You are on page 1of 22

Cerutu Terakhir Milik Tjoe Boen Tjiang Oleh : Rama Dira Dimuat di Suara Merdeka (www.suaramerdeka.

com) 07/09/2006 Telah disimak 571 kali Laki-laki itu bernama Justus van Maurik.[1] Ia telah kembali ke Amsterdam setelah sebulan melakukan perjalanan wisata di Batavia. Menginjakkan kembali kaki di Tanah Air, tak segera membuat ia melupakan Mutiara Utama di Pending Zamrud[2] itu, kelezatan rijsttafel beraroma bumbu yang menyengat serta mengandung racikan cabe yang pedasnya luar biasa, dan gadis yang ia beri nama mawar putih (teman dansa pada suatu malam di societeit de Harmonie). Namun yang sungguh tak bisa ia lupakan adalah seorang pemuda Tionghoa yang bernama Tjoe Boen Tjiang. Laki-laki yang masih terus dibayangkannya itu pada kenyataannya telah mati di suatu pagi, tepat pukul tujuh pada tiang gantungan di depan Stadhuis. [3] Waktu itu, meski lelah menghadiri pesta dansa hingga larut malam atas undangan Gubernur Jenderal van der Wijck di societeit de Harmonie, ia sudah bangun pukul lima subuh akibat bunyi terompet kavaleri dan derap kaki kuda yang datang dari arah jalan Molevliet Oost[4] di depan hotel Wisse, tempatnya menginap. Setelah kesadarannya mengutuh, suara-suara itu sayup-sayup menghilang digantikan oleh dengusan trem uap yang datang dari arah Kramat. Pukul setengah enam, ia bukan jendela bagian depan. Menyadari tamu hotel itu sudah bangun, seorang jongos yang tidur di depan kamar itu langsung berteriak padanya. "Mari, Meneer[5]! Kenakan jas putih sama broek[6] putih. Zeven uur hangen[7]. Meneer harus menyaksikannya karena di negeri Meneer tidak ada."[8] Ia teringat pembicaraan di societiet tadi malam. Pagi ini memang akan akan dihukum gantung seorang pemuda Tionghoa yang terbukti bersalah karena telah membunuh dan merampok dua perempuan sebulan lalu. Kabar mengenai eksekusi itu telah menyebar di seluruh Batavia. Pada mulanya, Maurik enggan mengiyakan ajakan sang jongos sebab pagi itu udara Batavia dingin bukan main. Apalagi lantai ubin merah itu juga memagut-magut tapak kakinya. Ia berubah pikiran, setelah menimbang betapa pengalaman menyaksikan eksekusi itu bisa menjadi cerita menarik jika dituangkan dalam catatan perjalanan. Maurik memutuskan tidak mengguyur tubuhnya dengan air. Pikirnya, toh mandi tidak perlu dilakukan, sebab tak baik untuk kesehatan kata seorang dokter baru-baru ini.[9] Ia akhirnya hanya mencuci muka sekedarnya. Lalu ia kenakan jas dan celana panjang putih. Tak ketinggalan, topi dan tongkat kayunya ia bawa serta. Mendadak hotel itu sepi. Tampaknya, hukuman gantung mengandung magnet tersendiri bagi seluruh penghuni Batavia, hingga semua orang berduyun-duyun menuju ke sana. Setelah mengunci pintu kamar, Maurik menuju ke dapur hotel mencari Oeri, sang jongos yang mengajaknya tadi. Ia menemukan Oeri sudah siap dengan selipar. Mereka berdua bersama beberapa jongos lain akhirnya menuju Stadhuis dengan menaiki trem uap yang dipenuhsesaki oleh orang-orang yang juga

menuju ke tempat sama. Lima belas menit waktu yang mereka butuhkan untuk tiba di Stadhuis. Turun dari trem, mereka langsung menginjakkan kaki di lapangan depan Stadhuis yang sudah dibanjiri ribuan manusia. Semuanya hadir di sana. Ada pribumi, Tionghoa, Arab, Eropa, Keling sampai Peranakan. Mula laki-laki, perempuan, tua, muda, kecil, sampai yang besar. Dari kejauhan mereka bisa melihat, persis di depan pintu masuk gedung itu, telah disiapkan mimbar penggantungan. Setelah berjejalan, Maurik dan Oeri berhasil mendapatkan tempat yang agak tinggi di depan. Meskipun masih setengah jam menjelang eksekusi, lapangan itu sudah begitu sesak. Lima belas menit berlalu. Tjoe Boen Tjiang yang digandeng oleh dua orang pembantu algojo, muncul dari dalam melalui pintu masuk. Di belakang mereka beberapa orang pejabat pengadilan -asisten residen, jaksa, kontrolir- memasang tampang serius. Tjoe Boen Tjiang mengenakan pakaian yang seluruhnya putih. Kakinya tak menggunakan alas. Sementara, rambut panjangnya tak dikepang, dibiarkan tergerai. Hanya seutas pita merah kecil yang diikatkan di ujungnya. Tiba di pinggir mimbar penggantungan, ikatan tali di lengan Boen Tjiang dilepaskan. Salah seorang pembantu algojo mendekati, berbisik di telinganya. Maurik menebak, bisikan itu pastinya adalah pertanyaan mengenai apa yang menjadi permintaan terakhir si pemuda sebagai terhukum. Benar saja, setelah mendengarkan bisikan balasan dari Boen Tjiang, pembantu algojo bergegas ke belakang kemudian datang lagi dengan membawa sebatang cerutu yang sudah dinyalakan. Suatu hal aneh bagi Maurik setelah mengetahui pemuda itu mengajukan permintaan terakhir berupa kesempatan menghisap sebatang cerutu. Ya, hanya sebatang cerutu. Dalam perjalanan tadi, Maurik yang bisa sedikit berbahasa Melayu, sempat mendengar para penumpang yang saling menebak apa kira-kira yang akan menjadi permintaan terakhir Tjoe Boen Tjiang. Ada yang mengira kalau ia akan meminta apa yang biasa diminta oleh para terpidana mati sebelumnya yakni menu lengkap masakan yang paling lezat di Batavia. Adapula yang meyakini kalau ia akan meminta diperbolehkan bercinta terlebih dahulu dengan seorang pelacur dari Rumah Mawar Betina milik Babah Can. Yang terakhir ini membuat trem uap itu riuh dalam tawa. Namun, tak seorang pun bisa menebak dengan tepat apa yang diinginkan Boen Tjiang. Termasuk Maurik yang diam-diam meyakini kalau Boen Tjiang akan menangis menghiba sambil terkencing-kencing, meminta agar hukumannya ditangguhkan karena ia masih muda hingga belum siap berhadapan dengan kematian. Kematian yang akan mengantarkannya ke dasar neraka karena telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh para dewa. Meski dipenuhi oleh ribuan manusia, lapangan itu mendadak sepi. Suasana mencekam tiba-tiba seperti tersebar di pagi berkabut itu setelah genderang pertama berbunyi beberapa menit menjelang pukul tujuh tepat. Seorang jaksa maju ke mimbar. Ia membacakan vonis dengan suara yang terdengar sangat datar sehingga pembacaan yang hanya memakan waktu tiga menit itu terasa berjam-jam lamanya bagi Maurik. Mungkin juga bagi semua yang hadir di sana. Sementara jaksa membacakan vonis, Boen Tjiang tetap tenang, terus mengisap dalamdalam cerutu terakhirnya, kemudian mengembuskan asap-asap yang bergulunggulung. Tanpa gelisah, sesekali ia memandang pada penonton, ke arah kanan dan kiri. Ketenangan luar biasa pemuda itu membuat kagum Maurik. Pembacaan vonis usai, pembantu algojo mengambil dengan paksa cerutu yang masih

