You are on page 1of 18

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah Secara umum sangat dipahami bahwa substansi kesehatan dalam tubuh seseorang tergantung pada nilai gizi yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsinya setiap hari (Sukmono, 2009). Menurut Arisman (2009) dalam bukunya mengatakan bahwa keadaan yang abnormal (patologis) akibat kekurangan atau kelebihan zat gizi secara relative maupun absolute satu atau lebih disebut malnutrisi. Ada empat bentuk malnutrisi yakni (1) Under Nutrition ; Kekurangan konsumsi pangan secara relative atau absolute untuk periode tertentu. (2) Specific Defisiency ; kekurangan zat gizi tertentu, misalnya kekurangan vitamin A, yodium, Fe, dan lain-lain. (3) Over Nutrition ; kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu, (4) Imbalance ; karena disproporsi zat gizi. Masalah gizi sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, tetapi pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan pangan. Berdasarkan UNICEF, 1990 bahwa masalah gizi masyarakat dapat melibatkan beberapa factor yakni makanan yang tidak seimbang, pola asuh anak, pendidikan dan pengetahuan, serta masalah krisis ekonomi, politik dan sosial (Arisman, 2009). Berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat, pada tahun 1995 sekitar 35,4 % anak balita di Indonesia menderita KEP (Kekurangan Energi Protein). Pada tahun 1997, prevalensi KEP ini turun menjadi 23,1 %. Pada tahun 1998, prevalensi KEP meningkat kembali menjadi 39,8 % karena krisis moneter. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia, Pudjiadi (1990) dari situasi penelitian Tarwojo, dkk (1978), memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi kurang, sedangkan 3 % atau 0,9 juta anak-anak balita menderita gizi buruk.

Khusus untuk Provinsi Jambi, balita dengan gizi buruk masih menjadi persoalan penting, yang menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007 (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia) prevalensi KEP untuk Provinsi Jambi sedikit meningkat di atas angka nasional yaitu 18,9 % sedangkan untuk angka nasional yaitu 18,4 %. Atau berada dirangking 15 atau sedikit lebih buruk dari rata-rata Nasional. Dari data RISKESDAS tahun 2010 diketahui bahwa prevalensi status gizi balita sangat kurang lebih banyak terdapat di Provinsi Jambi dengan presentase sebesar 11,3 %. Ansar (2010) dalam bukunya menjelaskan bahwa sejak dahulu ikan gabus dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi pasien pasca operasi dan ibu-ibu sehabis melahirkan. Hal ini dikarenakan ikan gabus mengandung protein yang tinggi. Selama periode 1998-2008 tangkapan ikan gabus dari perairan umum mengalami kenaikan rata-rata 2,75% per tahun. Sementara itu, produksi budidaya ikan gabus dikeramba telah mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang hanya sebesar 4.250 ton menjadi sebesar 5.535 ton pada tahun 2008 (Fadli, 2010).Sedangkan untuk tingkat konsumsi ikan gabus segar khususnya di Provinsi Jambi tahun 2008 menempati urutan ke 10 dari 10 besar provinsi lain, yaitu sebesar 0,88 Kg/Kap. Hal ini menunjukan bahwa Provinsi Jambi berpotensi mengkonsumsi ikan gabus lebih banyak lagi di tengah produksi ikan gabus yang meningkat di Indonesia. Jurnal Natur Indonesia III tahun 2001 yang ditulis oleh Tjipto leksono dan Syahrul, menambahkan bahwa kadar protein ikan gabus lebih tinggi daripada ikan lele. Dahlan (2011) mengatakan dalam jurnalnya yang disitasi dari Mohsin dan Ambak, 1983 bahwa ikan gabus (channa striata) merupakan ikan yang mempunyai kandungan albumin yang cukup tinggi. Hasil sitasi dari Mat Jais (1998), Dahlan menambahakan di Malaysia, contohnya, ikan gabus ini popular di gunakan di rumah sakit oleh pasien pasca operasi karena ikan gabus mengandung asam amino essensial.

1.2. Rumusan Masalah 1) Apa yang dimaksud dengan gizi buruk (kwashiorkor) ? 2) Bagaimana mekanisme terjadinya kwashiorkor ? 3) Bagaimana tumbuh kembang dan gizi pada balita ? 4) Apakah ikan gabus itu dan apakah khasiatnya ?

