Вы находитесь на странице: 1из 28

Tugas Perbaikan PERANCANGAN ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI Diajukan untuk memenuhi tugas perbaikan mata kuliah Perancangan Elektronika Telekomunikasi

Nama NIM

: Arfan Wiguna : 2211081027

PROGRAM STUDI S-1 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ELEKTRONIKA UNIVERSITAS JENDRAL ACHMAD YANI TAHUN 2010/2011

OSILATOR

I. Pendahuluan

1. Pengertian Osilator Osilator adalah suatu device yang dapat menghasilkan keluaran gelombang sinusoidal. Osilator merupakan suatu rangkaian loop tertutup yang sinyal inputnya didapat dari rangkaian itu sendiri dengan memanfaatkan umpan balik positif.

2. Cara kerja Oscilator Seperti yang telah dituliskan di atas bahwa osilator itu dapat menghasilkan keluaran gelombang sinusoidal yang inputnya merupakan suatu sinyal yang kecil kemudian diperkuat oleh komponen aktif sehingga sinyal ini merupakan sinyal keluaran yang nanti digunakan, sebagian dari sinyal ini kemudian diumpan balikkan ke input sehingga sinyal akan terus kontinyu dan dapat menghasilkan keluaran gelombang sinusoidal yang dikehendaki. Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar osilator dapat bergetar sendiri adalah fasa yang tepat antara sinyal keluaran dengan sinyal yang dumpan balikkan, juga penguatan yang tepat untuk diumpan balikkan. Satu yang danggap penting bahwa osilator tidak menciptakan energi kaena alasan demikian itu, tetapi osilator dapat bekerja karena adanya sumber tegangan, dan sumber tegangan inilah yang digunakan untuk menghasilkan sinyal dengan mengubahnya dari catu searah (DC) menjadi keluaran sinusoidal (AC).

3. Simpal dan Fasa Seperti yang telah disebutkan bahwa syarat osilator dapat bergetar sendiri adalah dengan memperhatikan penguatan umpanbalik dan fasa umpan balik yang tepat. Disini akan dijelaskan secara umum. Tegangan yang diperkuat adalah: Vout = AVin Tegangan ini menggerakkan rangkain umpan balik yang biasanya rangkaian resonansi, rangkaian resonansi ini hanya akan memperkuat maksimum pada satu frekuensi resonansiya saja. Lihat pada gambar 1, A merupakan penguatan rangkaian utama, sedangkan B merupakan penguatan rangkaian umpan balik.

Syarat lain agar osilator dapat bergetar: Vf = ABVin = 1 Sinyal yang akan diumpan balikkan harus sefasa dengan sinyal keluaran.

4. Tegangan Awal Tegangan awal dari osilator adalah tegangan mula-mula bagi input dari osilator agar dapat mulai diperkuat, diumpanbalikkan sehingga mulai bergetar, seperti dituliskan di atas bahwa tidak ada input bagi osilator, lalu darimana tegangan ini muncul? Setiap tahanan mengandung elektron bebas karena faktor suhu lingkungan, elektron bebas ini bergerak secara acak dan menghasilkan sinyal derau pada tahanan, karena keacakannya sinyal ini mempunyai frekuensi sampai 1000 GHz. Pada saat pertama kali menyalakan osilator satu-satunya sinyal input bagi osilator adalah sinyal derau tadi yang kemudian diperkuat dan diumpan balikkan berkali-kali. Penguatan dari AB ini akan melewati satu untuk beberapa saat, tetapi otomatis akan menjadi turun menjadi satu.

5. AB turun menjadi Satu Bati penguatan AB dapat turun menjadi menjadi satu dengan beberapa cara diantaranya : a. A yang turun, dalam hal ini sinyal diperbolehkan membesar sampai terjadi pemotongan, ini dapat menurunkan bati penguatan di A sampai bati penguatan AB dapat turun menjadi satu b. B yang turun, dalam hal ini penguatan B turun sebelum terjadi pemotongan snyal, B turun sampai AB menjadi satu Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: - Mula-mula penguatan AB harus lebih besar dari satu pada frekuensi resonansinya - Setelah tingkat keluaran yang diinginkan dicapai, AB harus turun menjadi satu dengan menurunkan A atau B sehingga penguatan AB menjadi satu.

6. Frekuensi resonansi Frekuensi resonansi dari rangkaian umpan balik yang berupa resonantor LC dapat dituliskan sebagai berikut: r

II. Jenis-jenis Osilator

1. Osilator Jembatan-Wien Osilator Jembatan-Wien adalah jenis osilator yang umum digunakan pada frekuensi rendah sampai menengah antara 5 Hz sampai sekitar 1 MHz, osilator ini juga sering digunakan pada pembangkit sinyal audio komersial. Lead-Lag Network osilator Jembatan-Wien menggunakan rangkaian umpan balik yang disebut jaringan ketinggalan-mendahului (lead-lag network). Pada frekuensi yang amat rendah, kapasitor seri dianggap terbuka bagi sinyal masuk dan tak ada sinyal keluar, pada saat frekuensi amat tinggi, kapasitor paralel dianggap terhubung singkat, tak ada sinyal keluaran. Berdasarkan itu maka osilator ini bertindak sebagai osilator pass-band, dimana sinyal keluaran mencapai maksimum pada nilai tegangan keluaran tertentu, frekuensi ini disebut dengan frekuensi resonansi (fr). Pada frekuensi resonansi ini pergesaran fasa mencapai nol, pada gambar dapat dijelaskan karakteristik dari osilator Jembatan-Wien ini. Saat frekuensi amat rendah, sudut fasa berharga positif dan rangkaian berlaku sebagai jaringan lead, sedangkan saat frekuensi amat tinggi sudut fasa berharga negatif dan rangkaian berlaku sebagai jaringan lag. Frekuensi resonansi dapat dituliskan sebagai:

