You are on page 1of 132

JURNAL AKUNTANSI

Universi tas Jember


Volume 9 No. 2 Desember 2011. ISSN: 1693-2420.
PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN TINGKAT PEMAHAMAN TERHADAP SAK ETAP: STUDI EMPIRIS PADA MAHASISWA YANG BERASAL DARI SMK DAN SMA KEMAMPUAN PREDIKSI RASIO-RASIO KEUANGAN TERHADAP LABA DAN ARUS KAS MASA DEPAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN JASA Jurica Lucyanda Ditya Anggriawan

Lely Ana Ferawati Ekaningsih Tita Djuitaningsih Erista Eka Ristiawati

Fidiana

Dessy Putri Andini

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN HIGH PROFILE YANG LISTED DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PEMETAAN RISET AKUNTANSI BERBASIS PENGUJIAN VARIABEL MOTIVASI

Astrid Maharani Bunga Maharani

Ratih Rediyaningrum Imam Masud

Laboratorium Pusat Pengembangan Akuntansi FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER

JURNAL AKUNTANSI
Universitas Jember
Volume 9 No. 2 Desember 2011 ISSN: 1693-2420 Ketua Dewan : Wahyu Agus W., SE., M.Si., Ak. Wakil Ketua Dewan : Dr. Siti Maria W., M.Si., Ak. Dewan Penyunting : Drs. Wasito, M.Si., Ak. Drs. Djoko Supatmoko, MM. Ak Drs. Sudarno, M.Si., Ak. Drs. Imam Masud, MM., Ak. Dra. Ririn Irmadariyani, M.Si., Ak. Dr. Alwan Sri Kustono, SE., M.Si., Ak. Rochman Effendi, SE., M.Si., Ak. M. Miqdad, SE., MM., Ak. Indah Purnamawati, SE., M.Si., Ak. Dr. Yosefa Sayekti, M.Com., Ak. Penyunting Kehormatan : Prof. Tatang Ari Gumanti, M.Buss., P.hD. Hadi Paramu, SE., MBA., P.hD. Pelaksana : Agung Budi Sulistiyo, SE, M.Si., Ak. Hendrawan Santosa Putra, SE., M.Si., Ak. Novi Wulandari, SE., M.Si., Ak. Taufik Kurrohman, SE., M.Si., Ak. Administrasi : Ahmad Sugiono Alamat Redaksi : Laboratorium Pusat Pengembangan Akuntansi (LPPA) Fakultas Ekonomi Universitas Jember Jl. Jawa 17 Tegalboto - Jember 68121. Telp. :(0331) 337990. Fax: (0031)332150. Email : ja_unej@hotmail.com

Jurnal Akuntansi Universitas Jember dimaksudkan sebagai media pertukaran informasi dan karya ilmiah di antara staf pengajar, alumni, mahasiswa, pembaca yang berminat dan masyarakat pada umumnya. Jurnal Akuntansi Universitas Jember terbit setahun 2 (dua) kali pada setiap bulan Juni dan Desember. Redaksi menerima naskah yang belum pernah diterbitkan atau dalam proses diterbitkan oleh media lain. Pedoman penulisan Jurnal tercantum pada bagian akhir Jurnal ini. Surat-menyurat mengenai naskah yang akan diterbitkan, langganan, dan lainnya dapat dialamatkan ke redaksi.

DAFTAR ISI
PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT Jurica Lucyanda Ditya Anggriawan PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA Lely Ana Ferawati Ekaningsih PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN Tita Djuitaningsih Erista Eka Ristiawati 30 17 1

TINGKAT PEMAHAMAN TERHADAP SAK ETAP: STUDI EMPIRIS PADA MAHASISWA YANG BERASAL DARI SMK DAN SMA Fidiana KEMAMPUAN PREDIKSI RASIO-RASIO KEUANGAN TERHADAP LABA DAN ARUS KAS MASA DEPAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN JASA 71 Dessy Putri Andini 54

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN HIGH PROFILE YANG LISTED DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) Astrid Maharani Bunga Maharani

99

PEMETAAN RISET AKUNTANSI BERBASIS PENGUJIAN VARIABEL MOTIVASI Ratih Rediyaningrum Imam Masud 117

ii

PEDOMAN PENULISAN NASKAH 1. Jurnal Akuntansi Universitas Jember (JAUJ) ini terbit dua kali setahun, yaitu pada setiap bulan Juni dan Desember. 2. Naskah yang diusulkan untuk diterbitkan dalam Jurnal Akuntansi Universitas Jember (JAUJ) adalah naskah yang belum pernah diterbitkan dan atau tidak sedang dipertimbangkan penerbitannya di jurnal lain; 3. Naskah ilmiah yang diterbitkan berupa hasil penelitian, artikel dan hasil tulisan ilmiah lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan oleh penulisnya; 4. Naskah ilmiah ditulis dalam Bahasa Indonesia, atau dalam Bahasa Inggris; 5. Secara garis besar, naskah disusun dengan sistematika sebagai berikut ini: a. Judul: harus singkat dan jelas sehingga menggambarkan isi tulisan serta dilengkapi dengan nama penulis (tanpa gelar akademik) dan nama institusi tempat kerja penulis; b. Abstrak: dalam Bahasa Inggris untuk artikel dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Indonesia untuk artikel berbahasa Inggris, maksimal 200 kata yang secara singkat menggambarkan aspek-aspek isi naskah secara keseluruhan; serta Kata-kata kunci (keywords); c. Pendahuluan: tanpa sub bab memuat latar belakang, permasalahan, tujuan, dan hasil yang diharapkan; d. Tinjauan pustaka, yang berisi hasil penelitian sebelumnya, kerangka teori dan hipotesis yang diajukan; e. Metode: berisi langkah penelitian yang dilakukan sesuai dengan permasalahan yang disampaikan; f. Hasil dan pembahasan: memuat analisis hasil temuan dalam bentuk diskriptif kuantitatif maupun kualitatif yang dapat disertai gambar, tabel, grafik disertai dengan uraian tentang interpretasi, generalisasi, dan implikasi dari hasil yang diperoleh, serta relevansinya dengan hasil penelitian lain yang menjadi rujukan; g. Kesimpulan dan rekomendasi; h. Daftar pustaka disajikan mengikuti tata cara seperti contoh berikut, disusun secara alfabetis dan kronologis; Contoh: Bryan Lewis dan Robert W. Rouse, Problem of The Small Business Audit, The Accounting Review, September 1984. Carsberg B.V., et. al, Small Company Financial Reporting Research Studies in Accounting, 1985. 6. Setiap pengiriman naskah disertai riwayat hidup penulis secara singkat; 7. Naskah dikirim dalam bentuk print out pada kertas ukuran Letter (kwarto), dengan spasi rangkap (dua spasi), menggunakan pengolah kata minimal Microsoft Word versi 6.0 dengan jumlah halaman maksimal 25 lembar, sebanyak 3 eksemplar, dan dalam disk ukuran 3 . Naskah diketik mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. 8. Naskah dikirim paling lambat 2 (dua) bulan sebelum penerbitan ke alamat:

iii

Dewan Penyunting JURNAL AKUNTANSI UNIVERSITAS JEMBER (JAUJ) Laboratorium Pusat Pengembangan Akuntansi (LPPA) Fakultas Ekonomi UNEJ Jl. Jawa No. 17 Jember 68121. Telp. (0331) 337990, Fax. (0331) 332150, Email: jauj_uj@hotmail.com 9. Naskah akan disunting, dengan kriteria penilaian meliputi: orisinalitas, memenuhi kualitas keilmuan, kebenaran isi, kejelasan uraian, dan manfaat bagi masyarakat akademik; 10. Dewan penyunting berhak mengirim kembali naskah ke penulis untuk direvisi sesuai dengan saran penilai atau menolak suatu naskah; 11. Naskah yang sudah dikirim dan diputuskan untuk tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulis dengan disertai alasan penolakan, jika disertai dengan perangko balasan. FORMAT PENILAIAN: Naskah ilmiah untuk diterbitkan dalam Jurnal Akuntansi dinilai berdasarkan criteria: 1. Apakah naskah cukup penting untuk pengembangan ilmu dan empiris yang ada? 2. Apakah naskah menyinggung hal-hal aktual dan pemecahan masalah akuntansi, keuangan, dan bisnis? 3. Apakah naskah orisinil dan mempunyai kualitas keilmuan yang baik? 4. Apakah naskah terbebas dari kesalahan atau miskonsepsi? 5. Apakah susunan naskah ditulis dengan baik? Apakah judul yang dibuat sudah cukup baik? 6. Apakah Abstrak sudah mencakup poin-poin dalam naskah? 7. Apakah naskah ditulis dengan bahasa yang baik? 8. Apakah kepustakaan yang berkaitan dengan naskah sudah mencukupi? 9. Apakah tabel, gambar, dan keterangan tabel/gambar cukup jelas? 10. Apakah isi naskah bermanfaat bagi masyarakat akademik dan masyarakat luas? REKOMENDASI 1. Naskah dapat dipublikasikan dengan catatan: a) Seperti apa adanya, b) Revisi sebagian, c) Revisi total 2. Naskah ditolak untuk diterbitkan.

iv

PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT
Jurica Lucyanda1 Ditya Anggriawan2

Abstract This study aims to examine the effect of the overpriced stock prices, the company's financial performance and liquidity of stock trading on the company's decision to do a stock split and its impact on corporate value. In this study the level of overpriced stock prices measured by the Price Earnings Ratio and Price to Book Value, the company's financial performance is measured by Return on Assets and Earnings Per Share, liquidity of stock trading volume is measured by the Trading Activity and firm value will be measured by the earnings and Tobin's q. Analysis tools will be used in this study are the logistic regression and two independent sample t-test. This study used a sample amounted to 31 go public companies that do the stock-split and 31 go public companies who do not do stock splits during the period 2003-2009. Based on the results of testing, found that the level of overpriced stock prices as measured by the ratio of Price to Book Value affect the company's decision to do stock splits and stock trading liquidity which measured by Trading Volume Activity also affects the company's decision to do a stock split. But this study failed to show any differences between the values of the companies that do the stock-split with the companies that do not do stock splits. Key words: price earnings ratio, price to book value, earnings per share, return on assets, trading volume activity, earnings, tobins'q 1. PENDAHULUAN Perusahaan yang sedang berkembang umumnya membutuhkan dana sebagai tambahan modal. Dana tersebut dapat diperoleh dari beberapa sumber, salah satunya adalah dengan cara menawarkan saham perusahaan kepada publik (go public). Penambahan modal dapat dilakukan dengan menerbitkan saham baru di bursa saham dan atau melakukan stock split. Stock split yang dilakukan oleh perusahaan emiten dapat berupa stock split atas dasar satu-jadi-dua (two-for-onestock), di mana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dipegang sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Dengan demikian total
1 2

Universitas Bakrie Jakarta Universitas Bakrie Jakarta 1

2 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

ekuitas perusahaan adalah tetap atau tidak mengalami perubahan (Rohana, Jeannet & Mukhlasin, 2003). Motivasi yang melatarbelakangi perusahaan melakukan stock split berdasarkan signaling theory dan trading range theory (Mason & Shelor, 1998). Signaling theory menyatakan bahwa stock split memberikan sinyal kepada investor mengenai prospek kinerja keuangan perusahaan pada masa mendatang dan itu menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang baik. Sedangkan trading range theory menjelaskan keinginan manajer perusahaan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Dengan adanya stock split akan menambah daya tarik (calon) investor akibat semakin rendahnya harga saham sehingga akan semakin banyak (calon) investor yang mampu bertransaksi dan membawa dampak pada likuiditas perdagangan saham. Keown, et al. (1996) dalam Rohana, dkk. (2003) menyebutkan beberapa alasan manajer perusahaan melakukan stock split antara lain, (1) agar harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham, (b) untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham pada kisaran yang telah ditargetkan, dan (c) untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen kas. Beberapa penelitian sebelumnya menguji variabel-variabel yang memengaruhi perusahaan melakukan stock split dan dampaknya terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian Rohana, dkk. (2003) menemukan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel harga saham dengan variabel stock split. Baker dan Gallagher (1980); Baker dan Powell (1953); dan Dolley (1993) menemukan bahwa perusahaan melakukan stock split agar likuiditas perdagangannya meningkat. Penelitian Asquith, et al. (1989) menemukan bahwa terdapat perbedaan earnings yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman stock split. Penelitian Khomsiyah dan Sulistyo (2001) menemukan bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diproksikan dengan Price Earning Ratio (PER) merupakan variabel yang membedakan antara perusahaan yang melakukan stock split dan perusahaan yang tidak melakukan stock split, namun untuk proksi Price to Book Value (BBV) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Rohana, dkk. (2003) menemukan bahwa likuiditas yang diukur dengan frekuensi perdagangan tahunan tidak berpengaruh positif terhadap stock split. Miliasih (2000) dan Rohana, dkk. (2003) menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan earnings yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman stock split. Hasil penelitian Widiastuti dan Usmara (2005) menyimpulkan bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PBV berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Namun penilaian ini tidak berhasil menunjukkan bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PER merupakan variabel yang berpengaruh positif terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Likuiditas yang diukur dengan bid-ask spread tidak berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Nilai perusahaan yang diukur dengan Tobins q menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

3 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

stock split, sedangkan nilai perusahaan yang diukur dengan earnings tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah stock split. Hasil penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang berbedabeda. Khomsiyah dan Sulistyo (2001) dengan Widiastuti dan Usmara (2005) mempunyai simpulan yang berbeda mengenai harga saham yang diproksi dengan PER dan PBV. Miliasih (2000), Rohana, dkk (2003); serta Widiastuti dan Usmara (2005) menghasilkan pendapat dan simpulan yang berbeda dalam penelitiannya atas earnings yang merupakan salah satu proksi untuk menghitung nilai perusahaan. Dengan adanya perbedaan hasil penelitian sebelumnya, maka penelitian ini ingin menguji kembali variabel-variabel yang memengaruhi keputusan perusahan melakukan stock split. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Widiastuti dan Usmara (2005). Terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu, yaitu: penambahan variabel bebas berupa kinerja keuangan perusahaan karena berpotensi mempengaruhi keputusan perusahaan melakukan stock split (Widiastuti & Usmara, 2005), proksi yang digunakan untuk mengukur likuiditas perdagangan saham dalam penelitian ini adalah Trading Volume Activity (TVA) karena lebih mudah dalam melakukan perhitungannya, dan membandingkan nilai perusahaan yang melakukan stock split dengan perusahaan yang tidak melakukan stock split karena belum pernah ditemukan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menguji apakah tingkat kemahalan harga saham, kinerja keuangan perusahaan dan likuiditas perdagangan saham memengaruhi keputusan perusahaan melakukan stock split dan memiliki dampak terhadap nilai perusahaan. 2. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS Stock split, Trading Range Theory dan Signalling Theory Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham kedalam nilai nominal yang lebih kecil (Sartono, 1996). Menurut Jogiyanto (2003), stock split merupakan kegiatan memecah selembar saham menjadi n lembar saham, dimana harga per lembar saham baru setelah stock split adalah 1/n dari harga saham per lembar sebelumnya. Dengan demikian jumlah lembar saham yang beredar akan meningkat proposional dengan penurunan nilai nominal saham. Umumnya stock split dilakukan apabila harga pasar saham dirasakan terlalu tinggi dan perusahaan merasa bahwa harga saham yang lebih rendah akan menghasilkan pasaran yang lebih baik dan distribusi kepemilikan yang lebih luas. Haryono (2001) mengemukakan bahwa salah satu alasan perseroan melakukan stock split adalah untuk menurunkan harga pasar saham-sahamnya. Hal ini terjadi apabila perseroan tidak menghendaki harga pasar yang terlalu tinggi, sebab hal ini dapat mengurangi minat para investor terhadap saham yang dikeluarkan perseroan yang bersangkutan. Trading range theory menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split didorong oleh perilaku praktisi pasar yang konsisten dengan anggapan bahwa dengan melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak terlalu mahal, di mana saham dipecah karena ada batas harga yang optimal untuk saham dan untuk
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

4 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

meningkatkan daya beli investor sehingga pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Signalling theory menjelaskan bahwa stock split memberikan sinyal yang positif karena manajer perusahaan akan menginformasikan prospek masa depan yang baik dari perusahaan kepada publik yang belum mengetahuinya. Alasan sinyal ini didukung dengan adanya kenyataan bahwa perusahaan yang melakukan stock split adalah perusahaan yang mempunyai kondisi kinerja keuangan yang baik. Jadi jika pasar bereaksi terhadap pengumuman stock split, reaksi ini tidak semata-mata karena informasi stock split yang tidak mempunyai nilai ekonomis tetapi karena mengetahui prospek masa depan perusahaan yang bersangkutan. Tingkat Kemahalan Harga Saham Harga saham yang dimaksud adalah harga saham yang dinilai oleh pasar. Harga pasar saham lebih sering dipakai dalam berbagai penelitian pasar modal, karena harga pasar saham yang paling diperhatikan oleh investor. Harga pasar saham mencerminkan nilai suatu perusahaan. Semakin tinggi harga saham, maka semakin tinggi pula nilai dari suatu perusahaan dan berlaku sebaliknya. Oleh karena itu, setiap perusahaan yang menerbitkan saham sangat memperhatikan harga pasar sahamnya. Harga saham perusahaan yang terlalu rendah dapat diartikan bahwa kinerja perusahaan kurang baik. Namun bila harga saham terlalu tinggi juga menimbulkan dampak yang kurang baik. Harga saham yang terlalu tinggi akan mengurangi kemampuan investor untuk bisa membelinya, sehingga menyebabkan harga saham tersebut sulit untuk meningkat lagi (Widiastuti & Usmara, 2005). Dalam mengantisipasi hal tersebut, banyak perusahaan yang melakukan stock split. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya beli investor dan menata harga saham ke rentang yang lebih optimal. Kinerja Keuangan Perusahaan Kinerja perusahaan merupakan hasil dari keputusan-keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh pihak manajemen suatu perusahaan (Helfret, 1999). Pengukuran kinerja perusahaan dapat dilihat dari sudut pandang finansial yang tercermin dari informasi laporan keuangan seperti likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas dan sudut pandang nonfinansial seperti kepuasan pelanggan, inovasi dalam produksi dan pengembangan perusahaan. Alat analisis yang umum digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan adalah rasio keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan analisis berupa rasio ini diharapkan akan dapat lebih mudah menjelaskan atau memberi gambaran kepada analis tentang baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan. Likuiditas Perdagangan Saham Salah satu faktor yang menentukan nilai saham suatu perusahaan adalah tingkat likuiditas saham tersebut. Likuiditas perdagangan saham merupakan suatu indikator dan reaksi pasar terhadap suatu pengumuman yang dapat diukur dengan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

5 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

TVA. TVA atau aktivitas volume perdagangan merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar modal (Suryawijaya & Setiawan, 1998). Husnan dkk., (1996) mengukur kegiatan perdagangan saham menggunakan indikator TVA untuk melihat apakah investor individual menilai laporan keuangan secara informatif, dalam arti apakah informasi tersebut membuat keputusan perdagangan di atas keputusan perdagangan yang normal. Perhitungan TVA dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham perusahaan yang beredar pada kurun waktu yang sama. Semakin kecil nilai TVA mengindikasikan likuiditas perdagangan saham perusahaan di bursa saham rendah. Perubahan volume perdagangan saham di pasar modal menunjukkan aktivitas perdagangan saham dan mencerminkan keputusan investasi para investor (Wismarein, 2004). Nilai Perusahaan Dalam mengambil keputusan-keputusan keuangan yang benar, manajer keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai, dimana tujuan keputusan keuangan tersebut adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari aset perusahaan (Modigliani & Miller, 1958). Hasil positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power semakin efisien perputaran aset dan atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi mengindikasikan bahwa kemakmuran pemegang saham juga tinggi (Soliha & Taswan, 2002). Dalam realitasnya tidak semua perusahaan menginginkan harga saham yang tinggi (mahal), karena pihak perusahaan menaruh kekhawatiran jika saham mereka tidak akan laku dijual dan tidak menarik minat investor untuk membelinya. Hal ini dibuktikan dengan adanya perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham melakukan aktivitas stock split. Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan Tobins q sebagai proksi nilai perusahaan untuk menguji apakah kinerja perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Suranta & Merdistuti, 2004; McConnel & Servaes, 1990). Rasio Tobins q didefinisi sebagai rasio nilai pasar perusahaan dibagi dengan nilai pengganti aktiva perusahaan. Jika nilai q lebih besar dari satu, maka dapat disimpulkan bahwa pasar mengakui nilai aktiva perusahaan saat itu lebih tinggi daripada nilai penggantinya (Lee & Tompkins, 1999). Tingkat Kemahalan Harga Saham dan Stock Split Ikenberry, Rankine, dan Stice (1996) menemukan bukti bahwa stock split mengakibatkan terjadinya penataan kembali harga saham pada rentang yang lebih rendah. Harga saham yang lebih rendah akan membuat investor potensial melakukan investasi sehingga akan menunjukkan pasar yang semakin likuid. Widyastuti dan Usmara (2005) dalam penelitiannya menjelaskan harga saham yang tinggi (mahal) menjadi alasan bagi perusahaan untuk melakukan stock split. Hal tersebut dapat dipahami karena apabila harga pasar saham terlalu mahal maka menjadi tidak menarik bagi investor, terutama investor kecil, dan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

6 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

akhirnya saham menjadi tidak likuid. Dengan alasan tersebut, semakin mahal harga saham dan semakin rendah likuiditas saham maka semakin besar kemungkinan perusahaan untuk melakukan stock split. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan: H1: Tingkat kemahalan harga saham memengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Kinerja Keuangan Perusahaan dan Stock Split Yosep dan Brown (1977) dan Asquith et al. (1989) menemukan adanya reaksi positif atas pengumuman stock split. Ewijaya dan Indriantoro (1999) menyatakan bahwa reaksi pasar tersebut sebenarnya bukan karena respons terhadap tindakan stock split itu sendiri, namun terhadap prospek perusahaan yang disinyalkan oleh stock split tersebut. Sinyal yang ditunjukkan dalam stock split adalah perusahaan yang melakukan stock split merupakan perusahaan yang mempunyai kinerja keuangan yang baik. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan mempunyai pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, hipotesis yang diajukan: H2: Kinerja keuangan perusahaan memengaruhi keputusan perusahaan melakukan stock split. Likuiditas Perdagangan Saham dan Stock Split Penelitian yang dilakukan oleh Baker dan Gallagher (1980) dan Kurniawati (2003) menunjukkan bahwa perusahaan melakukan stock split agar tingkat perdagangan berada dalam kondisi yang lebih baik sehingga dapat menambah daya tarik investor dan meningkatkan likuiditas perdagangan. Sedangkan penelitian Dolley (1993) dan Kristiawati (2004) menunjukkan bahwa motif utama perusahaan melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas saham biasa dan membawa distribusi saham yang lebih luas serta alasan perusahaan melakukan pemecahan saham adalah untuk menyediakan rentang perdagangan yang lebih baik sehingga menarik investor dan meningkatkan likuiditas perdagangan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, hipotesis yang diajukan: H3: Likuiditas perdagangan saham memengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Nilai Perusahaan dan Stock Split Grinblatt, Masulis, dan Titman (1984) dan Kurniawati (2003) berpendapat bahwa pengumuman stock split di pasar merupakan sinyal positif terhadap aliran kas perusahaan di masa yang akan datang. Sinyal positif dari pengumuman stock split mengintepretasikan bahwa manajer perusahaan akam menyampaikan prospek yang baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan investor. Penelitian Asquith et al. (1989) menunjukkan adanya perbedaan earnings sebelum dan setelah tindakan stock split. Senada dengan penelitian Widiastuti dan Usmara (2005) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai perusahaan sebelum dan setelah stock split yang diproksi dengan Tobins q. Berbeda dengan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

7 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

penelitian Rohanna, dkk. (2003), penelitian ini tidak berhasil menunjukkan adanya perbedaan earnings sebelum dan setelah stock split. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun akan meningkat. Berdasarkan penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan: H4: Terdapat perbedaan antara nilai perusahaan yang melakukan stock split dan tidak melakukan stock split. 3. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar dan menerbitkan saham pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu pemilihan anggota sampel dengan berdasarkan pada beberapa kriteria tertentu. Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam penentuan data sampel penelitian ini, yaitu: 1. Perusahaan dengan saham go public dan tergabung dalam berbagai industri. 2. Perusahaan yang melakukan stock split pada periode 2003-2009. 3. Perusahaan yang tidak melakukan stock split pada periode 2003-2009. 4. Perusahaan tidak melakukan kebijakan lainnya seperti pembagian dividen, right issue, pembagian saham bonus dan pengumuman lainnya secara bersamaan atau mendekati pelaksanaan peristiwa stock split. 5. Perusahaan tidak melakukan stock split lebih dari 1 kali pada periode 20032009. 6. Perusahaan yang datanya tersedia secara lengkap untuk kebutuhan analisis. 7. Perusahaan harus menyajikan laporan keuangannya baik pada website BEI ataupun website resmi perusahaan tersebut. 8. Laporan keuangan perusahaan pada periode yang diteliti harus tersedia dan memiliki informasi untuk setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini. 9. Memiliki laporan keuangan dengan denominasi mata uang rupiah. 10. Perusahaan memiliki periode laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember. Perusahaan yang melakukan stock split di BEI dari tahun 2003 sampai dengan 2009 sebanyak 48 perusahaan. Dari keseluruhan jumlah sampel perusahaan, sebanyak 12 perusahaan tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian karena perusahaan tidak mengacu pada salah satu kriteria yang telah disebutkan yaitu perusahaan tersebut melakukan lebih dari satu kebijakan seperti warant, right issue, dividen saham dan pengumuman lainnya. Sedangkan untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split diambil sebanyak 33 sampel perusahaan dari berbagai sektor industri yang ditentukan berdasarkan judgment
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

8 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

sampling dengan kriteria berikut: (1) berada pada industri yang sama pada perusahaan yang melakukan stock split, dan (2) memiliki range aset yang sama atau hampir sama dengan perusahaan yang melakukan stock split. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di BEI selama tahun 2003 - 2009 yang didapatkan dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD), website Bursa Efek Indonesia dan website resmi perusahaan sample. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik riset arsip (archival research). Definisi Operasionalisasi Variabel Kemahalan harga saham menjadi alasan bagi perusahaan untuk melakukan pemecahan saham. Hal tersebut dapat dipahami karena apabila harga pasar saham terlalu mahal maka menjadi tidak menarik bagi (calon) investor, terutama para (calon) investor kecil, dan akhirnya saham menjadi semakin tidak likuid. Untuk mengukur tingkat kemahalan harga saham, dalam penelitian ini akan di proksi dengan mengukur PER dan PBV. PER merupakan rasio yang menunjukkan besarnya harga setiap satu rupiah earnings perusahaan. PER dapat diukur dengan Harga pasar saham biasa menggunakan rumus: Laba per lembar saham Sedangkan PBV merupakan rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. PBV dapat diukur dengan H arg a pasar saham menggunakan rumus: Nilai buku per lembar saham Kinerja keuangan perusahaan adalah keadaan keuangan yang merupakan hasil dari keputusan dalam bidang keuangan yaitu investasi, operasional, dan pembiayaan yang dibuat (Husnan, Mamduh, dan Wibowo, 1996). Proksi yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan adalah EPS dan ROA. Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2001), Earning per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham untuk setiap lembar sahamnya. Semakin tinggi EPS semakin besar pula laba yang disediakan untuk pemegang saham. EPS dapat dihitung dengan Laba bersih setelah bunga dan pajak menggunakan rumus: Jumlah saham yang beredar ROA sendiri adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaannya dan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (net operation income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut. ROA dapat diperoleh dengan menggunakan rumus: Laba bersih Total Aset
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

9 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

Likuiditas suatu aset perusahaan menunjukkan seberapa cepat aset tersebut dapat dikonversi menjadi uang tunai (kas). Semakin cepat aset tersebut berubah menjadi kas, maka semakin tinggi likuiditasnya. Begitupula dengan likuiditas saham perusahaan, semakin banyak saham tersebut diperjualbelikan di bursa maka semakin tinggi tingkat likuiditas saham tersebut. Likuiditas saham dapat diukur dengan menggunakan proksi TVA. TVA yang digunakan adalah TVA pada akhir tahun sebelum perusahaan melakukan stock split. Bila perusahaan melakukan stock split pada tahun 2005, maka TVA yang digunakan adalah TVA pada akhir tahun 2004. Untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split, maka TVA yang digunakan adalah TVA rata-rata dari tahun 2004-2005. Untuk Jumlah saham yang diperdagan gkan menentukan TVA digunakan rumus: Jumlah saham yang beredar Untuk melihat apakah ada perbedaan nilai perusahaan yang melakukan stock split dan tidak melakukan stock split, peneliti menggunakan proksi Tobins q dan earnings. Tobins q dapat dihitung dengan rumus: EMV D Q = EBV D Dimana: Q = Nilai Perusahaan EMV = Nilai Pasar Ekuitas D = Nilai Buku Total Hutang EBV = Nilai Buku Total Aktiva Earnings dapat dipakai sebagai alat pengukur untuk menilai pertumbuhan atau perkembangan perusahaan. Dalam penelitian ini earnings diproksi dengan menggunakan operating income. Pertumbuhan laba operasi atau operating income dapat dihitung sebagai berikut: (Rohana, dkk. 2003) Op.Incj,t= Dalam hal ini: Op.Incj,t = perubahan laba operasi perusahaan J pada tahun t Op. Inct = laba operasi tahun ke- t Op. Inc t-1 = laba operasi tahun ke- t-1 Stock split adalah memecah selembar saham menjadi n lembar saham. Harga per lembar saham baru setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya (Jogiyanto, 2003). Untuk menguji H1 sampai dengan H4, variabel terikat yang digunakan adalah stock split. Pemilihan stock split sebagai variabel terikat memiliki sifat kuantitatif sehingga pengukuran yang dilakukan dengan memberi nilai nol (0) dan satu (1) untuk kategori tertentu. Variabel yang memberi nilai 0 dan 1 disebut variabel dummy. Indikator yang digunakan untuk menilai variabel dummy pada penelitian ini adalah nilai 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split dan 1 untuk perusahaan yang melakukan stock split. Metode Analisis Data Uji Normalitas Uji normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang
Jurnal Akuntansi Universitas Jember
( .
t

Op.Inc t

t-1)

10 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

terdistribusi normal (Gujarati, 2006). Untuk melihat normalitas data dapat dilakukan dengan melakukan metode one-sampel Kolmogorov-Smirnov Test. Uji Hipotesis Untuk menguji hipotesis 1, hipotesis 2 dan hipotesis 3 dalam penelitian ini menggunakan regresi logistik (logit). Analisis regresi logistik (logit) bertujuan untuk membuat perkiraan numerikal atas suatu variabel dengan menggunakan lebih dari satu variabel bebas. Persamaan regresi logit adalah: Status = a + b (PER) + c (PBV) + c (ROA) + d (EPS) + e (TVA) Dimana: Status = Status perusahaan (0 untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split, dan 1 untuk perusahaan yang melakukan stock split) a = Konstanta PER = Price Earnings Ratio PBV = Price to Book Value ROA = Return On Asset EPS = Earning Per Share TVA = Trading Volume Activity Sedangkan untuk melihat odds atau probabilitas perusahaan tersebut melakukan stock split atau tidak, dapat dicari dengan persamaan berikut (Eka dan Antariksa, 2005) dalam Widiastusti dan Usmara (2005) : [ ]= + 1( )+ 2( )+ 3( )+ 4( )+ 5( ) Dimana : = Model log dari odds dari persamaan di atas dapat ditransformasikan menjadi: (Eka dan Antariksa, 2005) dalam Widiastusti dan Usmara (2005) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) [ ]= Untuk menguji hipotesis keempat (H4) digunakan pengujian parametrik bebas ttest jika datanya terdistribusi normal, tetapi jika datanya tidak terdistribusi normal, maka dilakukan uji non parametrik Mann-Whitney. Model Penelitian Berdasarkan uraian dan penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka model penelitian adalah sebagai berikut:
Tingkat Kemahalan Harga Saham Kinerja Keuangan Perusahaan Likuiditas Perdagangan Saham

Stock split

4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif


Jurnal Akuntansi Universitas Jember

11 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

Analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran atau deskripsi dari setiap variabel yang diteliti pada hipotesis H1 H3 dan dapat dilihat pada tabel 1. Dari tabel 1 menunjukkan rerata tingkat kemahalan harga saham (PER dan PBV) untuk perusahaan yang melakukan stock split adalah sebesar 53,82484 dan 4,905806. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan rerata PER dan PBV pada perusahaan yang tidak melakukan stock split yaitu 28,27839 dan 2,049677. Sedangkan standar deviasi untuk PER dan PBV pada perusahaan yang melakukan stock split adalah sebesar 145,681801 dan 7,8333287 lebih tinggi dari standar deviasi untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split yaitu sebesar 44,9560202 dan 2,4861131. Tabel 1. Mean dan Standar Deviasi Variabel (Proksi) PER PBV EPS ROA TVA Melakukan Stock Split Mean St. Deviasi 53,82484 145,681801 4,905806 7,8333287 362,5161 750,9006535 10,47419 8,2962786 0,002278 0,0040244 Tidak Melakukan Stock Split Mean St. Deviasi 28,27839 44,9560202 2,049677 2,4861131 111,8816 210,0800716 5,914194 6,2537966 0,026477 0,1324527

Sumber: Data sekunder diolah

Kinerja keuangan perusahaan (EPS dan ROA) memiliki nilai rerata sebesar 362,5161 dan 10,47419 untuk perusahaan yang melakukan stock split serta 111,8816 dan 5,914194 untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split. Likuiditas perdagangan saham (TVA) memiliki nilai rerata sebesar 0,002278 dan nilai standar deviasi sebesar 0,0040244 untuk perusahaan yang melakukan stock split. Sedangkan untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split nilai reratanya adalah sebesar 0,026477 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,1324527. Analisis Regresi Logistik Sebelum melakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu diuji kelayakan dari model regresi yang digunakan dengan melakukan uji Hosmer Lemeshow Test. Jika probabilitas > 0,05 maka model dapat diterima dan jika nilai probabilitas < 0,05 maka model tidak dapat diterima atau dapat dikatakan model tidak layak. Hasil uji Hosmer Lemeshow Test (tabel 2) menunjukkan nilai probabilitas (Sig.) sebesar 0,948 dan nilai tersebut > 0,05. Hal ini menandakan bahwa model regresi yang digunakan fit atau layak digunakan. Tabel 2. Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square df Sig. 1 2,776 8 0,948 Hasil uji regresi logistik disajikan dalam Tabel 3. Dilihat dari hasil output olah data nilai Cox & Snell R Square adalah sebesar 0,261 dan nilai dari

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

12 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

Nagelkerkes R2 adalah sebesar 0,348 yang berarti variabilitas variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel bebas sebesar 34,8 %. Tabel 3. Hasil Uji Regresi Logistik B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Step 1a PER 0,001 0,006 0,009 1 0,924 1,001 PBV 0,312 0,156 3,995 1 0,046 1,366 EPS 0,001 0,001 0,622 1 0,430 1,001 ROA 0,057 0,058 0,967 1 0,325 1,059 TVA -505,763 223,757 5,109 1 0,024 0,000 Constanta -0,424 0,542 0,613 1 0,434 0,654 Chi-square 18,751 p-Value 0,002 Cox & Snell R Square 0,261 R Square 0,348
Sumber: Data diolah

Pengujian hipotesis 1 dapat dilihat pada tabel 3 di atas untuk variabel tingkat kemahalan harga saham yang diproksi dengan PER dan PBV masingmasing diperoleh nilai Wald sebesar 0,009 dan 3,995 dengan probabilitas sebesar 0,924 dan 0,046. Nilai probabilitas sebesar 0,924 > 0,05 berarti bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diproksi dengan PER tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Berbeda dengan nilai probabilitas sebesar 0,046 < 0,05 yang berarti bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diproksi dengan PBV berhasil menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Dengan koefisien regresi bernilai positif, menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki harga saham yang tinggi akan cenderung melakukan stock split dan sebaliknya dengan perusahaan yang memiliki harga saham rendah. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti dan Usmara (2005) yang menemukan bahwa tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PBV berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan perusahaan yang melakukan stock split sedangkan tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PER tidak berhasil menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh industri lain yang sejenis dan net income yang dihasilkan perusahaan. Jika PER rata-rata industri berada di atas PER perusahaan dapat dikatakan bahwa harga saham perusahaan masih wajar atau lebih rendah (murah). Dan bila dihubungkan dengan net income yang dihasilkan perusahaan akan mempengaruhi ekspektasi investor terhadap perusahaan. Bila net income yang dihasilkan perusahaan tidak menunjukkan akan adanya kesejahteraan pemegang saham, para investor tidak tertarik untuk memiliki saham perusahaan tersebut. Pengujian hipotesis 2 untuk kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan EPS dan ROA menghasilkan nilai Wald dari regresi logistik sebesar 0,622 dan 0,967. Nilai probabilitas yang dihasilkan untuk EPS adalah sebesar 0,430 dan untuk ROA sebesar 0,325. Masing-masing nilai probabilitas yang dihasilkan > 0,05 dan berarti bahwa kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan EPS dan ROA tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

