You are on page 1of 44

Artikel: PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Judul: PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION. Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang Topik: Bimbingan Konseling Tanggal: 8 Juli 2008 PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR Oleh: Rustantiningsih A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar). Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa. Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tim

Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa proses pendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukan mentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alat adalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisi pendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi serta bimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58). Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut. Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikan oleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baik tugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes) dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpa terkecuali. Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok. Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingan konseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaran yang cukup berarti. Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab guru kelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa. Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua mata pelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harus dikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layanan bimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namun agaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konseling juga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layanan bimbingan konseling di SD "asal jalan". Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai dengan baik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya, hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untuk itu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelola kegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar. Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerak untuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar.

2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar? B. PEMBAHASAN 1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193). Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11). Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization). Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106). Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39). Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu: (1) adanya bantuan dari seorang ahli, (2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling, (3) bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang. 2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap. Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni: (1) masalah perkembangan individu, (2) masalah perbedaan individual, (3) masalah kebutuhan individu, (4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan (5) masalah belajar 3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu: a. Fungsi penyaluran ( distributif ) Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi ini meliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah antara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, dan lain-lain. b. Fungsi penyesuaian ( adjustif ) Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal. c. Fungsi adaptasi ( adaptif ) Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, citacita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14) 4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:

a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat. b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu. c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri. d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing. e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli. f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing. g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya. h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat. j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219). 5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat) kegiatan utama, yakni: a. Layanan dasar bimbingan

Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan ketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD. b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah: (1) bidang pendidikan; (2) bidang belajar; (3)bidang sosial; (4) bidang pribadi; (5) bidang karir; (6) bidang tata tertib SD; (7) bidang narkotika dan perjudian; (8) bidang perilaku sosial, dan (9)bidang kehidupan lainnya. c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri. d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990) Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni: (1) layanan pengumpulan data, (2) layanan informasi, (3) layanan penempatan, (4) layanan konseling, (5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan (6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21). 6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu: a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajarmengajar. d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar. f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan. g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajarmengajar. h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. C. PENUTUP 1. Simpulan Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat penting sekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru kelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebut mencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. 2. Saran Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SD bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memiliki Guru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di samping mengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BK sehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BK di Sekolah Dasar. DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas. M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT. Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang. Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.

Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud. Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud. Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang. Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground Saya Rustantiningsih setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

DASAR DASAR PEMAHAMAN PESERTA DIDIK


MAKALAH Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling dengan Dosen Pembimbing Drs. Dudi Gunawan, M.Pd.

Disusun oleh: Kelompok 9 Asep Kurnia Putra M. Slamet Raharrjo Muharom Jamaludin Saim Hidayat (0902173) (0908928) (0905583) (0900661)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2011

BAB 1 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi

dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor. Masalah Memahami peserta didik, merupakan sikap yang harus dimiliki dan dilakukan guru, agar guru dapat mengetahui aspirasi/tuntutan peserta didik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program yang tepat bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat mereka dan tepat berdasarkan dengan perkembangan mereka.Beberapa dasar pertimbangan perlunya

Memahami dasar dasar pemahaman Peserta Didik yaitusebagai berikut : 1. Dasar pertimbangan psikologis bahwa suatu kegiatan akan menarik dan berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan tuntutan peserta didik. 2. Dasar pertimbangan sosiologi bahwa secara naluri manusia akan merasa ikut serta memiliki dan aktif mengikuti kegiatan yang ada. 1.2 Rumusan Masalah Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya, yaitu : 1. Apakah Pengertian dari Peserta didik ? 2. Apakah konsep Pengertian Bimbingan dan Konseling ? 3. Bagaimanakah Posisi Bimbingan dan Konseling ? 4. Faktor faktor apakah yang harus diketahui dalam dasar dasar pemahaman peserta didik ? 5. Apakah Manfaat dari mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik ? 1.3 Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dan manfaat pembuatan dari makalah ini yaitu : 1. 2. Pengertian dari Peserta didik. Memahami konsep pengertian bimbingan dan konseling.

3. 4.

Memahami posisi bimbingan dan konseling. Mengetahui faktor faktor yang harus diketahui dalam dasar dasar pemahaman peserta didik.

5.

Mengerti manfaat dari mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik.

6. 7.

Memenuhi salah satu sarat tugas dari Bimbingan dan Konseling. Menambah Pengetahuan dan wawasan mengenai bimbingan dan konseling. 1.4 Metoda Pemecahan Masalah

Adapun metoda yang kami lakukan untuk memecahkan masalah ini yaitu dengan menggunakan media elektronik yaitu dengan Sistem jaringan (Internet) dan Media cetak (buku sumber).

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor.

