You are on page 1of 5

BAB II ANALISA KASUS

Berdasarkan data yang didapatkan pada pasien ini, dapat disimpulkan bahawa pasien tersebut menderita stroke hemoragik intraserebral. Dari identitas, pasien perempuan berusia 58 tahun termasuk faktor resiko stroke yaitu resiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun dan setelah mencapai 50 tahun, setiap penambahan usia 3 tahun meningkatkan risiko stroke sebesar 11-20%. Pada alloanamnesis didapatkan gejala-gejala klinis berupa penurunan kesadaran secara tiba-tiba dan terdapat muntah, tanpa tanda-tanda awal yang dikeluhkan pasien sebelum kejadian maupun trauma kepala. Hal ini bersesuaian dengan ciri stroke dimana timbulnya gejala sangat mendadak dan jarang didahului dengan gejala pendahuluan seperti sakit kepala, mual, muntah dan sebagainya. Pada pemeriksaan fisik juga ditemukan terdapat hemiparesis pada sisi tubuh bagian kanan disertai hemiparestesia. Hal ini juga sesuai dengan definisi stroke dimana terjadi defisit neurologis (dalam hal ini secara motorik dan sensorik) yang terjadi secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak dan timbul secara mendadak atau cepat, dimana tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terganggu. Pada pasien ini dipikirkan stroke hemoragik karena ruptur vaskular akibat dari hipertensi. Hipertensi adalah salah satu faktor resiko timbulnya stroke pada lebih kurang 70% penderita dan merupakan antara faktor utama terjadinya perdarahanan intraserebral kerana pecah atau rupturnya arteri serebri. Daerah distal dari tempat dinding arteri pecah tidak lagi kebagian darah sehingga daerah tersebut menjadi iskemik dan kemudian menjadi infark. Daerah infark itu tidak berfungsi lagi sehingga menimbulkan defisit neurologik, yang biasanya menimbulkan hemiparalisis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah pasien tinggi termasuk dalam hipertensi grade II, yaitu 199/122mmHg serta dari alloanamnesis didapatkan bahwa pasien mempunyai riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dan pasien tidak rutin makan obat. Pada pasien ini dipikirkan terjadinya stroke hemisferik dimana sistem yang terkena adalah sistem karotis karena gejala dan tanda yang didapatkan pasien adalah sesuai dimana terdapatnya penurunan kesadaran, terdapat kelumpuhan dan gangguan sensoris pada sebelah

anggota badan dan refleks fisiologis pada sisi yang lumpuh menghilang atau menurun. Pada stroke vertebrobasiler, didahului dengan sakit kepala yang sangat hebat dan terdapat kombinasi beberapa gangguan saraf otak dan gangguan long tract sign yaitu vrtigo, parestesia keempat anggota gerak terutama pada ujung-ujung distal, juga terdapat gangguan neurologik yang melibatkan sistem visual seperti kekaburan lapang pandang, diplopa, strabismus dan nystagmus. Dan pada pasien ini tidak didapatkan tanda-tanda tersebut. Diagnosa ini didukung kuat dengan hasil Ct scan dimana terdapat lesi hiperdens pada temporoparietal sinistra yang menandakan terjadinya perdarahan intraserebral. Terdapat ulkus decubitus pada bokong pasien akibat daripada tirah baring yang lama. Ulkus dekubitus terjadi karena terdapat tekanan lokal pada kulit, jaringan subkutan sampai mengenai kapiler dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan iskemia.

http://www.ling.upenn.edu/courses/ling001/ne urology.html
http://kuntowinmetal.blogspot.com/2010/07/coba-mbuat-blog-oleh-kunto.html

Dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2012 ( di IGD )

Keadaan umum Kesadaran Kesan sakit : Somnolen GCS: 9 (E3M5V1)

: Tampak Sakit Sedang

Sikap terhadap pemeriksa : kurang kooperatif

Tanda vital Tekanan darah : 270/150 mmHg Nadi Suhu Pernapasan SpO2 : 170 x/menit (reguler, isi cukup, ekual kanan dan kiri) : 36,5C : 30 x/menit : 98 %

Status generalis dalam batas normal

Status neurologis Rangsang meningeal Kaku kuduk Brudzinsky I Brudzinsky II Kernig Laseque :: -/: -/: -/: -/-

Saraf kranial N I(Olfaktorius) : tidak dapat diperiksa (karena pasien kurang kooperatif)

N II(Optikus)

: Ketajaman penglihatan Pemeriksaan Funduskopi Tes Konfrontasi

: tidak dapat diperiksa : tidak dilakukan : tidak dilakukan

N III(Okulomotorius) : pupil bulat isokor 3 mm, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+, strabismus (-), gerak bola mata tidak dapat dinilai, nistagmus (-)

N IV(Trochlearis)

: Gerak bola mata ke nasal inferior tidak dapat dinilai

N VI(Abducens)

: Gerak bola mata ke lateral tidak dapat dinilai : Motorik m. Masseter: tidak dapat dinilai, deviasi rahang Sensorik Cabang 1-3 tidak dapat dinilai

N V(Trigeminus)

(-)

N VII(Fasialis)

: Wajah simetris, motorik: tidak dapat dinilai Tes Pengecapan 2/3 anterior: tidak dapat dinilai

N VIII(Vestibulocochlearis) Test Schwabach Test Rinne Test Romberg Past pointing Test Stepping Test

: Ketajaman pendengaran : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

N IX dan N X (Glosofaringeus,Vagus) : Refleks batuk (-) Refleks menelan (-) Uvula dan arkus faring simetris Refleks muntah (-)

N XI(Aksesorius)

: tidak dapat dinilai

N XII (Hipoglosus)

: normoglosia, normotrofi, tidak berkerut, atrofi (-), deviasi (+) kanan, tremor (-), fasikulasi (-), kekuatan tidak dapat dinilai.

Motorik Kekuatan otot : 3 5 4 5 Tonus : / normotonus

Sensorik Rangsang suhu Rangsang raba Rangsang nyeri Diskriminasi 2 titik : Tidak dilakukan : Tidak dapat dinilai : Tidak dapat dinilai : Tidak dapat dinilai

Refleks Refleks fisiologis Refleks biceps Refleks triceps Refleks patella Refleks Achilles : meningkat/N : meningkat/N : meningkat/N : meningkat/N

Refleks patologis Hoffman - Tromner Refleks Oppenheim Refleks Gordon Refleks Schaefer Refleks Chaddock Refleks Babinsky : -/: -/: -/: -/: -/: +/+