You are on page 1of 22

Kelainan pada tulang 1.

Perhatikan gambar di bawah ini, ada beberapa kelainan pada tulang belakang yang dapat mempengaruhi aktivitas dan latihan seseorang, jelaskan!

A. Skoliosis

DEFINISI Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). Sekitar 4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14 tahun mengalami skoliosis; 40-60% diantaranya ditemukan pada anak perempuan. \ PENYEBAB Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis: 1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu 2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut: a. Cerebral palsy b. Distrofi otot

c. Polio d. Osteoporosis juvenil 3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui. GEJALA Gejalanya berupa: 1. tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping 2. bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya 3. nyeri punggung 4. kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama 5. skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60?) bisa menyebabkan gangguan pernafasan. Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. PENGOBATAN Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20?, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan. Pada anak-anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30?, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler. Jika kelengkungan mencapai 40? atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan. Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah

dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang. Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang. B. Kifosis

DEFINISI Penyakit Scheuermann adalah suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri punggung dan adanya bonggol di punggung (kifosis). Kifosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang yang bisa terjadi akibat trauma, gangguan perkembangan atau penyakit degeneratif. Kifosis pada masa remaja juga disebut penyakit Scheuermann. PENYEBAB Penyebab dari penyakit Scheuermann tidak diketahui. Penyakit ini muncul pada masa remaja dan lebih banyak menyerang anak laki-laki. GEJALA Gejalanya berupa: 1. nyeri punggung yang menetap tetapi sifatnya ringan 2. kelelahan 3. nyeri bila ditekan dan kekakuan pada tulang belakang 4. punggung tampak melengkung 5. lengkung tulang belakang bagian atas lebih besar dari normal. PENGOBATAN Kasus yang ringan dan non-progresif bisa diatasi dengan menurunkan berat badan (sehingga ketegangan pada punggung berkurang) dan menghindari aktivitas berat.

Jika kasusnya lebih berat, kadang digunakan brace (penyangga) tulang belakang atau penderita tidur dengan alas tidur yang kaku/keras. Jika keadaan semakin memburuk, mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki kelainan pada tulang belakang. C. Lordosis

Tulang belakang yang normal jika dilihat dari belakang akan tampak lurus. Lain halnya pada tulang belakang penderita lordosis, akan tampak bengkok terutama di punggung bagian bawah . Gejala yang timbul akibat lordosis berbeda-beda untuk tiap orang. Gejala lordosis yang paling sering adalah penonjolan bokong. Gejala lain bervariasi sesuai dengan gangguan lain yang menyertainya seperti distrofi muskuler, gangguan perkembangan paha, dan gangguan neuromuskuler. Nyeri pinggang, nyeri yang menjalar ke tungkai, dan perubahan pola buang air besar dan buang air kecil dapat terjadi pada lordosis, tetapi jarang. Jika terjadi gejala ini, dibutuhkan pemeriksaan lanjut oleh dokter. Selain itu, gejala lordosis juga seringkali menyerupai gejala gangguan atau deformitas tulang belakang lainnya, atau dapat diakibatkan oleh infeksi atau cedera tulang belakang. Untuk membedakannya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti :
a.

Sinar X. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur dan menilai kebengkokan, serta sudutnya.

b. c. d.

Magnetic resonance imaging (MRI) Computed tomography scan (CT Scan) Pemeriksaan darah

Tujuan

pengobatan

lordosis

adalah

menghentikan

semakin

membengkoknya tulang belakang dan mencegah deformitas (kelainan bentuk). Penatalaksanaan lordosis tergantung pada penyebab lordosis. Latihan untuk memperbaiki sikap tubuh dapat dilakukan jika lordosis disebabkan oleh kelainan sikap tubuh. Lordosis yang terjadi akibat gangguan paha harus diobati bersama dengan gangguan paha tersebut. D. Sublubrikasi Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang belakang pada bagian leher yang menyebabkan kepala penderita gangguan tersebut berubah arah ke kiri atau ke kanan.

