Вы находитесь на странице: 1из 14

BAB 3

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


A. Latar Belakang Perkembangan masya rakat dunia yang semakin cepat secara langsung ataupun tidak langsung men gakibatkan perubahan besar pada berbagai bangsa di dunia. Gelom bang b esar kekuatan internasional dan transnasional mel alui globalisasi telah mengancam, bahkan men gasai eksistensi Negara-negara kebangsaan, termasuk Indonesia. Akibat yang langsung terlihat ada lah terjadinya pergeseran nilai- nilai dalam kehidu pan kebangsaan karena ada nya perbenturan kepentingan antara nasionalisme dan internasionalisme. Permasalahan kebangsaan dan kene garaan di Indonesia menjadi semakin kompleks dan rumit manaka la ancaman internasional yang terjadi di satu sisi, pada sisi yang lain muncul masalah internal, yaitu maraknya tunttan rakyat, yang secara objektif men galami suatu kehid upan yang jauh da ri kesejahteraan dan keadi lan sosial. Paradoks antara kekuasaan global dengan kekua saan nasional ditambah komplik internal seperti gamba ran di atas, men gakibatkan suatu tarik menarik kepentingan ya ng secara langsung men gancam jati diri bangsa. Ni lai- nilai baru yang masuk, baik secara sujektif maupun objektif, serta terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat yang pada akhirnya mengancam-prinsip-prinsip hidup berbangsa masyarakat Indonesia. Prinsip dasar yang telah dit emukan ole h pele tak dasar (The founding fathers) Negara Indonesia yang kemudian dia bstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat bernegara, itulah pancasila. Den gan pemaha man demikian, maka pancasila sebagai filsafat hid up ba ngsa Indonesia saat ini men galami ancaman dengan munculnya nilai nilai ba ru da ri nuar dan pergeseran nilai- nilai yang terjadi. Secara ilmiah harus disada ri bahwa suatu masya rakat suatu bangsa, senantiasa memel iki suatu pandangan hidup atau filsaat hid up masing-masing, yang berbeda d engan bangsa lain didunia. Inilah yang disebut sebagai local genius (kecerdasan/kreatifitas lokal) dan sekaligus sebagai local wisdom (kearifan local) bangsa. Den gan demikian, bangsa Indonesia tidak mungkin mem iliki kesamaan pandangan hidup dan filsafat hidup dengan bangsa lain. Ke tika para pendiri Negara Indonesia men yiapkan berdirinya N egara Indonesi merdeka, me reka sadar sepenuhnya untuk men jawab suatu pertanyaan yang funda men tal di atas dasar apa kah Negara Indonesia merdeka ini didirikan? jawaban atas pertanyaan men dasar ini akan selalu menjadi da sar dan tolak

Buku Ajar PENDIDIKAN

18

ukur uta ma ba ngsa ini meng-Indonesia. Den gan kata lain, jati diri bangsa selalu bertolak ukur pada nilai- nilai pancasila sebagai filsafat bangsa. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikat nya me rupakan sistim filsafat. Pemaha man demikian meme rlukan pengkaj ian lebih lanjut men ya ngkut aspek ontology, epistemology, dan aksiolo gi dari kelima sila pancasila. B. Ruang Lingkup Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakekat nya me rupakan system filsafat. Pemaha man demikian meme rlukan pengkaj ian lebih lanjut men ya ngkut aspek ontology, epistemolo gy dan aksiolo gi da ri kelima sila pancasila. Adapun istilah ku nci : 1. Filsafat: Secara etimolo gis cinta akan kebijaksanaan, tapi da pat pula diartikan sebagai keinginan yang sungguh- sungguh untuk mencari kebenaran yang sejati. 2. Filsafat Pancasila: Ke benaran dari sila-sila Pancasila sebagai dasar negara atau dapat pula dia rtikan bah wa Pancasila me rupakan satu kesatuan sistem ya ng utuh dan logis. 3. Kewarganegaraan: pengetahuan tertentu. men genai warga negara di suatu negara keberadaan

4. Ontologi: Bidang filsafat yang mem bahas t entang hakikat sesuatu dan men cari hakikat men gapa sesuatu itu ada.

5. Epistemologi: Bidang filsafat yang mem bahas hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu tentang ilmu. 6. Aksiolo gi : Bidang filsafat yang mem bahas tentang hakikat nilai atau filsafat yang mem bahas nilai praksis dari sesuatu. 7. Ni lai : Segala sesuatu yang berguna atau berharga bagi manusia. 8. Jati diri bangsa : Ke pribadian bangsa yang menjadi identitas nasional. 9. Globalisasi : Proses men dunia menjadi keadaan akibat kemajuan teknolo gi informasi 10. Internasionalisasi: Upaya hegemon i permasalahan internasional. negara tanpa bat as antarnegara maju mel alui isu dan

11. Na sionalisme : Paham k ebangsaan yang dia nut ole h suatu negara. 12. Sistem : Suatu kesatu an ya ng utuh dan tidak bisa dipisahpisahkan di antara sub- sub sistem 13. Kausa materialis : Suatu kajian filsafat Aristotelcs yang mem bahas tentang sebab material dari sesuatu.