ingin dihisap oleh Boen Tjiang. Wajah Boen Tjiang menampakkan ekspresi keterkejutan. Ia kembali berbisik pada pembantu algojo itu, memohon untuk diperbolehkan menghabiskan sebatang cerutu itu terlebih dulu. Permintaan terakhirnya kali ini tak digubris oleh si pembantu algojo sebab sisa cerutu yang masih panjang itu langsung diempaskannya ke tanah. Sesaat kemudian, seorang algojo pribumi mendekati, membelenggu kembali kedua tangan Boen Tjiang ke belakang lantas mengandeng lengan kanannya menaiki mimbar penggantungan. Sebelum berdiri tepat di atas pintu yang ada di lantai penggantungan, ia diminta jaksa untuk mengakui perbuatannya. Jaksa menganjurkan kepada yang hadir agar tidak mengikuti jejak Boen Tjiang. Kesempatan itu ia gunakan sebaik-baiknya. Masih seperti tadi, ia berdiri dengan tenang, berani, tegar, tanpa rasa takut dan gentar sedikit pun. Setengah berteriak, lantang ia mengajukan pengakuannya : "Perbuatan yang saya lakukan, tak ada yang membenarkan. Baik manusia maupun para dewa. Saya telah membunuh dua orang perempuan hanya gara-gara suami dan ayah kedua perempuan itu tak mau memberi saya sebatang cerutu. Saya menyesal. Dengan lapang dada, saya siap menerima kematian sebagai hukuman yang setimpal untuk perbuatan saya." Kerumunan manusia tiba-tiba bergemuruh, menanggapi pengakuan terakhir Boen Tjiang. Tanggapan yang tersebar di tengah kerumunan itu entahlah, tak bisa diperkirakan Maurik. Mungkin ada yang tetap membenci Tjiang karena telah membunuh secara kejam. Mungkin juga ada yang pada mulanya membenci tapi kemudian berubah menjadi simpati pada detik-detik terakhir setelah Tjiang terlihat tetap tenang dan gagah dengan pengakuan yang tak dibuat-buat, dengan mengakui seluruh kesalahannya dan rela mati untuk menebusnya. Mungkin juga, ada yang tidak tahu harus memberi penilaian apa. Oeri berbisik pada Maurik, "Di Batavia, orang-orang Belanda percaya selain dengan minum arak, menghisap cerutu adalah cara menghalau gejala kolera.[10] Kabarnya, Boen Tjiang mengidap gejala kolera. Ia sudah putus asa mencari obat untuk menyembuhkan penyakitnya itu sehingga pada akhirnya ia meminta sebatang cerutu pada majikannya, tapi tak diberi." Maurik mengangguk perlahan, pertanda paham. Telah terjawab pula keheranannya akan permintaan sebatang cerutu itu. Tepat pukul tujuh. Sang algojo mengarahkan Tjiang menuju garis kotak dari kapur putih sebagai penanda di mana kedua kaki Tjiang harus diinjakkan. Suasana semakin hening, seakan setiap dari ribuan manusia di lapangan terbuka itu menahan napasnya. Algojo dan pembantunnya mendekat. Sementara itu, kalung tali gantungan menganga menakutkan. Boen Tjiang memiringkan kepalanya agak ke kiri supaya kalung tali gantungan mudah dimasukkan. Setelah kepala Boen Tjiang dimasukkan pada kalung gantungan, dengan cepat sang algojo menarik tali dengan sentakan. Genderang kembali berbunyi, kali ini panjang. Saat itu juga daun pintu di lantai menjeblak terbuka. Dua orang yang sudah bersiap di lobang lantai, menarik kaki Boen Tjiang. Tali gantungan mencekik leher putih kurus pemuda itu. Dengusan napasnya tertahan, mengerikan. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah darah, kemudian menjadi merah kebiruan, yang akhirnya menjadi merah pucat. Matanya melotot, lidahnya terjulur keluar, mulutnya berbusa dan celana panjang putihnya basah. Beberapa perempuan menunduk, tidak berani menyaksikan keadaan seorang anak manusia yang tengah dijemput ajal itu. Sungguh mengenaskan memang, tapi seperti ditarik oleh suatu kekuatan gaib entah dari mana, Maurik tetap memakukan matanya

menyaksikan tahap-tahapan eksekusi itu. Bahkan, matanya bertatapan langsung dengan sepasang mata terakhir Boen Tjiang yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Algojo segera menyarungkan kain cita putih pada kepala Boen Tjiang untuk menyembunyikan mimik terakhir wajah pemuda itu. Tubuh Boen Tjiang berkelojot beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar tak bergerak lagi. Algojo membuka penutup kepala itu. Ia kemudian memberi tanda pada para pejabat bahwa tubuh si terpidana benar-benar telah tak bernyawa. Kerumunan manusia pun bubar. Tapi Maurik yang ditemani Oeri masih berdiri di sana. Setelah lapangan sepi dan tubuh tak bernyawa Boen Tjiang sudah dibawa dengan kereta kuda, Oeri mendekati Maurik. "Meneer, matahari mulai terik. Mari kita kembali ke Wisse" Suara pelan serupa bisikan dari jongos itu menyadarkan Maurik dari lamunan anehnya, lamunan yang membawanya pada bayang-bayang terakhir pemuda itu. Seperti waktu berangkat, mereka kembali menaiki trem uap, pulang menuju Hotel Wisse. Malam itu, ia tak bisa tidur. Tatapan terakhir laki-laki itu terus mengikuti hingga merasuk ke dalam mimpi siang harinya. Mulanya, ia menganggap hal itu biasa karena baru kali ini menyaksikan hukuman gantung secara langsung. Tapi, selang seminggu kemudian pelototan mata yang seolah berbicara dari pemuda Tionghoa itu terus mengikuti. Dalam tidurnya, selalu hadir mimpi-mimpi yang sama : pemuda Boen Tjiang yang tak lagi bernyawa, dengan leher bergelantung pada tali yang terikat di balok melintang, bergoyang perlahan ke kanan ke kiri, tertiup angin lembut. Ia tersadar, sesuatu terjadi padanya : ia tak bisa melupakan Tjoe Boen Tjiang. Akhirnya, rencana liburannya di Batavia ia percepat. Mungkin dengan meninggalkan Batavia, ia bisa melupakan laki-laki itu. Pagi itu juga ia meminta Oeri memesankan tiket kapal menuju Amsterdam. ................................... PERSANGKAAN yang salah. Meninggalkan Batavia bukanlah cara yang jitu untuk mengakhiri kehadiran bayang-bayang menjelang ajal pemuda Tionghoa itu. Ia masih terus mengingatnya. Ia masih terus diserang insomnia. Untuk sementara waktu, usaha perdagangannya dikendalikan oleh sang istri. Istrinya tak kunjung mengerti apa yang membuat sang suami berubah menjadi seorang pendiam yang tak lagi riang dan selalu didera insomnia kala malam. Sore itu, Maurik ingin menghabiskan waktu di beranda dengan menatap keindahan senja di Amsterdam. Senja datang, tapi ia tak bisa menikmati keindahannya. Tatapan sepasang mata menjelang kematian itu terus menghalangi pandangannya. Dari arah belakang, ia mendengar langkah bergegas salah seorang dari pelayannya. "Meneer, saya menemukan ini di saku jas putih Meneer waktu saya akan mencuci." Maurik mengambil sebatang cerutu itu dari tangan pelayannya. Ya, Tuhan. Mengapa aku begitu pelupa. Ini cerutu terakhir yang belum habis dihisap Tjoe Boen Tjiang. Ia terdiam sekejap. Ia mengingat kembali saat lapangan Stadhuis sepi. Ia menuju ke tanah samping di bawah tiang penggantungan kemudian memungut lantas memasukkan ke saku jas putihnya sisa cerutu terakhir milik Tjoe Boen Tjiang. "Jangan diambil, Meneer. Saya bisa memberikan sebatang cerutu yang baru kepada Meneer." Ia mengabaikan larangan Oeri. Baginya, laki-laki itu tak akan tahu kalau benda-benda semacam ini adalah suatu yang bisa dijadikan cinderamata berharga. Setibanya di Amsterdam, sambil menceritakan secara detail hukum gantung Tjoe Boen Tjiang

kepada teman-teman, ia akan menunjukkan pula cerutu terakhir milik pemuda itu. Segera setelah tersadar dari lamunan, ia segera meminta pelayannya untuk mengambilkan geretan. Sisa cerutu terakhir milik Tjoen Boen Tjiang itu segera disulutnya. Dihisapnya dalam-dalam, diembuskan asapnya bergulung-gulung seperti ketika Boen Tjiang menghisap cerutu terakhir itu. Ia terus menghisapnya hingga habis tak tersisa. Malam itu, insomnia tak lagi menyerang. Dalam mimpi tidurnya, pemuda Tjoe Boen Tjiang hadir. Sambil tersenyum, ia berujar pada Maurik, "Terima kasih telah menghabiskan cerutu itu untukku." Pemuda itu lantas memberikan sekotak cerutu baru yang masih utuh kepadanya. "Terimalah..." Jogja, 8 Maret 2006 --------------------------------[1] Laki-laki ini merupakan tokoh nyata yang pernah berwisata ke Batavia dan mencatat pengalaman perjalanannya (termasuk hukuman gantung untuk Tjoe Boen Tjiang) dalam sebuah buku yang berjudul Indrukken van een "Totok". [2] Sebutan lain yang diberikan oleh Multatuli untuk kota Batavia dalam bukunya, Max Havelaar [3] Balai Kota, yang sekarang adalah Museum Sejarah Jakarta [4] Kini adalah Jalan Hayam Wuruk [5] Tuan [6] Celana [7] Pukul tujuh digantung [8] Dikutip dari catatan Justus van Maurik dalam Indrukken van een "Totok". [9] Pendapat yang tidak didukung oleh alasan ilmiah yang kuat ini benar-benar dinyatakan oleh seorang dokter Belanda yang bernama Keuchenius pada tahun 1804. [10] Keyakinan ini benar-benar pernah merebak di kalangan orang Belanda dan Eropa di Ba