1.3. Tujuan Penulisan Tujuan Umum : Untuk memberikan informasi akan manfaat konsumsi ikan gabus pada balita dalam mencegah timbulnya gizi buruk (kwashiorkor). Tujuan Khusus : 1. Untuk mengetahui definisi gizi buruk (kwashiorkor) 2. Untuk mengethui mekanisme terjadinya kwashiorkor. 3. Untuk mengetahui tumbuh kembang balita 4. Untuk mengetahui fungsi dari ikan gabus, dan peranannya dalam mencegah kwashiorkor 1.4. Manfaat Penulisan Mahasiswa ; menambah pengetahuan dan Bahan Referensi dalam mengkaji mengenai manfaat ikan gabus dalam mencegah kwashiorkor pada balita. Petugas Kesehatan ; bahan masukan dalam upaya promotif mengenai alternative pencegahan kwashiorkor pada balita. 1.5. Metodologi Penelitian Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan adalah Data Sekunder yang diperoleh dari Instansi dan lembaga terkait, yaitu Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan Dinas Perpustakaan Kota Jambi. Metode Analisis Analisis dengan mendeskripsikan data sekunder yang diperoleh dari instansi, literatur, jurnal dan majalah yang terkait dengan penulisan ilmiah ini.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Kwashiorkor adalah sebuah fenomena penyakit di Indonesia bisa diakibatkan karena kekurangan protein kronis pada anak-anak yang sering disebabkan beberapa hal, antara lain anak tidak cukup mendapat makanan bergizi, anak tidak mendapat asuhan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita infeksi penyakit. Fungsi utama Protein adalah sebagai zat pembangun tubuh artinya bahwa setiap sel didalam tubuh tersusun atas protein. Suatu keadaan dimana terjadi kekurangan protein di dalam tubuh menyebabkan kwashiorkor. Ikan Gabus (channa striata) merupakan sumber protein yang sangat tinggi dan juga sebagai sumber Albumin bagi penderita hipoalbumin (rendah albumin) dan luka, baik luka pasca operasi maupun luka bakar, pasca melahirkan, pasca sunat/ khitanan, kecelakaan atau luka kronis lainnya Kadar protein yang dimiliki ikan gabus kering dapat dihitung dari setiap gram bagian yang dapat dimakan (BDD) ikan tersebut. Setiap 100 gram BDD ikan gabus kering mengandung protein sebesar 58 gram, yang berarti lebih tinggi kadar proteinnya daripada jenis ikan lainnya. Untuk angka Prevalensi kwashiorkor selama lima tahun terakhir berdasarkan data RISKESDAS tahun 2010 di Provinsi Jambi masih Tinggi. Ikan gabus memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu untuk 100 gram bagian yang dapat dimakan (BDD) adalah 25,2 gram. Hasil Penulisan ini menyimpulkan bahwa Ikan gabus memiliki kandungan albumin yang tinggi. Albumin berfungsi menjaga tekanan onkotik dalam plasma darah untuk mencegah endema. Sehingga keunggulan ikan gabus ini dapat mencukupi asupan zat gizi protein pada balita.

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan adalah Data Sekunder yang diperoleh dari

Instansi dan lembaga terkait, yaitu Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan Dinas Perpustakaan Kota Jambi. Metode Analisis Analisis dengan mendeskripsikan data sekunder yang diperoleh dari instansi, literatur, jurnal dan majalah yang terkait dengan penulisan makalah ilmiah.

