You are on page 1of 4

HIDUP KAMI TANPA AYAH DAN ABANG Masa kecil kehidupan ku sangat bahagia,walau tak bergelimpangan harta dan

benda namun keluarga kami tak kekurangan apa yang kami inginkan, sebagai anak yang disayang dalam keluarga, kami 3 bersaudara selalu di manja dan selalu di larang untuk bermain yang melelahkan, namun sebuah tragedy yang tak dapat terhapus dari ingatan dan tak dapat saya bayang kan betapa kejam nya serdadu pemerintahan yang tak kenal belas kasihan dan tak menghiraukan bagai mana nasib anak bangsa tersayang! Pemerintahan yang dipimpin oleh ibu terhormat mega wati soekarno putri telah membawa mala petaka pada keluarga ku dan segenap keluarga yang lain yang terlibat dalam masalah politik Negara dan dengan bangga nya si loreng hijau Indonesia turun berduyun duyun ke bumi seuramoh mekkah dalam melaksanaka tugas dan mencari harta untuk sanak pamili nya di jawa! merampok,merampas,penculikan serta pembakaran rumah rumah penduduk yang tak bersalah dan masih setia pada pemerintahan, menimbulkan dendam yang tak dapat dipikul dengan perasaan. Awal 1998 merupakan sebuah peristiwa yang sangat terharu dan terpesona bagi masyarakat desa dan kepahitan yang sangat menyedihkan bagi segenap masyarakat jawa yang tinggala di bumi iskandar muda,mereka di usir dan diberikan waktu untuk meninggalkan aceh secepat mungkin hal ini bukan hanya terjadi pada satu desa namun menyeluruh pada seluruh naggroe aceh Darussalam. 1998 pemberontakan di mulai banyak dari remaja,pemuda bahkan orang tua ikut serta dalam merebut kemerdekaan aceh pada pemerintahan Indonesia! Itu bertanda pertumpahan darah sudah di mulai di bimi iskandar muda. Orang tua saya saat itu sudah berumur sekitar 45 tahun juga ikut serta dalam merebut kemerdekaan itu,dalam kumpulan GAM (gerakan aceh merdeka) orang tua saya dapat tugas dari HASAN DIKTIROE. Yang disampai pada pertemuan wilayah yang dipimpin oleh tengku ABRAL MUDA yang juga orang kampong saya, dalam pertemuan itu di sampaikan masalah kedudukan aceh dan perangkat perangkat dalam setiap wilayah kekuasaan gerakan aceh merdeka. Jabatan demi jabatan dan peperangan demi pepertangan dilalui oleh orang tua saya dalam pengabdian beliau sebagai penasehat wilayah, penderitaan yang kami lalui sangat pahit dan tak sangkup terbayang kan oleh pikiran dan akal sehat kita. Awal 2002 orang tua saya gugur dalam sebuah pertempuran di sebuah gunung yang tak sangat jauh dari desa saya,subuh jumaat jam 5 pagi orang tua saya sedang melaksanakan sholat subuh di sebuah markas yang di tempati sekitar 12 anggota GAM tiba-tiba tanpa di sangka sangka markas itu di serang oleh

gerombolan loreng kopassus Indonesian saat itu orang tua saya sedang melaksakan sholat subuh,mendengar suara tembakan yang tak karuan orang tua saya tak menghiraukan dan terus menyelesaikan saholat nya kehendak Allah pada rukuq pertama peluru menembus lutut orang yang selama ini yang sangat saya banggakan dan ayah saya turun dari musholla kecil tempat GAM melaksanakan kewajiban nya pada Allah S.AW. dengan kaki yang tak sanggup untuk berdiri lagi orang tua saya merangkak untuk menyelamatkan diri dari musuh musuh yang sedang mengejar nya, rakan rakan satu perjuangan mencoba untuk menolong namun orang tua saya menyuruh yang lain untuk lari dan menyelamatkan diri,suara senjata dari kedua pihak bagaikan suara suara gunung meletus . tanpa di sadari musuh telah mengelilingi orang tua saya namun orang tua saya,namun tanpa rasa takut orang tua saya menarik pedang yang ada dipinggang nya dan membacok seorang dari loreng Indonesia dan loreng TNI tersebut terjatuh sambil melepaskan tembakan ke atas dan entah dari arah mana segelumit peluru menembus dada orang tua saya,sambil mengucapkan kalimah tauhit laillahaillalah ayah saya menghembuskan napas terakhirnya! Kesedihan dipenuhi dengan rasa dendam menyelimuti dalam diri saya dan abang saya,zenazah orang tua saya dikebumikan ditempat kejadian dan menurut beberapa keterangan tengku kampong yang dekat dengan daerah kejadian orang tua saya mati syahit ! namun kami sangat kecewa karna kami tak dapat melihat zenazah orang tua kami,namun kami terkadang merasa bangga karma orang tua kami meninggal dalam keadaan suci! Setelah kenduri aku dan keluarga datang ke markas besar,tempat bersarang nya para anggota gerakan aceh merdeka,terlihat segerombolan pasukan yang sudah berpakaian lengkap seperti orang hendak melakukan perjalanan jauh! Disela - sela tangisan ibu dan aku duduk termenung,seorang diatara yang berbaju loreng itu menghampiri ku dan berbisik ditelingan:ta balah buet kafe nyan namun aku tak menghiraukan apa yang dibisikkan ditelinga ku karna dalam pikiran dan hati ku masih menyimpan sejuta rasa dendam ,hari menjelang sore kami pun sampai dirumah. Setelah selang waktu beberapa hari sebuah berita menggemparkan seluruh masyarakat kami bahkan sampai di beberapa kecamatan lainseorang TNI tewas ditembak saat santai dibelakang pos dendam para angota gam sedikit mereda karna yang meninggal itu adalah komandan kompi dari lima pos yang ada di kecamatan kami. Suatu hari abang dari saya, memilih mengikuti jejak orang tua saya dan bergabung bersama orang orang GAM tersebut,akhirnya pada perpanjangan darurat militer 2 (dua) abang saya tewas dalam suatu pertempuran di gunung yang sangat jauh dan dikebumikan di hutan oleh anggota GAM tersebut! Hari demi hari bulan berganti bulan aku terus mencari berita yang pasti tentang abang,namunusaha ku itu sia sia saja,setiap malam tiba ibu sering menangis dan meratapi nasib abang dan berita tentang abang ku pun belum jelas kami terambang oleh dua kata katamasih ada atau sudah tiadawaktu terus berlalu tiada menghiraukan nasib kita.

