You are on page 1of 5

Kasus 1.

3 Menyelamatkan Mata Uang Rupiah Dengan Pematokan Pada 9 januari 1998, mata uang rupiah tercatat pada posisi paling rendah pada sejarah senilai rp 11.000 terhadap mata uang dolar setelah sehari sebelumnya menyentuh nilai rp 9.900 (lihat grafik I 3.1). Nilai ini adalah penurunan dari kurs rp 2450 pada bulan juli 1997 sebelum krisis mata uang asia terjadi. Indek saham gabungan jakarta jatuh sebesar 12%. Pada saat berita mengenai kesulitan Indonesia sudah menyebar pasar saham seluruh dunia sedang sekarat, indek Rata-rata Dow Jones jatuh lebih dari 240 poin sampai ke 7560.74. Rupiah membuat ratusan bank dan perusahaan yang telah banyak meminjam ke luar negeri menuju ambang kebangkrutan (secara garis besarnya bisnis di Indonesia diperkirakan menanggung beban utang luar negeri sebesar $ 74Milyar) Presiden Bill Clinton berbicara kepada Presiden Suharto dan meminta dia untuk menerapkan reformasi ekonomi untuk menahan krisi yang semakin dalam dan tidak terkontrol. Pejabat senior pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Suharto telah setuju dengan permintaan Clinton dan berjanji untuk menerapkan secara serius reformasi ekonomi. Seorang anggota senior delegasi ekonomi Amerika didampingi oleh dua orang pejabat IMF dikirim ke Jakarta. Para investor memandang prospek ekonomi Indonesia dapat berubah menjadi lebih baik; dari Juli 1997 ketika krisis Asia bermula sampai ke akhir bulan Januari 1998, indek saham gabungan jakarta telah kehilangan lebih dari 84% dari nilai dalam bentuk dolar (lihat garfik I 3.2). Kejatuhan pasar saham dan Rupiah Indonesia dimulai satu minggu sebelumnya, ketika presiden Suharto mengumumkan rancangan anggaran belanja negara yang mengandung proyeksi yang sangat tidak realistik (pertumbuhan GDP sebesar 4%, inflasi tetap sebesar 9%, dan Rupiah menguat dua kali lebih dari nilai tukar pada saat itu, serta keseimbangan anggaran yang diproyeksikan dengan kenaikan 10% dalam bentuk penerimaan pajak non-migas) dan penentangan pada reformasi struktural yang telah disetujui pada Oktober 1997 dengan harapan penguncuran bantuan penyelamatan IMF sebesar $ 43Milyar. Secara spesifik Suharto menjanjikan untuk menata ulang sistem perbankan, mempertahankan kebijaksanaan ekonomi ketat, menaikan pajak penjualan, mengurangi subsidi sembako, minyak dan listrik, mengakhiri proyek pendanaan pemerintah yang besar, investasi yang merugikan(termasuk proyek desain dan manufakturing mobil nasional dan pesawat terbang nasional), dan melarang monopoli domestik, kartel, dan fasilitas istimewa yang memperkaya anak-anak dan kroni-kroninya. Kebanyakan analis memandang anggaran yang dirancang untuk mempertahankan status quo pada saat Indonesia sudah diambang malapetaka (ekonom swasta meramalkan penurunan dari GDP sebesar 15% dan inflasi mencapai 55%). Para analis itu mengharapkan adanya penghematan, cetak biru untuk penanganan perusahaan dan bank yang kekurangan uang(bangkrut), dan mencabut pembatasan kepemilikan orang asing terhadap properti dan

