You are on page 1of 2

Merajalelanya Keserakahan

14 OKTOBER 2008 - 12:40 WIB


AJ Susmana

Indonesia negeri kaya raya baik dalam kekayaan alam maupun nilai-nilai sosial budaya. Tak heran, segudang ajaran moral dan spiritualitas pun mewarnai kehidupan rakyatnya. Ramah tamah dan sikap religius penduduknya sering ditampilkan sebagai karakter utama dalam pergaulan internasional. Puncak dari kerohanian rakyat Indonesia ini disimpulkan dalam sila-sila Pancasila, yang juga diperkenalkan Bung Karno dan tokoh-tokoh bangsa lainnya di forum-forum internasional. Dengan kondisi alam dan spiritualitas seperti itu tak mungkinlah Indonesia terpuruk terus-menerus dalam kubangan kemiskinan dan kesengsaraan. Sudah seharusnyalah rakyat Indonesia menemukan kebahagiaan dalam limpahan rahmat Tuhan. Namun, lagi-lagi harapan untuk itu sepertinya masih jauh, melihat tingkah-polah serakah pejabat negeri. Tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri ini. Kemiskinan dan kesengsaraan merajalela. Hukum dipermainkan untuk kepentingan diri dan dengan cara mempermainkan hukum pula, kekayaan negara dirampok dan dijarah untuk kepentingan diri pula. Seakan tak ada upaya keras dari orang-orang yang notabene dipercaya rakyat untuk setidaknya memperjuangkan penghapusan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat; menolak korupsi dan bersungguh setia dengan jabatan dan menjadi orang baik seperti yang dimengerti rakyat kebanyakan. Yang ada sepertinya keserakahan merajai di tengah penderitaan dan kemiskinan yang melanda rakyat.
Terungkapnya tindak korupsi oleh yang terhormat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, baik di pusat maupun daerah serta yang tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi-KPK, terlebih kasus Bulyan Royan yang tak begitu lama jarak waktunya dengan kasus Al Amin Nasution dan kasus penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan serta pengakuan Agus Condro akan adanya penyuapan pada pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, membuat kita terhenyak dan percaya betapa memang tak bermoral dan serakahnya para pejabat negara seperti Gossip Jalanan yang dinyanyikan Slank. Betapa mengagetkan pula ketika lembaga Negara yang sebelumnya adem ayem seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun tak luput dari penyuapan. Tak adakah payung etis, yang melindungi hati para pejabat? Toh, setidaknya mereka juga dibekali etika jabatan, sumpah jabatan dan ajaran-ajaran moral maupun agama?

Situasi yang memusingkan rasa dan pikiran etis ini mengingatkan pada roman karya pejuang Philipina, Jose Rizal, berjudul El Filibusterismo, yang juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Merajalelanya Keserakahan dan diterbitkan Pustaka Jaya tahun 1994. Roman ini berkisah tentang keserakahan dan kesewenang-wenangan penjajah Spanyol yang setidaknya juga dibantu beberapa kalangan agamawan yang membuat rakyat Filipina makin miskin dan sengsara. Tapi kemiskinan rakyat, ternyata tak menumbuhkan perlawanan yang berkobar. Rakyat justru semakin apatis melihat keserakahan merajalela. Di samping itu kerusakan moral rakyat pun meluas: perampokan dan tindakan kriminalitas lainnya terjadi di mana-mana seiring dengan kekuasaan yang semakin tak bermoral dan serakah. Walau begitu di El Filibusterismo masih ditunjukkan oleh

Jose Rizal, bagaimana seorang yang serakah, Simoun, bisa menjadi seorang patriotis. Ia bertindak serakah untuk mengumpulkan dana melawan penjajah Spanyol dan berharap agar rakyatnya yang makin sengsara akibat merajalelanya keserakahan itu bangkit melawan penjajah Spanyol, sumber keserakahan dan kerusakan moral yang sebenarnya. Etika memang bukanlah patokan hukum. Ia usaha mencari kebenaran baik dan buruk dengan terus mempertanyakan prinsip-prinsip kebaikan dan keburukan yang berlaku dalam (sejarah) masyarakat. Ia sebatas pemahaman nilai-nilai etis atau moral yang ada dan yang mungkin berkembang atau hilang dalam perkembangan masyarakat karena dianggap sudah ketinggalan jaman. Karena itu, perkembangan dan pergulatan etis tidaklah konservatif, tapi progresif bersamaan perkembangan kondisi riil masyarakat. Pergulatan etis inilah yang akan mempengaruhi dasar-dasar hukum positif. Bagi para koruptor dan masyarakat umum, etika kedengaran absurd. Karenanya para pelanggar etis pun hanya akan sering mendapatkan sanksi moral dari komunitas atau masyarakatnya. Bagaimanapun penanganan terhadap koruptor, haruslah diletakkan pada hukum positif. Bila tak ada efek jera, berarti hukuman yang dijatuhkan pada koruptor tersebut belum efektif. Memang sangat susah memberantas korupsi sampai hilang tuntas di tengah banyak ketimpangan sosial dan ekonomi. Karenanya tak jarang isu korupsi pun menjadi bagian perdebatan politis. Harapan yang riil dalam situasi seperti ini adalah dengan hukuman yang semakin berat bagi koruptor, budaya korupsi pun sedikit demi sedikit menghilang, tak mewabah dan semakin meniada.
2009 VHRmedia.com