You are on page 1of 15

08/03/2004 14:18 Kasus Tanah Pemkot Surabaya Didemo Pemilik Tanah Surat Ijo Liputan6.

com, Surabaya: Ribuan warga Surabaya pemilik tanah berstatus Surat Ijo atau Surat Kepemilikan Tanah Sementara, mendatangi Kantor Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/3). Mereka menuntut Wali Kota Surabaya Bambang D.H. segera mengeluarkan sertifikat atas ribuan lahan yang sudah puluhan tahun mereka tempati. Jika tidak, para pengunjuk rasa mengancam akan terus berdemonstrasi dan menolak lahan tempat tinggal mereka digunakan sebagai tempat pemungutan suara dalam ajang Pemilihan Umum 2004. Dalam aksinya, para pengunjuk rasa yang sebagian adalah ibu rumah tangga mengusung keranda mayat yang disimbolkan sebagai matinya hati nurani pejabat Pemkot Surabaya. Mereka juga menilai pejabat pemda sengaja memperlambat proses pengalihan status tanah mereka dari Surat Ijo menjadi sertifikat hak milik. Hingga berita ini diturunkan, para pengunjuk rasa masih berada di depan Kantor Pemkot Surabaya. Mereka berharap bertemu Bambang D.H. yang segera meluluskan tuntutannya. Jika tidak juga, ya itu tadi, warga akan merealisasikan ancaman mereka. Unjuk rasa dengan tema yang sama pernah digelar warga dari 17 kelurahan di Surabaya timur dan Surabaya selatan pada awal Februari silam.

16/01/2004 07:31 Kasus Tanah Eksekusi Lahan PRJ Berlangsung Mulus Liputan6.com, Jakarta: Eksekusi pengambilalihan pengelolaan lahan dan bangunan Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dijaga ribuan aparat keamanan berlangsung tanpa insiden, Kamis (15/1). Anggota Polres Jakpus dan petugas ketenteraman dan ketertiban sengaja diturunkan mengantisipasi bentrokan antara pihak yang mengeksekusi dan pengelola lama PT Jakarta International Trade Fair (JITF). JITF menolak perintah pengosongan yang dikeluarkan Pengadilan Negeri Jakpus dan Jakarta Utara. Namun, melunak setelah juru sita pengadilan membacakan putusan pengadilan. Dengan demikian eksekusi gedung berlantai enam di atas lahan seluas lebih dari 18 hektare ini berjalan mulus. Barang-barang dalam rumah toko yang sebagian besar sudah tidak ditempati lagi, dipindahkan ke gudang milik Pemerintah Kota Jakut dan Jakpus. Eksekusi dilakukan karena JITF milik Edward Soeryadjaya sebagai pengelola lama menolak mengosongkan lokasi. JITF yang gagal membayar utang pada investor Jepang, berpegang pada putusan PN Jakarta Timur yang menetapkan status hak sita jaminan terhadap lahan dan bangunan. Sementara itu, PT Jakarta Expo milik Hartati Murdaya telah membeli lahan dan bangunan tersebut melalui kantor lelang negara senilai Rp 800 miliar.(TNA/Aldi Yarman dan Yoseph Herhudi Lestari).

01/10/2003 05:13 Petani Jember Menuntut Penuntasan Kasus Tanah Liputan6.com, Jember: Sekitar 500-an buruh, petani, dan mahasiswa yang tergabung dalam Komisi Aksi Hari Tani (KUAT) berunjuk rasa ke Kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (30/9). Mereka mendesak anggota Dewan setempat untuk membantu menuntaskan kasus tanah dan sumber-sumber agraria bagi kepentingan rakyat kecil. Wilayah Jember memang mencatat sejumlah kasus tanah yang belum terungkap. Di antaranya kasus tanah Curahnongko, Karangbaru Silo, Baban Mulyorejo, Ketajek, tanah di Sukorejo. Demikian juga dengan kasus tanah di Mendigu, Jenggawah, Renteng Manggaran, dan wilayah Wirowongso. Aksi serupa juga dilakukan 300 petani asal Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumber Sari, Jember [baca: Petani Karangrejo Minta Sertifikasi Tanah Dituntaskan]. Kala itu para petani mendesak agar proses sertifikasi tanah seluas 292,25 hektare dituntaskan. Tapi, pembuatan sertifikat tanah terganjal surat keberatan dari Komando Daerah Militer Brawijaya tertanggal 28 September 2001. Anggota Komisi B DPRD Jember Niti Suroto yang menemui demonstran berjanji akan segera meneruskan tuntutan pengunjuk rasa dalam sidang paripurna dengan eksekutif. Aksi damai massa KUAT ini sempat mengganggu kelancaran lalu lintas di Jalan Kalimantan. Apalagi, sejumlah mahasiswa justru menggelar orasinya di tengah jalan. (DEN/Christanto Rahardjo).