13 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

yang pernah dilakukan oleh Brennan dan Copeland (1988) yang menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan stock split adalah perusahaan yang memiliki prospek bagus dan dapat dilihat dari kinerja keuangan perusahaan. Hasil yang menunjukkan tidak adanya pengaruh EPS dan ROA terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split disebabkan karena perhitungan EPS dan ROA sangat tergantung dari net income yang dihasilkan perusahaan. Kondisi perusahaan yang sedang melakukan ekspansi akan menghabiskan dana yang cukup besar sehingga menurunkan nilai net income yang dihasilkan. Penjualan aset produksi perusahaan juga dapat menurunkan net income dan nilai aset perusahaan. Hasil pengujian hipotesis 3 (tabel 3), menunjukkan nilai Wald sebesar 5,109 dan nilai probabilitas sebesar 0,024. Dengan nilai probabilitas yang dihasilkan sebesar 0,024 < 0,05 berarti likuiditas perdagangan saham yang diukur dengan TVA, menunjukkan adanya pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Nilai koefisien yang negatif sebesar -505,763 dapat diartikan bahwa setiap kenaikan satu unit TVA akan menurunkan probabilitas perusahaan melakukan stock split sebesar 505,763. Hasil ini mendukung penelitian yang pernah dilakukan oleh Dolley (1993) dan Kristiawati (2004) yang menunjukkan bahwa motif utama perusahaan melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas saham biasa dan membawa distribusi saham yang lebih luas. Untuk menguji hipotesis 4 menggunakan uji beda independent sample t-test. Sebelum dilakukan uji beda independent sample t-test, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk variabel nilai perusahaan yang diukur dengan earnings dan Tobins q. Hasil dari uji normalitas dengan menggunakan uji K-S menunjukkan probabilitas (sig) nilai Z sebesar 0,000 untuk earnings dan 0,05 untuk Tobins q. Hal ini berarti bahwa distribusi dari variabel earnings dan Tobins q normal (Tabel 4). Tabel 4. Uji Normalitas Earnings Tobins 62 62 a Normal Parameters Mean -0,4006 0,9508 Std. Deviation 238,081 0,55024 Most Extreme Differences Absolute 0,329 0,172 Positive 0,285 0,172 Negative -0,329 -0,138 Kolmogorov-Smirnov Z 2,590 1,357 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,000 0,050 N
Test distribution is Normal. Sumber: Data diolah

Berdasarkan uji independent sample t-test, uji F (Levenes Test) untuk variabel nilai perusahaan yang diukur dengan earnings dan Tobins q menghasilkan nilai F sebesar 5,296 dan 1,870 (table 5). Nilai p-value untuk earnings adalah sebesar 0,025 < 0,05 yang berarti bahwa varians dari dua kelompok sampel ini berbeda (equal variance not assumed), sedangkan nilai pJurnal Akuntansi Universitas Jember

14 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

value untuk Tobins q adalah sebesar 0,177 > 0,05 yang berarti bahwa varians dari dua kelompok sampel adalah sama (equal variance assumed). Tabel 5. Uji Independent T-test
Levene's Test for Equality of Variances F Earnings Equal variances assumed Equal variances not assumed -1.203 Tobins Equal variances assumed Equal variances not assumed -1.264 47.925 .212 -.17581 .13908 34.569 .237 -.72455 .60253 Sig. t t-test for Equality of Means Df Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference

5.296

.025

-1.203

60

.234

-.72455

.60253

1.870

.177

-1.264

60

.211

-.17581

.13908

Sumber: Data diolah

Hasil uji F yang dilakukan bertujuan untuk melihat varians antara dua sampel yang akan diuji karena akan menentukan nilai t hitung yang akan dipakai. Nilai t yang dipakai untuk variabel earnings adalah -1,203 dengan p-value sebesar 0,237 sedangkan nilai t untuk variabel Tobins q adalah -1,264 dengan p-value sebesar 0,211. Hal ini berarti bahwa nilai perusahaan yang diukur dengan earnings dan Tobins q tidak menunjukkan adanya perbedaan antara perusahaan yang melakukan stock split dengan perusahaan yang tidak melakukan stock split karena nilai p-value yang dihasilkan < 0,05. Tidak adanya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa stock split dapat dilakukan oleh semua perusahaan, tidak memandang perusahaan besar ataupun kecil. Keputusan manajemen seperti ekspansi bisnis, discontinued operation dapat menjadi salah satu faktor yang berdampak pada nilai earnings dan Tobins q. 5. SIMPULAN DAN SARAN Tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PBV memiliki pengaruh terhadap keputusan perusahaan dalam melakukan stock split tetapi tingkat kemahalan harga saham yang diukur dengan PER tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh. Kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan EPS dan ROA tidak berhasil menunjukkan adanya pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Likuiditas perdagangan saham yang diukur dengan TVA memiliki pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split. Uji beda untuk nilai perusahaan yang diukur dengan earnings dan Tobins q
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

15 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

tidak berhasil menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai perusahaan antara perusahaan yang melakukan stock split dengan perusahaan yang tidak melakukan stock split. Untuk penelitian selanjutnya perlu penambahan variabel bebas yang berpotensi memiliki pengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan stock split seperti ukuran perusahaan (Nurseto, 2008), risk change (Michayluk & Zhao, 2007), institutional trading (Chen, Nguyen, & Signal, 2005). Selain itu bagi para investor harus lebih cermat dalam menginvestasikan dana mereka di perusahaan yang akan melakukan atau baru melakukan stock split, karena secara empiris penelitian ini membuktikan bahwa kinerja perusahaan tidak mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Hasil ini tidak mendukung signaling theory yang menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan stock split adalah perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik..

DAFTAR PUSTAKA Asquith, P., Healy, P., & Palepu, K. (1989). Earnings and stock split. The Accounting Review, 44, 387 403. Baker, H. K., & Gallagher, P. (1980). Managements view of stock split. Financial Management, 9, 73-77. Baker, H. K., & Powell, G. E. (1992). Why companies issue stock split. Financial Management, 21, 11. Brennan, M. J., & Copeland, T. E. (1988). Stock split, stock price and transaction costs. Journal of Financial Economics, 22, 83-101. Chen, H., Nguyen, H. H., & Signal, V. (2005). Stock splits, performance, and breadth of ownership. Working Paper. University of Central Florida. Darmadji, T., & Fakhruddin, H. M. (2001). Pasar modal di Indonesia: pendekatan panya jawab. Edisi Pertama Jakarta : Salemba Empat. Dolley, J. C. (1933). Common stock split-up motives and effects. Harvard Business Review 12, 70-81. Ewijaya & Indriantoro, N. (1999). Analisis pengaruh pemecahan saham terhadap perubahan harga saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 2, 53-65. Grinblatt, M. S., Masulis, R., & Titman, S. (1984). The valuation effect of stock split and stock dividend. Journal of Financial Economics 13, 461 490. Gujarati, D. (2006). Dasar-dasar ekonometrika. Jakarta: Erlangga. Haryono, Y. (2001). Dasar-dasar akuntansi. Edisi 6. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Helfret, E.A. (1999). Teknik analisis keuangan (petunjuk praktis untuk mengelola dan mengukur kinerja perusahaan). Edisi 8. Jakarta: Erlangga. Husnan, S., Mamduh, M., & Wibowo, A. (1996). Dampak pengumuman laporan keuangan terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Kelola 5 (11), 110 - 125. Jenkins, A. M. (1985). Research methodologies and MIS research. (Mumford, E., Hirschheim, R., Fitzgerald, G. & Wood-Harper, T., eds.). Holland: Elsevier Science Publishers B. V.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

16 PENGARUH TINGKAT KEMAHALAN HARGA SAHAM, KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAN LIKUIDITAS PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP KEPUTUSAN PERUSAHAAN MELAKUKAN STOCK SPLIT

Jogiyanto, H. M. (2003). Teori portofolio dan analisis investasi. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Khomsiyah & Sulistyo. (2001). Faktor tingkat kemahalan harga saham, kinerja keuangan perusahaan dan keputusan pemecahan saham (stock split): Aplikasi analisis diskriminan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 16, 388-400. Kristiawati, F. (2004). Analisis likuiditas saham sebelum dan sesudah stock split. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Muhamadyah Yogyakarta. Kurniawati, I. (2003). Analisis kandungan informasi stock split dan likuiditas saham: Studi empiris pada non-synchronous trading. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 6, 264-275. Lee, D. E., & Tompkins, J. G. (1999). A modified version of the Lewellen and Badrinath measure of Tobins q. Financial Management, 28, 20 31. Mason, H. B., & Shelor, R. M. (1998). Stock Split: An institutional Investor Preference. The financial review 33, 33 - 46. McConnell, J. J., & Servaes, H. (1990). Additional evidence on equity ownership and corporate value. Journal of Financial Economics, 27, 595-612. Michayluk, D., & Zhao, R. (2007). Stock split and bond yields: Isolating the signaling hypothesis. Working Paper. School of Finance and Economics University of Technology Sydney. Miliasih, R. (2000). Analisis pengaruh stock split terhadap earnings. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 2, 131 - 144. Modigliani, F., & Miller, M. (1958). The Cost of capital, corporate finance, and the theory of investment. American Economic Review, 48, 26196. Rohana, Jeannet, & Mukhlaisin. (2003). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi stock split dan dampak yang ditimbulkannya. Simposium Nasional Akuntansi VI, 601 - 613. Sartono, A. (1996). Manajemen keuangan. Edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. Soliha, E., & Taswan. (2002). Pengaruh kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan serta beberapa faktor yang mempengaruhinya. Jurnal Bisnis dan Ekonomi. Suryawijaya, M. A., & Setiawan, F. A. (1998). Reaksi Pasar Modal Indonesia terhadap Peristiwa Politik Dalam negeri (Event Study pada Peristiwa 27 Juli 1996). Kelola 7 (18), 137 - 153. Widiastuti, H., & Usmara. (2005). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi stock split dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 6, 225 - 241. Wismarein, D. (2004). Reaksi pasar atas pengumuman right issue terhadap abnormal return dan likuiditas saham (Studi kasus pada Bursa Efek Jakarta). Tesis Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Universitas Diponegoro. Yosef, Bar S. & Brown, L. D. (1977). A re-examination of stock splits using moving betas. Journal of Finance, 32, 10691080.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA Lely Ana Ferawati Ekaningsih1 Abstract Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk menguji perbandingan dan perbedaan EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam penilaian Kinerja keuangan Perusahaan antara Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia dan 2) menganalisis penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan purposive sampling dan diperoleh 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur yang listed di BEI dengan periode penelitian 2006-2008. Penelitian ini menggunakan Multiple Analysis Of Variance/MANOVA untuk menghitung pengujian signifikansi perbedaan rata-rata secara bersamaan antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur untuk dua atau lebih variabel tergantung. Hasil pengujian MANOVA menunjukkan bahwa dari variabel yang diteliti menunjukkan bahwa ada perbedaan antara variabel OPM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dari hasil perhitungan Statistik Deskriptif menunjukkan bahwa penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BEI untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada perusahaan manufaktur. Kata Kunci : Economic Value Added, Market Value Added, Rasio Profitabilitas, Operating Profit Margin, Return On Asset, Return On Equity, Earning Per Share, Return On Sales 1. Latar Belakang Masalah Pengukuran kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan dalam perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan umumnya dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan seperti rasio profitabilitas. Pengukuran yang hanya menganalisis laporan keuangan memiliki
1

Universitas Jember 17

18 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

kelemahan utama yaitu mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah berhasil menciptakan nilai atau tidak. Untuk mengatasi kelemahan tersebut telah dikembangkan konsep baru yaitu EVA dan MVA. EVA dan MVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investasi. EVA dan MVA dianggap paling memiliki korelasi dengan perubahan dan penciptaan nilai saham di perusahaan. Kekuatan konsep EVA dan MVA adalah penciptaan nilai perusahaan dan manajemen dipaksa mengetahui beberapa the true cost of capital dari bisnisnya, sehingga tingkat pengembalian bersih dari modal bisa diperlihatkan secara jelas. 2. Rumusan Masalah a. Bagaimana perbandingan dan perbedaan EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja keuangan Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia?. b. Kelompok Perusahaan manakah yang mempunyai kinerja keuangan paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur? 3. TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Kajian Teoritis Pengertian Kinerja Istilah kinerja atau performance seringkali dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan dimanapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Pengertian Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan dalam perusahaan, yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan dalam perusahaan. Pengertian Kinerja Keuangan Menurut Helfert (2000) kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan manajemen yang dibuat secara terus menerus oleh manajer. Penilaian kinerja keuangan perusahaan merupakan upaya untuk mengetahui prestasi yang ingin dicapai oleh perusahaan sebagai suatu unit usaha yang umumnya banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksisitensi perusahaan. Metode Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan a. Economic Value Added/EVA / Nilai Tambah Ekonomi Istilah Economic Value Added/EVA / Nilai Tambah Ekonomi pertama kali dipopulerkan oleh Stern Steward Management Service yang merupakan perusahaaan konsultan dari Amerika Serikat. Ukuran kinerja ini pertama kali diperkenalkan oleh George Bennet Steward III dan Joel M Stern yang merupakan analis keuangan Stern Steward (Utama,1997). Menurut Mirza (1999) tolok ukur penilaian EVA dapat dinyatakan sebagai berikut:
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

19 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

b.

c.

1)

2)

3)

4)

5)

1) Apabila EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan. 2) Apabila EVA = 0 menunjukkan posisisi impas atau Break Event Point. 3) Apabila EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah. Market Value Added/MVA / Nilai Tambah Pasar. MVA digunakan untuk mengukur seluruh pengaruh kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang. MVA yang dihasilkan oleh kinerja manajerial sepanjang umur perusahaan yang di-present value-kan (Mirza dan Imbuh, 1999). Tujuan dari perusahaan adalah menciptakan MVA yang positif, karena: 1) MVA > 0 maka manajemen telah berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana. 2) MVA < 0 maka perusahaan tidak berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana. Rasio Profitabilitas Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan atau sekelompok rasio yang memperlihatkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi (Brigham dan Houston 2001:89) Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Operating Profit Margin/OPM/Marjin Laba Operasi merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan/laba bersih sebelum bunga dan pajak pada tingkat penjualan tertentu (Brealey, Myers, Marcus, 2006:81). Return on Asset/ROA/Pengembalian Atas Total Aktiva merupakan rasio laba bersih terhadap total aktiva untuk mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan pajak (Brigham dan Houston 2001:90) Return on Equity/ROE/Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa. Rasio laba bersih setelah bunga dan pajak terhadap ekuitas saham biasa. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham (Brigham dan Houston 2001:91) Earning Per Share/EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik (Ciaran Walsh 2003:148). Return On Sales/ ROS/Profit Margin On Sales/Marjin Laba atas Penjualan merupakan rasio untuk mengukur laba per rupiah penjualan (Brigham dan Houston 2001:89)

Hasil Penelitian Sebelumnya Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan baik yang berasal dari dalam negeri, maupun luar negeri yaitu antara lain telah dilakukan oleh Geoerge Bannet Stewart III (1991), Uyemura et al (1996), Desai et.al. (1999), Wet dan Hall (2004), Mariana Sri Rahayu (2007), Pablo Fernandez (2008), Indriwati Tresnowulani (2008), Rina Ulfayani (2009), Mia Ika Rismandhani & Sri Dewi Wahyundaru (2009).

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

20 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Persamaan antara penelitian yang dilakukan sekarang dengan penelitian terdahulu yang dikaji adalah sebagai berikut: a. Penelitian ini sama-sama menggunakan variabel operasional EVA, MVA dan Rasio Profitabilitas. b. Penelitian ini sama-sama meninjau peran EVA, MVA dan Rasio Profitabilitas sebagai alat dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan. Perbedaan antara penelitian yang dilakukan sekarang dengan penelitian terdahulu yang dikaji adalah sebagai berikut: a. Penelitian ini menggunakan kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur sebagai pembanding untuk mengungkapkan apakah ada perbedaan EVA, MVA dan Rasio Profitabilitas antara kelompok perusahaan manufaktur dan perusahaan non manufaktur. b. Penelitian ini melihat pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur perusahaan publik sebagai sampel penelitian. c. Penelitian ini menggunakan uji statistik Multiple Analysis Of Variance/MANOVA untuk pengujian hipotesisnya Pengembangan Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini : a. Ha : Ada perbedaan EVA, MVA dan rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. b. Ho : Tidak ada perperbedaan EVA, MVA dan rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. 4. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji Hipotesis (Hypotesis Testing) dan juga termasuk dalam penelitian Eksplanatori/penelitian penjelasan (Explanatory Research). Unit analisis dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriptif yang bersifat studi kasus. Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data nominal dan rasio. Sumber data adalah data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Pooled, yaitu kombinasi dari time series dan cross section (Gujarati, 2003:4). Populasi dan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006 sampai 2008. Sampel penelitian ini adalah perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang telah menjadi perusahaan publik di Indonesia dan dipilih dengan menggunakan Purposive Sampling Method

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

21 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Metode Analisis Data Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan a. Economic Value Added/EVA Rumus untuk menghitung EVA menurut Brigham dan Houston (2001: 51) : EVA = EBIT (1-Tarif Pajak) (Total Modal) (Biaya Modal Setelah Pajak) b. Menghitung Market Value Added/MVA Rumus untuk menghitung MVA menurut Brigham dan Houston ( 2001 : 50) : MVA = (Saham yang beredar x Harga saham) Total ekuitas saham biasa c. Rasio-rasio Profitabilitas. Cara menghitung rasio-rasio Profitabilitas : 1) Operating Profit Margin/OPM/Marjin Laba Operasi. Rumus untuk menghitung OPM (Brealey, Myers, Marcus, 2006:81): Operating Profit Margin = EBIT / Penjualan 2) Return On Asset/ROA/Pengembalian Atas Total Aktiva Rumus untuk menghitung ROA (Brigham dan Houston, 2001 : 90) ROA = Laba Bersih / Total Aktiva 3) Retun On Equity/ROE/ Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa Rumus untuk menghitung ROE (Brigham dan Houston, 2001 : 91) Return On Equity/ROE = Laba Bersih / Ekuitas Saham biasa 4) Earning Per Share/EPS Formula yang digunakan untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut (Ciaran Walsh 2003:148) EPS = EAT / jumlah lembar saham. 5) Return On Sales/ROS/Profit Margin On Sales/Marjin Laba atas Penjualan. Rumus untuk menghitung ROS (Brigham dan Houston 2001:89) ROS = Laba bersih / Penjualan Uji Normalitas Data Pengujian kenormalan data dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan data dapat dilakukan dengan menggunakan program SPSS. Dalam penelitian ini, uji kenormalan data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov-Smirnov test dengan menetapkan derajat keyakinan ( ) sebesar 5%. Apabila distribusi datanya normal atau mendekati normal maka menggunakan statistik parametrik, namun bila distribusinya tidak normal maka data tersebut terlebih dahulu dinormalkan dengan melakukan transformasi menggunakan akar kuadrat/SQRT (Ghozali 2006:32). Kriteria pengambilan keputusannya adalah: a. Signifikansi > 0,05 berarti data berdistribusi normal b. Signifikansi < 0,05 berarti data tidak berdistribusi normal Metode Pengujian Hipotesis. Alat uji statistik yang digunakan untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah Multiple Analysis Of Variance/MANOVA. MANOVA mempunyai pengertian sebagai suatu teknik statistik yang digunakan untuk menghitung pengujian signifikansi perbedaan rata-rata secara bersamaan antara
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

22 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

kelompok untuk dua atau lebih variabel tergantung atau untuk menjelaskan bahwa secara statistik dan signifikan ada perbedaan rata-rata variabel yang terjadi secara silmultan antara 2 tingkat variabel (Mudrajat Kuncoro 2003:215). 5. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses pemilihan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik pada sektor manufaktur dan non manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006 sampai 2008 sebanyak 409 perusahaan. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel, maka terdapat 205 perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian terdiri dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur. Analisis Data Uji Normalitas Data Untuk dapat melakukan analisis lebih lanjut dalam penelitian ini diperlukan data yang benar-benar valid dan normal. Hal ini dikarenakan dengan data yang normal, maka data tersebut dikatakan mampu untuk mewakili populasi yang diwakilinya. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan kaidah keputusan P Value > 0,05 data dikatakan berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas data terlihat sebagai berikut: Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Data Variabel Kolmogorov Smirnov Sig EVA 9,736 0,000 MVA 9,827 0,000 OPM 5,574 0,000 ROA 12,574 0,000 ROE 3,994 0,000 EPS 12,598 0,000 ROS 7,240 0,000 Sumber: Lampiran 3 Berdasarkan hasil pengujian tabel diatas diketahui bahwa dengan menggunakan 615 data (n = 615) diperoleh nilai P Value kurang dari 0,05 untuk masing-masing variabel yang diteliti. Hal ini berarti semua variabel dapat dinyatakan tidak berdistribusi normal. Karena dalam pengujian hipotesis menggunakan MANOVA yang menghendaki data berditribusi normal, maka harus dilakukan tindakan untuk menormalkan data yaitu dengan melakukan transformasi menggunakan akar kuadrat (SQRT). Dari hasil uji SQRT terdapat beberapa data yang hilang/missing. Kemudian dilanjutkan dengan proses Missing Value untuk mengisi data yang hilang tersebut. Setelah melakukan Missing Value, maka diperoleh data normal yang lengkap. Kemudian dilanjutkan dengan uji MANOVA. Pembahasan Hasil Perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja Perusahaan antara Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

23 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

a.

Hasil Uji MANOVA Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur Untuk Data Berdistribusi Normal.

Adapun gambaran mengenai hasil pengujian MANOVA dengan data yang berdistribusi normal dapat dinyatakan sebagai berikut. Tabel 4.5 Ringkasan Tests of Between-Subjects Effects Variabel Type III Sum of Squares F-hitung Sig EVA .229 1.007 .316 MVA .460 2.024 .155 OPM 1.876 1.007 .004 ROA 1.353 8.254 .015 ROE 253 5.954 .291 EPS 829 1.115 .057 ROS 1.423 3.646 .013 Sumber: Lampiran 6 Berdasarkan tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel OPM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel tersebut lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil uji MANOVA diperoleh fungsi MANOVA yang dapat dinyatakan dalam tabel berikut Tabel 4.6 Hasil Estimasi MANOVA Variabel Koefisien t-hitung Sig Intercept .795 14.543 .000 EVA 8.821E-5 1.004 .316 MVA -3.095E-5 -1.423 .155 OPM -.050 -2.873 .004 ROA .059 2.440 .015 ROE -.017 -1.056 .291 EPS -.003 -1.909 .057 ROS -.043 -2.502 .013 Sumber: Lampiran 6 Analisis lebih lanjut mengenai fungsi MANOVA adalah sebagai berikut: 1) EVA memiliki koefisien sebesar 0,00008821 dengan probabilitas t-hitung sebesar .316, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan EVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang positif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki EVA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur. Jika nilai EVA perusahaan positif maka perusahaan tersebut dapat menciptakan nilai perusahaan (Create value) yang merupakan cerminan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

24 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

2)

3)

4)

5)

6)

7)

akan kesejahteraan para pemegang saham. Jika suatu perusahaan dapat menciptakan nilai, maka kemungkinan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap harga saham perusahaan. Namun EVA yang negatif menunjukkan bahwa nilai perusahaan menurun karena tingkat pengembalian lebih rendah daripada biaya modalnya (Steward, 1990). MVA memiliki koefisien sebesar -0,00003095 dengan probabilitas t-hitung sebesar .155, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan MVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki MVA yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur. OPM memiliki koefisien sebesar -.050 dengan probabilitas t-hitung sebesar .004, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan OPM antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki OPM yang lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. Adanya perbedaan OPM antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan penjualan yang dicapai lebih baik perusahaan non manufaktur daripada perusahaan manufaktur. ROA memiliki koefisien sebesar .059 dengan probabilitas t-hitung sebesar .015, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang positif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki ROA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan manajemen perusahaan manufaktur lebih baik dalam mengoptimalkan asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan daripada perusahaan non manufaktur. ROE memiliki koefisien sebesar -.017 dengan probabilitas t-hitung sebesar .291, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki ROE yang lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. EPS memiliki koefisien sebesar -.003 dengan probabilitas t-hitung sebesar .057, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan EPS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki EPS yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur. ROS memiliki koefisien sebesar -.043 dengan probabilitas t-hitung sebesar .013, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki ROS yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur. ROS tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik dilihat dari segi penjualan. Penjualan yang meningkat setiap tahunnya akan meningkatkan laba perusahaan tersebut

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

25 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Hasil Penilaian Kinerja Perusahaan Yang Paling Baik Antara Kelompok Perusahaan Manufaktur Dan Non Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Gambaran mengenai hasil penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur dinyatakan sebagai berikut. TABEL Ringkasan Hasil Statistik Deskriptif Kelompok Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur Tahun 2006-2008 Perusahaan Manufaktur Perusahaan Non Manufaktur Variabel Tahun Mean Variabel Tahun Mean 2006 116.804,25 2006 361.273,64 EVA 2007 183.945,89 EVA 2007 627.372,66 2008 232.884,44 2008 478.181,94 2006 2.735.811,04 2006 5.745.460,25 MVA 2007 4.028.707,50 MVA 2007 9.280.241,76 2008 2.318.983,14 2008 4.582.608,63 2006 1,47 2006 3,84 OPM 2007 4,00 OPM 2007 10,41 2008 5,89 2008 8,11 2006 2,76 2006 3,06 ROA 2007 3,85 ROA 2007 5,51 2008 2,01 2008 3,52 2006 7,55 2006 8,61 ROE 2007 8,43 ROE 2007 12,14 2008 9,65 2008 7,41 2006 2,45 2006 1,51 EPS 2007 2,87 EPS 2007 1,58 2008 3,82 2008 1,48 2006 -0,32 2006 -3,74 ROS 2007 2,04 ROS 2007 13,60 2008 0,75 2008 0,48 Sumber Data Lampiran 2 Berdasarkan tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa, kinerja keuangan antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang paling baik untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur dibuktikan dengan diperolehnya hasil Mean yang lebih besar dari perusahaan manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil Mean/rata-rata yang lebih besar dari perusahaan non manufaktur. Analisis lebih lanjut untuk hasil penilaian perusahaan yang paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah sebagai berikut: a. EVA yang paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah EVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini disebabkan karena laba operasi perusahaan non manufaktur lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. Menurut Stewart (1993: 118-119) Peningkatkan laba operasi
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

26 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

b.

c.

d.

tanpa adanya tambahan modal berarti manajemen dapat menggunakan aktiva perusahaan secara efisien untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Selain itu, dengan berinvestasi ke project-project yang menerima return lebih besar daripada biaya modal (cost of capital) yang digunakan berarti manajemen hanya mengambil project yang bermutu dan meningkatkan nilai perusahaan. EVA yang positif menandakan perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal, karena perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang melebihi tingkat biaya modal. EVA yang positif karena perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang melebihi tingkat biaya modal. Tetapi apabila nilai EVA negatif maka menunjukkan nilai perusahaan menurun karena tingkat pengembalian lebih rendah dari biaya modal. MVA yang paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah MVA dari perusahaan non manufaktur. MVA perusahaan non manufaktur lebih tinggi daripada perusahaan manufaktur menandakan bahwa nilai pasar perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku perusahaan sehingga investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan non manufaktur. MVA positif, berarti ada nilai tambah bagi perusahaan, dan biasanya akan direspon oleh meningkatnya harga saham perusahaan sehingga tingkat pengembalian saham (return saham) akan mengalami peningkatan atau perusahaan berhasil menciptakan nilai tambah perusahaan bagi investor. Dan sebaliknya jika MVA negatif berarti perusahaan mengalami penurunan kinerja keuangan yang biasanya akan direspon dengan penurunan harga saham perusahaan sehingga tingkat pengembalian saham (return saham) akan mengalami penurunan atau nilai perusahaan berkurang karena tingkat pengembalian yang dihasilkan lebih rendah dari yang diharapkan investor. Menurut Steward menyakini dan mempopulerkan MVA sebagai ukuran yang paling tepat untuk menilai sukses tidaknya perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemilik perusahaan (pemegang saham) akan bertambah bila MVA bertambah dan hal ini ditunjukkan oleh perusahaan non manufaktur Operating Profit Margin/OPM yang paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah OPM dari perusahaan non manufaktur. OPM yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan penjualan yang dicapai lebih baik perusahaan non manufaktur daripada perusahaan manufaktur. ROA yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh ROA dari perusahaan non manufaktur. Jika nilai ROA perusahaan non manufaktur lebih tinggi dari ROA manufaktur maka membuktikan bahwa kemampuan manajemen perusahaan mengoptimalkan asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan semakin tinggi dibandingkan ROA dari perusahaan manufaktur. ROA yang negatif disebabkan laba perusahaan dalam kondisi negatif pula atau rugi. Rendahnya ROA dapat disebabkan oleh banyaknya asset perusahaan yang menganggur, investasi dalam persediaan yang terlalu banyak, kelebihan uang kertas, aktiva tetap beropersai dibawah normal, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan secara keseluruhan belum

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

27 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

e.

f.

g.

mampu untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi ROA semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi keuntungan yang dihasilkan perusahaan akan menjadikan investor tertarik akan nilai saham. ROE yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh ROE dari perusahaan non manufaktur. Jika ROE perusahaan non manufaktur lebih tinggi dari ROE perusahaan manufaktur hal tersebut mencerminkan laba perusahaan non manufaktur tersebut tinggi. ROE mengukur pengembalian nilai buku kepada pemilik perusahan yang merupakan perbandingan laba bersih terhadap ekuitas saham (Weston et. al,:1995). Menurut Bodie, Kane and Marcus (2002 ) penurunan ROE merupakan bukti bahwa investasi baru pada perusahaan tersebut menghasilkan ROE yang lebih rendah dari investasi lama. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. EPS yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh EPS dari perusahaan manufaktur. EPS perusahaan manufaktur yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan non manufaktur, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan jumlah lembar saham. ROS yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh ROS dari perusahaan non manufaktur. ROS tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik dilihat dari segi penjualan. Penjualan yang meningkat setiap tahunnya akan meningkatkan laba perusahaan tersebut. Pada perusahaan non manufaktur memiliki ROS tinggi karena biaya operasional pada perusahaan non manufaktur lebih rendah dibandingkan pada perusahaan manufaktur, terutama biaya tenaga kerja.

Keterbatasan Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan, mengingat masih ada faktor lain yang tidak dapat dijelaskan antara lain : a. Keterbatasan dalam penelitian ini menggunakan rasio keuangan perusahaan hanya diwakili oleh tujuh buah rasio keuangan, yaitu EVA, MVA, OPM, ROA, ROE, EPS, ROS, serta variabel dalam penelitian hanya terbatas variabel-variabel akuntansi saja dengan tidak melibatkan faktor ekonomi makro seperti tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan lain-lain, sebab terdapat kemungkinan rasio-rasio keuangan lain dan variabel-variabel lain yang lebih signifikan. b. Keterbatasan dalam pengelompokan perusahaan hanya antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur, serta pengambilan periode penelitian, yaitu periode yang cukup pendek hanya 3 tahun (2006,2007, 2008), sehingga hasil yang diperoleh kemungkinan tidak konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

28 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan a. Hasil pengujian MANOVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur untuk data berdistribusi normal menunjukkan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel PM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel lebih besar dari 0,05. b. Sedangkan dari hasil perhitungan Statistik Deskriptif menunjukkan bahwa penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur, dibuktikan dengan diperolehnya hasil Mean/Rata-rata yang lebih besar dari perusahaan manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil Mean yang lebih besar dari perusahaan non manufaktur. 5.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah : a. Bagi penelitian berikutnya diharapkan menambah variabel keuangan lainnya sebagai variabel independen dan melibatkan faktor ekonomi makro seperti tingkat bunga, inflasi dan lain-lain, karena sangat dimungkinkan rasio keuangan lain dan faktor ekonomi makro yang tidak dimasukkan dalam penelitian dapat menjadi pertimbangan sistem imbalan dalam perusahaan, serta dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan dalam perusahaan. b. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan membagi kelompok perusahaan ke dalam perusahaan berskala kecil, menengah dan besar, serta memperpanjang periode pengamatan agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan. DAFTAR PUSTAKA Bannet, Stewart G. 1991. The Economic Value Added : The Quest for Value, A Guide for Senior Managers:Harper Collins. New York. Bodi,Z, Alex, K and Alan, J. Marcus. 2002. Investments. 5th Edition. USA: Mc Graw-Hill. Brigham, Eugene F. dan Houston Joel F. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Jakarta. Erlangga. ------------------------------------------------------. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi 10. Jakarta. Erlangga.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

29 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Brealey, Richard A. Myers, Stewart C. Marcus, Alan J. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 1. Jakarta : Erlangga. Desai, A.,Fatemi, A.,Katz, 1999. Wealth Creation And Managerial Pay:MVA And EVA As Determinants Of Executive Compencation, The Institude For Coporate Planning, Technical University Of Germany. Global Finance Journal. Hal:157-179. Fernandez, Pablo. 2002. EVA, Economic Profit and Cash Value Added do Not Measure Shareholder Value Creation. Research Paper of IESE University of Navarta, no.253. Ghozli, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Cetakan IV. Semarang. Universitas Diponegoro. Gujarati, Damodar. 2003. Basic Econometric. 4th E, McGraw-Hill New York, Helfert, Erich A. 2000. Techniques of Financial Analysis : A Guide to Value Creation. 10th Edition, Singapore:McGraw-Hill Book Co, Jakarta Stock Exchange. Cara Membaca Prespektus Dan Laporan Keuangan. Panduan Pemodal. Seri II. Jakarta. PT Bursa Efek Indonesia. Kuncoro, Mudrajat. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Bagaimana meneliti dan menulis tesis?. Jakarta. Penerbit Erlangga. Mirza, Teuku dan Imbuh S., 1999. Konsep Economic Value Added : Pendekatan Untuk Menentukan Nilai Riil Manajemen. Usahawan No. 10 Tahun XXVIII, Januari Hal 37 40 Rahayu, Maria Sri. 2007. Analisis Pengaruh EVA Dan MVA Terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Skripsi Sarjana S1, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta Rismandhani, Mia Ika dan Wahyundaru, Sri Dewi . 2009. Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Alat Ukur EVA, MVA dan ROA Terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur di BEJ, Abstrak. Digital Library. Universitas Islam Sultan Agung. Sidharta, Utama. 1997. Economic Value Added Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan. Usahawan. No 4,April, hal 10 13. Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi. 1981. Metode Penelitian Survei, Jakarta:LP3ES Stewart, G.B.,III. 1991, The Quest for Value : The EVA Management Guide, New York: Harper Business. -----------------------. 1993, The Economic Value Added: The Quest for Value, A Guide for Senior Managers: Harper Collins. Tresnowulani, Indriwati. 2008. Analisis Kinerja Perusahaan Dengan Menggunakan Economic Value Added Pada Industri Pakan Ternak Publik. Abstrak. Program Pascasarjana Manajemen Dan Bisnis Institute Pertanian Bogor. Ulfayani, Rina. 2009. Pengaruh Economic Value Added Dan Rasio Profitabilitas Terhadap Market Value Added (Studi Kasus Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index).Abstrak, Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Uyemura D.G., Kantor C.C. and Petit J.M. 1996 : EVA for banks: Value creation, risk management, and profitability measurement. Journal of Applied Corporate Finance, 9, (2), pp. 94111.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

30 ANALISIS PERBANDINGAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Walsh, Ciaran 2003. Key Management Ratios. Rasio-rasio Manajemen Penting Penggerak dan Pengendali Bisnis. Edisi 3. Jakarta. Erlangga. Weston, J Fred dan Copeland, Thomas E. 1995.Manajemen Keuangan. Jilid 1. Edisi Kesembilan. Jakarta. Binarupa Aksara. Wet JH de dan Hall JH. 2004. The Relationship between EVA, MVA, Leverage. Meditari Accountancy Research. Vol. 12, No. 1, 39-59.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN Tita Djuitaningsih1 Erista Eka Ristiawati12