2. Jelaskan tentang perubahan yang terjadi pada kebutuhan aktivitas dan latihan : nyeri pada sendi tulang, kram otot, sindrom kompartemen, tremor, deformitas, neurovaskuler injury, pengeroposan tulang, bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Jawab A. Nyeri sendi/tulang Nyeri adalah suatu sensori yang tidak menyenangkan dari suatu emosional disertai kerusakan jaringan secara menyeluruh (Ignataficius, 1991). Nyeri adalah suatu mekanisme protektif bagi tubuh, nyeri timbul bila mana jaringan rusak dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk

menghilangkan rasa nyeri tersebut. 1) Nyeri sendi (atritis) a. Pengertian Nyeri peradangan (inflamasi) di sekitar persendian seperti tumit, lutut, pergelangan tangan, bahu, atau siku. Nyeri dapat terjadi karena proses penuaan atau osteoarthritis, penimbunan asam urat atau gout arthritis, dan autoimun atau rheumatoid arthritis, dan sebab mekanik. b. Cirri-ciri Nyeri sendi yang khas yaitu nyeri yang bertambah berat pada waktu menopang berat badan atau waktu aktivitas (melakukan gerakan), dan membaik bila diistirahatkan gerakan sendi menjadi terhambat karena nyeri.

c. Gejala Gejala munculnya nyeri sendi karena berbagai sebab yaitu : i. Perkapuran : penimbunan kalsium di sekitar persendian ii. Inflamasi jaringan pengikat antara otot dan tulang (tendonitis) iii. Ostheoarthritis : pengeroposan tulang rawan iv. Asam urat : penumpukan asam urat d. Berikut adalah 5 penyebab umum sakit persendian yang tidak disebabkan oleh cidera. i. Penyakit rematik (rheumatoid arthritis) Rematik adalah penyebab paling umum nyeri sendi kronis. Berlawanan dengan pendapat umum, rematik bukanlah penyakit khas usia tua. Orang muda juga dapat terkena rematik. Rheumatoid arthritis disebabkan oleh kerusakan sistem autoimun sehingga tubuh menghasilkan zat yang menyebabkan peradangan, terutama pada sendi.bagian tubuh yang sering diserang adalah sendi jari tangan dan kaki dan tulang belakang. Serangan rematik membuat peradangan dan pembengkakan selaput sendi dan secara bertahap menghancurkan kapsul sendi, dan kemudian tendon. ii. Osteoarthritis Osteoarthritis adalah penyakit sendi degenerative (umumnya menyerang mereka yang berusia di atas 45 tahun). Pada osteoarthritis, sendi mengalami nyeri namun tidak diawali dengan peradangan. Rasa nyeri biasanya terasa bila mengangkat beban dan pada awal gerakan dari posisi istirahat. Penyebabnya karena penuaan dan penggunaan terus-menerus. Tulang rawan yang menutupi tulang artikular menjadi aus oleh gerakan sevara bertahap. Risiko terutama pada pinggul, lutut, tangan, kaki, dan tulang belakang. iii. Ankylosing spondylitis Ankylosing spondylitis adalah salah satu bentuk arthritis lainnya. Kondisi ini terutama menyebabkan nyeri dan peradangan sendi tulang belakang dan panggul, walaupun sendi lainnya dapat

terlibat juga. Gejala dirasakan selama waktu tidur, setelah bangun tidur atau setelah interval tidak aktif. Pada kasus yang parah, Ankylosing spondyliti dapat menyebabkan fusi tulang belakang sehingga menyebabkan membungkuk, yang dikenal sebagai kifosis. Keparahan bervariasi dan tidak semua penderita mengalami fusi tulang belakang. Beberapa mungkin hanya mengalami sakit punggung atau pinggul secara sporadis. iv. Psoriatic Arthritis Arthritis ini adalah efek samping dari psoriasis.

Pembengkakan menyakitkan dapat terjadi pada semua sendi, terutama ruas jari, pergelangan tangan, lutut, tulang selangka, pergelangan kaki dan punggung bawah. Gejala biasanya disertai masalah kulit. Sekitar 30-40% orang dengan gejala psoriasis mengembangkan psoriatic arthritis, meskipun sering kali tidak terdiagnosis, terutama jika gejalanya ringan. Psoriatic arthritis biasanya terjadi antara usia 30-50 tahun, namun bisa muncul pada usia berapa pun dan mempengaruhi baik pria maupun wanita. v. Gout (Asam urat) a) Jika rasa sakit tajam berada di sekitar ruas dan pergelangan kaki, penyebabnya mungkin adalah gout. Gout adalah hasil kadar asam urat yang tinggi dalam darah. Rasa sakit sendi disertai bengkak, kemerahan, dan hangat. b) Selain kelima kondisi di atas, penyakit lupus dan penyakit infeksi seperti demam rematik, gondongan, cacar air, hepatitis, dan influenza juga dapat menyebabkan nyeri persendian. e. Mekanisme nyeri sendi (Rangsangan transduksi stimul i aktivitas listrik ditransmisikan serabut myelin A delta n saraf tidak bermyelin c kornus dorsalis, medulla spinalis, thalamus & kortoks serebri). Dan implus ini diartikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri. Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan sisitem saraf utuk mengubah