Cara Kerja Osilator Jembatan-Wien Pada saat tegangan pertama kali di nyalakan, Noise Resistor pada jaringan Lead-Lag merupakan input dari umpan balik positif yang kemudian diperkuat berulang kali sampai AB lebih dari satu. Pada tahap ini jika tidak dilakukan penurunan AB menjadi satu, Osilator tidak bekerja seperti diharapkan, fungsi lampu tungsten disini adalah untuk menurunkan AB menjadi satu jika sinyal keluaran telah sampai pada level yang diharapkan. Lampu tungsten merupakan lampu dengan filamen dari tugsten yang mempunyai resistansi R pada saat dingin (suhu ruangan), pada saat lampu menerima tegangan oscilator yang levelnya membengkak dengan AB lebih dari satu, lampu tungsten akan menjadi sedikit panas, dan ini menaikkan resistansinya, sehingga umpan balik negatif menjadi besar dan menurunkan AB menjadi = 1.

2. Osilator Twin-T Dinamakan osilator Twin-T karena filter yang digunakan berbentuk huruf T. Osilator Twin-T ini mempunyai karakteristik kebalikan dari Osilator Jembatan-Wien. Pada saat frekuensi resonansinya tegangan jatuh menjadi nol.

Cara Kerja Osilator Twin-Twin-T Umpan balik positif diambil dari pembagi tegangan R1 (lampu) dan R2 pada masukan tak membalik (+), sedangkan umpan balik negatif diambil dari jaringan Twin-T. Bila daya mula-mula dinyalakan, resistansi R1 masih berharga rendah sehingga umpan balik positif berharga maksimum, pada saat osilasi membesar resistansi R1 naik sehingga mengurangi umpan balik positif, pada saat umpan balik turun dan AB menjadi sama dengan 1 maka osilasi tetap konstan, tidak naik atau turun.

3. Osilator Pergeseran Fasa Jaringan umpan balik dari Osilator ini dibuat dari tiga buah jaringan lead yang masing-masing dapat menggeser fasa sebanyak 60o sehingga pergeseran fasa total mencapai 180o. Pergeseran fasa yang melalui loop rangkaian akan sama dengan 3600, ekuivalen dengan 00, bila pada frekuensi ini AB lebih besar dari satu, osilasi mulai terjadi. Rangkaian osilator Pergeseran fasa yang lain menggunakan jaringan umpan balik yang lain yaitu jaringan lag. Cara kerjanya sama dengan jaringan lead, hanya pada jaringan lag disini jaringan menyumbangkan 1800 pada umpan balik, sehingga fasa total pada loop rangkaian juga tetap sama dengan 3600 atau 00.

Cara kerja Osilator Pergeseran Fasa Pada osilator pergeseran fasa tidak ditemuinya adanya penurun AB menjadi satu, hal ini disebabkan oleh adanya rangkaian penggeser fasa menjadi 180o, bila fasa yang tergeser 180o itu dimasukkan ke umpan membalik (umpan balik negatif), maka ia akan mengunci osilator untuk bekerja pada daerah penguatan AB=1, dengan demikian osilator akan bekerja secara normal.

4. Osilator Colpitts Osilator Colpitts digunakan untuk mengatasi kekurangan yang ada pada Osilator Jembatan-Wien, dimana pada Osilator Jembatan-Wien frekuensi tiggi di atas 1 MHz tidak dapat dihasilkan dengan sempurna karena pergeseran fasa yang melalui penguat. Osilator Colpitts dapat mengatasi kekurangan ini dengan rangkaian jaringan LC, sehingga dapat digunakan pada frekuensi dari 1 MHz sampai 500 MHz. Disini digunakan komponen aktif transistor bipolar (atau dapat juga FET), karena OpAmp tidak dapat digunakan untuk frekuensi 500 MHz yang diluar jangkauan Op-Amp. Dengan menggunakan rangkaian penguat dan jaringan LC, kita dapat mengumpan balikkan suatu sinyal dengan amplitudo dan fasa yang tepat agar dapat mempertahankan osilasi. Frekuensi resonansi dari rangkaian osilator Colpitts ini dapat dituliskan sebagai fungsi dari L dan Colpitts sebagai: r