Buku Ajar PENDIDIKAN

19

14. Kausa- finalis: Suatu kajian filsafat Aristotele s yang mem bahas tentang sebab final dari sesuatu. Kausa efisiensi: Suatu kajian filsafat Aristoteles yang mem bahas tentang pelaku dari ada nya sesuatu 15. Kausa forma: Suatu kajian bentuk da ri ada nya sesuatu. filsafat Aristotele s ya ng mem bahas tentang

16. Founding Fathers: Para pendiri negara yang merumuskan Pancasila dan UUD 194 5 dalam mem persiapkan Indonesia merdeka. 17. Local Genius: Kreatifitas lokal yang keunggulan kompetitif. 18. Local Wisdom: Ke arifan lokal yang hid up dan mem bentuk sikap bij ak dalam suatu masyarakat.

PEMBAHASAN A. Pengertian Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani philein yang b erarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat men urut asal kata nya b erarti cinta akan kebijaksanaan, atau men ci ntai keben aran / pengatahu an. Cinta dalam hal ini mem punyai arti yang seluas-luasnya, yang dapat dikemukakan sebagai keinginan yang men ggebu dan sungg uh-sungguh terhadap sesuatu, sedangkan kebijak sanaan dapat diartikan sebagai k ebenaran yang sejati. Den gan demikian, filsafat secara sederhana dapat diartikan sebagai keinginan yang sungguhsungguh untuk men cari kebenaran yang sejati. Filsafat merupakan induk da ri ilmu pen getahuan men urut J . Gredt dalam buku nya elementa philosophiae, filsafat sebagai ilmu pengetahuan ya ng timbul dari prinsipprinsip men cari sebab musabab nya yang terdalam. a. Filsafat Pancasila Men urut Ruslan Abdul Gani, bahwa pancasila me rupakan filsafat N egara yang lahir collective ideologie (cita-cita bersama). Dari seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan sebagai filsafat, karena pancasila me rupakan hasil perenungan jiwa yang men dalam yang di lakukan ole h the founding father bangsa Indonesia, kemudian ditua ngkan dalam suatu system yang tepat. Adapun menurut Notonagoro, filsafat pancasila mem beri pengetahuan dan pengertian ilmiah, yaitu tentang hakikat pancasila. b. Karakteristik Sistem Filsafat Pancasila Sebagai filsafat, pancasila mem iliki ka rasteristik system filsafat tersen diri yang berbeda dengan filsafat lainn ya, di antaranya:

Buku Ajar PENDIDIKAN

20

1. sila-sila pancasila me rupakan satu kesatuan sistim yang bu lat dan utuh (sebagai suatu totalitas). Den gan pengertian lain, apabi la tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila lainnya terpisah-pisah, maka i tu bukan pancasila. 2. susunan pancasila d engan suatu sistim yang bulat dan utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut Sila 1, meliputi, mendasari, dan menjiwa: sila 2, 3, 4, dan 5. Sila 2, diliputi, didasari, dan diji wai sila 1, serta men dasari dan mcnjiwai sila 3,4, dan 5. Sila 3, diliputi, didasari, dan dij iwai sila 1, 2, serta men dasari dan menjiwa; sila 4 dan 5. Sila 4, diliputi, didasari, dan dij iwai sila 1, 2, dan 3, serta men dasari dan men jiwai sila 5. Sila 5, diliputi, didasari, dan diji wai sila 1, 2, 3, dan 4. Pancasila sebagai suatu substansi, artinya unsur asli/permanen/primer Pancasila sebagai suatu yang ada mandiri, yang unsur-unsurnya berasal dari di rinya sendiri. Pancasila sebagai suatu realitas, artinya ada da lam di ri manusia Indonesia dan masyarakatnya, sebagai suatu kenyataan hidup bangsa, yang tumbuh , hidup, dan berkembang da lam kehidu pan sehari-hari. c. Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila Pancasila ditinjau dari Kausalitas Aristotele s dapat dij elaskan sebagai berikut: 1) Kausa Materialis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan materi/bahan, dalam hal i ni Pancasila digali dari nilai- nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri; . 2) Kausa Formalis, maksudnya sebab yang berhubu ngan dengan bentuknya, Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD '45 memen uhi syarat formal (kebenaran formal); 3) Kausa Efisiensi, maksudnya kegiatan BPUPKI dan PPKI da lam men yusun dan me rumuskan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka; serta 4) Kausa Finalis. maksudnya berhubungan dengan tujuann ya, yai tu tujuan diu sulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi: 1) 2) 3) 4) Tuh an, yaitu sebagai kausa prima; Manusia, yaitu makh luk indi vidu dan makh luk sosial; Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri; Rakyat, yaitu uns ur mut lak negara, harus bekerja sama dan hergotong royong; serta