Abstract This research aims to examine the effect of environmental performance and foreign ownership refer to financial performance in PROPERs companies participant ,in cases where CSR Disclosure as a intervening variable. This study uses 34 samples of firms that listed as participant of Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) for the period of 2005 and 2007. Applying a partial least square method PLS, this study found that environment performance has no effect to CSR Disclosure. Foreign ownership has an effect to CSR Disclosure. In other side, environmental performance and foreign ownership has and effect to return on assets one year ahead and return on equity one year ahead (ROAt+1 and ROEt+1), but they had no effect to company return (Rt+1) in one year ahead.The results of this study indicate that the CSR Disclosure can not be an intervening in the relationship between foreign ownership and environmental performance with financial performance. Keywords: environmental performance, PROPER, foreign ownership, financial performance, CSR Disclosure 1. PENDAHULUAN Legitimacy theory mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatan usahanya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan (Sayekti & Wondabio, 2007). Hal ini sejalan dengan pendapat Irawan (2008), jika perusahaan ingin bertahan maka perlu memperhatikan 3P, yakni bukan hanya profit yang diburu, namun juga harus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan aktif menjaga kelestarian lingkungan (planet). Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility Disclosure (CSR Disclosure) merupakan mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum (Ikhsan & Linda, 2007). Untuk mendukung pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan di Indonesia, pemerintah membentuk suatu program penilaian mengenai pelaksanaan tersebut dengan peluncuran program peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan
1 2

Universitas Bakrie Jakarta Universitas Bakrie Jakarta 31

32 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

lingkungan hidup (PROPER) pada tahun 2002 yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Pengukuran kinerja perusahaan pada PROPER menggunakan indikator warna, yaitu warna emas, sebagai indikasi peringkat kinerja penataan paling baik, kemudian warna hijau, biru, merah, dan hitam sebagai indikasi penilaian kinerja paling buruk. Penelitian yang dilakukan oleh Januarti dan Apriyanti (2005) menunjukkan hasil bahwa biaya sumbangan sosial yang dikeluarkan perusahaan berpengaruh positif terhadap return on assets (ROA). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Suratno, dkk (2007) yang membuktikan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan lingkungan dan kinerja ekonomi. Demikian pula dengan penelitian Dahlia dan Veronica (2008) serta Vergalli dan Poddi (2009) yang menemukan adanya pengaruh pengungkapan CSR dalam laporan tahunan perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang. Namun demikian, hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan beberapa penelitian lain yang telah dilakukan. Lindrawati dkk. (2008), dalam penelitiannya menemukan bahwa CSR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return on equity (ROE) namun CSR berpengaruh secara signifikan terhadap return on investment (ROI). Fauzi (2009) dalam penelitiannya juga tidak dapat membuktikan bahwa aktivitas CSR yang dilakukan perusahaan berpengaruh pada kinerja perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Rakhiemah dan Agustia (2009) menunjukkan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap CSR disclosure, namun tidak memberikan pengaruh kepada kinerja finansial perusahaan. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat merupakan negara-negara yang sangat memerhatikan isu-isu sosial; seperti pelanggaran hak asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja, dan isu lingkungan seperti, efek rumah kaca, pembalakan liar, serta pencemaran air. Dengan demikian, perusahaan dengan kepemilikan asing akan memberikan pengungkapan tanggung jawab sosial yang lebih baik. Namun dalam penelitian Nurkhin (2009) ditemukan bahwa kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan tanggung jawab sosial. Perbedaan hasil penelitian dengan pernyataan tersebut menjadi dasar dilakukannya penambahan variabel kepemilikan asing untuk menguji kembali pengaruh kepemilikan asing dengan CSR Disclosure. Selain itu, perusahaan dengan persentase kepemilikan asing yang tinggi diduga dapat meningkatkan kinerja perusahaan dikarenakan manajemen dengan kepemilikan asing dapat lebih fokus dan lebih efisien dalam mengarahkan kegiatan operasional perusahaan, sehingga tujuan memaksimalkan profit dapat tercapai. Pendapat ini sejalan dengan hasil penelitian Czech, et al. (1997), DSouza, Megginson, dan Nash (2001), serta Cella (2009) yang mengungkapkan bahwa kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap return on assets (ROA) dan return on equity (ROE). Berdasarkan hasil penelitian-penelitian tersebut, masih terlihat adanya ketidakkonsistenan tentang hubungan antara kinerja lingkungan, CSR Disclosure, dan kinerja finansial perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan pengaruh di antara variabel-variabel tersebut. Dalam penelitian ini CSR Disclosure digunakan sebagai variabel intervening dan ditambahkan satu variabel bebas, yaitu kepemilikan asing, serta dua variabel dependen, yaitu ROA dan ROE, sebagai pengukuran kinerja finansial perusahaan. Penambahan variabel-

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

33 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

variabel ini dilakukan atas saran pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rakhiemah dan Agustia (2009). Penambahan rasio profitabilitas (ROA dan ROE) sebagai variabel dependen dilakukan karena adanya perbedaan hasil yang ditemukan oleh peneliti terdahulu mengenai pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja finansial. Dalam penelitiannya, Lindrawati dkk. (2008), Lindrianasari (2009), dan Norhadi (2009) mengemukakan bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA dan ROE perusahaan. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Tuwaijri, et al. (2004), Suratno dkk. (2007), Dahlia dan Veronica (2008), serta Rakhiemah dan Agustia (2009) yang menemukan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap ROA dan ROE perusahaan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah pengaruh kinerja lingkungan terhadap CSR Disclosure? (2) Bagaimanakah pengaruh kepemilikan asing terhadap CSR Disclosure? (3) Bagaimanakah pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja finansial perusahaan? (4) Bagaimanakah pengaruh kepemilikan asing terhadap kinerja finansial perusahaan? (5) Bagaimanakah pengaruh CSR Disclosure terhadap kinerja finansial perusahaan? 2. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS Stakeholders Theory Teori stakeholders mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan memerlukan dukungan stakeholders, sehingga aktivitas perusahaan juga mempertimbangkan persetujuan dari stakeholders. Pengungkapan sosial kemudian dipandang sebagai dialog antara perusahaan dengan stakeholders (Januarti & Apriyanti, 2005). Warren, Reeve, dan Duchac (2007) menjelaskan stakeholders sebagai individu atau entitas yang memiliki kepentingan baik dalam kepentingan ekonomis maupun non ekonomis dari perusahaan. Menurut pendekatan stakeholders, organisasi memilih untuk menanggapi banyak tuntutan yang dibuat oleh para pihak yang berkepentingan (stakeholders), yaitu setiap kelompok dalam lingkungan luar organisasi tersebut yang terkena tindakan serta keputusan organisasi. Menurut pendekatan ini, organisasi akan berusaha untuk memenuhi tuntutan lingkungan dari kelompok-kelompok tersebut (Robbins & Coulter, 1999). Januarti dan Apriyanti (2005) mengemukakan bahwa terdapat beberapa alasan yang mendorong perusahaan perlu memerhatikan kepentingan stakeholders, yaitu : (1) Isu lingkungan melibatkan kepentingan berbagai kelompok dalam masyarakat yang dapat mengganggu kualitas hidup mereka; (2) Era globalisasi mendorong produk-produk yang diperdagangkan harus bersahabat dengan lingkungan; (3) Para investor dalam menanamkan modalnya cenderung untuk memilih perusahaan yang memiliki dan mengembangkan kebijakan dan program lingkungan; (4) LSM dan pecinta lingkungan semakin vokal dalam melakukan kritik terhadap perusahaan-perusahaan yang kurang peduli terhadap lingkungan. Penilaian Kinerja Lingkungan melalui PROPER Kinerja lingkungan perusahaan adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik (green) (Rakhiemah & Agustia, 2009). Di Indonesia, penerapan kinerja lingkungan perusahaan difasilitasi dengan adanya PROPER, yaitu instrumen yang digunakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup untuk melakukan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

34 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

penilaian dan pemeringkatan ketaatan perusahaan dalam melakukan kinerja lingkungannya. Program penilaian PROPER telah diluncurkan sejak tahun 2002 oleh Kementrian Lingkungan Hidup, yang pada awalnya dikenal dengan nama PROPER PROKASIH. Tujuan diadakannya program ini adalah untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan dalam hal pengelolaan lingkungan. Program ini mengimbau perusahaan untuk dapat memberikan transparansi informasi kepada para stakeholders mengenai aktivitas pengelolaan lingkungan oleh perusahaan. Melalui program ini, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan dan penataan lingkungan, karena hasil dari pemeringkatan ini akan diumumkan kepada publik, sehingga dapat membawa dampak bagi reputasi perusahaan. Penilaian kinerja ketaatan perusahaan dalam PROPER menggunakan indikator warna, dimulai dari warna emas, sebagai peringkat terbaik, diikuti warna hijau, biru, merah, dan untuk peringkat terburuk diindikasikan dengan warna hitam. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah masyarakat untuk mengetahui peringkat yang ada. Aspek penilaian dalam PROPER difokuskan pada penilaian ketaatan perusahaan dalam pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), kewajiban lain yang terkait dengan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), penetapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML), konservasi dan pemanfaatan sumber daya, serta kegiatan social perusahaan. CSR Disclosure dan Legitimacy Theory CSR disclosure digambarkan sebagai ketersediaan informasi keuangan dan non-keuangan berkaitan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya (Irawan, 2008). Pengungkapan CSR dalam laporan keuangan telah dilakukan oleh banyak perusahaan di Indonesia, walaupun masih bersifat sukarela, terutama oleh perusahaan-perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penyajian laporan CSR ini pun dilakukan dengan kadar yang berbedabeda sesuai dengan jenis industrinya (Sayekti & Wondabio, 2007). Legitimacy theory menyebutkan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatan usahanya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Pengungkapan CSR dalam laporan keuangan diharapkan mampu membantu perusahaan untuk memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan keuangannya dalam jangka panjang, serta terjadi keseimbangan antara sistem nilai perusahaan dengan nilai masyarakatm, karena apabila terjadi ketidakseimbangan maka perusahaan akan kehilangan legitimasinya dan akan mengancam keberlangsungan perusahaan tersebut (Sayekti dan Wondabio, 2007). Kepemilikan Asing Struktur kepemilikan saham mencerminkan distribusi kekuasaan dan pengaruh di antara pemegang saham atas kegiatan operasional perusahaan (Nuryaman, 2008). Harjono (2009), memaparkan bahwa struktur kepemilikan berdasarkan jenis penanaman modal terbagi menjadi dua, yaitu penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). Menurut Fitriani (2001), afiliasi perusahaan dengan perusahaan asing (multinasional) mungkin akan melakukan pengungkapan yang lebih luas. Hal ini dikarenakan perusahaan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

35 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

multinasional mendapatkan mendapatkan pelatihan yang lebih baik dari perusahaan induk yang berpusat di luar negeri, misalnya untuk kualitas pengungkapan informasi, serta adanya permintaan informasi yang lebih besar dari stakeholders, karena perusahaan multinasional bergerak di area global, sehingga informasi yang dibutuhkan oleh stakeholders pun menjadi lebih luas. Selain itu, negara-negara luar terutama Eropa dan Amerika Serikat merupakan negara-negara yang sangat memperhatikan isu-isu sosial, sehingga perusahaan dengan persentase kepemilikan asing yang lebih tinggi diduga akan memberikan pengungkapan tanggung jawab sosial yang lebih baik. Kinerja Finansial Perusahaan Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), memaparkan pengertian kinerja sebagai ukuran seberapa efisien dan efektif seorang manajer atau sebuah perusahaan, seberapa baik manajer atau perusahaan tersebut mencapai tujuan yang memadai. Ukuran yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja adalah analis rasio. Rasio diperoleh dengan membandingkan satu pos atau elemen laporan keuangan dengan elemen lain dalam laporan keuangan tersebut (Fauzan, 2006). Kieso, Waygandt, dan Warfield (2007) membedakan jenis analisis rasio ke dalam empat kategori, yaitu: Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Profitabilitas, Rasio Cakupan. Pengembangan Hipotesis Kinerja Lingkungan dan CSR Disclosure Berbagai pengujian yang telah dilakukan mengenai pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan sosial menunjukkan hasil yang konsisten dengan teori tersebut. Lindrianasari (2007) dalam penelitiannya membuktikan bahwa kinerja lingkungan memberikan pengaruh yang positif dan siginifikan terhadap CSR Disclosure. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Suratno dkk. (2007) serta Rakhiemah dan Agustia (2009) yang menunjukkan adanya pengaruh positif signifikan pada kinerja lingkungan terhadap pengungkapan sosial. Berdasarkan penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. H1: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap CSR Disclosure. Kepemilikan asing dan CSR Disclosure Fitriani (2001) mengungkapkan bahwa afiliasi perusahaan dengan perusahaan asing (multinasional) mungkin akan melakukan pengungkapan yang lebih luas. Hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prihandono (2010) yang mengemukakan adanya pengaruh yang positif signifikan atas kepemilikan asing terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut. H2: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap CSR Disclosure. Kinerja Lingkungan dan Kinerja Finansial Penelitian yang dilakukan oleh Suratno, dkk. (2007) menemukan bahwa kinerja lingkungan yang diukur dengan return tahunan perusahaan, memberikan pengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Memed (2001), dalam penelitiannya mengenai perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia yang mengikuti program kali bersih, hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan yang
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

36 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

melakukan pengorbanan biaya sosial memiliki pengaruh siginifikan terhadap kinerja keuangan. Pengukuran yang digunakan untuk mewakili kinerja finansial dalam penelitian ini adalah return tahunan perusahaan, return on assets (ROA) satu tahun kemudian, dan return on equity (ROE) satu tahun kemudian. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut. H3a: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1). H3b: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H3c: Kinerja lingkungan berpeengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). Kepemilikan Asing dan Kinerja Finansial Perusahaan multinasional atau perusahaan dengan kepemilikan asing pada umumnya melihat keuntungan yang akan didapat berasal dari para stakeholders secara tipikal berdasarkan atas home market (pasar tempat beroperasi) yang dapat memberikan eksistensi yang tinggi dalam jangka panjang (Barkemeyer, 2007 dalam Cahyono, 2011). Perusahaan dengan persentase kepemilikan asing yang lebih tinggi diduga mampu mencapai kinerja finansial yang lebih baik. Pernyataan ini sejalan dengan hasil penelitian Czech, et al (1997), DSouza, Megginson, dan Nash (2001),serta Christina (2009) yang menemukan bahwa kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap ROA dan ROE perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut; H4a: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1). H4b: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H4c: Kepemilikan asing berpeengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). CSR Disclosure dan Kinerja Finansial Penelitian yang dilakukan oleh Dahlia dan Veronica (2008) terhadap 77 perusahaan publik yang tercatat di BEI menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan CSR perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap variabel ROEt+1 sebagai proksi kinerja keuangan. Selain itu, Vergalli dan Poddi (2009) yang melakukan penelitian terhadap perusahaan-perusahaan di Amerika dan Eropa, menyatakan bahwa adanya pengaruh positif pada CSR terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. H5a: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1). H5b: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H5c: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). 3. METODE PENELITIAN Sampel Penelitian
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

37 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan-perusahaan peserta PROPER pada periode tahun 2005 dan 2007. Pemilihan sampel dilakukan berdasarkan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel yang didasarkan atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang dipercaya mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang dikelompokan sebelumnya (Hadi, 1996). Dalam penelitian ini, penetapan sampel dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut: 1. Perusahaan yang mengikuti program PROPER pada periode tahun 2005 dan 2007. 2. Perusahaan peserta PROPER yang menerbitkan laporan tahunan untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember selama periode 2005-2008. 3. Perusahaan peserta PROPER yang memiliki dan melaporkan data mengenai Corporate Social Responsibility sejak tahun 2005-2008. 4. Perusahaan peserta PROPER yang memiliki dan melaporkan data mengenai harga saham sejak tahun 2005-2008. Tabel 1. Kriteria Pemilihan Sampel Keterangan 2005 2007 Total Perusahaan peserta PROPER 259 259 518 Tidak melakukan publikasi laporan tahunan (210) (210) (420) 49 49 98 Data laporan tahunan dan harga saham tidak mendukung (32) (32) (64) Total 17 17 34 Sumber: Data diolah Periode penilaian PROPER dilakukan setiap dua tahun sekali, dan dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah peserta PROPER pada dua tahun periode penilaian yaitu periode tahun 2005 dan 2007. Jumlah keseluruhan peserta PROPER periode tahun 2005 dan 2007 adalah 259 perusahaan. Berdasarkan kriteria pemilihan sampel yang telah ditentukan sebelumnya, diperoleh jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria sebanyak 17 perusahaan pada masing-masing periode 2005 dan 2007, sehingga total sampel untuk tahun penelitian 2005 dan 2007 adalah 34 perusahaan. Berikut adalah data perusahaan sampel yang digunakan: Aneka Tambang (Persero) Tbk., Astra Argo Lestari (Tbk.), Bakrie Sumatra Plantation (Tbk.), Budi Acid Jaya (Tbk.), Citra Tubindo (Tbk.), International Nickel Indonesia (Tbk.), Indah Kita Pulp & Paper (Tbk.), Indocement Tunggal Prakasa (Tbk.), Kimia Farma (Persero) Tbk., Medco Energi Internasional, Tbk., Semen Gresik (Persero) Tbk., SMART Corporation (Tbk.), Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk.), Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (Tbk.), Timah Persero (Tbk.), Unggul Indah Cahaya (Tbk.), dan Unilever Indonesia (Tbk.) Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Data kinerja lingkungan Kinerja lingkungan diproksikan melalui peringkat perusahaan dalam mengikuti program PROPER. Data mengenai peringkat kinerja lingkungan ini
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

38 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

dperoleh dari laporan hasil penilaian PROPER yang diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup pada periode 2005 dan 2007. b. Data kepemilikan asing Data mengenai kepemilikan asing dapat diperoleh dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory) maupun laporan tahunan perusahaan tahun 2005-2008. Data ini berupa status kepemilikan perusahaan asing dan kepemilikan lainnya selain asing. c. Data CSR Disclosure Data yang digunakan dalam pengukuran CSR Disclosure adalah indeks yang mengindikasikan luas pengungkapan relatif yang dilakukan setiap perusahaan. Data ini diperoleh dari pengungkapan yang dilakukan perusahaan melalui laporan keuangan tahunan yang diperoleh dari situs resmi perusahaan atau BEI. d. Data kinerja financial Pengukuran kinerja finansial dalam penelitian ini diproksikan dengan return tahunan perusahaan, ROAt+1, dan ROEt+1. Data-data tersebut diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan yang diperoleh dari situs resmi perusahaan atau BEI. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kinerja lingkungan, kepemilikan asing, CSR Disclosure, return tahunan perusahaan, ROAt+1 dan ROEt+1. Data-data tersebut merupakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi laporan hasil penilaian PROPER, yang diterbitkan oleh kementrian Lingkungan Hidup, dan dari laporan keuangan tahunan perusahaan yang diperoleh dari situs resmi perusahaan atau BEI dari tahun 2005 sampai 2008. Data-data ini diperoleh dari situs resmi perusahaan atau BEI, www.idx.co.id, dan Kementrian Lingkungan Hidup, www.menlh.go.id. Metode Analisis Data Hipotesis yang telah diajukan dalam penelitian ini akan diuji menggunakan analisis Structural Equational Modelling (SEM) dengan software smartPLS sebagai penguji analisis jalur. Dalam model evaluasi PLS terdapat tahap-tahap sebagai berikut; Model Pengukuran atau Outer Model Model pengukuran atau outer model dalam PLS dievaluasi sesuai dengan jenis indikatornya. Model pengukuran dengan indikator refleksif dievaluasi dengan penilaian convergent validity, discriminant validity, serta composite reliability dari indikatornya. Model pengukuran dengan indikator formatif dievaluasi dengan membandingkan besaran dan signifikansi relative weight (Ghozali, 2002). Jenis indikator pada penelitian ini adalah indikator refleksif, yaitu konstruk atau variabel laten dijelaskan oleh indikator-indikatornya. 1. Convergent validity Penilaian ini dilakukan berdasarkan korelasi antara item score dengan component score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin diukur, namun untuk penelitian awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai dengan 0,60 dianggap cukup (Ghozali, 2002). 2. Discriminant validity Penilaian didasarkan pada cross loading pengukuran dengan konstruk. Penilaian ini dilakukan untuk melihat sberapa baik korelasi antara konstruk dengan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

39 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

item pengukurannya (indikatornya). Cara lain adalah dengan melihat nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dalam model. Jika nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar konstruk dengan konstruk lainnya, maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik (Ghozali, 2002). 3. Composite Reliability Pengujian selanjutnya adalah composite reliability dari blok indikator yang mengukur konstruk. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika nilai composite reliability di atas 0.60. Model Struktural atau Inner Model Model struktural atau inner model dievaluasi dengan melihat nilai R-square untuk konstruk laten dependen dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural, dimana interpretasinya sama dengan interpretasi pada regresi. Operasionalisasi Variabel Penelitian Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen terdiri atas CSR Disclosure dan kinerja finansial, sedangkan varianel independen adalah kinerja lingkungan dan kepemilikan asing. CSR Disclosure CSR Disclosure merupakan pengungkapan yang dilakukan perusahaan berkaitan dengan aktivitas lingkungan dan sosial di dalam laporan tahunan perusahaan (Rakhiemah & Agustia, 2009). Pengukuran CSR Disclosure pada penelitian ini menggunakan indeks, dimana instrumen pengukuran checklist yang digunakan mengacu pada instrumen yang telah ditetapkan oleh Global Reporting Initiative (GRI) dalam Sustainability Reporting Guidelines (SRG). Instrumen ini mengelompokkan informasi CSR kedalam 7 kategori, yakni lingkungan, energi, keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, dan umum. Pengukuran ini telah digunkan oleh peneliti sebelumnya, yaitu Sembiring (2005), Suratno dkk. (2008), serta Rakiemah dan Agustia (2009). Kategori ini terbagi dalam 90 item pengungkapan. Berdasarkan peraturan Bapepam No. VIII G.2, tentang laporan tahunan, maka dilakukan penyesuaian atas item-item tersebut untuk dapat diaplikasikan di Indonesia, sehingga tersisa 78 item pengungkapan. Jumlah ini kemudian disesuaikan kembali dengan masing-masing sektor industri. Total item CSR berkisar antara 63 sampai 78, tergantung dari jenis indstri perusahaan. Pendekatan untuk mengukur CSRI pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi, yaitu setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan. Skor dari tiap item kemudian, dijumlahkan untuk mendapatkan keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus perhitungan CSRDI adalah sebagai berikut. CSRDIj = Xij/nj Di mana: CSRDIj = Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

40 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Xij Nj

= dummy variable: 1 jika item i diungkapkan; 0 jika item i tidak diungkapkan, dengan demikian, 0 CSRI 1. = jumlah item untuk perusahaan j, nj 78

Kinerja Finansial Mengacu pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Suratno dkk. (2007) serta Rakhiemah dan Agustia (2009), kinerja finansial diukur dengan menghitung return tahunan perusahaan yang dinyatakan dalam skala dengan perhitungan sebagai berikut. R = [(P1 P0)/P0] - RI di mana: R = return tahunan perusahaan P1 = harga saham akhir tahun P0 = harga saham awal tahun RI = return industri Pengukuran kinerja lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio profitabilitas, yaitu return on assets satu tahun ke depan (ROAt+1) dan return on equity satu tahun ke depan (ROEt+1). Perhitungan ROAt+1 digunakan untuk melihat efektivitas manajemen dalam menghasilkan laba menggunakan aset perusahaan, sedangkan ROEt+1 menggambarkan kemampuan manajemen menghasilkan return dari penggunaan modal milik perusahaan. ROAt+1 = Net Income/ Total Assets ROEt+1 = Net Income/Total Equity Kinerja Lingkungan Kinerja lingkungan perusahaan adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik (green) (Rakhiemah & Agustia, 2009). Pada penelitian ini, kinerja lingkungan diukur dari prestasi perusahaan dalam mengikuti program PROPER. Program ini diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, untuk mendorong perusahaan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup melalui instrumen informasi. Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Rakhiemah dan Agustia (2009), pengukuran kinerja lingkungan dilakukan dengan memberikan skor pada peringkat PROPER yang diperoleh perusahaan. Sistem peringkat kinerja PROPER diindikasikan dalam lima warna, yakni warna emas untuk peringkat sangat baik, diikuti warna hijau, biru, merah, dan hitam yang mengindikasikan peringkat sangat buruk. Pemberian skor dilakukan dengan menggunakan skala interval sebagai berikut. a. Emas : sangat sangat baik; skor = 5 b. Hijau : sangat baik; skor = 4 c. Biru : baik; skor = 3 d. Merah : buruk; skor = 2 e. Hitam : sangat buruk; skor = 1 Tabel 2. Kriteria Peringkat PROPER Peringkat Keterangan Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dan telah melakukan upaya 3R

Emas

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

41 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Hijau

Biru

Merah

Hitam

(Reuse, Recycle, dan Recovery), menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang berkesinambungan, serta melakukan upaya-upaya yang berguna bagi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang. Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan, telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan, mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat, termasuk melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle, dan Recovery). Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku. Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dengan peraturan perundang-undangan. Belum melakukan upaya lingkungan berarti, secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana yang dipersyaratkan, serta berpotensi mencemari lingkungan.

Model Penelitian Pengujian hipotesis yang telah diajukan pada penelitian ini dilakukan dengan menguji hubungan variabel-variabel tersebut dengan analisis jalur, untuk melihat tingkat signifikansi hubungan tiap-tiap variabel dan model secara keseluruhan.
Kinerja Lingkungan (X1) Peringkat Proper CSR Disclosure (Y1) CSRDI Kepemilikan Asing (X2) %ASING

Kinerja Finansial (Y2) Rt+1 ROAt+1 ROEt+1

Gambar 1. Model Penelitian

4.

ANALISIS DATA Pada penelitian ini, data yang telah dikumpulkan akan diolah dan dianalisis menggunakan software SmartPLS. Pengujian hipotesis menggunakan Partial Least Square (PLS) dilakukan untuk menguji model persamaan struktural (Structural Equation Modelling). Dalam analisis data menggunakan PLS, tidak diperlukan adanya uji asumsi klasik, karena PLS tidak mengasumsikan data harus dengan

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

42 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

pengukuran skala tertentu, serta dapat digunakan pada sampel dengan jumlah kecil (Ghozali, 2002). Tiap-tiap data dari variabel laten (konstruk) pada penelitian ini memiliki indikator-indikator yang bersifat refleksif, yang arah panahnya mengalir dari indikator laten (konstruk) menuju indikator. Variabel laten (konstruk) dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; 1. Kinerja lingkungan (KL), dengan indikator peringkat PROPER (PROPER); 2. Kepemilikan asing (ASING), dengan indikator persentase kepemilikan asing (%ASING); 3. CSR disclosure (CSRDISCL), dengan indikator CSR Disclosure Index (CSRDI); 4. Kinerja finansial (KF), dengan indikator ; a. Return tahunan satu tahun kemudian (Rt+1); b. ROA satu tahun kemudian (ROAt+1); c. ROE satu tahun kemudian (ROEt+1) Alasan menggunakan alat uji SmartPLS adalah; 1. SmartPLS berorientasi prediksi; 2. SmartPLS dapat menganalisis variabel laten (konstruk) yang dibentuk oleh indikator refleksif atau formatif, yang tidak dapat dilakukan oleh alat uji lain. 3. SmartPLS dapat melakukan analisis dengan jumlah sampel kecil, yaitu antara 30 sampai dengan 100. Pada analisis PLS akan dilakukan perhitungan untuk model struktural (inner model) dan model pengukuran (outer model) yang menghasilkan signifikansi nilai jalur antara satu variabel dengan variabel lainnya. Model Pengukuran (Outer Model) Outer model atau sering disebut outer relation atau measurement model, mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya (Ghozali, 2002). Outer model akan dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity serta composite reliability. Berikut adalah hasil outer model dari data yang diolah; Tabel 3. Outer Loadings Original Sample Mean of Standard tStatistic Estimate Subsamples Deviation KL PROPER 1.000 1.000 0.000 ASING %ASING 1.000 1.000 0.000 CSRDISCL CSRDI 1.000 1.000 0.000 KF ROAt+1 0.976 0.978 0.009 106.732 ROEt+1 0.974 0.968 0.010 99.521

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

43 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Rt+1 0.335 0.300 0.191 1.749 Sumber : Output SmartPLS. Convergent validity dari outer model dengan indikator refleksif dapat dilihat dari korelasi antara score item / indikator dengan skor konstruknya. Indikator individu dianggap reliabel jika memiliki nilai korelasi 0,70. Namun demikian, pada riset tahap pengembangan skala, loading 0,50 sampai 0,60 masih dapat diterima (Ghozali, 2002). Berdasarkan pada hasil output outer loading di atas, maka indikator Rt+1 harus dikeluarkan dari model karena memiliki loading original sample estimate kurang dari 0,50 sehingga tidak signifikan. Setelah menghilangkan indikator yang tidak signifikan (Rt+1) dilakukan estimasi kembali terhadap model dengan hasil sebagai berikut, dan hasilnya menunjukkan bahwa semua indikator memenuhi convergent validity, karena semua loading faktor berada di atas 0,50.

Discriminant Validity Discriminant validity indikator refleksif dapat dilihat pada cross loading antara indikator dengan konstruknya. Berikut ini adalah output SmartPLS; Tabel 3. Outer Loadings
Original Sample Statistic Estimate Subsamples Deviation Mean of Standard t-

%ASING 0.181 1.000 0.055 0.289 CSRDI 0.000 0.475 1.000 0.003 PROPER 1.000 0.336 0.025 0.021 ROAt+1 0.125 0.187 0.230 0.990 ROEt+1 0.176 0.051 0.425 0.985 Sumber : Output SmartPLS. Nilai faktor loading konstruk harus di atas 0,70. Faktor loading menggambarkan seberapa besar keterkaitan indikator terhadap masing-masing konstruknya. Hasil cross loading di atas menggambarkan bahwa setiap indikator dalam penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk masing-masing konstruknya karena telah melewati batas nilai yang telah ditetapkan, yaitu PROPER sebagai indikator kinerja lingkungan dengan nilai 1,000, %ASING untuk kepemilikan asing dengan nilai 1,000, CSRDI untuk CSR disclosure dengan nilai 1,000, serta ROAt+1 dan ROEt+1 untuk kinerja finansial dengan nilai masing-masing 0,990 dan 0,985. Cara lain mengukur discriminant validity adalah dengan melihat nilai square root of average variance extracted (AVE). Tabel 4. Correlations of The Latent Variables
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

44 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

KL ASING 1.000 CSRDISCL 0.468 1.000 KF 0.422 0.340 1.000 Sumber : Output SmartPLS. Keterangan : Diagonal adalah akar AVE Berdasarkan table 4.4, ditunjukkan bahwa nilai akar AVE (diagonal) lebih tinggi dari nilai korelasi antar konstruk lainnya, hal ini berarti bahwa seluruh konstruk memiliki discriminant validity yang tinggi. Composite Reliability Pengujian selanjutnya adalah composite reliability dari blok indikator yang mengukur konstruk. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika nilai composite reliability di atas 0,60. Berikut adalah tabel composite reliability untuk masing-masing konstruk; Tabel 5. Composite Reliability Composite Reliability KL 1.000 ASING 1.000 CSRDISCL 1.000 KF 0.987 Sumber : Output SmartPLS. Berdasarkan Tabel 5 di atas , dapat disimpulkan bahwa masing-masing konstruk memiliki reliabilitas yang tinggi, karena hasil pengujian menunjukkan angka lebih besar dari 0,60 untuk masing-masing konstruk.

KL 1.000 0.178 0.025 0.335

ASING

CSRDISCL

KF

Model Struktural (Inner Model) Evaluasi inner model dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel laten (konstruk) berdasarkan subtantantive theory (Ghozali, 2002). Inner model akan mengevaluasi hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu pengaruh kinerja lingkungan dan kepemilikan asing terhadap CSR disclosure, pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja finansial, serta pengaruh CSR disclosure terhadap kinerja finansial. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil perhitungan untuk nilai koefisien hubungan antar konstruk, tingkat signifikansi, dan R-square. 40 Tabel 6. Inner Weights Original Sample Mean of Standard tStatistic Estimate Subsamples Deviation
KL -> CSRDISCL 0.650 ASING -> CSRDISCL 5.668 KL-> KF 2.936 ASING -> KF 3.045 -0.061 0.479 0.281 0.276 -0.011 0.527 0.309 0.310 0.094 0.085 0.096 0.091

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

45 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

CSRDISCL -> KF 0.203 0.094 0.849 Sumber : Output SmartPLS. Tabel 7. R-Square

0.239

R-Square KL ASING CSRDISCL 0.223 KF 0.279 Sumber : Output SmartPLS. Pada Tabel 6, T Statistik menunjukkan besarnya signifikansi pengaruh antara variabel laten yang diteliti. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel kepemilikan asing (ASING) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel CSR disclosure (CSRDISCL) sebesar 5,668 (T-Hitung > T-Tabel 1.697). Demikian pula dengan kinerja lingkungan (KL) dan kepemilikan asing (ASING) yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja finansial (KF) sebesar 2,936 dan 3,045. Namun variabel kinerja lingkungan (KL) tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR disclosure (CSRDISCL) karena hasil T Statistik menunjukkan angka yang lebih kecil dari T tabel yaitu 0,650, begitu pula dengan variabel CSR disclosure (CSRDISCL) tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja finansial (KF), yang ditunjukkan oleh T Statistik sebesar 0,849. Nilai R-square (R2) pada tabel 4.7 menunjukkan angka sebesar 0,223 dan 0,279. Hal ini berarti bahwa variabel kinerja lingkungan dan kepemilikan asing hanya mampu menjelaskan 22,3% perubahan yang terjadi pada variabel CSR disclosure dan sisanya 77,7% dijelaskan oleh faktor lain. Demikian pula perubahan pada variabel kinerja finansial yang hanya mampu dijelaskan oleh kinerja lingkungan, kepemilikan asing, dan CSR disclosure sebesar 27,9% dan sisanya 72,1% dijelaskan oleh faktor lain. 5. PEMBAHASAN Hipotesis Pertama H1: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap CSR Disclosure. Hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR disclosure (Nilai T Statistik 0,650 < T Tabel 1,697). Hasil ini tidak mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Al Tuwaijri (2003), Lindrianasari (2007), Suratno, dkk. (2007), serta Rakhiemah dan Agustia (2009) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap CSR disclosure. Namun, hasil ini mendukung penelitian Pattern (2002) dan Handayani (2010) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap CSR disclosure. Hal ini dapat terjadi dikarenakan masih sedikitnya jumlah perusahaan yang mengikuti program PROPER dan peraturan yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial, sehingga pengungkapan yang dilakukan perusahaan masih jauh dari yang diharapkan, mengingat pengungkapan tanggung jawab sosial dalam laporan tahunan perusahaan masih bersifat voluntary.
Hipotesis Kedua H2: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap CSR Disclosure.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

46 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Hasil T Statistik menunjukkan angka 5,668 yang lebih besar dari T Tabel 1,697, yang berarti bahwa kepemilikan asing memberikan pengaruh positif terhadap CSR disclosure. Hasil ini mendukung penelitian Prihandono (2010), namun tidak mendukung hasil penelitian Almilia (2007) dan Nurkhin (2009) yang menyatakan kepemilikan asing tidak berpengaruh terhadap CSR disclosure. Penelitian ini menunjukkan hasil yang positif dan signifikan karena perusahaan dengan persentase kepemilikan asing yang besar atau perusahaan multinasional akan lebih memperhatikan kebutuhan informasi stakeholders yang lebih luas sehingga memberikan pengungkapan tanggung jawab yang lebih baik, dengan tujuan agar pengungkapan tersebut dapat memberikan good news bagi stakeholders. Hipotesis Ketiga H3a: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan. H3b: Kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H3c: Kinerja lingkungan berpeengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). Hasil pengujian menyatakan bahwa T statistik adalah 2.936, yang berarti bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja finansial, dalam hal ini ROAt+1 dan ROEt+1 saja karena di awal pengujian telah terbukti bahwa perhitungan Rt+1 tidak signifikan sebagai indikator kinerja finansial. Hipotesis 3a ditolak, karena return tahunan tidak signifikan dengan nilai cross loading kurang dari 0,50. Hasil ini sejalan dengan hasil pnelitian Almilia dan Wijayanto (2007), Rakhiemah dan Agustia (2009), serta Handayani (2010), tetapi tidak mendukung temuan Al Tuwaijri (2004) dan Suratno, dkk (2007) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan memberikan pengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan. Variabel kinerja lingkungan ternyata bukanlah salah satu faktor yang menentukan fluktuasi harga saham perusahaan satu tahun kedepan. Sebagai contoh, pada tahun 2005 perusahaan Bakrie Sumatra Plantation yang memperoleh peringkat PROPER hitam mempunyai return yang positif di tahun 2006, namun sebaliknya PT Indah Kiat Pulp & Paper dan Medco Internasional yang memperoleh peringkat biru pada tahun 2005 memiliki return negatif di tahun 2006. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan informasi di pasar modal sangat fluktuatif, sehingga tinggi rendahnya harga saham tidak hanya ditentukan oleh variabel kinerja lingkungan perusahaan. Hipotesis 3b yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap ROAt+1 diterima. Hasil pengujian ini sesuai denga legitimasi teori, dimana perusahaan yang melakukan kegiatan lingkungan yang lebih baik akan mendapatkan respon yang baik dari stakeholders yang dapat berdampak pada peningkatan pendapatan perusahaan dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Uzliawati (2008) serta Vergalli dan Poddi (2009), namun tidak mendukung hasil penelitian Norhadi (2009) dan Fauzi (2009). Hasil pengujian hipotesis 3c diterima, yaitu kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap ROEt+1. Seperti halnya pengaruh yang diberikan kinerja lingkungan terhadap ROAt+1, kinerja lingkungan yang dilakukan perusahaan juga dapat berpengaruh pada nilai ROEt+1 perusahaan. Semakin baik perusahaan melakukan kinerja lingkungannya, akan berdampak baik pada perkembangan kinerja finansial perusahaan jangka panjang, dimana akan terjadi peningkatan transaksi perusahaan yang berujung pada peningkatan ROEt+1. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

47 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

dilakukan oleh Memed (2001) namun tidak mendukung hasil penelitian Sarumpaet (2005) dan Norhadi (2009). Hipotesis Keempat H4a: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1). H4b: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H4c: Kepemilikan asing berpeengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). Hasil pengujian menyatakan bahwa T statistik adalah 3,045, yang berarti bahwa CSR disclosure berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja finansial, yaitu ROAt+1 dan ROEt+1 saja karena di awal pengujian telah terbukti bahwa perhitungan Rt+1 tidak signifikan sebagai indikator kinerja finansial. Hasil pengujian menyatakan menolak hipotesis 4a, yang berarti bahwa CSR disclosure tidak mempengaruhi Rt+1. Hasil ini mendukung penelitian Gedajlovic, Yosikawa, dan Hashimoto (2001) yang menyatakan bahwa kepemilikan asing tidak berpengaruh terhadap return perusahaan, hal ini dapat disebabkan karena kepemilikan asing bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham, sehingga tidak memberikan dampak yang begitu berarti kepada return perusahaan. Hipotesis 4b dan 4c yang menyatakan bahwa kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap ROAt+1 dan ROEt+1 dapat diterima. Hasil ini berarti bahwa perusahaan dengan persentase kepemilikan asing yang lebih besar akan lebih fokus, lebih disiplin, dan lebih efisien dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan, sehingga tercermin dengan peningkatan ROA dab ROE dalam jangka panjang. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Czech, et al (1997), DSouza, Megginson, dan Nash (2001), serta Christina (2009). Hipotesis Kelima H5a: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1). H5b: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return on assets satu tahun kemudian (ROAt+1). H5c: CSR Disclosure berpengaruh positif terhadap return on equity satu tahun kemudian (ROEt+1). Hasil pengujian menyatakan bahwa T statistik adalah 0.849, yang berarti bahwa CSR disclosure tidak berpengaruh terhadap kinerja finansial. Hal ini berarti bahwa hipotesis 5a, 5b, dan 5c ditolak. Hasil penelitian yang menolak hipotesis 5a sejalan dengan hasil penelitian Rakhiemah dan Agustia (2009) serta Handayani (2010) yang menyatakan bahwa pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan tidak mempengaruhi return tahunan dari perusahaan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena informasi yang ada dalam pasar modal sangat banyak dan fluktuatif sehingga dapat mempengaruhi harga saham, sehingga pengungkapan sosial perusahaan bukan menjadi satu-satunya informasi penting yang terkait dengan perubahan harga saham tersebut. Ditolaknya hipotesis 5b dan 5c mendukung penelitian Fauzi (2009) yang menyatakan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial tidak berpengaruh terhadap peningkatan ROA dan ROE perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena keadaan di Indonesia berbeda dengan negara-negara barat yang sangat memperhatikan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil ini menggambarkan masih
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

48 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

kurangnya kesadaran manajemen perusahaan di Indonesia untuk berperan serta aktif dalam melakukan aktivitas maupun pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.