Adapun tugas - tugas perkembangan peserta didik tingkat remaja (siswa SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK) adalah: 1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam

peranannya sebagai pria atau wanita. 4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. 5. Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni. 6. Mengembangkan kebutuhannya pengetahuan mengikuti dan dan keterampilan melanjutkan sesuai dengan dan/atau

untuk

pelajaran

mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat. 7. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi. 8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan. 9. Mncapai kematangan dalam pilihan karir. tentang kehidupan

10. Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga. 2.2 Posisi Bimbingan Konseling The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Layanan bimbingan dan konseling merupakan layanan terhadap peserta didik yang tidak terpisahkan dari layanan manajemen dan supervisi maupun kurikulum

dan pembelajaran serta bukan merupakan bagian dari bidang yang lain. Bimbingan dan konseling juga tidak direduksi sebagai pengembangan diri atau bagian dari pengembangan diri karena pengembangan diri merupakan tanggung dipisahkan jawab dari semua sub mata sistem pendidikan, kurikulum sehingga tidak lokal, bisa

pelajaran,

muatan

dukungan

managerial dan layanan bimbingan dan konseling. Pengembangan diri sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Bab II, tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum pada semua jenjang pendidikan, SD, SMP dan SM menyatakan bahwa kurikulum berisi: mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri. Dinyatakan pula: Pengembangan diri bukan

merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada

peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Posisi pengembangkan diri dan bimbingan berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling Perkembangan adalah pengembangan diri secara utuh merupakan layanan dasar bimbingan (guidance curriculum), Selain itu dalam bimbingan dan konseling masih terdapat tiga layanan lainnya, yaitu: layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan

sistem. Jadi pengembangan diri hanya bagian dari layanan bimbingan dan konseling. Implementasi layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja tetapi untuk seluruh peserta didik karena bertumpu pada kebutuhan dan tuntutan lingkungan individu. Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Layanan psiko-pedagogis dalam seting persekolahan maupun luar sekolah dalam koteks kultur, nilai dan religi yang diyakini konseli dan konselor. Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan. 2.3 Pengertian Peserta Didik Dalam perspektif pedagogis, peserta didik diartikan sebagai sejenis makhluk Homo Educantum, makhluk yang menghajatkan pendidikan.

Dalam pengertian ini, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap. Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan

pengarahan yang konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya. Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, peserta didik diartikan sebagai anggota

masyarakat

yang

berusaha

mengembangkan

dirinya

melalui

proses

pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya: 1. Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia meruoakan insane yang unik. 2. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahykan pada penyesuaian dengan lingkungannya. 3. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. 4. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. 2.4 Dasar Dasar Pemahaman Peserta Didik Dalam memahami dasar dasar pemahaman peserta didik hal hal yang perlu diperhatikan antara lain : 1. Kompetensi guru pembimbing/konselor 2. Mengetahui Klasifikasi Layanan 3. Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling 4. Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik 5. Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja SMA) 2.4.1 Kompetensi Guru Pembimbing (Konselor) di Sekolah Guru dalam hal ini khususnya seseorang yang berhubungan sebagai konselor harus mempunyai kompetensi layanan dan bimbingan. Layanan bimbingan dan konseling merupakan layanan profesional konsekwensinya

harus dilakukan secara profesional oleh personil yang memiliki kewenangan dan kemampuan profesional untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling. Kekuatan dan eksistensi suatu profesi muncul dari kepercayaan publik. Masyarakat percaya layanan yang diperlukan dapat diperoleh dari orang yang berkompeten untuk memberikan layanan. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia sebagai organisasi profesi pada bidang bimbingan dan konseling pada kongres ke X di Semarang menetapkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Pengawas perlu mengetahui kompetensi konselor untuk dapat melakukan pembinaan dan pengawasaan sehingga layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara profesional. Sebagai suatu keutuhan kompetensi konselor merujuk pada

pengusaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yangbersifat membantu dan ujuk kerja profesional yang akuntabel. Konselor adalah pendidik (UU RI no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6) karena itu konselor harus berkompetensi sebagai pendidik. Konselor adalah seorang profesional karenanya layanan bimbingan dan konseling diatur dan

didasarkan dalam kode etik. Konselor bekerja dalam berbagai seting. Keragaman pekerjaan konselor mengandung maknanya adanya

pengetahuan, sikap dan keterampilan bersama yang harus dikuasasi oleh konselor dalam seting manapun. Pada kapasitas sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai pendidik psikologis dengan perangkat pengetahuan dan

keterampilan psikologis yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Sebagai seorang pendidik

psikologis seorang konselor harus kompeten dalam hal : 1. Penguasaan konsep dan praksis pendidikan.

