Вы находитесь на странице: 1из 9

Makalah

PENGARUH NUTRISI PADA KESEHATAN GIGI

RIZAL ADY SAPUTRA (J III 06 022)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Prilaku makan makanan bergizi seseorang erat kaitannya dengan pola konsumsi pangan yang mereka lakukan. Pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Dalam hal konsumsi pangan permasalahan tidak hanya mencakup ketidakseimbangan komposisi pangan, tetapi juga juga masalah belum terpenuhinya status gizi. Zat gizi adalah senyawa atau unsur-unsur kimia yang terkandung dalam makanan dan diperlukan untuk metabolisme di dalam tubuh secara normal. Zat gizi ini kita dapat dari bahan makanan. Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zatzat gizi atau unsur-unsur kimia yang dapat berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh. Nutrisi atau zat gizi memiliki peranan penting dalam memelihara kesehatan tubuh pada umumnya, dan kesehatan rongga mulut pada khususnya. Nutrisi mempengaruhi kesehatan mulut dalam banyak hal. Misalnya, pengaruh pengembangan cranio-wajah, kanker mulut dan penyakit menular mulut. Nutrisi juga penting peranannya dalam setiap tahap tumbuh kembang gigi dan dalam menjaga keseimbangan lingkungan mulut yang dihubungkan dengan kesehatan gigi. Nutrisi untuk pertumbuhan optimal gigi sama dengan nutrisi yang diperlukan tubuh karena masa pertumbuhan gigi sejalan dengan masa pertumbuhan tubuh secara keseluruhan. Nutrisi penting untuk kalsifikasi optimal gigi sulung, sedangkan nutrisi pada masa balita dan anak-anak penting untuk pertumbuhan gigi tetap. Meningkatnya masalah gizi, tentunya berdampak pula pada peningkatan prevalensi penyakit gigi dan mulut yang dapat mengakibatkan bertambah buruknya masalah gizi tersebut. Mengetahui hubungan antara status gizi dan kesehatan gigi dan mulut menjadi penting karena seringkali terdapat karakteristik yang khas dari berbagai jaringan dalam rongga mulut yang lebih sensitif terhadap defisiensi nutrisi,

sehingga apabila tubuh mengalami defisiensi nutrisi seringkali jaringan dalam rongga mulutlah yang pertama kali memperlihatkan efek defisiensi nutrisi tersebut.

2. Rumusan Masalah Apakah manfaat perilaku makan makanan bergizi terhadap kesehatan gigi dan mulut.

BAB II PEMBAHASAN

1. Definisi Zat Gizi Gizi berasal dari bahasa arab Al Gizzai yang artinya makanan dan manfaatnya untuk kesehatan. Al Gizzai juga dapat diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Dalam bidang kesehatan, istilah gizi (sering disebut pula nutrisi) diartikan sebagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk memanfaatkan makanan guna pembentukan energi, tumbuh kembang, dan pemeliharaan tubuh. Ilmu yang mempelajari perihal tersebut adalah ilmu gizi. Nutrien atau zat-zat gizi merupakan substansi biokimia yang digunakan tubuh dan harus diperoleh dengan jumlah yang adekuat (memenuhi syarat) dari makanan yang kita makan. Nutrien terdiri atas kelompok makronutrien dan mikronutrien. Yang tergolong ke dalam makronutrien adalah diantaranya hidrat arang, lemak dan protein yang dalam hal ini dikonsumsi dalam jumlah relatif besar (ukuran gram), sedangkan yang termasuk ke dalam miukronutrien adalah vitamin dan mineral karena diperlukan tubuh dengan jumlah relatif kecil.

2. Akibat Defisiensi Zat Gizi Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut Kurangnya konsumsi makanan bergizi dapat menyebabkan terjadinya defisiensi zat gizi. Defisiensi zat gizi ini akan menimbulkan gejala pada tubuh bila berlangsung lama dan bersifat kronis. Gejala pada tubuh antara lain dapat terjadi di dalam rongga mulut. Biasanya yang bermanifestasi pada rongga mulut adalah defisiensi mineral, protein, dan vitamin. Defisiensi mineral Defisiensi mineral yang bermanifestasi dalam rongga mulut adalah defisiensi kalsium, fosfor, magnesium, besi dan flour.

Defisiensi kalsium Manifestasi defisiensi kalsium dalam rongga mulut adalah terjadi absorpsi tulang rahang yang merata dan destruksi ligamentum periodontal dan berkurangnya kekuatan gigi.

