You are on page 1of 26

Kontraseps i

PENDAHULUAN
Tugas perempuan tidak hanya hamil! Begitu pendapat perempuan pada zaman sekarang. Bahkan kalau perlu, perempuan bisa menentukan kapan ia hamil dan berapa jumlah anak yang diinginkan. Sekarang tersedia banyak alat kontrasepsi, termasuk kondom rasa strawberry. Pada zaman dulu, perempuan umumnya melahirkan anak yang banyak dan jaraknya sangat berdekatan. Bahkan di daerah Jawa Barat dikenal istilah tunji (sataun hiji) yang artinya tiap tahun perempuan dapat melahirkan satu anak. Lihat saja nenek dan buyut kita. Mereka mempunyai anak 9-11 orang. Jika kondisi ini dibiarkan, berapa jumlah penduduk Indonesia nantinya? 1 KUALITAS HIDUP PEREMPUAN Alasan itu yang menyebabkan munculnya program keluarga berencana (program KB). Pada awalnya, tujuan utamanya adalah membatasi jumlah kelahiran dan menjarangkan kelahiran. Di tengah perjalanan, ternyata banyak manfaat yang dapat dipetik dari program KB. Dengan ber-KB ternyata lebih mensejahterakan ibu hamil. Sang ibu dapat memberi perhatian lebih baik kepada kehamilannya dan mencurahkan perhatian kepada anak-anaknya. Selain itu, ibu terhindar dari risiko perdarahan karena sering melahirkan dan risiko kematian akibat persalinan. Perempuan sekarang menuntut peran yang lebih dari sekadar hamil, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak. Perempuan zaman sekarang ingin bersekolah lebih tinggi, ingin bekerja, ingin aktif di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, ingin keharmonisan keluarga, ingin lebih percaya diri, dan ingin menikmati hubungan seks. Jadi, urusan mengatur kehamilan dan jumlah anak sebetulnya bukan sekadar urusan kuantitas (anak), juga soal kualitas kehidupan kaum perempuan. Banyak anak dan sering hamil bisa dibilang akan menghambat tercapainya keinginan tersebut. Tak heran, Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 1997 (SDKI 1997) menunjukkan 72 persen perempuan zaman ini hanya menginginkan anak 2-4 saja. Di sisi lain, pada zaman dulu yang menjadi target program KB adalah kaum perempuan. Sekarang, kaum laki-laki pun dituntut untuk aktif mengendalikan kehamilan istrinya. 1 MEMILIH ALAT KONTRASEPSI Senada dengan tuntutan di atas, kini produsen alat-alat kontrasepsi mulai melakukan consumer oriented dengan cara menyediakan alat-alat yang sesuai dengan keinginan konsumen. Jangan kaget bila dipasaran kini tersedia kondom rasa coklat atau kondom rasa strawbery, kondom perempuan, jelly, tisu KB, dan jenis-jenis alat kontrasepsi lainnya yang mungkin asing di telinga ibu-ibu kita.

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
Variasi jenis alat kontrasepsi ini menambah daftar jenis alat kontrasepsi klasik seperti IUD, suntik, dan pil. Telitilah sebelum membeli. Slogan itu juga berlaku dalam memilih alat kontrasepsi. Efektivitas dan efek samping sejumlah alat kontrasepsi yang beredar di pasaran berbeda-beda. Pasangan usia subur (PUS) perlu mendapatkan pengarahan dari tenaga medis, baik bidan maupun dokter tentang hal ini. Bagi mereka yang mempunyai riwayat penyakit tertentu yang bisa menimbulkan kontraindikasi, tidak boleh sembarangan memilih alat kontrasepsi hormonal. Jadi, sebaiknya penggunaan dan pemilihan alat kontrasepsi harus berkonsultasi dengan dokter. Pemakaian alat kontrasepsi harus dievaluasi setiap bulan, paling tidak sekali dalam tiga bulan. Ini penting untuk mengetahui cocok atau tidaknya obat atau alat tersebut bagi peserta KB. Kenyataan menunjukkan efektivitas alat kontrasepsi sering tidak didapatkan secara optimal. Banyak dijumpai, perempuan yang telah menggunakan alat kontrasepsi tetap hamil. Karena itulah para ahli kandungan menempatkan efektivitas atau daya guna alat kontrasepsi menjadi dua tingkatan sesuai dengan cara penggunaannya, yaitu efektivitas teori dan efektivitas praktek. Jika efektivitas praktek lebih rendah dibandingkan teori, hal itu disebabkan oleh faktor kelalaian dan ketidakhati-hatian si pemakai semata. Saat ini jenis alat kontrasepsi dapat digolongkan menjadi 6 kelompok : 1. Kontrasepsi tanpa menggunakan alat-alat/obat-obatan; termasuk di dalamnya senggama terputus, pembilasan pascasenggama, perpanjangan masa penyusui, dan pantang berkala. 2. Kontrasepsi secara mekanis; meliputi kondom dan pessarium (diafragma vaginal dan carnival cap) 3. Kontrasepsi dengan obat-obatan spermatisida; seperti suppositorium, jelly atau krim, tablet busa dan intravag (tissu KB) 4. Kontrasepsi hormonal (pil dan implan) 5. Kontrasepsi dengan Intra Uterine Device (IUD) 6. Kontrasepsi mantap (sterilisasi); termasuk di dalamnya vasektomi dan tubektomi1. Di antara berbagai jenis alat kontrasepsi tersebut, yang mudah di jumpai di apotik atau paling banyak dipilih pasangan muda adalah kondom, pil, suntik, susuk, IUD dan sterilisasi. Harganya bermacam-macam dan ditentukan oleh siapa yang memasangkan alat kontrasepsi tersebut. Berdasarkan data SDKI 1997, jumlah perempuan menikah yang menggunakan alat kontrasepsi sebesar 57,4 persen dan yang tidak menggunakan sebesar 42,6 persen. Alat kontrasepsi yang populer adalah alat kontrasepsi modern (pil, IUD, suntik, kondom, implan dan sterilisasi) dibandingkan metode tradisional (seperti pantang berkala). Suntik dan pil merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai. Diafragma dan tisu KB hanya digunakan dalam jumlah yang sangat kecil. Yang menarik, sekitar 85 persen akseptor KB lebih memilih pelayanan bidan ketimbang tenaga medis lainnya. Mungkin ini disebabkan kultur perempuan Indonesia yang merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan kaumnya sendiri. Boleh dikatakan penyebaran bidan yang sampai 73.526 orang di seluruh Indonesia turut mempermudah gerakan KB nasional.