SEPERTI halnya di masa kini, di zaman kota Batavia dulu setiap orang yang akan menjalankan hukuman mati di tiang gantungan di halaman gedung Balai Kota (Stadhuis) kini Museum Fatahillah Jakarta sehari sebelumnya akan mendapat pelayanan yang

istimewa. Biasanya terhukum akan diberikan makanan yang amat dia sukai. Kalau misalnya dia mau memakan ayam bakar maka pihak penjaga sel di tahanan bawah tanah di gedung Balai Kota (Stadhuis) akan melayaninya dengan baik hati. Esok harinya ketika akan berlangsung eksekusi di tiang gantungan (Galgenveld) maka di terhukum akan dimandikan dulu tubuhnya dengan bersih. Sementara itu lonceng kematian yang bertuliskan Soli Deo Gloria yang dibuat pada tahun 1742 yang berada di atas gedung Balai Kota akan dibunyikan. Begitu lonceng Soli Deo Gloria berdentang maka seluruh penduduk di dalam tembok kota Batavia akan tahu bahwa pada pagi itu akan segera dilaksanakan hukuman gantung terhadap seorang penghuni sel di gedung Balai Kota (Stadhuis). Bunyi lonceng itu sekaligus mengajak seluruh penduduk kota untuk berkumpul di halaman gedung Balai Kota untuk menyaksikan eksekusi yang mendebarkan tersebut. Dengan melihat pelaksanaan hukuman yang terbilang sadis itu maka pihak Pemerintah Kumpeni Belanda ingin memperlihatkan bagaimana akibatnya bagi siapa saja yang melawan hukum Kumpeni Belanda di kota Batavia. Sebelum eksekusi dilakukan, si terhukum sudah terlebih dulu dimandikan bersih. Singkat kata: diservis memuaskan, mungkin karena sebentar lagi akan segera menghadap Yang Maha Kuasa secara paksa. Si terhukum dinaikkan di medan gantung. Di sana algojo sudah menanti. Si terhukum kemudian membungkuk dalam, lalu berbicara kepada asisten residen yang berada tidak jauh dari lokasi tiang gantungan dengan wajah serius dan dahi dikernyitkan. Tak lama kemudian si terhukum disuruh untuk mengucapkan terima kasih atas perlakuan manusiawi yang diterimanya selama dalam penjara di sel gedung Balai Kota (Stadhuis). Ucapan terima kasih tersebut disampaikan secara keras-keras agar dapat didengar oleh penduduk kota Batavia yang menyaksikan agenda yang tidak manusiawi tersebut. Sebelum meninggal, terhukum merasa perlu untuk menyatakan bahwa ia melakukan perbuatannya seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Setelah selesai bicara, ia membungkuk lagi, lalu menunggu dengan posisi tegak. Suasana hening sekali, seakan ribuan manusia yang hadir menahan napas. Di kejauhan tampak terdengar ayam jantan berkokok. Algojo serta pembantunya lantas mendekat dan si terhukum mengulurkan tangannya untuk dibelenggu. Sekali lagi ia membungkuk. Sementara itu kalung tali gantungan menganga mengerikan. Si terhukum itu mendongak lalu maju digandeng algojo. Lantas dengan suara lantang, si terhukum mengucapkan beberapa kalimat untuk memberi tahu agar orang yang menyaksikan adegan eksekusi tersebut jangan meniru perbuatannya. Lalu ia memiringkan kepalanya agak ke kiri untuk bisa dimasukkan ke kalung tali gantungan. Tiba-tiba saja sang algojo menarik tali. Genderang berbunyi dan pintu di lantai menjeblak terbuka. Pundak si terhukum didorong dan orang yang berdiri di lubang menarik kakinya. Dalam sekejap si terhukum sedikit kelojotan tapi lalu lemas karena nyawa melayang. Dan, itulah yang dialami narapidana Cina bernama Tjoe Boen Tjiang yang oleh Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) divonis bersalah karena terlibat kasus perampokan dan pembunuhan terhadap dua wanita dengan keji. (nor)

HARI-HARI AKHIR BANG PITUNG


Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia,

setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi. Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi. Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk turun tikus. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah. Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan. Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, orang yang denger kate. Dia juga terang hati, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung seperti warga Betawi lainnya, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan. Suatu ketika di usia remaja sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang menyeramkan yang pasti akan berhadapan dengan begal. Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang

Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan. Si Pitung yang mendapat sebutan Robinhood Betawi, sekalipun tidak sama dengan Robinhood si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil. Sejauh ini, tokoh legendaris si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam Intisari melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. Perawakannya kecil. Tampang si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan. Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. Yang pasti, kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain. Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian ilmu rontek

RIWAYAT MARIA van ENGELS


Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Veteran), diapit Ciliwung, merupakan kawasan elit Eropa. Di sini terdapat istana, toko-toko penjual produk dan busana Eropa. Ada sejumlah hotel, teater, klab malam, dan tempat hiburan lainnya. Semua dengan ciri-ciri Eropa modern. Lebih-lebih saat Raffles (1811-1816), letnan jenderal Inggris, menjadikannya kawasan warga Eropa. Berdekatan dengan Noordwijk terletak Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, yang juga banyak dihuni warga Eropa. Diantaranya, keluarga Engels, warga Belanda. Van Engels beristri gadis Wonosobo, Jawa Tengah, saat dia bekerja di onderneming teh di kaki Gunung Dieng. Mungkin untuk mencari peruntungan yang lebih baik, keluarga van Engels penganut Katolik kemudian hijrah ke Batavia. Ia pun dapat tugas turut membangun jalan kereta api Batavia ke Jawa Timur. Dia punya dua orang gadis, Maria dan Lies van Engels. Sebagai gadis Indo-Belanda, Maria berkulit putih, cantik dan tinggi semampai. Dia bekerja di toko penjahit di Noordwijk. Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda membolehkan mereka tinggal di luar kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota. Seorang habib, Abdurahman Alhabsyi, putra sulung Habib Ali pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat, sering mendatangi kawan-kawannya di Gang Abu, melewati

