You are on page 1of 9

Penegakan Diagnosis dan Diagnosis Banding Dalam kasus yang berkaitan dengan kejiwaan, suatu diagnosis dibuat dengan

melihat aspet bio-psiko-sosial agar didapat suatu diagnosis yang menyeluruh. Untuk itu, setiap kasus yang berkaitan dengan kejiwaan , ada beberapa aspek/aksis yang diperhatikan. Aksis I : Gangguan klinis Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : Gangguan kepribadian : Kondisi medik umum : Masalah psikososial dan lingkungan : Penilaian fungsi secara global

Diagnosis, seperti kasus dalam bidang lainnya, dibuat dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun anamnesis lebih diperdalam untuk menggali informasi yang berkaitan dengan kasus yang dihadapi. Pada kasus ini, diagnosis kerjanyanya adalah Aksis I : Gangguan somatoform F 45.0 Gangguan somatisasi Aksis II Aksis III : Gangguan histrionik : tidak ada

Aksis IV : Masalah psikososial kecemasan yang berlebihan akan kematiannya Aksis V : GAF 80 71 (gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll).

Diagnosis bandingnya adalah 1. Gangguan fisik yang spesifik Didapatkan kelainan pada pemeriksaan 2. Gangguan hipokondrik Perhatian pasien ditujukan pada keyakinannya terhadap penyakitnya yang progresif

3. Disfungsi otonomik somatoform Gejala menetap

Berikut adalah pedoman dignostiknya GANGGUAN SOMATOFORM Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya. Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan gejalagejala anxietas dan depresi. Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab keluhan-keluhannya menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak. F45.0 Gangguan Somatisasi Pedoman Diagnostik Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:

a) Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun; b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhankeluhannya; c) Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya. F45.1 Gangguan Somatoform Tak Terinci Pedoman Diagnostik

Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi; Kemungkinan ada ataupun tidak faktor penyebab psikologis belum jelas, akan tetapi tidak boleh ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya. F45.2 Gangguan Hipokondrik Pedoman Diagnostik Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:

a) Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham); b) Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.

F45.3 Disfungsi Otonomik Somatoform Pedoman Diagnostik Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:

a) Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka panas/flushing, yang menetap dan mengganggu; b) Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak khas); c) Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sitem atau organ tertentu, yang tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaanpemeriksaan berulang, maupun penjelasan-penjelasan dari para dokter; d) Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup struktur/fungsi dari sistem atau organ yang dimaksud. Karakter kelima : F45.30 = Jantung dan sistem kardiovaskular berarti pada

F45.31 = Saluran pencernaan bagian atas F45.32 = Saluran pencernaan bagian bawah F45.33 = Sistem pernapasan F45.34 = Sistem genito-urinaria F45.38 = Sistem atau organ lainnya

F45.4 Gangguan Nyeri Somatoform Menetap Pedoman Diagnostik Keluhan utama adalah nyeri berat, menyiksa dan menetap, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik. Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem psikososial yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi terjadinya gangguan tersebut. Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun medis, untuk yang bersangkutan. F45.8 Gangguan Somatoform Lainnya Pedoman Diagnostik Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak melalui sistem saraf otonom, dan terbatas secara spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu. a) b) c) d) e) Tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan. Gangguan-gangguan berikut juga dimasukkan dalam kelompok ini: globus hystericus Tortikolis psikogenik, dan gangguan gerakan spasmodik lainnya Pruritus psikogenik Dismenore psikogenik Teeth grinding

F45.9 Gangguan Somatoform YTT

Diagnosis kerja Definisi Somatoform disorder merupakan gangguan mental yang ditandai dengan gejala-gejala yang menunjukkan kondisi medis yang umum, tetapi tidak dijelaskan oleh kondisi medis yang umum, efek langsung bahan psikoaktif, atau gangguan mental lain atau dibawah kontrol volunter. Gangguan ini akan muncul simptom-simptom fisik atau meyakini adanya gangguan fisik namun tidak disebabkan oleh gangguan fisiologis. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh purapura yang disadari atau gangguan buatan.

a.

Etiologi Sampai sekarang ini penyebab munculnya somatoform disorder masih belum diketahui, mungkin terjadi masalah pada impuls saraf yang menghantarkan sinyal nyeri, tekanan, dan sensasi tidak nyaman lainnya ke otak. Sampai sekarang juga belum diketahui nyeri dan masalah klinis lainnya yang disebabkan oleh somatoform disorder itu benar-benar nyata, atau hanya khayalan. Hal-hal yang mempengaruhi munculnya somatoform disorders: Tekanan dalam keluarga Meniru orang tua (parental modeling) Pengaruh kultur Faktor biologis : genetik Epidemiologi Prevalensinya lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki , wanita : laki:laki = 10 : 1 Biasanya dimulai saat masih anak-anak, remaja, dan dewasa muda. Tapi paling banyak terjadi pada orang dewasa sebelum usia 30 tahun. Prevalensinya 5 11% populasi.

b.

c.

d.