Buku Ajar PENDIDIKAN

21

5) Adil, yaitu mem berikan keadi lan kepada diri sendi ri dan orang lain yang menjadi haknya. d. Hakikat Nilai-Nilai Pancasila Ni lai ada lah suatu ide atau konsep tentang apa ya ng seseorang pikirkan yang me rupakan hal yang penting dalam hidupnya. Ni lai dapat berada di dua kawasan : kognitif dan afektif. Ni lai adalah ide, bisa di katakan konsep dan bisa dikatakan abstraksi (Sidney Simon: 1986). Ni lai me rupakan ha! yang terkandung dalam hati nurani manusia yang lebih mem beri dasar dan prinsip akh lak yang me rupakan standar dari keindahan dan efisiensi atau keutuhan kata hati (potensi). Langkah-langkah awal da ri "nilai" adalah seperti halnya ide manusia yang me rupakan potensi pokok human being. Ni lai tidak lah tampak da lam dunia pengalaman. Dia nya ta dalam jiwa manusia. Dalam ungkapan lain, ditegaskan ole h Sidney B. Simon (1986) bah wa sesungguhnya yang dimaksud dengan nilai ada lah jawaban yang jujur tapi benar da ri pertanyaan "what you are really, really, really, want. " Studi tentang nilai termasuk dalam ruang lingkup estetika dan etika. Estetika cenderung pada studi dan justifika si yang men yangkut tentang manusia mem iki rkan keindahan, atau apa yang me reka senangi. Misalnya, mem persoalkan atau men ceritakan si rambut panjang, pria pemakai antinganting, nyanyia nnyanyian bising, dan b entuk-b entuk scni lain. Adapun etika cenderung pada studi dan justifikasi tentang atu ran atau ba gaimana manusia berperilaku. Ungkapan etika sering timbul dari pertanyaa n-pertanyaan yang mem perten tangkan antara benar dan salah, baik dan buruk. Pada dasarnya studi tentang etika merupakan pelajaran tentang mo ral yang secara langsung me rupakan pemaha man tentang apa itu benar dan salah. Bangsa Indonesia sejak awal men di rikan negara, berkon sensus untuk memegang dan men ganut Pancasila sebagai sumber inspirasi. nilai, dan moral bangsa. Kon sensus bahwa Pancasila sebagai anutan untuk pengembangan nilai dan - mo ral bangsa ini secara ilmiah filosofis me rupakan pemufakatan yang normatif. Secara epistemolo gis bangsa Indonesia punya keyaki nan bahwa nilai dan moral yang terpancar dari asas Pancasila i ni sebagai suatu hasil sublimasi, serta kristalisasi dari sistem nilai budaya ba ngs a dan agama yang seluruh nya bergerak vertikal, juga horizontal serta dinamis da lam kehidu pan masyarakat. Selanjutnya, untuk menyinkronkan dasar filosofis-id eolo gis menjadi wujud jati di ri bangsa yang nyata dan konsekuen secara aksiologis, bangsa dan negara Indonesia ^berkehendak untuk mengerti, menghayati, membudayakan, dan mel aksanakan Pancasila. Upaya i ni dik embangkan mel alui jalur keluarga, masyarakat, dan sekolah. Buku Ajar PENDIDIKAN