Kondisi awal AB > 1 Atau A > 1/B

Cara kerja Osilator Colpitts Pada umpan balik yang ringan (harga B kecil), harga A hanya sedikit lebih besar dari 1/B, operasi transistor lebih mirip dengan operasi kelas A, jika mula-mula menghidupkan daya maka osilasi mulai membesar dan sinyal akan semakin besar pada garis beban AC. Dengan ayunan sinyal yang semakin besar ini, operasi transistor akan bergeser ke penguat sinyal besar, jika demikian, bati tegangan akan sedikit menurun. Dengan demikian umpan balik menjadi ringan dan AB dapat turun menjadi satu tanpa pemotongan sinyal yang berlebihan. Pada umpan balik yang berat (Harga B besar), sinyal umpan balik yang besar menggerakkan basis ke arah jenuh dan putus. Proses ini akan mengisi kapasitor C3, yang mengakibatkan pemotongan DC negatif pada basis dan mengubah operasi transistor dari kelas A ke kelas C. Pemotongan negatif ini otomasti menurunkan AB menjadi 1, bila umpan balik terlalu berat kita dapat kehilangan sebagian daya akibat kehilangan daya-daya liar.

5. Osilator Amstrong Sinyal umpan balik diambil dari belitan sekunder kecil ke basis. Pada transformator terjadi pergeseran fasa sebesar 180o itu artinya fasa yang melingkari loop rangkaian itu sama dengan nol, dengan kata lain umpan balik yang terjadi adalah positif. Bila efek pembebanan diabaikan, bagian umpan balik adalah: BM/L dimana M adalah induktansi bersama dan L induktansi primer. Agar osilator Amstrong bekerja, bati tegangan harus lebih besar dari 1/B.

Cara kerja Osilator Amstrong Rangkaian Osilator Amstrong tak beda jauh dengan rangkaian Osilator Colpitts, satusatunya perbedaan osilator Amstrong ini terdapatnya transformator pembalik fasa 1800 dan juga bertugas mempertahankan osilasi bekerja pada keadaan normal. Cara kerjanya sama dengan cara kerja osilator Colpitts,

6. Osilator Hartley Bila resonator LC mengalami resonansi, arus yang melingkar akan melalui L1 yang dipasang seri dengan L2. Jadi harga L ekivalennya adalah L1+L2. Pada osilator Hartley, tegangan umpan balik dikembangkan oleh pembagi tegangan induktansi L1 dan L2. Karena tegangan yang muncul melintasi L1 dan tegangan umpan balik melintas L2, maka bagian umpan baliknya adalah: B L2 / L1 Osilasi dapat terjadi dengan bati tegangan lebih besar dari 1/B dengan mengabaikan pembebanan oleh basis.

7. Osilator Clapp Pembagi tegangan kapasitif menghasilkan sinyal umpan balik seperti sebelumnya. Sebuah kapasitor tambahan C3 dipasang seri dengan induktor. Karena arus resonator melingkar mengalir melalui C1, C2 dan C3 maka kapasitansi total untuk perhitungan frekuensi resonansi adalah: Pada Osilator Clapp, C3 jauh lebih kecil dari harga C1 dan C2. Akibatnya C hampir sama dengan C3, frekuensi resonansi diberikan oleh:

Keunggulan dari osilator Clapp dibanding dengan Osilator Colpitts adaalah tidak tergantunganya frekuensi osilator Clapp terhadap kapasitansi luar dan kapasitansi transistor, dengan demikian frekuensi menjadi lebih stabil.

8. Osilator Crystal Osilator kristal digunakan apabila membutuhkan osilator dengan frekuensi yang sangat stabil dan kritis. Umumnya digunakan osilator kristal kuarsa. Kristal ekiuvalen dengan suatu induktor besar yang paralel dengan sebuah kapasitor kecil, nilai induktansi Kristal sedemikian besarnya, sehingga nilai-nilai kapasitansi liar dan kapasitansi transistor hampir sama sekali tidak mempengaruhi frekuensi diri kristal. Karakteristik kristal yang khas yang adalah adanya sifat Piezzo Electric, artinya suatau kristal dapat bergetar dengan frekuensi tertentu apabila dilintasi tegangan ac padanya, dan sebaliknya, bila dipaksa untuk bergetar maka ia akan mengeluarkan tegangan ac yang sama. Sifat yang terakhir ini digunakan pada osilator. Pada penerapannya, kristal didapat dari garam Rochelle atau Tourmaline. Garam tersebut diiris sedemikian rupa dengan amat sangat tipis, tebal atau tipisnya irisan disesuaikan dengan kebutuhan frekuensi yang ingin dihasilkannya, semakin tipis suatu irisan kristal, semakin besar frekuensi yang didapat. Irisan ini kemudian di tempelkan diantara dua lempeng logam.

