You are on page 1of 10

1

BERFIKIR LOKAL BERTINDAK GLOBAL:


JIKA DIBUTUHKAN, MENGAPA TIDAK?
1


(TEUKU REZASYAH)
2


PENDAHULUAN
Kesiapan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional
Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (Fisip) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengangkat
tema Globalisasi merupakan langkah yang sangat terpuji, mulia,
dan luar biasa. Terpuji, karena mengundang masuknya konsep
ke-Indonesia-an bagi perkembangan ilmu Hubungan Internasional,
yang harus kita akui, mengandung semangat Eurosentris dan
Amerikansentris.
Mulia, karena memang sudah saatnya kita mengakui
pencapaian yang telah ada dalam bangsa ini, melalui kritik kita
atas khasanah intelektual yang terserak dalam berbagai budaya
lokal, namun seringkali kita pandang dengan sebelah mata.
Luar biasa, karena merombak konstruksi berfikir selama ini,
dari: `Gajah didepan mata tidak tampak, Kuman diseberang lautan
tampak, menjadi: `Kuman dan Gajah didepan mata dan
diseberang lautan sama tampaknya. Tidak kalah luar biasanya,
menggugurkan semangat: `Think Globally, Act Locally menjadi:
`Think Locally, Act Globally.

1
Judul acara: `Mekanisme Pengenalan Kampus Jurusan Hubungan
Internasional Universitas Padjadjaran 2007. Kegiatan berlangsung
antara tanggal 6-9 September 2007, di kampus Fisip Unpad.

2
Penulis adalah dosen pada Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran di Jatinangor,
Sumedang.

2
Masalahnya adalah: `Adakah komponen lokal yang dapat kita
majukan untuk sebuah globalisasi?. Selanjutnya: `Bagaimanakah
memajukan komponen lokal ini ke kancah dunia?. Untuk
menjawab kedua pertanyaan diatas, maka kami mengajukan Soft
Power sebagai sebuah titik temu. Konsep ini berdaya jangkau
panjang, dan dapat mengikat kebersamaan masyarakat Indonesia
yang serba majemuk ini, demi sebuah kebanggaan baru yang
dapat berujung pada sebuah cita-cita bersama ditengah globalisasi
yang sangat deras ini.

KOMPONEN LOKAL MANA SAJAKAH?.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai
sejarahnya. Jika penghargaan ini hilang, maka pupus jugalah
komponen-komponen sejarah yang merekatnya, seperti:
semangat zaman, kebersamaan, dan solidaritas sosial. Kalaupun
kita ingin merekatnya kembali setelah puluhan tahun yang hilang
itu, tak ada bedanya dengan membenarkan peribahasa bangsa
kita sendiri: `menegakkan benang basah.
Kritik diri ini sebenarnya telah dirasakan oleh Institut
Pertanian Bogor (IPB) yang baru beberapa tahun terakhir
menyayangkan dihapuskannya komponen kearifan sosial budaya
dalam kurikulum mereka. Pada tahun 1960-an, kampus ini
mengajarkan pentingnya kekerabatan antara keilmuan dengan
masyarakat petani, dan lingkungan alam. Antara lain, awal musim
hujan ditandai dengan bunyi Tonggeret. Bunyi Tonggeret pulalah
yang meyakinkan para petani bahwa musim kemarau telah tiba.