22

Refleksi filsafat yang dik embangkan ole h Notonagoro untuk me nggali nilainilai abstrak. hakikat nilai- nilai Pancasila, ternyata kemudian dijadikan pangkal tolak pelaksanaannya yang berwujud konsep pengamalan yang bersifat subj ektif dan objektif. Pengamalan secara cbjektif ada lah pengamalan di bidang kehidu pan kene garaan atau kemasyarakatan, yang penjelasannya berupa suatu perangkat ketentuan hukum yang secara hierarkis berupa pasal-pasal UUD, Ke tetapan MPR, Undang-undang Organik, dan peratu ran-peratu ran pelaksanaan lainn ya. Pengamalan secara s ubjektif adalah pengamalan yang dilakukan ole h manusia individual, baik sebagai pr ibadi maupun sebagai warga masyarakat ata upun sebagai peme gang kekuasaan, yang penjelmaannya berupa tingkah laku dan sikap dalam hidup sehari-hari. Ni lai- nilai yang bersumber da ri hakikat Tuhan, manusia, satu rakyat, dan adil dijabarkan menjadi konsep Etika Pancasila, bah wa hakikat manusia Indonesia ada lah untuk mem iliki sifat dan keadaan yang berperi Ke tuha nan Yang Maha Esa, berperi Kemanusiaan, berperi Kebangsaan, berperi Kerakyatan, dan berperi Ke adi lan Sosial. Konse p Filsafat Pancasila dijabarkan menjadi sistem Etika Pancasila yang bercorak normatif. Ciri atau karakt eristik berpikir filsafat adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) sistematis, mendalam, mendasar, analitis, komprehensif, spekulatif. representatif, dan evaluatif.

Caba ng-caba ng filsafat meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Epistemologi (Filsafat Pengetahu an), Etika (Filsafat Moral), Estetikaf Filsafat Seni), Me tafisika (membicarakan tentang segala sesuatu di balik yang ada), Politik (Filsafat Pemerintahan), Filsafat Agama, Filsafat Ilmu, Filsafat Pendidikan, Filsafat hukum, Filsafat Sejarah, Filsafat Matematika, dan Ko smolo gi (membicarakan tentang segala sesuatu ya ng ada yang teratur).

Buku Ajar PENDIDIKAN

23

Al iran Filsafat meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Rasionalisme Idealisme Positivisme Eksistensialisme Hedonisme Stoisme Marxisme Realisme Materialisme Utilitarianisme Spiritualisme Liberalisme

e. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Bangsa Indonesia Pancasila sebagai sesuatu yang ada, maka dapat dikaji secara filsafat (ingat objek material filsafat ada lah segala yang a da), dan untuk men getahui bahwa Pancasila sebagai system filsafat, maka perlu dijabarkan tentang syarat-syarat filsafat t erhadap Pancasila tersebut, jika syarat-syarat system filsafat cocok pada Pancasila, maka Pancasila me rupakan system filsafat, tetapi jika tidak maka bukan system filsafat. Sebaimana suatu logam dikatakan emas bila syarat-syarat emas terdapat pada logam tersebut. Penjaba ran filsafat terhadap Pamcasila : 1) Objek mungkin yaitu ada yang ada, 1. 2. 3. 4. 5. filsafat : yang pertama objek material adalah segala yang ada dan ada. Objek yang demikian ini dapat digolon gkan ke dalam tiga hal, Tuh an, ada manusia, dan ada alam semesta. Pancasila ada lah suatu sebagai dasar negara rumusannya jelas yaitu :

Ke -Tuha nan Y.M.E. Kem anusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Ke rakyatan yang dipimpin dalam permusyawaratan/perwakilan Ke adi lan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari rumusan i ni maka objek yang did apat adalah: Tuh an, manusia, satu, rakyat, dan adil. Dan dari kelima objek itu dapat dipersempit lagi ke dalam tiga saja, yaitu Tuh an, manusia dan alam seme sta untuk me waki li objek satu, rakyat, dan adil, sebab hal-hal yang bersatu, rakyat dan k eadi lan itu berada pada alam seme sta itu sendiri. Den gan demikian dari segi objek material Pancasila dapt diterima.