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
Namun, bidan tetap saja mempunyai keterbatasan wewenang dalam memberikan pelayanan yang berkaitan dengan urusan kontrasepsi. Dokter ahli kebidanan dan kandungan jelas mempunyai kewenangan terbesar untuk memberikan konsultasi dan pemasangan semua jenis kontrasepsi. Dokter umum hanya boleh memberikan konsultasi dan pemasangan alat kontrasepsi sampai tahap vasektomi saja dan tidak boleh melakukan tubektomi. Kewenangan bidan dibatasi pada lingkup pemberian pil KB, injeksi, kontrasepsi mekanik dan pemasangan IUD saja. Seorang bidan tidak boleh melakukan tindakan yang bersifat operatif seperti yang dilakukan pada proses sterililisasi,.1

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i

METODE KONTRASEPSI
A. Metode Kontrasepsi untuk wanita B. Metode Kontrasepsi untuk pria

A.

Metode Kontrasepsi untuk wanita

Metode Kontrasepsi untuk wanita non permanen


1. Metode sederhana a. Coitus interuptus 1,2 Senggama terputus adalah cara mencegah kehamilan dengan menarik penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Cara ini merupakan cara kontrasepsi yang tertua dikenal manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang paling banyak dilakukan sampai sekarang. Keuntungannya adalah cara ini tidak membutuhkan biaya dan persiapan. Kekurangannya adalah memerlukan pengendalian diri yang besar dari laki-laki, dan banyak laki-laki yang tidak bisa mengontrol emosionalnya. Tidak mempengaruhi kualitas dan produksi ASI Kegagalannya tinggi Tidak cocok untuk pasangan yang tidak disiplin b. Pantang berkala/ Sistem kalender/ Istibra 1,2 Pantang berkala yang juga diistilahkan dengan sistem kalender mula-mula diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan Hermann Knaus dari Jerman sekitar tahun 1931. Karena itu cara ini juga sering disebut dengan cara Ogino-Knaus. Dasar pemikirannya
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
adalah perempuan hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa tersebut disebut masa subur atau fase ovulasi itu dan terjadi sekitar 14 hari (toleransinya sekitar 2 hari) sebelum hari pertama haid yang akan datang. Kendalanya adalah sulit bagi perempuan untuk menentukan masa suburnya, terutama bagi mereka yang masa haidnya tidak teratur. Banyak yang mengatakan cara ini adalah yang paling aman dan tidak mempunyai efek samping. Tidak mempengaruhi kualitas dan produksi ASI Kegagalan tinggi Tidak cocok untuk pasangan dengan masalah emosional Waktu berpantang yang cukup lama Cara kerja : Seorang wanita harus tahu siklus terpendek dan terpanjang. Contoh : Siklus terpendek = 26 hari 18 = 8 Sklus terpanjang = 30 hari 11 = 19 Jadi pada hari ke 8 hingga ke 19 merupakan masa subur yang wanita tersebut tidak boleh melakukan hubungan sexual dengan suami. Keuntungan Tidak menggunakan alat, aman Kerugian Angka kegagalan tinggi Tidak dapat digunakan oleh wanita dengan siklus yang tidak teratur Tidak nyaman dengan pengontrolan tiap hari

c. Pencucian vagina/ Spermasida 1,2,9 Spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas dua komponen yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatozoa; dan vechikulum yang dipakai untuk membuat tablet, krim, atau jelly.