berbagai stimuli mekanik, kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke sistem saraf pusat. f. Solusi Pada perempuan memasuki yang memasuki masa premenopause atau telah mengalami menopause, nyeri sendi dapat diatasi dengan terapi sulih hormone. SERM, yaitu berupa penambahan estrogen dengan cara menempelkannya pada anggota tubuh. Konsumsi suplemen kesehatan untuk mengatasi masalah pada persendian atau yang disebabkan oleh rematik dan asam urat. g. Pencegahan i. Kurangi makan daging merah, terutama jeroan, karena

mengandung purine yang tinggi yang bisa meningkatan produksi asam urat. ii. Perbanyak minum

iii. Nyeri sendi yang khas yaitu nyeri yang bertambah berat pada waktu menopang berat badan atau waktu aktivitas dan membaik bila diistirahatkan. iv. Pergerakan sendi menjadi terhambat karena nyeri. v. Pada beberapa penderita, nyeri sendi atau kaku sendi dapat timbul setelah istirahat lama. vi. Kadang disertai suara gemeretak pada sendi yang sakit. vii. Penderita mungkin menunjukkan salah satu sendinya secara perlahan membesar. 2) Nyeri Tulang a. Pengertiasn Nyeri tulang adalah ketidaknyamanan lainnya dalam satu atau lebih tulang. Nyeri tulang dapat terjadi oleh beberapa sebab atau kondisi, antara lain kanker tulang, kanker yang menyebar ke tulang, infeksi tulang, kecelakaan, atau kekurangan mineral. b. Ciri-ciri i. Nyeri terasa dalam dan intens

ii. Khasnya terus menerus dan mengganggu tidur iii. Terus ada tanpa dipengaruhi oleh gerakan atau posisi iv. Biasanya tidak responsive erhadap analgesic sederhana atau obat anti inflamasi non steroid (OAINS)

c. Penyebab Penyebab nyeri tersebut dapat diakibatkan adanya gangguan pada struktur tulangnya, bantalan tulang atau otot-otot yang terlibat dalam menunjang tulang itu sendiri, suatu penyakit yang menyerang tulang autau sendi. Bisa juga akibat gangguan kejiwaan berupa psikosomati. Nyeri tulang dapat terjadi pada kondisi : kanker tulang, kanker yang menyebar ke tulang,ganguan suplai darah, infeksi tulang, cidera, leukemia, kehilangan mineral, gangguan metabolisme vitamin D, kalsium, dan hormone parathyroid. 3) Perbedaan nyeri sendi dan neri tulang Nyeri pada tulang perlu dibedakan dengan nyeri pada sendi, nyeri pada sendi atau rematik dapat terjadi karena proses penuaan atau osteoarthritis, penimbunan asam urat atau gout arthritis, dan autoimun atau rheumatoid arthritis. 4) Perawatan a. Penggunaan obat bius b. Menggunakan analgesic dapat mengurangi sensasi rasa sakit c. Radioterapi yang dapat dengan aman diberikan dalam dosis rendah. Radioterapi menggunakan isotop radioaktif dan partikel ataom lainnya untuk merusak DNA dalam sel, sengga mengarah ke kematian sel. Dengan penargetan tumor kanker, radioterapi dapat menyebabkan penurunan ukuran tumor dan bahkan kehancuran tumor. d. Terapi bedah. Dalam kasus patah tulang terapi bedah umumnya yang paling efektif. Analgesic dapat digunakan bersama dengan operasi untuk membantu meringankan rasa sakit tulang yang rusak. e. Terapi herbal. Mengunakan obat-obat herbal untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri baik pada sendi maupun tulang.

