You are on page 1of 39

BAB I PENDAHULUAN

Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya ringan berupa luka lecet, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya berupa robekan yang disertai perdarahan hebat. Perlukaan jalan lahir karena persalinan dapat mengenai dasar panggul berupa episiotomi atau robekan perinuem spontan, vulva, vagina, serviks uteri dan uterus. Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia baik biologis, psikologis, sosial dan spiritual dalam rentang sakit sampai dengan sehat. Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Post partum adalah selang waktu antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil. Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil. Adapun tujuan dari perawatan perineum adalah untuk mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan, menurut Hamilton (2002). Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001) adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjdi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi. Bila seorang ibu bersalin setelah anak lahir mengalami perdarahan, pertama-tama disangka perdarahan tersebut disebabkan oleh retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap. Pada keadaan dimana plasenta lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir. Perlukaan ini dapat terjadi oleh karena kesalahan sewaktu memimpin suatu persalinan, pada waktu persalinan operatif melalui vagina seperti ekstraksi cunam, ekstraksi vakum, embriotomi atau trauma akibat alat-alat yang dipakai. Selain itu perlukaan pada jalan lahir dapat pula terjadi oleh

karena memang disengaja seperti pada tindakan episiotomi. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya robekan perineum yang luas dan dalam disertai pinggir yang tidak rata, di mana penyembuhan luka akan lambat atau terganggu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Masa nifas atau masa puerperium adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan pada alat reproduksi. Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan pada alat reproduksi. Pada masa nifas perubahan penting yang terjadi adalah involusi, hemokonsentrasi dan laktasi. II.1. PERUBAHAN PADA MASA NIFAS Secara garis besar terdapat proses penting di masa nifas, yaitu sbb: 1. Involusi Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur involusi. a. Involusi Rahim Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat, segera setelah plasenta lahir, tinggi fundus uteri + 2 jari di bawah pusat. Pada hari ke 5 post partum uterus + 7 cm atau simpisis atau setengah simfisis pusat, sesudah 12 jari uterus sudah tidak dapat diraba lagidi atas simfisis. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah persalinan. Penonjolan tersebut, dengan diameter + 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu mencapai 2,4 mm. pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genital ini dalam keseluruhannya disebut

Involusi disebabkan oleh proses autolysis, dimana zat protein dinding rahim dipecah, diansorbsi kemudian dibuang dengan air kencing. Sebagai bukti dapat dikemukakan bahwa kadar nitrogen dalam air kencing sangat tinggi. b. Involusi tempat plasenta Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesat telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm. Dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali, luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini di sebabkan karena luka ini sembuh dengan cara yang uar biasa, yaitu dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. 2. Perubahan Pembuluh darah rahim Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas. 3. perubahan pada serviks dan vagina perubahan yang terdapat pada serviks segera post partum ialah bentuk serviks agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat menadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga pada perbatasan antara corpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah konsistensinya lunak. Segera setelah janin dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam cavum uteri. Setelah 2 jam hanya dapat dimasukkan 2-3 jari, dan setelah satu minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari. Hal ini baik diperhatikan dalam menangani kala uri.

Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal. Pada minggu ke tiga postpartum rugae mulai nampak kembali. 4. Hemokonsentrasi Pada masa hamil di dapat hubunga pendek yang dikenal sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Voleme darah pada ibu relative akan bertambah. Keadaan ini menimbulkan beban pada jantung. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Umumnya hal ini terjadi pada hari-hari ke 3 sampai 15 hari postpartum. 5. Laktasi Sejak kehamilan muda, sesudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar mamma untuk menghadapi masa laktasi ini. Perubahan yang terdapat pada ke dua mamma tersebut antara lain sebagai berikut : a. Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mamma dan lemak b. Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kedang-kadang dapat dikeluarkan, berwarna kuning ( kolostrum) c. Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mamma. d. Setelah partus, pengaruh dari progesteron dan estrogen yang dihasilkan plasenta, merangsang pertumbuhan kelenjar-kelenjar susu, sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan saluran kelenjar. Kedua hormon ini mengerem laktogenik hormone (prolaktin). 6. perubahan lain pada masa nifas Bila tidak ada infeksi atau luka-luka jalan lahir yang berarti, wanita yang baru melahirkan merasa sangat lega. Beberapa perubahan lain pada masa nifas :