Buku Ajar PENDIDIKAN

24

Kedua, objek formal filsafat ada lah hak ikat dari segala sesuatu yang ada itu sendiri. Apakah Pancasila juga kajian hakikat? Kalau men ilik dari kelima objek kelima sila Pancasila itu, semuanya tersusun atas kata dasar dengan tambahan awalan ke/per dan akhiran an. M urut ilmu bahasa, jika suatu kata dasar en dib eri awalan ke atau per dan akhi ran an, maka akan menjadi abstrak (bersifat abstrak) benda kata dasar tersebut, lebih dari itu menunjukk an sifat hakikat da ri bendanya. Misalnya kemanusiaan, maknanya ada lah hakikat abstrak dari manusia itu sendiri, yang mutlak, tetap dan tidak berubah. Dem ikian juga dalam sila-sila Pancasila ya ng lainn ya, yaitu Ke-Tuh anan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Khusus u ntuk persatuan, awalan per menunjukkan suatu proses menuju ke awalan ke yang nantinya diha rapkan menjadi kesatuan juga. Dengan analisis penjabaran ini, maka Pancasila memen uhi syarat juga dalam hal objek formalnya. 2) Met ode filsafat : me tode filsafat adalah kontemplasi atau perenungan atau berfikir untuk mene mukan hakikat. Jadi di sini bukan berfikirnya, tetapi cara menem ukan hakikat, atau me tode menem ukan hakikat. Secara umum ada dua dan tiga d engan me tode campuran, yaitu me tode analisa, me tode sintesa serta me tode analisa dan sintesa (analiticosyntetik). Demikian juga Pancasila, ia temuikan dengan cara-cara tertentu dengan metode analisa dan sintesa, nilai- nilainya digali dari buminya Indonesia. 3) Sistem filsafat : setiap ilmu maupun filsafat dalam dirinya me rupakan suatu system, artinya me rupakan suatu kebulatan dan keutuhan tersendiri, terpisah dengan system lainn ya. Misalnya psykh olo gi me rupakan kebulatan tersendiri terpisah dan berbeda dengan anthropologi, demikian seterusnya ilmu-i lmu dan filsafat yang lain. Pancasila sebagai suatu Dasar Negara adalah me rupakan suatu kebulatan. Mem ang t erdi ri da ri lima, tetapi sila-sila tersebut saling ada hubu ngann ya satu dengan lainnya secara keseluruhan, tidak ada satupun sila yang terpisah dengan yang lainn ya. Ole h ka rena itu da pat dii stilahkan Eka Pancasila, lima sila dalam satu kesatu an yang utuh . Setiap sila mengandung, dibat asi dan disifati ole h keem pat sila lainnya. Sila-sila yang di depan men dasari dan men jiwai sila-sila yang di belakang, sedang silasila yang di belakang me rupakan pengkhususan atau bentuk realisasi dari silasila yang di depan, dan da ri segi keluasannya sila-sila yang di belaka ng lebih sempit dari sila-sila yang di muka. Dilihat da ri pemaha man ini, maka sila pertama ke-Tuha nan Y.M.E., ada lah dasar yang paling umum bagi semua sila yang di belakang, mendasari, dan men jiwai sem ua sila, sedang semua sila yang kelima me rupakan sila yang terkhusus dan me rupakan tujuan da ri semua sila yang di depan, ole h karena itu rumusannya (redaksinya) berbunyi untuk mewujudkan keadi lan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Buku Ajar PENDIDIKAN

25

4) Sifat uni versal filsafat : Berlaku umum adalah sifat dari pengetahuan ilmiah, dan universal ada lah sifat dari kajian filsafat. Pengertian umum itu bertingkat, da ri umum penjumlah ya ng kecil (kolektif) da ri sekumpulan jumlah tertentu sampai jumlah yang lebih besar dan luas lagi hingga k epada umum seumumumumn ya (universal). Bagaimana jika dit erapkan pada Pancasila? Misalnya kajian tentang hakikat manusia, sebagaimana terdapat dalam sila ke dua Pancasila. Haki kat manusia adlah unsur-unsur dasar ya ng mutlak pada manusia ada lah sama bagi seluruh jenis makhluk yang namanya manusia, yang berada di manapun dan waktu kapanpun, jadi pengertian ini (universal) tidak terbatas pada ruang dan waktu, di mana dan ka panpun manusia itu berada. Sila keadi lan demikian juga, bahwa yang namanya adil itu sama hakikatnya maknanya di manapun dan k apanpun, demikian juga berlaku pada sila-sila yang lainn ya. Den gan uraian yang me rupakan penjabaran dari syarat-syarat filsafat yang ternyata cocok dit erapkan kepada Pancasila, ini menunjukk an dan men gukuhkan bahwa Pancasila b enar-benar suatu system filsafat. Yaitu Sistem Filsafat Bangsa Indonesia, nama Indonesia ini dita mbahkan karena objek materialnya seperti t elah diuta rakan di muka ada lah dari bangsa Indonesia sendiri. Yaitu digali da ri buminya Indonesia, dari nene k mo yang kita sejak lama, da ri kha sanah kehidupann ya, dari kebiasaann ya, adaptistiadatnya, kebudayaann ya, serta kepercayaan dan agama-agamanya. B. Kajian Ontologis Secara ontolo gis kaji an Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk men getahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. M urut Notonagoro en hakikat dasar ontolo gis Pancasila adalah manusia. Mengapa?, ka rena manusia me rupakan subj ek hukum pokok dari sila-sila Pancasila. Hal ini dapat dij elaskan bahwa yang berketuha nan Yang Maha Esa, berkemanusian yang adil dan beradab, berkesatuan Indonesia, berkerakyatan yang di pimpin ole h hikmah kebija ksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadi lan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pada hak ika tnya adalah manusia (Kaelan, 2005 ). Den gan demikian. secara ontolo gis hakik at dasar keberadaan dari silasila Pancasila ada lah manusia. Untuk hal ini. Notonagoro lebih lanjut mcngemukakan bahwa manusia sebagai penduku ng pokok sila-sila Pancasila secara ontolo gis mem iliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa, serta ja smani dan rohani. Selain itu, sebagai makhluk individu dan sosial, serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Ole h ka rena itu, secara hierarkis