15 agustus hari bahagia bagi seluruh rakyat aceh,hari itu seorang berambut panjang mengujabkan salam di depan pintu rumah kami,ibu terkejut dan membalas salam orang itu, dengan kepala menunduk serta isak tangis yang tertahan tahan,ia mengatakan berita yang sebenar nya bahwa abang telah tiada! Tanpa respon ibu langsung pingsan dan setelah sadarkan diri ibu termenung dan di sela sela sunyi nya malam terdengar isak tangis ibu dari sudut ruangan rumah,kesedihan dan kepahitan bukan hanya saja ibu yang rasakan namun aku tak tau apa yang terbaik yg harus aku lakukan untuk orang tua dan adek yang masih kecil!! Dari pertama lebaran aku sudah menemuai para tengku dan ulama yang ada di desa dan kecamatan kami hampir lima orang ustad dan tengku yang aku temui semua bilang gak bisa untuk di ambil kecuali ada lima perkara,tanah longsor,banjir,tanah orang dan dibibir pantai dengan rasa yang kurang puas serta amarah yang mendalam akhir nya aku tinggalkan rumah tengku tersebut. Suatu hari dengan keberanian yang cukup aku memberanikan diri untuk menjumpai seorang ulama yang sangat di kenal di beberapa kecamatan! Aku mendatangi rumah beliau dan aku mulai bercerita dari awal sampai akhir,beliau terdiam sangat lama,terkadang sesekali kepala nya digelengkan namun mulut nya tak terbuka untuk bicara,setelah beberapa lama terdiam beliau membuka pembicaraan, abang mu bisa untuk kalian bawa pulang,tapi dengan beberapa syarat. Setalah mendengar semua syarat kami pun pamit untuk pulang. Ke esokan hari nya kami dan tentara gerakan aceh merdeka berangkat sangat pagi pagi sekali karna perjalanan yang harus kami tempuh sangatlah jauh,bukit bukit yang menjulang kami lewati bersama,aku tak tau daerah itu dimana jangan kan jalan cahaya matahari pun hampir tak kelihatan karna ditutup oleh hutan yang sepertinya masih menyimpan sejuta misteri. Hari menjelang senja sinaran dunia pun tak nampak lagi kami sedang beristirahat disamping kuburan serta melaksanakan semua syarat syarat yang telah diberitaukan sebelum nya,setelah selesai semua syarat syarat itu,kami mulai menggali sebuah keajaiban yang tak terduga karna kuburan sudah begitu lama,tikar yang dimasukkan dalam kuburan sebagai penutup kayu dalam kuburan terlihat belum rapuh dan busuk, kami semua saling melihat dan terdiam sesaat ketika melihat tikar tersebut, setelah itu kami melanjutkan penggalian dan nampaklah kain yang berwarna hitam yang sebelum nya dijadikan sebangai kain kapan,kain itu pun masih seperti semula belum robek dan masih membungkus jenazah dengan begitu rapi,semua alat tubuh nya masih seperti semula dan bulum putus putus bahkan tangan yang terletak didada masih seperti semula,perlahan kami angkat dan memasukkan jenazah tersebut dalam peti yang kami bawakan dari kampong. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang dibelakang dan di depan kami seakan seperti ada orang yang mengawasi perjalana kami,dan beberapa dari anggota GAM tersebut mencoba untuk mengetahui siapa yang sedang mengawasi kami itu,saat kami istirat tanpa sengaja seorang dari mereka menyorotkan senter nya kearah

belakang,dalam kegelapan malam terlihat dua mata yang seperti bercahaya,ternyata mata itu adalah mata harimau yang tadi kami sangka orang yang mengawasi kami,hariamau itu duduk dan memandangi kami seakan iya mengerti kalau kami sedang istirat,namun dari beberapa oaring GAM tersebut mengatakan dan menyuruh kami tenang karna harimau itu tidak mengganggu kami kata nya. Jam sudah menunjukkan 1 malam kami sampai dikampung,ternyata para anggota gerakan aceh merdeka sudah menungu dan mereka langsung membantu kami. Sesuai dengan syarat jenaza tidak boleh dimandikan lagi maka kami langsung kebumikan kembali jenazah tersebut setelah siap semua,kami pun istirahat untuk tidur. Tengah malam yang sunyi suara isak tangis ibu masih terdengar