Вы находитесь на странице: 1из 7

METODE PEMBELAJARAN KLASIKAL DAN METODE PEMBELAJARAN BRAINSTORMING I.

Pengertian umum metode pembelajaran klasika Istilah klasikal ( Erman, dkk. 2001) bisa diartikan sebagai secara klasik yang menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama terjadi, bisa juga diartikan sebagai bersifat kelas. Jadi pembelajaran klasikal berarti pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan di kelas selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang siswa berkemampuan tidak berbeda sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Model yang digunakan adalah pembelajaran langsung (direct learning). Pembelajaran klasikal tidak berarti jelek, tergantung proses kegiatan yang dilaksanakan, yaitu apakah semua siswa berartisipasi secara aktif terlibat dalam pembelajaran, atau pasif tidak terlibat, atau hanya mendengar dan mencatat. Pembelajaran klasikal yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode tanya jawab dengan teknik probing-prompting agar partisipasi dan aktivitas siswa tinggi. Pada umumnya siswa akan belajar (berpikir-bekerja) secara individu, sehingga mereka dapat melatih diri dalam memupuk rasa percaya diri. Dengan teknik ini, indikator dari pendekatan kontekstual tetap diperhatikan. B. Model Pembelajaran Klasikal Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru, karena pembelajaran klisikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini berarti bahwa seorang guru melakukan dua kegiatan skaligus yaitu mengelolah kelas dan mengelolah pembelajaran. Pengelolan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara baik dan meyenangkan yang di lakukan di dalam kelas. Di ikuti sejumlah siswa yang di bimbing oleh seorang guru. Dalam hal ini guru di tuntut kemampuannya mengunkan tehnik-tehnik penguatan dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat di wujudkan. Pengajaran klasikal dirasa lebih sesuai dengan kurikulum yang uniform. Yang dunilai melalui ujian yang uniform pula. Hasil penelitian J. H. Pesta Lozzi (1746-1827) mengejarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukaran di sekolah sejak pesta lozzi pengajaran individual oleh seorang tutor. Pengajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi sejumlah murid yang membanjiri sekolah akibat demokrasi, indusrilisasi, pemeretaan, dan pendidikan atau kewajiban belajar. Dengan sendirinya di cari usaha untuk memperbaiki Pengajaran klasikal itu. Kurikulum di jadikan uniform bagi seluruh Negara, ujian akhir dan tes masuk sedapat masuk disamakan untuk semua jenis sekoah. Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah sama bagi semua. Bila di ijinkan bukubuku lain dapat digunakan asalkan dasarnya sama yaitu mengacu pada kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah. Dicari metode pendidikan klasikal yang efektif dan paling baik bagi kelas atau kelompok guru yang di persiapkan adalah guru yang baik bagi kelas atau di akui sebagai tokoh yang melahirkan gagasan besar tentang pendidikan antara

lain : 1. 2. 3. 4. Mendemokrasikan Pendidikan dengan menyatakan adalah hak mutlak dari setiap anak untuk setiap anak untuk mengembangkan pootensi dirinya sepenuhnya. Mempsikologikan pendidikan yaitu teori dan praktek pendidikan harus didasarakan pada psikologi atau ilmu tentang karesteriski jiwa individu manusia. Mendasarkan pendidikan pada perkembangan organic dari pada pemindahanpemindahan gagasan. Pendidikan mulai dengan presepsi tentang objek-objek yang konsrif, pembentukan tindakan-tindakan yang kongkrit dan pengalaman terhadap respon-respon emosional yang actual. Perkembangan adalah sebuah pembangunan potensi secara berangsur-angsur setiap bentuk pengajaran harus dilakukan secara berlahan-lahan, melalui perjalan berangurangsur sesuai pemekaran dengan kemampuan-kemampuan dari anak. Perasan-perasan keagamaan di bentuk mendahului dari kata-kata atau symbol-simbol yang di miliki anak. Perlu ada pandangan yang refosioner tentang disiplin yang didasarkan pada kemauan baik dan kerja sama antara pelajar dengan pengajar. Diperlukan alat baru dalam pendidikan guru dan studi tentang pendidikan sebagai sebuah ilmu (Mudyaharjo, 2001:121). Pendapat pesta lozzi tersebut implementasinya dalam pendidikan dilakukan dalam Pengajaran klasikal jangan sampai merugikan bagi kepentingan anak sebagai individu dalam belajar, hal yang diperhatikan adalah kelas sebagai keseluruhan. Nasution (2000:41) berpendapat justru lebih di perhatikan perbedaan individual, yaitu guru dengan sadar memaksa dirinya member perhatian pada setiap anak secara individual dikelasnya. Kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat menerima atau menghafal pada umumnya di berikan secara klasikal. Siswa yang berjumlah kurang lebih 30 atau 40 orang siswa, pada waktu yang sama merima bahan yang sama, umumnya kegiatan diberikan dalam bentuk ceramah. Dalam mengikuti kegian belajar ini murid-murid dituntut untuk selalu memusatkan perhatian terhadap pelajaran, kelas harus sunyi dan semua murid duduk di tempat msing-masing mengikuti uraian guru. Pengelolaan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan belajar, dapat dilakukan mel;alui tindakan penciptaan suasana menyenangkan dalam belajar ini dilakukan dengan pemusatan perhatian pada bahan pelajaran dengan mnegunakan pendekatan yang sesuai dengan materi pelajaran, dan mengikutsertakan siswa secara aktif sesuai dengan kondisi siswa. Belajar secara klasikal cenderung menempatkan siswa dalam posisi pasif, sebagai penerima bahan ajaran. Upanya mengaktifkan siswa dapat menggunakan metode Tanya jawab, demonstrasi, diskusi dan lain-lain yang sesuai dengan para muridmuridnya sehubungan dengan hal itu Pesta Lozzi mengatakan tujuan pendidikan