Cara kerja Osilator Kristal Pembagi tegangan kapasitif menghasilkan tegangan umpan balik untuk basis transistor. Kristal berlaku sebagai sebuah induktor yang beresonansi dengan C1 dan C2. Frekuensi resonansi ini ada diantara harga-harga resonansi seri dan paralel. Kristal dapat digambarkan sebagai rangkaian ekivalen berikut: Resonansi yang terjadi pada kristal dapat dituliskan dengan dua keadaan yait resonansi paralel dan resonansi seri. Resonansi Paralel diberikan oleh: r

Resonansi seri diberikan oleh: r

Rangkaian yang disimulasikan yaitu rangkaian osilator colpitts

ANTENA

Pendahuluan Antena adalah suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan menerima gelombang radio atau elektromagnetik. Pemancaran merupakan satu proses perpindahan gelombang radio atau elektromagnetik dari saluran transmisi ke ruang bebas melalui antena pemancar. Sedangkan penerimaan adalah satu proses penerimaan gelombang radio atau elektromagnetik dari ruang bebas melalui antena penerima. Karena merupakan perangkat perantara antara saluran transmisi dan udara, maka antena harus mempunyai sifat yang sesuai (match) dengan saluran pencatunya. Secara umum, antena dibedakan menjadi antenna isotropis, antenna

omnidirectional, antena directional, antena phase array, antena optimal dan antena adaptif. Antena isotropis (isotropic) merupakan sumber titik yang memancarkan daya ke segala arah dengan intensitas yang sama, seperti permukaan bola. Antena ini tidak ada dalam kenyataan dan hanya digunakan sebagai dasar untuk merancang dan menganalisa struktur antena yang lebih kompleks. Antena omnidirectional adalah antena yang memancarkan daya ke segala arah, dan bentuk pola radiasinya digambarkan seperti bentuk donat (doughnut) dengan pusat berimpit. Antena ini ada dalam kenyataan, dan dalam pengukuran sering digunakan sebagai pembanding terhadap antena yang lebih kompleks. Contoh antena ini adalah antena dipole setengah panjang gelombang. Antena directional merupakan antena yang memancarkan daya ke arah tertentu. Gain antena ini relatif lebih besar dari antena omnidirectional. Contoh, suatu antena dengan gain 10 dBi (kadang-kadang dinyatakan dengan dBic atau disingkat dB saja). Artinya antena ini pada arah tertentu memancarkan daya 10 dB lebih besar dibanding dengan antena isotropis. Ketiga jenis antena di atas merupakan antena tunggal, dan bentuk pola radiasinya tidak dapat berubah tanpa merubah fisik antena atau memutar secara mekanik dari fisik antena. Selanjutnya adalah antena phase array, yang merupakan gabungan atau konfigurasi array dari beberapa antana sederhana dan menggabungkan sinyal yang menginduksi masingmasing antena tersebut untuk membentuk pola radiasi tertentu pada keluaran array. Setiap antena yang menyusun konfigurasi array disebut dengan elemen array. Arah gain maksimum

dari antena phase array dapat ditentukan dengan pengaturan fase antar elemen-elemen array. Antena optimal merupakan suatu antena dimana penguatan (gain) dan fase relatif setiap elemennya diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan kinerja (performance) pada keluaran yang seoptimal mungkin. Kinerja yang dimaksud kinerja antara lain signal to interference ratio, SIR atau signal to interference plus noise ratio, SINR. Optimasi kinerja dapat dilakukan dengan menghilangkan atau meminimalkan penerimaan sinyal-sinyal tak dikehendaki (interferensi) dan mengoptimalkan penerimaan sinyal yang dikehendaki. Antena adaptif merupakan pengembangan dari antena antena phase array maupun antena optimal, dimana arah gain maksimum dapat diatur sesuai dengan gerakan dinamis (dinamic fashion) obyek yang dituju. Antena dilengkapi dengan Digital Signal Proccessor (DSP), sehingga secara dinamis mampu mendeteksi dan melecak berbagai macam tipe sinyal, meminimalkan interferensi serta memaksimalkan penerimaan sinyal yang diinginkan.

Besaran-besaran Penting Pada Antena Ada beberapa besaran penting sebagai karakteristik dari setiap antena. Besaran ini menentukan dimana antena tersebut akan diaplikasikan. Besaran-besaran penting dari setiap antena biasanya ditentukan pada pengamatan medan jauh (far- field). Teknik pengukuran besaran antena adalah proses mengukur besaran besaran karakteristik dari antenna, seperti Diagram Radiasi : sebagai besaran yang menentukan ke arah sudut mana sebuah antena memancarkan energinya. Direktivitas D : besaran yang menyatakan perbandingan antara kerapatan daya maksimal dengan kerapatan rata-rata Gain G : direktivitas dikurangi dengan kerugian pada antena. Pada antena yang tak memiliki kerugian, G = D. Polarisasi : menyatakan arah dan orientasi dari medan listrik dalam perambatannya dari antenna pemancar. Impedansi : impedansi masukan antena dilihat dari rangkaian elektronika, penting untuk menghindari mismatching. Bandwidth : lebar pita frekuensi, di interval ini performance antena masih dianggap baik

RF AMPLIFIER

RF amplifier adalah jenis penguat elektronik digunakan untuk mengkonversi berdaya rendah frekuensi radio sinyal menjadi sinyal yang lebih besar kekuatan yang penting, biasanya untuk mengemudi sebuah antena pemancar . Hal ini biasanya dioptimalkan untuk memiliki efisiensi tinggi, tinggi output Power (P1dB) kompresi , rugi laba atas input dan output, baik keuntungan , dan pembuangan panas yang optimal. Untuk membuat amplifier kita bisa mengunakan transistor atau juga IC OP Amp. Di dalam op amp sebenarnya juga transistor yang sudah dalam bentuk rangkaian sehingga lebih mudah digunakan. Misal IC yang digunakan di penguat Op Amp 741 adalah sebuah komponen elektronika monolitik penampilan tinggi yang menggunakan proses epitaksial fairchild (Herman, 1992: 346). IC Op Amp 741 merupakan sebuah IC yang di dalamnya terkemas sebuah rangkaian diferensial. Data sheet dari IC Op Amp 741 dapat dilihat di halaman lampiran.

