You are on page 1of 15

Kata Pengatar

Pertama-tama saya ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah membimbing saya dari awal hingga akhir dalam pembuatan makalah ini. Dan tak lupa saya mengucapkan terimakasih terhadap dosen yang telah membimbing saya dalam pembuatan makalah ini, serta kepada teman-teman saya yang telah mendukung saya dalam pembuatan makalah ini. Semoga apa yang telah saya buat dalam makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan dapat menambah pengetahuannya lagi. Saya menyadari bahwa makalah yang saya buat ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya meminta Saudara-saudara sekalian untuk meminta kritik dan saran dari Anda. Akhir kata saya mengucakan terimakasih atas perhatiannya dan selamat membaca.

Jakarta, 22 Oktober 2010

Levina Septembera

Pendahuluan
Latar Belakang Masalah Perilaku adalah hasil pengalaman dan proses interaksi dengan lingkungannya, yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, sikap, tindakan sehingga diperoleh keadaan seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. (Lewit) Perilaku adalah faktor terbesar kedua setelah faktor lngkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat .(Blum, 1974) Perlakuan seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang, dan berdasarkan penelitian yang serta literatur, didapatkan bahwa perilaku masyarakat yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat yang terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan. Perilaku (manusia) adalah semua tindakan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat lebih mengetahui dan mengenal tentang perilaku sehat, teori perubahan perilaku (Prekontemplasi, Kontemplasi, Persiapan, Tindakan, Pemeliharaan) dan juga pola hidup yang sehat.

ISI
A. Perilaku Dalam kehidupan masyarakat ada yang dinamakan pola perilaku. Pola perilaku adalah suatu cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus di ikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Pengertian Perilaku adalah hasil pengalaman dan proses interaksi dengan lingkungannya, yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, sikap, tindakan sehingga diperoleh keadaan seimbang antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. (Lewit) Perilaku adalah faktor terbesar kedua setelah faktor lngkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat .(Blum, 1974) Perlakuan seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang, dan berdasarkan penelitian yang serta literatur, didapatkan bahwa perilaku masyarakat yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat yang terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan. Pengertian perilaku dilihat dari Segi Biologis Perilaku (manusia) adalah semua tindakan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Pengertian perilaku dilihat dari Segi Psikologis Menurut Skiner (1938), perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Pengertian itu dikenal dengan teori S-O-R (stimulus-organisme-respons). Skinner membedakan respons menjadi dua jenis, yaitu respondent response (reflexive) dan Operant response atau instrumental response. 1. Respondent response atau reflexive Respondent response merupakan tanggapan yang ditimbulkan oleh rangsangan stimulus tertentu. Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation, yang bisa menimbulkan respons atau tanggapan yang relatif tetap, contohnya : ketika seseorang berkeinginan untuk makan karena melihat makanan yang lezat, dan cahaya yang menyilaukan menyebabkan mata tertutup. Respons ini juga merupakan

respons emosi atau perilaku emosional, contohnya : ketika kita mendengar musibah, kita akan merasa sedih atau ketika kita lulus ujian kita akan merasa gembira. Tetapi kemungkinan dari respon ini sangatlah kecil. 2. Operant response atau instrumental rseponse Operant response merupakan tanggapan yang berjalan dengan timbul dan berkembang, kemudian diikuti dengan stimulus tertentu atau perangsang tertentu. Sebagai contoh : seorang mahasiswa belajar dengan tekun (respon tanggungjawab) sehingga mahasiswa tersebut mendapatkan nilai yang bagus (stimulus baru), dan menghasilkan ia mendapatkan beasiswa dan ia akan tambah giat dalam belajar. Sebagian besar perilaku manusia adalah operant response. Oleh karena itu untuk membentuk jenis respons atau perilaku perlu diciptakan suatu kondisi yang disebut operant conditioning, yaitu dengan menggunakan urutan-urutan komponen penguat berupa hadiah. Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning menurut Skiner (Notoatmodjo, 2003;Sunaryo;2004) antara lain sebagai berikut. Langkah pertama: melakukan pengenalan terhadap sesuatu penguat, berupa hadiah atau reward. Langkah kedua: melakukan analisis untuk mengindentifikasi bagian-bagian kecil pembentuk perilaku yang diinginkan, selanjutnya disusun dalam urutan yang tepat menuju perilaku yang diinginkan. Langkah ketiga: menggunakan bagian-bagian kecil perilaku, yaitu sebagai berikut. Bagian-bagian perilaku disusun secara urut dan dipakai sebagai tujuan sementara. Mengenal penguat atau hadiah untuk masing-masing bagian Membentuk perilaku dengan bagian-bagian yang telah tersusun tersebut. Jika bagian perilaku pertama telah dilakukan, hadiah akan diberikan sehingga tindakan tersebut sering dilakukan Akhirnya akan dibentuk perilaku kedua dan seterusnya sampai terbentuk perilaku yang diharapkan. Pembagian perilaku dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus Perilaku tertutup(convert behavior) Respon seseorang terhadap stimulus sifatnya masih tertutup. Respon ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut (misalnya mengetahui bahaya rokok, tetapi ia masih merokok, mahasiswa mengatahui pentingnya belajar untuk kepentingan kuliahnya). 2. Perilaku terbuka(overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus bersifat terbuka dalam bentuk tindakan nyata, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain misalnya membaca buku pelajaran membaca buku pelajaran, rajin belajar, berhenti merokok, dan selalu memeriksa kehamilan bagi ibu hamil.