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
Spermatisid berguna untuk mematikan sperma sebelum melewati serviks. Cara kerja : Zat-zat kimia yang digunakan untuk membunuh sperma divagina, sebelum sperma tersebut bergerak ke saluran genital yang lebih tinggi. Contohnya : Spermasidal yang dipasarkan berbentuk surfactan yang dapat merusak membran sperma. Zat-zatnya : Non oxynol-9, Octoxynol-9, Menfegol dan A-Gen-53 Bentuk : krim, vaginal foam (busa), tablet, tissue atau gel/jelly. Penggunaan tunggal, mempunyai kegagalan yang cukup tinggi yaitu 10 25 per 100 wanita per tahun sehingga spermasida sering dipergunakan bersama kontrasepsi barier seperti kondom dan diafragma. Keuntungan Tidak menggangu kesehatan Mudah didapat dan digunakan Daya kerjanya segera diketahui Krim dan jelly dapat berfungsi sebagai pelumas Kerugian Angka kegagalannya tinggi Dipakai setiap kali akan bersenggama dan perlu waktu untuk bekerja optimal (7 10 menit) Sensasi basah yang berlebihan dan pada individu yang sensitive timbul rasa seperti terbakar / panas Hanya efektif dalam waktu 1 2 jam d. Diafragma vagina 1,2,9 Pessarium merupakan kondom pada perempuan. Secara umum pessarium ini terbagi dua golongan, yakni diafragma vaginal dan carnival cap. Diafragma vaginal ini merupakan alat kontrasepsi yang terdiri dari kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Pinggir diafragma mudah dibengkokkan dan disisipkan di bagian atas vagina untuk mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi bagian atas. Supaya efektif hendaknya dipakai jelly atau krim kontrasepsi untuk pembunuh sperma. Diafragma ini harus tinggal dalam vagina selama 6 jam setelah melakukan hubungan seksual. Alat kontrasepsi yang satu ini paling cocok dipakai oleh perempuan dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik. Namun untuk penggunannya perlu diperiksa dahulu ukuran difragma yang sesuai. Carnival cap terbuat dari karet atau plastik dan berbentuk mangkuk yang pinggirnya terbuat dari karet yang tebal. Ukurannya lebih kecil
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
dari diafragma vaginal. kontrasepsi. Alat ini mulai jarang dipergunakan untuk

Efektifitas Angka kegagalan penggunaan kontrasepsi ini adalah 21 25 kehamilan per 100 wanita per tahun Kombinasi dengan spermisida dapat meningkatkan keandalan/efektifitas Keuntungan Tidak mengganggu kesehatan Efektifitasnya dapat dinilai setelah penggunaan Sebagai metode alternative, terutama dalam keadaan mendesak Mengurangi iritasi serviks terhadap sperma/smegma Kerugian : Angka kegagalannya cukup tinggi Memerlukan petunjuk dan latihan pemasangan Wanita resiko tinggi tidak dapat mengandalkan pencegahan kehamilan dengan metode ini Harus dipergunakan setiap kali bersengggama dan memerlukan waktu untuk pemasangan Rasa tidak nyaman dan waktu pelepasan relative lama Jaminan perlindungan terhadap PHS tidak sepenuhnya Penggunaan : Kontrasepsi alternative Pemasangan mandiri Menghindarkan efek merugikan hormonal Tidak cocok kontrasepsi lain Perhatian : Alergi bahan karet atau spermisida Kelainan anatomis prolapsus uteri, sistokel, septum vagina, sinekus introitus
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
Kurang terampil memasang diafragma Kurang pengetahuan tentang pencegahan infeksi saat pemasangan atau dugaan adanya PHS pada pasangannya e. Kondom 1,2,9 Penggunaan kondom sudah dimulai sejak zaman Mesir kuno. Pada 1553, Gabrielle Fallopi melukiskan tentang penggunaan kantong sutera diolesi dengan minyak yang dipasang menyelubungi penis sebelum berhubungan seks dengan tujuan mencegah laki-laki dari penyakit kelamin. Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi baru dimulai pada abad ke-18 di Inggris. Pada mulanya kondom ini dibuat dari usus biribiri dan dalam perkembangannya pada 1844, Goodyear berhasil membuat kondom dari karet. Kondom yang umumnya dipakai sekarang ini terbuat dari karet dan tersedia dengan ukuran dan warna yang beragam. Efektivitas kondom ini bergantung pada mutu dan ketelitian dalam penggunaannya. Konseling Pengetahuan tentang kondom (jenis bentuk ukuran bahan tambahan) Cara dan pengalaman penggunaan Persetujuan dari pasangan Keuntungan dan kerugian Cara memperoleh kondom

Efektiftas Bila dipergunakan secara baik, konsisten, berkualitas dan disertai bahan tambahan (spermasida) maka angka kegagalan kontrasepsi ini adalah 2 5 kehamilan per 100 wanita per tahun Keuntungan : Mudah, murah dan hasilnya segera terlihat Tidak banyak mempengaruhi kesehatan (tidak memerlukan pemeriksaan) Dapat segera dipergunakan dalam keadaan mendesak

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
Partisipasi pihak suami Mencegah PHS (infeksi bakteri, jamur, protozoa, HIV) Mengurangi iritasi serviks oleh sperma atau smegma

Kerugian : Kegagalannya tinggi (3 15 kehamilan per 100 wanita per tahun) Dipakai setiap kali akan bersenggama (masalah penyediaan dan keintiman) Mengurangi sensasi penis Perlu motivasi tinggi Karena kegagalannya tinggi sehingga tidak dianjurkan untuk wanita dengan resiko tinggi pada kehamilan Masalah pembuangan kondom bekas Kegunaan Kontrasepsi (pilihan atau alternative) Menghindarka penyakit akibat hubungan seksual (PHS) Mencegah penularan penyakit terhadap pasangan Untuk pasangan yang ragu terhadap efek kontrasepsi lain Perhatian Alergi terhadap lateks kondom Wanita yang mempunyai indikasi kontra untuk hamil Menggunakan kondom sesuka hati (tidak sesuai dengan cara penggunaan) Instruksi untuk klien Jelaskan cara pemasangan kondom secara benar Bila tidak ada penampung, lebihkan 2 cm di bagian ujungnya Lepaskan kondom sebelum terlepas sendiri (sperma dapat tumpah) Kondom hanya sekali pakai Simpan kondom ditempat sejuk dan kering Jangan pakai pelumas (minyak mineral, baby oil, minyak goring) karena dapat merusak lateks (rusak atau robek) Klien dengan resiko tinggi PHS/ pasangan lebih dari satu dinasehatkan untuk mempergunakan kondom 2. Metode Hormonal a. Injeksi 1,2,9 Saat ini terdapat dua macam kontrasepsi suntikan. Pertama, golongan progestin seperti depoprovera, depogeston, depoprogestin, dan noristerat. Kedua, golongan progestin dengan campuran estrogen