BAB IV. PEMBAHASAN dan HASIL PENELITIAN

4.1. PEMBAHASAN 4.1. 1. Definisi Kwahiorkor Busung lapar atau gizi buruk atau honger oedema disebabkan cara bersama atau salah satu dari simtoma marasmus dan kwashiorkor adalah sebuah fenomena penyakit di Indonesia bisa diakibatkan karena kekurangan protein kronis pada anak-anak yang sering disebabkan beberapa hal, antara lain anak tidak cukup mendapat makanan bergizi, anak tidak mendapat asuhan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita infeksi penyakit. Istilah kwashiorkor sendiri berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu". Tanda yang khas adalah adanya edema (bengkak) pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk, wajah anak membulat dan sembab (moon face) terutama pada bagian wajah, bengkak terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang, otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran LIngkar Lengan Atas LILA-nya kurang dari 14 cm, timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas, tidak bernafsu makan atau kurang, rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit, sering disertai infeksi, anemia dan diare, anak menjadi rewel dan apatis perut yang membesar juga sering ditemukan akibat dari timbunan cairan pada rongga perut salah salah gejala kemungkinan menderita "busung lapar" Penyebab langsung tersebut bisa dikarenakan adanya bencana alam, daya beli masyarakat, tingkat pendidikan, kondisi lingkungan dan pelayanan kesehatan. Cara mendeteksi penderita busung lapar pada anak yaitu dengan cara menimbang berat badan secara teratur bila perbandingan berat badan dengan

umurnya dibawah 60% (standar WHO-NCHS) maka anak tersebut dapat dikatakan terindikasi busung lapar atau dengan cara mengukur tinggi badan dan LIngkar Lengan Atas (LILA) bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal kurang dari 14 cm (standar WHO-NCHS) waspadai akan terjadi busung lapar. Dampak runtutan dari adanya busung lapar berakibatkan pada penurunan tingkat kecerdasan anak, rabun senja serta rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Menurut ketentuan WHO bila angka telah mencapai 30% dinyatakan tinggi dan perlu tindakan lebih lanjut. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan makanan yang bergizi pada anak berupa sayur mayur, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat (seperti nasi, kentang, jagung), makanan yang mengandung protein (telur, ikan ,daging) dll, kemudian dianjurkan pemberian air susu ibu (ASI) bagi anak berusia dari 0 bulan sampai dengan 24 bulan. 4.1.2 Mekanisme terjadinya Kwashiorkor Malnutrisi merupakan kumpulan gejala (sindrom) yang terjadi oleh faktor, yaitu : tubuh (host), kuman penyebab (host), dan lingkungan (environment). Pada penurunan (defisiensi) protein murni tidak terjadi proses pemecahan (katabolisme) jaringan yang sangat berlebih. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai asam amino essential dalam serum (plasma darah) yang diperlukan untuk pembentukan sel (sintesis) dan untuk proses metabolisme tubuh. Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin (protein) hati, yang berakibat timbulnya pembengkakan (edema). Gejala lain adalah pembengkakan pada hati. Mekanismenya adalah terjadinya gangguan pembentukan beta-lipoprotein, yaitu suatu protein yang berfungsi mengangkut lemak dalam darah, sehingga

transpor lemak dari hati ke jaringan terganggu, akibatnya penimbunan lemak di hati (Kliegman. Behrman, 2000). 4.1.3. Proses tumbuh kembang dan gizi pada balita Anak terus tumbuh dan berkembang setiap harinya. Tahun pertama kehidupannya, panjang bayi akan bertambah sebanyak 50%, tetapi tidak berlipat setelah usia bertambah sampai 4 tahun. Anak yang berumur 1-3 tahun akan mengalami pertambahan berat sebanyak 2-2,5 Kg, dan tinggi rata-rata sebesar 12 cm setahun (Tahun kedua 12 cm, ketiga 8-9 cm). John Preiffer menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia kira-kira 50 juta sel tubuh yang mati, dalam waktu yang sama harus dilahirkan pula (regenerasi sel) 50 juta sel baru untuk mengantikan sel mati. Mekanisme ini terjadi karena adanya proses sintesis protein yaitu proses pembentukan protein baru. Komposisi tubuh manusia sebesar 96% dari berat badannya merupakan unsur kimia hidrogen, oksigen, karbon dan nitrogen. Protein memiliki struktur kimia ini. Sisanya sebesar 4 % dari seluruh berat badan merupakan mineral (Sukmono, 2009). Kliegman (2000) menyebutkan rumus berat badan anak usia1-6 tahun = ((usia x 2) + 8). Kebutuhan asupan zat gizi protein balita tercantum pada tabel berikut ini : Tabel 1. Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia per orang perhari tahun 2004.