B. Kram Otot Kram otot merupakan kontrasi otot yang memendek atau kontraksi sekumpulan otot yang terjadi secara mendadak dan singkat, yang biasanya menimbulkan nyeri. Otot yang mengalami kram sulit untik menjadi rileks kembali. Bisa dalam hitungan menit bahkan jam untuk merenggangkan otot yang kram. Kontraksinya sendri dapat terjadi dalam waktu beberapa detik sampai menit. Selain itu, kram otot sering kali dapt menimbulkan nyeri. Jejas dan adaptasi sel Apabila terhadap tekanan sel maka akan terjadi suati reaksi untuk bertahan dari tekanan tersebut, antara lain : 1) Normal 2) Menyesuaikan diri (adaptasi) 3) Sel dengan jejas yang reversible 4) Kematian sel (irreversible) reaksi tersebut dapat berlangsung secara kaontineu maupun bisa langsung mematikan, tergantung pada jenis sel. Penyebab kram otot ada bermacam-macam antara lain : 1) Adanya gangguan pada aliran darah 2) Agen fisik seperti trauma pada otot, suhu, penggunaan yang berlebihan 3) Konsumsi beberapa obat 4) Ketidakseimbangan obat Hal tersebut dapat mengakibatkan : 1) Hipertrofi Hipertrofi terjadi karena sel mempunyai kemampuan adaptasi yaitu kemapuan untuk menyesuaikan diri dan berubah dan hal ini

memungkinkan sel hidup dalam lingkungan yang berubah. Penyebabnya adalah fungsi maupun beban kerja yang berlebihan maupun rangsangan hormon secara spesifik sehingga ukuran sel akan membesar. 2) Inflamasi Inflamasi merupakan reaksi jaringan hidup terhadap jejas. Inflamasi merupakan reasi pembuluh darah, pembuluh limfe, plasma, sel darah dan syaraf. Gejala kliniknya adalah rubor, kalor, dolor, tumor. Tindakan preventif

Mengingat sifat kram otot yang datang tiba-tiba dan tidak disertai tanda sebelumnya tindakan preventif pun perlu dilakukan antara lain : 1) Mandi atau berendam air hangat setelah beraktifitas untuk mengendurkan seluruh otot. 2) Lakukan peregangan sebelum tidur. 3) Hindari melakukan olah raga atau aktifitas berat secra tiba-tiba. 4) Tak ada salahnya melakukan peregangan setelah melakukan satu kegiatan yang tus menerus dalam waktu lama. C. Sindrom Kompartemen Karena jaringan ikat yang mengikat kompartemen tidak merenggang, sejumlah kecil perdarahan pada kompartemen atau pemebngkakan otot dalam kompartemen dapat menyebabkan tekanan di dalamnya meningkat dengan pesat. Penyebab umum sidrom kompartemen termasuk fraktur tibia atau fraktur lengan bawah, iskemik-reperfusi yang disebabkan cedera, perdarahan, kebocoran vaskuler, injeksi obat intravena, balutan, kompresi pada tungkai yang lama, crush injury dan luka bakar. Penyebab lain yang mungkin dapat dari penggunaan keratin monohidrat. D. Tremor Tremor merupakan gerakan gemetar akibat kontraksi otot yang tidak terkontrol. Frekuensi getaran berkisar 4-12 kali per detik. Tremor dapat terjadi di hamper seluruh bagian tubuh, misal di ujung lengan atau tungkai, pinggang, wajah, bahkan pita suara. Tremor dapat menjadi gejala gangguan di bagan-bagian otak yang mengendalikan otot-otot seluruh tubuh atau di daerah-daera tertentu, seperti tangan. Kelainan neurologis atau kondisi yang dapat menghsilkan tremor adalah multiple selerosis, stroke, cedera otak, traumatis dan sejumlah neurodegenerative penyakit yang merusak atau menghancurkan bagian-bagian batang otak atau serebelum, dan penyakit Parkinson yang sering dikaitkan dengan tremor. Tremor dapat menjadi indikasi hipoglikemia, bersama dengan palpitasi, berkeringat dan kecemasan. Tremor bisa juga disebabkan karena kurang tidur atau vitamin atau stress. E. Deformitas