2. Kesadaran dan komitmen etika profesi. 3. Penguasaan konsep perilaku dan perkembangan individu. 4. Penguasaan konsep dan praksis asesmen. 5. Penguasaan konsep da praksis bimbingan dan konseling. 6. Pengelolaan program bimbingan dan konseling. 7. Penguasaan konsep dan praksis riset dalam bimbingan dan konseling. Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang ada disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar pendidikan bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor). Paling tidak layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh pelatihan bimbingan dan konseling yang

diselenggarakan oleh ABKIN maupun Depdiknas yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan bimbingan dan konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan sekolah yang melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan kewenangannya masingmasing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik di sekolah yaitu guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya maingmasing melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas. Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri sebagai tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk memperoleh sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas profesi. Para guru pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling, pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan agar termotivasi untuk belajar melakukan layanan bimbingan dan konseling secara benar. Upaya pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan staf secara internal di sekolah, pertemuan pada

MGBK di sanggar BK, mengikuti seminar, workshop maupun pelatihan BK, terlibat dalam organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan. 2.4.2 Mengetahui Klasifikasi Layanan Seorang konselor dalam memahami peserta didik harus mengetahui Klasifikasi layanan, dimana struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan, yaitu: 1. Layanan Dasar Bimbingan Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian

bantuan kepada semua siswa(for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar: 1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya

(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama). 2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya. 3) 4) Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

2. Layanan Responsif Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat

memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang

muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosialpribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan. 3. Layanan Perencanaan Individual Layanan ini diartikan proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar: 1) 2) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya. Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan 3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. 4. Layanan Dukungan Sistem

Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh dan yang staf, lebih melalui pengembangan dengan profesinal; staf hubungan

masyarakat masyarakat

konsultasi luas;

guru,

ahli/penasehat, penelitian dan

manajemen

program;

pengembangan (Thomas Ellis, 1990). Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu: 1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling. 2) Kegiatan Manajemen Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk

memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2)

pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan. Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut : (1) Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hukum maupun empirik (2) Visi da misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang mendukung visi , misi dan tujuan sekolah (3) Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan

mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan (4) Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa berdasarkan perkembangan (5) Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan individual, program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem, kebijakan yang

mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal (6) (7) (8) (9) Rencana operasional kegiatan Pengembagan tema atau topik (silabus layanan) Pengembangan satuan layanan bimbingan Evaluasi

(10) Anggaran

Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar terkembang jejaring layanan yang optimal.

2.4.3 Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi pelasanaan bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut. 2.4.3.1 Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan 1. Bimbingan Klasikal Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk

melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran, yang

diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti: kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas

sekolah lainnya. Sementara layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua kelas. 2. Bimbingan Kelompok Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui

kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif. 3. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan

mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya : (a) menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (b) memahami

karakteristik siswa yang unik dan beragam; (c) menandai siswa yang diduga bermasalah; (d) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing; (f) memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h) menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan figur central bagi siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif. 4. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang

tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari harinya. 2.4.3.2 Strategi untuk Layanan Responsif 1. Konsultasi Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam memberikan bimbingan kepada para siswa. 2. Konseling Individual atau Kelompok Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi

masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Referal (Rujukan atau Alih Tangan) Apabila menangani konselor masalah merasa klien, kurang memiliki kemampuan dia mereferal untuk atau

maka

sebaiknya

mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal

adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis. 4. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation) Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi,

perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling. 2.4.3.3. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual 1. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal) Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi,

sosial, belajar, dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif. 2. Individual or Small-Group Advicement Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1)

merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3)

mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya. 2.4.3.4. Strategi untuk Dukungan Sistem 1. Pengembangan Professional Konselor secara terus menerus berusaha untuk meng-update

pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana). 2 Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang

relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling

Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah

Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan). 3. Manajemen Program Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: Management is the process of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals. Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan konseling. 1) Kesepakatan Manajemen 2) Keterlibatan Stakeholder 3) Manajemen dan Penggunaan Data 4) Rencana Kegiatan 5) Pengaturan Waktu 6) Kalender Kegiatan 7) Jadwal Kegiatan 8) Anggaran 9) Penyiapan Fasilitas Kenyamanan merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara. Sarana yang diperlukan untuk penunjang layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut. (1) Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes.

Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri. (2) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masingmasing siswa, maka perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi. (3) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan. Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat. 10) Pengendalian Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan

seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil. Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk mencipakan suatu koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan. Pengawas dapat melakukan pengawasan dan pembinaan : apakah program bimbingan dan konseling yang disusun dilaksanakan sesuai dengan rancangan program?. Apakah terdapat dokumentasi sebagai indikator pencatatan pelaksanaan program?. Pengawas dapat berdiskusi dengan konselor program-program mana yang sudah dilaksanakan?, apa hambatan yang ditemui pada saat melaksanakan program?, apakah dapat diidentifikasi keberhasilan yang dicapai program?, apakah dapat diperoleh informasi dampak langsung maupun tidak langsung pelaksanaan program terhadap siswa, pendidik maupun institusi pendidikan?. Pengawas juga diharapkan memberikan dorongan dan saran-saran bagaimana program-program yang belum terlaksana dapat dilakukan. Pengawas harus mengembangkan diskusi bersama pimpinan sekolah dan konselor berkenan dengan dukungan kebijakan, sarana dan prasara untuk keterlaksanaan program. 2.4.4 Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik Berikut ini disebutkan beberapa kebutuhan peserta didik yang perlu mendapat perhatian dari guru, di antaranya: 1) Kebutuhan jasmaniah 2) Kebutuhan akan rasa aman

3) Kebutuhan akan kasih sayang 4) Kebutuhan akan penghargaan 5) Kebutuhan akan rasa bebas 6) Kebutuhan akan rasa sukses 7) Kebutuhan akan agama 2.4.5 Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia

RemajaSMA) Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu: 1) 2) Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa yang menjunjung tinggi oleh masyarakat 3) 4) 5) Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efaektif Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya 6) Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak 7) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang

diperlukan sebagi warga Negara 8) 9) Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku 10) Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas

Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan guru, di antaranya: 1) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika 2) Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau kondidi dirinya 3) Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siwa mengembangkan

keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga, kesenian, dan sebagainya 4) Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan 5) Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan penuh godaan 6) Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk

berpikir kritis, reflektif, dan positif 7) Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap wiraswasta 8) Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka dan lebih toleran 9) Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia

mendengarkan segala keluhan dan problem yang dihadapinya. 2.5 Pentingnya Memahami Peserta Didik Pentingnya Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya adalah : 1. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap

anak dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orangtua dan guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya. 2. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang peserta didik (konseli). 3. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konselor akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya. 4. Dengan mengetahui dasar dasar pemahaman peserta didik, seorang guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat pada peserta didik.

BAB 3 PENUTUP

3. Kesimpulan
v Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif,

dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan.

v The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan.

Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis.

v Orientasi bimbingan dan konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk jangka panjang tertentu

menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan. v Dalam memahami dasar dasar pemahaman peserta didik, hal hal yang perlu diperhatikan antara lain : Kompetensi guru pembimbing/konselor Mengetahui Klasifikasi Layanan Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia

Remaja SMA) v Mengetahui tugas tugas perkambangan peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya.


Juntika, N. A. (2006). Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI. ______. (tanpa tahun). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. [Online].

Tersedia:http://www.jevuska.com/topic/bimbingan+dan+konseling+di+seko lah.html. [27 April 2011].

______.

(tanpa

tahun). Dasar

Dasar

Pemahaman

Perilaku. [Online].

Tersedia:http://ebekunt.wordpress.com/materi-pemb/dasar-dasarpemahaman-perilaku/. [04 Mei 2011].

______.

(2008). Makalah

Ilmu

Pendidikan .

[Online].

Tersedia:http://www.anakciremai.com/2008/11/makalah-ilmu-pendidikantentang-konsep.html. [01Mei 2011].

______.

(tanpa

tahun). Makalah

Peserta

Didik.

[Online].

Tersedia:http://www.scribd.com/doc/11711574/Makalah-Peserta-DidikMelalaui-an-AUD. [28 April 2011].

______.

(2010). Proses

Memahami

Peserta

Didik

di SMK.

[Online].

Tersedia:http://www.jejakguru.co.cc/2010/06/proses-memahami-pesertadidik-di-smk.html. [02 Mei 2011].

______.

(tanpa

tahun). Psikologi

Anak

dalam

Memahami

Anak. [Online].

Tersedia:http://warnadunia.com/psikologi-anak/memahami-peserta-didik7529/s-37t.html [02 Mei 2011].

______.

(2009). Psikologi

Dalam

Peserta

Didik. [Online].

Tersedia: http://ebekunt.files.wordpress.com/2009/11/psikologidalam.pdf. [04 Mei 2011].

