You are on page 1of 9

Pembelajaran Menulis Puisi Baru pada Siswa SMA Kelas X dengan Menggunakan Media Audiovisual Oleh: Febtiana Kusumawati

Abstrak: Menulis puisi baru merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Dalam menulis puisi baru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh siswa yaitu pengertian, ciri-ciri dan ragam puisi baru yang dapat membedakan antara puisi baru dengan puisi yang lain. Saat menulis puisi baru diperlukan daya kreatifitas dan imajinasi. Untuk itu, diperlukan suatu media pembelajaran, yaitu media audiovisual yang bertujuan untuk membangkitkan daya kreatifitas dan imajinasi siswa. Kata Kunci: menulis, puisi baru, media audiovisual, SMA

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terdapat empat keterampilan dasar, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam keempat keterampilan dasar tersebut, ketrampilan menulislah yang paling memerlukan pembelajaran lebih lanjut, karena dalam menulis harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan. Pengertian menulis sendiri menurut Semi (2007:14) adalah suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambanglambang tulisan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Nurgiyantoro (2001:271) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang aktif, produktif, kompleks, dan terpadu yang berupa pengungkapan dan yang diwujudkan secara tertulis. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang aktif, produktif, dan kreatif yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis dibagi menjadi dua, yaitu menulis bahasa dan menulis sastra. Keduanya dibagi dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Penulis memilih SK. 8 yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi. Berdasarkan Standar Kompetensi (SK) tersebut, Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai siswa dan materi pokok yang diajarkan adalah tentang menulis puisi. Dari Standar Kompetensi (SK) tersebut, materi pembelajaran menulis puisi dibagi menjadi dua, yaitu menulis puisi lama dan menulis puisi baru. Penulis mengambil KD. 8.2 yaitu menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima. Untuk itu, yang akan dibahas oleh penulis adalah tentang menulis puisi baru. Puisi baru sendiri adalah puisi yang muncul pada masa pujangga baru tahun 30-an. Hal ini sama dengan pendapat Suroto (1989:52) yang menyatakan bahwa puisi baru adalah puisi yang mulai populer pada tahun 30-an yakni pada masa pujangga baru.

Dalam menulis puisi baru, diperlukan suatu pembelajaran. Pengertian pembelajaran dalam UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berarti pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan dari proses interaksi itu diperoleh suatu perubahan dalam diri individu, baik dalam hal pengetahuan maupun perilaku. Dalam pembelajaran menulis puisi baru ini, pengetahuan siswa tentang menulis puisi baru akan bertambah. Menulis puisi sangat penting dalam pengajaran bahasa Indonesia. Menulis puisi dapat menjadikan siswa terampil memilih kata-kata yang tepat untuk dapat mengekspresikan ungkapan perasaannya. Untuk mengekspresikan ungkapan perasaan itu, diperlukan wawasan pengetahuan yang luas dan daya imajinasi. Wawasan pengetahuan yang luas dapat diperoleh melalui pembelajaran ataupun pengalaman yang diperoleh siswa sedangkan cara mengembangkan daya imajinasi siswa dalam menulis puisi diperlukanlah suatu media penunjang, yaitu media audiovisual. Sudjana (2001:19) menyatakan bahwa media audiovisual adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengar dan indera penglihatan. Jadi, media audiovisual adalah suatu media yang dapat dilihat dan didengar. Dengan melihat dan mendengar maka imajinasi siswa akan berkembang dengan sendirinya sehingga siswa akan mampu menulis puisi. Sehubungan dengan uraian di atas, uraian berikut ini menyajikan paparan tentang pembelajaran menulis puisi baru dengan menggunakan media audiovisual. Penyajian tersebut dimaksudkan untuk memberikan wawasan kepada pembaca mengenai penulisan puisi baru dengan menggunakan media audiovisual dan implementasinya pada pembelajaran bahasa Indonesia. Pokok-pokok masalah yang akan dibahas meliputi penjelasan tentang (a) pengertian puisi baru, (b) ragam puisi baru, (c) langkah-langkah menulis puisi baru, dan (d) pembelajaran menulis puisi baru. PENGERTIAN PUISI BARU Sayuti (2002:34) menyatakan bahwa puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya. Ahli yang lain pun memiliki konsep yang sama mengenai puisi yaitu Pradopo (1987:7) yang menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membengkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.