3
Pada saat yang sama, terlihatnya bintang Weluku merupakan
pertanda tibanya musim tanam.
3

Hilangnya informasi diatas ternyata berdampak luas. Bukan
saja membunuh informasi kolektif para petani, yang selanjutnya
menumpulkan semangat mereka dalam menghadapi mekanisasi
pertanian, namun juga memperlemah inovasi para ilmuwan
pertanian dalam memberdayakan sektor pertanian di tanah air.
Dalam konteks yang lebih luas, ilmuwan pertanian Indonesia
menjadi kehilangan roh pertanian, sehingga kurang berdaya saing
di sektor pertanian dunia.
Apakah yang sebenarnya terjadi?. Sebenarnya, kita tanpa
sadar telah memadamkan Soft Power kita sendiri. Selain karena
kurangnya kepekaan intelektual, patut dicatat, jika bangsa ini
tidak memiliki collective memory yang disepakati bersama.
Informasi yang ada cepat sekali hilang, dan baru ditemukan
kembali setelah bangsa asing mengakuinya. Reyog Ponorogo dan
lagu Rasa Sayange adalah salah satu contoh keberhasilan
Malaysia. Sementara Batik Trusmi adalah salah satu contoh
keberhasilan Jepang.
Sementara bangsa China misalnya, memiliki catatan sejarah
atas pencapaian bangsa mereka, berikut catatan interaksi mereka
dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Sebagaimana diakui
Professor Liang Liji dari Academy of International Studies, Peking
University, China masih menyimpan khasanah intelektual beberapa
kerajaan tua Indonesia dimasa lalu, bahkan dapat merunutnya
hingga tahun 105 Masehi.
4
Apakah yang akan dilakukan China
dengan dokumentasi diatas untuk diri mereka dan atas kita?.

3
Wawancara dengan seorang alumnus IPB angkatan 1961, tanggal 10
Agustus 2007.

4
Wawancara di Beijing, tanggal 23 Agustus 2007.

4
Dalam konteks pencarian identitas bangsa Indonesia, serta
penelusuran local contents yang dapat diunggulkan bersama,
sehingga menjadi Soft Power Indonesia, sekaligus materi ajar
dalam kurikulum Hubungan Internasional, sangat dibutuhkan
kemampuan kita mengidentifikasi dan memetakan berbagai
khasanah yang pernah maupun masih hidup di tanah air, baru
selanjutnya mematoknya secara hukum.
Sebagai ilustrasi, dapat diberikan contoh-contoh sebagai
berikut.

A. Perspektif Sejarah.
1. Konteks Astrologi.
Menurut hemat kami, salah satu kekuatan masyarakat Bali,
dimana kehidupan agama bersanding dengan kehidupan budaya
dan pariwisata ternyata ditopang oleh sebuah harmoni, yang
berinduk pada adanya sebuah Wariga dan Kalender PHDI. Karya
intelektual ini dibuat oleh I Nyoman Singgih Wikarman, yang
dilanjutkan oleh keturunannya: I Gede Sutarya. Dari kalender
diatas, maka kegiatan kita pada hari ini, 11 Desember (Selasa-
Pahing), adalah hari yang cocok untuk membuat bendungan,
berburu hewan, membakar genteng, membayar kaul, dan
melakukan segala macam upacara.
Secara tidak langsung, hari ini bukanlah saat yang tepat
untuk menebang kayu, berburu burung, membuat pisau, dan
membuat keris. Tidak mustahil, rumus diatas telah dipelajari dan
dipatenkan bangsa lain, sehingga menjadi Soft Power dalam
khasanah Astrologi mereka. Bagi kalangan Hubungan
Internasional, sudahkah kearifan diatas dijadikan fokus penelitan,

5
guna mengkaji ketahanan wisata daerah ini, yang cepat bangkit
walau terkena dampak Bom Bali?.

2. Konteks Ketahanan Pangan.
Salah satu kekuatan masyarakat Aceh, sehingga
memungkinkan mereka berperang puluhan tahun adalah
kemampuan menyiapkan bahan makanan yang tahan lama, tanpa
kehilangan rasa dan wangi. Sehingga kemanapun mereka
melakukan gerilya, ketahanan fisik mereka tetap terjaga.
Teknologi yang paling umum dikuasai adalah pengawetan
ikan, yang dengan ramuan tertentu sanggup menyatukan daging
dan tulang ikan sehingga menjadi kering, yang selanjutnya disebut
`Ikan Kayu. Pisau tajam sekalipun tidak lagi sanggup
memotongnya, dan hanya dapat digunakan untuk mengeriknya
sedikit demi sedikit. Tidak mustahil juga, teknologi tepat guna
diatas telah dipatenkan negara lain, dan akan menjadi Soft Power
mereka dalam diplomasi perikanan. Dalam konteks Hubungan
Internasional, mengapa kita senantiasa memandang tanpa
berkedip konsepsi Power Politics, serta memandang remeh
konsepsi ketahanan pangan seperti diatas?.