30/04/2003 18:53 RUU Perkebunan Ratusan Petani Menolak RUU Perkebunan Liputan6.com, Jakarta: Sekitar 200 petani yang tergabung dalam Serikat Petani Pasundan dan Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA) berunjuk rasa di Gedung MPR/DPR, Jakarta Selatan, Rabu (30/4). Mereka menentang pembahasan Rancangan Undang-undang Perkebunan yang kini digodok di DPR karena dinilai tak reformis dan mengabaikan hak petani kecil. Lebih jauh, para demonstran menganggap RUU tersebut memihak kaum berpunya dan bertentangan dengan Ketetapan MPR Nomor IX/2001 yang menyebutkan tanah dan sumber daya alam diprioritaskan untuk rakyat bukan untuk penguasa. Selain di Gedung DPR, para petani juga berunjuk rasa di Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Mereka berharap Menteri Kehutanan M Prakosa memperhatikan kasuskasus tanah di Banten, Jawa Timur, dan daerah-daerah lainnya. Sebelumnya ratusan petani yang tergabung dalam AGRA juga berdemontrasi menuntut hal serupa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Para pengunjuk rasa yang berasal dari daerah Jawa dan Sumatra ini mendesak reformasi perundang-undangan bidang agraria, termasuk RUU Perkebunan dengan UU Agraria. Jika tak dipenuhi, demonstran mengancam akan memboikot pemilihan Megawati Sukarnoputri sebagai Presiden pada Pemilihan Umum 2004. Sejak mulai dibahas, RUU yang sedianya rampung Desember tahun silam ini memang ditentang banyak petani, di antaranya 500 petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Jatim [baca: Petani Jatim Memprotes RUU Perkebunan]. Mereka beranggapan kebijakan itu hanya melindungi kepentingan para pengusaha perkebunan.

26/02/2003 05:36 Kasus Tanah Gara-Gara Sengketa Tanah, Pontianak Selatan Sempat Menegang Liputan6.com, Pontianak: Persoalan kepemilikan tanah adalah kasus yang acap berulang di negeri ini. Terkadang penyelesaiannya bisa dengan dialog. Namun tak jarang, ada yang justru berakhir dengan anarki. Buktinya, baru-baru ini terjadi di kawasan Pontianak, Kalimantan Barat. Sejumlah massa nekat memblokir kawasan Perumahan Rosalia di daerah Jalan Abdurrahman Saleh, Pontianak. Alasannya, kasus sengketa tanah milik warga setempat yakni, Haji Saleh, sudah dijadikan areal perumahan elite. Kesal dengan sikap pengembang yang tak menanggapi tuntutan ganti rugi, massa memilih memblokir pintu masuk perumahan tersebut selama sepekan silam. Anggota Kepolisian Sektor Pontianak Selatan langsung berupaya membubarkan warga. Karena sempat tak diabaikan, polisi terpaksa memberi peringatan dengan tembakan ke udara. Massa yang panik akhirnya berhamburan menyelamatkan diri. Polisi sempat mengejar beberapa di antaranya. Terakhir, delapan warga diciduk karena diduga kuat sebagai dalang aksi pemblokiran tersebut. Menurut warga, sebenarnya persoalan itu lantaran lahan tanah Perumahan Rosalia adalah tanah warisan yang sudah ada sejak 91 tahun silam. Selama ini, areal itu digunakan warga setempat sebagai lahan berkebun dan sawah. Kemarahan ternyata acap dijadikan pilihan terakhir buat mengatasi masalah. Untunglah kasus di Pontianak tak mengulang cerita berdarah dari Lampung. Menjelang pertengahan Februari ini, sebuah kerusuhan massa terjadi lantaran sengketa tanah warga antardusun. Kepolisian Daerah Lampung terpaksa mengerahkan satu peleton dibantu pasukan TNI Angkatan Darat dan Angkatan Laut buat menjaga lokasi kejadian. Sebanyak empat orang tewas dan empat lainnya terluka parah [baca: Betrokan Antardusun di Lampung Menewaskan 4 Orang]. Persoalan berawal dari tanah milik seorang warga yang dijual warga dusun lain. Pemilik tanah sebelumnya, kemudian menuntut tanahnya yang dijual dikembalikan. Konflik antarwarga kemudian meruncing dengan melibatkan massa dari dua dusun.