Sejalan dengan kedua pendapat ahli di atas, Suroto (1989:40) menyatakan bahwa puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang pendek dan singkat yang berisi ungkapan isi hati, pikiran, dan perasaan pengarang yang padat yang dituangkan dengan memanfaatkan segala gaya bahasa secara pekat, kreatif, dan imajinatif. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang merupakan ungkapan ekspresi pemikiran yang didapatkan melalui pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang dituangkan dalam bentuk kata-kata yang indah dan diharapkan puisi tersebut mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya. Saat menulis puisi ada beberapa unsur yang harus diperhatikan. Suroto (1989:99 109) menyebutkan beberapa unsur dalam menulis puisi yaitu (a) tema yang merupakan pokok persoalan atau pokok pikiran yang mendasari terbentuknya sebuah puisi, misalnya tema tentang ketuhanan, cinta, keadaan, kebencian, kebencian, rindu, dan keadilan; (b) amanat/ pesan yaitu sesuatu yang hendak disampaikan oleh penyair kepada pembaca lewat puisinya; (c) Simbolisasi/ perlambangan yaitu kata atau lambang kebehasaan lain yang digunakan untuk menggantikan suatu pengertian atau hal lain, misalnya kata merah melambangkan suasana marah atau berani; (d) Irama/ ritme yaitu pengulangan yang teratur sutu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama juga dapat berarti pergantian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara berulangulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi; dan rima (persamaan bunyi) yaitu pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan puisi. Suroto (1989:80) membagi bentuk puisi menjadi tiga, yaitu puisi lama, puisi baru, dan puisi modern (bebas). Dari ketiga bentuk puisi diatas yang memerlukan pembelajaran lebih lanjut adalah puisi baru, karena puisi baru sudah menggunakan bahasa Indonesia dan tidak menggunakan bahasa melayu seperti puisi lama, tetapi dalam menulis puisi baru masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu tentang ketentuan jumlah baris dalam satu bait. Para ahli pun juga telah menjelaskan tentang puisi baru, Alisjahbana (2008:5) menyatakan bahwa puisi baru adalah pancaran masyarakat baru dan menurut Suroto (1989:52) puisi baru adalah puisi yang mulai populer pada tahun 1930-an yakni pada masa pujangga baru. Hal yang demikian dapat dimengerti karena pada masa pujangga baru yaitu pada tahun 1930-an sudah banyak orang yang pandai membaca dan menulis bahkan belajar ilmu pengetahuan sampai tingkat tinggi. Dengan banyaknya orang yang sudah pandai membaca