tempat Maria van Engels bekerja. Habib Ali lahir 1867, meninggal 1968 dalam usia 102 tahun. Diperkirakan, saat pertemuan antara pemuda keturunan Arab dengan gadis Indo itu terjadi sekitar akhir 1880-an. Hampir tiap hari Habib Ali menyambangi tempat Maria bekerja. Mula-mula memang dicuekin. Tapi berkat kegigihan sang habib, akhirnya kedua remaja berlainan agama itu saling terpikat. Maria pun terlebih dulu menyatakan setuju menjadi Muslimah dan mengganti nama jadi Mariam. Bahkan, ibunya yang biasa disebut 'Encang', ikut bersama anak gadisnya. Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi majelis taklim), tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya. Namun, rupanya jamaah Kwitang tak kalah gesitnya. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka nongkrong di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu Gang Adjudant) dan Kembang I. Bersenjatakan golok sambil berkerodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang. Setelah pernikahan secara Islam, Mariam jadi menantu kesayangan Habib Ali dan tinggal disamping rumah mertuanya. Ia cepat dapat bergaul dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kampung Kwitang menyebutnya 'Wan Enon' atau 'Ibu Enon'. Sedang cucu-cucunya memanggil 'Jidah Non'. Jidah adalah sebutan nenek dalam bahasa Arab. Setelah berkeluarga, Jidah Non oleh suaminya diminta kesediannya untuk tidak keluar rumah selama dua tahun. Dengan maksud melatih dan mendidik sang mualaf ajaran Islam. Sejak saat itu dia tidak pernah melepaskan busana Muslim. Memakai kain dan kebaya, serta berkerudung, dan hampir tidak pernah melepaskan tasbih. Sampai akhir hayatnya diapun berusaha untuk tidak menemui orang yang bukan muhrim. Sedang ibunya yang juga tinggal bersama menantunya, menjadi seorang ibu saleha. Bahkan ia diberangkatkan ke tanah suci. Setelah Habib Abdurahman wafat 1940, Jidah Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh takwa. Untuk membantu keluarga -- yang sebagian sudah menikah -dia berdagang jamu. Mulai jamu beranak sampai jamu nafsu makan. Dia memiliki keahlian dalam pengobatan herbal. Memiliki sebuah buku tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional dalam bahasa Belanda. Sayangnya setelah almarhum wafat awal 1961, buku yang sangat berharga itu raib begitu saja. Dia juga berjiwa sosial. Sering memberikan pertolongan bila yang sakit orang tidak berpunya, dan memberikan jamu secara gratis. Sekalipun berbeda agama, tapi hubungan dengan adiknya, Lies van Engels, tetap mesra. Kalau mereka bertemu saling mencium pipi. Kala itu, tanta Lies, demikian kami memanggilnya, sudah tinggal di Eijkmanlaan (kini Jl Kimia), bersebelahan dengan RSUP Ciptomangunkusumo. Kala itu RSUP bernama CBZ (Central Bergelijk Ziekenin Rachting), berdiri 1919. Pada 1957, hubungan Indonesia-Belanda putus akibat soal Irian Barat (Papua). Sementara Bung Karno menasionalisasi perusahaanperusahaan milik Belanda, sambil menyerukan pada pekerjanya untuk mengambil alih. Tante Lies pun pulang ke Nederland bersama puterinya dan tinggal di Wesp, dekat Amsterdam. Salah seorang cucunya kawin dengan pemain sepakbola Belanda, Ajax Amsterdam. Selang beberapa tahun, satu dari keponakannya beserta suami dan keluarganya, berimigran ke Houston, AS.

Pada suatu malam tahun 1961, Jidah Non yang sedang sakit menginginkan semua keluarga berada di dekatnya. Dan ketika meninggal dunia, kami kirimkan kawat pada adiknya di Holland. Jenazahnya dibaringkan di dekat kamar mertuanya, Habib Ali. Sejumlah ulama terkemuka Jakarta, seperti KH Abdullah Syafie, KH Tohir Rohili, KH Nur Ali, hadir diantara ribuan pelayat.

PLAYBOY BATAVIA DIHUKUM GANTUNG Memasuki kawasan Glodok setelah melewati Pancoran terletak Jalan Toko Tiga. Kita tidak tahu dinamakan demikian. Tapi ada yang menyebutkan awalnya merupakan jalan dengan tiga toko. Orang Tionghoa menyebutnya Sha Keng Tho Kho. Dahulu di Jalan Toko Tiga Glodok, terdapat sejumlah toko tembakau, yang sekarang masih dapat kita jumpai dalam jumlah tidak banyak. Paruh pertama abad ke-19, tepatnya pada 1830'an, di kawasan Toko Tiga terdapat sebuah toko tembakau terbesar di Batavia. Pemiliknya adalah Oey Thay, yang berasal dari Pekalongan. Waktu itu dagang tembakau sangat menguntungkan. Maklum di Batavia sebagian besar warganya memakan sirih. Hingga di rumah-rumah terdapat tempat sirih dan tempolong untuk membuang ludah sirih. Oey Thay sangat dikenal dan disegani masyarakat. Ia memiliki empat anak, satu wanita yang kemudian menikah dengan putra Bupati Pekalongan. Karena kedekatannya dengan Mayor der Chinezen, ia pun diangkat sebagai Lieutnan der Chinezen, untuk kawasan Kali Besar. Kala itu, pemimpin masyarakat Tionghoa diberi pangkat tituler: Mayor, Kapten, dan Letnan. Oey Thay meninggal dalam usia 50 tahun, meninggalkan harta warisan bejibun bagi keluarganya. Beberapa bidang tanah sangat luas di Pasar Baru, Curug, Tangerang dengan sewa 95 ribu gulden setahun. Waktu itu dengan uang 10 gulden orang sudah bisa hidup sederhana. Selain itu, ia mewariskan sejumlah rumah, uang, perhiasan yang jumlahnya melebihi dua juta gulden. Hanya beberapa gelintir orang yang dapat dihitung dengan jari yang memiliki kekayaan sebesar itu. Harta warisan yang konon tidak habis untuk tujuh turunan ini, membuat salah seorang putranya, Oey Tambahsia lupa diri. Berbekal dengan ketampanan yang luar biasa, Oey menjadi seorang remaja yang gemar berfoya-foya, dan mengejar para wanita. Ia kerap menghabiskan waktu berkuda keliling kota dengan pakaian mewah, ditemani beberapa centeng. Di kudanya yang diimpor dari Australia, Oey muda dengan matanya jelalatan mencari gadis-gadis molek untuk dirayunya. Tak sedikit keluarga yang menyembunyikan anak gadisnya dibalik pintu rumah tertutup dapat karena takut terlihat pria hidung belang ini. Ia juga dikenal sebagai orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Di Jalan Toko Tiga, terdapat sebuah sungai yang kala itu airnya masih jernih. Tiap pagi, saat Oey Tambahsia buang air besar di kali tersebut, belasan orang menunggunya. Karena saat ia cebok menggunakan uang kertas untuk membersihkannya. Saat itu mereka yang telah menunggunya, saling rebutan. Hingga seringkali sampai ada yang lukaluka. Setelah mencari gadis yang akan dijadikan umpan, sang playboy kemudian mengalihkan operasinya ke daerah Senen. Secara kebetulan, ia melihat seorang gadis molek dari keluarga Sim saat muncul dari balik pintu. Padahal ketika itu, gadis-gadis Tionghoa, seperti juga pribumi dipingit. Sulit keluar rumah tanpa ditemani orang tua

dan kerabatnya. Gadis itu akhirnya menjadi istrinya. Pesta pernikahannya disebut-sebut sebagai pernikahan terbesar yang tak ada tandingannya di Batavia. Begitu meriahnya pesta perkawinan memanggil wayang Cina, tayuban, arak-arakan, dan kembang api. Tidak tanggung-tanggung pesta ini berlangsung selama beberapa hari. Karuan saja membuat Mayor Cina Tan Eng Goang yang tinggal di jalan yang sama jadi geram. Demikian pula Dewan Cina yang merasa dilangkahi karena Oey mengadakan pesta dan menutup jalan tanpa meminta izin kepadanya. Ternyata pesta besar dan meriah tidak menjamin kelanggengan rumah tangga suami istri ini. Hanya berlangsung beberapa minggu saja setelah perkawinan, istrinya di siasiakan. Si tampan kembali pada kebiasaannya berfoya-foya. Ia memiliki vila di Ancol bernama Bintang Mas. Tempat ia melampiaskan hawa nafsunya. Bahkan, saat berada di Pekalongan untuk menghadiri acara keluarga, ia jatuh cinta pada seorang pesinden. Perempuan ini dibawa ke Batavia. Ketika kakak Gunjing bernama Sutedjo datang ke Batavia, Oey menjadi cemburu. Karena Guncing minta kakaknya tinggal bersama mereka dan memberikan kain batik buatannya sendiri. Oey pun memerintahkan dua orang kaki tangannya untuk menghilangkan Sutedjo. Harta dan kekuasaan telah membutakannya. Ia menjadi pembunuh berdarah dingin. Ia juga telah menghilangkan nyawa menantu Mayor Cina yang menjadi pesaingnya dibidang bisnis. Masih banyak lagi kejahatan yang dilakukannya. Hingga akhirnya ia pun dijatuhi mati dengan cara digantung. Ketika ia naik ke tiang gantungan, Oey Tambahsia berjalan tegak dengan tangan terikat. Sang algojo kemudian menendang dingklik (tempat pijakan kaki yang dipakai berdiri). Dan terjeratlah leher Oey, terkapar dan mati dalam usia 31 tahun. Kisah yang pernah terjadi di Jakarta tempo doeloe, Ahad (17/4), telah digelar kembali di Gedung Museum Sejarah Jakarta di Jalan Falatehan, Jakarta. Gedung ini dulunya merupakan Balaikota Batavia. Di gedung ini ditemukan penjara dan ruang pengadilan. Di gedung inilah Oey digantung dan diadili. Ratusan penonton yang ikut nimbrung acara pegelaran, seolah-olah melihat Oey Tambahsia hidup kembali. Seperti dikatakan Kepala Museum Sejarah Jakarta, kalau kali ini kami ingin menghadirkan kehidupan masayrakat Tionghoa, karena mereka merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Batavia masa lalu. Ini merupakan pagelaran kelima dalam bentuk teater yang diselenggarakan Museum Sejarah Jakarta.