Landasan Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Landasan atau dasar program merupakan suatu keputusan awal dan menentukan yang harus diambil oleh pemegang kebijakan pendidikan di sekolah bagi terwujudnya suatu program bimbingan dan konseling sekolah. Merancang keputusan dasar yang kuat memerlukan usaha kerjasama semua unsur dan personel sekolah, termasuk dengan orang tua dan masyarakat, sehingga program bimbingan dan konseling bisa diterima dan memberikan manfaat bagi semua siswa. Dengan demikian, selama tahap pengembangan program bimbingan dan konseling, para stakeholder hendaknya bermusyawarah untuk menentukan filosofi, misi dan fungsi dan isi keseluruhan program. Dasar pengembangan program yang lengkap merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa program bimbingan dan konseling sekolah menjadi suatu bagian utuh dari seluruh program pendidikan untuk keberhasilan para siswa. Proses penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah dilakukan melalui delapan tahap aktivitas, yaitu : 1) mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan; 2) menganalisis harapan dan kondisi sekolah; 3) menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa; 4) menganalisis program, pelaksanaan, hasil, dukungan serta faktor-faktor penghambat program sebelumnya; 5) merumuskan tujuan program baik umum maupun khusus; 6) merumuskan alternatif komponen dan isi kegiatan; 7) menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan program, dan 8) merumuskan rencana evaluasi pelaksanaan dan keberhasilan program. 1) Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan; Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang relevan baik tingkat institusi (sekolah) maupun nasional dimaksudkan agar pengembangan program bimbingan dan konseling sekolah tidak bertentangan dengan kebijakan umum yang berlaku dan ditentukan oleh pemerintahan pusat, daerah maupun sekolah sebagai tempat implementasi program. Karena itu, sebelum memulai melakukan penyusunan program konselor perlu mengkaji terlebih dahulu produk-produk kebijakan yang berlaku. Sebagai contoh dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak mungkin suatu sekolah menggunakan standar kurikulum selain yang

ditentukan dan diberlakukan secara nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS). 2) Menganalisis harapan dan kondisi sekolah; Menganalisis harapan dan kondisi sekolah merupakan langkah yang harus dilakukan konselor untuk mengetahui keadaan, kekuatan, kelemahan atau kekurangan sekolah. Sangat tepat jika dilakukan analisis dengan teknik SWOT (Strengt, Weakness, Oppornuty, Treath), sehingga dapat diketahui secara tepat kekuatan, kelemahan, peluang atau kesempatan, dan ancaman yang dihadapi sekolah. Dalam melakukan analisis ini, jika diperlukan sekolah dapat meminta bantuan tenaga ahli. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai sekolah ditetapkan berdasarkan atas kebijakan yang berlaku dan analisis kondisi sekolah. 3) Menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa; Program bimbingan dan konseling merupakan rancangan aktivitas dan kegiatan yang akan memfasilitasi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Artinya, program bimbingan dan konseling di sekolah harus menyediakan sistem layanan yang bermanfaat bagi kemajuan akademik, karir dan perkembangan pribadi-sosial para siswa dalam menyiapkan dan menghadapi tantangan masa depan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan bangsanya di masa depan. Berdasarkan itu semua, maka semua pemegang kebijakan pendidikan di sekolah lebih memahami karakteristik dan kebutuhan siswa yang merupakan subjek layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Data atau informasi tentang karakteristik dan kebutuhan siswa merupakan komponen atau faktor-faktor yang berkaitan dengan penentuan tujuan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Data yang sudah terkumpul perlu dianalisis secara cermat dan komprehensip (menyeluruh), untuk kemudian ditafsirkan dan diimplementasikan dalam beberapa alternatif rencana program bimbingan dan konseling di sekolah. Alternatif program tersebut harus dievaluasi dan dipilih mana yang memiliki peluang paling besar untuk mencapai tujuan, tetapi paling hemat dalam menggunakan tenaga, waktu, dan biayanya.

4)

Menganalisis program, pelaksanaan, hasil, dukungan serta faktor-faktor penghambat program sebelumny

Sebelum alternatif program bimbingan dan konseling yang dipilih dilaksanakan, konselor perlu menjabarkan secara rinci program itu sampai dengan tahap-tahap pelaksanaannya. Dalam setiap tahap pelaksanaan, paling tidak harus jelas mengenai: (1) sasaran yang ingin dicapai, (2) kegitan yang akan dilakukan, (3) siapa pelaksana dan penanggung jawabnya, (4) kapan waktu pelaksanaanya, dan (5) sarana atau pra sarana dan dana yang diperlukan. 5) Sistem manajemen program bimbingan dan konseling Apakah suatu sekolah dapat melaksanakan layanan bimbingan dan konseling tanpa membuat suatu program kegiatan bimbingan dan konseling? Misalnya, pada suatu sekolah hanya memiliki seorang konselor yang memiliki kompetensi dan kualifikasi professional sebagai konselor, sedangkan guru mata siswaan, wali kelas dan staf sekolah lainnya dan tidak ikut melibatkan diri dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Cara kerja dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling seperti ini tidak menunjukan adanya suatu kelompok bimbingan dan konseling (team work) yang sinergis. Cara kerja dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling semacam ini bisa saja dilaksanakan tetapi tidak memiliki dampak yang positif dalam membantu perkembangan opkelompokal siswa. Tanpa perencanaan program, layanan bimbingan dan konseling tampaknya praktis dan simpel, tetapi mempunyai banyak kelemahan diantaranya : 1) program yang tidak didasari pemikiran secara matang mengakibatkan program kurang dapat dipertanggung jawabkan, 2) tidak ada kontinyuitas dalam pelayanan, 3) sukar untuk mengevaluasi kerja yang telah dilalukan.