After pain atau mules-mules sesudah partus akibat kontraksi uterus dan relaksasi, yang menimbulkan rasa nyeri. Perasaan mules ini terutama lebih terasa bila wanita tersebut menyusui. Perasaan nyeri inipun terjadi bila masih terdapat sisa-sisa plasenta, sisa-sisa selaput ketuban, atau gumpalan darah di dalam kavum uteri.

Suhu Badan wanita postpartum dapat meningkat + 0.50 C dari keadaan normal, tetapi tidak melebihi 38,00C. Setelah 12 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu badan lebih dari 38,80C, mungkin ada infeksi.

Nadi berkisar umumnya antara 60-80x/menit. Segera setelah partus dapat terjadi bradikardi. Bila terjadi takikardi sedangkan sedangkan badan tidak panas, mungkin ada perdarahan berlebihan. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan dengan suhu badan.

Lochia, pada hari pertama masa nifas biasanya keluar cairan dari vagina yang dinamakan lochia. Lochia merupakan sekret luka, yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Maka sifat lochia berubah seperti sekret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka. Pada 2 hari pertama lochia berupa darah dan disebut lochia rubra, terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sisa-sisa sel desidua, sisa-sisa verniks caseosa, lanugo dan mekonium. Setelah 3-4 hari merupakan darah encer, warnanya agak kuning, yang disebut lochia serosa. Setelah 2 minggu lochia hanya merupakan cairan putih, yang disebut lochia alba. Biasanya lochia berbau agak sedikit amis, kecuali bila terdapat infeksi akan berbau busuk.

II. 2. BEBERAPA HAL PENTING YANG PERLU DICERMATI SAAT MASA NIFAS 1. Waspadai infeksi Pada masa nifas mungkin terjadinya peningkatan suhu badan atau keluhan nyeri. Demam pada masa nifas menunjukkan adanya infeksi, yang

tersering infeksi kandungan dan saluran kemih. Asi yang tidak keluar terutama pada hari ke 3 sampai ke 4, terkadang menyebabkan demam disertai payudara membengkak dan nyeri. Demam Asi ini umumnya berakhir setelah 24 jam. 2. Keram perut Perempuan yang pertama kali melahirkan akan mengalami kontraksi rahim yang cenderung bersifat tonik menimbulkan nyeri perut seperti kram apalagi bila ada sisa bekuan darah dan rahim. Kadang kala nyeri ini sangat hebat dan membutuhkan obat pereda nyeri. Nyeri perut ini juga dapat timbul saat bayi mengisap payudara. Biasanya keluhan nyeri menghilang dengan sendirinya 3. Sisa Plasenta Darah nifas atau lokea adalah lapisan rahim yang lepas. Proses ini mirip dengan yang terjadi pada menstruasi. Pada awal masa nifas, lokea berwarna merah setelah tiga sampai empat hari warnanya makin pudar, dan pada hari sepuluh warnyan putih kekuningan. Bila warna lokea warna merah berlanjut sampai 2 minggu, ada kemungkinan plasenta tersisa dalam rahim, gangguan pemulihan rahim yang semula merupakan tempat pelekatan plasenta atau keduanya. Lokea yang berbau kemungkinan ada infeksi. 4. Perubahan komponen darah Pada masa nifas terjadi perubahan pada komponen darah, misalnya, jumlah sel darah putih akan bertambah banyak. Jumlah sel darah merah dan hemoglobin akan berfluktuasi, namun dalam 1 minggu pasca persalinan biasanya semuanya akan kembali ke keadaan semula. Curah jantung atau jumlah darh yang dipompa oleh jantung akan tetap tinggi pada awal masa nifas dan dalam 2 mingga akan kembali ke keadaan normal.