07/04/2005 09:33 HAK GUNA USAHA Sampoerna Diberikan Kemudahan Berinvestasi di Sektor Pertanian Liputan6.com, Jakarta: PT Handjaja Mandala Sampoerna mengalihkan investasi ke sektor perkebunan. Lokasi yang dipilih adalah Merauke, Papua dan di Kalimantan. Kini, mereka tengah menyelesaikan negosiasi hak guna usaha lahan perkebunan tebu dan kelapa sawit. Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriantono di Jakarta, Selasa (5/4). Untuk tahap awal, menurut Anton, HM Sampoerna akan membuka perkebunan tebu seluas 120 ribu hektare di Merauke. Sedangkan di Kalimantan tepatnya di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, perusahaan ini akan memanfaatkan hak guna usaha lahan perkebunan kelapa sawit. HM Sampoerna juga berencana mengakuisisi perusahaan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah akan memberikan insentif pajak dan kemudahan izin kepada pihak HM Sampoerna untuk berivestasi di kedua daerah tersebut. Dengan masuknya Sampoerna, produksi gula nasional diharapkan bertambah sebesar 1 juta ton per tahun. HM Sampoerna mengantongi dana besar untuk berinvestasi. Dana Rp 18,58 triliun baru didapat dari hasil menjual 40 persen saham kepada Philip Morris.

06/02/2006 15:20 HAK GUNA BANGUNAN Dua Pejabat BPN Dijadikan Tersangka Kasus Hilton Liputan6.com, Jakarta: Kejaksaan Agung telah menetapkan empat tersangka kasus perpanjangan hak guna bangunan Hotel Hilton di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (6/2). Para tersangka masing-masing berinisial RJL dan RKY yang juga pejabat Badan Pertanahan Nasional yang masih aktif. Sedangkan dua lain adalah AM dan PS. Para tersangka akan dipanggil dan diperiksa pekan depan. Sumber SCTV di Gedung Bundar mengatakan, para tersangka adalah Robert J. Lumenpau, Rony Kesuma Yudistira, Ali Mazi, dan Ponco Nugro Sutowo. Robert yang dahulu menjabat kepala BPN Jakarta Selatan, kini adalah Kepala Kantor Wilayah DKI Jakarta.Sedangkan Rony kini menjabat sebagai Kepala BPN Jakpus. Ali Mazi kini menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara namun ia juga bertindak sebagai kuasa hukum PT Indobuildco. Sedangkan Ponco Sutowo adalah Direktur PT Indobuildco. Para tersangka diduga telah merugikan negara Rp 1,7 triliun karena kasus perpanjangan hak guna bangunan hotel di lingkungan Senayan yang dimiliki Sekretariat Negara. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, Kejagung telah meminta Imigrasi melakukan pencegahan ke luar negeri mulai hari ini. Hingga kini, Kejagung masih menunggu keputusan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menyita Hotel Hilton sebagai barang bukti.

13/01/2006 02:02 HAK GUNA BANGUNAN Perpanjangan HGB Hotel Hilton Atas Izin Muladi Liputan6.com, Jakarta: Izin perpanjangan pengurusan hak guna bangunan (HGB) Hotel Hilton, ternyata berdasarkan keputusan mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden B.J. Habibie, Muladi. "Sebagai kuasa [hukum], saya menyelesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku," ujar Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi. Ali mengungkapkan itu usai dimintai keterangan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (12/1). Ali yang ketika itu menjabat sebagai pengacara PT Indobuildco menjalani pemeriksaan sejak pukul 10.00 sampai 22.00 WIB. Status Ali dalam pemeriksaan ini adalah sebagai saksi atas dugaan kasus yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 triliun. Ketika ditanyai lebih lanjut, ia enggan berkomentar banyak. "Mungkin akan lebih baik kuasa hukum saya yang menjelaskan semuanya," kata dia. Dalam kasus ini, penyidik telah memeriksa bekas Mensesneg Ali Rahman dan Muladi, serta mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Mahadi Sinambela. Namun, hingga kini, belum ada satu pun yang dijadikan tersangka.

