You are on page 1of 2

6.

6 Evaluasi miometrium Miometrium dievaluasi paling utama dengan kombinasi ultrasonografi transvaginal dan transabdominal, untuk mengidentifikasi leiomioma, yang diklasifikasikan sebagai L1. Kemudian kombinasi daripada ultrasonografi transvaginal dengan atau tanpa transabdominal, ditambah histeroskopi dan SIS gagal mengidentifikasi leiomioma, pasien digolongkan pada L0. Untuk subklasifikasi sekunder, diperlukan kombinasi ultrasonografi transvaginal, transabdominal, histeroskopi dan MRI. Subklasifikasi tersier dari tipe leiomioma, memerlukan klinisi untuk menentukan hubungan antara leiomioma dan endometrium, miometrium dan serosa. Secara klinis, setidaknya untuk mioma non mukosa, akan memerlukan pemeriksaan MRI. Miometrium juga seharusnya dievaluasi terhadap keberadaan adenomyosis or untuk membedakan antara leiomioma dan ademioma. Kriteria sonografi dijelaskan pada bagian lain tulisan ini. kelompok A1 memerlukan 3 kriteria terpenuhi, jika tidak pasien diklasifikasikan sebagai A0. Jika tersedia, MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi miometrium, membedakan antara leiomioma dan adenomyosis. MRI dapat lebih baik daripada ultrasonografi transvaginal, SIS dan histeroskopi untuk mengukur kedalaman miometrium daripada leiomioma submukosa. Bagaimanapun, menentukan keandalan MRI tidak dapat dilakukan saat ini karena akses yang kurang memadai. 7. Diskusi Perdarahan uterus abnormal pada wanita usia produktif merupakan manifestasi dari sejumlah penyakit atau keadaan patologis. Hingga kini, tidak adanya metode klasifikasi yang dapat diterima secara universal berimplikasi pada ilmu pengetahuan dasar dan investigasi klinis, juga pada aplikasi praktis,rasional dan aplikasi konsisten terapi medis dan operatif. Pada masa yang lalu, setidaknya beberapa klasifikasi telah dibuktikan berguna sebagai jalan untuk membandingkan penelitian pada populasi sejenis dan untuk membantu klinisi menginvestigasi dan menangani pasien. Kesepakatan saat ini didesain untuk menghasikan sistem praktis yang dapat digunakan klinisi pada seluruh negara untuk mengklasifikasikan pasien dengan perdarahan uterus abnormal secara siap dan konsisten, bedarasarkan evaluasi sistematis. Terdapat kelemahan dalam komunikasi antar klinis serta pasien akibat tidak adanya sistem yang terstandarisasi terhadap deskripsi gejala perdarahan uterus abnormal. Partisipasi klinisi dari 6 benua didesain untuk menyediakan masukan untuk mengklasifikasikan pasien sesuai dengan sistem yang ada. yang jelas, saat ini karakteristik struktural lesi uterus menggunakan MRI tidak umum dan penggunaan metode ini tidak digunakan sebagai cara utama klasifikasi pasien. Ini tidak berarti bahwa klinisi tidak dapat menggunakan MRI apabila diperlukan dan tersedia, yang hasilnya dapat digunakan untuk melihat adenomyosis dan mengklasifikasian pasien sesuai sistem yang ada. 8. Simpulan Kelompok multinasional klinisi-investigator dengan pengalaman luas untuk menginvestigasi perdarahan uterus abnormal telah menyetujui sistem klasifikasi untuk memfasilitasi investigasi

epidemiologi, etiologi, dan tatalaksana wanita dengan PUA akut dan kronis. Sistem ini termasuk penelitian meta analisis yang didesain dan dilaporkan baik. Walaupun demikian diperlukan evaluasi berkala dan modifikasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan meningkatkan ketersediaan pilihan pada lintas geografis. Oleh karena itu, kami merekomendasikan telaah sistematis terjadwal secara reguler oleh komite permanen dari organisasi internasional seperti FIGO, yang telah cocok sebagai kelompok kerja penyakit menstrual. Editor jurnal dan dewan editor dihimbau untuk menelaah bahan dan metode tulisan yang berhubungan dengan PUA.