dan menulis tentu makin banyak pula pengaruh dari hasil bacaannya itu, termasuk kesusastraan beserta bentuk-bentuknya baik prosa maupun puisi. Dalam puisi baru terdapat beberapa ciri yang dapat membedakannya dengan bentuk puisi yang lain. Waluyo (1995:19) membagi ciri-ciri puisi baru menjadi enam, yaitu (a) bentuk atau struktur puisinya mengikuti bentuk atau struktur puisi baru, seperti soneta, distikon, terzina, dan oktaf; (b) pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indahindah, seperti dewangga, nan, kelam, mentari, nian, dan juwita; (c) kiasan yang banyak dipergunakan adalah gaya bahasa perbandingan. (d) bentuk/ struktur larik-lariknya adalah simetris. Tiap larik biasanya terdiri atas dua periode. Hal ini merupakan pengaruh puisi lama. (e) gaya ekspresi aliran romantik nampak dalam pengungkapan perasaan, pada lukisan alam yang indah, tentram, dan damai. (f) gaya puisinya diafan dan polos, sangat jelas, dan lambang-lambang gaya yang umum digunakan; (g) rima (persajakan) dijadikan sarana kepuitisan. RAGAM PUISI BARU Puisi baru mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda dari puisi lama. Hal ini juga diungkapkan Nursisto (2000:28) bahwa bentuk puisi baru tidak hanya meniru saja seperti halnya dalam puisi lama, melainkan mengambil bentuk dari Barat. Suroto (1989:99) membagi ragam puisi baru menjadi tujuh yaitu (a) distikon, bentuk puisi yang terdiri atas dua baris dalam tiap bait; (b) terzina, bentuk puisi yang terdiri atas tiga baris dalam tiap bait; (c) kuatrain: bentuk puisi yang terdiri atas empat baris dalam tiap bait; (d) kuint: bentuk puisi yang terdiri atas lima baris dalam tiap bait; (e) sektet, bentuk puisi yang terdiri atas enam baris dalam tiap bait; (f) septime, bentuk puisi yang terdiri atas tujuh baris dalam tiap bait; (g) oktaf/stanza, bentuk puisi yang terdiri delapan dua baris dalam tiap bait; dan (h) soneta, bentuk puisi yang terdiri atas empatbelas baris dalam tiap bait dengan susunan dua kuartrain dan dua sektet. Dari enam ragam puisi tersebut Suroto (1989:100) mengkhususkan penjelasannya mengenai ragam puisi baru, yaitu soneta. Menurutnya ada sembilan ciri-ciri soneta yaitu (a) terdiri atas 14 baris, (b) keempat belas baris terdiri atas 2 buah kutrain dan 2 buah terzina, jadi pembagian bait itu adalah 2x4 dan 2x3, (c) kedua buah kuartrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf, (d) kedua buah terzina merupakan kesatuan yang disebut sektet, (e) oktaf berisi lukisan alam, jadi sifatnya objektif, (f) sektet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan dari yang telah dilukiskan dalam oktaf, jadi sifatnya subjektif; (g) peralihan

dari oktaf ke sektet disebut volta, (h) jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 8 sampai 14 suku kata, (i) rumus dan sajaknya a-b-b-a a-b-b-a c-d-c d-c-d. LANGKAH-LANGKAH MENULIS PUISI BARU Dalam menulis puisi, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu menentukan tema, menentukan kata-kata kunci dari tema yang dipilih, menentukan kata-kata puitis dari kata-kata kunci yang telah dipilih, mengembangkan kata-kata puitis tersebut menjadi lariklarik puisi, mengurutkan larik-larik tersebut sehingga menjadi puisi yang utuh, dan menentukan judul puisi. Hal pertama yang dilakukan sebelum menulis puisi baru adalah menentukan tema dari puisi. Tema yaitu ide dasar atau pokok pikiran dari sebuah puisi. Jika menulis puisi tanpa memikirkan ide dasar atau pokok pikiran terlebih dahulu, maka tidak akan menghasilkan puisi yang baik dan benar. Jika tema sudah dipilih hal yang dilakukan untuk selanjutnya adalah menentukan kata-kata kunci dari tema tersebut. Kata kunci adalah kata-kata yang berkaitan dengan tema yang telah dipilih, misalnya tema keindahan alam, maka kata kuncinya adalah pohon, bunga, embun, dan air. Setelah menentukan kata kunci, selanjutnya adalah menentukan kata-kata puitis berdasarkan kata-kata kunci yang telah dipilih. Kata-kata puitis adalah kata-kata khas puisi, misalnya kata puitis dalam tema keindahan alam yaitu semerbak dan menggetarkan hati. Setelah menentukan tema, menulis kata-kata kunci, dan kata-kata puitis, yang dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan kata-kata itu menjadi larik-larik puisi. Misalnya memilih kata embun sebagai kata kunci dan kata menyejukkan hati sebagai kata puitis, maka larik yang sesuai yaitu embun pagi ini menyejukkan hatiku yang sepi. Setelah mengembangkan kata-kata tersebut menjadi larik-larik puisi, yang dilakukan selanjutnya adalah mengurutkan larik-larik tersebut sesuai dengan jumlah larik dalam satu bait yang ada diragam puisi baru, sehingga menjadi sebuah puisi baru yang benar dan indah baik dalam segi bahasa maupun bentuknya. Setelah selesai menulis puisi baru menjadi puisi yang utuh, yang terakhir dilakukan adalah menentukan judul puisi yang telah dibuat. Cara membuat judul pada puisi yang telah dibuat adalah dengan cara mengambil intisari pokok atau bisa juga dari kata yang menjadi pondasi dalam karya puisi yang telah dibuat. Contoh: Sawah tersusun di lereng gunung, Berpagar dengan bukit barisan, Sayup-sayup ujung ke ujung, Padi mudanya hijau berdandan.

