa hyperemesis gravidarum grade I atas dasar : 1. Anamnesa Muntah yang didahului mual, terutama pagi hari dengan frekuensi > 3 x/hari, sejak 1 minggu smrs. Pasien juga menjadi tidak nafsu makan bahkan mencium bau makanan saja sudah ingin muntah, sehingga BB pasien menurun Kondisi pasien yang lemah, walaupun tetap bekerja pasien sempat hampir jatuh pingsan. Pasien merupakan wanita yang sedang hamil muda. Ada kondisi psikologis yan mempengaruhi: Pasien mengaku kehamilan sekarang sebenarnya bukan merupakan keinginan pasien, dan pasien takut kehamilannya akan merepotkan karena baru mendapat pekerjaan rumah tangga dan masih menumpang di tempat majikannya. Pada pasien ini terdapat gejala hiperemesis gravidarum yang sesuai dengan kepustakaan serta adanya faktor psikologis yang dapat menjadi faktor predisposisi maupun etiologi dan juga adanya kepekaan berlebih dari sistem olfaktorius yang juga bisa sebagai etiologi. Dari anamnesis, terpenuhi 5 dari 8 kriteria dari Manuba untuk Hiperemesis gravidarum grade I. 2. Pemeriksaan Fisik Status generalis Pasien tampak sakit sedang, dengan kesadaran compos mentis, dengan tanda vital tensi: 100/70 mmHg; Nadi : 96x/menit; Suhu: 36,5 C, Pernapasan: 20x/menit. Pemeriksaan generalis

34

didapatkan adanya tanda-tanda dehidrasi seperti: mata cekung, mulut kering, lidah kering dan turgor kulit yang menurun seta adanya nyeri tekan epigastrium. Status obstetrikus Abdomen Inspeksi : sedikit membuncit, striae gravidarum (-). Palpasi : TFU 1 jari di atas simfisis Anogenital Inspeksi (-). Inspekulo VT : vagina tumor (-); septa (-), portio livid; ostium tertutup, fluor (-), fluxus (-) : Corpus uteri sebesar telur angsa, antefleksi, portio kenyal; tebal 2 cm tertutup, adneksa massa -/-; nyeri tekan -/-, nyeri goyang portio -/-, cavum douglassi tidak menonjol. Pada pasien ini terdapat tensi yang agak menurun, serta nadi yang cenderung cepat, serta adanya tanda-tanda dehidrasi seperti mulut dan lidah kering dan turgor kulit yang menurun. Untuk mendiagnosa hiperemesis gravidarum sangat penting untuk menilai bahwa pasien tersebut dalam keadaan hamil terlihat dari adanya portio yang livid, kenyal serta adanya corpus uteri sebesar telur angsa. 3. Pemeriksaan Penunjang Darah: meq/L. GDS 82 g/dl Urine: Ketonuria. Natrium : 143 meq/L, Kalium : 3,90 meq/L, Chlorida : 102 : vulva dan uretra tenang, edema (-), varices

35

USG:

Tampak janin intrauterin tunggal hidup - sesuai usia kehamilan

9 minggu, Cairan bebas (-), kedua adneksa dalam batas normal. Nilai-nilai elektrolit didapatkan dalam ambang batas normal, pada kasus ini, terjadi dehidrasi sehingga kekurangan elektrolit terlihat normal. Nilai GDS yang cukup rendah dikarenakan asupan makanan yang kurang pada pasien disertai pengeluaran yang berlebih. Ketonuria umumnya juga terjadi pada pasien hyperemesis gravidarum. Penyebabnya adalah intake karbohidrat yang kurang, sehingga terjadi pemecahan lemak berlebihan dan terjadi kenaikan keton darah. Pada USG didapatkan adanya janin intrauterine tunggal hidup. Serta tidak adanya penyakit trofoblas maupun kehamilan kembar. Indikasi pasien untuk dirawat: 1. Apa yg dimakan dan diminum, dimuntahkan lagi, apalagi kalau berlangsung lama 2. Turgor kurang, lidah kering 3. Aseton dalam urin. Pasien memenuhi 3 dari 4 indikasi untuk dirawat pada hiperemesis gravidarum 4. Penatalaksanaan Berdasarkan protokol Hyperemesis Educational and Research Foundation (HER-Foundation) Pada pasien ini diberikan cairan IV drip RL:D5:Ka-EN MG3 = 2:2:2 untuk mencegah pemecahan lemak. Vitamin yang telah diberikan yaitu vitamin B1, B6 dan B12 (Neurobion) dan B6 (mediamer B6), untuk mengurangi muntah yang berat (B6 terbukti sangat efektif), dan untuk mencegah neuropati dan membantu melancarkan metabolisme Karbohidrat. Primperan(metoclopramid) untuk mengurangi gejala muntah sehingga dapat memperbaiki keadaan penderita.

36

Antasida untuk menetralkan asam lambung sehingga mengurangi keluhan nyeri ulu hati pada pasien. Diet small frequent feeding untuk membantu pasien memperbaiki keadaan umumnya.

37