No 1 2 3 4

Kelompok Umur 0-6 bulan 7-11 bulan 1-3 tahun 4-6 tahun

Berat Badan (Kg) 6,0 8,5 12,0 17,0

Tinggi Badan (cm) 60 71 90 110

Protein (gram) 10 16 25 39

Apabila pertambahan berat badan sesuai dengan pertambahan umur, maka bergizi baik. Jika sedikit dibawah standar dikatakan bergizi buruk/ kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Gizi buruk

adalah suatu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006). Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor dan marasmuskwashiorkor. 4.1.3.1 Marasmus Gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat, dengan gejala muka berkerut, kelihatan tulang dibawah kulit, rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan, pembesaran hati, dan sebagainya. Anak tampak sering rewel meskipun telah diberi makan. (Depkes RI, 2000). 4.1.3.2 Kwashiorkor Penampilan tipe kwashiorkor anak kelihatan gemuk (sugar baby), dietnya mengandung cukup energy tapi kekurangan protein, terlihat ada pengecilan jaringan (atrofi). Sangat kurus dan bengkak (edema) pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh. 4.1.3.3 Marasmus-Kwashiorkor Campuran dari gejala klinik kwashiorkor dan marasmus.

4.1.4. Ikan Gabus Ikan Gabus (channa striata) merupakan sumber protein yang sangat tinggi dan juga sebagai sumber Albumin bagi penderita hipoalbumin (rendah albumin) dan luka, baik luka pasca operasi maupun luka bakar, pasca melahirkan, pasca sunat/ khitanan, kecelakaan atau luka kronis lainnya. Ikan gabus dapat tumbuh mencapai 45 cm atau 18 inci Ikan gabus termasuk dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Pisces, Ordo Labyrinthycy, Famili Chanidae, Genus Channa, dan Spesies Channa striata atau Ophiochephalus striatus. Fungsi Utama Albumin :

1) Mengatur tekanan osmosis dan volume darah. Bila jumlah albumin turun
maka akan terjadi penimbunan cairan dalam jaringan endema, misalnya bengkak pada kedua kaki.

2) Sebagai saran pengangkut/ transportasi bahan-bahan yang kurang larut


dalam air melewati plasma darah dan cairan sel.

Manfaat Mengkonsumsi Ikan Gabus : 1) Meningkatkan kadar albumin dan daya tahan tubuh. 2) Mempercepat penyembuhan pasca operasi. 3) Mempercepat penyembuhan luka dalam/ luka luar (pasca melahirkan, khitan, patah tulang, luka bakar, dan luka kronis lain). 4) Membantu penyembuhan penyakit : Hepatitis, TBC/ Infeksi Paru, Nephrotic Syndrome, Tonsilitis, Thypus, Diabetes, Stroke, Thalasemia Minor. 5) Menghilangkan Oedem (pembengkakan) 6) Memperbaiki gizi buruk pada bayi, anak dan ibu hamil. 7) Sebagai larutan pengganti pada keadaan defisiensi albumin. 4.2. HASIL PENELITIAN Di Negara Indonesia khususnya Provinsi Jambi, angka prevalensi gizi buruk masih tinggi. Angka prevalensi KEP nyata selama 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2006 2010 secara rinci per-kabupaten sebagai berikut : Tabel 2. Prevalensi KEP pada tahun 2006-2010 di Provinsi Jambi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kab/Kota Kerinci 2006 66 2007 0 Tahun 2008 2 52 18 5 22 65 21 13 15 5 218 2009 7 3 12 17 19 1 0 2 7 26 6 100 2012 27 15 24 14 17 5 3 17 29 13 10 174

Merangin 44 15 Sarolangun 21 0 Batang hari 17 41 Muara Jambi 32 14 Tanjab Timur 21 41 Tanjab Barat 46 0 Tebo 0 9 Bungo 42 8 Jambi 62 106 Sei Penuh 351 234 Jumlah Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jambi (2010)

