You are on page 1of 9

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN DIARE PADA BALITA DI POLIKLINIK ANAK RSUD DR.

ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH Nanda Rizka1, Sulaiman Yusuf2, Nurjannah3


1

) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2) Bagian Anak Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 3)Bagian Family Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ABSTRAK

Diare di Indonesia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Tingginya angka kesakitan penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor resiko utama dan status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi angka kejadian diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan diare pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel yang diteliti adalah balita yang di bawa ke Polilkinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin selama 1 januari sampai 3 februari 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling dengan teknik accidental sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 52 balita. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat yaitu uji chi-square. Hasil analisis pada 0,05 dan Confidence Interval 95% menunjukkan bahwa nilai probabilitas (p)<0,05 (p=0,001) dengan Ratio Prevalence 2,495 artinya ada hubungan signifikan antara status gizi dengan diare pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dimana balita yang mempunyai status malnutrisi (gizi kurang dan buruk) mempunyai peluang 2,495 kali untuk mengalami diare dibandingkan dengan balita yang mempunyai status gizi normal (gizi baik). Diharapkan kepada orangtua untuk memperbaiki status gizi balita agar dapat melindungi balita dari serangan diare. Kata kunci: diare, status gizi, balita ABSTRACT Diarrhea is still being a main problem of communitys health in Indonesia. The high of mortality rate disease of diarrhea is caused by many risk factor and nutrient status is one of the risk factor that influence diarrhea. The study aims to determine the relationship of nutrient status and diarrhea at children under five in Child Polyclinic of District General Hospital dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. This study is the analytic observasional research with Cross Sectional design. The samples of this study were children under five who is brought to Child Polyclinic of District General Hospital dr. Zainoel Abidin during January 1 st until February 3rd 2012. Samples were taken by non probability sampling that was Accidental Sampling with the result that 52 sample of children under five is found. The analysis used bivariate analysis of chi-square test. The result in 0,05 and Confidence Interval 95% showed that the value probability (p)<0,05 (p=0,001) with Ratio Prevalence 2,495 means there is the significant relationship between nutrient status and diarrhea at children under five in Child Polyclinic of District

General Hospital dr. Zainoel Abidin Banda Aceh where children under five who has not enough nutrient status and bad, it lent it self to 2,5 times for getting diarrhea compared by children under five who has enough nutrient status. Lived in hope of parents to prepare children under five nutrient status in order to protect children under five from diarrhea attack. Key words : diarrhea, nutrient status, children under five PENDAHULUAN Diare kesehatan masih dunia menjadi terutama di masalah negara meliputi usia, jenis kelamin, penyapihan/Air Susu Ibu (ASI), dan status gizi. Faktor ibu meliputi tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, perilaku, dan kebersihan. Faktor lingkungan meliputi sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, dan jamban (Adisasmito, 2007). Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi angka kejadian diare (Palupi et al., 2009). Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya diare pada penderita malnutrisi antara lain, atrofi vilus usus halus, atrofi pankreas, penurunan daya tahan tubuh, serta gangguan absorbsi zat makanan. Diare juga juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya malnutrisi, antara lain disebabkan oleh, asupan makanan penderita diare menurun sebagai akibat dari kebiasaan ibu yang menghentikan makanan tertentu selama diare, adanya anoreksia (kehilangan nafsu makan), kebiasaan ibu mengencerkan susu selama anak diare, berkurangnya absorpsi zat makanan, kehilangan langsung zat makanan melalui usus dalam bentuk tinja, bertambahnya kebutuhan zat makanan oleh tubuh karena

berkembang (Adisasmito, 2007). Sampai saat ini diare merupakan penyebab kematian terbesar kedua pada anak di dunia terutama anak usia bawah lima tahun (Lukacik et al., 2007). Diare di Indonesia juga masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian anak terutama pada balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) (Adisasmito, 2007). KLB diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.756 orang, jumlah kematian sebanyak 100 orang atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 1,74%. Pada tahun 2008 proporsi kasus diare pada balita mencapai 44,5% yaitu dengan jumlah 58.116 kejadian sedangkan pada tahun 2007, 44,3%. (Kemenkes RI, 2009) Tingginya angka kesakitan penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor resiko utama yaitu faktor dari anak, faktor orangtua, dan lingkungan. Faktor dari anak