Apakah pelayanan itu betul-betul relevan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada, akan lebih sukar dilakukan pengecekan. Dengan membuat rencana program bimbingan dan konseling, layanan kepada subjek sasaran akan lebih baik, kebutuhan dapat dilayani, di samping tenaga dan fasilitas lain dapat dimanfaatkan secara efisien. Program bimbingan dan konseling memuat unsur-unsur yang terdapat dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah seperti: (1) visi dan misi, (2) tujuan, (3) kegiatan, (4) strategi dan atau teknik, (5) pelaksana dan penanggung jawab, (6) waktu, (7) tempat, (8) biaya dan fasilitas lainnya, (9) rencana evaluasi. Murro & Kottman (1995) mengemukakan bahwa struktur program bimbingan komprehensif diklasifikasikan ke dalamempat jenis layanan yaitu (a) layanan dasar bimbingan, (b) layanan responsif, (c) layanan perencanaan individual, (d) dukungan sistem.

A. Layanan Dasar Bimbingan Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara opkelompokal. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya membantu siswa agar: 1. Memiliki kesadaran, pemagahaman diri tentang diri dan lingkungan 2. Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang tepat 3. Mampu menangani atau mamanuhi kebutuhan dan masalahnya, serta mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. B. Layanan responsif Komponen layanan responsif dalam program bimbingan dan konseling sekolah, terdiri atas kegiatan-kegiatan untuk menemukan kebutuhan dan persoalan yang tengah dihadapi siswa. Penyelesaian kebutuhan atau persoalan ini memerlukan konseling, konsultasi, pengalihan, fasilitasi maupun informasi dari teman sebaya. Komponen ini disediakan bagi seluruh siswa dan seringkali siswa diberi inisiasi melalui self-referral. Bagaimanapun guru, orangtua/wali dan orang lain bisa juga membantu siswa. Walaupun konselor sekolah memiliki keterampilan dan pelatihan khusus dalam merespon kebutuhan dan persoalan semacam ini, kerjasama dan dukungan dari seluruh pihak sekolah dan seluruh staf tetap diperlukan bagi suksesnya implementasi program layanan responsif. Layanan responsif disampaikan melalui strategi-strategi seperti, konsultasi: konselor berkonsultasi dengan orangtua/wali, guru, tenaga pendidik lain atau dengan agen masyarakat mengenai strategi untuk membantu siswa dan keluarga. konselor tampil sebagai advokat bagi siswa. Konseling individual dan kelompok kecil: konseling diberikan dalam suatu kelompok kecil atau atas dasar individual bagi siswa dalam mengungkapkan kesulitasn-kesulitan yang berkenaan dengan hubungan, masalah pribadi atau tugas-tugas perkembangan pribadi mereka. konseling individual dan kelompok kecil membantu siswa dalam mengidentifikasi masalah, sebab-sebab, alternatif, dan konsekuensi yang mungkin terjadi, sehingga mereka dapat

mengambil tindakan yang tepat. konsleing semacam ini pada dasarnya berjangka pendek. konselor sekolah tidak memberikan terapi. jika diperlukan, pengalihan dibuat terhadap sumber-sumber masyarakat yang tepat. Konseling krisis : konseling krisis memberikan pencegahan, intervensi dan tindak lanjut. Konseling dan dukungan diberikan pada siswa dan keluarga dalam menghadapi situasi darurat. Konseling semacam ini biasanya jangka pendek dan bersifat sementara, saat dibutuhkan, pengalihan dapat dibuat terhadap sumber-sumber masyarakat yang tepat. Konselor sekolah dapat memegang peran sebagai pemimpin dalam proses intervensi krisis suatu kelompok dalam lembaganya. Alih tangan (referal) : konselor menggunakan sumber acuan untuk menangani kasus krisis seperti keinginan bunuh diri, kekerasan, pelecehan, depresi dan kesulitan keluarga. sumber acuan ini bisa meliputi agen-agen kesehatan mental, tenaga kerja dan program pelatihan, layanan bagi remaja serta layanan sosial dan kemasyarakatan lainnya. Fasilitasi oleh teman sebaya : banyak konselor melatih siswa sebagai perantara teman sebaya, manajer konflik, tutor maupun mentor. Teknik-teknik pemecahan masalah dan resolusi konflik digunakan untuk membantu siswa belajar bagaimana mereka bergaul dengan orang lain. Melalui perantara teman sebaya, siswa dilatih dalam suatu sistem agar berguna bagi teman terdekatnya yang sedang memiliki masalah dalam bergaul dengan orang lain. C. Perencanaan individual Dalam perencanaan individual, konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan secara sistemik dan berkelanjutan serta dirancang untuk membantu siswa secara individual dalam menetapkan tujuan pribadi dan mengembangkan rencana mereka di masa depan. Konselor sekolah mengkoordinasikan kegiatan bantuan bagi seluruh rencana siswa, mengawasi dan menangani proses belajar siswa termasuk menemukan kompetensi dalam area akademis, karir dan perkembangan pribadi-sosialnya. Dalam komponen ini siswa mengevaluasi tujuan edukasional, okupasional dan tujuan personal mereka. Konselor sekolah membantu siswa membuat pilihan dari sekolah ke sekolah, sekolah ke pekerjaan maupun sekolah ke pendidikan tinggi atau karir setelah mereka lulus dari suatu sekolah. Aktivitas ini umumnya disampaikan atas suatu dasar individual atau dengan bekerja sama dengan individu lain dalam kelompok kecil maupun kelompok penasehat. Orangtua atau