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Kontraseps i
propionat, seperti cycloprovera. Obat ini bekerja dengan jalan menekan pembentukan hormon dari otak sehingga mencegah terjadinya ovulasi. Obat suntikan ini sangat cocok diberikan pada ibuibu yang sedang menyusui karena cara kerjanya tidak mengganggu laktasi. Berlatar belakang penggunaan progestin pada beberapa kelainan gineklogik, dipelajari penggunaan hormone tersebut terhadap penekanan ovulasi dan endometrium sehingga dapat digunakan sebagai kontrasepsi. Efektifitasnya cukup tinggi (99,6%) dan angka kegagalan adalah dibawah 0,1% per 100 wanita per tahun. Cara kerja Menekan ovulasi Menghambat motilitas bulu getar tuba Mengganggu pertumbuhan endometrium Meningkatkan sekresi dan viskositas lendir serviks

Jenis kontrasepsi suntik Medroksi progesterone asetat (MPA) depoprovera, depogesteron, depoprogestin Noretisteron enantat noristerat MPA dan estradiol sipionat cyclofem Keuntungan Kontrasepsi efektif Penyediaan cukup dan mudah diperoleh Pemeriksaan hanya untuk dugaan hamil Waktu penggunaan relative panjang Kontrasepsi antara sebelum kontap Tidak menghambat ASI kecuali cyclofem Saat senggama tidak dibatasi Tidak mengganggu proses keintiman Kerugian Pemulihan kesuburan relative lambat Penghentian penggunaan harus menunggu Masa kerja efektif dan pemberian suntikan hanya di fasilitas pelayanan KB Haid terganggu Peningkatan berat badan Tidak mencegah resiko PHS dan pemulihan penyakit melalui alat suntik Penggunaan Kontrasepsi masa laktasi kecuali cyclofem

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

10

Kontraseps i
Masih ragu ikut kontap tetapi ingin kontrasepsi jangka panjang Klien yang tidak ingin direpotkan dengan penyediaan kontrasepsi atau terputusnya keintiman saat bersenggama Cocok dengan jenis kontrasepsi ini Klien dengan sickle cell anemia Perhatian Dugaan hamil Ikhterus atau perdarahan per vaginam yang belum diketahui sebabnya Tumor payudara atau pelvic Hipertensi atau diabetes yang tidak terkontrol Penyakit tromboembolik Sedang menggunakan obat tertentu Migren, depresi, perokok berat dan usia diatas 35 tahun b. Pil 1,2,3,4,9 Ada tiga macam pil kontrasepsi yaitu: mini pil, pil kombinasi, dan pil pascasenggama. Selain mencegah terjadinya ovulasi, pil juga mempunyai efek lain terhadap traktus genitalis. Efeknya berupa perubahan-perubahan pada lendir serviks, sehingga menjadi kurang banyak dan kental. Dengan demikian sperma tidak bisa memasuki rongga rahim. Yang umum dipakai adalah pil kombinasi antara estrogen dan progesteron. Pil terbuat dari hormon sintetik. Walau macamnya banyak tersedia dipasaran dan tingkat efektivitasnya sangat tinggi, tidak semua perempuan dapat menggunakan pil kombinasi untuk kontrasepsi. Keadaan yang tidak diperbolehkan menggunakan pil KB adalah: 1. Perempuan yang mempunyai tumor yang dipengaruhi oleh estrogen 2. Perempuan yang menderita penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun 3. Perempuan yang pernah menderita trombophlebitis, tromboemboli, dan kelainan cerebro-vaskuler 4. Perempuan yang mempunyai penyakit diabetes melitus 5. Perempuan yang mengalami depresi, migren, mioma uteri, hipertensi, oligomenorea. (Khusus untuk kondisi ini bersifat relatif dan pemberian pil kombinasi bagi perempuan yang mengalami kelainan-kelainan ini harus di diawasi secara teratur, sedikitnya sekali dalam tiga bulan).

1. Pil Kombinasi

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

11

Kontraseps i
Estrogen dalam pil oral kombinasi : etinil estradiol dan mestranol. Dosis etinil estradiol 30-35 mcq. Dosis estrogen 35 mcq sama efektifnya dengan estrogen 50 mcq dalam mencegah kehamilan. 2 Progestin dalam pil oral kombinasi : noretindron, etindiol diasetat, linestrenol, noretinodel, norgestrel, levonogestrel, desogestrel dan gestoden. Digunakan lebih dari 60 juta wanita diseluruh dunia, dinegara maju 14% dari PUS dan dinegara berkembang baru 6% dari PUS. Tersedia dalam bentuk kombinasi estrogen dan progesterone atau hanya salah satu hormone. Umumnya dikemas untuk 21 atau 28 hari Konseling

Pengalaman dan cara penggunaan Cara mendapatkan dan memilih jenisnya Keuntungan dan kerugian Persetujuan dan kesan pasangannya