Defisiensi fosfor Manifestasi defisiensi fosfor dalam rongga mulut adalah terjadinya gangguan pertumbuhan rahang dan erupsi gigi. Juga adanya pertumbuhan kondili yang lambat disertai maloklusi.

Defisiensi magnesium Defisiensi magnesium dalam jangka waktu yang lama dapat terjadi hipoplasia enamel.

Defisiensi besi Manifestasi defisiensi besi dalam rongga mulut adalah terjadinya glossitis yang merupakan penyakit pada lidah, di mana lidah tampak merah dan sakit.

Defisiensi flour Manifestasi Defisiensi flour dalam rongga mulut yang paling utama adalah kerentakan gigi terhadap terjadinya karies gigi.

Defisiensi protein Protein banyak terdapat pada daging, telur, susu, ikan dan jagung. Manifestasi defisiensi protein dalam rongga mulut adalah lidah tampak berwarna merah karena hilangnya papila, terjadi angular cheilitis dan fissura bibir atau bibir pecah-pecah. Selain itu rongga mulut terasa kering dan nampak kotor. Resistensi terhadap infeksi mengalami penurunan sehingga mudah terjadi infeksi pada jaringan periodontal.

Defisiensi vitamin Defisiensi vitamin A Defisiensi vitamin A menyebabkan terjadinya gingivitis, hiperplasia gingiva serta penyakit periodontal dan hipoplasia enamel. Defisiensi vitamin D Defisiensi vitamin D menyebabkan terjadinya hipoplasia enamel yang melibatkan gigi insisivus dan molar permanen yang umumnya terdapat pada penderita rhiketsia. Defisiensi vitamin E Defisiensi vitamin E menyebabkan terjadinya pendarahan gingival, keluarnya pus dari poket dan penyakit periodontal serta leukoplakia. Defisiensi vitamin K Defisiensi vitamin K menyebabkan terjadinya pendarahan spontan pada gingival atau setelah menggosok gigi. Defisiensi vitamin C Defisiensi vitamin C menyebabkan rentannya gingival terhadap iritasi lokal sehingga terjadi hiperplasia gingival, mudah berdarah dan dapat terjadi ulserasi yang biasa disebut Scurvy. Defisiensi vitamin B kompleks Tiamin ( B 1 ) Defisiensi Tiamin menyebabkan terjadinya pembesaran papila fungiformis pada perifer lidah, adanya retakan pada bibir dan sensitifitaspada gigi dan mukosa mulut meningkat. Ribofavin ( B 2 ) Defisiensi ribofavin menyebabkan terjadinya angular cheilitis dan atrofi papilla fungiformis.

Asam nikotinat ( B 5 ) Defisiensi Asam Nikotinat menyebabkan terjadinya atrofi papilla di mana lidah tampak merah, gingivitis kronis dan periodontitis. Peridoksin ( B 6 ) Defisiensi Peridoksin menyebabkan terjadinya angular cheilitis, glossis, serta rasa tidak enak pada mulut. Asam Pentotenat Defisiensi Asam Pentotenat menyebabkan terjadinya angular cheilitis, ulserasi, dan nekrosis pada gingiva. Terlihat juga mukosa mulut dan bibir warna merah mengkilat. Asam Folat Manifestasi defisiensinya adalah pembengkakan pada lidah, gingivitis, angular cheilitis dan ulkus pada lidah. Sianokobalamin ( B 12 ) Manifestasi defisiensinya adalah gingival nampak pucat dan mudah terjadi ulserasi. Lidah tampak merah licin dan mengkilat serta lebih sensitiv ( glositis hurteri)

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan Melihat besarnya pengaruh zat gizi terhadap kesehatan gigi dan mulut, prilaku makan makanan bergizi sangat perlu menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Selain bermanfaat untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh secara umum, ternyata zat gizi mempunyai peran besar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. 2. Saran Peran petugas kesehatan dibutuhkan untuk mengubah pandangan dan pemahaman masyarakat tentang makanan bergizi dan mengarahkan mereka untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan meyakinkan bahwa untuk memperoleh derajat kesehatan gigi dan mulut yang setinggi-tingginya prilaku makan makanan bergizi harus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

http ;//www.kumpulanblogger.com/gizi untuk kesehatan gigi http ://www.scrib.com/karbohidrat http ://www.scrib.com/peranan nutrisi pada rongga mulut http ://www.statcounter.com/kesehatan-gigi-anak/translate by google http ://www.kesehatan123.com http ://www.setengahbaya.info/diet untuk kesehatan gigi dan mulut