You are on page 1of 2

Masalah Bidang Budaya di Globalisasi

Sebelum kita mengkaji lebih jauh soal masalah bidang budaya di era globlisasi, ada baiknya jika kita mencari tau pengertian dari apa sih sebenernya globalisasi itu? Globalisasi secara sederhana dapat kita artikan sebagai 'segala hal yang mendunia'. Dalam arti kompleksnya globalisasi memiliki makna sebagai suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara . Di dalam globalisasi, seluruh batas kenegaraan menjadi kabur dengan adanya kebutuhan-kebutuhan yang semakin menginginkan pemenuhan yang meluas. Hal ini membawa banyak dampak bagi negara-negara maupun individu yang terlibat, tentunya dampak-dampak itu ada yang positif maupun negatif. Pada artikel ini, kami akan mengkaji tentang dampak negatif yang timbul akibat pengaruh globalisasi di bidang kebudayaan. Dampak negatif yang paling jelas tentunya adalah memudarnya kebudayaan bangsa sendiri, seperti yang sudah kita ketahui bahwa sekarang , kekayaan budaya di negara kita sudah hampir punah . Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? 1. Ketidak pedulian individu pada budaya sendiri 2. Tidak ada inovasi yang membuat masyarakat, terutama anak muda menjadi tertarik dengan budaya sendiri 3. Akulturasi yang terlalu bebas, sehingga menggeser kebudayaan kita sendiri 4. Kurangnya sosialisasi mengenai kebudayaan pada generasi muda 5. Pewarisan budaya yang terbatas pada keturunan atau kerabat dekat Bila tidak ada pengambilan sikap yang jelas, erosi budaya akan terjadi. Berikut merupakan wujud nyata dari erosi budaya yang mulai terjadi. 1. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. 2. Kebudayaan-kebudayaan daerah, seperti tari, upacara adat, pesta perayaan, dll, semakin lenyap di masyarakat. Kegiatan kebudayaan yang dulunya rutin diadakan, sekarang diselenggarakan hanya ketika diliput sebagai acara televisi. 3. Pemakaian bahasa Indonesia di kalangan masyarakat sekarang sudah berbeda dengan kaidah yang ada pada EYD. Kecenderungan masyarakat tidak lagi pada penggunaan bahasa yang benar, melainkan bahasa yang dianggap gaul, dengan penggantian kata Saya menjadi Gue, atau penambahan kata-kata asing seperti No problem, Yes, dsb. 4. Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu.

5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Setiap individu menjadi sibuk dengan aktivitas dan pemikirannya sendiri. 6. Musik tradisional, seperti gamelan, angklung, keroncong, dll, kini telah kalah pamor dengan musik-musik bergenre pop, jazz, rock, metal, dll. 7. Hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang dianggap lebih keren. 8. Bentuk informasi dan sarana yang dapat diterima dengan bebas mampu memengaruhi pola bertindak dan berpikir generasi muda. Sebagai contoh, menurunnya budaya membaca di kalangan pelajar, mereka lebih suka melihat televise, bermain games, atau melakukan aktivitas dengan koneksi internet. Budaya lokal merupakan bagian dari identitas bangsa. Namun, semakin lama budaya ini semakin luntur karena adanya pengaruh globalisasi. Hal ini perlahan akan menghapus identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan kekayaan budaya yang melimpah. Longgarnya pengembangan dan pelestarian terhadap budaya lokal menciptakan peluang bagi negara lain untuk mengklaim budaya lokal sebagai budaya mereka. Apa kita rela budaya kita yang sangat unik dan beragam ini diklaim negara lain?