terjadi

peningkatan

katabolisme,

serta

balita dengan penyakit kronik. Sampel pada penelitian ini berjumlah 52 sampel. HASIL PENELITIAN Selama waktu penelitian mulai

kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah banyak (dehidrasi) dalam waktu yang relatif singkat (Palupi et al., 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan diare pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian in diharapkan dapat menjadi masukan dan rujukan tambahan bagi pihak terkait untuk perbaikan selanjutnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur status gizi balita oleh peneliti dan melihat diagnose balita pada rekam medik. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Zainoel Abidin Banda, yang dilaksanakan pada bulan Januari 2012. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita yang dibawa ke Bagian Anak RSUDZA Banda Aceh pada bulan Januari 2012. sedangkan sampel penelitian ini adalah balita yang memenuhi kriteria inklusi yaitu balita yang dibawa ke Bagian Anak RSUDZA yang kooperaif yang orangtuanya bersedia menandatangani inform consent dan tidak memenuhi kriteria eksklusi yaitu

tanggal 1 Januari sampai 3 Februari 2012 di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh didapatkan 127 balita yang dibawa ke Poliklinik Anak, dimana 52 ditetapkan sebagai sampel penelitian. Peneliti tidak setiap hari datang ke Poliklinik Anak disebabkan keterbatasan waktu karena menjalankan penelitian bersamaan dengan kegiatan akademik lainnya. Peneliti datang ke Poliklinik Anak selama 18 hari dalam waktu sebulan pada jam 10.00-12.00 WIB. Rincian sampel dengan kriteria eksklusi dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini : Tabel 4.1 Rincian Sampel dengan Kriteria Eksklusi No 1 2 3 4 Kriteria Eksklusi Penyakit Jantung Bawaan Thalassemia Epilepsi TB 12 11 4 Frekuensi (n) 48

A. Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

Kriteria sampel pada penelitian ini adalah balita yang berumur 0-5 tahun yang di bawa ke Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin. Karakteristik sampel berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Karakteristik Sampel Umur(bulan) 1-18 18-36 36-54 >54 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 30 22 57,7 42,3 16 13 21 2 30,8 25 40,4 3,8 Frekuensi (n) Persentase (%)

Abidin ini.

Banda

Aceh.

Hasil

penelitian

tersebut disajikan dalam Tabel 4.3 di bawah Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Diare Pada Balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh No 1 2 Diare Ada Tidak Total (Diolah: 2012) b. Status Gizi Hasil penelitian terhadap status gizi balita di Polikilik Anak dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dapat di lihat pada tabel 4.4 di bawah ini. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita di Poliklinik Anak dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
No 1 2 3 Status Gizi Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk Total Frekuensi (n) 33 13 6 52 Persentase (%) 63,5 25 11,5 100

Frekuensi (n) 20 32 52

Persentase (%) 38,5 61,5 100

Sumber: Data Sekunder dari Rekam Medis

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa distribusi karakteristik sampel berdasarkan umur terbesar pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh adalah balita yang berumur 36-54 bulan yaitu 21 balita (40,4%). Untuk distribusi karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin terbesar adalah balita berjenis kelamin laki-laki yaitu 30 balita (57,7%). A. Analisis Univariat a. Diare Data balita yang menderita diare diperoleh dari rekam medik balita yang di bawa ke Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel

B. Analisis Bivariat a. Hubungan Status Gizi dengan Diare

Analisa data dilakukan dengan tabel kontigensi 2x2 yaitu gizi normal(gizi baik) dan malnutrisi (gizi kurang dan gizi buruk). Hubungan antara status gizi dengan diare pada balita disajikan dalam bentuk tabel silang berikut ini. Tabel 4.5 Kejadian Diare Berdasarkan Status Gizi Pada Balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Status Gizi Normal Malnutrisi Total Ada 7 (21,2%) 13 (68,4%) 20 (38,5%) *RP : Ratio Prevalence Diare Tidak 26 (78,8%) 6 (31,6%) 32 (61,5%) 33 (100%) 19 (100%) 52 (100%) 0,001 2,495 Total P value RP*