Suatu penguat dapat dipandang dari beberapa segi, yaitu menurut jangkauan frekuensinya, cara operasinya, kegunaan dalam tujuan akhirnya, tipe bebannya, cara menggandeng antar tahanan dan lainlain. Klasisfikasi frekuensi mencakup penguatpenguat dc (dari frekuensi nol), frekuensi audio (20 Hz sampai dengan 20 KHz), video atau pulsa (setinggi beberapa Mega Hertz), frekuensi radio (beberapa Kilo Hertz sampai dengan ratusan Kilo Hertz), dan frekuensiultra tinggi (ratusan atau ribuan Mega Hertz). Kedudukan operasi tenang (quiescent point) serta luas daerah karakteristik yang digunakan bersama-sama menetukan cara operasinya. Apakah transistor itu dioperasikan sebagai penguat kelas A, kelas AB, kelas B atau kelas C ditentukan menurut definisi berikut ini. Penguat kelas A adalah penguat yang bekerja dengan titik operasi dan sinyal masuk yang sedemikian rupa hingga arus dalam rangkaian keluaran (dalam kolektor atau elektroda kuras) mengalir terus menerus. Penguat kelas A pada pokoknya beroperasi dalam daerah linier dari kurva karakteristiknya.. Penguat kelas B adalah penguat yang bekerja dengan titik operasinya terletak pada ujung kurva karakteristik, sehingga daya operasi tenang (quescent power)-nya sangat kecil. Jadi, dalam keadaan tersebut, arus atau tegangan operasi tenang hampir sama dengan nol. Apabila tegangan sinyal merupakan bentuk sinus, maka penguatan yang terjadi hanya berlangsung selama setengah siklus.

Penguat kelas AB adalah penguat yang beroperasi dalam daerah antara kedua keadaan operasi pada daerah A dan B. Jadi sinyal keluarannya sama dengan nol selama waktu yang tidak sampai setengah siklus dari sinyal masuk sinusida. Penguat kelas C adalah penguat dengan titik operasinya dipilih sedemikian rupa sehingga (tegangan) keluarannya sama dengan nol selama waktu yang lebih panjang dari setengah siklus sinyal sinusida yang masuk. Pada penguat kelas B, transistor bekerja hanya dalam daerah aktif selama setengah periode. Selama setengah periode lainnya transistor tersebut tersumbat (cut off). Arus kolektor mengalir untuk 1800 dalam tiap transistor dari rangkaian kelas B. Dengan operasi ini, titik Q terletak di titik putus pada garis beban ac. Keuntungan dari operasi B adalah lebih kecilnya kehilangan daya transistor, daya beban dan efisiensi tahapan yang lebih besar.

CONTOH BLOK DIAGRAM

input merupakan sumber suara yang masuk melui micropone. Sinyal suara akan di ubah oleh mikrophone menjadil sinyal listrik. Sinyal listrik ini selanjutnya di proses (diperkuat sampai 200 x) oleh IC op amp. Hasil penguatan selanjutny dimasukkan ke speaker dan kemudian oleh speaker di ubah menjadi suara. Volume suara yang dikeluarkan speaker jauh lebih keras dibanding suara yg dimasukkan pada microphone. RF amplifier 144 MHz 30 Watt adalah penguat frekuensi tinggi, yang beroperasi pada spektrum VHF. Tujuan laporan akhir ini adalah untuk meningkatkan jarak jangkau komunikasi radio amatir FM dua meteran (HT). Rangkaian RF amplifier 144 MHz 30 Watt dibentuk oleh dua blok rangkaian utama yaitu blok penguat dan blok matching impedansi. Blok penguat berfungsi untuk menguatkan sinyal sedangkan untuk blok matching impedansi berfungsi untuk menyesuaikan impedansi penguat dengan sistem lainnya untuk mendapatkan penyaluran daya maksimum. Rangkaian RF amplifier144 MHz 30 Watt dikelompokkan

menjadi dua bagian yaitu driver dan final. Rangkaian driver merupakan rangkaian penguat tingkat dua dari penguat RF. Penguat driver adalah salah satu Penguat yang mentransfer daya input yang masuk dan menyalurkan ketingkat selanjutnya. Transistor yang digunakan pada pada tingkat ini yaitu menggunakan transistor 2SC1971. Sedangkan rangkaian tingkat akhir dari penguat yaitu rangkaian final dengan menggunakan transistor 2SC1946 dan direncanakan mempunyai daya keluaran sebesar 30 Watt. Berdasarkan hasil pengukuran, daya input yang dihasilkan oleh penguat RF sebesar 1 Watt sedangkan untuk daya output yang dihasilkan sebesar 25,12 Watt serta mempunyai gain atau penguatan secara keseluruhan sebesar 14 dB.