Dari bait tersebut maka terlihat bahwa judul dari puisi tersebut adalah sawah karena di dalam puisi tersebut menggambarkan tentang gambaran sawah.

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI BARU Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan perencanaan pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran harus memperhatikan komponen-komponen yang meliputi: (a) tujuan, (b) materi, dan (c) media. Setelah perencanaan dilaksanakan, selanjutnya akan dijelaskan berkenaan dengan tahap-tahap pembelajaran. Dalam pembelajaran menulis puisi baru, terdapat tahap-tahap/ langkah-langkah yang akan dilakukan seorang guru. Untuk pembelajaran menulis puisi baru ini, langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai kegiatan awal yaitu (a) guru memberikan salam, (b) guru menyuruh siswa untuk berdoa dahulu sebelum pembelajaran dimulai, (c) guru mempresensi siswa, (d) guru melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa tentang pengetahuan siswa mengenai puisi baru, (e) guru menyampaikan materi pembelajaran, dan (f) guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran selesai. Pada pembelajaran menulis puisi baru ini menggunakan metode think pair square. Langkah-langkah pembelajaran dalam metode tersebut yaitu (a) guru menjelaskan tentang konsep puisi baru (pengertian, unsur-unsur, dan ciri-ciri puisi baru), ragam puisi baru, dan langkah-langkah menulis puisi baru; (b) guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok (berpasangan dengan teman sebangku), (c) guru memutarkan video, sebagai media pembelajaran menulis puisi baru. Supaya manfaat dari media audiovisual untuk pembelajaran menulis puisi baru dapat menciptakan suatu pembelajaran dan pendidikan baru bagi siswa, maka guru harus benar-benar dapat memilih video yang tidak hanya sesuai materi pembelajaran tetapi juga sesuai dengan selera dan minat para siswa yang terpenting adalah tidak melanggar unsur pendidikan yang ada. Dalam hal ini, video digunakan sebagai media menulis puisi baru adalah video tentang keindahan alam. Saat guru memutarkan video, (d) siswa yang berpasangan dengan teman sebangku diminta untuk mencatat hal-hal penting dalam video misalnya dari gambaran keindahan alamnya atau lingkungannya. Setiap siswa diminta untuk menulis puisi secara sendiri-sendiri, tetapi untuk memepermudah dalam menulis puisi, maka guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok; (e) siswa menentukan tema untuk memulai menulis puisi baru dari halhal penting yang telah dicatatnya, (f) siswa menentukan kata-kata kunci dan kata-kata puitis untuk bekal menulis puisi baru.