5. Penurunan Berat badan Pasca persalinan, wanita akan kehilangan 5-6 kg berat badan yang berasal dari bayi, plasenta, air ketuban dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi melalui air kemih sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan cairan yang dahulu diretensi pada awal kehamilan. Rata-rata perempuan kembali ke berat badan ideal, walaupun sebagian besar tetap akan lebih berat daripada sebelumnya. 6. Ambulasi dini Pada masa nifas, perempuan sebaiknya melakukan ambulasi dini. Yang dimaksud dengan ambulasi dini adalah beberapa jam setelah melahirkan, segera bangun dari tempat tidur dan bergerak, agar lebih kuat dan lebih baik. Gangguan berkemih dan buang air besar juga dapat teratasi. 7. Menjaga Kebersihan Vulva harus selalu dibersihkan dari depan kebelakang, tidak perlu khawatir jahitan akan terlepas. Justru vulva yang tidak dibersihkan akan meningkatkan resiko terjadinya infeksi. Apabila adanya pembengkakan dapat dikompres dengan es dan untuk mengurangi rasa tidak nyaman, dapat dengan duduk berendam di air hangat setelah 24 jam pasca persalinan. Buila tidak ada infeksi tidak diperlukan penggunaan antiseptik, cukup dengan air bersih saja.

II.3. PERAWATAN POSTPARTUM Perawatan postpartum sebenarnya dimulai sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan postpartum, dan infeksi. Bila ada laserasi jalan lahir atau bekas episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada, sekurang-kurangnya satu jam postpartum, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum. Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan. Karenanya ia harus cukup istirahat. 8 jam jam pascasalin, ibu harus

tidur terlentang untuk mencegah perdarahan. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi ditempatkan pada satu kamar. Pada hari ke dua bila perlu dilakukan latihan senam. Pada hari ke 3 umumnya sudah dapat duduk. Pada hari ke 4 berjalan, dan pada hari ke 5 dapat dipulangkan. 1. Diet Diet harus sangat mendapat perhatian dalam nifas karena makanan yang baik mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi air susu. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, mengandung cukup protein, cairan, serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi. 2. Miksi Miksi harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Bila kandung kencing penuh dan wanita tersebut tidak dapat berkemih sendiri, sebaiknya dilakukan kaeterisasi dengan memperhatikan jangan sampai terjadi infeksi. Umumnya partus lama, yang kemudian diakhiri dengan ekstraksi vakum atau cunam dapat mengakibatkan ibu susah kencing bahkan sampai retensio urin. 3. Defekasi Defekasi atau BAB harus sudah bisa dilakukan ibu dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi mungkin akan terjadi febris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau laksans peroral. Dengan melakukan mobilisasi sedini mungkin, tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi. 4. Mammae Kedua mammae harus sudah dirawat selama kehamilan, areola mammae dan puting susu dicuci teratur dengan sabun dan diberi minyak atau cream, agar tetap lemas jangan sampai lecet atau pecah-peceh. Sebelum menyusui dilakukan massage terlebih dahulu secara menyeluruh. Setelah areola mammae dan puting dibersihkan, barulah bayi disusui. Apabila terjadi pecah-pecah pada puting susu maka harus segera diobati, karena kerusakan puting susu merupakan porte dentree dan dapat menimbulkan mastitis.

Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan. Umumnya produksi ASI baru terjadi pada hari ke-2 atau 3 pasca persalinan. Pada hari pertama keluar kolostrum, cairan kuning yang lebih kental daripada air susu, mengandung banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan membalut kedua mammae hingga tertekan atau memberikan bromokriptin hingga hormon laktogenik tertekan. Kesulitan yang dapat terjadi selama masa laktasi ialah : 1. Puting rata Sejak hamil, ibu dapat menarik-narik puting susu. Ibu harus tetap menyusui agar puting selalu sering tertarik.