1. Deformitas tulang dapat terjadi karena : a. Pertumbuhan abnormal bawaan pada tulang (dapat berupa aplasia, dysplasia, duplikasi atau pseudoartrosis) b. Akibat kelainan penyembuhan fraktur berupa mal-union atau nonunion. c. Gangguan pertumbuhan lempeng epifis, baik karena trauma maupun kelainan bawaan. d. Pembengkakan abnormal tulang e. Pertumbuhan berlebihan pada tulang matur 2. Deformitas sendi dapat terjadi karena : a) Pertumbuhan abnormal bawaan pada sendi, misalnya dislokasi panggul bawaan atau fibrosis pada jaringan sekitar sendi. b) Dislokasi akuitis karena trauma, infeksi tulang karena instabilitas sendi c) Kontraktur otot, misalnya akibat spasme otot yang berkepanjangan atau pada iskemik Volkmann. d) Ketidakseimbangan otot, misalnya pada penyakit poliomeilitis, paralisis serebral dan paralisis yang bersifat flaksid/spatik. e) Kontraktur fibrosa pada fasia dan kulit, baik kontraktur akibat adanya jaringan parut pada fasial karena suatu sebab (mis. Luka bakar) ataupun kontraktur Duduytren. f) Tekanan ekstenal F. Neurovaskuler Injury Cedera neurovaskuler dapat menyebabkan pasokan vital darah dan oksigen yang menuju ke otak tiba-tiba terganggu, misalnya pada penderita stroke. Cedera neuvaskuler juga dapat disebabkan oleh kondisi arteri dan vena yang abnormal, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran antara oksigen dan nuttrisi. Dalam kondisi normal arteri dan vena ini dihubungkan oleh kapiler yang berfungsi untuk memperlambat aliran darah melalui otak, yang memungkinkan pertukaran yang diperlukan oksigen dan nutrisi. G. Pengeroposan Tulang Pengeroposan tulang ialah gangguan metabolisme tulang sehingga massa ulang berkurang. Komponen matriks tulang yaitu mineral dan protein

berkurang. Reabsorpsi terjadi lebih cepat daripada formasi tulang, sehingga tulang menjadi tipis. Pada penerunan massa tulang total terdapat perubahan pergantian tulang homeostatis normal, kecepatan reabsorpsi tulang lebih besar daripada kecepatan pembentukan tulang, yang mengakibatkan penurunan massa tulang total. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pelebaran sumsum tulang dan saluran havers. Trabekula berkurang dan menjadi tipis. Akibatnya tulang mudah retak.

3. Apa yang dimaksud dengan dislokasi, sprain, strair, gips, traksi, piramidalis, ekstrapiramidal, rigor mortis, distrofi otot, non union, deleyed union, mal union, jelaskan. Jawab a. Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi secara komplet/lengkap. (Jeffrey M. Spivak,et all,1999). Fraktur dislokasi diartikan dengan kehilangan hubungan yang normal antar kedua permukaan sendi disertai fraktur tulang persendian tersebut. (Jeffrey M. Spivak,et all,1999). b. Sprain adalah cedera struktur ligament di sekitar sendi akibat gerakan menjepit atau memutar. Fungsi ligament adalah namun masih mampu melakukan mobilitas. Ligament yang sobek akan kehilangan kemampuan stabilitasnya. Pembuluh darah akan terputus dan terjadilah edema, yaitu sendi terasa nyeri tekan dan gerakan sendi terasa sangat nyeri. c. Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan dan peregangan yang berlebihan atau stress local yang berlebihan. Strain adalah robekan mikroskopik tidak komplet dengan perdarahan ke dalam jaringan. Klien biasanya mengeluh nyeri mendadak dengan adanya nyeri tekan local pada penggunaan otot. d. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh.diguankan untuk meminimalkan spasme otot, mereduksi , menyejajarkan, dan mengimobilisasi fraktur, untuk mengurangi deformitas, menambah ruangan diantara kedua permukaan patahan tulang. Muttaqin, Arif.2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

e. Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku dicetak sesuai kontur tubuh tempat gips dipasang (Brunner&Suddart, 2000). Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan menggunakan bahan gips tipe plester batau fiberglass (Barbara Engram,1999). Jadi, gips adalah alat imobilisasi eksternal yang terbuat dari bahan mineral yang terdapat di alam dengan formula khusus dengan tipe plester atau fiberglass. Suratun,et all.2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal: Seri Asuhan Keperawatan . Jakarta:EGC f. Piramidalis adalah sebelum impuls ekstrapiraidalis tiba di motoneuron, mengalami pengolahan dan pengubahan di inti-inti yang terpisah dan terpencar maka lintasan ektrapiramidalis yang menghubungkan inti satu dengan yang lain tidak terdiri dari satu jaras yang membujur, tetapi terdiri dari bberapa jaras, ada yang panjang dan pendek g. Ekstrapiramidal adalah Gerakan 2 otot yang halus tepat dan kuat pada orang normal diakibatkan oleh pengaruh cerebellum berada dibawah lobus posterior dibawah cerebrum, dmna cerebrum bertanggung jawab sebagai koordinasi keseimbangan, pengaturan waktu, dan mempertahankan ketelitian seluruh gerakan otot yang dimulai dalm pusat motor dikorteks serebri. Selanjutnya kegiatan cerebrum selanjtnya kegiatan cerebrum adalah mengatur kontraksi kelompok otot yang berlawanan, dman hubngan satu dengan yang lainnya salingmenguntungkan seperti layaknya mesin , kontraksi otot kuat dapat sepenuhnya berlangsung terus menerus pada tegangan saraf yang dikehendaki dan tanpa adanya fluktasi yang berarti, dan gerakan timbal balik dapat menghasilkan pada kecepatan tinggi dan konstan. Keadadan ini terjadi dengan upaya yang relative kecil, seperti pada saat meniru gerakan. h. Distrofi otot adalah suatu kelainan otot yang biasanya terjadi pada anak-anak karena adanya penyakit kronis atau cacat bawaan sejak lahir. i. Non union adalah Fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan & tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudo atrosis (sendi paha) j. Delayed union

1) Kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung, hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun. 2) Bisa juga disebut fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan (3 bulan untuk untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah). Etiologinya sama dengan etiologi non-union. k. Mal-union adalah Keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi valgus, rotasi, pemendekan, misalnya pada fraktur fibia-fibula.

4. Jelaskan dampak yang terjadi pada perubahan secara patologis pada kebutuhan aktivitas dan latihan. Jawab a. Kelainan postur (pada dewasa dan anak), missal seperti : 1) Tortikolis : mencondongkan kepala ke sisi yang sakit, dimana otot sternokleidomastoideus berkontraksi. Penyebab : kondisi kongenital 2) Lordosis : kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung berlebihan. Penyebab : kondisi congenital, kondisi temporer (hamil) 3) Kifosis : meningkatkan kelengkungan pada kurva spinal torakal. Penyebab : kondisi congenital, penyakit tulang/ricket, tuberculosis spinal 4) Kifolordosis : kombinasi lordosis dan kifosis Penyebab : kondisi kongenital 5) Skoliosis : kurvatura spinal lateral, tinggi pinggul dan bahu tidak sama Penyebab : kondisi kongenital, poliomielitis, pralisis spastic, panjang kaki tidak sama 6) Kifoskoliosis : tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral Penyebab : kondisi kongenital, poliomyelitis, kor pulmonal 7) Dysplasia pinggul congenital : ketidakstabilan pinggul dengan

keterbatasan abduksi pinggul, dan kadang-kadang ontraktur aduksi (kaput femur tidak bersambung dengan asetabulum karena abnormal kedangkalan asetabulum).