PEMBANTAIAN GLODOK Etnis Cina di Indonesia -- terbesar di Asia Tenggara -- baru saja merayakan Imlek, dan disusul perayaan Capgomeh pada malam ke-15 Imlek. Masih banyak lagi hari raya dan pesta rakyat, yang pada tempo doeloe dirayakan bukan hanya oleh etnis Cina, tapi juga masyarakat Betawi. Seperti, Peh Cun (hari ke-100 Imlek), dan pesta Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April 2008. Pesta Peh Cun juga dikenal dengan pesta perahu naga. Dulu -- ketika sungai-sungai di Jakarta masih lebar dan dalam -- pesta Peh Cun berlangsung sangat meriah di Kali

Besar, Kali Pasir/Kwitang, Pasar Ikan, Kali Angke, dan di Sungai Cisadane Tangerang (Benteng). Masyarakat Cina di Indonesia tidak hanya mengalami saat-saat menyenangkan. Seperti, pada tahun 1740 yang menurut para sejarawan merupakan noda paling hitam di Jakarta. Data kontemporer menyebutkan tidak kurang 10 ribu orang Cina -- pria, wanita, lansia sampai bayi yang baru lahir -- telah dibantai oleh VOC secara kejam. Kasus pembantaian terhadap etnis Cina itu ratusan kali lebih dahsyat dari kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo. Nama Kali Angke (dalam Mandarin berarti Kali Merah) menjadi kenangan bahwa kali yang berdekatan dengan Glodok ini saat itu telah menjadi merah karena darah. Peristiwa kekejaman itu dimulai ketika orang-orang Cina yang mencari peruntungan di Batavia jumlahnya mencapai 80 ribu orang. Banyak di antara mereka yang bekerja di pabrik-pabrik gula yang masa itu merupakan penghasilan bidang perkebunan terbesar di Jakarta. Sayangnya, tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membludaknya gula Malabar (India). Pabrik-pabrik gula di Batavia pada bangkrut, sehingga banyak warga Cina yang menjadi penganggur dan gelandangan. Dampaknya, kriminalitas di Batavia meningkat tajam. Kemudian, VOC buat peraturan untuk membatasi kedatangan warga Cina. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha atau berdagang. Tapi, bagi para pejabat VOC hal ini dijadikan kesempatan untuk melakukan pungli. Belum puas dengan peraturan itu, VOC mengeluarkan peraturan lebih berat. Warga Cina, baik yang sudah memiliki surat izin tinggal maupun belum, tapi tak memiliki pekerjaan, harus ditangkap. Warga Cina terguncang, mereka terpaksa tinggal di rumah-rumah dan menutup toko-toko. Ratusan warga yang kena razia diberangkatkan paksa ke Sri Langka yang kala itu merupakan jajahan Belanda. Tapi, kemudian tersiar isu, di tengah perjalanan mereka dilemparkan ke tengah laut. Maka gegerlah warga Cina di Batavia dan sekitarnya. Mereka lantas membantuk kelompok-kelompok terdiri dari 50 sampai 100 orang dan mempersenjati diri untuk melawan Belanda. Kemudian pasukan VOC yang tengah menuju Benteng (Tangerang) diserang orangorang Cina. Pada 8 Oktober 1740 orang-orang Cina yang berada di luar kota Batavia mulai menyerang kota. Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai-pegawai VOC untuk melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap etnis Cina. Jam malam pun diberlakukan di Batavia. Pada tanggal 10 Oktober 1740, gubernur jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Cina. Suasana kota sangat kalut. Para prajurit VOC, bahkan kelasi-kelasi yang kapalnya bersandar di Bandar Sunda Kalapa, diminta untuk melakukan pembantaian. Mereka merampok, membakar dan menjarah toko-toko, serta tanpa mengenal malu memperkosa wanita-wanita Cina. Begitu biadabnya pembantaian itu, hingga para pasien termasuk bayi-bayi yang berada di RS Cina (kira-kira di depan Stasion KA Beos), juga dibunuh. Orang-orang Cina di penjara bawah tanah di Balaikota (stadhuis) yang berjumlah 500 orang, semuanya juga dibunuh. Untuk menggambarkan dahsyatnya peristiwa tersebut, Willard A Hanna dalam buku

Hikayat Jakarta menulis, ''Tiba-tiba secara tidak terduga, seketika itu juga terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh kota, dan terjadilah pemandangan yang paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota.'' Menurut laporan kontemporer, 10 ribu orang Cina dibunuh, 500 orang luka parah, 700 rumah dirusak dan barang-barang mereka habis dirampok. ''Pendeknya, semua orang Cina, baik bersalah atau tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut,'' tulis Hanna. Ketika peristiwa menakutkan ini terjadi, perkampungan Tionghoa berada kira-kira di sebelah utara Glodok, di Kalibesar. Kemudian VOC membangun perkampungan baru untuk mereka sedikit di luar tembok kota, yang kini dikenal dengan nama Glodok. Kala itu, yang menjadi kapiten Cina adalah Nie Hoe Kong. Dia dituduh menjadi aktor intelektual dan dianggap bertanggung jawab dalam peristiwa menyedihkan itu. Dia dijebloskan ke penjara pada 18 Oktober 1740 oleh gubernur jenderal Adrian Valckenier (1737-1741). Setelah melalui persidangan yang melelahkan, bertele-tele dan dipolitisir, Nie Hoen Kong divonis 25 tahun penjara dan diasingkan ke Srilangka. Setelah mengajukan keberatan, kapiten Cina ini akhirnya dibuang ke Maluku. Rumahnya, di sekitar Kalibesar, ditembaki dengan meriam, dan ia pun dipenjara selama 5 tahun di benteng Robijn. Pada 12 Pebruari 1745 dia diangkut sebagai tawanan ke Maluku disertai beberapa orang keluarganya dengan kapal De Palas. Setelah beberapa lama ditahan di tempat pembuangan, dari hari ke hari kesehatannya makin menurun. Dia meninggal pada 25 Desember 1746 dalam usia muda: 36 tahun. Setelah peristiwa pembantaian warga Cina, gubernur jenderal Valckenier digantikan oleh mantan panglimanya, Baron van Imhoff. Kediamannya itu kini dikenal sebagai toko merah. Memang diperkirakan di sekitar tempat itulah terjadi pembantaian di luar perikemanusiaan. Kalau bagi masyarakat Cina warna merah berarti kagoembiraan, tapi kali itu merupakan duka nestapa. Karena, mengalirnya ribuan darah korban pembantaian.

JEJAK PANGERAN WIRAGUNA Ragunan merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kelurahan itu mulai dikenal dan banyak didatangi masyarakat sejak gubernur DKI Ali Sadikin, pada awal 1970-an, membangun kebun binatang di sana menggantikan kebun binatang Cikini yang dijadikan pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM). Sebelum ada taman margasatwa, penduduk Ragunan masih jarang. Belum terdapat jalan raya yang kini dapat ditempuh dari berbagai jurusan, termasuk bus way. Kini,