2. Puting lecet

Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monilia.

Penatalaksanaan dengan melakukan teknik menyusui yang benar, puting harus kering saat menyusui, puting diberi lanolin, monilia diterapi dan menyusui pada payudara yang tidak lecet.

Bila lecetnya luas, menyusui ditunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa.

3. Payudara bengkak Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih. Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering, kompres hangat, ASI dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesik.

10

4. Mastitis Payudara tampak edema, kemerahan, dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaan dengan kompres hangat / dingin, pemberian antibiotik dan analgesik, menyusui tidak dihentikan. 5. Abses payudara Penatalaksanaan yaitu ASI dipompa, abses diinsisi, diberikan antibiotik dan analgesik. 6. Bayi tidak suka menyusu Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh, bingung puting pada bayi yang menyusui diselangseling dengan mengantuk. Pancaran ASI terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering, memijat payudara sebelum menyusui dan menyusui dengan posisi terlentang dan bayi ditaruh diatas payudara. Pada bayi dengan bingung puting, hindari pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet untuk memberikan pengganti ASI. Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI, usahakan agar bayi terbangun. susu botol, puting rata dan terlalu kecil atau bayi

II.4. PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) DAN RAWAT GABUNG PEMBERIAN AIR SUSU IBU Rekomendasi WHO-UNICEF pada pertemuan tahun 1979 di Geneva mengenai makanan bayi dan anak, antara lain seperti menyusukan merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara

11

alamiah dan ideal serta merupntikan akan dasar biologik dan psikologik yang di butuhkan untuk pertumbuhan. Memberikan susu formula sebagai tambahan dengan dalih apapun pada bayi baru lahir harus diindahkan. Rangsangan isapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut saraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin. Prolaktin ialah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI, semakin sering bayi menghisap susu akan semakin banyak prolaktin dan ASI dikeluarkan. Pada hari-hari pertama kelahiran bayi, apabila pengisapan puting susu cukup adekuat maka akan dihasilkan secara bertahap 10-100 ml ASI. Produksi ASI akan optimal setelah hari 10-14 bayi. Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI perhari untuk tumbuh kembali bayi. Produksi ASI mulai menurun (500-700 ml) setelah 6 bulan pertama dan menjadi 400-600 ml pada 6 bulan kedua usia bayi. Produksi ASI akan menjadi 300-500 pada tahun kedua usia anak. Refleksi laktasi Dimana laktasi terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu reflek prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus (khususnya pada masa nifas). Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks, yaitu : Refleks mencari puting susu (rooting refleks), bayi akan menoleh kearah dimana terjadinya sentuhan pada pipinya. Bayi akan membuka mulutnya apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut. Refleks penghisap (suckling refleks), rangsangan puting susu pada langitlangit bayi menimbulkan reflek isap. Isapan ini akan menyebabkan areola dan puting susu ibu terkena gusi, lidah dan langit-langit bayi sehingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar. Refleks menelan (swallowing refleks), kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot-otot daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI kedalam lambung bayi.

12

Keuntungan pemberian ASI: Mempromosikan keterikatan emosional ibu dan bayi Memberikan kekebalan masif yang segera kepada bayi melalui kolostrum Merangsang kontraksi uterus