06/03/2004 20:23 Sengketa Tanah Warga Sleman Nyaris Bentrok dengan Aparat TNI Liputan6.com, Sleman: Ratusan warga Wotgaleh, Berbah, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/3) siang, nyaris bentrok dengan aparat TNI Angkatan Udara menyusul sengketa tanah seluas 42 hektare. Warga kecewa karena personel TNI AU melarang mereka menyaksikan pemeriksaan tanah sengketa di Kompleks Pangkalan Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta oleh Pengadilan Negeri Sleman. Ketegangan terasa sejak pagi menyusul rencana pemeriksaan tanah sengketa. Aparat gabungan dari TNI AU dan Polri menjaga ketat di lokasi sengketa. Sedangkan ratusan warga berkumpul di kompleks halaman Masjid Sulthoni di luar lokasi. Ketegangan meningkat ketika warga yang berusaha menyaksikan pemeriksaan tanah dihalangi personel TNI karena dianggap akan mengganggu. Bahkan sejumlah orang dikunci di dalam kompleks masjid dan dilarang meninggalkan lokasi hingga pemeriksaan berakhir. Tapi warga berkeras menyaksikan pemeriksaan. Keributan dapat dihindarkan karena pihak TNI AU mengizinkan warga keluar kompleks masjid setelah proses pemeriksaan selesai. Sengketa tanah ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Berdasarkan data yang dihimpun Liputan6.com, tanah tersebut milik Keraton Yogyakarta yang digarap rakyat. Belakangan, warga terkejut atas kepemilikan sertifikat hak pakai oleh TNI AU, karena mereka merasa belum pernah memindahtangankan status tanah sejak diusir oleh Jepang saat masa penjajahan. Warga menganggap pihak TNI AU menyerobot hak mereka. Sebaliknya, TNI AU tetap mengklaim sebagai pemilik sertifikat hak pakai yang sah. Persidangan perkara sengketa tanah ini masih berlangsung di PN Sleman. Tindak kekerasan juga terjadi dalam perebutan tanah seluas 9,4 ha di Kompleks Siliwangi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu silam. Sekelompok warga merubuhkan pagar yang dibangun Departemen Keuangan di sepanjang lahan kompleks tersebut. Mereka menuntut ganti rugi atas tanah yang telah dialihkan menjadi milik Depkeu [baca: Warga Kompleks Siliwangi Mengamuk]. Selain warga, Departemen Pertahanan dan Keamanan pun mengaku berhak atas tanah tersebut.

16/04/2002 03:53 Kasus Tanah Tanah Kampus Akan Dieksekusi Pengadilan, Mahasiswa Protes Liputan6.com, Makassar: Pengadilan Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, batal mengeksekusi tanah seluas 1,4 hektare yang terletak di areal 23 atau di kawasan Universitas Muhammadiyah. Sebab, hingga Senin (14/4) malam, gerbang Universitas Muhammadiyah diblokade ratusan mahasiswa dan dosen. Bahkan, sebagian mahasiswa membekali diri dengan berbagai senjata. Ini sebagai protes mereka atas vonis PN Makassar yang hendak mengeksekusi tanah tersebut. Aksi itu dilakukan para pengunjuk rasa sejak Senin pagi. Mereka menutup separuh badan jalan dengan meja, kursi, dan papan tulis. Mereka juga membentangkan spanduk dan menyebarkan famlet yang mengecam eksekusi tersebut. Mereka juga mengancam akan melawan jika eksekusi tetap dijalankan. Sebab, pengadilan dinilai menyalahi hukum karena mengeksekusi obyek yang salah. Padahal, tanah yang disengketakan terletak di persil 50 atau di belakang Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari. Atas dasar itulah, para demonstran menilai pengadilan tak berhak mengeksekusi tanah milik Universitas Muhammadiyah. Apalagi, di atas lahan itu, kini telah berdiri gedung administrasi, perpustakaan, dan perumahan dosen. Sebaliknya, PN Makassar menyatakan vonis itu sudah benar. Sebab, penggugat telah memenangkan kasus sengketa tanah tersebut di tingkat kasasi Mahkamah Agung. Itulah sebabnya, PN Makassar hanya menerbitkan SK eksekusi sesuai prosedur hukum. Lahan di kawasan UMM itu telah disengketakan sejak tujuh tahun silam.