10

Peta situasi gizi Provinsi Jambi per kabupaten/kota tahun 2007 diketahui bahwa kabupaten Muara Jambi dan Kota Jambi tergolong rendah dibandingkan dari kabupaten/kota yang lain dalam Provinsi Jambi. Kabupaten Kerinci mendominasi jumlah tertinggi penderita gizi buruk tersebut, dengan peningkatan yang cukup drastis pada 2010. Tercatat 27 kasus gizi buruk menimpa kabupaten yang kaya akan sumber daya alam tersebut. Padahal, pada 2009 lalu hanya 7 balita yang terkena kasus gizi buruk. Kadar protein yang dimiliki ikan gabus kering dapat dihitung dari setiap gram bagian yang dapat dimakan (BDD) ikan tersebut. Setiap 100 gram BDD ikan gabus kering mengandung protein sebesar 58 gram, yang berarti lebih tinggi kadar proteinnya daripada jenis ikan lainnya. Perbandingan komposisi protein ikan gabus segar dan kering dengan beberapa ikan air tawar lainnya ditampilkan dalam tabel berikut ini : Tabel 3. Perbandingan kadar protein ikan gabus segar dengan beberapa ikan air tawar lainnya per 100 gram bagian yang dapat dimakan

No
1

Nama Bahan (Ikan segar) Gabus Ikan Belida Ikan Mas Ikan Mujahir Ikan Lele pencok Ikan seluang

Protein (gram) 25, 2 16, 5 16 18,7 7,8 10

2 3 4 5 6
Sumber : DKBM 2005

Tabel 4. Perbandingan Kadar Protein Ikan Gabus Kering dengan Ikan Air Tawar Lainnya per 100 gram Bagian yang dapat Dimakan

No 1 2 3

Nama bahan (Ikan Kering) Gabus Ikan Teri Ikan Asin Kering

Protein (gram) 58 33,4 42

Sumber : DKBM 2005

11

Dari kedua tabel diatas, diketahui kandungan protein dalam ikan gabus segar dan kering lebih unggul dibandingkan beberapa ikan lainnya yang terdapat di Provinsi Jambi. Menurut Fadli (2010) Ikan gabus juga memiliki keunggulan, yaitu 70 % protein, 21% albumin, asam amino yang lengkap, mikronutrien zink, selenium dan iron. Protein memiliki fungsi yang sangat penting dalam tubuh manusia (Sediaoetama,2004), yaitu : 1. Protein sebagai zat pembangun 2. Untuk fungsi pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan 3. Menggantikan sel-sel yang mati dan aus terpakai. 4. Mekanisme pertahanan tubuh melawan berbagai mikroba dan zat toksik yang datang dari luar yang masuk ke tubuh. 5. Mengatur proses-proses metabolisme tubuh dalam bentuk enzim dan hormon. 6. Sebagai salah satu sumber energy bersama-sama dengan karbohidrat dan lemak. 7. Dalam bentuk kromosom, protein berperan dalam menyimpan dan meneruskan sifat-sifat keturunan dalam bentuk gen.

Dalam bukunya Ansar (2010) menyatakan bahwa dalam 100 gram ikan gabus terkandung energi 74 kkal, lemak 1,7 gr, kalsium 62 mg, phosphor 176 mg, besi 0,9 mg. Albumin dalam ikan gabus mempunyai jenis asam amino yang bervariasi, seperti didalam tabel berikut :
Tabel 5. Kadar asam amino dalam albumin yang terdapat 100 gram BDD Ikan Gabus

No 1 2 3 4 5 6

Jenis Asam Amino Fenialanin Isoleusin Leusin Metiononin Valin Treonin

Albumin Ikan Gabus (%) 7,5 8,34 14,98 0,81 8,66 8,34

12

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Lisin Histidin Asam Aspartat Asam Glutamate Alanin Prolin Serin Glisin Sistein Tirosin

17,02 4,16 17,02 30,93 10,07 5,19 11,02 6,99 0,16 7,49

Sumber : Suprayitno, 2003

Dari tabel diketahui bahwa asam amino terkandung dalam albumin ikan gabus yang paling tinggi komposisinya adalah asam glutamate yaitu sebesar 30,93 gram yang kedua adalah lysine dan asam aspartat yaitu sebesar 17,02 gram sedangkan asam amino yang terendah adalah sistein yaitu sebesar 0,16 gram. Lisin merupakan 1 dari 10 asam amino essensial yang tidak dapat disintesis dalam jumlah cukup dalam tubuh sehingga harus diperoleh dalam asupan makanan sedangkan asam glutamate, asam aspartat dan sistein merupakan asam amino non-essensial (Guyton, 2008). Dechii (2010) menjelaskan bahwa Lisin berfungsi memperkuat system sirkulasi dan mempertahankan pertumbuhan sel-sel normal. Kekurangnnya menyebabkan mudah lelah, sulit konsentrasi, rambut rontok, anemia,