mengalami diare lebih banyak dibandingkan balita yang mengalami diare. Jumlah balita yang tidak mengalami diare sebanyak 32 balita (64%) sedangkan balita yang mengalami diare sebanyak 18 balita (36,%). Pada penelitian ini persentase balita yang dibawa ke Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin sebagian besar tidak mengalami diare. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor protektif yang dapat melindungi balita dari diare. Salah satunya adalah status gizi yang baik pada balita (Adisasmito, 2007). b. Status Gizi Balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa balita yang dibawa ke Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sebagian besar mempunyai status gizi baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Palupi et al., (2009) bahwa balita yang memiliki status gizi baik lebih banyak dibandingkan dengan balita yang memiliki status gizi kurang dan buruk. Jumlah balita yang memiliki status gizi baik sebanyak 90 balita (66,7%), sedangkan balita yang mempunyai status gizi kurang sebanyak 21 balita (15,2%) dan balita yang mempunyai status gizi lebih sebanyak 19 balita (13,8%) serta balita yang mempunyai status gizi buruk sebanyak 6 balita (4,3%).

Analisa data pada tabel 4.5 diketahui bahwa nilai p=0,001, yang berarti ada hubungan antara status gizi dengan diare pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. PEMBAHASAN
A. Univariat a. Diare di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa balita yang tidak mengalami diare lebih banyak dari pada balita yang mengalami diare. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kamalia (2005) bahwa balita yang tidak

Persentase status gizi balita yang di bawa ke Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin sebagian besar memiliki status gizi baik. Menurut Palupi et al., (2009) balita yang memiliki gizi kurang dan buruk kemungkinan besar diakibatkan karena kesalahan dalam mengkonsumsi makanan. B.Bivariat Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa balita dengan malnutrisi cenderung mengalami diare. Hal ini sesuai dengan penelitian Palupi et al., (2009) dengan jumlah 121 balita yang hampir sepertiga balita yang memiliki gizi kurang menderita diare. Hal ini disebabkan gizi kurang akan mengganggu pembentukan kekebalan, mengganggu fungsi sel granulosit, dan mengurangi kadar komplemen sehingga mempermudah terjadinya kesakitan. Hasil uji statistik dengan Chi-Square pada 0,05 dan Confidence Interval (CI) 95% menunjukkan bahwa nilai probablitas (p) < 0,05 (p = 0,001). Ini berarti bahwa pada tingkat kemaknaan 95% terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan diare di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai RP:2,495 dan nilai 95% CI:1,2584,950, maka balita yang mempunyai status gizi normal mempunyai peluang 2,495 kali untuk tidak menderita diare.

Hasil pada penelitian ini juga sesuai dengan Hamisah (2011) yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan diare pada balita dengan OR =3,46 (CI 95% = 1,647-7,292) p value = 0,001 dimana balita yang mempunyai status gizi normal cenderung untuk tidak menderita diare. Menurut Suraatmaja (2007) pada penderita malnutrisi terdapat atrofi semua organ termasuk atrofi mukosa usus halus, mukosa lambung, hepar, dan pankreas. Akibatnya terjadi defisiensi enzim yang dikeluarkan oleh organ-organ tersebut (laktase, maltase, sukrase, HCl, tripsin, pankreatin, lipase dll) yang menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan sempurna. Makanan yang tidak diabsorpsi meningkat tersebut yang akan akan menyebabkan menyebabkan tekanan osmotik koloid di dalam lumen usus terjadinya diare osmotik. Selain itu juga akan menyebabkan overgrowth bakteri yang akan menambah beratnya malabsorpsi dan infeksi. Menurut Brewster et al., (2000) serangan diare pada penderita malnutrisi terjadi lebih sering dan lebih lama. Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang dialaminya. rentan Traktus terhadap gastrointestinal sangat

malnutrisi yang mengakibatkan kerusakan barrier mukosa sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Malnutrisi juga mengganggu produksi dan maturasi dari eritrosit baru sehingga merubah morfologi intestinal. Kerusakan mukosa usus dapat terjadi karena gangguan integritas mukosa usus yang banyak dipengaruhi dan dipertahankan oleh sistem imunologik saluran cerna serta regenerasi epitel usus, sehingga sistem imunologis saluran cerna patut diduga mempunyai peranan penting dalam proses diare di samping kemampuan regenerasi epitel usus. Akibat diare dapat terjadi kerusakan mukosa yang sering kali menimbulkan gangguan penyerapan

karbohidrat dan dekonjugasi garam empedu. (Karuniawati, 2010).


