You are on page 1of 12

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacammacam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, AlQuran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia. Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.}(Q. S. Ibrahim: 33). {Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan

atas kehendak-Nya.}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhlukmakhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat halhal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati. Salah satu kesempurnaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain ialah adanya akal dan nafsu. Dua hal inilah yang membuat manusia dapat berpikir, bertanggung jawab, serta memilih jalan hidup, kelebihan-kelebihan ini seperti yang dijelaskan pada QS Al-Isra 70. Selain itu ada kelebihan lain yang dimiliki oleh manusia sehingga membuat manusia berbeda dari sesama manusia, yaitu hati. Jika hati manusia itu kotor, derajatnya tentu akan sangat rendah di mata allah SWT. Namun sebaliknya jika hatinya bersih dari segala perbuatan yang kotor maka tentu derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT B.Rumusan Masalah Dalam pembahasan ini masalah yang yang dirumuskan adalah sebagai berikut: 1. Siapakah manusia itu? 2. Apa tujuan dari penciptaan manusia? 3. Bagaimana sifat manusia?
4. Bagaimana manusia melakukan tanggung jawabnya sebagai

seorang hamba dan khalifah Allah?


5. Bagaimana membangun harga diri manusia?

C.Tujuan

Yang menjadi tujuan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui apa hakekat dari manusia itu sendiri.

2. Mengerti bagaimana sifat-sifat manusia. 3. Mengerti dan melaksanakan tanggung jawab kita sebagai seorang manusia. 4. Mengerti bagaiman cara membangun harga diri.

BAB II PEMBAHASAN 2
A.Definisi Manusia Dari dulu manusia tidak pernah kehabisan kata membicarakan dirinya sendiri, dari kalangan para ilmuwan, filosof dan ulama telah banyak berbicara dan berdiskusi mengenai manusia, dan menghasilkan berbagai pendapat tentang manusia dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ibnu Sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan sekaligus sebagai makhluk ekonomi. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup dengan baik tanpa ada orang lain, ini sebagai penyempurnaan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya. Sebagai makhluk ekonomi selalu memikirkan dan menyiapkan segala sesuatu untuk masa depannya, terutama mengenai materi sebagai kebutuhan jasmaninya. Manusia adalah makhluk serba dimensi. Dimensi pertama, secara fisik manusia hamper sama dengan hewan, membutuhkan makan, minum, kawin, dan sebagainya. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi. Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan. Dimensi keempat, manusia memiliki naluri untuk menyembah kepada Tuhannya. Dimensi kelima, manusia dikaruniai akal, fikiran, dan kehendak bebas, sehingga ia mampu menciptakan keseimbangan dalam kehidupan. Dimensi keenam, manusia mampu mengenal dirinya, sehingga ia menyadari siapa pencipta dirinya, bagaimana historis

penciptaannya, RI 2003).

mengapa

ia

diciptakan

dan

untuk

apa

ia

diciptakan. (Murteza Mutahhari dalam buku Hamdan Mansoer Dikti Di dalam Alquran, Allah sebagai Dzat pencipta manusia, menyebutkan beberapa istilah yang menunjuk kepada manusia, yaitu: a. Bani Adam (Q.S Al Arof: 31). Manusia disebut Bani Adam, karena dilihat dari aspek historis penciptaannya, yaitu makhluk ciptaan Allah yang merupakan keturunan nabi Adam. b. Basyar (Q.S Al Mukminun: 33). Penyebutan ini sesuai dengan sifat-sifat biologis manusia, yaitu makhluk Allah yang memiliki sifat-sifat fisik, kimia, biologis dalam kehidupannya, yaitu membutuhkan makan, minum, dan sebagainya. c. Insan (Q.S Al Ala: 5). Ini menunjukkan manusia yang memiliki sifat-sifat psikologis dan kecerdasan yaitu makhluk yang berfikir dan mampu menyerap ilmu pengetahuan. 3 d. An Nas (Q.S Al Baqoroh: 21). Dilihat dari aspek sosiologis, manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang mempunyai sifat-sifat dan kecenderungan untuk hidup berkelompok dengan sesamanya, sehingga disebut makhluk sosial. Dengan demikian Alquran telah menjelaskan, bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki aspek-aspek biologis, psikologis, dan sosial. B.Tujuan Penciptaan Manusia Tujuan penciptaan manusia adalah untuk penyembahan (ibadah) kepada penciptanya, yaitu Allah. Pengertian penyembahan kepada Allah itdak boleh diartikan secara sempit, dengan hanya membayangkan aspek ritual yang tercermin dalam sholat saja. Penyembahan berarti kedudukan manusia kepada ajaran Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik yang menyangkut hubungan vertical (manusia dengan Allah) maupun horizontal (manusia dengan manusia dan alam semesta). Ibadah ini harus dilakukan secara tulus dan murni karena Allah semata. Seperti yang telah tertulis dalam QS. Al Bayyinah: 5

Yang artinya Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Ibadah manusia kepada Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang baik dan benar. Oleh karena itu ibadah harus dilakukan secara suka rela, karena Allah tidak membutuhkan sedikitpun melainkan dari manusia makhluk termasuk termasuk ritual-ritual manusia ibadahnya, yang selalu seluruh

membutuhkan rahmat dan karunia Allah, seperti yang terkandung dalam QS. Adz Dzariyat: 56-58

Yang artinya Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 56. Aku tidak menghendaki menghendaki rezki sedikitpun mereka dari mereka dan Aku tidak 57. supaya memberi-Ku makan.