6.

SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mengenai pengaruh kinerja lingkungan dan kepemilikan asing terhadap kinerja finansial, dimana variabel CSR disclosure menjadi variabel pemoderasi antara hubungan tersebut. Hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap CSR disclosure, hal ini terbukti dengan nilai signifikansi T statistik 0,650 < T tabel 1,697. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap CSR disclosure ditolak. 2. Kepemilikan asing berpengaruh positif dan signifikan terhadap CSR disclosure, terbukti dengan nilai signifikansi T statistik 5,668 > T tabel 1,697. Dengan demikian hipotesis kedua yang menyatakan kemilikan asing berpengaruh positif terhadap CSR disclosure diterima. 3. Kinerja lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja finansial perusahaan (ROAt+1 dan ROEt+1) yang ditandai dengan nilai signifikansi T statistik yang lebih besar dari T tabel, yaitu 2.936. Dengan demikian hipotesis 3b dan 3c dapat diterima, namun hipotesis 3a ditolak. Kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap return tahunan perusahaan (Rt+1) karena nilai cross loading return tahunan tidak signifikan. 4. Kepemilikan asing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja finansial perusahaan (ROAt+1 dan ROEt+1), terbukti dengan hasil T Statistik 3,045 > T Tabel 1,697. Dengan demikian hipotesis 4b dan 4c diterima, namun hipotesis 4a ditolak karena cross loading return perusahaan (Rt+1) tidak signifikan. 5. 5. CSR disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja finansial (ROAt+1 dan ROEt+1) sebesar 0,849 (T statistik < T tabel). Hal ini berarti bahwa hipotesis 4a, 4b, dan 4c yang menyatakan CSR disclosure berpengaruh positif terhadap kinerja finansial ditolak. 6. Berdasarkan hasil pengujian yang diperoleh, CSR Disclosure tidak berhasil menjadi variabel intervening pada hubungan antara kinerja lingkungan dan kepemilikan asing dengan kinerja finansial perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena CSR Disclosure bukanlah satu-satunya media yang dapat digunakan untuk mengetahui kinerja lingkungan perusahaan, seperti melakukan publikasi secara langsung melalui media cetak atau elektronik.
KETERBATASAN PENELITIAN Setelah melakukan analisis dan mengetahui interpretasi hasil pada hipotesis yang ada, ditemukan kterbatasan bahwa penelitian ini hanya menggunakan variabel kinerja lingkungan dan kepemilikan asing sehingga kurang mampu menjelaskan variabel CSR disclosure dan kinerja finansial. SARAN Berdasarkan keterbatasan tersebut, maka untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk dapat; 1. Mampu melengkapi indikator atau pengukuran untuk kinerja lingkungan, tidak hanya menggunakan hasil penilaian PROPER, tetapi juga dapat menggunakan

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

49 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

ISO, sehingga sampel yang dapat diteliti pun akan lebih banyak dan hasil yang didapatkan lebih relevan. 2. Melakukan perpanjangan waktu periode penelitian, sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Agustin, T. (2010). Anaslisis Hubungan antara kinerja Ekonomi dan Kinerja Lingkungan dengan Alokasi Dana CSR pada Perusahaan Ekstraktif [Skripsi]. Semarang : Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Almilia, L. S., & Wijayanto, D. (2007). Pengaruh Environmental Performance dan Environmental Disclosure terhadap Economic Performance. Prosiding Konferensi Akuntansi ke-1, hal. 1 23, Depok, 7 9 November 2007. Al-Tuwaijri, S. A., Christensen, T. E., & Hughes II, K. E. (2004). The Relations among Environmental Disclosure, Environmental Performance, and Economic Performance: A Simultaneous Equations Approach. Accounting, Organizations, and Society. Vol. 29. pp. 447-471. Cahyono, B. (2011). Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Perusahaan dangan Kepemilikan Asing sebagai Variabel Moderating. [Skripsi]. Semarang : Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Cella, C. (2009). Ownership Structure and Stock Market Returns. Stockholm School of Economics. Diakses dari http://ssrn.com/abstract=1267268.pdf. [26 Juli 2011]. Crisostomo, Fatima, & Felipe. (2010). Corporate Social Responsibility, Firm Value, and Financial Performance in Brazil. Diakses dari http://ssrn.com/abstract=1587023.pdf. [24 Februari 2011]. DSouza, J., Nash, R. C., & Megginson, W. L. (2001). Determinants Of Performance Improvements In Privatized Firms: The Role Of Restructuring And Corporate Governance. Working Paper. Diakses dari http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=243186. New Orleans. [26 Juli 2011]. Dahlia, L., & Veronica, S. (2008). Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2005 dan 2006). Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak. Fauzan, A. (2006). Analisa Pengaruh Penilaian Kinerja terhadap Rate of Return pada Perusahaan yang Tergabung dalam LQ 45 [Skripsi]. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi. Universitas Islam Indonesia. Fauzi, H. (2009). Corporate Social and Financial Performance: Empirical Evidence of American Companies. Globsyn Managemen Journal. Diakses dari http://ssrn.com/abstract=1489494.pdf. India. [17 Maret 2011]. Fitriani (2001). Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Wajib dan Sukarela pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi 4. Gedajlovic, E., Yoshikawa, T., & Hashimoto, M. (2001). Ownership Structure, Investment Behavior and Firm Performance in Japanese Manufacturing Industries. ERIM Report Series Reference No. ERS-2001-09-STR. Diakses dari http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=370867.pdf. Canada. [26 Juli 2011].
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

50 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Ghozali, I. (2002). Structural Equation Modelling: Metode Alternatif dengan Partial Least Square. Universitas Diponegoro, Semarang. Ghozali, Imam. 2005, Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Jilid 1, BPFE Universitas Diponegoro, Semarang. Hadi, S. (1996). Metodelogi Research. Yogyakarta. Handayani, A. R. (2010). Pengaruh Environmental Performance terhadap Environmental Disclosure dan Economic Performance serta Environmental Disclosure terhadap Economic Performance (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) [Skripsi]. Semarang : Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Harjono, D. K. (2009). Aspek Hukum dalam Bisnis. Jakarta: Pusat Pengembangan Hukum dan Bisnis Indonesia. Ikhsan, A., & Linda. (2007). Pertangungjawaban Sosial Perusahaan dan Kinerja Keuangan : Kebijakan Penerapan Sustainability Reporting [Laporan Penelitian]. Banda Aceh: Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Irawan, R. (2008). Corporate Social Responsibility: Tinjauan Menurut Peraturan Perpajakan Di Indonesia. The 2nd National Conference UKWMS. Surabaya. Januarti, I., & Apriyanti, D. (2005). Pengaruh Tanggung Jawab Sosial Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan. Jurnal Manajemen, Akuntansi, dan Sistem Informasi. Vol. 5. pp. 227-243. Semarang. Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D. (2007). Intermediate Accounting. New Jersey: John Wiley & Sons Inc. Lindrawati, F. N., & Budianto, J. T. (2008). Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan yang Terdaftar Sebagai 100 Best Corporate Citizens oleh KLD Research & Analytics. Majalah Ekonomi. Vol. 18. pp. 66-83. Lindrianasari. (2009). Hubungan antara Kinerja Lingkungan dan Kualitas Pengungkapan Lingkungan dengan Kinerja Ekonomi Perusahaan di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Auditing. Vol.11. pp.159-172. Yogyakarta. Memed, S. (2001). Pengaruh Akuntansi Sosial terhadap Kinerja Sosial dan Keuangan Perusahaan terbuka di Indonesia. [Disertasi]. Bandung : Universitas Padjajaran. Norhadi. (2009). Interaksi Biaya Sosial, Kinerja Sosial, Kinerja Keuangan Dan Luas Pengungkapan Sosial (Uji Praktek Socila Responsibility Perusahaan Go Publik Di Bursa Efek Indonesia). [Disertasi]. Semarang: Program Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas DIponegoro. Nurkhin, A. (2009). Corporate Governance dan Profiabilitas; Pengarunya teradap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia) [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro. Nurlela, R., & Islahuddin. (2008). Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak. Nuryaman. (2008). Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak. Patten, D. M. (2002). The Relation Between Environmental Performance And Environmental Disclosure: A Research Note. Accounting, Organization and Society. 27. 763-773.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

51 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

Prihandono, A. Y. (2010). Pengaruh Return on Asset, Kepemilikan Asing, Ukuran dan Umur Perusahaan terhadap Tingkat Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009 [Skripsi]. Jakarta: Program Studi Akuntansi, Universitas Bakrie. Rakhiemah, N. A., & Agustia, D. (2009). Pengaruh Kinerja Linkungan terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) Disclosure dan Kinerja Finansial Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi 12. Palembang. Robbin, S. P. & Coulter, M. (1999). Management 7th ed. New Jersey : Prentice - Hall International, Santoso, S. (2010). Statistik Multivariat: Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: Elex Media Komputindo. Sarumpaet, S. (2005). The relationship Between Environmental Performance and Financial Performance of Indonesian Companies. Jurnal Akuntansi & Keuangan. Vol 7 (2). Hal. 89 98. Sayekti, Y., & Wondabio, L. S. (2007). Pengaruh CSR Disclosure terhadap Earning Response Coefficient (Suatu Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar. Sembiring, E. R. (2005). Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Study Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo. Stoner, J.A.F., Freeman, R.E., & Gilbert Jr, D.R., (1995). Manajemen: jilid I. Jakarta: Prenhallindo. Suratno, I. B., Darsono, & Mutmainah, S. (2007). Pengaruh Environmental Performance terhadap Environmental Disclosure dan Economic Performance (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2004). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.10. pp. 199-214. Yogyakarta. Uzliawati, L. (2008). Analisis Dampak implementasi Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) Terhadap Kinerja Perusahaan : Studi Kasus Pada 4 Perusahaan. Serang: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Diakses dari http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/byId/49748. [17 Maret 2011]. Vergalli, S., & Poddi, L. (2009). Does Corporate Social Responsibility Affect The Performance of Firms?. FEEM Working Paper. Diakses dari http://ssrn.com/abstract=1444333.pdf. Milan. [17 Maret 2011]. Warren, Reeve, & Duchac. (2007). Financial Accounting. United States of America: Thomson South-Western. Widayono, A. (2010). Analisis Statistika Multivariat Terapan. Yogyakarta : UPP STIM YKPN. http://www.emeraldinsight.com http://www.garuda.dikti.go.id http://www.idx.co.id http://www.menlh.go.id/proper http://www.ssrn.com Lampiran PLS Output dan Bootstraping Iterations of the PLS-Algorithm Iteration ASING CSRDI PROPER ROEt+1
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

ROAt+1

52 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

0 1.000 1 0.462 2 0.462

1.000 1.000 1.000

1.000 1.000 1.000

1.000 1.000 1.000

1.000 0.550 0.550

KL ASING CSRDISCL KF

Inner weights (structural model) KL ASING CSRDISCL -0.061 0.479

KF 0.281 0.276 0.203

%ASING CSRDI PROPER ROAt+1 ROEt+1

Outer weights (measurement model) KL ASING CSRDISCL 1.000 1.000 1.000

KF

0.550 0.462 Outer loadings (measurement model) KL ASING CSRDISCL 1.000 1.000 1.000

KF

%ASING CSRDI PROPER ROAt+1 ROEt+1

0.990 0.985

Correlations of the latent variables KL ASING CSRDISCL KF KL 1.000 ASING 0.178 1.000 CSRDISCL 0.025 0.468 1.000 KF 0.335 0.422 0.340 1.000 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------R-square R-Square KL ASING CSRDISCL KF

0.223 0.279

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

53 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN

KL ASING CSRDISCL KF

Composite Reliability Composite Reliability 1.000 1.000 1.000 0.987

Average Varianve Extracted (AVE) Average Variance Extracted (AVE) KL 1.000 ASING 1.000 CSRDISCL 1.000 KF 0.975 Measurement Model =============================================================== ========= KL ASING CSRDISCL KF %ASING -1.000 CSRDISCL -1.000 PROPER -1.000 ROAt+1 1.000 ROEt+1 1.000 Structural Model =============================================================== ========= KL ASING CSRDISCL KF KL 1.000 1.000 ASING 1.000 1.000 CSRDISCL 1.000 KF Result for Inner Weights Original Sample Mean of Statistic Estimate
KL -> CSRDISCL 0.650 ASING -> CSRDISCL 5.668 -0.061 0.479

Standard Deviation
0.094 0.085

t-

Subsamples
-0.011 0.527

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54 PENGARUH KINERJA LINGKUNGAN DAN KEPEMILIKAN ASING TERHADAP KINERJA FINANSIAL PERUSAHAAN KL-> KF 2.936 ASING -> KF 3.045 0.281 0.276 0.309 0.310 0.096 0.091

CSRDISCL -> KF 0.849

0.203

0.094

0.239

Result for Outer Loadings Original Sample Mean of Statistic Estimate Subsamples

Standard Deviation

t-

KL PROPER 1.000 1.000 0.000 ASING %ASING 1.000 1.000 0.000 CSRDISCL CSRDI 1.000 1.000 0.000 KF ROAt+1 0.990 0.990 0.001 751.587 ROEt+1 0.985 0.985 0.005 204.660 =======================================================================

Result for Outer Weights Original Sample Mean of Statistic Estimate


KL PROPER ASING %ASING CSRDISCL CSRDI KF ROAt+1 20.289 ROEt+1 18.542 1.000 1.000 1.000 0.550 0.462

Standard Deviation
0.000 0.000 0.000 0.027 0.025

t-

Subsamples
1.000 1.000 1.000 0.553 0.459

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

TINGKAT PEMAHAMAN TERHADAP SAK ETAP: STUDI EMPIRIS PADA MAHASISWA YANG BERASAL DARI SMK DAN SMA Fidiana1

Abstract The main objective of the research is to prove level of the understanding toward accounting principle in the SAK Etap of Accounting students of STIESIA Surabaya based on their previous study that is from vocational study or from general study. The Population of the research is the Accounting students of Stiesia who are assigned at semester 3 on academic year of 2011/2012. The instrument of collecting data is questioner, which is used to reveal variable of recognition, measurement and reporting of understanding SAK Etap concept. Each instrument has been tasted and it fulfills the term of validity and reliability. Based on the Levene test toward 86 students with various background studies, there is no different significantly level the understanding of recognition, measurement, and reporting of understanding SAK concept. Keywords: recognition, measurement, reporting, understanding, SAK Etap

1. Latar Belakang Tahun 2011 merupakah tahun diberlakukannya SAK Etap secara efektif. Pengguna SAK ETAP diperkirakan 24% dari seluruh entitas di Indonesia. Entitas tanpa berakuntabilitas publik (ETAP) pada umumya UMKM kini berjumlah 52,7 juta ditambah 124.000 unit koperasi (Wiraharja dan Wahyuni, 2009). Penerapan SAK Etap membawa dampak yang luas terhadap pengembangan akuntansi di Indonesia, baik secara praktik maupun akademik. Standar baru ini memengaruhi pakem teori akuntansi di Indonesia, yang berdampak pada perubahan dalam penyusunan laporan keuangan entitas. Dengan diadopsinya SAK Etap sebagai standar akuntansi yang baru maka mahasiswa sebagai calon akuntan harusnya menguasai ketentuan dan penggunaan SAK Etap. Apalagi sebagian kecil perusahaan telah mensyaratkan SAK Etap capability pada job vacancies yang mereka buka. Ini membuktikan bahwa dunia bisnis menuntut lulusan akuntansi siap pakai untuk mengaplikasi dan menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan SAK Etap. Dalam hubungannya dengan kualitas lulusan akuntansi, maka akuntan pendidik merupakan salah satu profesi akuntansi yang melaksanakan proses penciptaan profesi akuntan yang wajib mengetahui regulasi akuntansi yang berkaitan dengan standar akuntansi termasuk pengetahuan akan SAK Etap.

STIESIA Surabaya 54

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

Walaupun SAK Etap dinyatakan lebih sederhana dan lebih mudah penerapannya dibandingkan dengan PSAK umum, tidaklah semudah yang dikatakan karena pasti mengandung perbedaan pengakuan, pengukuran, dan penyajian dengan PSAK lama. Penerapan SAK Etap yang dianggap lebih mudah tapi relatif baru bagi entitas bisnis maupun pemerintah dan pihak lainnya. Suksesnya implementasi SAK Etap secara keseleluruhan ini tentu adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan dari keseluruhan sumber daya dan infrastruktur yang dibutuhkan termasuk pendidikan sumber daya manusia baik di lingkungan masyarakat bisnis atau dunia pendidikan. Untuk itu penelitian tentang kesiapan akuntan dan calon akuntan mendesak untuk dilakukan. Mahasiswa adalah calon akuntan profesional. Sebagai calon akuntan wajar saja jika perlu dianalisis tingkat pemahamannya terhadap standar baru yang paling sederhana yaitu SAK Etap. Tingkat pemahaman akan suatu standar akan merepresentasi kesiapan mengaplikasikan dalam praktik sesuai harapan dunia bisnis. Itu sebabnya banyak sekali penelitian yang menggunakan mahasiswa sebagai sampel penelitian, karena mahasiswa akuntansi dianggap sebagai calon akuntan, praktisi, dan profesional dituntut memiliki pemahaman pada standar akuntansi yang mendasari perlakuan terhadap suatu transaksi ekonomi. Beberapa penelitian yang menggunakan sampel mahasiswa berargumen bahwa mahasiswa dapat menggambarkan kondisi aktual sehingga layak dijadikan proksi akuntan profesional (Cohen et al 2001 dan Urgin 2008), merupakan representasi pimpinan perusahaan (Belski et. al, 2008), proksi manajer/eksekutif (Huerer et al 1999) proksi investor (Elliot et al 2005; Hirst et al 1995, Maines dan McDaniel 2000). Untuk mempertajam analisis, tingkat pemahaman mahasiswa akan dibedakan menurut latar belakang pendidikan sebelumnya yaitu SMK dan SMA . Dengan latar belakang yang berbeda tersebut, tentunya pemahaman akan perlakukan akuntansi dalam aspek pengakuan, pengukuran, dan penyajian berdasarkan standar akuntansi yang berlaku tentu berbeda. Tingkat pemahaman akan ke tiga hal tersebut akan menentukan keberhasilan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi, di mana pada semester awal perkuliahan, mahasiswa diwajibkan menempuh mata kuliah pengantar akuntansi dan teori akuntansi. Pemetaan terhadap asal mahasiswa dapat dijadikan dasar seleksi penerimaan mahasiswa baru agar perguruan tinggi dapat menentukan input yang tepat sehingga proses pembentukan tenaga akuntan profesional menjadi lebih mudah. Sari et al (2010) memberikan argument kritis tidak adanya jaminan pelajar yang berasal dari SMK jurusan akuntansi (SMEA Akuntansi) yang telah mendapat pembelajaran tentang akuntansi lebih banyak di sekolah mampu memahami mata kuliah akuntansi dengan baik dibandingkan dengan pelajar yang berasal dari SMA dan Madrasah Aliyah. Fenomena ini menunjukkan bahwa baik pelajar SMK, SMA, dan MA tidak cakap dalam penguasaan ilmu akuntansi. Dapat disimpulkan pelajar lulusan jurusan akuntansi yang berasal dari pendidikan sekolah atas tersebut tidak memadai untuk dimanfaatkan di pasar tenaga kerja bidang akuntansi. Sementara itu Chariri dan Hendro (2010) juga membuktikan bahwa mahasiswa akuntansi mempersepsikan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang pengakuan dan pengukuran instrument keuangan sebagai standar akuntansi yang sulit dipahami. Hal ini mengarah pada ketidaksiapan dari sumber daya yang ada untuk menggunakan standar yang berlaku, padahal implementasinya mendekati limit waktu yang ditentukan. Kesenjangan antara harapan pemakai lulusan akuntansi dengan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

kondisi dan kompetensi mahasiswa Akuntansi ini menunjukkan bahwa mahasiswa belum menguasai dengan baik standar yang berlaku. Berdasarkan fakta dan uraian di atas, merupakan hal yang cukup mendesak untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa atas standar akuntansi yang berlaku saat ini sehingga dapat merepresentasi kesiapan dari calon akuntan dan suksesnya implementasi standar. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: 1. Apakah terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengakuan yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP)? 2. Apakah terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengukuran yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP)? 3. Apakah terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap penyajian yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP)? 3. Tinjauan Teori Dan Pengembangan Hipotesis SAK Etap akan berlaku efektif pada tahun 2011. Penting untuk ditanyakan bagaimana kesiapan kalangan akademisi di bidang akuntansi? Mengingat kalangan akademisi adalah ujung tombak dalam mempersiapkan atau menghasilkan generasigenerasi penerus yang akan berhadapan langsung dengan SAK Etap dalam dunia kerja. Pemahaman SAK Etap Menurut kamus besar Bahasa Indonesia paham memiliki arti pandai atau mengerti benar sedangkan pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Ini berarti bahwa orang yang memiliki pemahaman standar akuntansi adalah orang yang pandai dan mengerti benar standar akuntansi. Purwanto (2007) memberikan uraian lebih detail, Pemahaman adalah tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini ia tidak hanya hapal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan, maka operasionalnya dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan. Di dalam ranah kognitif menunjukkan tingkatan-tingkatan kemampuan yang dicapai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dapat dikatakan bahwa pemahaman tingkatannya lebih tinggi dari sekedar pengetahuan. Hal ini diperjelas oleh Sudijono (1996) bahwa pemahaman merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

ingatan dan hafalan. Menurut Azwar (1997), dengan memahami berarti sanggup menjelaskan, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, meramalkan, dan membedakan. Pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga kategori. Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, dan pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Karakteristik soal-soal pemahaman sangat mudah dikenali, tetapi membuat item pemahaman tidaklah mudah. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif yaitu menafsirkan, memberikan contoh, mengklasifikasikan, meringkas, menarik inferensi, membandingkan, dan menjelaskan (Rustaman, 2003:41). Sehingga, pemahaman akuntansi berarti kemampuan untuk mengukur, mengklasifikasikan (membedakan), dan mengikhtisarkan (menyajikan) unsur-unsur laporan keuangan. SAK Etap adalah suatu standar akuntansi yang digunakan bagi entitas yang tidak memiliki akuntanbilitas publik signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal. Maka pemahaman SAK Etap merupakan suatu kemampuan seseorang untuk mengukur, mengklasifikasi (membedakan) dan mengikhtisarkan penyajian unsur-unsur laporan keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam SAK Etap. Indikator tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengandung makna lebih luas atau lebih dalam dari pengetahuan. Dengan pengetahuan, seseorang belum tentu memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam, hanya sekedar mengetahui tanpa bisa menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari. Sedangkan dengan pemahaman, seseorang tidak hanya bisa menghapal sesuatu yang dipelajari, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dari sesuatu yang dipelajari juga mampu memahami konsep dari pelajaran tersebut. Standar Akuntansi Standar akuntansi merupakan masalah penting dalam profesi dan semua pemakai laporan keuangan. Oleh karena itu, mekanisme penyusunan standar akuntansi harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang berkepentingan. Standar akuntansi akan terus berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat. Standar akuntansi secara umum diterima sebagai aturan baku, yang didukung oleh sanksisanksi untuk setiap ketidakpatuhan (Belkaoui, 2006). Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi, yaitu definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan; pengukuran dan penilaian; pengakuan; dan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan (Chariri (2009). Standar akuntansi yang berkualitas sangat penting untuk pengembangan kualitas struktur pelaporan keuangan global. Standar akuntansi yang berkualitas terdiri dari prinsipprinsip komprehensif yang netral, konsisten, sebanding, relevan dan dapat diandalkan yang berguna bagi investor, kreditur dan pihak lain untuk membuat keputusan alokasi modal. SAK Etap adalah PSAK yang disederhanakan dalam hal pilihan pada alternatif standar yang lebih sederhana, penyederhanaan pada pengukuran dan pengakuan, dan mengurangi pengungkapan. Standar akuntansi entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK Etap) diluncurkan secara resmi pada tanggal 17 Juli 2009 bertepatan dengan acara seminar nasional Tiga Pilar Standar Akuntansi Indonesia yang dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya dan Ikatan Akuntan Indonesia. Etap yaitu entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan yaitu entitas yang tidak tercatat di pasar modal, tidak sedang dalam proses untuk pengajuan pernyataan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

pendaftaran di pasar modal, dan bukan lembaga keuangan. Dengan adanya SAK Etap, perusahaan kecil menengah diharapkan mampu untuk menyusun laporan keuangannya sendiri, dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya dari Bank) untuk pengembangan usaha. Dalam beberapa hal SAK Etap memberi banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan yang kasat mata tampak dari ketebalan SAK Etap yang hanya memuat sekitar seratus halaman dengan tigapuluh bab. Pengakuan Pengakuan unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria sebagai berikut (IAI, 2009): a. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas b. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal Kegagalan untuk mengakui pos yang memenuhi kriteria tersebut tidak dapat digantikan dengan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau catatan atau materi penjelasan. Suatu unsur diakui secara formal apabila unsur tersebut sudah memenuhi salah satu definisi elemen laporan keuangan. Berarti pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya kedalam neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan sebagai pencatatan suatu item dalam akuntansi dan laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian harus dapat diakui dan diukur agar dapat menyajikan informasi yang relevan. Dalam Yaya et al (2009:92) dikatakan bahwa pengakuan merupakan proses pembentukan pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laporan laba rugi. Pengakuan memerlukan suatu konsep agar dapat menentukan kapan dan bagaimana unsur dalam akuntansi dapat diakui dalam laporan keuangan. Menurut Harahap (2005:39) konsep pengakuan Akuntansi mendefinisikan prinsip dasar yang menentukan penentuan waktu pendapatan, biaya, pengakuan untung dan rugi didalam laporan keuangan bank, aset dan kewajiban. Pengakuan Dalam Laporan Keuangan Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di masa depan akan mengalir ke entitas dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah periode pelaporan berjalan. Sebagai alternative transaksi tersebut menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kebajiban masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban. penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban. Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal. Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban. beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal. Laba rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Hal tersebut merupakan suatu unsur terpisah dari laporan keuangan, dan prinsip pengakuan yang terpisah tidak diperlukan. Pengukuran Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam laporan keuangan. Proses ini termasuk pemilihan dasar pengukuran tertentu (IAI, 2009). Sedangkan Yadiati (2007: 64) mengemukakan pengukuran merupakan pemetaan (mapping) suatu angka kepada obyek atau peristiwa menurut aturan tertentu. Akuntansi merupakan pengukuran dari peristiwa dan transaksi-transaksi bisnis dari entitas yang telah diidentifikasi dengan angka-angka dan atribut yang relevan. Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar (IAI, 2009). Biaya historis; aset adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari pembayaran yang diberikan untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai wajar dari aset non-kas yang diterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat terjadinya kewajiban. Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan aset atau untuk menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar. Adapun konsep Pengakuan dan Pengukuran Akuntansi antara lain: a. Konsep matching, untung/rugi selama jangka waktu tertentu harus ditentukan dengan mencocokkan pendapatan dan keuntungan dengan biaya-biaya dan kerugian yang berhubungan dengan periode atau jangka waktu tersebut b. Sifat pengukuran mengacu kepada sifat-sifat aset dan kewajiban yang harus diukur untuk tujuan Akuntansi Keuangan. Sifat-sifat yang harus diukur yakni: nilai setara kas yang diharapkan atau diperkirakan diperoleh atau dibayarkan, relevansi aset, kewajiban dan investasi terbatas pada akhir periode akuntansi, kemampuan aset, kewajiban dan investasi terbatas untuk direvaluasi, sifat pengukuran alternatif tetapi nilai setara kas. Kedua konsep tersebut merupakan dasar bagaimana suatu unsur dalam laporan keuangan harus diakui dan diukur. Suatu pengakuan ada kaitannya dengan pengukuran suatu unsur dalam akuntansi misalnya saja pada tanggal perolehan aktiva, ada beberapa biaya dan nilai yang memiliki nilai yang kurang lebih sama. Biaya dan nilai tersebut seperti yang diungkapkan dalam Skousen (2004: 38) terdapat lima atribut pengukuran yang saat ini banyak digunakan dalam praktek, diantaranya: 1. biaya historis yang merupakan harga setara kas untuk barang atau jasa pada tanggal perolehan, 2. biaya pengganti saat ini yang merupakan harga setara kas yang bisa ditukarkan pada saat ini untuk membeli atau menggantikan barang atau jasa yang sejenis,
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

3. nilai pasar saat ini yang merupakan harga kas yang setara dengan harga yang bisa didapatkan dengan menjual aktiva dalam kondisi penjualan biasa, 4. nilai realisasi bersih yang merupakan sejumlah kas yang diharapkan akan diterima dari konversi aktiva dalam aktivitas bisnis normal, 5. nilai sekarang atau nilai yang didiskontokan yang merupakan jumlah arus masuk kas bersih dimasa yang akan datang atau arus keluar yang didiskontokan kenilai sekarang pada tingkat bunga yang sesuai. Penyajian Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), penyajian merupakan suatu proses, cara, dan perbuatan menyajikan. Penyajian suatu laporan keuangan dimaksudkan bagaimana laporan keuangan dibuat dan bagaimana informasi mengenai posisi dan hasil usaha perusahaan itu diungkapkan melalui berbagai cara pengungkapan (Harahap, 2005: 267). Penyajian laporan keuangan entitas ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab manajemen entitas sebagai wujud akuntabilitas keuangan. Muhammad (2008: 138) mengungkapkan bahwa laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas dengan menerapkan pernyataan standar akuntansi keuangan secara benar disertai pengungkapan yang diharuskan pernyataan standar akuntansi keuangan dalam catatan atas laporan keuangan. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban (IAI, 2009). Penerapan SAK ETAP, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, menghasilkan laporan keuangan yang wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas. Sesuai dengan PSAK ETAP, entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum satu tahun sekali. Ketika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan telah disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari satu tahun, maka entitas mengungkapkan: a) fakta tersebut, b) alasan penggunaan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek, c) fakta bahwa jumlah komparatif untuk laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan laba rugi dan saldo laba, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan yang terkait adalah tidak dapat seluruhnya diperbandingkan. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali: a) terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, b) SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian. Jika penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka entitas harus mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali jika reklasifikasi tidak praktis. Entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut jika jumlah komparatif direklasifikasi: a) sifat reklasifikasi b) jumlah setiap pos atau kelompok dari pos yang direklasifikasi c) alasan reklasifikasi. Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis, maka entitas harus mengungkapkan a) alasan reklasifikasi jumlah komparatif tidak dilakukan, b) sifat penyesuaian yang telah dibuat jika jumlah komparatif direklasifikasi.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian yang terdapat dalam tinjauan teori, dengan demikian hipotesis dari penelitian ini adalah: H1 : Terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengakuan yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) H2 : Terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengukuran yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) H3 : Terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengukuran yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP)
SMK Pengakuan Pengukuran Penyajian SMA SAK Etap

4. METODE PENELITIAN Variabel Pengakuan Variabel pengakuan digunakan untuk menentukan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tentang pengakuan unsur-unsur laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan Etap. Variabel pengakuan terdiri atas 10 item pertanyaan dan diukur dengan skala Likert (skala 1 sampai 5). Variabel Pengukuran Variabel pengukuran digunakan untuk menentukan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tentang pengukuran unsur-unsur laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan Etap. Variabel pengukuran terdiri dari 11 item pertanyaan dan diukur dengan skala Likert (skala 1 sampai 5). Penyajian Variabel penyajian digunakan untuk menentukan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tentang penyajian unsur-unsur laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan Etap. Variabel penyajian terdiri dari 10 item pertanyaan dan diukur dengan skala Likert (skala 1 sampai 5). Metode Pengumpulan Data Data penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden. Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan berupa kuesioner yang disebarkan pada mahasiswa jurusan akuntansi yang memenuhi kriteria sampel. Item pertanyaan dalam kuesioner didesain berdasarkan kalimat yang terdapat pada bab pengakuan, pengukuran, dan penyajian
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