Taman Margasatwa Ragunan termasuk salah satu tempat rekreasi yang banyak dikunjungi warga Jakarta dan sekitarnya. Tapi, banyak yang tidak tahu asal muasal nama Ragunan. Untuk mengetahuinya, kita harus kembali ke abad 17. Seorang Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, oleh Sultan Banten Abunasar Abdul Qohar yang disebut Sultan Haji putra Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar Pangeran Wiraguna. Pada tahun 1675 terbetik berita, bahwa sebagian dari Keraton Surasowan Banten, tempat bertahta Sultan Ageng Tirtayasa, terbakar. Dua bulan kemudian, datanglah Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang jurubangun, yang mengaku melarikan diri dari Batavia. Kepada Sultan, selain menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali keraton yang terbakar itu, ia juga menyatakan keinginannya untuk memeluk Islam. Kedatangan Cardeel disambut hangat oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang tengah membutuhkan ahli bangunan berpengalaman. Dia ditugasi untuk membangun Istana Surasowan, termasuk bendungan dan istana peristirahatan di sebelah hulu Ci Banten, yang kemudian dikenal dengan sebutan bendungan dan Istana Tirtayasa. Dalam situasi demikian, terjadi kemelut di Kesultanan Banten. Sultan Haji mendesak ayahnya agar ia segera dinobatkan menjadi sultan. Akhirnya, terjadilah perang antara ayah dan anak yang cukup menodai sejarah kesultanan Banten. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia. Apalagi kalau bukan meminta bantuan kompeni. Tentu saja pihak kompeni menjadi sangat gembira menerima permintaan tersebut. Adapun yang diutus ke Batavia tidak lain Pangeran Wiraguna alias Cardeel. Atas jasajasanya itulah, Cardeel mendapat dapat gelar Pangeran Wiraguna. Pada 1689, Cardeel pamit pada sultan dengan alasan pulang ke Belanda. Tetapi, ia menetap di Batavia dan kembali memeluk Kristen. Tanahnya yang sangat luas kini bernama Ragunan -- dari kata Wiraguna. Menurut penulis sejarah Batavia, de Haan (1911), Cardeel dimakamkan di Ragunan dan makamnya oleh sementara orang dikeramatkan. Namun, sampai kini makam itu tidak diketemukan. Bahkan, penduduk asli Ragunan, termasuk para orang tua, tidak mengenal sejarah kampung mereka. Di Kesultanan Banten, dengan pemerintahan Islamnya, orang-orang asing memiliki dua pilihan terbuka: mereka tetap seperti adanya dan menjalankan bisnis dari luar dinding keraton, atau mereka melakukan konversi agama menjadi seorang Muslim. Dengan menjadi Muslim orang asing diizinkan untuk membuat kontrak, memperolah hak berdagang, dan memperoleh pekerjaan bergengsi. Konversi itu ditandai dengan khitanan, mengganti nama dan gelar resmi serta poligami. Karenanya, Cardeel mendapatkan gelar Pangeran Wiraguna ahli bagian kerajaan, ahli konstruksi terkemuka dengan status Muslim, dan menjadi suami seorang pribumi ningrat. Seperti halnya Untung Surapati, Wiraguna membawa pengetahuan tentang teknologi Barat dan ajaran Islam untuk mengabdi kepada Sultan. Meski, akhirnya dia kembali ke agama semula. Pria Eropa memasukkan dirinya ke dalam sejarah Indonesia, ketika mereka menemukan majikan Indonesia yang mau membayar keahliannya sebagai pelatih, peniup trompet, penembak meriam dan para jurutulis. Mereka pun membangun keluarga dengan menikahi perempuan lokal. Khusus mengenai Pangeran Wiraguna, pada tahun 1689, Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal Camphuys menetapkan kembali dirinya sebagai orang Belanda yang

beragama Kristen. Namanya muncul pada 1695 sebagai seorang asisten pribadi residen Batavia, seorang tuan tanah dan operator mesin potong dengan kontrak harus mensuplai kayu pada VOC. Pada tahun itu juga Cardeel melepaskan diri dari pernikahannya dengan Nila Wati yang telah dijalaninya selama enam tahun. Karena menurut versi Belanda -- istrinya itu berselingkuh dengan seorang pria Sunda. Kemudian Cardeel alias Pangeran Wiraguna menikah lagi dan kali ini dengan upacara Kristen. Sedangkan ketika mengawini Nila Wati, gadis Banten, melalui akad nikah secara Islam. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang orientalis Belanda, Snouck Horgronye, yang sampai kini masih banyak dibicarakan. Snouck yang ditugasi pemerintah kolonial untuk meredam kebangkitan Islam pada abad ked-19, juga melakukan tugasnya dengan memakai kedok. Dengan masuk agama Islam Snouck berhasil pergi ke tanah suci dan mengibuli ulama-ulama Betawi. Dalam menghadapi Islam, menurut orientalis Belanda ini, harus dipisahkan Islam sebagai agama dan politik. Terhadap masalah agama, pemerintah kolonial disarankan untuk bersikap netral. Sedangkan terhadap politik dijaga benar datangnya pengaruh dari luar semacam Pan Islam. Apalagi, sebelumnya, pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan oleh kelompok-kelompok Islam seperti dalam Perang Paderi (1821-1827), Perang Diponegoro (1825-1830), dan Perang Aceh (1873-1903). Bagi Snouck dan pemerintah Belanda musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik. Apalagi pada masa itu orang Islam di negeri ini memandang agamanya sebagai titik identitas yang melambangkan perlawanan terhadap pemerintah Kristen dan orang asing.

PEMBERONTAKAN AKHIR TAHUN


Batavia, Ahad petang, 28 Desember 1721. Dari pintu kota Nieuwpoort (dekat stasion kereta api Jakarta Kota), keluar seorang pemuda Jawa menyeberang ke jembatan Jassenmburg lewat gereja Portugis (depan stasion), menuju Jacatraweg (kini Jl Pangeran Jayakarta). Menjelang penggantian tahun itu, Batavia sejak pagi hingga sore diguyur hujan lebat dan angin ribut. Banyak rumah rusak dan puluhan pohon roboh diterjang topan. Beberapa perahu di pesisir tenggelam. Sepanjang jalan sangat becek dan air hujan masih mengenanginya. Pemuda Jawa dan belasan pengikutnya itu berjalan di pinggirpinggir rumah, agar pakaian mereka tidak terkena lumpur. Di sebuah rumah indah dengan pekarangan luas, pemuda berusia sekitar 30 tahun dengan keris bergagang emas di pinggangnya itu, diterima tuan rumah yang berusia sekitar 50-an. Meskipun sebagian rambutnya sudah memutih ia masih tampak gagah. ''Ada kabar apa Raden Kartadria?'' tanya tuan rumah yang tidak lain adalah Pieter Elbelveld, seorang Indo (ayah Jerman dan ibu Jawa). ''Saya cuma memberi kabar, semua sudah siap menjalankan tugas. Kekuatan kita cukup. Saya sendiri dan beberapa kawan sudah mengumpulkan 17 ribu prajurit yang siap untuk memasuki kota,'' kata Raden Kartadria, seorang ningrat yang masih keturunan kesultanan Mataram Islam. ''Tuan Gusti tahu bagaimana alpanya itu orang-orang kafir merayakan tahun baru. Ia orang akan plesir sepuas-puasnya dan minum sampai mabuk-mabukan. Dalam keadaan demikian mereka tidak sanggup mencegah kita merebut pintu kota dan memasuki benteng di waktu fajar,'' Raden meyakinkan Gusti -- panggilan Pieter. 'Ya, Raden,'' sahut Pieter. ''Tapi, apakah kau sudah kasih perintah tiada satupun orang kulit putih boleh dikasih ampun. Lelaki, perempuan, tua, muda dan anak-anak, semua mesti dibunuh mati! Dari gubernur jenderal sampai orang partikulir yang paling rendah mesti binasa. Biarlah nanti sungai-sungai dan kanal-kanal di Batavia merah dengan darah mereka,'' kata Pieter berapi-api. Tapi, mereka tidak sadar bahwa pembicaraannya didengar oleh seorang budak yang keesokan harinya menyampaikannya kepada seorang perwira VOC, Kapten Cruse. Batavia 29 Desember 1721, malam. Gubernur Jenderal Zwaardecroon menerima banyak tamu. Pukul 22.00, setelah makan, barulah para tamu bubar. Seorang ajudan memberitahu orang nomor satu di Hindia Belanda itu bahwa Kapten Cruse hendak berjumpa dan ingin menyampaikan kabar penting. Kapten yang tampan ini melaporkan bahwa satu jam lalu budak Pieter Elberveld memberitahukan bahwa pada malam tahun baru akan terjadi hura-hara besar di Batavia dan Pieter memastikan pada 1 Januari 1722 akan jadi raja di Jawa. Gubernur jenderal yang kaget mendengar laporan itu langsung memerintahkan agar segera dilakukan pengusutan dan menangkap semua yang terlibat. Pada tanggal 31 Desember 1721, di kediaman Pieter telah berkumpul sejumlah orang yang siap untuk menggerakkan pasukan yang dikonsentrasikan di luar kota Batavia. Lonceng kota menunjukkan pukul pukul setengah sebelas malam. ''Ah, beberapa jam lagi saja jiwa orang-orang Eropa di Batavia akan melayang,'' kata salah seorang di antara mereka. Tiba-tiba pintu rumah yang dikunci rapat digedor, disertai ringkik suara kuda dan teriakan-teriakan buka pintu. Kapten Cruse dan para serdadu Kompeni dengan senjata lengkap menyerbu masuk. Meskipun berusaha melawan, tapi akhirnya mereka dapat