01/04/2002 05:42 Kasus Tanah Sengketa Tanah Pemda Yogyakarta dan Warga Berlanjut Liputan6.com, Yogyakarta: Status sejumlah tanah dan bangunan di Umbulharjo, Yogyakarta, dinilai bermasalah. Atas dasar itulah, Pemerintah Daerah Yogyakarta melaporkan kasus ini ke polisi, para warganya yang terlibat penuntutan tanah bangunan Kantor Kecamatan Umbulhardjo, pekan keempat Maret kemarin. Pemda menuduh warga telah memalsukan sertifikat tanah seluas 2.159 meter persegi. Demikian pemantauan SCTV di Yogyakarta. Pengaduan pemda setempat telah resmi diserahkan ke Kepolisian Kota Besar Yogyakarta dengan membawa bukti berupa data kepemilikan dan serah terima tanah. Dalam waktu dekat, polisi mengaku akan memanggil kedua belah pihak untuk mengusut kasus perebutan tanah ini. Sebelumnya, sejumlah warga menggugat pemda setempat atas tuduhan penyerobotan tanah yang diklaim sebagai warisan keluarga. Berbekal sertifikat, warga telah berulang kali mensomasi Pemda Yogyakarta agar mengosongkan lokasi, paling lambat 1 April ini. Namun, sampai sekarang pemda mengabaikan somasi dan bersikeras meneruskan pembangunan kantor Kecamatan Umbulhardjo.(MTA/Wiwik Susilo dan Mardianto).

28/03/2001 12:44 Soal Sengketa Tanah Warga Banyumanik Menuntut Hak Atas Tanah Liputan6.com, Semarang: Ratusan warga Banyumanik, Jawa Tengah yang didukung mahasiswa berunjuk rasa ke markas Kodam IV Diponegoro, baru-baru ini. Mereka menuntut pengalihan hak milik atas tanah yang kini dihuni 300 kepala keluarga di desa mereka. Pengunjuk rasa kemudian diarahkan ke lokasi Gedung Olah Raga Kodam agar tidak mengganggu lalu lintas dan bisa berdialog. Menurut Asisten Logistik Kodam IV Diponegoro Kolonel TNI Kadaryanto, tanah yang sekarang ditempati warga adalah ganti rugi dari tanah bengkok Kelurahan Banyumanik dan Pudak Payung yang dibebaskan Kodam tahun 1962. Namun, Kodam sudah menyampaikan surat ke Markas Besar TNI Angkatan Darat karena tidak berwenang mengalihkan kepemilikan tanah itu. Kadaryanto menambahkan, Mabes TNI AD akan menyerahkan tanah tersebut kepada Pemerintah Daerah Semarang. Alhasil, yang berhak memberikan tanah ke warga, saat ini, adalah Pemda Semarang. Karena itu, ia meminta warga bersabar menunggu proses penyelesaian tanah. Kodam IV Diponegoro juga berjanji akan membantu warga mengurus tanah tersebut.(HFS/Solikun dan Yudi Sutomo).

23/12/2004 06:15 Sengketa Tanah Kantor BPN Makassar Digeledah Mahasiswa Liputan6.com, Makassar: Puluhan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas 45 Makassar, Sulawesi Selatan, yang bergabung dengan keturunan raja Gowa mendatangi Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat, baru-baru ini. Para demonstran menuntut BPN tak mengeluarkan data palsu terhadap beberapa tanah yang ada di Makassar. Di Kantor BPN, para demonstran sempat masuk ke ruang data dan menggeledah dokumen yang ada. Mereka bermaksud mencari data asli beberapa kasus tanah dari keturunan raja Gowa yang diadvokasi mahasiswa. Namun, karena data yang dicari tak ada, para mahasiswa kemudian menduduki Kantor BPN. Mereka menuntut Ketua BPN Makassar menunjukkan data tanah yang dicari. Aksi yang berlangsung selama dua jam ini membuat kegiatan di kantor tersebut terhenti. Demonstran membubarkan diri setelah pihak Sub Bagian Tata Usaha BPN Makassar menyatakan akan mengecek ulang di lapangan untuk mencocokkan data tanah. Para keturunan Raja Gowa juga sempat berunjuk rasa, sebulan silam. Sekitar 120 warga keturunan Raja Tallasa Gowa mengenakan pakaian adat dan menjalankan ritual adat sebagai klaim tanah tersebut milik mereka. Tanah yang diduduki adalah milik sebuah perusahaan.