SAK Etap. Sebelum kuesioner disebarkan kepada sampel (responden) sebenarnya, dilakukan pilot testing terlebih dahulu yaitu menguji kuesioner terhadap 20 (dua puluh) orang mahasiswa semester 2 yang aktif untuk tahun ajaran 2010/2011. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi Stiesia semester 3 yang masih aktif pada tahun ajaran 2011/2012, berasal dari SMK jurusan akuntansi atau SMA jurusan IPS dan telah menerima materi pengantar akuntansi. Sampel dipilih dengan metode stratified random sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan asal sekolah. Berdasarkan kriteria tersebut, populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi yang telah mendapat materi akuntansi pengantar, sehingga telah mengenal SAK Etap. Besar sampel yang akan diambil sehingga dapat representatif terhadap populasi, dengan menggunakan cara yang dikembangkan oleh (Arikunto, 2002) yaitu: Jika subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyeknya berjumlah besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20-25% atau 30-35% atau lebih Berdasarkan kriteria, terdapat 326 mahasiswa akuntansi semester 3 yang masih aktif. Sebanyak 221 mahasiswa berasal dari selain SMK jurusan akuntansi dan SMA jurusan IPS, sehingga yang memenuhi kriteria sampel adalah 105 mahasiswa. Namun, hanya 86 mahasiswa yang kuesionernya dapat diolah lebih lanjut. Distribusi sampel yaitu 45 orang berasal dari SMK jurusan akuntansi dan 41 orang berasal dari SMA jurusan IPS. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis H1, H2, dan H3 pada penelitian dilakukan dengan menggunakan uji data dua sampel (independen) yang tidak berhubungan yaitu uji Mann Whitney U-test dengan piranti lunak SPSS versi 17 for windows. Uji ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan pemahaman tentang pengakuan, pengukuran, dan penyajian antara mahasiswa berasal dari SMK dan SMA yang dilihat dari nilai signifikansi (Santoso, 2004). Cara pengambilan keputusan didasarkan pada nilai probabilitasnya, jika nilai probabilitas > 0,05 maka H0 diterima yang berarti kedua varians populasi adalah identik. Untuk asumsi varians yang sama, maka penerimaan hipotesis H0 didasarkan pada kriteria probabilitas > 0.05 atau dengan kata lain hipotesis H1, H2, dan H3 ditolak. Sebelum dilakukan sign test dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan nilai skor terendah masing-masing butir pertanyaan. Jika skor menunjukkan nilai > 0,30 maka dinyatakan semua item variabel memenuhi syarat untuk valid. Untuk pengujian reliabilitas dengan menggunakan teknik Cronbach Alpha. Masing-masing item pertanyaan dinyatakan reliabel jika nilai cronbach alpha bernilai lebih besar dari 0.60. 5. Analisis Dan Pembahasan Uji Validitas dan Reliabilitas Validitas mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melaksanakan fungsi ukurnya. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Mengukur validitas dapat dilakukan dengan membandingkan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

nilai r hitung (pada tampilan output crobach alpha pada kolom correlated item-total correlation) dengan nilai r tabel. Jika r hitung > dari r tabel dan bernilai positif, maka butir atau pertanyaan atau indikator tersebut dinyatakan valid. Nilai r hitung dengan df n-2 (84) adalah 0.179. Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Hasil penelitian yang dapat dipercaya hanya bila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah (Azwar,2000:4). Reliabilitas dikatakan baik jika hasil koefisien cronbach alfa lebih besar dari 0.6.
Tabel 1 Hasil uji validitas dan reliabilitas item pertanyaan
Variabel Recognition Recog 1 Recog 2 Recog 3 Recog 4 Recog 5 Recog 6 Recog 7 Recog 8 Measurement Recog 9 Recog 10 Measur1 Measur2 Measur3 Measur4 Measur5 Measur6 Measur7 Measur8 Measur9 Measur10 Measur11 Reporting Report1 Report2 Report3 Report4 Report5 Report6 Report7 Report8 Report9 Report10 Validitas Korelasi (r hitung) Keputusan (r tabel) 0.179 0.263 0.232 0.397 0.392 0.327 0.261 0.282 0.340 0.261 0.396 0.427 0.271 0.204 0.257 0.413 0.540 0.482 0.361 0.258 0.275 0.420 0.243 0.347 0.414 0.270 0.374 0.342 0.314 0.294 0.388 0.449 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.679 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0.624 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Reliabel Reliabel Reliabilitas Cronbach alpha Keputusan 0.699 Reliabel

Hasil uji validitas dan reliabilitas yang terdapat pada tabel 1 menunjukkan bahwa untuk seluruh item pertanyaan dari variabel pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan penyajian (reporting) dinyatakan valid karena seluruh item mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel 0.179. Sedangkan berdasarkan nilai cronbach alpha yang menghasilkan nilai lebih dari 0.6
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

membuktikan bahwa seluruh item pertanyaan reliabel sehingga memenuhi syarat untuk pengujian model. Hasil Pengujian Hipotesis Tabel 2 Hasil uji independent sampel t-test
Variabel Levene Test F test Recognition Measurement Reporting
.180

T Test T test
1.765

Means Sig
.081 SMK 3.5800 SMA 3.4195

Sig
.673

1.961

.165

.487

.931

SMK 3.4311 SMA 3.4385

2.220

.140

.518

.606

SMK 3.5089 SMA 3.4659

Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengakuan yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) menghasilkan nilai levene test dengan signifikansi sebesar 0.673 > 0.005 yang berarti tidak berhasil menolak H0 sehingga kedua varians adalah sama. Untuk asumsi varian yang sama, analisis berikutnya adalah menggunakan t test menghasilkan nilai signifikansi 0.081 > 0.005 sehingga H0 tidak dapat ditolak yang berarti bahwa kedua rerata pemahaman atas variabel pengakuan untuk mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tidak berbeda secara nyata. Rerata pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengakuan identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA pada level 0.16. Pada variabel pengakuan menghasilkan rerata untuk mahasiswa yang berasal dari SMK 3.58 sedangkan mahasiswa yang berasal dari SMA menunjukkan rerata 3.42. Dengan demikian, tingkat rerata SMK lebih tinggi dari rerata SMA yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang berasal dari SMK lebih memahami konsep pengakuan yang terdapat pada SAK Etap. Pengujian atas hipotesis kedua yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengukuran yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) menghasilkan nilai levene test dengan signifikansi sebesar 0.165 > 0.005 yang berarti tidak berhasil menolak H0 sehingga kedua varians adalah sama. Untuk asumsi varian yang sama, analisis berikutnya adalah menggunakan t test menghasilkan nilai signifikansi 0.931 > 0.005 sehingga H0 tidak dapat ditolak yang berarti bahwa kedua rerata pemahaman atas variabel pengukuran untuk mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tidak berbeda secara nyata. Rerata pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengukuran identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA pada level 0.007. Pada variabel pengukuran menghasilkan rerata untuk mahasiswa yang berasal dari SMK 3.43 sedangkan mahasiswa yang berasal dari SMA menunjukkan rerata 3.44. Dengan demikian, tingkat rerata SMA lebih tinggi dari rerata SMK yang
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

menunjukkan bahwa mahasiswa yang berasal dari SMA lebih memahami konsep pengukuran yang terdapat pada SAK Etap. Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap penyajian yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) menghasilkan nilai levene test dengan signifikansi sebesar 0.006 > 0.005 yang berarti tidak berhasil menolak H0 sehingga kedua varians adalah sama. Untuk asumsi varian yang sama, analisis berikutnya adalah menggunakan t test menghasilkan nilai signifikansi 0.598 > 0.005 sehingga H0 tidak dapat ditolak yang berarti bahwa kedua rerata pemahaman atas variabel pengakuan untuk mahasiswa yang berasal dari SMK dan SMA tidak berbeda secara nyata. Rerata pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengakuan identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA pada level 0.043. Pada variabel penyajian menghasilkan rerata untuk mahasiswa yang berasal dari SMK 3.51 sedangkan mahasiswa yang berasal dari SMA menunjukkan rerata 3.47. Dengan demikian, tingkat rerata SMK lebih tinggi dari rerata SMA yang menunjukkan bahwa mahasiswa yang berasal dari SMK lebih memahami konsep penyajian yang terdapat pada SAK Etap. Berdasarkan hasil penghitungan yang ditujukan untuk mengetahui tingkat pemahaman 86 mahasiswa akuntansi Stiesia dengan latar belakang yang berbeda yaitu yang berasal dari SMK jurusan akuntansi dan mahasiswa yang berasal dari SMA atas prinsip-prinsip dalam pengakuan, pengukuran, dan penyajian sesuai dengan SAK Etap dengan uji beda rata-rata menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara nyata tingkat pemahaman SAK Etap antara mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berlatar belakang SMA. Hal ini mengindikasikan bahwa output atau lulusan SMK jurusan akuntansi tidak lebih baik dari lulusan SMA. Artinya, tidak ada jaminan bahwa mahasiswa SMK jurusan akuntansi yang telah mendapat materi akuntansi lebih banyak di sekolah mampu memahami konsep akuntansi lebih baik dari lulusan pendidikan menengah atas lainnya. Hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait khususnya pihak SMK jurusan akuntansi bahwa lulusan SMK harusnya lebih siap pakai terutama untuk kepentingan dunia kerja. Karena bagaimanapun ruh pendidikan vokasi menjamin lulusannya mampu terjun di dunia kerja. 5. Simpulan Dan Saran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap perlakuan pengakuan, pengukuran, dan penyajian sesuai dengan standar akuntansi Etap. Berdasarkan hasil penghitungan yang ditujukan untuk mengetahui tingkat pemahaman 86 mahasiswa akuntansi Stiesia dengan latar belakang yang berbeda yaitu yang berasal dari SMK jurusan akuntansi dan mahasiswa yang berasal dari SMA atas prinsip-prinsip dalam pengakuan, pengukuran, dan penyajian sesuai dengan SAK Etap, hipotesis pertama yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengakuan yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengakuan identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap pengukuran yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) menghasilkan pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengukuran identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA. Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berasal dari SMA terhadap penyajian yang didasarkan pada standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntanbilitas publik (SAK ETAP) menghasilkan pemahaman mahasiswa SMK terhadap variabel pengakuan identik dengan pemahaman mahasiswa yang berasal dari SMA dan tingkat rerata SMK lebih tinggi dari rerata SMA. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara nyata tingkat pemahaman SAK Etap antara mahasiswa yang berasal dari SMK dan mahasiswa yang berlatar belakang SMA. Hal ini mengindikasikan bahwa output atau lulusan SMK jurusan akuntansi tidak lebih baik dari lulusan SMA. Artinya, tidak ada jaminan bahwa mahasiswa SMK jurusan akuntansi yang telah mendapat materi akuntansi lebih banyak di sekolah mampu memahami konsep akuntansi lebih baik dari lulusan pendidikan menengah atas lainnya. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S., (2002), Penelitian Suatu Pendekatan Khusus, Bina Aksara, Jakarta. Azwar, S. (1997). Tes Prestasi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Belkaoui, A. R. (2006), Accounting Theory, 5th Edition, Orlando: Harcourt Brace Jovanovich. Chariri, A. dan S.K.S Hendro (2010), Menguji Kualitas Standar Akuntansi Hasil Adopsi IFRS: Studi Empiris pada PSAK No. 55 (Revisi 2006), Simposium Nasional Akuntansi XIII, Purwokerto. Chariri, A. 2009. Harmonisasi Standar Akuntansi Internasional: Analisis Kritis dari Perspektif Islam. Electronic Working Paper, http://staff.undip.ac.id. Diakses tanggal 31 Oktober 2009. Cohen, J. P. (2001). An examination of the Diffrences in ethical decisoon making between Canadian Business students and accounting professional. Journal of Business Ethics , 30, 319-336. Elliot, W. H. (n.d.). When are Graduate Business Student a Reasonable Proxi for non-porfessional investors? http://ssrn.com/asbtarct=556980 Harahap, S.S. (2005). Teori Akuntansi. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Hirst, D.K. 1995. Investor Reaction to Financial analysts' Research Reports. Journal of Accounting Research , 33, 335-351.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Heuer, M.C. 1999. Cultural Stability or Change Among Manager in Indonesia. Journal of International Business Studies , 30 (3), 599-610. Ikatan Akuntan Indonesia (2009), Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik, Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan. Maines, L.A. 2000. Effect of Comprehensive Income Characteristics on non professional investors' jdugmenta: the Role of Financial Statement Presentation Format. The Accounting Review , 75 (2), 179-207. Muhammad, (2008). Manajemen Pembiayaan Mudharabah di Bank Syariah, Edisi 7, Rajawali Pers, Jakarta. Purwanto, N. (2007) Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, cet. ke-8: 44 Rustaman. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Santoso, S., (2004), Mengolah Data Statistik Secara Profesional Versi 10, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta Sari, M., M. Irsadsyah, dan N. Djamil (2010), Analisis Tingkat Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Terhadap Konsep Dasar Akuntansi, Simposium Nasional Akuntansi XIII, Purwokerto. Skousen, (2004). Intermediate Accounting, penerjemah: Thomson, salemba Empat, Jakarta. Sudijono, A. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, cet. ke-4: 50 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Pertama, Balai Pustaka, Jakarta. Yadiati, W. (2007), Teori Akuntansi Suatu Pengantar, Jakarta: Kencana. Yaya, Rizal, dkk, (2009). Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, Salemba Empat, Jakarta. Ugrin, J. C. 2008. Exploring the Sarbanes-Oxley Act and Intentions to Commit Financial Statment Fraud: A General Deterrence Pespective. UMI Microform Wiraharja, R.I, dan E.T. Wahyuni (2009), Majalah Akuntan Indonesia, Edisi No. 19, Agustus.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

LAMPIRAN Lampiran 1. Deskriptif


Group Statistics ASAL_SEKOLAH RECOGNITION SMK SMA MEASUREMENT SMK SMA REPORTING SMK SMA N 45 41 45 41 45 41 Mean 3.5800 3.4195 3.4311 3.4385 3.5089 3.4659 Std. Deviation Std. Error Mean .46642 .36484 .48072 .27367 .48045 .23938 .06953 .05698 .07166 .04274 .07162 .03739

Lampiran 2. Hasil uji hipotesis


Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference Std. Error Sig. (2F RECOGNI Equal variances TION assumed Equal variances not assumed MEASURE Equal variances MENT assumed Equal variances not assumed REPORTI NG Equal variances assumed Equal variances not assumed .533 65.866 .596 .04304 .08079 -.11828 .20435 2.220 .140 .518 84 .606 .04304 .08311 -.12225 .20832 .489 70.990 .929 .00743 .08344 -.17380 .15895 1.961 .165 .487 84 .931 .00743 .08547 -.17739 .16254 1.785 82.175 .078 .16049 .08989 -.01833 .33931 .180 Sig. .673 t 1.765 df 84 tailed) .081 Mean Difference .16049 Differenc e .09092 Lower -.02031 Upper .34129

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Lampiran 3. Uji reliabilitas dan validitas


Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items .612

Cronbach's Alpha .699

N of Items 10 Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted RECOG1 RECOG2 RECOG3 RECOG4 RECOG5 RECOG6 RECOG7 RECOG8 RECOG9 RECOG10 31.6628 31.8256 31.3140 31.2674 31.4070 31.2209 31.6395 31.5000 31.7442 31.7326

Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation 15.614 15.769 14.736 14.481 14.691 15.280 15.433 15.429 17.628 14.716 .263 .232 .397 .392 .327 .261 .282 .340 .261 .396 .144 .154 .290 .262 .160 .169 .260 .226 .180 .265

Cronbach's Alpha if Item Deleted .576 .583 .544 .543 .559 .577 .572 .560 .659 .544

Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items .693

Cronbach's Alpha .679

N of Items 11 Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted MEASUR1 MEASUR2 MEASUR3 MEASUR4 MEASUR5 MEASUR6 MEASUR7 MEASUR8 MEASUR9 MEASUR10 MEASUR11 34.1977 34.2907 34.7558 34.4070 34.2442 34.1744 34.3256 34.2326 34.7791 34.2674 34.2326

Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation 15.266 16.515 17.010 16.574 15.598 14.946 15.069 15.828 16.386 16.551 15.357 .427 .271 .204 .257 .413 .540 .482 .361 .258 .275 .420 .255 .246 .243 .118 .253 .418 .379 .341 .266 .205 .417

Cronbach's Alpha if Item Deleted .640 .666 .700 .669 .643 .622 .631 .652 .694 .666 .641

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items .639

Cronbach's Alpha .624

N of Items 10

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted REPORT1 REPORT2 REPORT3 REPORT4 REPORT5 REPORT6 REPORT7 REPORT8 REPORT9 REPORT10 31.7791 31.1395 31.3837 31.7674 31.5581 31.2442 31.3721 31.4186 31.3023 30.9884 Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation 13.468 12.404 11.745 13.757 11.802 12.328 12.213 12.082 11.955 12.223 .243 .347 .414 .270 .374 .342 .314 .294 .388 .449 .210 .342 .374 .185 .313 .351 .260 .355 .425 .476 Cronbach's Alpha if Item Deleted .664 .588 .571 .643 .579 .589 .594 .599 .578 .571

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

KEMAMPUAN PREDIKSI RASIO-RASIO KEUANGAN TERHADAP LABA DAN ARUS KAS MASA DEPAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN JASA Dessy Putri Andini1

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kemampuan rasio-rasio keuangan yang meliputi gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity dalam memprediksi laba yang diperoleh perusahaan dan arus kas masa depan, dan juga menguji kemampuan laba dan arus kas bebas untuk investasi atau pendanaan dalam meningkatkan DPR. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian empirik dengan pengujian hipotesis. Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek 2Indonesia (BEI). Sampel penelitian diambil dengan menggunakan purposive sampling dan diperoleh 40 perusahaan manufaktur dan 1 perusahaan jasa yang listed di BEI dengan periode penelitian 2006-2008. Penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil pengujian menunjukkan bahwa hanya rasio CGSNS (cost of goods sold to net sales) dan PBTSE (profit before taxes to shareholders equity) yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel intervening laba dan arus kas. Sedangkan laba dan arus kas dapat digunakan untuk memprediksi DPR. Laba memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam memprediksi DPR dibandingkan dengan arus kas. Hal ini tidak aneh karena perusahaan hanya dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar. Jika laba yang dihasilkan besarnya tetap, perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa hanya rasio CGSNS (cost of goods sold to net sales) dan PBTSE (profit before taxes to shareholders equity) yang berpengaruh positif dan signifikan untuk memprediksi laba dan arus kas masa depan. Sedangkan laba dan arus kas bebas dapat digunakan untuk memprediksi dividen yang dibagikan perusahaan.
1

Universitas Jember

72

73

Kata Kunci : gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity, Laba, Arus Kas dan DPR. 1. Latar Belakang Masalah Dividen seringkali digunakan sebagai indikator atau sinyal prospek suatu perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang go public mempunyai kewajiban untuk melaporkan kinerjanya kepada investor dalam bentuk laporan keuangan dan pengumuman besarnya dividen yang dibagikan. Besar kecilnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham tergantung pada kebijakan dividen masingmasing perusahaan dan dilakukan berdasarkan pertimbangan berbagai faktor. Menurut Gitman (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan adalah debt covenant, likuiditas, posisi kas, prospek pertumbuhan perusahaan, dan kuasa kendali para pemegang saham yang memiliki mayoritas saham perusahaan. Untuk pembayaran dividen khususnya cash dividend bagi para pemegang saham sangat tergantung pada posisi kas yang tersedia, hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Sutrisno (2001) yang menyatakan bahwa di antara beberapa faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio yang selanjutnya disingkat DPR, hanya faktor posisi kas (cash position) dan Debt to Equity Ratio yang berpengaruh signifikan. Posisi kas yang benar-benar tersedia bagi para pemegang saham akan tergambar pada free cash flow (aliran kas bebas) yang dimiliki oleh perusahaan. DPR dapat diprediksi melalui laba dan arus kas menggunakan rasio keuangan, konsep laba dan arus kas hingga kini masih menjadi bahan perdebatan dan perbincangan yang menarik bagi para akuntan dan analisis keuangan. Hal ini terlihat dari banyak penelitian-penelitian yang masih mempelajari secara empiris variabelvariabel tersebut. 2. Rumusan Masalah Permasalahan yang ada dalam penelitian ini yaitu : 1. Apakah rasio-rasio keuangan (gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity) dapat memprediksi laba yang diperoleh perusahaan? 2. Apakah rasio-rasio keuangan (gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity) dapat memprediksi arus kas masa depan ? 3. Apakah laba dan arus kas untuk investasi atau pendanaan dapat meningkatkan DPR ?
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

74

3. Tinjauan Pustaka Analisis Rasio Keuangan Pengertian dan Kegunaan Analisis Rasio Keuangan Menurut Brigham dan Houston (2006), dari sudut pandang seorang investor, meramalkan masa depan adalah hakikat dari analisis laporan keuangan sedangkan dari sudut pandang manajemen, analisis laporan keuangan akan bermanfaat baik untuk membantu mengantisipasi kondisi-kondisi di masa depan maupun yang lebih penting lagi, sebagai titik awal melakukan perencanaan langkah-langkah yang akan meningkatkan kinerja perusahaan di masa depan. Analisis rasio tidak hanya berguna bagi pihak intern perusahaan, tetapi juga bagi pihak ekstern, dalam hal ini calon investor atau kreditur. Bagi pihak intern (perusahaan), dengan menghitung rasio tertentu akan diperoleh suatu informasi, kelemahan apa yang sedang dihadapi dan kekuatan apa yang dimiliki di bidang finansial sehingga dapat ditentukan cara-cara untuk mengatasinya. Sedangkan bagi calon investor atau kreditur, dapat dijadikan pegangan apakah akan membeli saham yang ditawarkan perusahaan dan apakah wajar untuk memberikan kredit kepada perusahaan yang bersangkutan, ataukah tidak (Alwi 1998). Rasio-rasio Keuangan yang umum digunakan dalam Memprediksi Perubahan Laba dan Arus Kas. Rasio-rasio keuangan yang telah digunakan dalam penelitian terdahulu diuraikan sebagai berikut : 1. Laba kotor per penjualan (Gross profit to net sales=GPNS) GPNS adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari setiap rupiah penjualan suatu perusahaan. Pengaruh gross profit to net sales terhadap perubahan laba bersih perusahaan adalah semakin tinggi nilai rasio ini maka laba bersih yang dihasilkan akan semakin meningkat. Rumus GPNS adalah sebagai berikut (Brealy, Myers, Marcus, 2008) : Gross Profit bunga GPNS = Sales 2. Aktiva Lancar per Kewajiban Lancar (Current Ratio) Current Ratio menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dari aktiva lancarnya. Semakin tinggi nilai Current Ratio maka laba bersih yang dihasilkan perusahaan semakin sedikit, karena rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar menghasilkan return yang lebih rendah dibandingkan dengan aktiva tetap. Current Asset Current Ratio = Current Liabilities 3. Biaya Penjualan per Persediaan (Cost of Good Sold Inventory=CGSI) Rasio CGSI adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan berputar dalam suatu periode tertentu atau likuiditas dari persediaan dan tendensi untuk adanya overstock (Brealy, Myers, Marcus, 2008). Perputaran persediaan yang semakin cepat akan mengakibatkan kenaikan

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

75

pendapatan dan dapat meningkatkan laba bersih perusahaan di masa yang akan datang. CGSI = Cost of Good Sold

Inventory
4. Biaya Penjualan per Penjualan Bersih (Cost of Good Sold to Net Sales=CGSNS) Rasio CGSNS adalah rasio yang menunjukkan besaran dari harga pokok penjualan yang dibeli/diproduksi atau harga pokok dari jasa yang diberikan (Helfert, 1997). Semakin tinggi biaya penjualan maka keuntungan yang diperoleh perusahaan semakin sedikit. CGSNS =
Cost of Good Sold Net Sales

5. Persediaan per Penjualan Bersih (Inventory to Net Sales=INS) Rasio INS adalah rasio yang mencerminkan efektifitas dari pengelolaan persediaan sehingga dapat mendeteksi persediaan yang berlebihan. Persediaan tidak dapat dinilai secara tepat kecuali bila dilakukan perhitungan fisik, verifikasi dan penaksiran nilai. Semakin cepat persediaan tersebut terjual maka semakin cepat perusahan menciptakan piutang dagang dan menagih kasnya. Inventory INS = Net Sales 6. Penjualan Bersih per Aktiva Bersih (Net Sales to Net Assets=NSNA) Rasio NSNA digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan asset perusahaan dalam menghasilkan penjualan. Semakin cepat tingkat perputaran aktivanya maka laba bersih yang dihasilkan akan semakin meningkat, karena perusahaan sudah dapat memanfaatkan aktiva tersebut untuk meningkatkan penjualan yang berpengaruh terhadap pendapatan. NSNA = Net Sales Net Assets 7. Aktiva Cepat per Persediaan (Quick Assets to Inventory=QAI) Rasio QAI merupakan rasio susunan harta lancar yang segera dapat diubah menjadi kas (kas, surat berharga dan piutang) dibandingkan dengan persediaan. QAI = Quick Assets Inventorie s 8. Aktiva Cepat per Total Aktiva (Quick Assets to Total Assets=QATA) Rasio QATA menjelaskan kekayaan perusahaan yang lancar dengan harta keseluruhan yang dimiliki perusahaan. Rasio ini diukur dengan menggunakan instrumen aktiva lancar terhadap total aktiva (Helfert, 1997). QATA == Current Assets Total Assets 9. Modal Kerja per Total Aset (Working Capital to Total Assets=WCTA) Aktiva lancar adalah aset yang diharapkan perusahaan dalam waktu dekat. Selisih antara aktiva lancar dan kewajiban lancar disebut modal kerja bersih. Modal
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

76

kerja bersih mengukur potensi cadangan kas perusahaan secara kasar (Helfert, 1997). WCTA = Current Assets Current Liabilitie s Total Assets 10. Modal Kerja per Penjualan Bersih (Working Capital to Net Sales=WCNS) Rasio WCNS menunjukkan kemampuan modal kerja berputar dalam suatu siklus kas dari perusahaan. Rasio WCNS mencerminkan efektifitas dari pengelolaan persediaan dan piutang (Helfert, 1997) . WCNS = Current Assets Current Liablities

Net Sales
11. Laba sebelum Pajak per Modal Investor (Profit Before Taxes to Shareholders Equity=PBTSE) Rasio PBTSE dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari perspektif pemegang saham biasa. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin tinggi pula tingkat laba yang dihasilkan karena penambahan modal kerja dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan yang akhirnya dapat menghasilkan laba. PBTSE = Profit Before Taxes Shareholders Equity Hubungan Rasio Keuangan Dengan Laba dan Arus Kas Pada dasarnya analisis rasio keuangan terdiri atas hubungan dan kecenderungan (trend) untuk mendapat posisi keuangan dan hasil operasi serta pertimbangan perusahaan yang bersangkutan. Sebelum dilakukannya analisis terhadap suatu laporan keuangan, penganalisis haruslah benar-benar dapat memahami laporan keuangan tersebut. Dalam hal ini teknik analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan dilakukan untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca, laporan rugi-laba dan arus kas secara individu atau kombinasi dari ketiga laporan tersebut. Dari rasio-rasio keuangan tersebut dapat dilakukan pengujian apakah perhitungan rasio-rasio yang digunakan nantinya dalam perhitungan ini dapat memprediksi laba dan arus kas di masa depan. Sehingga dapat memprediksi DPR yang akan diterima investor jika mereka berinvestasi di perusahaan yang listed di BEJ. Machfoedz (1994) melakukan penelitian pada 68 perusahaan pabrikan menggunakan rasio aktivitas (produktivitas) yang terdiri dari sebelas rasio yaitu: inventory to working capital, cost of goods sold to inventory, sales to quick asset, sales to cash, sales to accounts receivable, cash flow to total asset, current asset to total asset, quick asset to inventory, inventory to sales, sales to total asset, dan working capital to total asset. Dari sebelas rasio tersebut terbukti hanya satu variabel yang signifikan untuk memprediksi perubahan laba satu tahun kedepan yaitu variabel quick asset to inventory (QAI). Penelitian yang dilakukan oleh Inge (2004) pada perusahaan , menunjukkan bahwa 5 rasio keuangan terbukti signifikan terhadap perubahan laba yaitu sales to total assets, quick assets to inventory, net profit margin, ROA dan ROE.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

77

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Isworo (2001) pada perusahaan manufaktur, menunjukkan hasil analisis bahwa rasio operating income to liabilities (OITL), current liabilities to inventory (CLI), current liabilities to net worth (CLNW), total liabilities to current assets (TLCA) (kategori equity) berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba 1 tahun dan rasio operating income to sales (OIS), operating income to net before taxes (OINBT), earning before taxes to sales (EBTS) (kategori profitability) berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba 2 tahun kedepan. Rasio quick assets to inventory (QAI), sales to total assets (STA), cureent assets to total assets (CATA) (kategori efficiency) dan current assets to sales (CAS), net worth to sales (NWS), sales to fixed assets (SFA) (kategori investment) berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba 1 tahun dan 2 tahun kedepan. Perubahan rasio operating income to liabilities (OITL) (kategori equity) berpengaruh paling dominan terhadap prediksi pertumbuhan laba 1 tahun dan 2 tahun kedepan. Dividend Payout Ratio (DPR) Kebijakan dividen menyangkut tentang kebijkan penetapan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Menurut Atmaja (2001), dalam praktiknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi manajemen dalam menentukan kebijakan dividen diantaranya adalah perjanjian utang, pembatasan saham preferen, fluktuasi laba, pengendalian, ketidakcukupan laba, ketersediaan kas, kebutuhan dana untuk berinvestasi. Pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan kembali. Salah satu asumsi Bird in the hand theory dari pendekatan Miller-Modigliani adalah kebijakan dividen tidak mempengaruhi tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor. Menurut Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979), Bird in the hand theory menjelaskan bahwa investor menyukai dividen yang tinggi karena dividen yang diterima seperti burung ditangan yang risikonya lebih kecil dibandingkan dengan dividen yang tidak dibagikan. Selanjutnya Rozeff (1982) dan Easterbrook (1984) menunjukkan bahwa semakin banyak dividen yang ingin dibayarkan oleh perusahaan, semakin besar kemungkinan berkurangnya laba ditahan. Akibatnya, perusahaan harus mencari biaya eksternal yang lebih mahal. Teori keagenan Jensen dan Meckling (1976), berpendapat bahwa dividen akan megurangi konflik antara agents dan principals. Sehubungan dengan dividen dan keputusan pendanaan, Easterbrook (1984) mengatakan bahwa dividen merupakan keuntungan bagi equityholders, mereka akan memaksa manajer secara tetap/konstan untuk memperoleh modal baru pada pasar persaingan. Pada perusahaan yang membagi dividen dalam jumlah besar, maka untuk membiayai investasinya diperlukan tambahan dana melalui hutang, sehingga kebijakan dividen akan mempengaruhi hutang secara searah Emery dan Finnerty (1997). Teori tersebut didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Hartono dalam Hasnawati (2005) di Indonesia bahwa kebijakan dividen mempengaruhi kebijakan leverage perusahaan dengan hubungan yang positif. Persentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai cash dividend disebut dividend payout ratio. Menurut Gitman (2003), dividend payout ratio merupakan perbandingan dividend per share (DPS) dan earning per share (EPS). Sedangkan menurut Husnan (2001), perusahaan hanya
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

78

dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar, jika laba yang dihasilkan besarnya tetap, perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri.

Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai analisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuangan telah banyak dilakukan dan dikaitkan dengan kemampuan memprediksi pengambilan keputusan. Penelitian terdahulu yang sudah dilakukan oleh Finger (1994) menguji nilai relevansi laba untuk memprediksi dua keuntungan investasi yaitu laba masa depan dan arus kas masa depan. Pengujian dilakukan pada 50 perusahaan yang mewakili setiap industri selama 50 tahun seri waktu. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa laba merupakan prediktor yang signifikan untuk laba yang akan datang maupun untuk memprediksi arus kas. Pengujian kemampuan laba untuk memprediksi arus kas bersama-sama dengan arus kas memberikan hasil yang signifikan bahwa laba memberikan nilai tambah untuk memprediksi arus kas tersebut. Hasil penelitian Finger ini sejalan dengan peryataan FASB (1978) yang menyatakan bahwa laba merupakan prediktor yang lebih baik untuk meramalkan arus kas dibandingkan prediktor arus kas untuk meramalkan arus kas. Zakaria (2000) meneliti kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba perusahaan pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di PT. Bursa Efek Jakarta (BEJ) antara tahun 1995 sampai dengan tahun 1997. Zakaria (2000) menggunakan lima rasio keuangan yaitu Current Ratio, Debt Ratio, Inventory Turn Over, Total Asset Turn Over, dan Return On Asset. Penilaian rasio-rasio keuangan yang menunjukkan hasil signifikan dalam memprediksi laba di masa depan adalah Current Ratio dan Return On Asset. Warsidi dan Bambang (2000) menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel random sebanyak 54 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 1996-1998. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh rasio keuangan yaitu cost of goods sold to inventories, cost of goods sold to net sales, net sales to Current Assets, net sales to trade receivable, profit before taxes to shareholders equity, working capital to net sales and working capital to total assets terbukti signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Meskipun secara umum hasil ini konsisten dengan beberapa temuan penelitian sebelumnya, akan tetapi secara individual rasio-rasio keuangan yang ditemukan di dalam penelitian ini masih menunjukkan inkonsistensi dengan temuan-temuan tersebut. Perluasan temuan penelitian Warsidi dan Bambang (2000) adalah bahwa rasio keuangan ternyata juga signifikan dalam memprediksi perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang. Dengan mengulang aplikasi stepwise regression untuk masing-masing periode prediksi tersebut, diperoleh bukti statistik bahwa lima rasio keuangan signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang, sedangkan untuk tiga tahun hanya dua rasio keuangan yang signifikan. Kecenderungan berkurangnya jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

79

prediksi juga diikuti dengan semakin kecilnya angka koefisien determinasi yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang semakin rendah. Prihantoro (2003) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi DPR pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sampel dalam penelitian ini menggunakan 148 perusahaan yang merupakan perusahaan umum di Bursa Efek Jakarta selama periode 1991 1996. Hasil analisis menunjukkan hanya posisi kas, dan rasio hutang dengan modal (yang terletak dalam klasifikasi neraca) yang memiliki pengaruh signifikan terhadap deviden payout ratio, sedangkan earning (merupakan proksi dari klasifikasi dari rugi laba) memiliki pengaruh yang kurang signifikan. Dini Rosdini (2009) menganalisis pengaruh Free Cash Flow terhadap Dividend Payout Ratio, dimana Free Cash Flow diukur dengan mengurangi cash flow dari operasi dengan net capital expenditure ditambah changes in working capital. Unit analisis penelitian ini adalah perusahaan manufaktur tertentu pada tahun 2000-2002 yang sesuai dengan kriteria penelitian.Analisis regresi dilakukan untuk meneliti pengaruh free cash flow terhadap DPR. Berdasarkan uji t untuk meneliti signifikansi diperoleh hasil bahwa free cash flow berpengaruh terhadap DPR. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa free cash flow dapat dijadikan salah satu indikator dalam penetapan kebijakan dividen dalam suatu perusahaan. Hipotesis Dari penelitian Zakaria, Warsidi dan Bambang maka Hipotesis yang dapat diajukan adalah : H1 : gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity dapat digunakan untuk memprediksi perubahan laba. H2 : gross profit to net sales, current ratio, cost of goods sold inventory, cost of goods sold to net sales, inventory to net sales, net sales to net assets, quick assets to inventory, quick assets to total assets, working capital to total assets, working capital to net sales, profit before taxes to shareholders equity dapat digunakan untuk memprediksi perubahan arus kas di masa datang. H3 : Laba dan Arus Kas masa datang dapat digunakan untuk memprediksi perubahan dividend payout ratio yang diterima investor. 4. Metode Penelitian Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang termasuk dalam kelompok perusahaan manufaktur (di dalamnya termasuk kelompok industri dasar dan kimia, aneka industri, dan industri barang konsumsi) dan kelompok perusahaan jasa di Bursa Efek Indonesia yang exist sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Sampel Penelitian Penentuan besarnya sampel dilakukan dengan menggunakan purposive
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

80

sampling yaitu metode pengambilan sampel dengan menggunkan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditetapkan atau sampel sengaja dipilih untuk mewakili populasinya. Adapun kriteria-kriterianya adalah sebagai berikut : 1. Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. 2. Perusahaan manufaktur dan jasa yang listed di BEI yang membagikan DPR selama periode pengamatan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. 3. Kelengkapan data laporan keuangan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis. Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data sekunder yang diambil dalam bentuk cross section dan time series, karena selain mengambil sampel waktu dan kejadian pada suatu waktu tertentu juga mengambil sampel berukuran waktu (Kuncoro, 2003). Data perusahaan yang diambil adalah data laporan keuangan perusahaan yang telah dilaporkan kepada BAPEPAM-LK dan diaudit sehingga validitas data dapat dipertanggungjawabkan. Identifikasi Variabel Variabel digunakan dalam penelitian ini variabel independen (Independent Variable), dapat diukur melalui rasio-rasio keuangan seperti yang dijelaskan di sub bab 4.4. Adapun Variabel Antara (Intervening Variable) yang diteliti adalah : (1). Laba, dan (2). Arus Kas. Sedangkan variabel dependennya (Dependent variable) adalah DPR. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Definisi Operasional Variabel yang digunakan sebagai berikut : 1. Laba Laporan laba-rugi merangkum pendapatan dan beban perusahaan serta selisih antara keduanya, yaitu laba perusahaan. Laba yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen adalah bagian laba bersih setelah dikurangi beban bunga dan pajak. Laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah EAT (Earning Before Taxes). 2. Arus Kas Bebas Jensen (1986) mendefinisikan free cash flow sebagai aliran kas yang merupakan sisa dari pendanaan seluruh proyek yang menghasilkan net present value (NPV) positif yang didiskontokan pada tingkat biaya modal yang relevan. Free cash flow inilah yang sering menjadi pemicu timbulnya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer. Ross et al (2000) mendefinisikan free cash flow sebagai kas perusahaan yang dapat didistribusi kepada kreditur atau pemegang saham yang tidak digunakan untuk modal kerja (working capital) atau investasi pada aset tetap. Free cash flow menunjukkan gambaran bagi investor bahwa dividen yang dibagikan oleh perusahaan tidak sekedar strategi menyiasati pasar dengan maksud meningkatkan nilai perusahaan. Bagi perusahaan yang melakukan pengeluaran modal, free cash flow akan mencerminkan dengan jelas mengenai perusahaan manakah yang masih mempunyai kemampuan di masa depan dan yang tidak.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