institusi keuangan. Sebagai gantinya presiden Suharto menjanjikan kenaikan sebesar 32% atas pembelanjaan pemerintah, termasuk kenaikan sebesar Rp 13Triliun dalam bentuk subsidi bahan bakar dan makanan. Anggaran tersebut juga mengalokasikan dana untuk pembangunan pembangkit tenaga listrik di Jawa yang dilaksanakan oleh putri tertua presiden Suharto walaupun sebenarnya Jawa sudah kelebihan pasokan listrik. Sebagai balasan IMF mengancam untuk membatalkan program penalangan sebesar $43Milyar tersebut. Pejabat IMF menyatakan bahwa mereka mengerti keinginan Indonesia untuk meletakkan prioritas pada masalah sosial dan kemanusiaan yang terkandung didalam anggaran tersebut tetapi mereka mengkritik pemerintah yang merancang keingan baik tersebut tanpa mengimplementasikan reformasi ekonomi yang telah disetujui. Dibawah rencana pennyelamatan ekonomi yang dipimpin oleh IMF Indonesai dihaparkan untuk mencapai kelebihan anggaran 1% dari GDP. Bagaimanapun juga pejabat IMF menyatakan bahwa mereka bersedia merunding kembali mengenai target fiskal yang bisa dicapai Indonesai untuk reformasi tersebut. Tekanan yang memuncak membuat Rupiah semakin terjun bebas dan menyebabkan kenaikan harga-harga makanan dan barang-barang( lihat grafik I 3.3). Penduduk mulai menimbun makanan, dan ketakutan akan kerusuhan dan kenaikan pengangguran mulai menyebar. Ancaman ketidakstabilan politik dikhawatirkan oleh negaranegara tetangga. Indonesia, dengan jumlah penduduk 200jt jiwa, adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di seluruh dunia. Bagaimanapun juga distribusi pendapatan tidak berimbang dengan 4% dari populasi adalah etnis cina yang mengontrol hampir 60% dari kekayaan negara. Pada tahun 1960, Indonesia mengalami kerusuhan etnis berdarah yang menyebabkan terjadinya pergantian kekuasaan, ketika Suharto menurunkan pendahulunya presiden Sukarno. Diperkirakan 500ribu orang Indonesia meninggal pada kerusuhan tersebut, dan kebanyakan dari mereka adalah etnis cina. Pertumbuhan ekonomi yang lama setelah itu, dengan pertumbuhan GDP rata-rata sebesar 7% (lihat grafik I 3.4 untuk melihat tingkat pertumbuhan 1980), telah membantu melegakan antagonisme etnis, tapi kecemburuan etnis masih tetap ada. Jadi dapat diramalkan bahwa kerusuhan anti cina adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Kestabilan politik juga diancam oleh rezim yang korup dan berpusat pada satu orang, sehingga menyebabkan dukungan yang tidak terlalu kuat. Rezim presiden Suharto yang mengeksploitasi kekayaan nasional mengambil keuntungan bagi teman dan keluarganya. Mereka mengambil kesempatan sepenuhnya untuk korupsi dan memetik keuntungan dari koneksi mereka. Skala korupsi sangat luar biasa; Suharto dan enam orang anaknya diperkirakan mempunyai kekayaan senilai $ 40 milyar dollar.

Sejak keruntuhan ekonomi Indonesia yang dimulai tahun 1997, Semua tindakan yang diambil Suharto kenyataannya direncanakan untuk melindungi kepentingan keuangan keluarganya dan untuk mempertahankan kekuasaannya daripada untuk kepentingan umum. Dengan pertumbuhan ekonomi nyata sebesar 7 %, kemakmuran dengan mudah dicapai sehingga dapat membuat rakyat diam. Pemerintahan yang menekankan rakyat tunduk dan tak bersuara, nepotisme, dan korupsi ditoleransi sepanjang Suharto mendapat kekayaan. Tetapi saat itu tidak banyak dukungan terhadap Presiden Suharto dan regimnya sewaktu adanya kenaikan hargaharga dan pelaksanaan reformasi yang menyakitkan seperti yang di minta oleh IMF. Lebih jauh lagi, tidak adanya penerus kekuasaan terhadap Suharto yang saat itu berumur 76 tahun dan kesehatannya yang diragukan. Pada 15 Januari 1998, Suharto setuju untuk melaksanakan reformasi ekonomi yang seminggu sebelumnya tidak disetujuinya. Sebagai balasan, IMF setuju untuk mencairkan dana bantuan ke Indonesia. Mata uang Rupiah dan Pasar Modal Jakarta memperlihatkan perbaikan. Segera setelah ikrar tersebut, Indonesia menerapkan kebijaksanaan yang bertentangan, sehingga menyebabkan penjualan Rupiah