Perilaku kesehatan Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Masing-masing unsur dalam perilaku kesehatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut Unsur-unsur dalam perilaku kesehatan 1. Perilaku terhadap sakit dan penyakit Perilaku terhadap sakit dan penyakit merupakan respon internal dan eksternal seseorang dalam menanggapi rasa sakit dan penyakit baik dalam bentuk respon tertutup (sikap, pengetahuan) maupun dalam bentuk respon terbuka (tindakan nyata). 2. Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan Perilaku seseorang untuk memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan. Sebagai contoh, melakukan senam pagi setiap hari jumat bagi pegawai negeri, kebiasaan sarapan pagi, makan makanan bergizi seimbang, dan melakukan meditasi. 3. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior) Segala tindakan yang dilakukan seseorang agar dirinya terhindar dari penyakit, misalnya imunisasi pada balita, melakukan 3M, dan pendekatan spiritual untuk mencegah seks bebas pada remaja 4. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan, mulai dari mengobati sendiri sampai mencari bantuan ahli. Contohya, individu pergi kepelayanan kesahatan saat sakit, membeli obat dari warung atau toko obat, berobat kepelayanan traisional. 5. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan Perilaku ini merupakan respon individu terhadap sistim pelayanan kesehatan, perilaku terhadap petugas, dan respon terhadap pemberian obat-obatan. Respon ini terwujud dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, dan penggunaan fasilitas, sikap, terhadap petugas, dan obat-obatan 6. Perilaku terhadap makanan Perilaku ini meliputi pengetahuan, sikap dan praktik terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (gizi, vitamin) dan pengolahan makanan. Dari beberapa literatur, perilaku terhadap makanan menjadi bagian dari kesehatan lingkungan. 7. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan Perilaku ini merupakan upaya seseorang merespon lingkungan sebagai determinan agar tidak mempengaruhi kesehatannya misalnya, bagaimana mengelola pembuangan tinja, air minum,tempat pembuangan sampah, pembuangan libah, rumah sehat dan pembersihan sarang-sarang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sehat Perilaku sehat dimotivasi oleh faktor-faktor seperti berikut : 1. Persepsi tentang kerentanan : Derajat risiko yang dirasakan seseorang terhadap masalah kesehatan 2. Persepsi tentang keparahan penyakit : Tingkat kepercayaan seseorang bahwa konsekuensi masalah kesehatan yang akan menjadi semakin parah 3. Persepsi tentang manfaat suatu tindakan : Hasil positif yang dipercaya seseorang sebagai hasil dari tindakan 4. Persepsi tentang hambatan : Hasil negatif yang dipercayai sebagai hasil dari tindakan 5. Petunjuk untuk bertindak : Peristiwa eksternal yang memotivasi seseorang untuk bertindak 6. Etifikasi diri : Kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam melakukan tindakan.