wali bersama personil sekolah lainnya seringkali terlibat dalam aktivitas semacam ini. Penyampaian sistematis tentang perencanaan individual bagi tiap siswa meliputi strategi yang terdokumentasi bagi keberhasilan siswa. Perencanaan individual bagi siswa diimplementasikan melalui beberapa strategi sebagai berikut: 1) Penilaian indiuvidual/kelompok kecil: konselor sekolah mengadakan analisis dan evaluasi terhadap kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi siswa. uji informasi dan data lainnya sering digunakan sebagai dasar bagi pemberian bantuan pada siswa dalam mengambangkan rencana jangka pendek dan jangka panjang mereka. 2) Pemberian saran pada individual/kelompok kecil: konselor sekolah memberi saran pada siswa dengan menggunakan informasi pribadi/ sosial, karir dan pasar tenaga kerja dalam perencanaan tujuan pribadi, edukasional dan okupasional siswa. keterlibatan siswa, orangtua/wali dan pihak sekolah dalam merencanakan program siswa yang sesuai dengan kebutuhan mereka merupakan hal yang penting. D. Dukungan sistem Dukungan sistem terdiri atas aktivitas manajemen yang membentuk, memelihara dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi bimbingan dan konseling sekolah secara keseluruhan. Konselor sekolah menggunakan keterampilan kepemimpinan serta advokasi mereka untuk mempromosikan perubahan yang sistemik dengan cara berkontribusi dalam aspek-aspek seperti dibawah ini, a) pengembangan profesional: konselor sekolah terlibat secara rutin dalam memperbaharui dan membagi pengetahuan serta keterampilan profesional mereka melalui : 1) Pelatihan in-servis : konselor sekolah menghadiri pelatihan in-servis sekolah untuk menjamin keterampilan mereka akan diperbaharui di bidang pengembangan kurikulum, teknologi dan analisis data. Mereka juga diberikan pengajaran in-servis yang ada dalam kurikulum bimbingan dan konseling sekolah serta bidang-bidang lainnya yang berkaitan dengan sekolah dan masyarakat. 2) Keanggotaan asosiasi profesional : seiring dengan konsep dan orientasi bimbingan dan konseling sekolah yang terus berubah dan berkembang, konselor sekolah dapat meningkatkan kompetensi mereka dengan cara mengikuti konferensi dan pertemuan-pertemuan asosiasi profesional.

3) Pendidikan pasca kelulusan: sejalan dengan penyelesaian rangkaian pekerjaan di sekolah, konselor sekolah hendaknya menambah wawasan dan kemampuan dengan mengikuti pendidikan lanjutan yang berkontribusi terhadap kualitas profesinya. b) Konsultasi, kolaborasi dan pembentukan kelompok: melalui konsultasi, pembentukan partner, kolaborasi dan pembentukan kelompok, konselor sekolah memberikan kontribusi penting bagi sistem sekolah. 1) Konsultasi: konselor hendaknya berkonsultasi dengan guru, staf sekolah dan orangtua/wali siswa secara rutin dengan tujuan untuk memperoleh informasi, memberi dukungan pada komunitas sekolah dan untuk menerima umpan balik atas kebutuhan siswa. 2) Pembentukan partner dengan staf, orangtua/wali serta masyarakat terkait: hal ini melibatkan orientasi staf, orangtua/wali, dunia bisnis dan industri, organisasi sosial serta anggota masyarakat dalam program konseling sekolah yang komprehensif melalui aktivitas seperti partnership, media lokal, surat kabar, dan presentasi. 3) Pengembangan jaringan: aktivitas yang termasuk dalam area ini dirancang untuk membantu konselor agar mendapat pengetahuan tentang sumber daya dalam masyarakat, agen referral, situs-situs, kesempatan kerja dan informasi tentang bursa kerja lokal. hal ini bisa juga mencakup kunjungan konselor ke lembaga bisnis-bisnis lokal, industri dan agen atas dasar kebiasaan. 4 Badan penasehat : konselor sekolah aktif dalam pelayanan di badan-badan penasehat, komite masyarakat dan sebagainya dengan cara mendukung program-program lain di dalam sekolah dan masyarakat, maka konselor sekolah akan mendapatkan dukungan bagi program