Zink berperan dalam menjaga integritas mukosa usus melalui fungsinya dalam regenerasi sel dan stabilitas membran sel. Pada diare akut dan persisten, pemberian zink memperbaiki permeabilitas usus yang mencerminkan derajat kerusakan usus (Karuniawati, 2010). Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan diare pada balita di Poliklinik Anak RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. 2. Balita yang mempunyai status gizi normal mempunyai peluang 2,495 kali untuk tidak mengalami dengan balita diare yang dibandingkan malnutrisi. Saran Berdasarkan hasil penelitian peneliti antara lain: 1. Kepada orangtua, diharapkan dapat memantau makanan yang dikonsumsi oleh balita dan memperbaiki status gizi, karena status gizi sangat berpengaruh yang telah dilakukan saran yang diberikan oleh

makanan yang serius. Keadaan ini mungkin diikuti oleh kerusakan mukosa usus yang terjadi secara lingkaran setan sehingga bergantian akan menimbulkan kerusakan mukosa usus yang berlanjut berupa pemendekan jonjot usus (vili intestinalis) dan permukaan kripte yang menyebabkan berkurangnya permukaan mukosa usus. Gangguan penyerapan makanan dapat disebabkan oleh kerusakan permukaan epitel mukosa usus sehingga timbul kekurangan enzim laktase, bakteri tumbuh banyak yang akan menimbulkan proses fermentasi

pada imun dan kekebalan tubuh dan apabila ditemukan adanya diare agar membawa ke puskemas atau rumah sakit terdekat. 2. Kepada petugas kesehatan harus selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengatasi dan menuntaskan diare. 3. Kepada profesi kedokteran, rekan-rekan yang berminat melanjutkan penelitian ini, agar dapat melakukan penelitian mengenai hubungan status gizi dengan diare hendaknya melakukan penelitian yang lebih luas bahasannya dan lebih banyak variabel yang akan diteliti. DAFTAR PUSTAKA Adisasmito, W. 2007. Faktor Risiko Diare pada Bayi dan Balita di Indonesia: Systemic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat. Makara Kesehatan 11 : 1-10 Asnil, P; Noerasid, H; Suraatmadja, S. 2003. Gastroenteritis Akut. Dalam: Suharyono, Boediarso Aswitha, Halimun EM (editors). Gastroenterologi Anak Praktis. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Hal 51-68 Brewster, D.R. 2000. Intestinal permeability in Protein-energy Malnutrition. In:zulfiqar Ahmed Bhutta, editor. Contemporary Issues in Childhood Diarrhoeaand Malnutrition. Oxford University Press. 126-79

Brown, K.H. 2003. Symposium : Nutrition and Infection, Prologue and Progress Since 1968. Diare and Malnutrition. J Nutr 133 : 328S-32S Hamisah, I. 2011. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare Akut pada Balita di Kabupaten Klaten. Tesis. Universitas Gajah Mada Kamalia, D. 2005. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Bayi Usia 1-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni I Tahun 2004/2005. Skripsi. Universitas Negeri Semarang Karuniawati, F. 2010. Pengaruh Suplementasi Seng dan Probiotik Terhadap Durasi Diare Akut Cair Anak. Tesis. Universitas Diponegoro Semarang Kemenkes RI . 2009. Profil Kesehatan Indonesia.http://www.depkes.go.id/ downloads /profilkesehatan2009/index.html?pag e number=70, [diakses pada : 29 Mei 2011] Lukacik, M; Ronald, L; Thomas; Jacob, V.A. 2007. A metanalysis of the effect of oral zinc in the treatment of acute and persistent diarrhea. Diunduh dari: http://www.pediatrics.org/cgi/conten t/full/121/2/326, diakses tanggal 2410-2010 Palupi, A; Hadi, H; Soenarto, S.P. 2009. Status Gizi dan Hubungannya dengan Kejadian Diare pada Anak Diare Akut di Ruang Rawat Inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia 6 : 17

Suraatmaja, S. 2007. Gasroenterologi Anak. CV. Sagung Seto. Jakarta. Hal 1-10