Klasifikasi hidup sehat Menurut Becker (1979) seperti dikutip Notoatmodjo (2003), perilaku yang berhubungan dengan kesehatan diklasifisikan sebagai berikut : 1. Perilaku hidup sehat Perilaku hidup sehat merupakan perilaku yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Seperti : tidak merokok, minum-minuman keras, istirahat cukup. 2. Perilaku sakit Perilaku sakit adalah respons dari seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsi akit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan usaha-usaha untuk mencegah penyakit. 3. Perilaku peran sakit Perilaku peran sakit adalah segala aktivitas individu yang menderita sakit untuk memperoleh kesembuhan. Dari segi sosiologis, orang sakit mempunyai peran yang meliputi hak dan keawjiban orang sakit. Perilaku peran sakit meliputi hal-hal berikut : A. Tindakan untuk memperoleh kesembuhan. B. Mengenal atau mengetahui fasilitas sarana pelayanan atau penyembuhan penyakit yang layak. C. Mengetahui hak (memperoleh perawatan) dan kewajiban orang sakit (memberi penjelasan

kepada dokter.

Domain Perilaku Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rasangan dari luar organisme (orang), tetapi dalam memberikan respon sangat bergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama, tetapi respon setiap orang akan berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dibedakan menjadi 2 yaitu eksternal dan internal. Determinan faktor internal merupakan karakteristik dari orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan contohnya ras, sifat fisik, sifat kepribadian(pemalu, pemarah, dan penakut), bakat bawaan, tingkat kecerdasan dan kelamin. Determinan atau faktor eksternal seperti lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Benyamin Bloon (1908) membagi perilaku manusia dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Sementara itu menurut Ki Hajar Dewantara, perilaku manusia terdiri atas Cipta (kognisi), rasa (emosi) dan karsa (konasi). Urutan pembentukan perilaku baru khususnya pada orang dewasa diawali dengan domain kognitif. Individu terlebih dahulu mengetahui stimulus untuk menimbulkan pengetahuan, selanjutnya timbul domain afektif dalam bentuk sikap terhadap objek yang diketahuinya. Pada akhirnya, setelah objek yang diketahuimya. Pada akhirnya, setelah objek diketahui dan disadari sepenuhnya, timbul respons berupa tindakan atau keterampilan (domain psikomotor). Tetapi pada kenyataannya perilaku baru yang terbentuk tidak selalu mengikuti urutan tersebut. Tindakan individu tidak harus didasari pengetahuan dan sikap.

Teori Perubahan Perilaku Kerangka perubahan memiliki tahapan, dan dibutuhkan teori-teori perubahan sesuai dengan tahapannya, model Prochaska dan DiClemente disebut sebagai model

Transtheoretical(kadang disingkat menjadi tahapan perubahan). Seseorang bisa memasuki rangkaian tahap ini di tahap manapun, tanpa harus dimulai dari awal.

Tahap-tahapan proses perubahan perilaku : - Tahap Satu : Prakontemplasi : Seseorang tidak berniat melakukan tindakan. Barangkali karena sekedar tidak tahu bahwa ada masalah terkait perbuatannya (Contoh : makan makanan tinggi lemak

dan tidak berolahraga) atau karena tidak tertarik atau terdorong untuk berubah karena berbagai alasan. - Tahap Dua : Kontemplasi : Seseorang berpikir tentang merubah suatu di bulan yang akan datang(perencanaan) dan menimbang pro dan kontra tindakannya tersebut. Proses ini tidak terjadi secara instant atau segera. Dalam tahapan ini, orang belum siap melakukan tindakan. Proses menimbang pro dan kontra ini dikenal sebagai keseimbangan keputusan. Proses inilah yang akan menentukan apakah seseorang akan terus bergerak ke arah perubahan. - Tahap Tiga : Persiapan : Seseorang siap melakukan sesuatu. Mereka berniat untuk bertindak segera dan memiliki rencana atas gagasan tentang apa yang akan mereka perbuat. Dalam tahap ini, program yang menyediakan langkah tindakan adalah tepat(cotoh : diet untuk menurunkan berat badan, Program kebugaran, dll). - Tahap Empat : Tindakan : Seseorang sudah melakukan tindakan dan mengarah ke perubahan. Tetapi tidak semua tindakan dapat diperhitungkan, hanya tindakan-tindakan yang diketahui sebagai langkah untuk mencegah atau mengurangi risiko masalah kesehatan yang dilakukan. - Tahap Lima : Pemeliharaan : Sudah terjadi perubahan yang bermakna/signifikan pada perilaku seseorang dalam hal risiko kesehatan dan sekarang diarahkan pada mempertahankan perubahan perilaku tersebut agar tetap berjalan dan tidak kembali ke kebiasaan yang buruk di masa lampau. Tahap ini membutuhkan tekad dan upaya yang sungguh-sungguh. Contoh : Perokok berat yang sudah berhenti merokok akan menghadapi tantangan untuk menolak untuk menjadi perokok lagi. - Tahap Enam : Terminasi : Seseorang di tahap ini sudah benar-benar telah menyelesaikan proses perubahan perilakunya. Kebiasaan buruknya sudah tidak menjadi bagian dari perilaku orang tersebut sama sekali, seakan-akan mereka tidak pernah mempunyai kebiasaan yang buruk tersebut. Untuk mencapai tahap ini tidaklah mudah, kebanyakan orang hanya sampai ke tahap pemeliharaan. Elemen kunci di tahap ini adalah efektivitas diri. Efektivitas diri adalah keyakinan seseorang bahwa ia mampu melakukan suatu perilaku. Ketika mencapai tahap terminasi, seseorang harus memiliki efektivitas diri.