bimbingan dan konseling sekolah. c) Manajeman dan operasi program: aktivitas ini mencakup perencanaan dan tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas yang dilaksanakan dalam program bimbingan dan konseling sekolah mencakup juga tanggung jawab yang harus dipikul sebagai anggota staf sekolah. 1) Aktivitas manajeman: meliputi pembiayaan, fasilitasi, kebijakan dan prosedur, serta penelitian dan pengembangan sumber daya. 2) Analisis data: konselor menganalisis kaitan antara prestasi siswa dan program bimbingan dan konseling. Kegiatan ini berguna untuk mengevaluasi program bimbingan dan konseling,

melakukan penelitian terhadap aktivitas yang dihasilkan serta menemukan jurang pemisah antara kelompok-kelompok siswa yang perlu diluruskan. Analisis data membantu pengembangan program bimbingan dan konseling sekolah beserta sumber-sumber di dalamnya. 3) Pembagian tanggung jawab secara adil: sebagai anggota dalam sistem pendidikan, konselor sekolah harus menampilkan pembagian tanggung jawab secara adil. 1. Program Evaluasi Evaluasi program bimbingan dan konseling bukan merupakan kegiatan akhir. Artinya, kegiatan evaluasi merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan atau lebih tepat bila dikatakan siklus sebab tidak berhenti sampai terkumpulnya data atau informasi, tetapi data atau informasi itu digunakan sebagai dasar kebijakan atau keputusan dalam pengembangan program bimbingan dan konseling selanjutnya. Karena itu kegiatan evaluasi program bimbingan dan konseling hendaknya memperhatikan prosedur dan langkah-langkah serta metoda atau strategi yang harus digunakan. Prosedur evaluasi, yaitu meliputi serangkaian kegiatan yang berurut sebagai berikut : a. Identifikasi tujuan yang akan dicapai Melakukan identifikasi terhadap tujuan yang ingin dicapai sangat penting karena memberikan arah pekerjaan yang akan dilaksanakan. Artinya selama melakukan evaluasi tetap mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan. Langkah awal kegiatan evaluasi adalah menetapkan parameter atau batasan-batasan yang akan dievaluasi, dapat dipusatkan pada program bimbingan dan konseling secara keseluruhan atau pada tujuan khusus secara terpisahpisah. Tujuan itu hendaknya jelas, singkat, operasional dan dapat diukur. b. Pengembangan rencana evaluasi Pengembangan rencana evaluasi merupakan langkah lanjutan setelah menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Komponen-komponen rencana evaluasi program bimbingan dan konseling yang perlu dikembangkan antara lain: 1) data atau informasi yang dibutuhkan; 2) alat pengumpulan data yang digunakan; 3) sumber data atau informasi yang dapat dihubungi;

4) personel pelaksanaan; 5) waktu pelaksanaan; 6) kriteria penilaian; dan 7) bagaimana pelaporan dan pada siapa laporan itu disampaikan. c. Pelaksanaan Evaluasi Setelah rencana itu disusun dan disetujui, pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling dan konseling bergantung pada cara/metoda yang digunakan. Prinsip pelaksanaan evaluasi perlu memperhatikan faktor-faktor yang telah direncanakan sehingga terjadi berinteraksi antara faktor yang satu dengan lainnya dan dapat membantu pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. d. Pelaporan dan Pemanfaatan Hasil Evaluasi Pelaporan dan pemanfaatan hasil evaluasi dianggap sangat penting sebab langkah ini merupakan bentuk konkrit sikap akuntabilitas atas program dan hasil kegiatan yang telah dilakukan seorang konselor beserta staf yang lainnya. Hasil kegiatan evaluasi yang baik adalah yang dapat memberikan sumbangan pertimbangan dalam membuat kebijakan dan keputusan selanjutnya. Program bimbingan dan konseling itu diganti, diubah atau dikembangkan sematamata berdasarkan hasil evaluasi.

(GALIH JALU DWI.N 101014230)