CONTOH KOMPONEN DALAM RANGKAIAN GAMBAR RANGKAIAN

Keterangan; IC1 = LM386 R1 = 5.6 K R2 = 10 K (potensio) R3 = 10 ohm C1 = 0.1 uF (keramik) C2,C3 = 10 uF C4 = 100 uF C5 = 0.047 uF (keramik)

FUNGSI Fungsi amplifier adalah untuk memperkuat arus dan tegangan, sehingga dihasilkan arus dantegangan output yang jauh lebih besar Gunanya adalah untuk menguatkan signal yang sangat lemah dan untuk memudahkan tuning receiver maka disini digunakan system front end Band Pass Filter serta menaikkan amplitude dari sebuah sinyal RF.

IF AMPLIFIER Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal output yang dihasilkanTuner hingga 1.000 kali. Karena output tuner merupakan sinyal yang lemah dan sangat tergantung pada jarak pemancar, posisi penerima, dan bentang alam. Rangkaian ini juga berguna untuk membuang gelombang lain yang tidak dibutuhkan dan meredam interferensi pelayangan gelombang pembawa suara yang mengganggu gambar.

Dalam penguat IF gambar, untuk mencegah sinyal-sinyal pengganggu yang tidak diperlukan, dipergunakan dua buah penjebak(trap), yaitu penjebak pembawa suara kanal rendah yang berdekatan,dan perangkap bembawa gambar kanal tinggi yang berdekatan, dan juga pelayangan (beat) antar pembawa-pembawa itu, dihilangkan. Pada waktu menerima gelombang TV warna interfrensi pelayangan dari pembawa suara dengan sub pembawa warna merusak gambaryag dihasilkan. Untuk menghilangkan interfrensi pelayangan

pembawa suara, maka pembawa suara diredam sekitar 54dB dalam


Gambar 6-10 Hubungan antara karaktristik respon frekuensipenguat IF gambar dengan sinyal output video detector.

Penguat IF gambar dan pula dalam detector video berikutnya. Maka penerima TV warna berbeda dengan penerima TV hitam putih. Pembawa suara pada TV warna dikeluarkan sebelum tingkat detektorvideo dan diberikan ke detektor IF suara yang dipasang terpisah dengan detector video.

MIXER Salah satu pemodifikasi frekuensi yang sering digunakan adalah mixer. Mixer banyak digunakan dalam modulasi amplitudo. Suatu mixer ideal ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. Rangkain Mixer Jika inputnya adalah sinyal sinusoida, output mixer adalah penjumlahan dan perbedaan frekuensi seperti di bawah ini:

Kalau frekuensi yang diinginkan hanya salah satu dari kedua frekuensi tersebut, sinyal frekuensi yang tidak diinginkan dibuang dengan menggunakan filter. Walaupun mixer ideal tidak bisa diwujudkan, tapi ada beberapa rangkaian yang bisa digunakan sebagai pendekatan dari mixer ideal. Ada rangkaian mixer yang menghasilkan penguatan dan disebut dengan aktif mixer. Sebaliknya mixer pasif menghasilkan rugi-rugi. Mixer tipe switching Dalam mixer tipe switching, satu atau lebih diode atau transistor digunakan sebagai switch. Ketidak-linearan atau karakteristik switching diode sering digunakan untuk pencampur (mix) frekuensi, terutama pada frekuensi tinggi. Gambar 2 menggambarkan suatu contoh mixer tipe switching dengan menggunakan diode. Jika center tap (CT) transformator adalah ideal, tegangan yang dihasilkan ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 2. Mixer tipe switching dengan dua diode Oscilator local (VL) mempunyai amplituda tegangan konstan. Fungsi switch (dioda) dikendalikan oleh VL dengan VL >> Vi, sehingga: Vo = Vi + VL VL > 0 Vo = Vi + VL VL < 0

Gambar 3. Rangkaian penyederhanaan mixer Output terdiri atas sinyal osilator ditambah Vi dengan beda fasa 180 pada frekuensi osilator local. Tegangan keluaran Vo dapat ditulis sebagai: Vo = VL + Vi Dimana Vi = Vi P(t) P(t) adalah fungsi gelombang persegi dengan frekuensi sama dengan frekuensi osilator lokal L.
* * o

Gambar 4. Bentuk gelombang persegi

Gelombang persegi P(t) dapat dinyatakan sebagai sebuah deret fourier:

(2) Sehingga (3) Jika VI adalah sinusoida Vi = V sin it Maka: (4)


*

Karena Vo=VL+Vi , maka keluaran mixer terdiri dari sinyal osilator ditambah dengan sejumlah tak hingga sinyal yang dihasilkan oleh mixer. Frekuensi yang diinginkan bisa dipisahkan dengan menggunakan filter. Syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa amplituda osilator jauh lebih besar dari amplituda sinyal input dan tegangannya cukup besar untuk menswitch dioda. Jika hal ini tidak terpenuhi akan muncul distorsi. Kelemahan rangkaian mixer tersebut adalah bahwa pada keluaran muncul frekuensi osilator yang banyak menimbulkan kesulitan jika frekuensi osilator lokal L jauh lebih besar dari frekuensi input i. Sinyal yang diinginkan pada keluaran, L + i atau L - i akan sulit dipisahkan karena mendekati L. Untuk menghilangkan sinyal osilator lokal pada output mixer, maka digunakan rangkaian :