Faktor-Faktor Perubah Perilaku Individu

Faktor individu : - Kesadaran dan pengetahuan (tentang risiko kesehatan, cara mencegah masalah kesehatan, dsb.) - Karakteristik biofisik (misal : genertik, kerentanan sistemik). - Sikap dan motivasi personal - Tahap-tahap perkembangan - Sosialiasi perilaku/kebiasaan(dari orangtua/keluarga).

Faktor sosial/budaya/kelompok : - Pola hidup kelompok sosial/sebaya - Sikap/kepercayaan kultural (dan implikasinya terhadap kesehatan) - Tingkat dukungan sosial

Faktor sosioekonomi dan struktural : - Kemiskinan - Pendidikan - Akses ke layanan kesehatan dan pencegahan/informasi - Tekanan sosial - Akses terhadap air bersih

Faktor politik : - Kebijakan dan pendanaan untuk program promosi kesehatan - Asuransi kesehatan - Perundang-undangan yang berdampak pada risiko kesehatan(misal : larangan menjual rokok ke anak yang di bawah umur).

Faktor lingkungan : - Adanya risiko di lingkungan - Bencana alam - Kondisi yang memungkinkan penyebaran penyakit menular

Faktor-faktor ini cenderung bekerja bersama-sama

Pola Hidup Sehat

Pola hidup sehat bisa dimulai dan ditinjau dari berbagai aspek : - Pola makan yang seimbang Komposisi zat gizi nya minimal : Karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%, kolestrol <300mg/hari, serat 25g/hari, garam sesuai anjuran untuk orang normal, pemanis secukupnya. - Pengaturan berat badan Penentuan status gizi bisa dilakukan dengan rumus Brocca yaitu : 1. Berat badan idaman 2. Berat badan kurang 3. Berat badan normal 4. Berat badan lebih 5. Gemuk : (Tinggi badan-100) - 10% : <90 % Berat Badan idaman : 90-110 % Berat Badan idaman : 110-120 % Berat Badan idaman : > 120 % Berat Badan idaman

- Cukup asupan kalsium meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, dapat membantu meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Penting adanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium setiap harinya. Adapun dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sementara untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari. - Olahraga beban selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.