81

Free Cash Flow = Laba operasi setelah pajak + Depresiasi Pengeluaran Modal Perubahan dalam modal kerja operasional Pengeluaran Modal terdiri dari penerimaan pinjaman, pembayaran pinjaman, pembayaran bunga, pembayaran biaya emisi saham, pembagian dividen. Perubahan dalam modal kerja operasional terdiri dari penambahan modal dan penarikan prive. 3. Dividend Payout Ratio Dividend payout ratio yaitu persentase dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dari laba bersih setelah pajak. DPR dihitung dengan cara membandingkan dividen per share yang dibagi dengan earning per share. Rumus DPR sebagai berikut : Dividend per share Dividend Payout Ratio = Earnings per share Metode Analisis Data Uji Normalitas Data Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian mempunyai distribusi normal atau tidak. Pengujian ini dilakukan sebelum pengujian variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Uji normalitas data menggunakan analisis Kolmogorov Smirnov dengan kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Data berdistribusi normal apabila hasil pengujian normalitas data diperoleh probabilitas lebih dari 0,05, 2. Sebaliknya apabila probabilitas kurang dari 0,05, maka data tersebut tidak berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, maka dapat dilakukan dengan cara melogaritmakan dengan bilangan natural (menatural logaritma data). Analisis Jalur (Path Analysis) Penelitian ini menggunakan analisis jalur karena mempunyai kemampuan untuk mengkonfirmasi dimensi-dimensi atau indikator-indikator sebuah konsep dari variabel laten, sekaligus dapat mengukur hubungan antar variabel yang telah didukung teori dan penelitian empirik. Penelitian ini ingin menguji apakah kenaikan laba dan arus kas menunjukkan kenaikan DPR melalui perhitungan rasio keuangan. Untuk penyelesaian analisis jalur maka perlu mengetahui adanya path diagram maupun path coefficiens (koefisien jalur). Asumsi analisi jalur mengikuti asumsi umum regresi linear (Gujarati,1995), yaitu: 1. Model regresi harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0.05 2. Predictor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation 3. Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji T. Koefesien regresi signifikan jika T hitung > T table (nilai kritis) 4. Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variable bebas. 5. Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Dubin dan Watson sebesar < 1 dan > 3
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

82

Model analisis jalur disajikan pada Gambar 3.2 berikut ini:


Gross Profit to Net Sales (X1) Current Ratio (X2) Cost of Good Sold to Inventory (X3) Cost of Good Sold to Net Sales (X4) Inventory to Net Sales (X5) Net Sales to Net Assets (X6) Quick Assets to Inventory (X7) Quick Assets to Total Assets (X8) Working Capital to Total Assets (X9) Working Capital to Net Sales (X10) Laba (Z1)

Dividend Payout Ratio (Y)

Arus Kas (Z2)

Profit Before Taxes to Shareholders Equity (X11)

Gambar 3.2 Model Analisis Jalur (Path Analysis) Kriteria Pengambilan Keputusan : a. thitung > ttabel (5%) maka Ho ditolak, berarti koefisien path pada variabel-variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. b. thitung ttabel (5%) maka Ho diterima, berarti koefisien path pada variabelvariabel bebas berpengaruh tidak nyata terhadap variabel terikat. Uji Asumsi Klasik
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

83

Adapun uji asumsi klasik tersebut dapat dijelaskan sebagi berikut: Uji Multikolinieritas Pengujian ini dilakukan dengan cara melihat gejala-gejala yang biasa dipakai untuk melihat adanya multikolinearitas yaitu antara lain dengan melihat koefisien 2 determinasinya (R ). Multikolinearitas terjadi apabila nilai korelasi antar variabel independen di dalam koefisien persamaan regresi yang dapat dilihat pada matriks korelasi lebih tinggi dari 0,8. b. Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dari model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan dengan pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas, dimana pada nilai variabel independen tertentu masing-masing kesalahan mempunyai nilai varian yang sama. Jika model yang diperoleh ternyata tidak memenuhi asumsi tersebut maka dalam model tersebut terjadi heteroskedastisitas. Pada penelitian ini, uji heterokedastisitas dilakukan dengan uji Park. Park mengemukakan metode bahwa variance (s2) merupakan fungsi dari variabel-variabel bebas. Suatu model dikatakan terdapat gejala heterokedastisitas jika koefisien parameter beta dari persamaan regresi tersebut signifikan secara statistik. Sebaliknya, jika parameter beta tidak signifikan secara statistik, hal ini menunjukkan bahwa data model empiris yang diestimasi tidak terdapat heterokedastisitas. c. Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual atau kesalahan pengganggu tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu atau time series karena gangguan' pada seorang individu/kelompok cenderung mempengaruhi gangguan pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data cross section atau silang waktu, masalah atokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang berbeda berasal dari individu/kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. a. Menghitung Jalur Analisis jalur (Path Analysis) adalah analisis untuk mengetahui besarnya sumbangan pengaruh setiap variabel x terhadap y yang menggunakan regresi dengan variabel di bakukan (standardize). Sebelum menguji ada tidaknya pengaruh tersebut, masing-masing jalur diuji signifikansi terlebih dahulu. Apabila terdapat jalur yang tidak signifikan maka diberlakukan trimming theory yaitu dengan menghilangkan atau menghapus jalur yang tidak signifikan. Kemudian dari hasil struktur yang baru tersebut dihitung kembali masing-masing koefisien jalurnya (path coefficient). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung serta pengaruh totalnya. BAB 4. Hasil Dan Pembahasan
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

84

Jumlah perusahaan yang bergerak pada sektor manufaktur yang listed di BEI pada tahun 2008 sebanyak 146 perusahaan sedangkan sektor jasa sebanyak 22 perusahaan. Dengan memperhatikan kriteria yang ada pada Sub Bab 3.2.2 maka terpilih 40 perusahaan sebagai sampel. Jumlah perusahaan yang tidak melaporkan keuangannya selama periode tahun 2006-2008 sebanyak 15 perusahaan. Kemudian perusahaan yang tidak membagikan deviden sebanyak 110 perusahaan. Sampel akhir sebanyak 40 perusahaan. Uji Analisis Jalur (Path Analysis) Sebelum menguji ada tidaknya pengaruh langsung maupun tidak langsung tersebut, masing-masing jalur diuji signifikansinya terlebih dahulu. Apabila terdapat jalur yang tidak signifikan maka diberlakukan trimming theory yaitu dengan menghilangkan atau menghapus jalur yang tidak signifikan. Kemudian dari hasil struktur yang baru tersebut dihitung kembali masing-masing koefisien jalurnya (path coefficient). Tabel 4.3 Nilai Koefisien Jalur dan Pengujian Hipotesis Variabel Variabel Hipotesis Beta () t-hitung -value Bebas Terikat 1 CGSNS Z1 0,337 2,997 0,004** 2 PBTSE Z1 0,522 4,646 0,000** 3 CGSNS Z2 0,321 2,828 0,006** 4 PBTSE Z2 0,508 4,476 0000** 5 Z1 Y 0,592 3,087 0,003** 6 Z2 Y -0,404 -2,106 0,038** Sumber: Lampiran 3 Keterangan : ** = Signifikan pada = 5% CGSNS = cost of goods sold to net sales PBTSE = profit before taxes to shareholders equity Z1 = Laba Z2 = Arus Kas Y = DPR Uji Asumsi Klasik Setelah memperoleh model regresi linier berganda, maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menguji apakah model yang dikembangkan bersifat BLUE (Best Linear Unbased Estimator). Asumsi BLUE yang harus dipenuhi antara lain adalah tidak ada multikolinieritas, adanya homoskedastisitas dan tidak ada autokorelasi. Pengujian asumsi klasik dilakukan pada dua model regresi linear berganda yang dijelaskan sebagai berikut: a. Uji Multikolinearitas Salah satu asumsi yang mendasari model regresi linier adalah tidak adanya suatu hubungan linier yang sempurna antara beberapa atau semua variabel independen. Hal itu berarti model regresi tidak melanggar asumsi tidak ada multikolinearitas.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

85

Variabel No Dependen 1 2 3 Z1 Z2 Y

Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas Variabel VIF Kesimpulan Independen CGSNS 1,259 Tidak terjadi multikolinearitas PBTSE 1,259 Tidak terjadi multikolinearitas CGSNS 1,259 Tidak terjadi multikolinearitas PBTSE 1,259 Tidak terjadi multikolinearitas Z1 3,211 Tidak terjadi multikolinearitas Z2 3,211 Tidak terjadi multikolinearitas

Sumber : Lampiran 3 Keterangan : CGSNS = cost of goods sold to net sales PBTSE = profit before taxes to shareholders equity Z1 = Laba Z2 = Arus Kas Y = DPR Tabel 4.4 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen karena nilai VIF kurang dari 5. Artinya, tidak ada hubungan linier yang sempurna antar beberapa atau semua variabel independen. b. Uji Heteroskedastisitas Uji yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeteksi gejala heteroskedastisitas adalah uji Glejser yang dilakukan dengan cara melakukan regresi varian gangguan (residual) dengan variabel bebasnya sehingga didapat nilai p. Untuk mengetahui adanya gejala gangguan atau tidak, apabila nilai p 0,05, berarti menunjukkan tidak terjadi gangguan dan begitu pula sebaliknya. Tabel. 4.5 Hasil Pengujian Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser Variabel Variabel No thitung Sig. Dependen Independen CGSNS 0,317 0,752 1 Z1 PBTSE 0,298 0,766 CGSNS -0,892 0,375 2 Z2 PBTSE 0,616 0,540 Z1 -0,629 0,531 3 Y Z2 0,028 0,977 Sumber: Lampiran 3 Keterangan : CGSNS = cost of goods sold to net sales PBTSE = profit before taxes to shareholders equity Z1 = Laba Z2 = Arus Kas Y = DPR
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

86

c.

Pada Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa t hitung menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dimana variabel dependen yaitu ei atau error absolut, hal ini dapat dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk masingmasing variabel yang lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) . Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa tidak ada gejala heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah dalam sebuah regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi, maka model regresi terdapat problem autokorelasi. Model regresi harus tidak melanggar asumsi tidak ada autokorelasi. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam model regresi, dapat dilihat dari besaran Durbin Watson . Nilai dL dan dU dari tabel statistik Durbin Watson, dimana dalam penelitian ini terlihat angka dL sebesar 1,586 dan dU sebesar 1,688 (Gujarati, 1997). Pada bagian model summary pada penelitian ini terlihat angka D-W sebesar 2,056 (pengujian CGSNS dan PBTSE terhadap laba), 1,989 (pengujian CGSNS dan PBTSE terhadap arus kas bebas), dan 2,314 (pengujian laba dan arus kas bebas terhadap dividend payout ratio). Hal ini menunjukkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak melanggar asumsi sehingga tidak ada autokorelasi, sebab angka DW terletak pada daerah diantara dU dan 4 - dU yaitu masing-masing 1,688 < 2,056 < 2,322, 1,688 < 1,989 < 2,322, dan 1,688 < 2,314 < 2,322.

Perhitungan Analisis Jalur (Path Analysis) Bagian ini menjelaskan perhitungan pengaruh variabel rasio-rasio keuangan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap dividend payout ratio (Y), melalui variabel intervening laba dan arus kas bebas (Z). Apabila terdapat jalur yang tidak signifikan, maka diberlakukan trimming theory yaitu dengan menghilangkan atau menghapus jalur yang tidak signifikan. Dari hasil pengujian 11 rasio keuangan hanya terdapat dua rasio keuangan yang berpengaruh signifikan terhadap variabel intervening laba dan arus kas bebas. Sehingga dilakukan trimming theory. Kemudian dengan hasil struktur yang baru tersebut dihitung kembali masing-masing koefisien jalurnya (path coefficient) (Santoso, 2000). Berikut penghitungan hipotesis koefisien jalurnya:
CGSNS 0,337 Laba 0,592 DPR Arus Kas

0,321

0,522

- 0,404

Gambar 4.1 0,508


PBTSE
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

Hasil Analisis Jalur Sumber: Lampiran 4


54

87

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

Pengaruh X1 terhadap Z1 Langsung: Z1 X1 Z1 = (0,337).(0,337) = 0,114 Tidak langsung: Tidak ada Efek total: 0,114 atau 11,4% Pengaruh X2 terhadap Z1 Langsung: Z1 X2 Z1 = (0,522).(0,522) = 0,272 Tidak langsung: Tidak ada Efek total: 0,272 atau 27,2% Pengaruh 1 (variabel selain X1 dan X2 terhadap Z1) = 1 - R = 1 0,476 = 0,524 = 0,724 atau 72,4% Pengaruh X1 terhadap Z2 Langsung: Z2 X1 Z2 = (0,321).(0,321) = 0,103 Idak langsung: Tidak ada Efek total: 0,103 atau 10,3% Pengaruh X2 terhadap Z2 Langsung: Z2 X2 Z2 = (0,508).(0,508) = 0,258 Tidak langsung: Tidak ada Efek total: 0,258 atau 25,8% Pengaruh 1 (variabel selain X1 dan X2 terhadap Z2) = 1 - R = 1 0,461 = 0,539 = 0,734 atau 73,4% Pengaruh Z1 terhadap Y Langsung: Y Z1 Y = (0,592).(0,592) = 0,350 Tidak langsung: Tidak ada Efek total: 0,350 atau 35,0%

Pengaruh Z2 terhadap Y Langsung: Y Z2 Y = (-0,404).(-0,404) = 0,163 Tidak langsung: Tidak ada Efek total: 0,163 atau 16,3% i. Pengaruh 1 (variabel selain Z1 dan Z2 terhadap Y) = 1 - R = 1 0,342 = 0,658 = 0,811 atau 81,1% Berdasarkan pada perhitungan di atas, variabel independen yang mempunyai pengaruh paling kuat terhadap variabel laba (Z1) adalah variabel PBTSE (profit before taxes to shareholders quity) yaitu sebesar 27,2%, demikian juga variabel independen yang mempunyai pengaruh paling kuat terhadap variabel arus kas bebas (Z2) adalah variabel PBTSE (profit before taxes to shareholders quity) yaitu sebesar 25,8%. Sedangkan variabel independen yang mempunyai pengaruh paling kuat
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

h.

54

88

terhadap variabel DPR (dividend payout ratio) (Y) adalah variabel laba yaitu sebesar 35,0% Pembahasan Hasil pengujian menunjukkan H1 dan H2 diterima. Tetapi dari 11 rasio keuangan hanya terdapat dua rasio keuangan yang berpengaruh signifikan terhadap variabel intervening laba dan arus kas bebas yaitu CGSNS (cost of goods sold to net sales) dan PBTSE (profit before taxes to shareholders quity). Sesuai dengan teori, apabila terdapat jalur yang tidak signifikan maka diberlakukan trimming theory yaitu dengan menghilangkan atau menghapus jalur yang tidak signifikan, yang selanjutnya hasil dari trimming theory dengan menggunakan dua rasio keuangan tersebut yang layak digunakan dalam analisis jalur. Hasil analisis jalur menyatakan hal-hal berikut: Tabel 4.6 Hasil Pengujian Rasio CGSNS dan PBTSE Terhadap Laba. Variabel Koefisien regresi Nilai t Sig. bebas Konstanta -5268112 -3,134 0,002 CGSNS 5948243 2,997 0,004 PBTSE 6897465 4,646 0,000 Sumber : Lampiran 4. 1. Pengaruh CGSNS (cost of goods sold to net sales) terhadap Laba Rasio CGSNS berpengaruh positif dan signifikan terhadap laba (Tabel 4.6). Hal ini mengindikasikan bahwa rasio CGSNS memiliki kemampuan dalam memprediksi laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi rasio CGSNS semakin tinggi pula laba yang diperoleh oleh perusahaan. Menurut Helfert (1997), semakin tinggi biaya penjualan maka keuntungan yang diperoleh perusahaan semakin sedikit. Hal ini disebabkan karena selama periode penelitian meskipun biaya penjualan meningkat tetapi penjualan juga mengalami peningkatan yang lebih besar sehingga tidak mempengaruhi laba yang diperoleh perusahaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Warsidi dan Bambang (2000) ditemukan bahwa rasio cost of goods sold to net sales terbukti signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. 2. Pengaruh PBTSE (profit before taxes to shareholders quity) terhadap Laba Rasio PBTSE berpengaruh positif dan signifikan terhadap laba. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio PBTSE memiliki kemampuan dalam memprediksi laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi rasio PBTSE semakin tinggi pula laba yang diperoleh oleh perusahaan. Rasio PBTSE mengukur hasil pengembalian atas investasi pemilik dengan menghubungkan antara laba dengan kekayaan (ekuitas atau investasi pemegang saham) (Helfert,1997). Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin tinggi pula tingkat laba yang dihasilkan karena penambahan modal kerja dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan yang akhirnya dapat menghasilkan laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Warsidi dan Bambang (2000) yang menemukan bahwa rasio profit before taxes to shareholders equity terbukti signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penemuan Isworo (2001) yang menyatakan bahwa earning before taxes to
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

89

sales (EBTS) (kategori profitability) berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba 2 tahun kedepan. Tabel 4.7 Hasil Pengujian Rasio CGSNS dan PBTSE Terhadap Arus Kas Bebas Variabel Koefisien regresi Nilai t Sig. bebas Konstanta -3259141 -2,811 0,006 CGSNS 3871982 2,828 0,006 PBTSE 4584188 4,476 0,000 Sumber : Lampiran 4 1. Pengaruh CGSNS (cost of goods sold to net sales) terhadap Arus Kas Bebas Rasio CGSNS berpengaruh positif dan signifikan terhadap arus kas bebas (Tabel 4.7). Hal ini mengindikasikan bahwa rasio CGSNS memiliki kemampuan dalam memprediksi arus kas bebas perusahaan. Semakin tinggi rasio CGSNS semakin tinggi pula arus kas bebas perusahaan. Semakin tingginya biaya penjualan yang disertai dengan peningkatan penjualan yang lebih tinggi dari biaya penjualannya, akan meningkatkan arus kas bebas perusahaan terutama arus kas operasional. Hal ini ditegaskan oleh Bowen et al. (1986) bahwa arus kas sebagai prediktor adalah lebih baik dibandingkan dengan laba, khususnya untuk periode prediksi 1 atau 2 tahun. Hadri dan Handojo (2004) menyatakan bahwa perubahan arus kas operasi dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Tinggi rendahnya return saham tergantung pada tinggi rendahnya perubahan arus kas operasi perusahaan. 2. Pengaruh PBTSE (profit before taxes to shareholders quity) terhadap Arus Kas Bebas. Rasio PBTSE berpengaruh positif dan signifikan terhadap arus kas bebas (Tabel 4.7). Hal ini mengindikasikan bahwa rasio PBTSE memiliki kemampuan dalam memprediksi arus kas bebas perusahaan. Semakin tinggi rasio PBTSE semakin tinggi pula arus kas bebas perusahaan. Hal ini disebabkan karena tidak semua laba yang dihasilkan dibagikan semua sebagai deviden. Tetapi ada perusahaan yang tidak membagikan labanya untuk investor melainkan digunakan sebagai laba ditahan. Tujuannya adalah untuk keberlangsungan perusahaan. Smitts dan Watts (1992) menyatakan bahwa potensi pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan yang dibuat oleh perusahaan (seperti kebijakan pendanaan, dividen, dan kompensasi). Menurut Husnan (2001), perusahaan hanya dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar, jika laba yang dihasilkan besarnya tetap, perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri. DPR digunakan untuk mengukur berapa rupiah yang diberikan kepada pemegang saham dari keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah dikurang pajak. Rasio-rasio yang tidak berpengaruh signifikan pada penelitian ini adalah : rasio GPNS (gross profit to net sales), CR (current ratio), CGSI (cost of goods sold inventory), INS (inventory to net sales), NSNA (net sales to net assets), QAI (quick
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

90

assets to inventory), QATA (quick assets to total assets), WCTA (working capital to total assets), WCNS (working capital to net sales). 1. Pengaruh GPNS (gross profit to net sales) terhadap laba dan arus kas bebas. Pada penelitian ini rasio GPNS tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas bebas. Temuan ini sesuai dengan penelitian Machfoedz (1994) dimana rasio yang signifikan untuk memprediksi perubahan laba satu tahun ke depan adalah rasio QAI (quick assets to inventory). Keadaan ini disebabkan perusahaan masih membayar biaya lain-lain yang cukup besar sehingga mengurangi keuntungan perusahaan meskipun penjualan yang tinggi. Begitu juga dengan arus kas operasi. Jika biaya lain-lain yang harus dikeluarkan perusahaan besar maka arus kas operasi perusahaan menjadi kecil. 2. Pengaruh CR (current ratio) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio CR seringkali disebut rasio modal kerja. Pada penelitian ini rasio CR tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas bebas. Temuan ini berbeda dengan Zakaria (2000), yang memprediksi perubahan laba yang menunjukkan hasil yang signifikan adalah rasio CR. Hal ini disebabkan karena rasio CR tidak dapat menunjukkan perubahan laba di dalam penelitian ini. Kewajiban jangka pendek perusahaan lebih besar dari aktiva lancarnya sehingga perusahaan harus mencari alternatif pembayaran hutang jangka pendeknya. Menurut Hadri dan Handojo (2004), perubahan laba dan perubahan arus kas juga dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Karena laba yang meningkat dan arus kas yang bertambah akan meningkatkan return saham yang diterima investor. 3. Pengaruh CGSI (cost of goods sold inventory) terhadap laba dan arus kas bebas. Pada penelitian ini rasio CGSI tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas arus bebas. Temuan ini sesuai dengan penelitian Machfoedz (1994) dimana rasio yang signifikan untuk memprediksi perubahan laba satu tahun ke depan adalah rasio CGSI (cost of goods sold inventory). Keadaan ini disebabkan perusahaan masih membayar biaya lain-lain yang cukup besar sehingga mengurangi keuntungan perusahaan meskipun secara statistik berpengaruh terhadap pertumbuhan laba satu tahun mendatang. Begitu juga dengan arus kas operasi. Jika biaya lain-lain yang harus dikeluarkan perusahaan besar maka arus kas operasi perusahaan menjadi kecil. 4. Pengaruh INS (inventory to net sales) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio INS dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas bebas. Zakaria (2000) juga menemukan rasio inventory turn over berpengaruh tidak signifikan. Hal ini disebabkan karena pengelolaan persediaan yang baik dapat meningkatkan efektifitas dari pengelolaan persediaan perusahaan tersebut. Semakin cepat perusahaan menjual persediaannya semakin cepat pula perusahaan mendapatkan laba dan meningkatkan arus kas bebas perusahaan. Dalam penelitian ini meskipun persediaan yang ada telah terjual tetapi biaya untuk melakukan penjualan relatif tinggi. Sehingga tidak dapat meningkatkan laba dan arus kas bebas perusahaan. 5. Pengaruh NSNA (net sales to net assets) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio NSNA dalam penelitian ini tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas bebas. Warsidi dan Bambang (2000) menyebutkan bahwa rasio net sales to current assets berpengaruh positif dan signifikan. Dalam penelitian ini aktiva yang ada belum dimanfaatkan secara optimal oleh perusahaan, sehingga aktiva yang ada di
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

91

perusahaan tidak dapat meningkatkan laba perusahaan dan juga arus kas bebas perusahaan. 6. Pengaruh QAI (quick assets to inventory) terhadap laba dan arus kas bebas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio QAI tidak berpengaruh signifikan terhadap laba dan arus kas bebas. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian Isworo (2001) yang menyebutkan bahwa Rasio QAI (kategori investment) berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba 1 tahun dan 2 tahun kedepan. Tetapi menurut Machfoedz (1994) dari sebelas rasio terbukti hanya satu variabel yang signifikan untuk memprediksi perubahan laba satu tahun kedepan yaitu variabel QAI. Penelitian yang dilakukan oleh Inge (2004) juga menunjukkan bahwa 5 rasio keuangan terbukti signifikan terhadap perubahan laba yaitu rasio QAI. Aktiva cepat perusahaan tidak semuanya dapat segera diuangkan seperti persediaan. Misalnya surat berharga dan piutang. Untuk menjual surat berharga biasanya perusahaan harus melihat harga yang sedang berlaku di pasar saham. Perusahaan tidak akan menjual surat berharga tersebut jika selisih harga jauh dibawah harga belinya. Selain itu untuk piutang, tidak semua piutang perusahaan dapat ditagih. Sehingga perusahaan harus mengalokasikan piutang tak tertagih lebih besar. Berbeda dengan persediaan perusahaan, hampir seluruh persediaan perusahaan terjual. Sehingga keuntungan perusahaan akan bertambah dan arus kas bebas perusahaan juga meningkat. 7. Pengaruh QATA (quick assets to total assets) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio QATA menggambarkan struktur kekayaan yang dimiliki perusahaan. Kenaikan dalam rasio ini berarti perusahaan memliki modal kerja yang bertambah pula. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio QATA tidak berpengaruh signifikan dalam memprediksi laba dan arus kas bebas. Menurut Isworo (2001), rasio QATA (current assets to total assets) (kategori investment) berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba 1 tahun dan 2 tahun kedepan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua kenaikan modal kerja dapat meningkatkan laba dan arus kas bebas perusahaan. Meningkatnya modal kerja berupa quick assets tidak dapat digunakan untuk menghasilkan laba dan arus kas operasional yang tinggi, karena hanya dapat meningkatkan kekayaan perusahaan. Berbeda dengan persediaan yang bertambah dapat meningkatkan penjualan dan nantinya akan meningkatkan laba dan arus kas bebas. 8. Pengaruh WCTA (working capital to total assets) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio WCTA berpengaruh tidak signifikan. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Warsidi dan Bambang (2000) yang menyebutkan bahwa WCTA berpengaruh positif dan signifikan. Hal ini disebabkan karena peningkatan modal tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kekayaan perusahaan tetapi juga untuk melunasi hutang perusahaan. Sehingga peningkatan modal tidak diikuti dengan peningkatan laba perusahaan. 9. Pengaruh WCNS (working capital to net sales) terhadap laba dan arus kas bebas. Rasio WCNS berpengaruh tidak signifikan. Hasil ini didukung oleh penelitian Isworo (2001) yang menunjukkan bahwa rasio NWS (kategori investment) berpengaruh tidak signifikan terhadap i pertumbuhan pada laba 1 tahun dan 2 tahun
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

92

kedepan. Dalam penelitian Machfoed (1994), rasio NWS juga berpengaruh tidak signifikan. Sedangkan menurut penelitian Warsidi dan Bambang (2000) menyebutkan bahwa WCNS berpengaruh negatif dan signifikan. Penjelasannya adalah modal sendiri untuk mendukung penjualan perusahaan berpengaruh dalam meningkatkan laba. Tetapi dalam penelitian ini modal kerja perusahaan tidak digunakan sepenuhnya untuk mendukung penjualan, mungkin juga digunakan untuk meningkatkan kekayaan perusahaan sehingga tidak dapat menambah laba dan juga arus kas bebas perusahaan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa H3 diterima. Hal ini ditunjukkan pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Hasil pengujian Laba dan Arus Kas Bebas terhadap DPR. Variabel Koefisien regresi Nilai t Sig. bebas Konstanta 35,385 8,956 0,000 CGSNS 7,18E-006 3,087 0,003 PBTSE -7,2E006 -2,106 0,038 Sumber : Lampiran 4. 1. Pengaruh Laba terhadap DPR Laba berpengaruh positif dan signifikan terhadap DPR (Tabel 4.8). Hal ini mengindikasikan bahwa laba memiliki kemampuan dalam memprediksi besarnya dividen yangan akan dibagikan oleh perusahaan. Semakin tinggi laba semakin tinggi pula DPR perusahaan. Pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan kembali. Apabila kondisi perusahaan solvabilitasnya kurang menguntungkan (insolvensi) maka perusahaan tidak akan membagikan labanya. Laba perusahaan tersebut akan digunakan untuk memperbaiki struktur modal perusahaannya. Rozeff (1982) dan Easterbook (1984) menunjukkan bahwa semakin banyak dividen yang ingin dibayarkan oleh perusahaan, semakin besar kemungkinan berkurangnya laba ditahan. Akibatnya, perusahaan harus mencari biaya eksternal yang lebih mahal. Salah satu asumsi Bird in the hand theory dari pendekatan Miller-Modigliani adalah kebijakan dividen tidak mempengaruhi tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor. Menurut Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979), Bird in the hand theory menjelaskan bahwa investor menyukai dividen yang tinggi karena dividen yang diterima seperti burung ditangan yang risikonya lebih kecil dibandingkan dengan dividen yang tidak dibagikan. Sedangkan menurut Husnan (2001), perusahaan hanya dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar. Sebaliknya, jika laba yang dihasilkan besarnya tetap perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri. Nugroho dalam Zakaria (2000), menyebutkan pengukuran laba berfungsi sebagai pengukuran efisiensi. Operasi yang efisien dari perusahaan akan mempengaruhi arus dividen maupun penggunaan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan arus dividen di masa yang akan datang. Para pemegang ekuitas yang sekarang dapat melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh manajemen baru, jika manajemen yang sekarang tidak beroperasi secara efisien. Efisien menunjukkan kemampuan relatif untuk memperoleh keluaran maksimum
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

93

dengan sejumlah daya tertentu, misalnya sumber-sumber ekonomi. Efisiensi juga tergantung pada sasaran perusahaan untuk mengoptimalkan laba atau untuk memberikan hasil pengembalian yang wajar atau layak atas investasi, jika modal yang dipakai perusahaan adalah konstan dari tahun ke tahun, maka angka itu sendiri akan berguna sebagai alat ukur efisiensi perusahaan. 2. Pengaruh Arus Kas Bebas terhadap DPR Arus kas bebas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap DPR (Tabel 4.8). Hal ini mengindikasikan bahwa arus kas bebas memiliki kemampuan dalam memprediksi besarnya dividen yang akan dibagikan oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio arus kas bebas semakin rendah DPR perusahaan. Dividen yang dibayarkan (cash dividend) merupakan cash outflow bagi perusahaan, sehingga perusahaan harus menyediakan uang kas yang cukup banyak. Perusahaan yang likuiditasnya kurang baik maka umumnya DPR-nya kecil, karena laba perusahaan sebagian besar digunakan untuk memperbaiki likuiditas perusahaan. Teori keagenan Jensen dan Meckling (1976), berpendapat bahwa dividen akan megurangi konflik antara agents dan principals. Sehubungan dengan dividen dan keputusan pendanaan, Easterbrook (1984) mengatakan bahwa dividen merupakan keuntungan bagi equityholders, mereka akan memaksa manajer secara tetap/konstan untuk memperoleh modal baru pada pasar persaingan. Pada perusahaan yang membagi dividen dalam jumlah besar, maka untuk membiayai investasinya diperlukan tambahan dana melalui hutang, sehingga kebijakan dividen akan mempengaruhi hutang secara searah Emery dan Finnerty (1997). Hasil penelitian ini sesuai dengan peneitian Dini Rosdini (2009) yang menganalisis pengaruh Free Cash Flow terhadap Dividend Payout Ratio, dimana Free Cash Flow diukur dengan mengurangi cash flow dari operasi dengan net capital expenditure ditambah changes in working capital. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa free cash flow dapat dijadikan salah satu indikator dalam penetapan kebijakan dividen dalam suatu perusahaan. Menurut Ambarish, John dan William (1987), pertumbuhan perusahaan akan mempengaruhi harga saham. Pasar akan bereaksi berbeda, jika mendapat informasi perusahaan tersebut mempunyai peluang tumbuh. Hal ini dapat dilihat dari dividen yang dibagikan. Harga saham akan mengalami kenaikan jika dividen yang dibagikan juga mengalami kenaikan. Penetapan kebijakan dividen dapat dilihat melalui free cash flow perusahaan. Keterbatasan Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan. Beberapa hal yang diyakini sebagai keterbatasan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Penelitian ini hanya meniliti laporan keuangan perusahaan manufaktur dan jasa yang listed di BEI selama tiga tahun karena keterbatasan waktu dan biaya. Pendeknya waktu penelitian sangat mungkin menyebabkan variasi nilai variabel-variabel yang diteliti tinggi sehingga dapat mempengaruhi kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Selain itu penelitian ini tidak dapat membedakan kemampuan kelompok perusahaan dalam memprediksi karena keterbatasan jumlah sampel dimana ada 39 sektor manufaktur dan hanya 1 sektor jasa.
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

94

2.

3.

Penelitian ini tidak mempertimbangkan size effect dan usia perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Ukuran dan usia perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan arus kas bebas masa depan yang pada akhirnya mempengaruhi DPR. Penelitian ini juga tidak mempertimbangkan efek dari faktor ekonomi makro, misalnya inflasi yang dapat mempengaruhi laba karena kenaikan harga bahan baku dan kenaikan upah tenaga kerja, kenaikan tingkat bunga yang menyebabkan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan, dan pengurangan subsidi pemerintah yang menyebabkan kenaikan pada sejumlah barang. Hal tersebut akan menyebabkan pengurangan laba dan mempengaruhi arus kas bebas perusahaan.

BAB 5. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari 11 rasio keuangan yang diuji dapat disimpulkan bahwa hanya rasio CGSNS (cost of goods sold to net sales) dan PBTSE (profit before taxes to shareholders equity) yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel laba. 2. Dari 11 rasio keuangan yang diuji dapat disimpulkan bahwa hanya rasio CGSNS (cost of goods sold to net sales) dan PBTSE (profit before taxes to shareholders equity) yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel arus kas bebas. 3. Laba dan arus kas bebas dapat digunakan untuk memprediksi DPR. Laba memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam memprediksi DPR dibandingkan dengan arus kas bebas. Saran Mengacu pada hasil kesimpulan dan keterbatasan penelitian ini, saran-saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut : 1. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pertimbangan untuk peneliti selanjutnya dengan mempertimbangkan size effect dan usia perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Ukuran dan usia perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan arus kas bebas masa depan yang pada akhirnya mempengaruhi DPR. Faktor ekonomi seperti inflasi, tingkat bunga, subsidi pemerintah, dan lainlain, belum dipertimbangkan dalam penelitian ini. Faktor-faktor tersebut mungkin mempengaruhi cara perusahaan melakukan bisnis yang selanjutnya mempengaruhi hasil analisis penelitian ini. 2. Bagi Investor dan Calon Investor Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan investor dan calon investor dalam menilai dan memilih perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja bagus dan memungkinkan memperoleh DPR yang tinggi. Tetapi perusahaan yang memiliki DPR rendah belum tentu memiliki kinerja yang jelek. Hal ini disebabkan karena perusahaan cenderung menggunakan labanya sebagai pembiayaan rencana pengembangan atau untuk rencana perluasan (expansion).
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

95

Bagi Perusahaan Penelitian ini diharapkan dapat memacu perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya agar investor tertarik menanamkan modalnya di perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan laba perusahaan sehingga dapat memberikan DPR yang tinggi bagi investor, atau melakukan pengembangan dan ekspansi sehingga dapat mempertahankan konsistensi perusahaan. DAFTAR PUSTAKA Alwi, Syafaruddin. 1998. Alat-Alat Analisis Dalam Pembelanjaan. Yogyakarta : Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Ambarish, R., John, K., dan William, J, 1987, Efficient Signaling with Dividend and Investment. Journal of Finance. Vol. 42. No.2. Hal. 321-343 Atmaja, Lukas. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Revisi, Jakarta : Andi. Arifin, Ali.. 2002. The Incremental Information Content of Earnings, Working Capital from Operation, and Cash Flows. Jounal of Accounting Research. Hal. 166 Barclay, Michael J. Clifford W. Smith Jr. Ross L. Watts. 1998. The Determinants of Corporate Leverage and Deviden policies. (dalam The New Corporate Finance). Second edition. Irwin Mc. Graw Hill. Malaysia. Baridwan, Zaki. 2000. Intermediate Accounting. Yogyakarta : BPFE UGM Barth, Cram dan Nelson. 2001. Accruals and the prediction of future cash flows. Accounting Review. Vol. 76, Hal. 27-58 Bhattacharya. S. 1979. Imperfect Information Dividen Policy and The Bird in the Hand. Journal of Economics (Spring). Vol. 10. No. 1. Hal. 259-270 Bowen, Robert M., David Burgstahler, dan Lane A. Daley. 1986. Evidence on The Relationship Between Earnings and Various Measures of Cash Flows. The Accounting Review. Vol. 61, No. 4, Hal. 713725 Brealy, Richard, A., Myers, Stewart, C dan Marcus, Alan, J. 2008. Fundamentals of Corporate Finance. (Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan) Jakarta : Penerbit Erlangga. Brigham, Eugene dan Houston, Joel, F. 2006. Fundamentals of Financial Management. (Dasar-dasar Manajemen Perusahaan diterjemahkan oleh Yelvi Andri Zalimur). Jakarta : Salemba Empat. Easterbrook, FH., 1984. Two Agency Cost Explanation of Devidends. American Economic Review. September. Vol. 74, Hal. 650-659
Jurnal Akuntansi Universitas Jember

3.