Efektifitas Bila diperlukan sesuai denga petunjuk pil kombinasi mempunyai efektifitas yang tinggi (99,9%) Efek samping Mual, pusing / sakit kepala Payudara tegang Timbul jerawat Penambahan berat badan Spotting/perdarahan bercak Manfaat diluar kontrasepsi Siklus menstruasi teratur Mengurangi sindroma pra haid, kejadian endometriosis, tumor jinak payudara, kista ovarium, hamil ektopik, tumor ovarium, anemia, penyakit radang panggul Keuntungan : Efektifitas tinggi, penghentian penggunaan mudah Gangguan kesehatan minimal Prosedur pemeriksaan sederhana Waktu senggama tidak dibatasi Penggunaan dan cara mendapatkan mudah Kerugian Relative mahal
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

12

Kontraseps i
Interaksi dengan obat rifampisin, barbiturate, fenil butazon, fenil hidantoin Tidak mencagah PHS Ada efek samping Harus dikonsums setiap hari Penggunaan Kontrasepsi Mengatur siklus menstruasi Mencegah dismenore kejadian anemia, tumor payudara dan ovarium, sindroma pra haid, kehamilan ektopik, penyakit radang panggul Perhatian Dugaan hamil Usia diatas 35 tahun, perokok, DM, hipertensi, tromboflebitis akut/ikhterus, konsumsi obat tertentu Riwayat / menderita angina pectoris/gagal jantung Perdarahan yang belum diketahu sebabnya Adanya tumor payudara/ovarium Sediaan pil kontrasepsi Nama dagang Estrogen Mycrogynon Etinil estradiol (EE) Eugynon 0,3 Neogynon EE 0,05 Nordette EE 0,05 Nordiol EE 0,03 Marvelon EE 0,05 EE 0,03 Mercilon Lyndiol EE 0,02 Ovostat EE 0,05 Gynera EE 0,05 Tronordiol/triquilared EE 0,03 EE 0,03/0,04/0,03 (pil coklat/putih.kuning) Progesterone Levonorgestrel (LNG) 0,15 LNG 0,5 LNG 0,25 LNG 0,15 LNG 0,25 DESOGESTREL (DSG) 0,15 DSG 0,15 LYNESTRENOL 2,50 LYNESTRENOL 1,00 GESTODEN 0,075 LNG 0,05/0,075/0,125

Perhatian khusus Waspadai apabila akseptor kontrasepsi oral mempunyai keluhan ACHES Abdominal Pain kemungkinan kolik kantung empedu, pankreatitis atau gangguan pembekuan darah Chest Pain kemungkinan emboli paru atau angina pectoris Headache kemungkinan migren atau stroke

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

13

Kontraseps i
Eye problems kemungkinan hipertensi,stroke atau gangguan vaskularisasi retina Severe leg pain kemungkinan gangguan sirkulasi atau sumbatan pembuluh darah tungkai

2. Mini Pil Mengandung progestin dosis rendah Tidak mengganggu produksi ASI Untuk klien pasca persalinan Diminum setiap hari Efektif (83 93%)\
Contoh pil mini : B Micrinor, NOR-QD, noriday, norod menganddung 0,35 mg noretindron. Microval, noregeston, microlut mengandunng 0,03 mg levonogestrol. Ourette, noegest mengandung 0,5 mg norgeestrel. Exluton mengandung 0,5 mg linestrenol. Femulen mengandung 0,5 mg etinodial diassetat.3 Cara kerja Meningkatkan sekresi dan viskositas lendir serviks Menghambat ovulasi Menurunkan motilitas tuba falopii Mengganggu pertumbuhan endometrium

Keuntungan : Efektifitas tinggi Tidak mengganggu produksi ASI Pemeriksaan hanya untuk menyingkirkan adanya kehamilan Mudah digunakan Tidak ada pembatasan saat pembatasan saat senggama Kerugian Relative mahal Bila produksi ASI sudah berkurang saat mini pil mulai digunakan, nilai penggunaan kontrasepsi ini jadi berkurang Perdarahan bercak Resiko PHS tetap ada Ovulasi tidak dihambat secara penuh Insidensi hamil ektopik dan tumor ovarium tidak menurun seperti pada pil kombinasi Penggunaan
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

14

Kontraseps i
Kontrasepsi efektif masa laktasi Tidak dapat menggunakan pil kombinasi karena efek samping estrogen migren mual, hipertensi, payudara tegang, tromboembolik) Usia diatas 35 tahun dan perokok berat Sickle cell anemia Perhatian : Dugaan hamil Perdarahan per vaginam yang penyebabnya belum diketahui Benjolan / tumor payudara Tromboemboli aktif Ikterus, migren, depresi, hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol Menggunakan obat-obat tertentu rifampisin, fenil hidantoin, fenil butazon Pelupa / tidak minum obat secara teratur

3. Pil Pasca Senggama Bila pasangan suami istri mengadakan senggama tetapi tidak menggunakan salah satu metode kontrasepsi, upaya lain yang masih mungkin dilaksanakan adalah pemberian pil yang mengandung 60 100mcg etinilestradiol dan 12 jam kemudian diberi dosis ulangan dalam jumlah yang sama. Upaya ini sebaiknya diberikan tidak lebih dari 3 x 24 jam pasca senggama. Dengan pemberian pil ini, makin rendah efektifitas kontrasepsinya
Penggunaan o Pada kasus perkosaan o Klien yang tidak mendapatkan alat kontrasepsi saat akan melakukan senggama o Tidak ingin hamil tetapi tidak ingin alat kontrasepsi yang dipakai terus menerus Perhatian : o Efek samping tinggi mual 54%, muntah 24%, payudara tegang 23%, menoragia 11% o Dugaan telah terjadi kehamilan o Riwayat tromboplebitis/emboli pulmonal c. Inplant 1,2 Ada dua macam susuk yang biasa dipergunakan untuk kontrasepsi, yaitu norplan dan implanon. Norplan merupakan metoda kontrasepsi