Gambar 5. Mixer 2 diode dengan sinyal osilator tidak muncul pada output Yang ekivalen dengan:

Gambar 6. Penyederhanaan rangkaian gambar 5

Jika VL positif dan jauh lebih besar dibandingkan dengan Vi maka kedua dioda akan terhubung/on, dan V0 = Vi . Jika sinyal osilator menjadi negatif maka dioda terbuka (off) dan sinyal output V0 menjadi nol. Secara umum persamaan untuk tegangan output adalah : Vo=ViP(t) Dimana : P(t) = 1 VL > 0 P(t)= 0 VL 0 Dalam hal ini, P(t) adalah fungsi gelombang persegi dengan frekuensi sama dengan frekuensi osilator lokal. Perbedaan dengan rangkaian sebelumnya adalah bahwa gelombang persegi disini mempunyai nilai dc yang tidak nol.

Gambar 7. Gelombang output mixer pada gambar 5 Ekspresi dalam deret fourier untuk P(t) : (5) Jika Vi adalah gelombang sinus Vi = V sin it maka tegangan keluarannya: (6)

Output mixer berbeda dengan dengan output mixer sebelumnya. Pada model ini, output tidak mengandung sinyal osilator lokal, tapi mengandung komponen sinyal input i. Rangkaian mixer double-balanced yang bisa digunakan dengan beban seimbang ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 8. Mixer double-balanced Prinsip kerja mixer adalah serupa dengan mixer pada gambar 5 dengan output adalah sama persamaan (6).

FILTER AUDIO Pengertian Filter Filter adalah sebuah rangkaian yang dirancang agar mengalirkan suatu pita frekuensi tertentu dan menghilangkan frekuensi yang berbeda dengan pita ini, atau Filter adalah rangkaian yang dapat memilih frekuensi agar dapat mengalirkan frekuensi yang diinginkan dan menahan (couple), atau membuang (by pass) frekuensI yang lain.

2. Macam-Macam Filter 2.a. Berdasarkan sifatnya, filter ada dua macam a. Jaringan Filter Pasif Jaringan Filter pasif hanyalah berisi tahanan, induktor, dan kapasitor saja. b. Jaringan filter Aktif Jaringan Filter aktif terdiri dari transistor atau op-amp ditambah tahanan, induktor, atau kapasitor.

2. b. Berdasarkan jenisnya, filter ada 4 macam a. Filter Low Pass Filter Low Pass adalah sebuah rangkaian yang tegangan keluarannya tetap dari dc naik sampai ke suatu frekuensi cut-off fc. Bersama naiknya frekuensi di atas fc, tegangan keluarannya diperlemah (turun). Filter Low Pass adalah jenis filter yang melewatkan frekuensi rendah serta meredam/menahan frekuensi tinggi. Bentuk respon LPF seperti ditunjukkan gambar di bawah ini.

Gambar respon LPF

Pita Lewat : Jangkauan frekuensi yang dipancarkan Pita Stop : Jangkauan frekuensi yang diperlemah. Frekuensi cutoff (fc) : disebut frekuensi 0.707, frekuensi 3-dB, frekuensi pojok, atau frekuensi putus.

b.Filter High Pass Filter High Pass memperlemah tegangan keluaran untuk semua frekuensi di bawah frekuensi cutoff fc. Di atas fc, besarnya tegangan keluaran tetap. Garis penuh adalah kurva idealnya, sedangkan kurva putus-putus menunjukkan bagaimana filter-filter high pass yang praktis menyimpang dari ideal. Pengertian lain dari High Pass Filter yaitu jenis filter yang melewatkan frekuensi tinggi serta meredam/menahan frekuensi rendah. Bentuk respon HPF seperti ditunjukkan gambar di bawah ini.

c. Filter Band Pass Filter Band Pass hanya melewatkan sebuah pita frekuensi saja seraya memperlemah semua frekuensi di luar pita itu. Pengertian lain dari Band Pass Filter adalah filter yang melewatkan suatu range frekuensi. Dalam perancangannya diperhitungkan nilai Q(faktor mutu). Dengan Q = faktor mutu fo = frekuensi cutoff B = lebar pita frekuensi Gambar Band Pass Filter seperti berikut ini :

d. Filter Band Elimination Filter Band Elimination yaitu filter band elimination menolak pita frekuensi tertentu seraya melewatkan semua frekuensi diluar pita itu.Bisa juga disebut Band Reject merupakan

kebalikan dari Band Pass, yaitu merupakan filter yang menolak suatu range frekuensi. Sama seperti bandpass filter, band reject juga memperhitungkan faktor mutu.