Penyebab : kondisi kongenital (biasanya dengan kelahiran sungsang). 8) Knock-knee : kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat jika seseorang berjalan. Penyebab : kondisi kongenital, penyakit tulang/ricket 9) Bowlegs : satu atau dua kaki bengkok keluar pada lutut, kondisi ini normal sampai usia 2-3 tahun. Penyebab : kondisi kongenital, penyakit tulang/ricket 10) Club foot : 95% karena deviasi medial dan plantar-fleksi kaki dan 5% karena deviasi lateral dan dorsifleksi. Penyebab : kondisi kongenital 11) Foofdrop : plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal. Penyebab : kondisi kongenital, trauma, posisi imobilisasi yang tidak baik 12) Pigeon-toes : rotasi dalam kaki depan, biasa pada bayi Penyebab : kondisi congenital, kebiasaan. b. Gangguan perkembangan otot Distrofi muskular adalah sekumpulan gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skelet. Prevalensi penyakit otot terbanyak pada anak. Karakteristik distrofi muscular adalah progresif, kelemahan simetris dari kelompok otot skelet, dengan peningkatan ketidakmampuan dan deformitas. c. Perubahan sistem saraf pusat Kerusakan komponen sistem saraf pusat yang mengatur pergerakan volunter mengakibatkan gangguan kesejajaran tubuh dan mobilisasi. Jalur motorik pada serebrum dapat dirusak oleh trauma, iskemia atau infeksi bakteri. Gangguan motorik langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan pada jalur motorik. d. Trauma langsung pada sistem musculoskeletal Biasanya menyebabkan memar, kontusio, salah urat, dan fraktur. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Biasa terjadi karena trauma langsung eksternal, tetapi dapat juga terjadi karena deformitas tulang. Tulang yang fraktur, saat penyembuhan diawali dengan proses seluler yang menghasilkan pembentukan tulang. Anak-anak lebih mudah membentuk

tulang baru daripada orang dewasa, dan hasilnya lebih sedikit mengalami komplikasi setelah fraktur.

5. Jelaskan dampak secara fisiologi dan imobilisasi. Jawab Gangguan mobilisasi fisik (imobilisasi) suatu keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk, tirah baring, pembatasan gerak fisik selama penggunaan alat bsntu eksterna (mis: gips atau traksi rangka), pembatasan gerakan volunter, atau kehilangan fungsi motorik. a. Pengaruh Fisiologi

IMOBILISASI

Peningkatan kelemahan

Asupan nutrisi akibat anoreaksia dan/ atau pembatasan

Atrofi otot

Kehilangan masa lebih lanjut

Keseimbangan nitrogen negatif

Faktor-faktor yang berperan dalam keseimbangan nitrogen negatif dikaitkan dengan imobilisasi b. Perubahan metabolic Sistem endokrin, merupakan hormone-sekeresi kelenjar, membantu mempertahankan dan mengatur pungsi vital seperti:

1) Respons terhadap stress dan cedar Ketika ceda atau stress terjadi, system endokrin memicu serangkaian respon yang bertujuan mempertahankan darah dan memelihara hidup. 2) Pertumbuhan dan perkembangan 3) Reproduksi 4) Homeostasis ion 5) Metabolism energi Imobilisasi mengganggu fungsi metabolik normal, antara alian laju

metabolic, metabolism karbohidrat, lemak, dan protein; ketidak seimbangan cairan dan elektrolit; ketidak seimbangan kalsium; dan ganggauan pencernaan c. Perubahan Sistem Respiratori Klien pascaoperasi dan imobilisasi beresiko tinggi mengalami

komplikasi paru-paru. Komplikasi paru yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. d. Perubahan System Kardiovaskuler Sistem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi artostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan terombus. Hipotensi artostatik adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg diastolic 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan siklus volume cairan, pengumpul darah pada ekstermitas bawah dan penurunan respon otonom. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diikuti oleh penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah. Jika beban kerja jntung meningkat maka konsumsi jantung juga meningkat. Oleh karena itu jantung bekerja keras dan kurang efisien selam masa istirhat yang lama. Jika imobilisasi meningkat maka curah jantung menurun, penurunan efisiensi jantung yang lebih lanjut dan peningkatan beban kerja. Resiko pembentukan thrombus. Thrombus dalah akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah, dan elemn sel-sel darah yang