5.

6. 7. 8.

adalah tercapainyai perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya jiwa. Untuk membantu peserta didik memikul tanggung jawab atas perilakunya dan tanggung jawab socialnya sehingga dapat digunakan dalam lingkungan kelas. Model ini dalam kelas diwujudkan bentuk suatu pertemuan dimana kelompok bertanggung jawab untuk membangun system social yang sama. C. Perbedaan pengajaran individual dengan klasikal Group presentation adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa, yang biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah di kelas. Model pembelajaran individual menurut Nasution (2000) lebih sukar di jalankan daripada model Pengajaran klasikal. Pembelajaran klasikal mencerminkan kemampuan utama guru. karena pembelajaran klisikal ini merupakan kegiatan belajar dan mengajar yang tergolong efisien. Pembelajaran secara klasikal ini berarti bahwa seorang guru melakukan dua kegiatan skaligus yaitu mengelolah kelas dan mengelolah pembelajaran. Pengelolan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara baik dan meyenangkan yang di lakukan di dalam kelas. Dikuti sejumlah siswa yang di bimbing oleh seorang guru. Model ini sering juga disebut Classroom Management Model model ini memiliki karesteristik yang memberikan serta pencapaian keterampilan social. D. Permasalahan Guru mencoba menyesuaikan pengajarannya dengan kemampuan rata-rata, guru tahu bahwa guru terpakasa menghambat kemajuan anak-anak yang cepai serta penting untuk di ketahui bagi setiap guru agar guru dapat menentukan solusi yang paling arif. Walaupun pelajaran klasikal sangat umum di jalankan ini tidak berarti bahwa perbedaan individu dapat di abaikan. II. Metode Pembelajar Brainstorming Metode Brainstorming adalah suatu teknik atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat (Roestiyah 2001: 73). Metode sumbang saran (brainstorming) adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapatorang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran

bersama. Metode ini digunakan untuk menguras habis apa yang dipikirkan para siswa dalam nmenanggapi masalah yang dilontarkan guru di kelas tersebut. B. Langkah-langkah metode Brainstorming Tugas guru dalam pelaksanaan metode ini adalah memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka menanggapi, dan guru tidak boleh mengomentari bahwa pendapat siswa itu benar/ salah, juga tidak perlu disimpulkan, guru hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, sehingga semua siswa di dalam kelas mendapat giliran, tidak perlu komentar atau evaluasi. Siswa bertugas menanggapi masalah dengan mengemukakan pendapat, komentar atau bertanya, atau mengemukakan masalah baru, mereka belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik. Siswa yang kurang aktif perlu dipancing dengan pertanyaan dari guru agar turut berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya. Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan metode brainstorming : 1). Pemberian informasi dan motivasi Guru menjelaskan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya dan mengajak peserta didik aktif untuk menyumbangkan pemikirannya. 2). Identifikasi Pada tahap ini peserta didik diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang masuk ditampung, ditulis dan tidak dikritik. Pimpinan kelompok dan peserta hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreativitas peserta didik tidak terhambat. 3). Klasifikasi Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa berdasarkan struktur/ faktor-faktor lain. 4). Verifikasi Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahannya. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bisa dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bisa diminta argumentasinnya. 5). Konklusi (Penyepakatan) Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat. C. Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming

Brainstorming dalam bahasa Indonesia disebut sebagai curah gagas/ curah pendapat/ sumbang saran. Dengan demikian keutamaan metode brainstorming ini adalah penggunaan kapasitas otak dalam menjabarkan gagasan atau menyampaikan suatu ide. Dalam proses brainstorming, seseorang akan dituntut untuk mengeluarkan semua gagasan sesuai dengan kapasitas wawasan dan psikologisnya. Metode brainstorming adalah metode yang sangat tepat untuk menjabarkan proses tersebut dengan mudah dan efisien. Keunggulan metode brainstorming yaitu : 1. Anak-anak berfikir untuk menyatakan pendapat. 2. Melatih siswa berpikir dengan cepat dan tersusun logis. 3. Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru. 4. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran. 5. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru. 6. Terjadi persaingan yang sehat. 7. Anak merasa bebas dan gembira. 8. Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan. Sedangkan hal-hal yang perlu diatasi dalam penggunaan metode brainstorming yaitu : 1. Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik. 2. Anak yang kurang pandai selalu ketinggalan. 3. Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan. 4. Siswa tidak segera tahu apakah pendapatnya itu betul atau salah. 5. Tidak menjamin hasil pemecahan masalah. 6. Masalah bisa berkembang ke arah yang tidak diharapkan. (Roestiyah, 2001:74-75). Berbagai kekurangan tersebut dapat diatasi apabila seorang guru atau pimpinan dalam kelas bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas sebaik mungkin. Caranya yaitu dengan menguasai betul-betul materi yang akan disampaikan dan membuat perencanaan proses belajar mengajar dengan matang. III. Brainstorming pada pandangan sekala umum Brainstorming pertemuan sekelompok orang, mahasiswa, pelajar untuk menghasilkan ide-ide baru dalam bidang tertentu. Para pelaksana berusaha agar dapat menghapus hambatan-hambatan agar orang bisa berpikir lebih bebas dan berpindah dari satu daerah pemikiran ke pemikiran baru lainnya. Dengan dinamis mereka menciptakan berbagai ideide baru dan solusi. Para peserta menyatakan ide, membangun membangun ide-ide melalui gagasan yang dikemukakan oleh orang lain. Semua ide yang terungkap dicatat, tanpa dikritik. Ketika pelaksanaan brainstorming berakhir maka ide-ide dievaluasi.

Kunci utama pelaksanaan brainstorming, orang harus bebas bicara, setiap orang tidak mengkritisi setiap pernyataan yang diungkap, ide-ide yang mengemuka dicatat. Kegiatan diakhiri dengan evaluasi catatan ide-ide. Jadi tak ada penilaian atau kritik terhadap setiap ide yang dicurahkan. Karena itu, brainstorming berarti

Proses untuk menghasilkan ide-ide baru Teknik berdiskusi sekelompok orang yang mencoba untuk memecahkan masalah tertentu melalui ide secara spontan oleh anggotanya menggunakan seperangkat aturan khusus dan teknik berdiskusi yang mendorong dan memicu munculnya ide-ide baru yang tidak akan pernah terjadi di bawah kondisi normal.

Sebagai strategi mengajar, brainstorming merupakan usaha membantu guru atau dosen untuk membangun ide-ide baru, membuat ide-ide generasi baru mucul. Strategi ini dapat digunakan untuk mengembangkan produk baru, pelayanan atau proses baru dalam satu proses pekerjaan. Secara tradisional brainstorming merupkan pertemuan sekelompok orang duduk di sebuah ruangan dan menyatakan ide-ide. Mereka diperintahkan untuk menghilangkan perasaan malu dan karena tidak ada penilaian ide. Tiap orang harus membangun ide-ide yang disebut dilandasi ide peserta lain. Tujuan dari ini adalah untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin untuk analisis. Dari ide yang disarankan akan terhimpun banyak gagasan yang bernilai. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang mendukung berpikir bebas, sangat membantu mempromosikan ide-ide baru yang radikal yang membebaskan diri dari cara berpikir normal. Teknik yang digunakan untuk mengurangi rasa malu yaitu dengan menegaskan bahwa proses curah pendapat tidak menjadi bahan penilaian. Belakangan hal itu dapat dilakukan dengan bantuan teknologi seperti melalui jejaring social face book. Caranya kelompok orang berhimpun dalam satu grup. Guru dapat bertindak sebagai moderator. Penilaian dilakukan di akhir kegiatan dengan mengevaluasi semua ide dan menganalisisnya sehingga terbangun ide baru. *Kelebihan

Mendengar orang-orang berbicara atau menelaah cara orang berpendapat memungkinkan pemikiran kreatif berkembang sehingga lahirlah ide-ide baru. Mendorong partisipasi yang sangat kuat karena karena semua ide dicatat. Mendorong penigkatan pengetahuan melalui pengalaman kelompok Setiap ide yang dilontarkan memercikan semangat untuk membangun ide baru. Pembicaraan dapat tidak focus Pembicara harus dibatasi 5-7 menit saja. Pembicaraan bisa jauh dari realitas yang dikenal Tanpa difasilitasi, selalu terjadi kritik terhadap ide orang lain.

*Keterbatasan :

*Persiapan pembelajaran

Fasilitator harus memilih masalah yang diprediksi akan memicu banyak siswa mencurahkan pendapatnya. Persiapkan model pencatatan semua ide, dan model pengolahannya untuk menemukan gagasan baru. Perlu menyapkan ide-ide baru agar aktivitas kelompok terpelihara.