dibelenggu. Pada bulan April 1722, Pieter dan 17 orang pengikutnya disidang di pengadilan Batavia dan mereka mendapat hukuman berat. Yang paling keji hukuman terhadap Pieter dan Raden Kartadria. Tangan kanan mereka dikampak sampai putus. Besi panas yang memerah karena berapi ditempelkan ke tubuh keduanya. Kepala mereka ditebas sampai putus dan hati mereka dikeluar serta dilempar keluar kota untuk santapan burung. Konon, kaki dan tangan Pieter diikat ke empat ekor kuda. Kuda-kuda itu kemudian dipacu untuk berlari ke arah berlawanan untuk mencabik-cabik tubuh Pieter. Karena itulah, tempat eksekusi Pieter sampai kini disebut Kampung Pecah Kulit -- berdekatan dengan stasion kereta api Jayakarta. Kawan-kawannya juga mendapat hukuman mati, tapi tidak sekejam hukuman bagi kedua pimpinan mereka. Agar jangan sampai ada lagi pemberontakan semacam itu, di pekarangan rumah Pieter Elberveld didirikan satu tembok bercat putih, di atasnya ditempatkan sebuah relief tengkorak kepala Pieter terbuat dari gips. Pada dindingnya terukir tulisan dalam bahasa Belanda dan Jawa, ''Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan akan penghianat Pieter Elbelveld yang dihukum. Tak seorangpun sekarang dan seterusnya akan diizinkan membangun, menukang dan mamasang batu bata atau menanam di tempat ini.'' Monumen yang telah berdiri selama lebih 200 tahun itu telah dibongkar pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan pada 1970 replikanya di pasang kembali di Gedung Museum Sejarah Jakarta dan tempat dia dimakamkan di Museum Prasasti di Jl Tanah Abang I Jakarta Pusat. Sedangkan kediamannya di Jalan Pangeran Jayakarta kini sudah berubah fungsi menjadi showroom perusahaan mobil PT Astra. Tidak jauh dari Gereja Portugis, dis ebelah kanan dari arah stasion Jakarta Kota, terdapat sebuah gang kecil yang sebagian besar penduduknya warga Betawi. Di sini oleh masyarakat diyakini sebagai makan Raden Kartadria. Sampai sekarang makamnya, yang diselubungi kain putih dan diletakkan dalam sebuah kamar khusus, banyak diziarahi orang. Banyak peziarah yang membacakan surah Yasin untuk sang pahlawan.

GEDUNG KPM DAN KISAH NYAI DASIMA Inilah kantor pusat KPM (Koninkluke Paketvaart Maatchappij), perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda, yang setelah diambil alih pemerintah menjadi Pelni (1957). Gedung berlantai tiga kini menjadi kantor Ditjen Perla (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut). Gedung KPM ini diabadikan tahun 1930-an. Terlihat dari puluhan mobil parkir di depan gedung di Koningsplein-Oost No 5 (kini Medan Merdeka Timur), Jakarta Pusat. Seperti merek Austin, Morris, dan Fiat, yang seluruhnya mobil buatan Eropa. KPM pada 1927 telah memiliki 136 kapal laut, dengan lancar mengarungi seluruh kepulauan di Nusantara dan mancanegara. Di samping mengangkut penumpang, KPM secara tetap mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok ke daerah-daerah terpencil. Di samping mengangkut berbagai komoditas ekspor dan imppor. Gedung ini didesain Ir FJL Ghijsells, arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, Jawa Timur pada 1916 dan dibangun 1917-1918. Pada 1957 seluruh perusahaan Belanda di Indonesia diambil alih. Di samping KPM, juga BVM (Batavia Verkeer Maatchappij), yang bergerak dibidang angkutan trem dan bus. Sejak itu lahirlah PPD (Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta), yang pada awal pekan lalu para awaknya melakukan mogok kerja, menuntut pembayaran gaji dan masa depan yang lebih baik. PPD sejak mengambil alih BVM terus menerus merugi. Salah satu sebab kehancuran PPD adalah korupsi, termasuk penyalahgunaan dalam pembelian dan penggunaan suku cacang untuk keperluan armada angkutannya. Yang tidak pernah terjadi di masa kolonial. Kurang lebih di tempat gedung Ditjen Perla inilah, latar belakang novel historis terkenal Nyai Dasima karya G Francis. Kisah seorang nyai (wanita yang dijadikan gundik dan tanpa dinikah) dari desa Kuripan. Yang letaknya di sebelah kanan dari Ciseeng, setelah menempuh perjalanan dari Parung sejauh 10 km.Kisah Nyai Dasima terjadi di masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Dasima gadis cantik dan bahenol menjadi istri simpanan tuan Edward William, salah seorang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Raffles. Walaupun Dasima diperlakukan dengan baik oleh tuannya, tapi ia akhirnya rela dijadikan sebagai istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang. Dalam versi G Francis, Nyai Dasima meninggalkan tuan dan putrinya karena digunaguna Samiun, melalui Mak Buyung. Kemudian diluruskan budayawan Betawi SM Ardan. Dasima memilih Samiun dan meninggalkan tuannya setelah diinsafkan bahwa kawin tanpa nikah (kumpul kebo) suatu perbuatan yang sangat terlarang dalam Islam. Tragisnya, nyai dari Kuripan ini akhirnya dibunuh Bang Puase, jagoan dari Kampung Kwitang, ketika ia dan suaminya hendak nonton tukang cerite di Gang Ketapang (depan Sawah Besar sekitar Jl Gajah Mada). Ia dibunuh atas suruhan Hayati, istri pertama Samiun yang tengah dibakar cemburu. Peristiwa ini terjadi kira-kira di depan Markas Marinir di Kwitang, sebelah toko buku Gunung Agung.

HUKUMAN MATI BUAT BANG PUASE Di Jakarta, pada masa kolonial sampai akhir abad ke-19, di depan gedung Balaikota Batavia yang kini menjadi Museum Sejarah DKI Jakarta, terdapat tiang gantungan. Salah seorang yang dieksekusi di tiang gantungan itu adalah Bang Puase. Dia adalah seorang jagoan dari Kwitang, Jakarta Pusat. Dia dihukum gantung karena dituduh membunuh Nyai Dasima, seorang nyai rupawan dari Kuripan, Ciseeng, Parung, Bogor. Eksekusi itu terjadi pada tahun 1813 pada awal kekuasaan Inggris (Raffles) di Indonesia. Di Kampung Kwitang, tiap Ahad kini ada pengajian Habib Ali yang didatangi ribuan warga dari Jabotabek. Konon, Bang Puase dilahirkan di salah satu tempat yang sampai tahun 1960-an bernama Gang Mendung, di Kampung Kwitang. Mungkin dia dilahirkan saat Ramadhan hingga dinamakan demikian. Kisah itu kemudian menjadi latar belakang novel historis Nyai Dasima karya G Francis yang ditulis dalam bahasa Melayu rendah pada tahun 1893 83 tahun setelah eksekusi itu terjadi. Pengarang-pengarang Belanda kala itu selalu menjelek-jelekkan mereka yang berani melawan pemerintahan kolonial. Tokoh Si Pitung, miaslnya, dalam versi kolonial digambarkan sebagai penjahat kejam, pembunuh berdarah dingin dan tidak berkemanusiaan. Padahal, yang dirampoknya adalah harta milik petinggi kolonial dan para tuan tanah yang memeras rakyat. Dalam novel Nyai Dasima, G Francis juga memuji setinggi langit kebaikan Tuan Edward Willem, seorang petinggi Inggris yang bersama istri piaraannya (Dasima) dan putrinya (Nancy) tinggal di dekat kantor Dirjen Perhubungan Laut, di Jalan Medan Merdeka Timur sekarang ini. Francis juga menjelek-jelekkan Islam bahwa Dasima rela meninggalkan suami dan putrinya karena diguna-guna oleh Haji Salihun yang menerima bayaran dari Samiun. Haji Salihun memberikan dua bungkus obat bubuk melalui Mak Buyung, seorang penjual telur. Salah satu obat itu diberikan kepada Nyai Dasima agar hatinya goncang dan membenci Tuan Willem. Dalam karya yang juga berjudul Nyai Dasima, seniman Betawi SM Ardan telah meluruskannya. Menurut versinya, Nyai Dasima bersedia meninggalkan tuan kumpul kebonya setelah diingatkan bahwa menurut Islam kawin tanpa nikah adalah berzina dan dosa besar. Menurut versi Francis, setelah menikah dan jadi istri kedua Samiun, suaminya ini dengan dalih agama mengambil seluruh harta Nyai Dasima. Ketika Dasima minta cerai, Samiun menyuruh Bang Puase untuk membunuhnya. Sedang dalam versi Ardan, Bang Puase membunuh Dasima atas pesanan istri pertama Samiun, yakni Hayati. Versi lain menyebutkan, Bang Puase membunuh Nyai Dasima untuk melampiaskan kebenciannya terhadap perempuan piaraan orang asing, yang menurut Islam adalah zinah. Dia tidak rela Nyai Dasima perempuan piaraan Tuan Willem berada di kampungnya. Diduga, Nyai Dasima dibunuh di tengah jalan (di dekat Hotel Aryaduta atau di depan Toko Buku Gunung Agung kini), ketika naik sado bersama Samiun untuk nonton Hikayat Amir Hamzah. Setelah melalui proses pengadilan kolonial yang sering direkayasa, akhirnya Bang