pertumbuhan terhambat dan kelainan reproduksi. Asam glutamate merupakan bahan bakar utama sel-sel otak bersama glukosa dan menstabilkan kesehatan mental. Asam aspartat fungsinya sebagai pembangkit neuro-transmisi di otak dan saraf otak. Aspartat juga berperan dalam daya tahan tehadap lelah. Membantu perubahan karbohidrat menjadi energi sel. Melindungi hati dengan membantu mengeluarkan amonia berlebih dari tubuh. Dalam suatu penelitian yang dilakukan terhadap dua anak dengan gizi buruk yang sedang dalam pengobatan. menunjukan bahwa anak yang diberikan biscuit dengan kandungan albumin ikan gabus, berat badannya naik lebih cepat

13

dibandingkan dengan anak yang diberikan biskuit tanpa kandungan albumin ikan gabus (Ansar, 2010). Berdasarkan tabel angka kecukupan gizi tahun 2004 (KEPMENKES, 2005), jumlah konsumsi ikan gabus yang mencukupi kebutuhan protein balita perhari dapat dilihat pada Tabel 6 : Tabel 6. Jumlah Konsumsi Ikan Gabus per Orang per Hari dalam Memenuhi Kebutuhan Protein Tubuh. No 1 2 3 4 Kelompok Umur 0- 6 bulan 7- 11 bulan 1- 3 bulan 4- 6 bulan Protein(gram) 10 16 25 39 Ikan Gabus (gram) 39, 68 63, 49 99, 20 154, 76

Sumber : KEPMENKES 2005

14

BAB. V PENUTUP
5.1. Kesimpulan 1) Kwashiorkor atau gizi buruk disebabkan cara bersama atau salah satu dari simtoma marasmus dan kwashiorkor adalah sebuah fenomena penyakit di Indonesia bisa diakibatkan karena kekurangan protein kronis pada anak-anak yang sering disebabkan beberapa hal, antara lain anak tidak cukup mendapat makanan bergizi, anak tidak mendapat asupan gizi yang memadai dan anak mungkin menderita infeksi penyakit. 2) Mekanismenya adalah terjadinya gangguan pembentukan beta-lipoprotein, yaitu suatu protein yang berfungsi mengangkut lemak dalam darah, sehingga transpor lemak dari hati ke jaringan terganggu, akibatnya penimbunan lemak di hati (Kliegman. Behrman, 2000). 3) Anak terus tumbuh dan berkembang setiap harinya. Tahun pertama kehidupannya, panjang bayi akan bertambah sebanyak 50%, tetapi tidak berlipat setelah usia bertambah sampai 4 tahun. Anak yang berumur 1-3 tahun akan mengalami pertambahan berat sebanyak 2-2,5 Kg, dan tinggi rata-rata sebesar 12 cm setahun (Tahun kedua 12 cm, ketiga 8-9 cm). John Preiffer menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia kira-kira 50 juta sel tubuh yang mati, dalam waktu yang sama harus dilahirkan pula (regenerasi sel) 50 juta sel baru untuk mengantikan sel mati. Mekanisme ini terjadi karena adanya proses sintesis protein yaitu proses pembentukan protein baru. Komposisi tubuh manusia sebesar 96% dari berat badannya merupakan unsur kimia hidrogen, oksigen, karbon dan nitrogen. Protein memiliki struktur kimia ini. Sisanya sebesar 4 % dari seluruh berat badan merupakan mineral (Sukmono, 2009). 4) Adapun khasiat ikan gabus adalah : Untuk meningkatkan kadar albumin dan daya tahan tubuh, mempercepat proses penyembuhan pasca-operasi, dan mempercepat penyembuhan luka dalam atau luka luar.