54

96

Emery, Douglas R. dan Finnerty, 1998. Corporate Financial Management. New Jersey : Prentice Hall Inc. Finger, Catherine A., 1994. The Ability of Earnings to Predict Future Earnings and Cash Flow, Journal of Accounting Research, Vol. 32, No. 2, Hal. 210-223 Gitman, Lawrence J. 2003. Principles of Managerial Finance. 10th Edition. New York : Harper Collins College Publishers. Gordon.M.J. 1963. Optimal Investment and Financing Policy. Journal of Finance. Vol. 18. No. 2. Hal. 264-272 Gujarati, Damodar. diterjemahkan Sumarno Zain. 1995. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga Hadri dan Handojo. 2004. Kandungan Informasi Tambahan Dari Laba, Modal Kerja Operasi Dan Arus Kas Pada Perusahaan Manufaktur Go Public Tahun 1997 2001. SINERGI. Vol. 7, No. 1, Hal 1-12 Harahap, Sofyan. S. 1994. Teori Akuntansi Laporan Keuangan. Jakarta : Bumi Aksara. Hasnawati, Sri. 2005. Implikasi Keputusan Investasi, Pendanaan, dan Dividen terhadap Nilai Perusahaan Publik di BEJ. Manajemen dan Usahawan Indonesia. Vol. 34, No. 9, September 2005, Hal. 33-36 Helfert, E.A, 1997, Analisis Laporan Keuangan (Herman Wibowo), Edisi Kedelapan, Jakarta : Penerbit Erlangga. Husnan, S., 2001., Corporate Governance dan Keputusan Pendanaan : Perbandingan Kinerja Perusahaan dengan Pemegang Saham Pengendali Perusahaan Multinasional dan Bukan Multinasional, Jurnal Riset Akuntansi, Manajemen, Ekonomi. Vol 3, No 1, Hal. 1-12 Ikatan Akuntansi Indonesia. 1999. Standar Akuntansi Indonesia. Buku Satu. Jakarta : Salemba Empat. Ika, Luciana, Fitriastuti. 2004. Analisis Kemampuan Prediksi Laba, Kemampuan Laba dan Arus Kas untuk Memprediksi Arus Kas Masa Depan : Studi pada Perusahaan Manufaktur di BEJ. Tesis. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada. Inge, Situmeang. 2004. Pengaruh Perubahan Rasio Keuangan dan Tingkat Inflasi terhadap Perubahan Laba pada Perusahaan Manufaktur di BEJ. Tesis. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

97

Isworo, Sri Ediningsih. 2001. Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan Manufaktur di BEJ. Tesis. Semarang : Universitas Diponegoro. Jensen, Michael C. 1986. Agency Costs of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Takeovers. American Economic Review. May, Vol. 76, No. 2, Hal. 323-329 Jensen, Michael C and Meckling, William H. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Cost, and Ownership Structure. Journal of Financial Economics. Vol. 3, No. 4, Hal. 305-360 Jogiyanto Hartono, 1999, Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba : Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 2, No.1, Hal. 66-90 Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta : Penerbit Erlangga. Levy, H. dan Sarnat, M. 1990. Capital Investment and Financial Decision. Fourth edition. New York : Prentice Hall. Lintner, 1956. Distributor of Income of Corporations Among Devidends, Retained Earning, and Taxes. American Economics Review Vol. 46, Hal. 97-113 Machfoedz, Masoed. 1994. Financial Ratios Analisys and the Earning Change in Indonesia. Kelola, No. 7, Hal. 114-137 Miller M dan Rock. K. 1985. Dividend Policy Under Asymmetric Information. Journal of Finance. Vol. 40. Hal. 1031-1051 Munawir, S. 2002. Analisis Informasi Keuangan. Edisi pertama. Yogyakarta : Liberty. Parawiyati dan Zaki Baridwan. 1998. Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Publik di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 1, No. 1, Hal. 1-11 Prastowo, Dwi. 1995. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta : UPP AMP YKPN. Prihantoro. 2003. Estimasi Pengaruh Dividen Payout Ratio Pada Perusahaan Publik Di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 8, No. 1, Hal. 1-14 Rosdini, Dini. Oktober 2009. Pengaruh Free Cash Flow Terhadap Dividend Payout Ratio. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, Bandung : Fakultas Ekonomi Universitas Pajajaran.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

98

Ross, S. A. 1977. The Determination of Financial Structure: The Incentive Signaling Approach. Journal of Economics. Spring. Vol. 8, No. 6, Hal. 407-445 Rozeff, Michael S., 1982. Growth, Beta & Agency Cost as Determinants of Deviden Pay Out Ratios. Journal of Financial Research. Vol. 5. Hal. 249-294 Smith Jr. C.W, dan R.L. Watts, 1992 The Investment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies, Journal of Financial Economics. Vol. 6, No. 13, Hal. 187-221 Solimun. 2002. Metode Kuantitatif untuk Bisnis. Yogyakarta : Graha Ilmu. Sutrisno. 2001. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio. TEMA, Vol. 2, No. 1, Hal. 1-12 Warsidi, dan Bambang Agus Pramuka. 2000. Evaluasi Kegunaan Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba di Masa yang Akan Datang: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Akuntansi. Manajemen dan Ekonomi. Vol. 2 No. 1. Hal. 1-15 Yustitia. 2002. Studi Kemampuan Laba untuk Memprediksi Laba dan Arus Kas, Thesis, Magister Manajemen, Yogyakarta : Unversitas Gajah Mada. Zakaria, 2000. Kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 1995 sampai dengan tahun 1997. Thesis, Magister Manajemen, Yogyakarta : Unversitas Gajah Mada.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember

54

99

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN HIGH PROFILE YANG LISTED DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) Astrid Maharani1 Bunga Maharani2 Abstract The aim of this study was examine the effect of stock return practice among listed high profile companies at Indonesia Stock Exchange. The factors being examined was Corporate Social Responbility disclosure. CAR is used to determine stock return. The study using 177 high profile companies listed in Indonesia Stock Exchange, with period between 2008-2010. The hypothesis was tested using linier regression. Both F-test dan t-test have also been used to test the significance of the study hypothesis. Linier regression showed that both partially and simultaneosly, Corporate Social Responsibility disclosure didnt prove to have a significant influence on stock return. Keywords: Corporate Social Responsibility disclosure, stock return 1. Latar Belakang Masalah Perusahaan atau entitas bisnis didirikan dengan tujuan utama untuk menghasilkan laba (profit). Dengan diperolehnya laba dari kegiatan yang dilakukan, diharapkan perusahaan akan terus hidup dan terus berkembang. Perspektif kebanyakan perusahaan yang menganut profit oriented ini menyebabkan perusahaan hanya memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh laba sebesar mungkin tanpa memikirkan dampak lingkungan atau sosial dari kegiatan operasi yang dilakukan. Tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya untuk melakukan kegiatan operasi demi menciptakan laba (profit) semata untuk kelangsungan usaha yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang tercermin dalam kondisi keuangannya (financial) saja tetapi juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan yang disebut triple bottom line. Triple bottom line merupakan konsep yang dikembangkan Archie B. Carroll (1979) yang memperhatikan aspek profit, people, dan planet dalam kelangsungan suatu perusahaan. Aspek profit menggambarkan bahwa perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari laba (profit). Aspek people memperhatikan kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Aspek planet diwujudkan dengan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keragaman hayati (Winarno, 2007). Sehubungan dengan pertanggungjawaban sosial perusahaan tersebut, UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep-134/Bl/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik, merupakan peraturan yang mendukung agar perusahaan mengungkapkan Corporate Social Responsibility. Saat ini, investor semakin tanggap terhadap adanya laporan tahunan yang melaporkan pengungkapan pertanggungjawaban sosial perusahaan untuk pengambilan
1 2

Universitas Jember Universitas Jember

100

keputusan. Para investor cenderung menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup (Pinnarwan dalam Indah, 2001). Berbagai penelitian yang terkait dengan pengungkapan Corporate Social Responsibility atau pertanggungjawaban sosial perusahaan dan return saham telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun negara lain dengan hasil penelitian yang beragam. Anwar et al. (2010) meneliti tentang pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap kinerja keuangan perusahaan dan harga saham. Hasil penelitian menemukan bahwa pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan EVA dan rasio profitabilitas (ROA dan ROE), pengungkapan Corporate Social Responsibility juga berpengaruh positif terhadap harga saham di pasar modal. Junaedi (2005) meneliti tentang dampak tingkat pengungkapan informasi perusahaan terhadap volume perdagangan dan return saham pada perusahaan yang tercatat di BEJ. Hasil analisis regresi terhadap variabel return saham menyimpulkan bahwa pengaruh tingkat pengungkapan informasi terhadap return saham adalah negatif. Ketidakkonsistenan hasil penelitianpenelitian tersebut mendorong peneliti untuk menguji kembali pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap return saham. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menggunakan sampel perusahaanperusahaan high profile dengan periode penelitian tahun 20082010 yang terdaftar di BEI. Masyarakat umumnya lebih sensitif terhadap tipe industri high profile karena kelalaian perusahaan dalam pengamanan proses produksi dan hasil produksi dapat membawa akibat yang fatal bagi masyarakat (Zuhroh dan Sukmawati, 2003). 2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah pengungkapan CSR (Corporate Social Responsibility) berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI)? 3. TINJAUAN PUSTAKA Pengungkapan Corporate Social Responsibility atau Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan Dalam perkembangannya dapat diartikan bahwa Corporate Social Responsibillity merupakan suatu konsep yang dapat dimaknai berbeda oleh perusahaan, sukarela (voluntary) atau wajib (mandatory). Menurut Darwin (dalam Anggraini, 2006), pertanggungjawaban sosial perusahaan adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum. Adanya UU No. 40 Tahun 2007 dan peraturan lain yang mewajibkan perusahaan untuk melakukan Corporate Social Responsibility menjadikan CSR menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh semua pihak dan sudah banyak diterapkan sebagai bagian dari aktivitas perusahaan (Hidayati dan Murni, 2009). Pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat voluntary, unaudited, dan unregulated (Zuhroh dan Sukmawati, 2003). Glautier (dalam Utomo, 2000) menyebutkan tema-tema yang termasuk dalam wacana Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial adalah : a. Tema Kemasyarakatan

101

Tema ini mencakup aktivitas kemasyarakatan yang diikuti oleh perusahaan, misalnya aktivitas yang terkait dengan kesehatan, pendidikan dan seni, serta pengungkapan aktivitas kemasyarakatan lainnya. b. Tema Ketenagakerjaan Tema ini meliputi dampak aktivitas perusahaan pada orang-orang dalam perusahaan tersebut. Aktivitas tersebut meliputi rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tunjangan, mutasi dan promosi, dan lainnya. c. Tema Produk dan Konsumen Tema ini melibatkan melibatkan aspek kualitatif suatu produk atau jasa, antara lain kegunaan, durability, pelayanan, kepuasan pelanggan, kejujuran dalam iklan, kejelasan/kelengkapan isi pada kemasan dan lainnya. d. Tema Lingkungan Hidup Tema ini meliputi aspek lingkungan dari proses produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan sumber daya alam dan konversi sumber daya alam. Pengukuran Pengungkapan Corporate Social Responsibility Tahapan di dalam analisis yang digunakan terlebih dahulu yakni menentukan disclosure items dan perhitungan disclosure index (Junaedi, 2005). Disclosure items merupakan sekumpulan komponen atau bagian dari pengungkapan perusahaan baik pengungkapan wajib (mandatory disclosure) maupun pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) yang dijadikan acuan untuk menentukan tingkat komprehensifitas pengungkapan perusahaan sampel. Perhitungan disclosure index dilakukan dengan membandingkan kesesuaian isi laporan tahunan dengan disclosure items. Pengukuran untuk mengetahui kelengkapan informasi yang disajikan oleh perusahaan dalam laporan tahunannya adalah melakukan checklist. Instrumen pengukurannya mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Hackston dan Milne (dalam Sembiring, 2005) yang mengelompokkan informasi Corporate Social Responsibility ke dalam kategori lingkungan, energi, tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat dan umum. Hipotesis Pasar Efisiensi Aspek penting dalam menilai efisiensi pasar adalah cepat lambatnya suatu informasi baru diserap oleh pasar dan tercermin dalam penyesuaian menuju harga keseimbangan yang baru. Pada pasar yang efisien harga sekuritas akan dengan cepat terevaluasi dengan adanya informasi penting yang berkaitan dengan sekuritas tersebut sehingga investor tidak akan bisa memanfaatkan informasi untuk mendapatkan abnormal return di pasar. Fama (1970) mengklasifikasi bentuk pasar yang efisien ke dalam tiga efficient market hypothesis (EMH), yaitu : a) Hipotesis pasar efisien bentuk lemah (weak form of the efficient market hypothesis) b) Hipotesis pasar efisien bentuk setengah kuat (semi strong form of the efficient market hypothesis) c) Hipotesis pasar efisien bentuk kuat (strong form of the efficient market hypothesis)

102

Harga Saham Harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan. Penentuan harga saham merupakan keputusan yang didasarkan informasi tentang perusahaan. Harga saham merupakan salah satu faktor bagi investor dalam pengambilan keputusan. Tinggi rendahnya harga saham lebih banyak dipengaruhi oleh penilaian pembeli dan penjual terhadap kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dapat diamati dari berbagai indikator kinerja seperti rasio keuangan sehingga dapat dikatakan bahwa investor sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan (Hidayat, 2009). Return Saham Return saham merupakan keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari dividen dan capital gain/loss. Menurut Jogiyanto (2003) return saham dibedakan menjadi dua yakni return realisasi dan return ekspektasi. Semakin besar return yang diharapkan akan diperoleh dari investasi, semakin besar pula risikonya, sehingga dikatakan bahwa return ekspektasi memiliki hubungan positif dengan risiko. Risiko yang lebih tinggi biasanya dikorelasikan dengan peluang untuk mendapatkan return yang lebih tinggi pula (high risk high return, low risk low return). Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menemukan bukti berkaitan dengan pengungkapan Corporate Social Responsibility dan return saham. Zuhroh dan Sukmawati (2003) meneliti tentang pengaruh luas pengungkapan sosial dalam laporan tahunan perusahaan terhadap reaksi investor dengan populasi mencakup saham-saham yang listing di Bursa Efek Jakarta dan sampel yang mencakup saham-saham perusahaan yang masuk dalam kategori high profile untuk periode tahun 2001. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pengungkapan sosial dalam laporan tahunan perusahaan yang go public telah terbukti berpengaruh positif terhadap volume perdagangan saham bagi perusahaan yang masuk kategori high profile. Junaedi (2005) meneliti tentang dampak tingkat pengungkapan informasi perusahaan terhadap volume perdagangan dan return saham pada penelitian empiris terhadap perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Populasi sasaran dalam penelitian tersebut adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dari periode tahun 2000 sampai dengan 2002. Berdasarkan berbagai kriteria, diperoleh sebanyak 109 unit sampel. Hasil analisis regresi terhadap variabel return saham menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh negatif tingkat pengungkapan informasi terhadap variabel tersebut secara signifikan. Hasil penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tingkat komprehensifitas informasi yang terkandung dalam laporan tahunan secara signifikan hanya mempengaruhi aktivitas atau volume perdagangan saham perusahaanperusahaan yang memberikan pengungkapan informasi secara komprehensif tetapi tidak memberikan abnormal return kepada para investor. Titisari, et al. (2010) meneliti tentang pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap kinerja pasar perusahaan yang diukur dengan stock return (diproksi dengan CAR) baik CSR secara keseluruhan maupun berdasarkan pada parameternya (environment, employment, dan community). Populasi dalam penelitian ini adalah laporan tahunan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 20052006. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel, diperoleh sebanyak 32 annual report perusahaan. Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian tersebut yakni Debt-

103

Equity Ratio, beta leverage, Return on Equity (ROE), dan Price-Book Value (PBV). Hasil statistik deskriptif menunjukkan bahwa terjadi peningkatan trend indeks CSR, yang jika di lihat dari parameternya maka aktivitas CSR lebih banyak dilakukan pada parameter environment dan community dan dari analisis korelasi variabel environment dan community berkorelasi positif dengan CAR sedangkan parameter employment justru berkorelasi negatif dengan CAR. Hasil pengujian variabel kontrol dalam penelitian tersebut membuktikan bahwa korelasi antara variabel CAR dengan Debt-Equity Ratio, beta leverage, dan Price-Book Value (PBV) adalah negatif dan korelasi antara variabel CAR dengan Return on Equity (ROE) adalah positif. Hipotesis Penelitian Konsep triple bottom line yang dikembangkan oleh Carroll (1979) yang memperhatikan aspek profit, people, dan planet mengubah perspektif perusahaan untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan atau sosial perusahaan. Hal ini didukung dengan adanya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep134/BI/2006 serta peraturan lain yang mewajibkan entitas bisnis dalam pengungkapan Corporate Social Responsibility pada laporan tahunan perusahaan. Beberapa peneliti beranggapan bahwa terdapat pengaruh antara pengungkapan Corporate Social Responsibility yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunan terhadap return saham karena perusahaan semakin baik dalam melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan investor pun mulai merespon pengungkapan sosial sebagai salah satu good news (Zuhroh dan Sukmawati, 2003). Oleh karena itu, berdasarkan pemaparan di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : H1 : Pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan berpengaruh positif terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). 3. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan high profile yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengambilan sampel penelitian ini dengan menggunakan metode purposive sampling yakni pemilihan sampel secara tidak acak (Indriantoro dan Supomo, 1999). Kriteria sampel yang digunakan, yaitu : a. Perusahaan high profile yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2008-2010. b. Perusahaan yang mempunyai saham aktif dan diperdagangkan selama periode 2008-2011. c. Perusahaan menerbitkan laporan tahunan selama periode 2008-2010. d. Perusahaan yang tidak mempunyai DER bernilai negatif. e. Penggunaan outlier data. Berdasarkan uraian diatas, data yang diperoleh dari Fact Book menunjukkan bahwa populasi penelitian ini terdiri dari 483 firm-years pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia selama 2008-2010. Berdasarkan seleksi yang telah dilakukan pada populasi, diperoleh 177 firm-years sebagai sampel penelitian.

104

Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya Variabel Dependen (Y) Penelitian ini menggunakan return saham sebagai variabel dependen. Return saham diukur dengan Cummulative Abnormal Return (Titisari, 2010). Penentuan time interval merupakan hal yang penting dalam pengukuran dengan menggunakan Cummulative Abnormal Return (CAR). Perhitungan abnormal return dilakukan dengan menggunakan market adjusted model (Junaedi, 2005). Abnormal return (ARit) diperoleh melalui dua tahap. Tahap pertama merupakan perhitungan selisih dari return aktual atau return sesungguhnya (Rit) yang kemudian dikurangi dengan return market (Rmt) yang diperoleh dari tahap kedua (Junaedi, 2005). ( )( ) = ( ) ( )( ) = ( ) = ( )( ) Keterangan : : Abnormal return untuk sekuritas ke-i pada hari ke-t : Return untuk sekuritas ke-i pada hari ke-t : Return market pada hari ke-t : Indeks Harga Saham Individu / Perusahaan Sampel : Indeks Harga Saham Gabungan Menghitung Cummulative Abnormal Return (CAR), merupakan penjumlahan atau akumulasi abnormal return selama event period. Rumus yang digunakan sebagai berikut (Jogiyanto, 2003). =

Keterangan : : Cummulative Abnormal Return sekuritas i selama event periode, yakni 3 hari sebelum publikasi laporan tahunan dan 3 hari setelah publikasi laporan tahunan. Dalam penelitian ini, perhitungan Cummulative Abnormal Return menggunakan event period suatu perusahaan adalah 3 hari sebelum publikasi laporan tahunan perusahan tersebut dan 3 hari setelah publikasi laporan tahunan perusahaan tersebut. Variabel Independen (X) Penelitian ini menggunakan pengungkapan Corporate Social Responsibility sebagai variabel independen. Instrumen pengukuran CSR yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring (2005) hasil modifikasi dari Hackston dan Milne (1999). Checklist Item pengungkapan informasi Corporate Social Reponsibility dapat dilihat pada Lampiran 1. Haniffa et al. (dalam Sayekti dan Wondabio, 2007) menjelaskan bahwa pendekatan untuk menghitung CSRI pada dasarnya menggunakan pendekatan dikotomi yaitu setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan. Selanjutnya, skor dari setiap item dijumlahkan untuk memperoleh keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus perhitungan CSRI adalah sebagai berikut Haniffa et al. (2005, dalam Sayekti dan Wondabio, 2007): =

105

Keterangan : : Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j : jumlah item untuk perusahaan j, nj 78 : dummy variabel ( 1 = jika item i diungkapkan; 0 = jika item i tidak diungkapkan) Dengan demikian, nilai Corporate Social Responsibility Disclosure Index akan lebih dari atau sama dengan 0 dan kurang dari sama dengan 1 yang dinotasikan dengan 0 CSRIj 1. Variabel Kontrol Variabel kontrol dalam penelitian ini terdiri atas dua variabel, yaitu ukuran perusahaan dan leverage. Kemungkinan faktor ukuran perusahaan dan leverage menjadi faktor yang ikut berpengaruh terhadap return saham yang perlu mendapat perhatian secara khusus (dikontrol). a) Ukuran perusahaan (size) Ukuran perusahaan merupakan variabel kontrol yang diberi simbol Size. Variabel ini diukur dari natural log total asset perusahaan. Secara matematis variabel size diformulasikan sebagai berikut (Chen dan Steiner, dalam Meythi, 2006): = b) Leverage Leverage merupakan proksi dari struktur modal perusahaan (Hilmi dan Ali, 2008). Dalam penelitian ini, rasio yang digunakan untuk mengukur leverage yakni Debt Equity Ratio / DER. Secara matematis Debt Equity Ratio diformulasikan sebagai berikut (Brigham dan Houston, 2010): =

Model Analisis Untuk menguji hipotesis pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure terhadap return saham secara parsial maupun simultan digunakan model analisis regresi. Persamaan regresi dalam penelitian ini adalah: Model 1 (tanpa variabel kontrol) = + + Model 2 (dengan variabel kontrol) = + + + + Keterangan : : Cummulative Abnormal Return (CAR) : Konstanta , , : Koefisien regresi : Corporate Social Responsibility Disclosure : Size diukur dengan LnTotalAsset : Leverage diukur dengan Debt Equity Ratio : Standar error (penyimpangan yang mungkin terjadi, yaitu sebesar 0,05) 4. Hasil Pengujian Dan Pembahasan Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat) atau

106

keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Dari hasil pola plot, terlihat jelas bahwa sebaran data mendekati garis diagonal atau garis normal sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa data berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas ini digunakan untuk regresi linier berganda pada model II pada penelitian ini. Berdasarkan hasil uji multikolinearitas, diketahui bahwa nilai VIF (Varian Inflation Factor) dari semua variabel adalah bernilai < 5, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi adanya multikolinearitas. Uji Autokorelasi Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi ini digunakan untuk regresi linier sederhana pada model I dan untuk regresi linier berganda pada model II pada penelitian ini. Berdasarkan hasil uji autokorelasi, diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,740 yang berarti -2 < DW < 2 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami autokorelasi pada persamaan regresi yang diuji. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas ini digunakan untuk regresi linier sederhana pada model I dan untuk regresi linier berganda pada model II pada penelitian ini. Berdasarkan uji heterokedastisitas, terlihat bahwa sebaran data tidak menunjukkan adanya pengumpulan atau membentuk pola tertentu, artinya data bebas dari heterokedastisitas pada persamaan regresi yang diuji. Analisis Model I Regresi model pertama merupakan regresi linear sederhana dimana perumusannya adalah Model I (tanpa variabel kontrol) = + +

Koefisien Determinasi Model I (R2) Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) (Supranto, J. 2000). Semakin besar nilai adjusted R2, maka semakin kuat kemampuan model regresi yang diperoleh untuk menerangkan kondisi yang sebenarnya. Dari hasil analisis dengan SPSS versi 17.0, disajikan sebagai berikut : Tabel 4.6 Hasil Analisis Koefisien Determinasi Model I
Model Summary
b

Model 1

R .073
a

R Square .005

Adjusted R Square .001

Sumber : Data diolah

Berdasarkan analisis yang dilakukan, model I memiliki adjusted R2 , yakni sebesar 0,001. Nilai adjusted R2 sebesar 0,001 menunjukkan bahwa penelitian ini tidak dapat menjelaskan hubungan antara variabel CSR dengan CAR sebesar 0,1%. Sisanya sebesar 99,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

107

Uji F Model I Uji F digunakan untuk menguji hipotesis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersama-sama (simultan) dengan level of significant () sebesar 5%. Kriteria pengambilan keputusannya adalah jika probabilitas > 0,05, maka H0 tidak berhasil ditolak, jika probabilitas < 0,05, maka H0 berhasil ditolak. Hasil analisis terhadap uji F, disajikan sebagai berikut : Tabel 4.7 Hasil Analisis terhadap Uji F Model I
ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares df .005 .878 .882 1 175 176
b

Mean Square .005 .005

F .935

Sig. .335
a

a. Predictors: (Constant), CSRI b. Dependent Variable: CAR

Sumber : Data diolah

Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa variabel pengungkapan Corporate Social Responsibillity memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,335. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat signifikansi bernilai lebih dari 0,05. Temuan ini menunjukkan hipotesis nol (H0) tidak berhasil ditolak yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Uji t Model I Uji t digunakan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh dari variabel bebas (X) terhadap varibel terikat (Y) secara individu (parsial) dengan level of significant = 5%. Kriteria pengambilan keputusannya adalah jika probabilitas > 0,05, maka H0 tidak berhasil ditolak. jika probabilitas < 0,05, maka H0 berhasil ditolak. Hasil analisis terhadap uji t, disajikan sebagai berikut : Tabel 4.8 Hasil Analisis terhadap Uji t Model I
Coefficients Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) CSRI B -.006 .034 Std. Error .012 .035 .073
a

Standardized Coefficients Beta t -.500 .967 Sig. .618 .335

a. Dependent Variable: CAR

Sumber : Data diolah

Hasil pengujian tabel 4.8 tersebut, bahwa variabel pengungkapan Corporate Social Responsibillity memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,335. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat signifikansi bernilai lebih dari 0,05. Temuan ini menunjukkan hipotesis nol (H0) tidak berhasil ditolak yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI).

108

Analisis Model II Model regresi yang kedua yaitu regresi linear berganda dengan tiga variabel yaitu pengungkapan CSR (X1), ukuran perusahaan/size (X2) dan leverage (X3) terhadap variabel terikat (Y) yaitu CAR. Perumusan model II (dengan variabel kontrol) : = + + + +

Koefisien Determinasi Berganda (R2) Model II Koefisien determinasi berganda digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh varibel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) (Supranto, J. 2000). Dari hasil analisis dengan SPSS, disajikan sebagai berikut : Tabel 4.9 Hasil Analisis Koefisien Determinasi Berganda Model II
Model Summary
b

Model 1

R .101
a

R Square .010

Adjusted R Square .007

a. Predictors: (Constant), Leverage, Size, CSRI b. Dependent Variable: CAR

Sumber : Data diolah

Berdasarkan analisis yang dilakukan, nilai adjusted R2, yakni sebesar 0,007. Besaran ini menunjukkan pada efektifitas garis regresi yang diperoleh dalam menjelaskan variasi pada variabel dependen. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan variabel independen yakni pengungkapan Corporate Social Responsibility, size, dan leverage untuk menjelaskan variasi pada CAR adalah sebesar 0,7%. Selebihnya, yaitu 99,3% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam model regresi yang diperoleh. Uji F Model II Menurut Ghozali (2001), uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimaksudkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (=5%). Tabel 4.10 Hasil Analisis terhadap Uji F Model II
ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares .009 .873 .882 df 3 173 176
b

Mean Square .003 .005

F .589

Sig. .623
a

a. Predictors: (Constant), Leverage, Size, CSRI b. Dependent Variable: CAR

Sumber : Data diolah

109

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa hasil uji F pada model II pada penelitian ini sebesar 0,589 yang menunjukkan bahwa 0,623 > 0,05 sehingga H0 tidak berhasil ditolak. Sehingga semua variabel bebas (independen), yaitu CSRI (X1), size (X2) dan leverage (X3) secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (dependen), yaitu CAR (Y). Uji t Model II Uji t digunakan untuk melihat signifikansi pengaruh dari variabel bebas CSRI (X1), size (X2), leverage (X3), secara parsial (individu) terhadap varibel terikat CAR (Y) dengan level of significant = 5%. Hasil analisis terhadap uji t, disajikan sebagai berikut : Tabel 4.11 Hasil Analisis terhadap Uji t Model II
Coefficients Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) CSRI Size Leverage B -.005 .038 .001 -.005 Std. Error .018 .036 .003 .007 .083 .032 -.062
a

Standardized Coefficients Beta t -.250 1.069 .404 -.816 Sig. .803 .286 .686 .415

a. Dependent Variable: CAR

Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.11 diperoleh persamaan: = 0,005 + 0,038 + 0,001 0,005 Berdasarkan hasil analisis uji t diatas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Variabel CSRI (X1) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,286, hal ini menunjukkan bahwa tingkat signifikansi bernilai lebih besar dari 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa H0 tidak berhasil ditolak, yang menyatakan pengungkapan Corporate Social Responsibility secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap CAR (Y). 2. Variabel size (X2) sebagai variabel kontrol memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,686, hal ini menunjukkan bahwa tingkat signifikansi bernilai lebih besar dari 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel size (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap CAR (Y). 3. Variabel leverage (X3) sebagai variabel kontrol memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,415, hal ini menunjukkan bahwa tingkat signifikansi bernilai lebih besar dari 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel leverage (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap CAR (Y). Pembahasan Berdasarkan statistik deskriptif diatas, rata-rata index CSRI dari 177 sampel perusahaan adalah 0,3210. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sayekti dan Wondabio (2007) yang menggunakan 108 sampel perusahaan yang terdiri dari berbagai industri yang terdaftar di BEJ pada tahun 2005 yakni sebesar 0,201751. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak atau meningkatnya perusahaan yang mengungkapkan tanggung jawab sosial dalam laporan tahunannya dan kemungkinan merupakan pengaruh ditetapkannya penerapan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007

110

tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : Kep-134/BI/2006. Pada model I (tanpa memasukkan variabel kontrol), hasil pengujian regresi memiliki nilai adjusted R2 sebesar 0,001. Nilai adjusted R2 sebesar 0,001 menunjukkan bahwa penelitian ini tidak dapat menjelaskan hubungan antara variabel CSR dengan CAR sebesar 0,1%. Sisanya sebesar 99,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Pada model II (dengan memasukkan variabel kontrol), hasil pengujian regresi memiliki nilai adjusted R2 sebesar 0,007. Nilai adjusted R2 sebesar 0,007 menunjukkan bahwa penelitian ini tidak dapat menjelaskan hubungan antara variabel CSR dengan CAR menggunakan variabel kontrol size dan leverage sebesar 0,7%. Sisanya sebesar 99,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Dengan nilai adjusted R2 model II yang lebih tinggi dari model I, dapat disimpulkan bahwa model II (dengan memasukkan variabel kontrol) lebih baik dari model I (tanpa memasukkan variabel kontrol). Ini berarti bahwa pengikutsertaan variabel kontrol dapat meningkatkan explainability model atau explainability variabel independen terhadap perilaku variabel dependen (CAR). Pada model I, hasil uji t menunjukkan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibillity memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 yakni 0,335 (0,335>0,05). Temuan ini berhasil menunjukkan hipotesis nol (H0) tidak berhasil ditolak yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada model II, hasil uji t menunjukkan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibillity, size, leverage secara parsial memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility serta size dan leverage dalam laporan tahunan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil uji F pada model II menunjukkan hasil 0,623, hal ini membuktikan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibillity, size, leverage secara simultan memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility, size dan leverage dalam laporan tahunan secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Lutfi (2001), Indah (2001), dan Titisari (2010) yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Penelitian Gelb dan Zarowin (dalam Widiastuti, 2002) menyatakan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dalam laporan tahunan tidak membuat harga saham lebih informatif, karena ungkapan dalam laporan tahunan tidak cukup memberikan informasi tentang prospek perusahaan di masa mendatang. Hasil tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zuhroh dan Sukmawati (2003), Anwar (2010) yang menyatakan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial dalam laporan tahunan perusahaan terbukti berpengaruh terhadap volume perdagangan saham dan harga saham. Hasil pengujian pada model II, size sebagai variabel kontrol senilai 0,013 yang menunjukkan bahwa size berkorelasi positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini tidak sesuai dengan prediksi dan tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniati dan Suhairi (2006). Penelitian ini juga menggunakan leverage sebagai variabel kontrol pada model II. Hasil pengujian pada model II yaitu senilai -0,059 yang menunjukkan bahwa leverage berkorelasi negatif dan

111

tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini sesuai dengan prediksi dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Affandi (2001) dan Tuansikal (2001). 4. Kesimpulan, Keterbatasan Dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan sampel sebanyak 177 perusahaan pada periode 2008-2010. Hasil pengujian pada model I (tanpa varaiabel kontrol) pada penelitian ini membuktikan bahwa variabel pengungkapan Corporate Social Responsibility tidak berhasil menolak H0 yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil pengujian pada model II (dengan menggunakan variabel kontrol) dalam penelitian ini, membuktikan bahwa variabel pengungkapan Corporate Social Responsibility tidak berhasil menolak H0 yang menyatakan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility, size, dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan high profile yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa investor kurang merespon terhadap pengungkapan aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan dalam memutuskan untuk berinvestasi. Fenomena mengenai Corporate Social Responsibility merupakan hal yang relatif baru di Indonesia sehingga kebanyakan investor memiliki persepsi yang rendah terhadap hal tersebut. Selain itu, kebanyakan investor berorientasi pada kinerja perusahaan jangka pendek, sedangkan Corporate Social Responsibility dianggap berpengaruh pada kinerja perusahaan jangka menengah dan panjang. Kemungkinan lain disebabkan karena kualitas pengungkapan Corporate Social Responsibility tidak mudah untuk diukur yang pada umumnya perusahaan melakukan pengungkapan Corporate Social Responsibility hanya sebagai bagian dari cara promosi dan menghindari untuk memberikan informasi yang relevan. Keterbatasan Terdapat beberapa kelemahan atau keterbatasan pada penelitian ini, yaitu : 1. Penyusunan daftar pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan juga dalam menentukan indeks pengungkapan cenderung bersifat subjektif dan memungkinkan terlewatnya item-item tertentu yang seharusnya diungkap oleh perusahaan. 2. Terdapat beragam tema pengungkapan CSR yang disusun oleh perusahaan, misalnya lingkungan, kepedulian sosial, atau pengembangan wilayah. Dengan demikian, sulit membedakan kualitas pengungkapan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. 3. Banyak variabel lain yang juga mungkin mempengaruhi return saham. Saran untuk Peneliti Berikutnya Terdapat beberapa saran pada penelitian ini, yaitu : 1. Penyempurnaan item pengungkapan tanggung jawab sosial. Pengukuran indeks CSR harus terus mengikuti perkembangan yang ada dari berbagai badan internasional yang terkait dengan CSR (seperti Global Reporting Invitiatives) dan disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. 2. Memperpanjang periode penelitian dan memperhatikan pemilihan window events yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.

112

3. Mmemasukkan variabel kontrol lain (seperti growth, beta, kapitalisasi pasar) yang ikut mempengaruhi hasil penelitian terhadap variabel dependen.