menempel pada diding bagian anterior vea atau arteri, kadang-kadang menutup lumen darah. Ada tiga faktor yang menyebabkan pembentukan thrombus 1) Hilangnya integritas dinding pembuluh darah(mis.atherokerosis) 2) Kelaian aliran darah(mis. Aliran darah vena yang lambat akibat tirah baring dan imobilisasi) 3) Perubahan unsure-unsur darah (mis. Perubahan dalam faktor pembekuan darah atau peningkatan aktivitas trombosit). e. Perubahan System Musculoskeletal Pengaruh imobilisasi pada system muskuloseletal meliputi gangguan mobilitas permanen. Keterbatasan mobilitas mempengeruhi otot memalui kehilangan daya tahan, penuruna masa otot, atrofi dan penuruna stabilitas. Pengaruh imobilitas yang mempengaruhi system musculoskeletal adalah gangguan metabolism kalsium dan gangguan mobilisasi sendi. 1) Pengaruh otot. Akibat pemecaha protein, klien mengalami kehilangan masa tubuh, yang membentuk sebagian otot. Massa otot menurun akibat metabolism dan tidak digunakan. Jika imobilisasi berlajuat dan otot tidak dilatih, maka akan terjadi penurunan masa yang berkelanjutan. Penurunan stabilitas terjadi akibat kehilangan daya tahan, penurunan masa otot atrofi dan kelainan sendi yang actual. Sehingga klien tersebut ridak mampu bergerak terus menerus dan sangat beresiko untuk jatuh. 2) Pengaruh skelet Imobilisasi menyebabkan dua perubahan terhadap skeler: gangguan metabolism sendi dan kelainan sendi. Imobilisasi berkait pada resorpsi tulang, hingga jaringan tulang menjadi kurang padat, dan terjadi osteoporosis. Apa biala osteoporosis tejadi maka klien beresiko terjadi fraktur patologis. Imobilisasi dan aktivitas yang tidak menyangga tubuh meningkatkan kecepatan resopsi tulang: resopsi tulang juga menyebabkan kalsium terleps kedalam darah, sehingga menyebabakan hiperkalsemia. Imobilisasi dapat menyebabkan kontraktur sendi. Kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan biasa permanen yang ditandai oleh sendi

fleksi dan terfiksasi. Hali ini disebabkan tidak digunakannya, atrofi, dan pemendekan serat otot. Jika terjadi konteraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak dengan penuh. Kontraktur sering menjadikan sendi pada posisi yang tidak berpungsi. Sata macam kontraktur umun dan lemah terjadi adalah foot drop. Jika foor drop terjadi maka kaki terfiksasi pada posisi planterfleksi secara permanen. Ambulasi sulit pada kaki dengan posisi ini. f. Perubahan Sisitem Integument Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoksia jaringan. Jaringan yang tetekan, darah membelok, dan konterksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan persisten pada kulit dan sturktur yang berada dibawah kulit, sehingga respirasi seluler terganggu dan sel menjadi mati. g. Perubahan Eliminasi Urin Eliminasi klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak lurus, urin mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan masuk kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam posisi rekumben atau datar, gijal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Gijal yang menbentuk urin harus masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi pristaltik ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urin masuk kedalam ureter. Kondisi ini disebut statis urin dan meningkatkan resiko infeksi saluran peremihan dan batu ginjal. Batu ginjal adalah batu kalsium yang terletak didalam pelvis ginjal dan melewati ureter. Klien imobilisasi beresiko terjadi pembentukan batu karena gangguan metabolism kalsium dan akibat hiperkalsemia. Sejalan dengan imobilisasi berlanjut, asupan cairan yang tebatas, dan penyebab lain seperti demam, akan meningkatkan resiko dehidrasi. Akibat haluran urin menurun pada hari kelima atau keenam. Pada umumnya urin yang dihasilkan berkonsentrasi tinggi. Urin yang pekat meningkatkan resiko terjadinya batu dan infeksi. Perawatabn perinial yang buruk meningkatkan resiko setelah defaksi, terutama pada wanita, saluran perkemihan oleh bakteri

kontaminasi

Eschereshia coli. Penyebab lain infeksi saluran perkemihan pada klien imobilisasi adalah pemakaian kateter urin menetap.

6. Bagaimana proses penyembuhan tulang, jelaskan. Jawab Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondral. Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut. Namun, tulang mengalami regenerasi sendiri. Berikut proses penyembuhan fraktur tulang : 1) Inflamasi Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama bila ada cedera di tempat lain dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan membersihkan daerah tersebut. terjadinya inflamasi, pebengkakan, dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. 2) Proliferasi sel Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuknya benang-benang fibrin, membentuk jaringan untuk

revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endostel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kalogen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuknya jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (ostecid). Dari periosteum tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukan potensial elektronegatif. 3) Pembentukan kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubung. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. 4) Osifikasi (Penulangan kalus) Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu setelah patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif. Pada patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu 3-4 bulan. 5) Remodeling Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktual sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus, stress fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat dari pada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung. Ketika remodeling telah sempurna, muatan permukaan patah tulang tidak lagi bermuatan negative.