Memulai pemberian ASI : Prinsip pemberian ASI adalah sedini mungkin dan ekslusif. Sekarang kita mengenal adanya inisiasi menyusui dini (IMD), yaitu dengan cara meletakkan bayi segera setelah lahir, telungkup di dada ibu agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Usahakan kepala bayi berada diantara kedua payudara ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari puting susu ibu. Biarkan bayi mencari puting sendiri, biasanya bayi berhasil menyusu dalam waktu 30-60 menit selama 15 menit. Bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu 1 jam pertama. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. Keluarga dan penolong dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal. Memulai pemberian ASI secara dini akan merangsang produksi susu dan memperkuat refleks mengisap bayi.jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang manfaat kontak langsung ibu-bayi dan anjurkan untuk untuk menyusukan bayinya sesering mungkin untuk merangsang produksi ASI sehingga mencukupi kebutuhan bayi itu sendiri. Yakinkan ibu dan keluargan bahwa kolostrum( susu berupa hari kelahiran) adalah zat bergizi dan mengandung semua unsur yang diperlukan bayi

Cara menyusui bayi Posisi bayi saat menyusui sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI dan mencegah lecet puting susu.pastikan ibu memeluk bayinya dengan benar. Berikan bantuan dan dukungan jika baru pertama kali menyusui atau ibu berusia sangat muda.

13

Posisi menyusui: Lengan ibu menompang kepala, leherdan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus) maka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi berada didepan puting susu ibu. Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya (muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusui : membuka mulut, bergerak mencari dan menoleh. Ibu menyentuhkan puting susunya ke bayi, menunggu hingga mulut bayi membuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke puting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap puting susu tersebut.

Posisi bayi menyusu yang baik : Dagu menyentuh payudara ibu Mulut terbuka lebar Hidung bayi mendekati dan kadang-kadang menyentuh payudara ibu Mulut bayi mencakup sebanyak mungkin areola (tidak hanya puting saja) Lingkar areola atas terlihat lebih banyak dibandingkan lingkar areola bawah Lidah bayi menopang puting dan areola bagian bawah Bibir bawah bayi melengkung keluar Bayi mengisap kuat dan dalam dan kadang-kadang disertai dengan berhenti sesaat.

14

RAWAT GABUNG

Rawat gabung ialah suatu sistem perawatan bayi dimana bayi serta ibu dirawat dalam 1 unit. Tujuan rawat gabung : 1. Bantuan emosional, hubungan ibu dan anaknya sangat penting untuk saling mengenal terutama pada hari-hari pertama setelah persalinan. Bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu kelembutan dan kasih sayang ibu (bonding effect). 2. Penggunaan air susu ibu ASI adalah makanan bayi yang terbaik. Produksi ASI akan lebih cepat dan lebih banyak bila dirangsang sedini mungkin dengan cara menentukan sejak bayi lahir hingga selama mungkin. Pada hari-hari pertama yang keluar adalah kolostrum yang jumlahnya sedikit. 3. Mencegah infeksi Dengan rawat gabung lebih mudah mencegah terjadinya infeksi silang. Bayi yang melekat pada kulit ibu akan memperoleh transfer antibodi dari si ibu. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan melapisi seluruh permukaan kulit dan saluran pencernaan bayi dan diserap oleh bayi sehingga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi. Kekebalan ini akan mencegah infeksi, terutama pada diare. 4. Pendidikan kesehatan Kesempatan melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan pada ibu terutama primipara, menganjurkan ibu untuk bangun dari tempat tidur, menggendong bayi dan merawat sendiri akan mempercepat mobilisasi sehingga ibu akan lebih cepat pulih dari persalinan.