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

15

Kontraseps i
berjarak 5 tahun yang terdiri atas 6 kapsul silastik silikon berisi masing-masing 36 mg levonorgestrel dan disisipkan dibawah kulit. Implanon hanya berjarak 3 tahun dan berbentuk batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan diameter 2mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus. 1 Kontrasepsi hormonal yang mengandung progestin, berupa serbuk kering yang ditempat dalam tabung silastik, terbuat dari dimetilpolisiloksan berpori sehingga penyerapan hormone berlangsung secara lambat, agar kadar dalam darah rendah dan waktu kerjanya lama . Di Indonesia beredar 2 jenis implant yaitu : 1) Norplant Levonorgestrel 2) Implanon Desogestrel Yang masing-masing terdiri dari 6 dan 1 batang dengan masa kerja 5 dan 1 tahun

Konseling Pengalaman penggunaan, individu yang pertama kali memperkenalkan, keinginan untuk mempergunakan/kepuasan penggunaan Persetujuan bersama untuk penggunaan 5 atau 1 tahun Keuntungan dan kerugian Proses pemasangan dan pencabutan Cara kerja dan pulihnya kesuburan Cara kerja Menghambat ovulasi Menambah produksi dan viskositas lendir serviks Menurunkan aktifitas transportasi di tuba fallopii Menipiskan endometrium

Keuntungan Efektif (0,02 0,5 per 100 wanita pertahun) Onset kerja < 24 jam dan pemulihan kesuburan relative cepat setelah pencabutan Jangka panjang dan apabila tidak ingin lagi, dapat dicabut setiap waktu Pemasangan bawah kulit dilengan atas Relative ekonomis
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

16

Kontraseps i
Tidak ada pembatasan saat senggama Resiko terhadap kesehatan rendah Kerugian Perlu tindakan bedah kecil untuk pemasangan dan pencabutan sehingga harus dilakukan difasilitas pelayanan KB Tidak menurunkan resiko PHS atau infeksi akibat tindakan pemasangan / pencabutan Terjadi perdarahan bercak atau amenorea Perubahan berat badan (naik atau turun) Efek samping Sefalgia atau migren Mastalgia Vertigo atau gelisah Jerawat atau komedo Perdarahan bercak atau perpanjangan masa hiad Hirsutisme Penggunaan : Kontrasepsi laktasi Ingin jangka panjang, efektif, sekali pasang Tidak ingin anak lagi, tapi belum mau kontap Tidak mau untuk selalu menyediakan atau memasang alat kontrasepsi sebelum senggama Dapat berhubungan setiap diinginkan Pemasangan alat kontrasepsi tanpa menunjukkan organ intim Klien yang sering lupa minum pil atau tidak cocok dengan metode barier Perhatian
1,2,5,6,9

Dugaan hamil Mengidap tromboembolitik atau ikhterus Perdarahan pervaginam yang belmdiketahui sebabnya Tumor payudara atau pelvic Sedang menggunakan obat tertentu Hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol Sefalgia atau migren Depresi Usia diatas 35 tahun dan perokok berat

3. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD (Intra Uterine Device) Sekarang ini di pasaran terdapat berpuluh-puluh jenis IUD. Dari bahan bakunya IUD yang beredar terdiri dari tiga tipe. Ada yang terbuat
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

17

Kontraseps i
dari plastik, mengandung tembaga, dan ada yang mengandung hormon steroid. Dari segi bentuknya, IUD terbagi ke dalam bentuk yang terbuka dan tertutup seperti cincin. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis Lippes loop. Dibandingkan dengan alat dan obat kontrasepsi yang lain, IUD mempunyai keunggulan karena hanya memerlukan satu kali pemasangan, tidak menimbulkan efek sistemik, ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara masal, efektivitasnya cukup tinggi, dan mudah dilepas jika menginginkan anak (reversibel). Namun demikian, IUD bisa menimbulkan efek samping seperti pendarahan, rasa nyeri, kejang perut, dan gangguan atau ketidaknyamanan pada suami. Bahkan bisa menimbulkan infeksi pelvik dan endometritis. 1 Hingga tahun 1995, lebih dari 100 juta wanita menggunakan AKDR Cina 40%, Indonesia 22,6%, Amerika dan Eropa 6%, Afrika 0,5% Tiga jenis AKDR : 1) Bahan inersia (Lippes Loop/ Chinese Ring) 2) Inersia dan tembaga (CuT 200 dan 380, MLCu 250 dan 375, Nova T) 3) Inersia dan hormone (progestasert levonova)

Efektifitas AKDR makin tinggi dengan adanya bahan tambahan (tembaga dan hormone) angka kegagalan tahun pertama Lippes Loop ukuran D adalah 2 6% sedangkan CuT 380 dan MLCu 375 pada periode yang sama hanya dibawah 1% Dengan penyimpanan yang baik dan kemasan yang utuh, AKDR tetap layak pakai hingga 7 tahun dari tanggal pembuatannya Masa kerja CuT 380 A adalah 8 10 tahun

Konseling Pemasangan dan cara kerja Keuntungan dan kerugian

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

18

Kontraseps i
Efek samping dan komplikasi Lama kerja dan penghentian Kembalinya kesuburan Tenaga dan fasilitas pelayanan