DAFTAR PUSTAKA Literatur: Anggraini, Fr. R. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan: Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang terdaftar Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi IX. Brigham, E.F. dan Joel F. Houston. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat Daniati, N. dan Suhairi. 2006. Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan Arus Kas, Laba Kotor, Dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return Saham : Survey Pada Industri Textile Dan Automotive Yang Terdaftar Di BEJ. Simposium Nasional Akuntansi IX. Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Hidayati, Naila N. dan Sri Murni. 2009. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Earnings Response Coefficient Pada Perusahaan High Profile. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 11 No. 1: 1-18. Hilmi, Utari. dan Syaiful Ali. 2008. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan : Studi Empiris Pada PerusahaanPerusahaan Yang Terdaftar Di BEJ Periode 2004-2006. Simposium Nasional Akuntansi XI. Indriantoro, Nur. dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis: Untuk Akutansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. Jogiyanto. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Tiga. Yogyakarta: BPFE Junaedi, Dedi. 2005. Dampak Tingkat Pengungkapan Informasi Perusahaan Terhadap Volume Perdagangan dan Return Saham: Penelitian Empiris terhadap PerusahaanPerusahaan yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 2 No. 2 : 1-28. Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-36/PM/2003 tentang Kewajiban Penyampaian Keuangan Berkala Meythi. 2006. Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Harga Saham Dengan Persistensi Laba Sebagai Variabel Intervening. Simposium Nasional Akuntansi IX. Sayekti, Yosefa. dan Wondabio, L.S. 2007. Pengaruh CSR Disclosure terhadap Earning Response Coefficient: Suatu Studi Empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi X. Sembiring, Eddy Rismanda. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII. Supranto, J. 2000. Statistik: Teori dan Aplikasi. Jilid 1. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.

113

Titisari, K.H., Suwardi, E., dan Setiawan, D. 2010. Corporate Social Responsibility (CSR) dan Kinerja Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XIII. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Utomo, Muhammad Muslim. 2000. Praktek Pengungkapan Sosial pada Laporan Tahunan Perusahaan di Indonesia : Studi Perbandingan antara PerusahaanPerusahaan High Profile dan Low Profile. Simposium Nasional Akuntansi III. Widiastuti, Harjanti. 2002. Pengaruh Luas Pengungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan terhadap Earning Response Coefficient (ERC). Simposium Nasional Akuntansi V. Winarno, Wahyu Agus. 2007. Corporate Social Responsibility: Pengungkapan Biaya Lingkungan. Jurnal Akuntansi Universitas Jember. Vol. 5 No. 1 : 72-86. Zuhroh, D. dan Sukmawati, I.P. 2003. Analisis Pengaruh Luas Pengungkapan Sosial Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor. Simposium Nasional Akuntansi VI. Internet : Affandi, Iwan. 2001. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Return Saham Pada Industri Makanan dan Minuman di BEJ. http://eprints.undip.ac.id /10522/1/2003MAK2094.pdf. [21 November 2011] Anwar, S. Haerani, S. dan Pagalung, G. 2010. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan dan Harga Saham.http://www.pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/38fa14eea5a5bca117944fce7e9d761 .pdf [7 November 2011]. Dube, A. Kaplan, E. Dan Suresh Naidu. 2009. Coups, Corporatoins, and Classified Information. http://economics.ucr.edu/fall09/Dube%20paper% 20for%2010%2030%2009.pdf. [9 Januari 2012] Farook, Sayd dan Roman Lanis. 2005. Banking On Islam? Determinants of Corporate Social Responsibility Disclosure. http://islamiccenter.kau.edu.sa /arabic/Ahdath/Con06/_pdf/Vol1/22%20Sayd%20Zubair%20Farook%20Banking%2 0on%20Islam.pdf . [20 November 2011] Indah, U. dan Rachmawati. 2001. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Asing, Dan Umur Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. http://si.uns.ac.id/profil/uploadpublikasi/Jurnal/196804011993032 001artikel%20indah_CSR%20REVISIYKPN.doc. [21 November 2011]

114

Lampiran 1 Checklist Item Pengungkapan Informasi Corporate Social Reponsibility (Sembiring, 2005) KATEGORI (Total 78) LINGKUNGAN 1. Pengendalian polusi kegiatan operasi; pengeluaran riset & pengembangan untuk pengurangan polusi 2. Pernyataan yg menunjukkan bahwa operasi perusahaan tidak mengakibatkan polusi atau memenuhi ketentuan hukum dan peraturan polusi 3. Pernyataan yg menunjukkan bahwa polusi operasi telah atau akan dikurangi 4. Pencegahan atau perbaikan kerusakan lingkungan akibat pengolahan sumber alam, misalnya reklamasi daratan atau reboisasi 5. Konservasi sumber alam, misalnya mendaur ulang kaca, besi , minyak, air dan kertas. 6. Penggunaan material daur ulang 7. Menerima penghargaan berkaitan dengan program lingkungan yang dibuat perusahaan 8. Merancang fasilitas yang harmonis dengan lingkungan 9. Kontribusi dalam seni yang bertujuan untuk memperindah lingkungan 10.Kontribusi dalam pemugaran bangungan sejarah 11.Pengolahan limbah 12.Mempelajari dampak lingkungan untuk memonitor dampak lingkungan perusahaan 13.Perlindungan lingkungan hidup ENERGI 1. Menggunakan energi secara lebih efisien dalam kegiatan operasi 2. Memanfaatkan barang bekas untuk memproduksi energi 3. Penghematan energi sebagai hasil produk daur ulang 4. Membahas upaya perusahaan dalam mengurangi konsumi energi 5. Peningkatan efisiensi energi dari produk 6. Riset yang mengarah pada peningkatan efisiensi energi dari produk 7. Kebijakan energi perusahaan KESEHATAN DAN KESELAMATAN TENAGA KERJA 1. Mengurangi polusi, iritasi, atau risik dalam lingkungan kerja 2. Mempromosikan keselamatan tenaga kerja dan kesehatan fisik atau mental 3. Statistik kecelakaan kerja 4. Mentaati peraturan standar kesehatan dan keselamatan kerja 5. Menerima penghargaan berkaitan dengan keselamatan kerja 6. Menetapkan suatu komite keselamatan kerja 7. Melaksanakan riset untuk meningkatkan keselamatan kerja 8. Pelayanan kesehatan tenaga kerja LAIN-LAIN TENAGA KERJA 1. Perekrutan atau memanfaatkan tenaga kerja wanita/orang cacat 2. Persentase/jumlah tenaga kerja wanita/orang cacat dalam tingkat managerial 3. Tujuan penggunaan tenaga kerja wanita/orang cacat dalam pekerjaan 4. Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat 5. Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu di tempat kerja

115

6. Memberi bantuan keuangan pada tenaga kerja dalam bidang pendidikan 7. Mendirikan suatu pusat pelatihan tenaga kerja 8. Bantuan atau bimbingan untuk tenaga kerja yang dalam proses mengundurkan diri atau yang telah membuat kesalahan 9. Perencanaan kepemilikan rumah karyawan 10.Fasilitas untuk aktivitas rekreasi 11.Presentase gaji untuk pensiun 12.Kebijakan penggajian dalam perusahaan 13.Jumlah tenaga kerja dalam perusahaan 14.Tingkatan managerial yang ada 15.Disposisi staff dimana staff ditempatkan 16.Jumlah staff, masa kerja dan kelompok usia mereka 17.Statistik tenaga kerja, misal: penjualan per tenaga kerja 18.Kualifikasi tenaga kerja yang direkrut 19.Rencana kepemilikan saham oleh tenaga kerja 20.Rencana pembagian keuntungan lain 21.Informasi hub manajemen dengan tenaga kerja dlm meningkatkan kepuasan & motivasi kerja 22.Informasi stabilitas pekerjaan tenaga kerja & masa depan perusahaan 23.Laporan tenaga kerja yang terpisah 24.Hubungan perusahaan dengan serikat buruh 25.Gangguan dan aksi tenaga kerja 26.Informasi bagaimana aksi tenaga kerja dinegosiasikan 27.Kondisi kerja secara umum 28.Re-organisasi perusahaan yang mempengaruhi tenaga kerja 29.Statistik perputaran tenaga kerja PRODUK 1. Pengembangan produk perusahaan, termasuk pengemasannya 2. Gambaran pengeluaran riset dan pengembangan produk 3. Informasi proyek riset perusahaan untuk memperbaiki produk 4. Produk memenuhi standar keselamatan 5. Membuat produk lebih aman untuk konsumen 6. Melaksanakan riset atas tingkat keselamatan produk perusahaan 7. Peningkatan kebersihan/kesehatan dalam pengolahan dan penyiapan produk 8. Informasi atas keselamatan produk perusahaan 9. Informasi mutu produk yg dicerminkan dalam penerimaan penghargaan 10.Informasi yg dapat diverifikasi bahwa mutu produk telah meningkat (misalnya ISO 9000) KETERLIBATAN MASYARAKAT 1. Sumbangan tunai, produk, pelayanan untuk mendukung aktivitas masyarakat, pendidikan & seni 2. Tenaga kerja paruh waktu dari mahasiswa/pelajar 3. Sebagai sponsor untuk proyek kesehatan masyarakat 4. Membantu riset medis 5. Sponsor untuk konferensi pendidikan, seminar atau pameran seni 6. Membiayai program beasiswa 7. Membuka fasilitas perusahaan untuk masyarakat 8. Sponsor kampanye nasional

116

9. Mendukung pengembangan industri lokal UMUM 1. Tujuan/kebijakan perusahaan secara umum berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat 2. Informasi berhubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan selain yang disebutkan di masyarakat atas TOTAL ITEM

117

PEMETAAN RISET AKUNTANSI BERBASIS PENGUJIAN VARIABEL MOTIVASI Ratih Rediyaningrum Putriaji1 Drs. Imam Masud, MM, Ak2 Abstract Development of a discipline can not be separated from the role that research results are publicized in the literature and academic journals. A scientific discipline will not grow will die even if there is no research on the development of these disciplines. In the disciplines of accounting, accounting research has a very important role. First, accounting research role is to give effect to the accounting practices, so that accounting practices are not just from the road but it is based on research which is then developed in the theory. The theory that there would then be subject to empirical testing done in a sustainable manner. Thus, accounting research is not an end but it is the process for building theory and practice. The second role of accounting research is to improve understanding of environmental accounting to accounting practices are not understood as something taken for granted. Keywords : Motivation in Accounting for the development of accounting research.

1.

Latar Belakang Pengembangan suatu disiplin ilmu tidak dapat dilepaskan dari peran riset yang hasilnya terpublikasikan dalam literatur dan jurnal akademik. Riset akuntansi bukanlah tujuan akhir akan tetapi adalah proses untuk membangun teori dan praktik. Peran riset akuntansi yang kedua adalah untuk memperbaiki pemahaman terhadap lingkungan akuntansi agar praktik akuntansi tidak dipahami sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Riset akuntansi dalam hal ini berperan untuk memahami fenomena akuntansi dan memperbaiki praktik akuntansi yang terjadi. Akuntansi merupakan suatu system untuk menghasilkan informasi keuangan yang digunakan oleh para pemakainya dalam pengambilan keputusan. Begitu pula dengan kemajuan dalam teknologi computer akuntasi yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat. Tetapi seberapa canggihpun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah merupakan tujuan akhir. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk untuk memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Baridwan, Zaki (2000) menyatakan hasil survey yang dilakukan di Amerika Serikat tentang motivasi menjelaskan bahwa apa yang diinginkan oleh pemberi kerja tidak hanya keterampilan teknik saja melainkan dibutuhkan
1 2

Universitas Jember Universitas Jember

118

kemampuan dasar untuk belajar dalam pekerjaan yang bersangkutan. Di antaranya, adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri, kerjasama tim dan keinginan memberi kontribusi terhadap perusahaan. Seseorang yang memiliki motivasi yang tinggi akan mampu mengendalikan emosinya sehingga dapat menghasilkan optimalisasi pada fungsi kerjanya. Dalam audit, riset akuntansi telah berkembang, tujuan literatur lebih difokuskan pada atribut motivasi riset spesifik seperti proses kognitif atau riset keperilakuan pada satu topik khusus seperti audit sebagai tinjauan analitis. Sebagai bidang riset yang sering memberi kontribusi bermakna, riset akuntansi keperilakuan ini dapat membentukkerangka dasar serta arah riset di masa yang akan datang. Banyaknya volume riset atas akuntansikeperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik akanmemberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut ini: a) Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang ingin diperkenalkan. b) Membantu dan mengidentifikasi kesenjangan riset. c) Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui subbidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan perpajakan, sehingga para peneliti dapat mempelajarinya walaupun subbidang lain. Penelitian akuntansi berbasis motivasi diartikan pencarian atas sesuatu secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalahakuntansi yang berkaitan dengan motivasi dapat dipecahkan (problem solving). Pada dasarnya penelitian akuntansi berbasis motivasi ini merupakan suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu (fakta dan prinsip-prinsip) yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking), dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut penelitian ini penting dilakukan, karena penelitian akuntansi berbasisis motivasi merupakan suatu metode untuk menentukan kebenaran, sehingga penelitian akuntansi berbasis motivasi sebagai metode berfikir secara kritis. Tulisan ini akan membahas motivasi dalam riset akuntnasi dalam berbagai pendekatan filosofi penelitian dan pengaruhnya terhadap perkembangan riset akuntansi di Indonesia. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan penelitian ini adalah bagaimana motivasi dalam riset akuntansi untuk pengembangan akuntansi. 3. Landasan Teori Perkembangan Penelitian Akuntansi Perkembangan praktik akuntansi mulai mengalami kemajuan yang besar sejak era Luca Pacioli, yaitu mulai digunakan sistem double entry. Namun sayangnya kemajuan praktik akuntansi tersebut tidak dibarengi dengan kemajuan riset akuntansi. Riset akuntansi baru mulai banyak dilakukan sejak awal abad ke-20 (Baridwan, 2000). Fokus riset akuntansi positif tidak lagi pada pembentukan postulat, akan tetapi pengaruh informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan. Implikasi penting dari

119

perkembangan teori akuntansi positif adalah pesatnya penelitian dalam bidang pasar modal, berkembangnya riset-riset keperilakuan dalam akuntansi, riset akuntansi sumber daya manusia, dan riset akuntansi sosial. Peran organisasi profesi dan pasar modal sangat signifikan dalam memajukan riset-riset akuntansi positif. Studi Kasus Sebagai Strategi Riset Untuk Mengembangkan Akuntansi Seiring dengan semakin berkembangan riset-riset akuntansi, teori akuntansi pun juga ikut mengalami perkembangan yang pesat. Banyak bidang- bidang baru dalam akuntansi yang muncul, misalnya munculnya disiplin ilmu akuntansi keperilakuan, akuntansi lingkungan, akuntansi sumber daya manusia, dan akuntansi sektor publik yang menjadikan akuntansi sebagai alat untuk menciptakan good governance (accounting for governance). Sebagian besar riset akuntansi yang dilakukan sejak era teori akuntansi normatif adalah untuk orientasi dunia bisnis (komersial). Orientasi riset akuntansi adalah untuk memperbaiki kebijakan (policy). Dalam akuntansi, dihapakan terdapat integrasi antara riset yang dilakukan dengan perencanaan dan pembuatan kebijakan. Kebijakan yang diambil hendaknya didasarkan atas hasil riset yang dilakukan (Muhadjir, 2003). Inferensi tingkat satu merupakan generalisasi analitis (analityc generalization), sedangkan inferensi tingkat dua merupakan generalisasi statistic (statistical generalization). Di dalam generalisasi statistik, inferensi dibuat terhadap populasi berdasarkan pada data empiris yang diperoleh mengenai suatu sampel. Studi kasus tunggal (single-case study) dalam hal ini dijadikan sebagai laboratorium yang oleh peneliti digunakan untuk meneliti topik eksperimen baru. Multiple cases dengan demikian merupakan suatu bentuk multiple experiments. Terkait dengan penelitian terhadap New Public Management sebagai suatu perubahan sistematik terhadap manajemen sektor publik, Barzelay menyarankan untuk membangun pemahaman terhadap perubahan dalam manajemen sektor publik tersebut dengan mengikuti riset yang berorientasi studi kasus dalam bentuk explanatory case study yang disertai dengan metode analitis. Desain riset berorientasi kasus yang ditawarkan Barzelay terdiri atas tiga bagian, yaitu: 1) memilih case outcome; 2) memilih explanatory framework/model; dan 3) memilih kasus. Sementara itu, fokus studi adalah pada kandungan kebijakan (policy content) dan proses pembuatan kebijakan (Barzelay, 2001). Studi kasus memiliki beberapa bentuk, yaitu: 1) explanatory case study, 2) exploratory case study, dan 3) desriptive case study. Beberapa menambahkan adanya narrative case study. Studi kasus juga dapat dikategorikan sebagai grounded research karena riset studi kasus membangun teori dari data empiris yang diperoleh secara mendalam dan dalam waktu yang panjang. Hubungan antara Motivasi dan Kemampuan Kerja dengan Kinerja Motivasi merupakan suatu cara yang dipakai manajer guna mengarahkan pada bawannya agar mereka bersedia mengikutinya. Menurut Handoko (2005: 251), motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memelihara perilaku manusia. Motivasi ini merupakan subyek yang penting, karena manajer perlu memahami orang-orang berperilaku tertentu agar dapat mempengaruhinya untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan organisasi.

120

4. Metodologi Penelitian Jenis Penelitian Menggunakan metode penelitian studi pustaka, yaitu dengan membaca dan Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau contoh adalah mengkaji penelitian motivasi dalam pemahaman akuntansi. Tujuan dari survei literatur adalah untuk memperoleh informasi yang kita butuhkan dalam proses penelitian yang kita lakukan sesuai dengan motivasi dalam riset akuntnasi. Selain itu dengan adanya survei literatur maka kita dapat meyakinkan pembaca bahwa apa yang sedang kita teliti merupakan sesuatu yang penting. Dalam penelitian ini diharapkan mendapatkan peta tentang domain penelitian motivasi riset tersebut yang akan dilaksanakan. Peta domain ini akan diperoleh pengetahuan tentang riset-riset yang dilakukan oleh peneliti lain dalam kaitan penelitian motivasi. Pengetahuan ini tidak hanya berupa pemahaman terhadap riset-riset tersebut, tetapi juga saling-kait yang terbentuk antar riset-riset tadi. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, yaitu suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Dalam metode deskriptif ini membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Karenanya metode ini juga dinamakan studi kasus (status study). Dalam penelitian ini menggunakan metode pemetaan dalam SNA berdasarkan tahun 2002 s/d 2004 yang di jelaskan dengan diagram alur pada gambar berikut:
STUDI PUSTAKA

HASIL PENELITIAN PUBLIKASI SNA

1. Penelitian Tahun 2002 2004 2. Obyek Penelitian 3. Metode Penelitian 4. Hasil Penelitian

Fenomena Pengembangan Akuntansi


Gambar : Diagram alur Metode Pemetaan

Seluruh kajian hasil penelitian kemudian disimpulkan sebagai alternatif kebijakan untuk mengatasi permasalahan pemahaman motivasi dalam riset

121

akuntansi. Analisis Penelitian Kajian Pustaka Studi pustaka (desk study) merupakan suatu metode pengumpulan data berupa laporan-laporan studi terdahulu, paper atau makalah, serta data sekunder yang dibutuhkan dalam mendisain riset, serta menganalisis hasil studi. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1) Variabel Motivasi adalah suatu tingkatan sejauh mana individu mempunyai minat, sikap (terhadap diri sendiri dan terhadap aspek-aspek situasi pekerjaan), dan kebutuhannya (rasa aman, sosial, dan pendapatan) kedalam situasi kerja pemahaman motivasi dalam riset akuntasi. 2) Variabel Kemampuan Pemahaman Akuntansi adalah suatu tingkatan sejauhmana sanggup memecahkan kesulitan yang dihadapi dalam bekerja dan sebaliknya di bidang akuntansi. 3) Variabel Kinerja Akuntansi adalah kemampuan menyelesaikan tugas pekerjaan akuntansi yang sesuai dengan tupoksi dikantor tersebut. Kinerja kerja karyawan dibidang akuntansi merupakan merupakan kumpulan total dari kerja/aktivitas atau kegiatan yang merupakan tugas akuntansi dan ciri individu karyawan guna mencapai sasaran / target yang ditentukan pimpinan instansi. 5. Hasil Penelitian Dan Pembahasan Berdasarkan hasil beberapa penelitian maka dapat di jelaskan sebagai berikut konseptual riset tentang motivasi sebagai berikut : Riset Akuntansi Suatu Proses Penelitian akuntansi merupakan suatu proses yang panjang, dimana setiap penelitian akuntansi bertujuan untuk menemukan sesuatu pengetahuan baru atau untuk menjawab suatu pertanyaan dalam mencari pemecahan permasalahan yang dihadapi. Manusia tidak pernah bebas dari generalisasi, karena tujuan pokok penelitian tentang akuntansi atau suatu pemikiran yang sistematik adalah menemukan generalisasi baru yang lebih berguna. Ada generalisasi, teori dan konsep yang lebih baik daripada yang dipakai sekarang, dan tugas pelaku penelitian akuntansi adalah mengukuhkan dan mensyahkannya. Penelitian akuntansi perlu ditinjau kembali sepanjang waktu dalam bentuk mengdadakan penelitian akuntnasi pada masalah yang sama tetapi dikembangkan secara terus menerus sepanjang proses penelitian akuntnasi. Hal ini berarti setiap pelaku penelitian akuntansi harus mampu mengambil pelajaran dari setiap pengalaman penelitian akuntansi sebelumnya untuk lebih memperbaiki pelaksanaan penelitian akuntansi selanjutnya. Proses penelitian akuntnasi harus diadakan revies atau peninjauan kembali secara terus menerus terhadap situasi dan perkembangan penelitian akuntnasi ditunjukkan gambar 4.3.
Awal Penelitian Akuntansi

Rivies sepanjang waktu Gambar Proses Penelitian Akuntansi

Laporan Penelitian Akuntansi Selesai

Pelaku penelitian akuntansi harus setiap saat untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian dalam hipotesis utama, data yang dikumpulkan, metode analisis dan bahkan ruang lingkup studi secara keseluruhan. Pelaku penelitian akuntansi harus bertanya pada diri sendiri: (a) apakah yang menjadi masalah utama yang sedang diteliti; (b) pertanyaan utama apa yang sedang akan dijawab; dan (c) hipotesis utama apa yang sedang diuji. Keingin tahun manusia diwujudkan dalam bagimana mendapatkan suatu pengetahuan yang baru. Orang dapat memperoleh pengetahuan baru melalui beberapa cara: (a) wahyu, cara yang diyakini ada ketika para nabi mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa; (b) otoritas, cara yang di gunakan orang ketika ia mempercayai kebenarannya adanya sesuatu karena mendapatkannya dari dari pihak-pihak yang mempunyai kompetensi; (c) intuisi, cara yang digunakan oleh orang ketika ia mempercayai kebenaran pengetahuan karena pengetahuan itu muncul dari hatinya; (d) falsifikasi, cara yang digunakan orang ketika ia mendapatkan pengetahuan atas dasar logika, tanpa harus memperoleh bukti-bukti dialam yang nyata; dan (e) metode ilmiah, adalah cara ketika orang mendapatkan pengetahuan dengan cara-cara yang disepakati oleh pengamat-pengamat mashab tertentu yang ada dalam sejarah perkembangan metode ilmiah. Secara keseluruhan hasil penelitian ini tidak mendukung hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial dengan variabelk intervening keadilan distributive, keadilan prosedur, komitmen terhadap tujuan dan motivasi karena hubungan tidak langsung yang memediasi antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinarja manajerial menunjukan nilai rendah dan sangat lemah. Factor budaya juga ikut andil dalam hal ini karena penurunan anggaran yang terjadi tidak bisa ditolak oleh manajer karena factor sungkan dan menganggap segala sesuatu yang sudah ditetapkan oleh atasan adalah baik tetapi kemusian direspon secara negative. Temuan empiris penelitian ini perlu skritis untuk penelitian berikutnya karena dalam kondisi downsizing dan terjadi pemotongan jumlah anggaran departemen, partisipasi penyusunan anggaran untuk meningkatkan kinerja manajerial dalam penelitian ini tidak dapat diterima sehingga variabel intervening yang digunakan dalam penelitian ini juga tidak terbukti. Hasil analisis data dalam penelitian ini juga membuktikan bahwa komitmen organisasional dan komitmen profesional berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi. Untuk penelitian tersebut belum ada penelitian lainnya. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa motivasi mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap kepuasan kerja. Temuan ini mendukung hasil penelitian Rahardja (2000). Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa komitmen organisasional dan komitmen profesional mempunyai pengaruh secara tidak langsung melalui variabel intervening motivasi terhadap kepuasan kerja. Untuk penelitian tersebut belum ada penelitian sebelumnya. Berdasarkan pada hasil pengolahan data diketahui bahwa pengaruh langsung variabel komitmen organisasional dan komitmen profesional lebih besar dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung dengan melalui variabel intervening motivasi, maka pengaruh variabel intervening dalam penelitian ini diabaikan, sehingga hasil penelitian ini tetap konsisten dengan penelitian terdahulu, yaitu Aranya et al. (1982). Meneliti Akuntansi Berbasis Motivasi Penting Pengertian penelitian akuntansi diterjemahkan dari Research Accounting
122

123

yaitu re artinya kembali dan to research artinya mencari kembali di bidang akuntansi. Penelitian akuntansi merupakan suatu metode studi melalui penyelidikan yang harti-hati dan sempurna terhadap suatu masalah akuntansi, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Penelitian akuntansi berbasis motivasi dapat pula diartikan pencarian atas sesuatu secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-akuntansi yang berkaitan dengan motivasi dapat dipecahkan (problem solving). Pada dasarnya penelitian akuntansi adalah suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu (fakta dan prinsip-prinsip) yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking), dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut, penelitian akuntansi merupakan suatu metode untuk menentukan kebenaran, sehingga penelitian akuntansi sebagai metode berfikir secara kritis. Penelitian akuntansi adalah suatu proses penyelidikan atau pencarian berkaitan dengan perilaku manusia dipandang dari sudut system dan prosedur akuntansi yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking), dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pelaku teknis akuntansi yang umumnya pelaksana system merupakan fenomena tidak dapat begitu saja dimanipulir serta jauh lebih komplek dari penelitian Laboratorium, kimia misalnya. Kekhususan obyek akuntansi adalah sebagai berikut : 1) Kejujuran dan keterbukaan manusia tidak dapat dijamin. Pelaksanaan teknis misalnya, responden dapat menyembunyikan fakta, dapat berbohong atau menyesuaikan jawaban dengan apa yang dipandangnya harapan dari peneliti dan sebagainya. 2) Tindakan dan sikap manusia tidak dapat disederhanakan menjadi kegiatan sebab akibat, seperti gejala alam yang diatur oleh hukum-hukum alam. 3) Berbeda dengan variabel pada ilmu alam yang berciri konstan, dalam Penelitian akuntansi variabel tidak berciri konstan, tetapi menurut kondisi lingkungan kerja, waktu dan tempat tinggal. Pengembangan Ilmu Pengetahuan Akuntansi Pada waktu ini kita sedang menyaksikan perkembangan ilmu pengetahuan akuntnasi dan teknologi yang sangat dinamis. Perkembangan ilmu pengetahuan itu bertujuan untuk mengungkapkan kaedah-kaedah baru mengenai fenomena alam, sosial atau kemanusiaan serta penerapannya untuk meningkatkan ksejahteraan umat manusia. Ilmu pengetahuan akuntansi dan teknologi merupakan masukan yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Ilmu pengetahuan akuntansi berawal dari rasa ingin tahun mengenai suatu fenomena yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa ingin tahu tersebut merangsang kita untuk mengetahui lebih mendalam mengenai apa, mengapa atau bagaimana fenomena yang kita temukan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan akuntansi barawal dari adanya fenomena, baik fenomena itu terjadi di alam, masyarakat atau diri manusia. Fenomena dapat pula timbul dari gagasan yang berupa praduga (konjektur), tanpa adanya kejadian yang konkrit. Fenomena itu dapat pula diciptakan melalui percobaan dalam lingkungan yang terkendali. Selanjutnya fenomena itu diamati dan dinalar untuk mencari hubungan sebab-

124

akibat (kausalitas) antara variabel dalam fenomena tersebut. Proses pengamatan dan penalaran tersebut dilakukan secara sistematis dengan cara yang disebut metode ilmiah. Jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang hubungan sebab-akibat suatu fenomena yang disusun secara sistematis dari pengamatan, penalaran atau percobaan. Kaedah ilmu pengetahuan akuntansi tersebut dapat diterapkan untuk memecahkan suatu masalah. Teknologi adalah ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan akuntansi. Dalam konteks tulisan ini, teknologi dipandang sebagai cabang ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu pengetahuan akuntansi dimulai dengan menetapkan postulat-postulat, yaitu asumsi yang dianggap benar tanpa harus dibuktikan. Selanjutnya disusun logika, yaitu aturan berpikir yang berlaku dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Logika tersebut diterapkan dengan sistematis untuk membangun tesis (pendapat) atau teori tentang hubungan sebab-akibat sebagai hasil postulat dan logika dalam sistem berpikir tersebut diatas. Dalam membangun ilmu pengetahuan akuntansi, kebenaran hubungan sebab-akibat dijabarkan dari fakta-fakta yang diamati dari fenomena yang diteliti. Dan kebenaran tersebut harus bersifat universal dan dapat diuji kembali. Cara pengembangan ilmu pengetahuan akuntansi seperti diuraikan di atas disebut metode ilmiah akuntansi. Dengan demikian ilmu pengetahuan akuntansi dan metode ilmiah akuntansi mempunyai sifat: (a) logis; (b) obyektif; (c) sistematis; (d) andal; (e) dirancang; dan (f) akumulatif.. Logis atau masuk akal, yaitu sesuai dengan logika atau aturan berpikir yang ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Definisi, aturan, inferensi induktif, probabilitas, kalkulus, dll. merupakan bentuk logika yang menjadi landasan ilmu pengetahuan. Logika dalam ilmu pengetahuan adalah definitif. Obyektif atau sesuai dengan fakta. Fakta adalah informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena. Obyektif dalam ilmu pengetahuan akuntansi berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran fenomena. Sistematis yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal. Kedewasaan ilmu pengetahuan akuntansi dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam teori, hukum, prinsip dan metodenya. Konsistensi internal dapat berubah dengan adanya penemuan-penemuan baru di bidang akuntnasi. Sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan kontradiksi pada azas teori ilmu pengetahuan akuntansi. Andal yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut persyaratan yang ditentukan dengan hasil yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan akuntnasi bersifat umum, terbuka dan universal. Dirancang, yaitu pengetahuan akuntansi tidak berkembang dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan akuntansi dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah. Rancangan ini akan menentukan mutu keluaran ilmu pengetahuan akuntansi. Akumulatif. yaitu Ilmu pengetahuan akuntansi merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dll. yang terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti dengan kaedah yang benar. Kebenaran ilmu akuntansi bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.

125

Benang Merah Hasil Penelitian Riset Akuntansi Berbasis Motivasi Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Hal ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi dan kinerja. Sehingga semakin besar motivasi yang diberikan, maka kinerjanya juga akan meningkat. Penelitian akuntansi merupakan suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu (fakta dan prinsip-prinsip) yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking), dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut, penelitian akuntansi merupakan suatu metode untuk menentukan kebenaran, sehingga penelitian akuntansi sebagai metode berfikir secara kritis. Motivasi perilaku akuntansi bertujuan untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi perilaku manusia sampai pada generalisasi yang ditetapkan mengenai perilaku manusia yang didukung oleh empiris yang dikumpulkan secara impersonal melalui prosedur yang terbuka, baik untuk peninjauan maupun replikasi dan dapat diverifikasi oleh ilmuwan lainnya yang tertarik. Mengkaji perkembangan riset akuntansi keperilakuan (behavioral accounting research) mengelompokkan perkembangan hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang riset akuntansi keperilakuan menjadi enam fokus penelitian, antara lain akuntansi dalan konteks organisasi (accounting in an organizational context), penganggaran (budgeting), pemikiran psikologi (early psychology thoughts), pemrosesan informasi manusia (human information proccesing), kontingensi teori (contingency teory), dan konferensi dan peristiwa (conferences and events). 5. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian maka kesimpulan dalam penelitian ini sebagai berikut: Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Hal ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi dan kinerja. Sehingga semakin besar motivasi yang diberikan, maka kinerjanya juga akan meningkat. Penelitian akuntansi berbasis motivasi merupakan suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu (fakta dan prinsip-prinsip) yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking) berdasarkan motivasi,dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut, penelitian akuntansi berbasis motivasi tersebut merupakan suatu metode pengembangan ilmu akuntansi untuk menentukan kebenaran, sehingga penelitian akuntansi berbasisi motivasi sebagai metode berfikir secara kritis. Keterbatasan Keterbatasan dalam penelitian ini adalah: 1) Kajian dalam penelitian ini hanya terbatas pada hasil penelitian tahun 2004 s/d 2009. 2) Metode kajian dan analisis mengggunakan deskriptif sehingga peneliti tidak menganalisis data statistik hasil penelitiab tersebut. Saran Berdasarkan kesimpulan penelitian ini maka saran yang disampaikan

126

sebagai berikut : 1) Dalam usaha mencapai penelitian riset akuntansi berbasis pengujian variabel motivasi yang optimal, maka proses penyelidikan atau pencarian berkaitan dengan perilaku manusia dipandang dari sudut system dan prosedur akuntansi hendaknya dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis (critikal thinking), dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. 2) Pelaku teknis akuntansi yang umumnya pelaksana system hendaknya harus memenuhi kreteria : a) Kejujuran dan keterbukaan. Pelaksanaan teknis misalnya, responden diharapkan tidak menyembunyikan fakta/berbohong/ tidak menyesuaikan jawaban dengan apa yang dipandangnya harapan dari peneliti dan sebagainya. b) Tindakan dan sikap manusia dapat disederhanakan menjadi kegiatan sebab akibat, seperti gejala alam yang diatur oleh hukum - hukum alam. c) Berbeda dengan variabel pada ilmu alam yang berciri konstan, dalam Penelitian akuntansi variabel tidak berciri konstan, tetapi menurut kondisi lingkungan kerja, waktu dan tempat tinggal dapat dibuat ukuran tertentu. DAFTAR PUSTAKA Adi, P. H. 2007. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja Pembangunan dan Pendapatan Asli Daerah (Studi pada Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali). Simposium Nasional Akuntansi IX. Padang. Brata, A. G. 2004. Komposisi Pnerimaan Sektor Publik dan Perttumbuhan Ekonomi Regional. Lembaga Penelitian Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Helfert, E. 2000. Teknikanalisa Keuangan. Jakarta: Erlangga. Gaspersz, V. dan Foenay, E. 2003. Kinerja Pendapatan Ekonomi Rakyat Dan Produktivitas Tenaga Kerja Di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ekonomi Rakyat. Th. II - No. 8 - Nopember 2003. Halim, A. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat. Haryati, S. 2006. Perbandingan Kinerja Keuangan Daerah Sebelum dan Sesudah Kebijakan Otonomi Daerah Kabupaten Sleman. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Indriantoro, N & Bambang S. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE Universitas Gadjah Mada. Kuncoro, M. 1997. Ekonomi Pembangunan : Teori, masalah-masalah dan kebijakan. Yogyakarta : UPP YKPN. Kuncoro, M. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perekonomian, Strategi dan Peluang. Penerbit Erlangga

127

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi. Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: Andi Ibrahim, M. J. 1991. Prospek Otonomi Daerah. Semarang: Dahara Prize. Munawir, S. 1995. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Nataluddin. 2001. Potensi dana perimbangan pada pemerintahan daerah di Propinsi Jambi, Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta : UPP YKPN. Nirzawan. 2001, Tinjauan umum terhadap sistem pengelolaan Keuangan Daerah di Bengkulu Utara, Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta : UPP YKPN. Samiadji, B. T. 2007. Metoda Menilai Daerah tertinggal [On line] http://www.mailarchive.com/referensi@yahoogroups.com/msg01026.html Setiaji, W. & Adi, P. H. 2007. Peta Kemampuan Keuangan Daerah Sesudah Otonomi Daerah : Apakah Mengalami Pergeseran?. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar. Suparmoko. 2002. Ekonomi Publik. Yogyakarta: Andi. Republik Indonesia. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. Republik Indonesia. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. Republik Indonesia. 2000. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang RepublikIndonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Republik Indonesia. 2004. Undang-UndangRipublik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Widjaja. 1998. Percontohan Otonomi Daerah di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Widodo. 2001. Analisa Rasio Keuangan pada APBD Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP YKPN. Boyolali, Manajemen

Wulandari, A. 2001. Kemampuan Keuangan Daerah. Jurnal Kebijakan dan Adminislrasi Publik Vol 5 No. 2 November Yuliati. 2001. Analisis Kemampuan Keuangan Daerah dalam menghadapai Otonomi Daerah, Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP YKPN.