secara besar-besaran. Bank Central setuju untuk mengganti para deposan di 16 bank yang ditutup, sementara itu pencetakan uang kertas Rupiah (diperkirakan mencapai Rp 100Trilliun) untuk mempertahankan sisa dari 220 bank. Kabar burung juga mulai bersirkulasi bahwa Suharto mulai bermaksud untuk menunjuk Bucharuddin Habibie, menteri Riset dan Teknologi, sebagai wakil presiden dan kemungkinan sebagai penerusnya. Rumor ini membuat Rupiah jatuh pada 22 Januari, dimana $ 1 dihargai sebesar Rp 17.000, sebagian besar dikarenakan Habibie adalah orang dibelakang programprogram pembelanjaan yang kontroversial (seperti Pembangunan Industri Pesawat Terbang Nasional yang mulai dari nol) dimana pembiayaan tersebut disetujui Suharto untuk ditiadakan. Dari sudut IMF yang paling kontroversial, Presiden Suharto mulai melirik ide menstabilkan mata uang dengan pematokan yang akan mengunci nilai Rupiah terhadap Dollar. Ia mendapat ide pematokan mata uang dari Steven Hanke, seorang ekonom Amerika yang menunjukkan negara-negara seperti Hongkong, Argentina, dan negara lain dengan memperlihatkan bahwa sistem tersebut dapat menstabilkan mata uang dan menurunkan tingkat suku bunga yang tinggi. Dengan mematok nilai Rupiah pada level Rp 5500 terhadap USD, sekitar 2 kali dari nilai saat itu, Presiden Suharto dan para penasehatnya yakin bahwa Indonesia dapat memberhentikan penurunan nilai Rupiah, harga-harga barang, dan menumbuhkan kembali kepercayaan Investor lokal dan asing-- semua tampak harus berpaling kepada obat ekonomi IMF yang pahit itu. Seketika setelah ide pematokan mata uang menyebar, nilai Rupiah melonjak naik. Amerika, IMF, dan pejabat ekonomi Uni Eropa, bagaimanapun juga menyatakan bahwa ide pematokan mata uang adalah solusi cepat yang tidak dapat berfungsi dengan baik. Mereka

meyatakan bahwa hal ini hanya akan menyebabkna suku bunga yang tinggi, kesulitan bagi perbankan Indonesia lebih jauh, dan kerusuhan sosial yang bertambah banyak. Sebagai tambahan, banyak pedagang mata uang percaya bahwa sistem pematokan mata uang akan segera gagal, menyebabkan sistem perbankan runtuh bersamanya. Saat itu pemerintah menjamin semua deposito di perbankan, dimana hal tersebut tidak mungkin dilakukan dibawah regim pematokan mata uang (karena negara hanya dapat mencetak Rupiah jika hanya ada pemasukan Dollar). Bank mungkin akan mengalami kesulitan, dimana deposan mengkonversikan semua mata uang Rupiah kedalam Dollar. Kritik juga menyatakan bahwa Suharto juga tertarik kepada pematokan mata uang karena dengan menaikkan nilai Rupiah dapat menyelamatkan kawan-kawannya yang mempunyai banyak utang dalam Dollar. IMF merespon dengan menunda pencairan pinjaman yang telah dijadwalkan pada 15 Maret. Kemudian dijanjikan kemudahan, terutama pada subsidi pada makanan dan listrik. Kebanyakan pengamat merasa bahwa IMF tidak mempunyai pilihan. Diantara kenaikan harga, penggangguran yang besar, dan hasil panen yang sedikit, ada ketakutan yang nyata akan bencana kemanusiaan sosial dan politik. Selama bulan Februari, penjarahan makanan dan kerusuhan meletus disejumlah kota di Indonesia. Kebanyakan kekerasan tersebut ditujukan kepada pemilik toko yang dimiliki oleh etnis cina. Murid-murid sekolah dan pendemo melakukan demonstrasi secara damai terhadap pemerintah. Lebih buruk lagi, Suharto sudah kehilangan pendukung dari kebanyakan kelas menengah di indonesia, yang mentoleril dia dan keluarganya sepanjang pertumbuhan ekonomi dan kenaikan standar hidup berlangsung. Hanya angkatan bersenjata