Puase dieksekusi di halaman depan pengadilan Belanda (kini menjadi Museum Sejarah Jakarta). Dia melangkah ke tiang gantungan tanpa rasa takut sambil bertakbir.

REVOLUSI BULAN APRIL DI CONDET Memasuki kawasan Condet dari arah Cililitan dikenal sebagai salah satu pusat kemacetan di Jakarta Timur. Padahal Condet, yang terdiri dari tiga kelurahan (Bale Kambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah) luasnya 632 hektare kira-kira lebih separuh lapangan Monas pernah hendak dijadikan Cagar Budaya Betawi. Alasan Bang Ali 30 tahun lalu, karena 90 persen masyarakatnya asli Betawi. Kala itu, 60 persen penduduk Condet petani salak dan duku, 20 persen buah-buahan lainnya, dan hanya 15 persen buruh/karyawan. Kini, kebun dan tanah pertanian berubah jadi perumahan dan gedung bertingkat. Tidak ditemui lagi duku dan salak condet yang manis dan masir. Pohon-pohon melinjo yang dijadikan emping ketika ratusan 'home industri'-nya menjamur di Condet kini sudah hampir tidak membekas. Warga Betawi sudah banyak hengkang. Sejumlah warga Betawi yang tersisa, kini tidak lagi menjual tanahnya seperti dulu. Mereka membangun rumah-rumah petak untuk dikontrakan. Hasil kontrakan cukup untuk hidup sederhana. Banyak warga keturunan Arab dari Jakarta dan Jawa Timur kini tinggal di Condet. Seperti di Jl Condet Raya -- jalan raya dua jalur yang selalu macet --, kini banyak penjual minyak wangi, kitab bahasa Arab, madu Hadramaut dan Arab sampai rumah makan penjual nasi kebuli. Tentu saja sejumlah gedung dan kantor penampungan TKW. Kita mengangkat masalah Condet, karena dalam bulan April ini ada peristiwa besar di sini. Tepatnya pada 15 April 1916, ketika Haji Entong Gendut memimpin para petani di depan rumah Lady Rollensin, pemilik tanah partikulir Cililitan Besar. Pada pertengahan abad ke-17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikulir Tandjong Oost (kini Tanjung Timur), saat dimiliki Pieter van der Velde. Setelah beberapa kali berpindah tangan, awal abad ke-20 jadi milik keluarga Rollinson. Sisa-sisa gedung ini yang pernah terbakar masih kita dapati, saat masih jadi rumah peristirahatan Vila Nova. Terletak di depan Markas Latihan Rindam Kodam Jaya (ujung Jl Raya Condet), bersebelahan gedung PP dan Super Indo Market. Kala itu, gedung tuan tanah pekarangannya begitu luas hingga mencakup kawasan Tanjung Barat dan Kramat Jati. Belanda menamakan Groeneveld (lapangan hijau). Di sini terdapat peternakan sapi dengan produksi ribuan liter susu per hari untuk konsumsi masyarakat Belanda di Batavia. Kembali kepada Entong Gendut, ia seorang berani. Gelar haji menunjukkan ia orang bertakwa. Berlainan dengan jagoan masa kini, waktu itu Entong Gendut pembela rakyat tertindas. Melawan kekuasaan kolonial: tuan tanah yang memeras, dibantu wedana dan menteri polisi yang disebut upas. Syahdan para tuan tanah masa itu tidak kalah serakahnya dengan para koruptor masa kini. Hingga masyarakat bertanya-tanya apakah pemerintahan SBY-YK bisa memberantas dan menghukum mereka. Di Condet kekejaman terjadi saat Vila Nova yang sering dikunjungi oleh Gubernur

Jenderal Hindia Belanda untuk berakhir minggu, dijual pada Lady Robinson, orang kaya berkebangsaan Inggris. Lebih-lebih terhadap petani yang gagal membayar pajak. Dan tuan tanah kelewat getol mengadukan mereka ke landrad (pengadilan) untuk membikin perkara. Akibatnya banyak petani bangkrut, rumahnya dijual, tak jarang dibakar. Termasuk harta miliknya Pak Taba. Dan ketika eksekusi hendak dilaksanakan, rakyat Condet marah dan ramai-ramai mendatangi vila Nova guna menggagalkannya. Itu terjadi Februari 1916. Insiden kedua April 1916. Waktu itu tengah berlangsung pertunjukan topeng. Dan ketika pertunjukan mendekati pukul 11 malam, terdengar teriakan-teriakan. Acara supaya dihentikan. Perintah datang dari Entong Gendut. Rakyat patuh kepada tokoh kharismatik ini dan mereka bubaran dengan tenang. Rupanya kala itu Entong ingin membuat pemanasan. Ketika ia ditanya aparat kenapa ia berani nyetop pertunjukan topeng, ia menjawab: ''Demi Agama'. Ia hendak mencegah perjudian. Sambil dengan tegas dan memegang keris ia berikrar: 'Siap untuk membela petani yang jadi korban kejahatan tuan tanah. Kemudian ada info yang memberihu para pejabat di Pasar Rebo dan Meester Cornelis banyak orang berkumpul di rumah Entong Gendut. Ketika wedana diiringi para upas berseru agar Entong keluar rumah, ia dengan suara mantap berkata: ''Saya akan keluar setelah shalat.'' Ketika ia keluar, disertai ratusan para pengikutnya sambil berteriak: Sabi'ullah gua kagak takut mati. Pertempuran yang tidak seimpang terjadi. Tapi pihak Belanda kewalahan. Kemudian bantuan datang, dan Entong Gendut tertembak mati sebagai sahid... Setelah pemberontakan Entong Gendut dipadamkan, sikap tuan tanah makin kejam. Rakyat yang sudah biasa ditakut-takuti itu akhirnya berani lagi mencoba melawan peraturan tuan tanah yang kejam. Pemberontakan kedua terjadi tidak sampai dengan kekerasan senjata. Ini berupa penjajagan, sampai di mana keberanian antek-antek tuan tanah tadi. Percobaan dilakukan dengan penebangan pohon-pohon besar yang tumbuh di tanah kuburan. Demikianlah pada 1923 terjadi penebangan di tanah pekuburan di Condet, yang mereka namakan Kober. Suatu keberanian melawan tindakan yang diharamkan Belanda. Setelah itu rakyat Condet makin berani melawan kompeni. Hingga tidak jarang yang menunggak pajak. Ini berlangsung hingga 1934. Dipelopori beberapa orang rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai tuan tanah keturunan Jan Ameen. Rakyat meminta bantuan hukum pada Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin dll. Rakyat Condet menang perkara, tetapi seperti diuraikan oleh Ran Ramelan, penulis buku ''Condet Cagar Budaya Betawi'', sejauh ini belum ada keputusan, sehingga datang Pemerintahan Federal. Untuk mengenang kepahlawanan Entong Gendut, pernah diusulkan agar salah satu jalan di Condet diabadikan nama almarhum.