Buku Ajar PENDIDIKAN

26

sila pertama Ke tuha nan Yang Maha Esa me ndasari dan men jiwai keem pat silasila Pancasila (Kaelan, 2005 ). Selanjutnya, Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia memiliki susunan lima sila yang me rupakan suatu persatuan dan kesatuan, serta mem punyai sifat dasar kesatuan yang mutlak, yaitu b erupa sifat kodrat monodualis, sebagai makh luk individu sekaligus juga sebagai makh luk sosial. Di samping itu, keduduka nnya sebagai makhluk pribadi ya ng berdiri sendiri, sekaligus sebagai makhluk Tuh an. Konsekuensmya, segala aspek dalam penyelen gg araan negara diliputi ole h nilai-nilai Pancasila yang merupakan suatu kesatuan yang utuh ya ng mem iliki sifat dasar yang mutlak berupa sifat kodrat manusia yang mono dua lis tersebut. Kemudian, seluruh nilai- nilai Pancasila tersebut menjadi dasar rangka dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti bah wa dalam setiap aspek penyelen ggaraan negara ha rus dijabarkan dan bersumberkan pada nilai-nilai Pancasila. seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara, tugas/kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara, mo ral negara, serta segala aspek penyelen ggaraan negara lainn ya. C. Kajian Epistemologi Kajian epistemolo gi filsafat Pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk men cari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Hal ini dimungkinkan karena epistemolo gi me rupakan bida ng filsafat ya ng membahas hakikat ilmu pengetahuan (ilmu tentang ilmu). Kajian epistemolo gi Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Ole h karena itu, dasar epistemolo gis Pancasila sangat berkai tan erat dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Men urut Titus (1984:20) terdapat epistemologi, yaitu: tiga persoalan yang men dasar dalam

a. tentang sumber pengetahuan manusia; b. tentang teori kebenaran pengetahuan manusia; serta c. tentang watak pengetahuan manusia. Epistemologi Pancasila sebagai suatu objek kajian pengetahuan pada hakikatnya mel iputi masalah sumber pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahu an Pancasila. Adapun tentang sumber pengetahuan Pancasila. sebagaimana telah di paha mi bersama, adalah nilai- nilai yang ada pada bangs a Indonesia itu sendiri. Merujuk pada pemiki ran filsafat Aristoteles, bahwa nilainilai tersebut sebagai kausa material is Pancasila. Selanjutnya, susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan maka Pancasila mem iliki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti dari dari sila-sila Pancasila ifu. Susunan Buku Ajar PENDIDIKAN

27

kesatuan sila-sila Pancasila ada lah bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal, yaitu: a. Sila pertama Pancasila men dasari dan men jiwai keem pat sila lainn ya; b. Sila kedua did asari sila pertama serta men dasari dan men jiwai sila ketiga, keempat. dan kelima; c. Sila ketiga did asari dan diji wai sila pertama dan kedua, serta men dasari dan men jiwai sila keem pat dan kelima; d. Sila keem pat did asari dan diji wai sila pertama, kedua, dan ketiga, serta men dasari dan men jiwai sila kelima; serta e. Sila kelima dida sari dan diji wai sila pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Demikianlah. susunan Pancasila mem iliki sistem logis, baik yang menyangkut kua litas maupun kuantitasnya. Dasar-dasar rasional logis Pancasila juga men ya ngkut kua litas atau pun kuantitasnya. Selain itu, dasar-dasar rasional logis Pancasila juga men yangkut isi arti sila-sila Pancasila tersebut. Sila Ketuh anan Yang Maha Esa member! landasan kebcnaran pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi. Ke dud ukan dan kodrat manusia pada hakikatnya ada lah sebagai makh luk Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, sesuai dengan sila pertama Pancasila, epistemolo gi Pancasila juga men gakui kcbenaran wahyu yang bersifat mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebcnaran yang tertinggi: Selanjutnya, kebenaran dan pengetah uan manusia me rupakan suatu sintesis yang ha rmon is di antara potensi-potensi kejiwaan manusia, yai tu akal, rasa, dan kehendak manusia untuk men da patkan kebenaran ya ng tertinggi. Selain itu, dalam sila ketiga, keempat, dan kelima, epistemolo gy Pancasila men gakui kebenaran konsensus t eruta ma dalam kaita nnya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai makh luk individu dan makh luk sosial.Sebagai suatu paham epistemologi, Pancasila mem andang bah wa ilmu pengetahuan pada hakikat nya tid ak bebas nilai ka rena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta mo ralitas religius da lam upaya untuk men dapatkan suatu tingkatan pengetahuan da lam h idup manusia. Itulah sebab nya Pancasila secara epistemolo gis harus menjadi dasar mo ralitas bangsa dalam membangun perkembangan sains dan teknolo gi dewasa ini. D. Kajian Aksiologi Kajian aksiolo gi filsafat Pancasila pada ivakikat nya mem bahas tentang nilai pr aksis atau manfaat suatu pengeiahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat mem iliki satu kesatuan dasar aksiologis, maka nilai- nilai ya ng terkandung dalamn ya pada hakikat nya juga merupakan suatu kesatuan. Selanjutnya, aksiolo gi Pancasila men gandung arti bah wa kita mem bahas tentang filsafat nilai Pancasila. Istilah nilai dalam kaj ian filsafat d ipakai untuk merujuk pada ungkapan abstrak yang dapat juga dia rtikan sebagai "keberhargaan" Buku Ajar PENDIDIKAN