Indonesia yang terlihat berdiri menangani anarkisme ini. Setengah juta tentara berusaha untuk melindungi ancaman terhadap negara. Dalam prakteknya, anggakatan bersenjata selalu menuruti kemauan presiden. Sebagai balasan perwiranya diuntungkan dengan kesempatan untuk korupsi dan mempertahankan kedudukannya. Sepanjang Suharto mendapat kesetiaan dan dukungan dari tentara, dia dapat mempertahankan kekuasaannya. Bagaimanapun juga jika kerusuhan sosial tidak dapat ditangani, para prajurit mungkin berpikir bahwa membunuh ratusan bahkan ribuan penduduk untuk mempertahankan kekuasaan adalah tidak ada gunanya. Pertumpahan darah sedemikian akan membuat tentara tidak populer untuk tahun-tahun kedepan dan mengancam peran tentara didalam kehidupan Indonesia. Kepada presiden Suharto dan beberapa penasehat ekonominya, ide dari pematokan mata uang menjanjikan suatu cara keluar dari krisis tanpa membuat perubahan secara fundamental seperti yang dikehendaki oleh IMF. Mereka memperkirakan bahwa cukupnya cadangan devisa yang akan segera memperbaiki nilai tukar uang ke angka Rp 5500 per Dollar. Kenaikan nilai Rupiah ini akan meyakinkan investor sehingga investasi mereka di Indonesia akan bertahan

nilainya. Ini juga akan mengurangi inflasi yang telah menghancurkan kekuatan pembelian dari rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia dan akan membuat perusahaan-perusahaan dan bank-bank Indonesia untuk menyelesaikan hutang luar negeri mereka (pinjaman luar negeri lebih murah bunganya 5% dari pada pinjaman dari dalam negeri). Seiring berjalannya waktu dengan penerapan pematokan mata uang, kekuatan ekonomi Indonesia secara alamiah akan menguatkan kembali mata uang dengan sendirinya, Indonesia menghasilkan minyak yang diekspor dalam nilai milyaran dollar, dan ekspor barang-barang bernilai hampir 2 kali lipat dari ekspor bidang migas. Skeptis menunjukkan bahwa apa yang merisaukan investor adalah bukan inflasi yang memakan nilai kekayaan mereka, tetapi banyak dari bisnis-bisnis mereka di negara ini dan institusi keuangan akan bangkrut, atau bahkan negara akan mengalami kekacauan seperti tahun 1960. Pada saat yang sama komitmen untuk menggunakan cadangan devisa untuk pematokan mata uang berarti devisa itu tidak bisa dipakai untuk membayar utang dan impor barang. Nilai utang sendiri sangat besar saat itu, mencapai $ 140Milyar yang dipinjam oleh perusahaan swasta maupun perusahaan publik dari hutang di luar negeri, dan kebanyakan mereka adalah pinjaman jangka pendek (sebagai contohnya perusahaan Indonesia memiliki hutang luar negeri sebesar $ 43,2Milyar yang akan jatuh tempo dalam waktu 1tahun). Sebagai tambahan, banyak yang mengkritik bahwa mematok Rupiah senilai Rp 5500 terhadap Dollar akan memberikan para elite-elite yang kaya, termasuk anak-anak dan kawan-kawan bisnis presiden Suharto, kesempatan untuk menukarkan rupiah mereka ke dalam dollar dan menyimpannya ke luar negeri. Cadangan dollar Indonesia akan habis, suku bunga akan meroket dan ekonomi akan semakin memburuk. Para pendukung bagaimanapun juga mengabaikan persoalan ini , menyatakan bahwa akan ada aliran uang yang masuk Indonesia dan tidak akan keluar, karena adanya kepercayaan internasional terhadap mata uang dan negara Indonesia. Pilihan lain juga dipertimbangkan- kemungkinan dengan penerapan pematokan mata uang adalah penghentian(moratorium) pembayaran hutang. Moratorium hutang diperkirakan akan mendukung Rupiah karena debitor tidak perlu lagi membeli Dollar untuk membayar hutang mereka.