15

5)

Di Provinsi Jambi, berdasarkan hasil RISKESDAS 2007 dan 2010, diketahui bahwa angka kejadian gizi buruk terjadi peningkatan diatas angka Nasional, sedangkan menurut RISKESDAS 2010 balita yang sangat kurus banyak terdapat di Provinsi Jambi. Keadaan gizi buruk pada anak yang banyak terjadi di Provinsi Jambi salah satunya adalah kwashiorkor, yaitu suatu kondisi seseorang yang kekurangan protein dibawah standar rata-rata kebutuhan normal. Keadaan kwashiorkor dapat dicegah dengan konsumsi cukup protein.

Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun 2004 per orang per hari menurut KEPMENKES 2005, angka kebutuhan protein untuk balita berdasarkan usia yaitu : Usia 0 6 bulan = 10 gram, Usia 7 11 bulan = 16 gram, Usia 1 3 Tahun = 25 gram, Usia 4 6 Tahun = 39 gram. Konsumsi bahan pangan yang mengandung cukup protein salah satunya adalah konsumsi ikan gabus. Dari 100 gram ikan gabus diketahui mengandung 25,2 gram protein. Beberapa penelitian diketahui bahwa ikan gabus memiliki kandungan albumin yang cukup tinggi. Dimana albumin berfungsi menjaga tekanan onkotik didalam plasma darah untuk mencegah terjadinya edema. 5.2. Saran Dalam membuat atau menyusun sebuah makalah ilmiah, diperlukan sebanyak-banyaknya referensi yang relevan dengan materi yang dipaparkan, sehingga dalam membuat atau menyusunnya, penulis menjadi efisien dan sistematis, terlebih jika metode makalah yang di sajikan dalam bentuk kajian pustaka, ada baiknya jika penulis mengumpulkan seluruh bahan lalu memulai menganalisa serta menyusun makalah tersebut.

16

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.http://ignatiushw.multiply.com/journal/item/1?&show_inter stitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses tanggal 17 mei 2012. Ansar, 2010. Pengolahan dan Pemanfaatan Ikan Gabus. Kementrian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal. Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Jakarta : ISBN. Arisman, 2010. Buku Ajar Ilmu Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC. Dahlan, C. K. 2011. Antioxidant Properties of Channa Striatus. Haruan Research Group. Dechii. 2010. Fungsi Asam Amino Essensial dan Non-Essensial beserta Strukturnya. http:/www.scribd.com/doc/45858480/Fungsi-Asam-Amino

Essensial dan Non Essensial beserta Strukturnya/ . Diakses tanggal 19 Mei 2012. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Edisi Revisi 2007. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2000. Fadli, Oktober 2010. Bagusnya Ikan Gabus. Warta Pasarikan Edisi No.86, hal.4-5 Gayton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC.2008. Hal 896. KEPMENKES. 2005. AKG Tahun 2004 Kliegman. Behrman, dkk.2000. Nelson. Text book of Pediatric. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke 1. Jakarta. EGC. Kristiono. 2002. Karakteristik Balita Kurang energy Protein (KEP) yang dirawat Inap di RSU Dr. Pirngadi Medang Tahun 1999 2000. Balai

Penelitian Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, D.I. Nangroe Aceh Darusalam. Mahmud, M.K dkk. 2005. Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Jakarta : Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Murray, R.K, dkk. 2006. Biokimia Harper. Edisi ke-27. Jakarta

17

Pudjiadi S. 1990. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. RISKESDAS 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. RISKESDAS 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Sourie, Julak. 2012. "Khasiat dan Manfaat Ikan Gabus". http://julaknet.blogspot.com/2012/02/khasiat-dan-manfaat-ikan-gabus-haruan.html. Diakses tanggal 17 Mei 2012. Tjipto, L dan Syahrul. 2001. Studi Mutu dan Penerimaan Konsumen terhadap Abon Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Ulandari, A.2011. Potensi Protein Ikan Gabus dalam Mencegah Kwashiorkor pada Balita di Provinsi Jambi. Jurnal Kesehatan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jambi. Jambi. Wikipedia. 2012. "Ikan gabus". http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_gabus. Diakses tanggal 17 Mei 2012. Wikipedia. 2012. "Busung Lapar. Kesehatan

.http://id.wikipedia.org/wiki/Busung_lapar. Diakses tanggal 19 Mei 2012.

18