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. 58. C.Sifat-Sifat Manusia Sifat manusia di dunia ini sangatlah beragam, mulai dari ada yang baik, jahat, amanah, penyabar, dan lain-lain. Manuasi amerupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan sebagusbagus bentuk dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Dan kepada manusia, Allah memberikan beberapa perbedaan dibandingkan dengan manusia yang lain. Keberagaman

bentuk manusia ini juga diimbangi dengan keberagaman sifa-sifat yang dimiliki oleh manusia tersebut, karena sifat manusia antara satu manusia dengan manusia yang lain itu berbeda dan tidak ada manusia yang mempunyai sifat yang sama. Orang Islam dalam kehidupan kesehariannya akan selalu bergaul dengan banyak orang, apakah itu dalam ruang lingkup yang besar atau dalam ruang lingkup kecil seperti keluarga, sanak saudara, tetangga, dan lain sebagainya. Sehingga kita harus mempunyai sifat seperti di bawah ini: 1. Tawadhu Sifat tawadhu merupakan sifat merendahkan diri sesama orang Islam. Dan tawadhu merupakan salah satu sifat yang menerangkan bahwa seseorang itu tidak boleh menyombongkan diri kepada orang lain, karena sombong merupakan sifat yang tidak baik dan sifat yang sangat tercela serta dilarang dalam agama Islam. 2. Sopan Santun Sopan santun patut dimiliki orang orang Islam karena sopan santun merupakan cerminan dari pribadi orang Islam yang baik. 3. Akhlakul Karimah Sifat akhlak yang mulia merupakan salah satu contoh teladan dari Nabi Muhammad SAW, dan sifat itu harus ditiru oleh kita selaku ummatnya, karena cerminan bagi seluruh ummat manusia yang ada di dunia. 4. Lemah-Lembut Sifat ini dapat dicerminkan dengan menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda, karena dalam Islam kita semua dianggap sebagai saudara.
Di samping itu manusia juga dianugerahi beberapa karakter buruk yang jika tidak diobati, maka akan merugikan manusia itu sendiri. Beberapa karakter buruk manusia yang disebut dalam Alquran adalah: 1. Mengeluh dan kikir. Hal ini dijelaskan dalam (QS. Al-Maarij: 19) Yang artinya, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." Disadari maupun tidak, mengeluh adalah sifat dasar 5

Nabi

Muhammad

merupakan

manusia

yang

timbul

saat

ia

tertimpa

masalah

atau

dalam

kesempitan. Sedangkan kikir yang dalam bahasa Arab disebut bakhil. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar kita selalu berdoa, Allahumma inni audzubika minal bukhli (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir. 2. Lemah Dalam Alquran, Allah mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu buruk. Seperti dijelaskan pada QS. An Nisaa: 28

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. Menurut Syekh Nawawi Al-Bantany, tafsir lemah dalam Surah An-Nisaa itu adalah lemah dalam melawan hawa nafsu. 3. Zalim dan bodoh. Hal ini dijelaskan pada QS. Al Ahzab: 72 . ... sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah.

4. Tidak adil. Berlaku adil adalah 6 tindakan yang terkadang kurang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab oleh Allah, seperti dalam firman-Nya dalam QS Hud: 85

Dan Syu'aib berkata, Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Betapa pun sulitnya menghindari tabiat yang sudah Allah lekatkan

dalam diri manusia, dengan bertobat dan terus berdoa kepada-Nya, niscaya Allah meminimalkan karakter buruk tersebut dari dalam diri kita. Serta memenuhi hati kita dengan cahaya iman dan hidayah untuk semangat dalam beribadah.

D.

Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah

Allah a) Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba Allah Esensi kata Abdun (hamba) adalah ketaatan dan ketundukan. Ketaatan dan ketundukan yang terwujud dari sikap penghambaan diri, ini merupakan konsekuensi dari manusia sebagai abdun atau hamba Allah. Maka manusia harus menghambakan dirinya hanya kepada Allah dan dilarang menghambakan dirinya kepada selain Allah. Ada tanggung jawab yang dipikul manusia sebagai hamba Allah yaitu memelihara iman dan taqwa, karena ketaatan dan ketundukan itu ada jika ada iman dalam hati. Iman harus dipelihara karena iman itu bersifat fluktuatif, dan taqwa juga harus dipelihara karena taqwa merupakan aplikasi iman. Seseorang harus senantiasa kontinuitas ibadahnya, terutama sholat, agar ia dapat menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran. Oleh karena itu amar makruf nahi mungkar harus dilakukan mulai dari diri sendiri, keluarga, dan selanjutnya kepada orang lain. b) Tanggung Jawab Manusia sebagai Khalifah Allah Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah memegang mandat atau SK dari Allah untuk mewujudkan kemakmuran di bumi (alam). Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengelola,
7

mendayagunakan,

dan

memelihara apa yang ada di ala mini untuk kepentingan hidupnya, seperti yang terkandung dalam QS. Al Arof: 10

Yang artinya, Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Kreatifitas manusia dengan kekhalifahannya merupakan implementasi dari ketaatan dan ketundukan. Ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah yang telah memberikan mandat dan amanat sebagai khalifah. Kekuasaan yang dipegang manusia dibatasi oleh hokum Allah, baik yang tertulis dalam kitab suci (Alquran) maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (Al Kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakilkannya adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan kewenangannya, serta mengkhianati amanat yang diwakilinya. E. Membangun Harga Diri Harga diri (esteem) adalah suatu kondisi di mana seseorang menghormati dirinya sendiri, dengan cara memberi citra baik bagi dirinya, melalui berbagai aktivitas kebajikan. Untuk itu ia menunjukkan perilaku yang halus, lembut, dan tidak kasar, serta lain. Setiap manusia memiliki harga diri, karena Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia. Harga diri seorang manusia tidak boleh dikorbankan, karena hal itu berarti mengabaikan kemuliaan yang dihadiahkan Allah SWT kepada manusia. Harga diri seorang manusia tidak ditentukan oleh kelimpahan harta, tidak ditentukan oleh ketinggian pangkat dan jabatan, tidak ditentukan oleh tingginya peringkat dan gelar (akademis dan sosial), serta tidak ditentukan oleh asal muasal keturunan. Harga diri seorang manusia ditentukan oleh ketaqwaannya kepada Allah SWT. Ketaqwaan seorang manusia kepada Allah SWT mendorongnya beribadah kepada Allah SWT dan
8

berupaya

menunjukkan

pada

khalayak

bahwa

ia

memperhatikan kesetaraan kepentingan dirinya dengan orang

rahmatan lilalamiin (bermanfaat optimal bagi lingkungan atau alam semesta). Adapun seorang muslim dapat disebut mempunyai harga diri jika ia mempunyai: 1. Iman, yaitu dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2. Islam, yaitu agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. 3. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah,

jika dia tidak dapat melihat Allah dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya. 4. Ikhlas, yaitu beribadah semata-mata kepada Allah, tawakal kepada Allah, mencintai Allah dan rasulnya, takut terhadap azab Allah, mengharap rahmat Allah, bertawakal kepadanya dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri kenikmatan yang diberikan kepadanya. 5. Ishlah, yaitu usaha untuk memperbaiki hubungandiantara manusia yang bersengketa (perdamaian). 6. Taqwa, secara umum berarti takut yaitu perkara yang banyak melibatkan amalan hati.

BAB III PENUTUP


A.Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa:
1. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan

bentuk yang sebaik-baiknya. 2. Manusia diciptakan dengan tujuan agar dapat senantiasa beribadah dan bertanggung jawab atas apa yang telah diamanahkan kepada manusia. 3. Sebagai manusia hendaknya memelihara dan mempunyai sifatsifat yang baik dan benar agar dapat hidup dengan tenang dan nyaman. 4. Harga diri perlu dibentuk agar manusia selalu menjaga kemuliaan yang telah diberikan Allah kepada manusia. B.Saran Melalui makalah ini kami menyampaikan: 1. Setelah membaca makalah ini, kami berharap agar pembaca dapat memahami apa tanggung jawab kita sebagai manusia dengan senantiasa bertakwa kepada Allah. 2. Manusia merupakan makhluk sempurna yang telah diciptakan oleh Allah. Sudah sepantasnya kita selalu beribadah kepada-Nya agar selalu bersyukur atas apa yang telah kita peroleh dari-Nya. 3. Kita tidak boleh sombong dengan apa yang telah kita miliki karena hakekatnya semua yang ada di dunia ini adalah hanya milik Allah semata.

DAFTAR 10 PUSTAKA
Tim Dosen PAI ITS, Materi Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum, Jurusan MKU FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 2009

http://radityaariefhidayat.wordpress.com/2012/03/14/hakekatmanusia/ http://www.anneahira.com/sifat-manusia.htm http://www.republika.co.id/berita/duniaislam/hikmah/12/07/11/m6zi4d-empat-karakter-manusia-dalamalquran http://sosiologidakwah.blogspot.com/2011/12/membangun-hargadiri.html http://rinakusumahati.blogspot.com/2011/06/membangun-hargadiri.html http://sosiomotivation.blogspot.com/2011/03/membangun-hargadiri.html

11