29/10/2004 10:28 Kasus Tanah PN Jakpus Menyita Plaza Senayan Liputan6.com, Jakarta: Kompleks pertokoan Plaza Senayan (PS) di Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, disita Pengadilan Negeri Jakpus, Kamis (28/10). Penyitaan pusat perbelanjaan yang dibangun sejak 1995 ini dilakukan dengan pengambilan surat-surat berjalan. Pasalnya, pihak Plaza Senayan dianggap mengingkari beberapa pasal perjanjian yang pernah dibuat antara Sekretariat Negara selaku pemilik lahan dan PT Kajima Overseas Asia Pte. Ltd. selaku pengelola Plaza Senayan. Kuasa hukum Setneg, Faisal Syahminan menjelaskan pasal yang diingkari antara lain tidak membangun sarana hotel serta pembagian keuntungan yang tidak adil. "Pengaturan mengenai pengembangan [kompleks] itu merugikan negara, termasuk hal pemasukan yang diperoleh negara dalam pengaturan mengenai pengembangan ini," kata Faisal. Sebaliknya, PT Tajima membantah tuduhan melanggar pasal perjanjian dan mengaku terkejut karena penyitaan dilakukan tanpa ada pemberitahuan. Badan Pengelola Gelora Bung Karno--bagian dari Setneg--dan PT Senayan Trikarya Sempana serta partnernya dari Jepang, Kajima Overseas meneken perjanjian bisnis pengelolaan lahan di lingkungan Gelora Bung Karno pada 4 Juli 1989. Perjanjian itu antara lain mengatur bahwa Kajima wajib membangun wisma atlet dan kelak membiayai wisma ini. Sebagai imbalannya, Kajima Overseas memperoleh kompensasi berupa lahan seluas 20 hektare di areal Gelora Bung Karno. Untuk itu pula, Kajima Overseas memperoleh sertifikat hak guna usaha lahan tersebut selama 40 tahun. Tapi, tanah itu tak boleh dijual atau dijadikan jaminan pinjaman. Di tengah jalan, Badan Pengelola Gelora Bung Karno melihat itikad buruk pihak Kajima Overseas. Wisma Atlet yang dibangun oleh Kajima Overseas tak sesuai dengan yang dijanjikan. Selain itu, wisma dibangun dengan memakai uang hasil pinjaman dari sebuah perusahaan pembiayaan milik Kajima Overseas.(TNA/Erika pandjaitan dan Gatot Setiawan).

23/05/2007 18:47 Sengketa Tanah Haji Djuhri Mengajukan PK Kasus Meruya Liputan6.com, Jakarta: Kasus sengketa tanah di Meruya Selatan, Jakarta Barat, memasuki babak baru. Haji Djuhri, salah satu warga yang terlibat sengketa dengan PT Portanigra, mengajukan permohonan peninjauan kembali atau PK. Permohonan itu didaftarkan Djunaidi selalu pengacara Djuhri ke Pengadilan Negeri Jakbar, Rabu (23/5) siang. Dalam materi PK pihak Djuhri mengajukan 16 bukti baru (novum) yang menguatkan kliennya tidak melakukan tindakan pidana. Bukti baru itu antara lain adanya surat utangpiutang antara Djuhri dengan Direktur Utama PT Portanigra, Benny Purwanto Rahmat. Bukti lainnya adalah surat penghentian penyidikan dari kepolisian serta dugaan keputusan Mahkamah Agung yang asli tapi palsu. Sengketa tanah di Meruya Selatan memang menjadi perhatian banyak pihak. Di satu sisi karena menyangkut keputusan lembaga tertinggi peradilan yaitu MA. Di sisi lain kasus ini seolah mengindahkan rasa keadilan karena lokasi yang disengketakan kini ditinggali lebih dari 20 ribu warga yang sudah memiliki sertifikat.