Pola Hidup Sehat

Pola hidup sehat memiliki hubungan erat dengan konsep sehat. Sehat adalah kondisi terbebabasnya tubuh dari gangguan pemenuhan kebutuhan dasar seseorang. Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan mengatasi stresor (pusat strees). Sehat juga berarti keadaan di mana seseorang ketika diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda tanda penyakit. Sehat terbagi menjadi 2 bagian yaitu sehat mental dan sehat sosial. Sehat mental adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional seseorang menjadi optimal. Sehat sosial adalah perikehidupan dalam masyarakat sehingga setiap orang memiliki cukup kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupan seseorang sehingga memungkinkan untuk bekerja, beristirahat, dan menikmati hiburan pada waktunya. Banyak keluhan kesehatan yang dikarenakan pola / gaya hidup, yaitu pola pikir, pola makanan dan minuman, pola gerak / aktivitas, olahraga dan pakaian. A. Pikiran Salah satu memiliki pola hidup sehat adalah dengan memiliki pikiran positif. Pikiran positif adalah pikiran yang tidak bertentangan dengan norma norma kehidupan. Dan usahakan mengabaikan apa yang memicu timbulna pikiran negatif. B. Makanan dan minuman Hindari mengkonsumsi makanan dan minuman olahan dan berpengawet, seperti sosis, bakso, dan makanan kaleng. Perbanyak makanan dan minuman sehat serta vitamin. Meminum air putih sangat dianjurkan. Makanan olahan akan menyebabkan terjadinya pengapuran yang melapisi sistem saraf di tubuh kita. C. Kelakuan atau aktivitas Perilaku sangat berpengaruh pada pola hidup sehat. Berperilaku buruk terutama tidak menjaga panca indra akan menyebabkan penyakit. Penyakit penyakit yang timbul atas perilaku buruk biasanya sulit disembuhkan atau membutuhkan waktu lama dalam terapi penyembuhannya, karena selain terapi fisik, orang tersebut juga harus diterapkan mental. D. Olahraga Olahraga dapat berpengaruh pada kerja sistem saraf dan membantu memperbaiki sistem tubuh.

Sebagai contohnya adalah senam energomik. Senam energomik sangat baik untuk mengaktifkan sistem saraf, sistem pemanas tubuh, dan sistem biolistrik pada tubuh manusia. Dengan senam maka tubuh akan sehat dan bugar. E. Pakaian Sebaiknya tidak menggunakan pakaian pakaian atau hiasan yang menekan titik titik saraf karena akan berpengaruh pada organ tubuh. Misalanya jam yang talinya mencengkeram tangan dengan sangat lama akan membuat kepala terasa pusing, karena aliran darah tidak berjalan dengan lancar akibat cengkraman jam tangan yang begitu kuat.

Daftar Isi
Kata Pengantar Daftar Isi BAB I : Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah B. Tujuan BAB II : Pembahasan Masalah A. Definisi Perilaku Sehat B. Definisi perilaku sehat dilihat dari segi psikologis C. Perilaku kesehatan D. Unsur-unsur dalam perilaku kesehatan E. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sehat F. Klasifikasi hidup sehat G. Domain Perilaku H. Teori perubahan perilaku I.Faktor-faktor perubahan perilaku individu J. Pola Hidup Sehat BAB III : Penutup A. Kesimpulan B. Saran Daftar Pustaka 1 2 3 3 3 4 4 4 5 6 7 7 8 8 10 11 13 13 13 14

Penutup
Kesimpulan

Setelah mempelajari ilmu perubahan tingkah yaitu melewati enam tahap perubahan perilaku, prekontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, pemeliharaan dan terminasi serta pola perilaku hidup sehat dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Maka dari itu, dari hipotesis Perubahan perilaku yang memerlukan tahapan-tahapan adalah benar adanya. Dari mulai, seseorang belum siap untuk memiliki konsekuensi dalam perubahan yang akan orang tersebut jalani, sampai pada proses yang siap, kemudian melakukan tindakan dan akhirnya menjaga agar perubahan itu tetap berlangsung tahan lama. Saran

Lakukanlah pola hidup sehat dan bertekadlah untuk melakukan perubahan-perubahan tingkah laku, agar kelak tingkat kesehatan kita dapa meningkat.

Daftar Pustaka
1. Maulana DJ, Heri. Promosi kesehatan. Konsep perilaku dan perilaku kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. h.185 -6;190-2 2. Edberg M. Buku ajar kesehatan masyarakat : teori sosial dan perilaku.Teori perilaku kesehatan individu. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. h.52-5; 66-7

3. Edberg M. Buku ajar kesehatan masyarakat : teori sosial dan perilaku.Teori sosial, budaya, dan lingkungan(bagian 1). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. h.80

4. Edberg M. Buku ajar kesehatan masyarakat : teori sosial dan perilaku. Pendahuluan: keterkaitan antara kesehatan dan perilaku. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010. h.8

5. Waspadji S, Sukardji K, Octarina M. Pedoman diet diabetes melitus. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. h.6;15

6. Syamsu dan Nasrudin AM. 10 Agustus 2010. Pola hidup sehat. 20 Oktober 2010, dari HYPERLINK "http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/08/10/15031113/polahidup-sehat-" http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/