Untuk selanjutnya, (g) guru menyuruh siswa bekerja sama dengan kelompok yang lain. Dalam hal ini, dua kelompok bekerja sama sehingga membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang. Dalam kelompok besar ini, (h) siswa diminta untuk melakukan hal yang selanjutnya yaitu mengembangkan kata-kata kunci dan kata-kata puitis yang telah dipilih menjadi larik-larik puisi. Hal ini dilakukan agar siswa lebih banyak mendapatkan pendapatpendapat dari teman-temannya sehingga diharapkan larik-larik puisi yang ditulis oleh siswa dan telah diurutkan hingga menjadi sebuah puisi baru yang baik dan benar, baik dalam segi bahasa maupun kaidah jumlah larik dalam satu baitnya sesuai dengan ragam puisi baru. Setelah selesai menulis puisi baru, (i) setiap kelompok diminta untuk menyunting hasil penulisan puisi baru dari siswa dikelompok yang lain. Penyuntingan tersebut meliputi ketepatan tema dan isi, diksi, jumlah baris dalam satu baitnya, rima dan irama. Pada waktu siswa melakukan penyuntingan, guru membimbing siswa dalam melakukan penyuntingan. Setelah melakukan penyuntingan, (j) setiap siswa disuruh untuk merevisi puisi yang telah dibuat. Kegiatan akhir yang dilakukan dalam pembelajaran menulis puisi baru yaitu (a) guru meminta 3-5 siswa yang dipilih secara acak untuk membacakan puisi baru yang telah direvisi. Setelah itu (b) guru mengomentari isi puisi yang telah dibacakan. Selanjutnya, guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa puisi baru adalah puisi yang muncul pada masa pujangga baru, yaitu pada tahun 1930-an. Pada puisi baru terdapat banyak ragam yang semuanya terbagi berdasarkan jumlah baris dalam satu bait, yaitu distikon (dua baris dalam satu bait), terzina (tiga baris dalam satu bait), kuatrain (empat baris dalam satu bait), kuint (lima baris dalam satu bait), sektet (enam baris dalam satu bait), septime (tujuh baris dalam satu bait), oktaf/stanza (delapan baris dalam satu bait), dan soneta (empatbelas baris dalam satu bait dengan susunan dua kuartrain dan dua sektet). Dalam menulis puisi baru terdapat beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan dari merumuskan tema, menentukan kata kunci dan kata puitis, sampai mengembangkan kata kunci dan kata puitis tersebut menjadi larik-larik puisi yang disusun untuk menjadi sebuah puisi baru. Langkah-langkah tersebut dapat mempermudah siswa dalam menulis puisi. Untuk melaksanakan pembelajaran menulis puisi baru ini guru memakai suatu metode pembelajaran, yaitu metode think pair square. Metode ini baik jika digunakan dalam pembelajaran menulis puisi baru. Dengan metode tersebut, dapat membuat siswa berlatih

bekerja sama dan saling membantu temannya yang kurang dalam pembelajaran menulis puisi baru. Sehingga, dengan metode ini siswa lebih mudah dalam menulis puisi baru dan pembelajarannya dapat terselesaikan dengan baik dan semua siswa mampu menulis puisi baru dengan bahasa yang benar dan indah. Selain metode yang sesuai, penggunaan media yang sesuai yaitu media audiovisual dapat membuat siswa lebih kreatif dalam mengolah kata-kata untuk diungkapkan/ diekspresikan di dalam menulis puisi baru. Siswa lebih dapat mengembangkan imajinasinya dalam menulis puisi karena siswa tidak hanya berangan-angan tentang hal-hal yang akan ditulis dalam puisi baru, semuanya telah terdapat di dalam video yang telah diputarkan oleh guru. Berdasarkan simpulan yang telah disebutkan, ada sejumlah saran yang perlu disampaikan kepada semua pihak yang terkait dengan pembelajaran menulis puisi baru ini, yaitu (a) untuk guru: supaya dapat memanfaatkan dan mengembangkan metode dan media pembelajaran menulis puisi baru, (b) untuk siswa: supaya dapat menambah pengetahuan mereka tentang puisi baru, dan (c) untuk peneliti: supaya dapat digunakan sebagai bahan penelitian menulis puisi baru.

DAFTAR RUJUKAN Alisyahbana, S, T. 2008. Pusi Baru. Jakarta: Dian Rakyat. Nurgiyantoro, B. 2001. Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra.Yogyakarta: BPFE. Nursisto. 2000. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya. Pradopo, R, D. 1987. Pengkajian Puisi: Analitis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sayuti, S, A. 2002. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media. Semi, M, A. 2007. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa. Sudjana, N. 2001. Media Pengajaran. Jakarta: Sinar Baru Algensindo. Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU. Jakarta: Erlangga. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Waloyo. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta. Erlangga.