Cara kerja : Sifat kontraseptif bahan inersia lebih banyak disebabkan oleh reaksi local pada endometrium dan dinding dalam uterus Adanya ion tembaga menyebabkan gangguan motilitas dan kemampuan pembuahan sperma Sedangkan hormone menambah sekresi serta viskositas lendir serviks sehingga penetrasi sperma menjadi terhambat Keuntungan : Efektif dan jangka panjang Pulihnya kesuburan relative cepat Satu kali pemasangan Tidak mengganggu keintiman Kontrasepsi laktasi Resiko terhadap kesehatan rendah Relative murah jika dikaitkan dengan jangka waktu penggunaan Kerugian : Perlu pemeriksaan dalam dan penapisan PHS Pencegahan infeksi saat pemasangan harus berkualitas tinggi Tidak melindungi terhadap penularan PHS Pencabutan harus difasilitas pelayanan Ekspulsi Menoragia pada 3 bulan pertama Resiko infeksi panggul Penggunaan Tidak ingin anak lagi tetapi belum mau kontap Kontrasepsi jangka panjang dan efektif Tidak direpotkan dengan persiapan alat kontrasepsi setiap akan melakukan senggama Klien yang masih menyusui Ingin bebas dari pengaruh hormone tambahan Cocok dengan AKDR Klien dengan resiko rendah PHS Perhatian : Dugaan hamil Infeksi panggul,metritis, vaginitis, riwayat abortus (3 bulan terakhir) Menderita PHS atau suami resiko tinggi PHS
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

19

Kontraseps i
Perdarahan per vaginam yang sebabnya belum diketahui Anemia berat atau kelainan ginekologik Dismenore atau stenosis servisis Pernah hamil ektopik Ada penyakit penyerta (DM, Leukemia, HIV/AIDS)

Komplikasi Perforasi uterus dan translokasi AKDR Syok neurogenik Endometritis/infeksi panggul Apabila terjadi kegagalan (hamil) dengan AKDR masih dalam uterus : Abortus spontan Abortus infeksiosa/septic Partus prematurus Korioamnionitis Insersi : Periksa bimanual, riwayat medik Tenakulum Ukuran dan arah uterus Dilatasi serviks Pilih AKDR yang sesuai Terjamin di fundus Cara sehalus mungkin Rancangan : Mudah dipasang, susah lepas Cocok untuk ukuran rata-rata Reaksi inflamari untuk kontrasepsi tidak terganggu Push out, pull-through, pull-out Medical dan non medical Konseling Salah satu alternative Efektifitas bukan tertinggi Tidak pengaruhi lupa Tidak pengaruhi sexual Cara kerja / cara insersi

Metode Kontrasepsi Hermanen

Metode operatif wanita (MOW) ~ tubektomi 7,9 Diantara berbagai kontrasepsi jangka panjang, kontap merupakan pilihan karena hanya digunakan sekali, sangat efektif dan aman bila dilakukan secara baik dan benar. Yang paling menonjol adalah sifat permanennya. Di Indonesia, perkumpulan kontrasepsi mantap Indonesia,

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

20

Kontraseps i
memasyarakatkan metode ini sebagai kontrasepsi MESRA yaitu Mudah, Efektif, Sederhana, Ringan Biaya, dan Aman.

Cara kerja Oklusi tuba fallopii (tubektomi) atau vasa deferentia (vasektomi) Tubektomi Sel telur yang ditangkap oleh fimbrae tidak dapat dibuahi oleh sperma yang masuk melalui kanalis servikalis Vasektomi Sperma yang dihasilkan oleh testis, tidak dapat dikeluarkan bersama ejakulat karena saluran yang membawa sperma ke vesikula seminalis sudah tersumbat. Konseling Cara kerja dan prosedur pelajaran Sifat permanent dan upaya untuk menghindarkan terjadinya penyesalan Secara teknik operatif, rekanalisasi memungkinkan, tetapi secara program disebutkan permanent Syarat untuk kontap (sukarela, bahagia, dan sehat) Perlu konseling spesifik dengan hasil akhir suatu persetujuan tindakan bedah medik (informed consent) Karakteristik kien yang berhubungan dengan timbulnya penyesalan pasca kontap Usia muda Masih ingin tambah anak Memilih kontap karena ada indikasi medik atau adanya unsure paksaan Hidup sendiri/janda, ada rencana menikah Terlalu cepat membuat keputusan, waktu yang tidak tepat, dijanjikan sesuatu Konflik bathin (agama, norma, kepercayaan) Beda harapan dan kenyataan tentang kontap Klien dengan problem kejiwaan Keunggulan kontap
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

21

Kontraseps i
Efek samping dan komplikasi sangat rendah 1) Infeksi 1 3% 2) Perdarahan intra abdominal 0,01% 3) Perdarahan ke scrotum 0,05% 4) Cidera usus/kandung kemih 0,02% Cukup dilayani sekali Permanent Biaya ringan bila dikaitkan dengan waktu penghentian kesuburan Tidak mengganggu potensi seksual Mudah dan tersedia hampir diseluruh unit pelayanan kesehatan