28

(worth) atau "kebaikan" (goodnes), dan kata kerja yang artinya sesua tu ti ndakan kejiwaan tertentu dalam men ilai atau melakukan penilaian (Frankena: 229 ). Di dalam Dictionary of Sociology' an Related Sciences dik emukakan bah wa nilai ada lah suatu kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk mem uaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang men yebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Den gan demikian, nilai itu pada hakik atnya adalah sifat atau kua litas yang mele kat pada suatu objek. Sesuatu itu mengandung nilai, artinya ada sifat atau kua litas yang mele kat padanya, misalnya bunga itu indah, pcrbua tan itu baik. Indah dan baik ada lah sifat atau kualitas yang mele kat pada bunga dan perbuatan. Jadi, nilai itu sebenarnya ada lah suatu kenyataan yang t ersembunyi di balik kenyataa n-kenyataan lainn ya. Adanya nilai itu karena ada nya kenyataa n-kenyataan lain sebagai pembawa nilai. Te rdapat b erbagai macam teori tentang nilai dan hal ini sangat bergantung pada titik tol ak dan sudut panda ng setiap teori da lam menen tukan pengertian nilai. Kalangan materialis mem andang bahwa hakikat nilai yang tertinggi ada lah nilai material, sedangkan kalangan hedonis b erpandangan bah wa nilai yang tertingg i ada lah nilai kenikmatan. Namun, dari berbagai macam pandangan tentang nilai dapat dik elom pokkan pada dua macam sudut pandang, yaitu bahwa sesuatu itu bernilai karena berkaitan dengan sabjek pemberi nilai, yaitu manusia. Hal ini bersifat subjektit. tetapi juga terdapat pandangan bahwa pada hak ikat nya nilai sesuatu itu mele kat pada dirinya sendiri. Hal ini me rupakan panda ngan dari paham objektivisme. Notonagoro meme rinci tentang nilai, ada yang bersifat material dan nonmaterial. Dalam hubu ngan ini, manusia mem iliki orientasi nilai yang berbeda bergantung pada pandangan hid up dan filsafat hid up masing-masing. Ada yang men dasarkan pada orientasi nilai material, tetapi ada pula yang sebaliknya, yai tu berorientasi pada nilai yang nonmaterial. Ni lai material relatif lebih mudah diukur men gg unakan pancai ndra atau pun alat pengukur. Akan tetapi, nilai ya ng bersifat rohaniah sulit diukur, tetapi dapat juga dilakukan dengan hati nurani manusia sebagai alat ukur yang diba ntu ole h cipta, rasa, serta karsa dan keyak inan manusia (Kaelan, 2005 ). M urut Notonagoro, nilai- nilai Pancasila itu termasuk nilai kerohanian, en tetapi nilai- nilai kerohanian yang men gakui nilai material dan nilai vital. Dengan demikian, nilai- nilai Pancasila yang tergolon g nilai kerohanian itu juga men gandung nilai- nilai lain secara len gkap dan harmonis, seperti nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai k eindahan atau estetis, nilai kebaik an atau nilai moral, atau pun nilai kesucian yang secara keseluruhan bersifat sistemik- hierarkis. Sehu bungan dengan ini, sila pertama, yaitu ketuha nan Yang Maha Esa menjadi basis dari semua sila-sila Pancasila (Darmodihardjo: 1978). Secara a ksiologis, bangsa Indonesia me rupakan penduku ng nilai- nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan, dan yang berkeadilan Buku Ajar PENDIDIKAN 29

sosial. Sebagai penduku ng nilai, bangsa Indonesialah yang menghargai, mengakui, serta mene rima Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai. Pengakuan, penghargaan, dan pene rimaan Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai itu akan tampak men ggejala dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia. Kalau pengakuan, penerimaan, atau penghargaan itu telah men ggejala da lam sikap, tingkah laku, serta perbuatan manusia dan bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia dalam hal ini seka ligus adalah pengemba nnya dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan manusia Indonesia.