15

II.5. SENAM NIFAS Latihan senam dapat diberikan hari kedua, hal-hal yang harus diperhatikan dalam senam nifas yaitu : A. pelaksanaan 1. ibu terlentang, dengan kedua lengan dibawah kepala dan kedua kaki diluruskan, selanjutnya angkat kedua kai sehingga pinggul dan lutut mendekati badan semaksimal mungkin. Lalu luruskan dan angkat kaki kiri dan kanan secara vertikal secara perlahan-lahan lalu turunkan selama menit. 2. ibu tidur terlentang dengan kaki agak terangkat dengan cara meletakkan kursi di ujung kasur, sehingga badan agak melengkung dan letak paha dan kaki bawah lebih tinggi, selanjutnya gerakan jari-jari kaki seperti mencakar dan direnggangkan. Lakukan hal ini selama menit. 3. menit 4. menit 5. ibu terlentang dengan kedua tangan bebas bergerak, gerakan dimana lutut mendekati badan, bergantian kaki kiri dan kanan sedangkan tangan memegang pada ujung kaki dan urutkanlah mulai dari ujung kaki sampai betas betis, lutut dan paha. 6. ibu bebaring terlentang, kaki terangkat keatas, kedua tangan di bawah kepala, jepitlah bantal diantara kedua kaki dan tekanlah sekuat-kuatnya. Pada waktu bersamaan angkatalah pantat dari alas / matras/ kasur dengan melengkungkan badan. Lakukan sebanyak 4-6 kali selama menit. Gerakan menegangkan dan melemaskan otot harus dilakukan perlahan-lahan. lakukan gerakan telapak kaki kiri dan kanan keatas dan ke bawah gerakan menggergaji. Lakukan gerakan ini selama gerakan ujung kaki secara teratur seperti lingkaran dari luar ke dalam dan dari dalam ke luar. Lakukan gerakan ini selama

16

7. sebanyak 4-6 kali 8.

pada bagian vagina di jepit sebentar kemudian

dilepas, pinggul diangkat ke atas dan ke bawah. Gerakan ini dilakukan tidur terlentang, kaki terangkat ke atas, kedua

lengan disamping bdan kaki kanan disilangkan diatas kaki kiri dan tekan yang kuat.pada saat yang sama tegangkan kaki dan kendorkan lagi secara perlahan-lahan selama 4 detik. Lakukan gerakan ini sebanyak 4-5 kali 9. berdiri lurus diatas lantai, kemudian berjalan dengan ujung kaki dan kemudian dengan tumit. Setiap gerakan lamanya menit. Setelah langkah-langkah diatas dikerjakan denga teratur dan intensif maka terakhir dilakukan latihan bernafas diruangan trbuka atau di depan jendela dimana ventilasi udara cukup nyaman dan waktu menit. B. hal-hal yang harus diperhatikan 1. vitalnya 2. anjurkan ibu untuk segar. Latihan bernafas dengan cara angkat kepala dan lingkaran kedua tangan pada belakang leher. Tarik nafas yang dalam perlahan-lahan hingga paru-paru penuh, kemudian hembuskan nafas secara perlahan-lahan. Latihan ini diulang beberapa kali dalam minum 3. lakukan evaluasi dengan cara meminta ibu untuk mengulangi gerakan-gerakan yang telah diajarkan. II.6. PERAWATAN PADA IBU NIFAS DENGAN PUTING SUSU TENGGELAM pelaksanaan 1. jaga privacy pasien 2. mencuci tangan keadaan ibu, setelah senam dan ukur tanda-tanda

17

3. menmpelkan ujung jarum suntuik pada payudara sehingga puting berada dalam pompa 4. kemduian ditarik secara perlahan, sampai terasa ada tekanan dan dipertahankan selama 30 detik sampai 1 menit bila masih terasa sakit tarikan dikendorkan 5. merapihkan pasien 6. membereskan alat 7. mencuci tangan menggunakan sabun di air bersih yang mengalir

II.7. BREAST CARE Beast care adalah suatu teknik untuk merawat dan membersihkan payudara dari kotoran selama hamil dan menyusui sehingga mempercepat produksi ASI dan mencegah infeksi. Tujuan : 1. untuk melancarkan aliran ASI 2. untuk mencegah terjadinya bendungan ASI 3. memelihara kebersihan payudara