3. Konteks Maritim.
Masyarakat Bugis mengenal sistem navigasi bulan dan
bintang, serta menguasai teknologi pembuatan perahu (Kapal
Pinisi) tanpa menggunakan paku. Berbekal pengetahuan diatas,
serta semangat juang yang tinggi, mereka telah mengarungi
nusantara, Asia Tenggara, hingga Afrika Bagian Selatan. Dalam
perjalanannya, terjadilah proses kawin silang lintas budaya, yang
meninggalkan warisan Bugis di belahan lain dunia. Dalam konteks

6
diplomasi, mengapa perjalanan sejarah ini belum kunjung menjadi
pembenaran bagi sejarah diplomasi Indonesia?.


4. Konteks Sastra.
Pernahkah kita membaca Serat Centhini?.
5
Naskah yang
mengandung banyak pendidikan seks ini, ternyata memuat
dokumen pengobatan dengan cara memproses bagian-bagian
tertentu dari hewan seperti Tukang, dan Belatuk Bawang, serta
mengidentifikasi adanya pesan-pesan mental yang hanya
dimengerti oleh burung-burung seperti Gagak dan Prenjak.
Mengapa kalangan Indonesia sendiri tidak kunjung
mempelajarinya secara sistematis dalam konteks Biopolitics dan
Telecinetics?.

B. Konteks Kekinian

1. Folklores (Cerita Rakyat)
Tidak banyak dari kita mengetahui, jika Professor James
Dananjaya dari Universitas Indonesia telah berhasil memetakan
3.000 jenis Folklore (cerita rakyat) Indonesia, yang berakar dari
ratusan budaya lokal di tanah air.
6
Mengapa hasil riset mendalam
ini belum menjadi kekuatan bersama?. Padahal, cerita rakyat
tersebut masih dikenal saat ini. Misalnya, untuk membangun
solidaritas diantara masyarakat yang kerap bertikai karena

5
Tardjan Hadidjaja dan Kamajaya. 1978. Serat Centhini. Yogyakarta:
U.P. Indonesia.
6
Wawancara dengan Fuad Azmi, mahasiswa Faculty of International
Studies, University Utara Malaysia. Tanggal 9 Desember 2006.


7
perbedaan sosial budaya?. Selanjutnya, menjadi kendali budaya
saat sebuah daerah ingin membentuk daerah administrasi baru?.


2. Diplomasi.
Terlepas dari status hukumnya, mantan Presiden Suharto
perlu mendapat perhatian yang tersendiri. Kemampuan tokoh ini
memerintah, meniadakan pesaingnya secara sistematis, serta
menjalin koalisi ekonomi dan moral di dalam dan luar negeri, patut
dikaji secara sistematis. Sedikit sekali diketahui integrasi antara
kebatinan Jawa yang diyakininya, dengan kemampuannya
mensarikan prinsip-prinsip ekonomi modern kedalam kebijakan
pembangunan semasa pemerintahan Orde Baru.
7
Untuk itu,
sudahkah kalangan Hubungan Internasional mengkaji faktor
ideosinkratik ini secara sistematis?.

3. Strategi Perang.
Masyarakat mengenal Teuku Umar sebagai suami dari Tjut
Nyak Dhien, yang gugur di Meulaboh. Tahukah kita, jika sejarah
Aceh mencatat kematian beberapa Jenderal Belanda sekaligus,
sehingga menurunkan kualitas perang Belanda di tanah air ini?.
Teuku Umar ternyata, berhasil mengelabui pemerintah Hindia
Belanda, sehingga menjadikannya instruktur militer dan
menguasai gudang senjata.
Setelah itu, Teuku Umar menyerang balik pasukan Belanda,
sehingga Belanda terpaksa menambah pasukan kolonial dari Pulau
Jawa. Mengapa praktik strategi ini tidak pernah kita pelajari secara

7
Perhatikan bahasa Ekonomi Politik yang beredar pada masa Orde
Baru seperti: lepas landas, yang ternyata berinduk pada konsepsi Take
Off yang dibangun oleh W.W. Rostow.