PLL (Phase Locked Loop). Suatu sistem yang memungkinkan suatu sinyal tertentu mengendalikan frekuensi sebuah osilator dalam sebuah Lingkar yang terkunci. Frekuensi osilator dapat sama besar atau kelipatannya dari frekuensi sinyal tersebut (selanjutnya disebut frekuensi-referensi). Kalau frekuensi sinyal berasal dari sebuah osilator kristal maka frekuensi yang lainnya dapat dijabarkan mempunyai stabilitas yang sama dengan frekuensi kristal. Inilah yang dijadikan dasar dari pesintesis frekuensi atau Frequency Synthesizer. Kalau frekuensi-referensi mempunyai nilai yang berubah-ubah maka frekuensi osilator lingkar akan mengikuti perubahan tersebut. Prinsip ini digunakan dalam demodulator FM (Frequency Modulation), FSK (Frequency Shift Keying) dan Tracking Filter. Prinsip diatas lebih dikenal dengan istilah PLL (Phase Locked Loop) dan telah diketahui sejak tahun 1923 tetapi sedikit sekali digunakan sampai akhir 1960. Bagian-bagian dari PLL terdiri dari :

Fixed Osilator sebagai frekuensi-referensi yang biasanya dibangun menggunakan kristal kuarsa untuk menjamin kestabilannya

VCO (Voltage Control Oscillator) merupakan osilator yang frekuensi keluarannya terkendali tegangan

LPF (Low Pass Filter). Pada dasarnya bagian ini mengubah ayunan tegangan yang begitu cepat dari Phase Detektor menjadi tegangan dc terkendali fasa

LPF-Amplifier. Bagian ini memperkuat keluaran LPF yang masih sangat lemah sampai ke taraf beberapa volt dc hingga mampu mengendalikan VCO n-Devider atau pembagi n kali. Bagian ini yang membagi frekuensi keluaran yang dikehendaki dari VCO supaya sama dengan frekuensi-referensi

Phase Detector. Bagian ini bekerja dengan membandingkan nilai frekuensi referensi dengan frekuensi dari n-Devider. Keluaran akan 0 volt jika terjadi kedua frekuensi sama dan bernilai taraf dc tertentu jika kedua frekuensi tersebut tidak sama

Berikut contoh Blok Diagram Aplikatif sebuah PLL Klasik yang bekerja pada FM-II 100MHz :

Bila dilihat dari fungsi masing-masing bagian diatas dapat digambarkan bahwa frekuensi yang berada dalam lingkar tersebut sangatlah stabil menyamai kestabilan frekuensi referensi dari osilator kristal. Yang paling menentukan dari kualitas sebuah PLL adalah Respone Time dari LPF dan Devider dan lebar bidang kerja dari VCO pada taraf tegangan yang mengendalikannya. Perancangan dari nilai komponen pembangun LPF sangat menentukan terhadap keluaran PLL (VCO) secara langsung. Ketidak tepatan akan menyebabkan Locking Time berlangsung cukup lama dan ini merupakan indikasi unjuk kerja PLL yang kurang baik. Disamping juga bisa menyebabkan terjadinya side-tone yang cukup mengganggu karena akan ikut terbawa bersama gelombang pemodulasi pada penerapan FM. Devider biasanya diawali dengan sebuah pre-scaller karena kebanyakan n-devider tidak mampu bekerja pada pita FM-II. Dengan demikian akan ada beberapa tahap devider sebelum sampai pada Phase Detector dan ini dapat diatasi dengan pemakaian IC TTL karena kecepatan kerjanya tidak diragukan lagi. Pada jenis PLL tertentu penentuan frekuensi keluaran yang dikehendaki digunakan dua cara yaitu melalui n-devider dan perubahan pada frekuensi referensi. Perubahan pada frekuensi referensi tidak bisa sebebas n-devider mengingat Q-factory yang sangat tinggi dari kristal kuarsa yang hanya memungkinkan pergeseran selebar 2% dari frekuensi fundamentalnya. Cara ini biasa dan umum diterapkan pada AM-SSB Transceiver dengan memasang Variable Capasitor secara serial dengan kristal untuk melakukan Fine-Tuning.

Pemakaian kristal kuarsa sebagai osilator sudah sejak lama dipakai mengingat Qfactory yang mencapai lebih dari 3000 dan kestabilannya yang mengagumkan. Sebagai gambaran apabila digunakan jam/arloji yang sumber detaknya terbuat dari kristal kuarsa maka untuk terlambat atau lebih cepat 1 detik dibutuhkan waktu 300 tahun

KESIMPULAN
a. Osilator merupakan suatu rangkaian loop tertutup yang sinyal inputnya didapat dari rangkaian itu sendiri dengan memanfaatkan umpan balik positif. b. Antena adalah suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan menerima gelombang radio atau elektromagnetik. c. RF amplifier adalah jenis penguat elektronik digunakan untuk mengkonversi berdaya rendah frekuensi radio sinyal menjadi sinyal yang lebih besar kekuatan yang penting, biasanya untuk mengemudi sebuah antena pemancar . d. Rangkaian IF frequency berfungsi sebagai penguat sinyal output yang

dihasilkanTuner hingga 1.000 kali. Karena output tuner merupakan sinyal yang lemah dan sangat tergantung pada jarak pemancar, posisi penerima, dan bentang alam. e. Mixer salah satu pemodifikasi frekuensi yang banyak digunakan dalam modulasi amplitudo. f. Filter adalah rangkaian yang dapat memilih frekuensi agar dapat mengalirkan frekuensi yang diinginkan dan menahan (couple), atau membuang (by pass) frekuensi yang lain. g. PLL adalah jika frekuensi-referensi mempunyai nilai yang berubah-ubah maka frekuensi osilator lingkar akan mengikuti perubahan tersebut.