PROSEDUR : menyiapkan lingkungan pasien / keluarga diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan. Cuci tangan mengunakan sabun di air yang mengalir Paien diatur dalam posisi duduk dikursi, pakaian bagian atas dan BH dilepaskan Handuk dipasanga dipunggung dan pangkuan pasien Lakukan pemeriksaan tentang pembesaran buah dada, pengeluaran ASI, keadaan puting susu dan kebersihan payudara Perawat atau bidan berada dibelakang pasien Licinkan kedua telapak tangan dengan pelumas Pengurutan pertama:

18

a) Tempatkan kedua telapak tangan diantara payudara b) Pengurutan ke arah atas, lalu telapak tangan kiri ke arah kiri dan tangan kanan ke arah kanan c) Pengurutan ke bawah / ke samping dan melintang. Telapak tagan mengurut kedepan lalu kedua tangan dilepas dari payudara d) Dilakukan 30 kali Pengurutan kedua : sokong payudara, kemudian dua atau tiga jari tangan membuat gerakan memeutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara dan berakhir pada puting susu. a. b. kali putaran c. kedalam : Letakan kedua jari di sebelah kiri dan kanan puting susu, kemudian tekan dan hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan Letakkan kedua ibu jari di atas dan di bawah puting susu, lalu tekan serta hentakkan ke arah luar menjauhi puting susu secara perlahan BH dipasanga kembali Jika puting susu datar atau masuk Pengurutan ketiga : sokong payudara, dan urut payudara Pengurutan keempat : mengurut payudara dari pangkal Selsai pemgurutan payudara dikompres dengan waslap Keringkan kedua payudara Perawatan puting susu : Kompres puting susu dengan Jika puting susu normal, oleskan kapas yang telah dibasahi minyak selama 5 menit minyak lakukan gerakan memutar ke arah dalam sebanyak 30 dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah puting susu. menuju puting susu dengan tulang sendi jari-jari tangan (30 kali) hangat (2 menit) dan air dingin (1menit) sebanyak 3 kali.

19

Merapihkan pasien Membereskan alat-alat Cuci tangan menggunakan sabun di air yang mengalir

II. 8. PERAWATAN LUKA JALAN LAHIR A. VULVA DAN BEKAS JAHITAN EPISIOSOMI

PERLUKAAN VULVA Jenis 1. Robekan Vulva Perlukaan vulva sering dijumpai pada waktu persalinan. Jika diperiksa dengan cermat, akan sering terlihat robekan-robekan kecil pada labium minus,vestibulum atau bagian belakang vulva. Jika robekan atau lecet hanya kecil dan tidak menimbulkan perdarahan banyak, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa.Tetapi jika luka robek agak besar dan banyak berdarah,lebih-lebih jika robekan terjadi pada pembuluh darah di daerah klitoris, perlu dilakukan penghentian perdarahan dan penjahitan luka robekan.pada gambar di bawah terlihat lokasi robekan yang paling sering ditemui pada vulva.

20

Lokasi perlukaan vulva yang paling sering di jumpai. Robekan dekat klitoris dapat mengenai pembuluh darah arteri, dengan akibat terjadinya perdarahan yang banyak

Luka robekan di jahit dengan catgut secara terputus-putus ataupun secara jelujur, jika luka robekan terdapat disekitar orifisium uretra atau diduga mengenai vesika urinaria, sebaiknya sebelum dilakukan penjahitan, dipasang dulu kateter tetap.

21

2.

Hematoma vulva Terjadinya hematoma vulva disebabkan oleh karena robeknya pembuluh darah terutama vena yang terletak di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput lendir vagina. Hal ini dapat terjadi pada kala pengeluaran, atau setelah penjahitan luka robekan yang sembrono atau pecahnya varises yang terjadi di dinding vagina dan vulva. Sering terjadi bahwa penjahitan luka episiotomi yang tidak sempurna atau robekan pada dinding vagina yang tidak dikenali merupakan sebab terjadinya hematoma. Oleh karena itu pemeriksaan dan pangamatan yang cermat terhadap penghentian perdarahan pada perlukaan vagina dan vulva perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hematoma. Diagnosa tidak begitu sulit, oleh karena pada daerah hematoma akan terlihat bagian yang lembek, membengkak dan perubahan warna kulit di daerah hematoma disertai dengan nyeri tekan.