Rangkuman Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia pada hak ikatnya me rupakan suatu nilai- nilai yang b ersifat sistematis. fundamental, dan menyeluruh . Untuk itu, sila-sila Pancasila me rupakan suatu nilai- nilai yang bersifat bulat dan utuh , hierarkis, dan sistematis. Dalam pengertian inilah, sila-sila Pancasila me rupakan suatu sistem filsafat. Kon sekuensinya kelima sila tidak terpisah-pisah dan mem iliki makna sendirisendiri, tetapi mem iliki esensi serta makna yang utuh . Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Republik Indonesia mengandung makna bahwa setiap aspek kehidu pan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kene garaan harus berdasarkan pada nilai- nilai ketuh anan, kemanusiaan, persatuan, . kerakyatan, dan keadilan. Pemikiran filsafat kene garaan bertolak dari pandangan bah wa ne gara ada lah me rupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyarakatan, yang me rupakan masyarakat hukum (legal society). Adapun negara yang didi rikan ole h manusia itu berdasarkan pada kodrat bah wa manusia sebagai warga negara, yaitu sebagai bagian persekutuan hidup yang men dudukkan kodrat manusia sebagai makh luk Tuhan Yang Maha Esa (hakikat sila pertama). Negara yang me rupakan persekut uan hid up manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, pada hakikat nya bertujuan mewujudkan harkat dan martabat manusia sebagai makh luk yang berbudaya atau makh luk yang beradab (hakikat sila kedua). Untuk mewujudkan suatu negara sebagai suatu organisasi hidup, manusia harus mem bentuk suatu ikatan sebagai suatu bangsa (hakikat sila ketiga). Terwujudnya persatuan dan kesatuan akan mel ahi rkan rakyat sebagai suatu bangsa yang hidup dalam suatu wilayah negara tertentu. Konsekuensinya, hidup k ene garaan itu haruslah did asarkan pada nilai bahwa rakyat me rupakan asal mula kekua saan negara. Maka itu, negara harus bersifat demokratis, hak serta kekua saan rakyat harus dijamin, baik sebagai individu maupun secara b ersama (hakikat sila keempat). Untuk mewujudkan tujuan Negara sebagai tujuan bersama, da lam hid up kene garaan ha rus diwujudkan Buku Ajar PENDIDIKAN

30

jaminan perlindu ngan bagi seluruh warga. Den gan demikian, untuk mewujudkan tujuan, sel uruh warga negara ha rus dijamin berdasarkan suatu pr insip keadi lan yang timbul dalam kehidu pan bersama (hakikat sila kelima).

DAFTAR PUSTAKA Darmodiharjo, Darji. 1996 . Pokok-Pokok Filsafat Hukum. Grame dia Pustaka Utama: Jakarta. Fukuyama, F. 1989 . The End of History, da lam Nati onal Interest. No. 16 (1989 ). Dikutip da ri Mo dernity and Its Future. Polity Press: Cambridge. Kaelan. 2005 . Filsafat Pancasila sebagai Filasfat Bangsa Negara Indonesia. Maka lah pada Kursus Calon Do sen Pendidikan Kewarganegaraan: Jakarta. Notonagoro. 1971 . Pengertian Dasar bagi Implementasi Pancasila untuk ABR1. De parteme n Pertaha nan dan Keamanan: Jakarta. Poespowardoyo, Soeryanto. 1989 . Filsafat Pancasila. Gramedia: Jakarta. Pranarka, A.W.M. 1985 . Sejarah Pemiki ran tantang Pancasila. CSIS: Jakarta. Suseno, Franz, Magnis. 1987 . Etika Politik: Prinsip-Prinsip Mo ral Dasar Modern. PT Gramedia: Jakarta. Titus Harold, Marilyn S., Smith, and Rich ard T. Nolan. 1984 . Living Issues Philosophy, diterjemahkan ole h Rasyidi. Pene rbit bulan Bintang: Jakarta.

Buku Ajar PENDIDIKAN

31