You are on page 1of 3

Didokumentasikan pada Internews Europe http://www.internews.fr/projects/gipi_indonesia.

php

GIPI-ID (GIPI Indonesia) held a seminar with seven speakers and around one hundred participants on May 20, 2003 Speakers: Hinca IP Panjaitan (Media Lawyer, Executive Director of IMLPC) Teuku Nasrullah (Lecturer and Law Practitioner) Akbar Marwan (Indonesia Domain Consultant) Mas Wigrantoro R.S. (Country Coordinator GIPI-ID) Budi Rahardjo (IDNIC, cc-TLD) Roy Suryo (ICT expert and former victim of domain name abuse) Rudy Satrio (Criminologist, Law Lecturer at Law Faculty University of Indonesia). The case discussed in the seminar was a domain name dispute between Chandra Sugiono and Mustika Ratu. The case was discussed on a national level when Chandra was condemned by the Supreme Court to four months in jail despite the fact that he had previously been judged non-guilty during another trial. The result of the seminar was published and used by Chandra Sugiono's lawyer as a supporting document to ask the Supreme Court for a judicial review. To read this document (written in Indonesian) click here. The request was accepted and Chandra Sugiono was released on July 9, 2003.

Pengantar Pada tanggal 20 Mei 2003 GIPI Indonesia bekerja sama dengan ICT Watch dan majalah Forum Keadilan mengadakan diskusi meja bundar (round table discussion) dengan thema Memformat Regulasi Internet Indonesia, mengetengahkan studi kasus sengketa nama domain antara Mustika Ratu dan Chandra Sugiono. Sebagaimana sebagian masyarakat, khususnya komunitas telematika telah mengetahuinya, Mahkamah Agung telah memutuskan terdakwa Chandra Sugiono bersalah dan dihukum empat bulan penjara, meski pada pengadilan tingkat pertama hakim memutuskan terdakwa bebas dari tuduhan melakukan persaingan curang menggunakan situs Internet www.mustikaratu.com yang didaftarkan atas namanya. Tujuan dari round table discussion ini adalah merupakan upaya guna memperoleh informasi serta padangan dari para pakar di bidang hukum dan Internet berkaitan dengan adanya permsalahan sengketa nama domain. Hal ini dirasa perlu untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan, serta memberikan masukan kepada semua pihak yang terlibat dalam pemanfaatan Internet maupun penegakan hukum di bidang Internet agar lebih memahami permasalahan hukum yang terdapat dalam Internet, serta berhati hati dalam pemanfaatan Internet sehingga terhindar dari kerugian yang tidak perlu.

Nara sumber yang ikut berpartisipasi dalam round table discusssion ini hadir dari tiga kelompok: praktisi dan akademisi di bidang hukum media dan hukum pidana; analis dan pengamat kebijakan publik di bidang teknologi informasi; serta pakar telematika. Mengacu pada daftar hadir, peserta diskusi - kurang lebih seratus orang berasal dari berbagai kalangan termasuk praktisi hukum, praktisi telematika, pejabat pemerintah, akademisi, serta rekan rekan jurnalis.

M. Akbar Marwan (Pembicara II) (Indonesia) Menurutnya, kasus ini cukup mengagetkan dunia dot.com Indonesia. Kasus ini merupakan satu-satunya yang berakhir di penjara. Beliau mengkhawatirkan tidak dikritisi lebih lanjut oleh masyarakat, hal ini akan menjadi preseden buruk dalam dunia IT di Indonesia. Sebagai salah satu pihak yang menyelenggaraan jual beli nama domain, pihaknya melihat bahwa kejadian ini secara jangka panjang akan mempengaruhi bisnis di bidang IT. Pihaknya memang tidak menyediakan sarana penyelesaian sengketa nama domain. Jika terjadi dispute, biasanya upaya hukum dari pihak perusahaan adalah segera menon-aktifkan nama domain tersebut. Kemudian mengirimkan pemberitahuan kepada para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui contact administrator. Setelah pemberitahuan tersebut, dibeirkan jangka waktu untuk menyelesaikan sengketa. Mereka harus mengirimkan kembali (reply) disertai dengan pernyataan bahwa pihaknyalah yang lebih berhak atas nama domain tersebut. Baru kemudian pihak Techscape akan mengaktfikan kembali nama domain yang telah diputus tersebut. Kasus di Indonesia memang belum ada yang sampai masuk ke pengadilan apalagi hingga menghukum seseorang. Pihaknya berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk para konsumen melalui mekanisme tersebut. Dia berharap jangan sampai kasus ini menjadi dasar yang nantinya akan meresahkan masyarakat yang akan melakukan jual beli nama domain mengingat praktek tersebut biasa dilakukan di luar negeri.