8
sistematis, misalnya dalam konteks hubungan lintas budaya,
sehingga menjadi inspirasi bagi sebuah semangat dalam
menghadapi globalisasi?.

4. Kesetaraan Gender.
Sebelum kalangan Eropa mendengungkan kesetaraan
gender, Raden Ajeng Kartini telah melakukannya secara
sistematis, melalui kumpulan tulisannya: `Habis Gelap Terbitlah
Terang. Bukankah ide ini membuktikan jika kaum wanita
Indonesia telah mengenal benih-benih emansipasi dan partisipasi,
pada saat mana kaum wanita di Eropa dan Amerika tidak
diperkenankan memilih dalam pemilihan umum?. Mengapa
pemikiran Kartini jarang terdengar dalam kajian Women Studies di
tanah air?. Sementara kita hanya mendengar nama tokoh ini
setahun sekali, itupun pada tanggal kelahirannya saja?.

5. Diplomasi Budaya.
Kita baru sadar akan kerekatan spiritual bangsa ini, kala kita
menghadapi ancaman bersama: terorisme. Model yang terbangun
di Indonesia, dengan nama dialog antar agama, ternyata telah
menjadi sumbangan konseptual kita bagi perdamaian dunia.
Masyarakat negara maju di Amerika dan Eropa konon, meminta
jasa baik kita menfasilitasi kepentingan mereka di belahan bumi
yang lain. Mengapa praktik ini belum banyak menjadi muatan
dalam mata kuliah politik luar negeri Republik Indonesia?.

6. Diplomasi Total.
Kita semua berhutang budi pada Professor Yohannes Surya.
Tanpa banyak bicara, tokoh ini berhasil mencetak lusinan

9
pemenang Olimpiade Fisika, sehingga bangsa kita dapat
mengalahkan bangsa-bangsa yang lebih maju, yang memiliki
tradisi riset dan pendidikan yang lebih lama. Pernahkah kita
mempelajari secara sistematis metode, strategi, dan pendekatan
yang dilaksanakan tokoh diatas?.
Konon, dari 100.000 anak Indonesia, dapat diperoleh 1 anak
berbakat, yang selanjutnya dapat dibina secara sistematis untuk
menjadi pemenang Olimpiade Fisika. Mengingat kita memiliki 234
Juta penduduk, dan setidaknya terdapat 100 Juta anak-anak,
apakah kita pernah memikirkan untuk menelusuri keberadaan
1.000 anak berbakat lainnya?.


INTEGRASI LINTAS ILMU: MUNGKIN ATAU TIDAK?

Patut diakui, kita membutuhkan integrasi berbagai disiplin
ilmu sekaligus, guna secara sistematis mengkaji local contents dan
local perspectives. Dalam konteks pengajaran, beberapa aspek
terpilih dapat dimasukkan sebagai materi ajar dalam kurikulum
Hubungan Internasional, misalnya dalam pengajaran mata kuliah
baru seperti `Muatan Lokal dan Pengambilan Keputusan Strategis,
serta `Muatan Lokal dalam Perspektif Hubungan Internasional di
Indonesia.
Selanjutnya, diperlukan pengkajian yang lebih mendalam,
misalnya menjadikan aspek-aspek terpilih dari local contents dan
local perspectives, menjadi fokus dari penelitian pada Strata 1
dan diatasnya. Setelah teridentifikasi dengan baik, langkah
selanjutnya adalah melakukan sosialisasi di dalam dan luar negeri,

10
dan menjadikannya sebagai Soft Power pemerintah dan bangsa
Indonesia.
Walaupun demikian, sebuah Soft Power tidak akan berarti,
jika tidak didukung oleh konsistensi dan kepaduan sikap. Dalam
hal ini: dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat Indonesia
sendiri.


PENUTUP
Sebuah perjalanan panjang memang harus dimulai dari
sebuah langkah kecil. Semoga prakarsa Local Contents dan Local
Perspectives yang dibahas pada hari ini akan tiba pada sebuah
muara: Inilah Soft Power Indonesia, dan ini jugalah Hubungan
Internasional Versi Indonesia.