Pasien dengan riwayat keluarga pernah somatoform (berisiko 10-20X) Faktor resiko Riwayat orang tua Pola asuh dalam keluarga yang salah Wanita Memiliki kepribadian yang mudah cemas Orang yang tertutup Alkoholism Penyalahgunaan obat Klasifikasi Ada 5 gangguan somatoform yang spesifik:

menderita

gangguan

Gangguan somatisasi yang oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ. Gangguan konversi ditandai olah satu atau dua keluhan neurologis. Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. Gangguan nyeri yang ditandai dengan gejala nyeri yang sematamata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksarsebasi oleh faktor psikologis. DSM-IV juga memiliki 2 kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform: Undifferentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu di atas, yang ada selama 6 bulan atau lebih. Somatoform disorder NOS. e. Manifestasi klinis i. Gangguan somatisasi 1) Adanya beberapa keluhuan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika diperiksa secara fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tapi ia tetap kontinyu memeriksakan diri. Gangguan tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang umunya, misalnya: sakit kepala, sakit perut, sakit dada, menstruasi tidak teratur, dll. 2) Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan tersiksa/merana. 3) Berulang memeriksakan diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat di RS, bahkan dilakukan operasi

Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperi kesulitan dalam pernikahan ii. Gangguan konversi 1) Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi, walaupun secara fisiologis, pada siatem saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat gangguan/ kelainan. 2) Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total pada tangan, lengan, atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti ditusuk-tusuk, ketidakpekaan terhadap nyeri, atau hilangnya kemampuan untuk merasakan sensasi (anestesi), kelumpuhan, kebutaan, tidak dapat mendengar, tidak dapat membau, suara hanya berbisik, dll. 3) Biasanya muncul tiba-tiba dalam kondisi stres, adanya usaha individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab. 4) Konsep Freud : energi dari insting yang direpres berbalik menyerang dan menghambat fungsi saluran sensorimotor. 5) Kecemasan dan konflik psikologis diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik. iii. Hipokondriasis 1) Meyakini / ketakutan atau pikiran yang berlebihan & menetap bahwa dirinya memiliki suatu penyakit fisik yang serius. 2) Adanya reaksi yang berlebihan terhadap sensasi fisik / tubuh (salah interpretasi terhadap gejala fisik yang dialaminya). Misal : otot kaku, pusing / sakit kepala, berdebar-debar, kelelahan. 3) Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak dokter atau rumah sakit. 4) Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat / penjelasan dokter, walaupun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah diyakinkan. 5) Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau aspek penting lainnya iv. Gangguan dismorfik tubuh 1) Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebihlebihkan kekurangan dalam hal penampilan (individu merasa yakin bahwa dirinya mengalami masalah dengan penampilannya, misalkan keriput di wajah, bentuk atau ukuran tubuh) 2) Keyakinan / perhatian berlebihan ini menyebabkan stress, menghabiskan banyak waktu, menjadi mal-adaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi social, pekerjaan atau aspek penting lainnya (menghindar / tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah atau pekerjaan), juga sering menyebabkan dirinya harus konsultasi untuk operasi plastik. 3) Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya

4)

v. Gangguan nyeri 1) Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat & berkepanjangan, namun tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah pemeriksaan yang intensif). 2) Rasa nyeri ini bersifat subjektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di satu atau beberapa bagian tubuh. 3) Rasa nyeri ini menyebabkan stres atau hambatan dalam fungsi social, pekerjaan atau aspek penting lainnya. 4) Faktor2 psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan, memperburuk rasa nyeri.

Tata Laksana 1. Berhubungan dengan primary care practitioner Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. 2. Medikamentosa Pasien dengan somatoform disorder terkadang diperlukan obat anti-anxietas atau obat anto-depresan jika ada mood atai anxietas disorder. Tricyclic antidepresant dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) mungkin bisa membantu. Antidepresan Imipramine (Tofranil) menghambat reuptake norepinefrin atau serotonin (5-hydroxytryptamine, 5-HT) Fluoxetane (Prozae) menghambat reuptake sertonin presinapsis dengan efek minimal atau tidak ada efek pada reuptake norepinefrin atau sertonin. Maprotilin HCl

3. Psikoterapi

Cognitif-behavioural therapy

Terapi keluarga dan kelompok

Prognosis Dapat bervariasi dari mild severe dan kronis Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan prognosis menjadi lebih baik Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian. Kematian lebih disebabkan karena upaya bunuh diri Komplikasi Komplikasi iatrogenik akibat prosedur diagnostik invasif / prosedur prosedur surgery Ketergantungan pada substansi- substansi pengontrol yang diresepkan Kehidupan yang bergantung pada orang lain Suicide