Penggunaan Pasangan yang tidak ingin tambahan anak lagi Tidak ingin direpotkan dengan penyediaan atau pemasangan alat kontrasepsi setiap akan bersenggama Atas indikasi medik, tidak boleh hamil lagi Bila istri tidak dapat menggunakan alat kontrasepsi (suami ikut vasektomi) atau bila suami mempunyai indikasi kontra (istri ikut tubektomi) Perhatian Klien menderita penyakit sistemik yang berat Klien sedang mengalami infeksi panggul Depresi atau emosi yang labil Pasangan bermasalah Belum mantap ikut kontap/rencana menikah lagi/jenis kelamin anak sama semua laki-laki atau semua perempuan Tekanan / janji dari pihak luar Dugaan hamil Indikasi kontra tindakan operatif Tubektomi Keuntungan Efektif angka kegagalan tubektomi laparoskopi 0,1 0,5%, minilaparotomi 0,4 1 % Tehniknya sederhana, anestesi local Tidak perlu biaya kontrasepsi lanjutan Tidak mempengaruhi fungsi dan hubungan seksual Segera efektif Permanent Tidak ada efek samping jangka panjang Kerugian Efek permanent sering menimbulkan penyesalan dan tumpuan segala rasa tidak nyaman dan kelainan klien Canggih dan tergolong operasi khusus sehingga biayanya tinggi
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

22

Kontraseps i
Tetap ada resiko dan efek samping tindakan bedah Tidak ada perlindungan terhadap PHS Tehnik tubektomi Minilaparotomi Peralatan sederhana Cukup dengan anestesi local Dapat diajarkan kepada dokter umum Pada fasilitas dengan sarana terbatas Laparoskopi Peralatan canggih (laparoskop) Perlu sumber tenaga / listrik Tenaga operator dan teknisi khusus Sterilisasi kimiawi (glutaraldehida) Steriliasi peralatan, relative lama Perhatian Penderita penyakit sistemik yang berat Infeksi panggul atau kehamilan ektopik Riwayat pembedahan sebelumnya Dugaan hamil atau perlengketan pelvic Menderita hipertensi atau diabetes Riwayat alergi obat-obatan Anemia berat Depresi atau emosi yang labil. Komplikasi Cidera kandung kemih atau usus Perdarahan dinding perut atau mesosalping Infeksi luka operasi atau organ panggul Emboli gas atau emfisema subkutan Nyeri pada daerah operasi Demam pasca bedah Penjalaran nyeri kepunggung dan bahu akibat pneumoperitonium

B.

Metode Kontrasepsi untuk pria


Metode operatif pria (MOP) ~ vasektomi 8,9

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

23

Kontraseps i

Keuntungan Efektif dan aman Tehnik sederhana, anestesi local Tidak perlu biaya tambahan untuk kontrasepsi lanjutan Tidak ada efek samping jangka panjang Tidak mengganggu fungsi dan aktifitas seksual Kerugian Efek permanent keberhasilan patensi rekanalisasi cukup tinggi tapi fertilisasi/terjadinya kehamilan rendah Tidak lansung efektif, perlu pengeluaran ejakulat 12 15 kali Ada resiko / komplikasi tindakan pembedahan Tidak ada perlindungan terhadap PHS Bila ada konflik psikologis, memberi dampak pada fungsi seksual Sering disamakan dengan kastrasi Perhatian Penyakit sistemik yang berat Kelainan pembekuan darah Resiko PHS tinggi Riwayat alergi obat suntikan Emosi labil/problema psikis Infeksi pada lipat paha, hernia skrotalis, hidrokel, gangguan desensus testikulorum, parut lebar atau kulit yang sangat tebal didaerah scrotum Tehnik operasi Vasektomi konvensional Sayatan pada scrotum lateral kiri dan kanan, vasa deferensia diambil dari lobang tersebut, dipotong, dikembalikan kedalam selubungnya, scrotum dijahit Vasektomi tanpa pisau Sayatan ditengah, hanya memakai klem fiksasi dan diseksi perlukaan sedikit, setelah dipotong, interposisi dengan selubungnya, scrotum tidak dijahit Vasaektomi tanpa pisau (VTP) atau non scapel vasectomy (NSV) Dikembangkan oleh Prof. Lee Xun Tsiang (1970) hanya membutuhkan 3 alat utama : 1) Klem fiksasi 2) Klem deseksi 3) Gunting
KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

24

Kontraseps i
Penelitian Nirapathpongporn DKK (1990) : Komplikasi hanya 0,4% (vasektomi konvensional : 3,1%) Metode konvensional adalah perdarahan ke scrotum dan 73% diantaranya disertai infeksi Komplikasi Infeksi Hematoma Granuloma Nyeri daerah operasi Pembengkakan / infiltrate

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.humanmedicine.net/?id=186&m=read&s=article, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 12.04wib. 2. http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramediamajalah.com/msg05813.html, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 11.53 wib.

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

25

Kontraseps i
3. http://meli14.wordpress.com/2007/06/29/kontrasepsi/, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 11.55wib. 4. http://www.geocities.com/klinikobgin/kontrasepsi/pil-kontrasepsi.htm, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 13.02 wib. 5. Murah Manoe, dkk. 1999. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Device (IUD), Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Rumah Sakit Umum Pusat, dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. 6. http://www.geocities.com/klinikobgin/kontrasepsi/alat-rahim.htm, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 13.58 wib. 7. Wiknjosastro Hanifa. 1999. Tubektomi, Ilmu Kebidanan, ed. III, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. 8. http://www.duniasex.com/forum//showthread.php? s=c91d459e98bd3b1d2e1e21f339a65835&t=50372, di download tanggal 23 Maret 2008, jam 12.36 wib. 9. Abdul Bari Saifuddin. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. YBP-SP. Jakarta.

KKS Obstetri and Ginecology RSUD Tasikmalaya Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

26