Robekan perineum Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu lama. (kebidanan merah) Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan di mana : Kepala janin terlalu cepat lahir Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut Pada persalinan dengan distosia bahu.

22

Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir dangan cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito-bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal. Robekan perinuem dapat dibagi atas 4 tingkat :
Tingkat I

: Apabila hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek

Tingkat II : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu dinding belakang vagina

dan jaringan ikat yang menghubungkan otot-otot diafragma urogenitalis pada garis tengah terluka, tapi tidak mengenai sfingter ani.
Tingkat III : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai

mengenai otot-otot sfingter ani. Tingkat IV : Robekan mengenai mukosa rektum. Robekan perinuem yang melebihi robekan tingkat satu harus dijahit. Dengan penderita berbaring pada posisi litotomi dilakukan pembersihan luka dengan cairan antiseptik dan luas robekan ditentukan dengan seksama. Teknik menjahit robekan perineum
1. Tingkat I : Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan hanya

dengan memakai catgut yang di jahitkan secara jelujur (continuous suture) atau dengan cara angka delapan (figure of eight). 2. Tingkat II : Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat II mauoun tingkat III, jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu. Pinggir robekan sebelah kira dan kanan masing-masing di klem terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggir robekan rata, baru dilakukan penjahitan luka robekan. Mula-mula otot dijahit dengan catgut, kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan selaput lendir vagina dimulai dari puncak robekan. Terakhir kulit perineum dijahit dengan benang sutera terputus-putus.

23

3. Tingkat III : Mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit, kemudian fascia perirektal dan fascia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik, sehingga bertemu kembali. Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan diklem dengan klem pean lurus, kemudian dijahit dengan 2 sampai dengan 3 jahitan cutgut kromik sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis sperti menjahit robekan perineum tingkat II.

VULVA HYGIENE 1. menyiapkan lingkungan a. jaga privasi pasien b. lampu penerangan yang cukup 2. persiapan pasien, pasien atau keluarga diberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari tindakan yang akan dilakukan 3. cuci tangan menggunakan sabung dengan air yang mengalir 4. memakai sarung tangan

24

5. mengatur posisi pasien, pakaian bagian bawah dilepaskan, badan bagian bawah diberi selimut 6. perlak atau alas dipasang dibawah bokong ibu 7. pasang pispot 8. berilah waktu apabila pasien ingin BAB/BAK 9. siramkan air di dalam botol ke bagian vagina 10. ambilah kapas dengan yangan yang telah memakai sarung tangan bersihkan mulai simfisis pubis menuju kebawah secara siksak 11. kapas tidak terangakat dari kulit dan tidak ada bagian kulit yang tidak terlewatkan 12. lakukan langkah no.10dan kemudian bersihkan dari mulai lipatan paha atas menuju luar sampai seluruh permukaan bagian dalam bersih 13. lakukak langkah no.12 pada paha bagian kanan 14. langkah berikutnya dari atas labia mayora kiri ke arah bawah 15. lakukan langkah no.14 pada labia mayora kanan 16. telunjuk dan ibu jari tangan kiri membuka labia minora 17. bersihkan klitoris menuju ke bawah sampai anus 18. bila anus masih kotor, bagian ini boleh diulang kemudian pakaikan pembalut wanita bila perlu 19. perlak dan alasnya diangkat, pakaian bagian bawah dikenakan kembali 20. atur posisi pasien senyaman mungkin 21. sarung tangan dilepaskan, rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit 22. cuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir 23. alat-alat dibereskan kembali

EPISIOTOMI

Definisi

25

Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum.

Indikasi Indikasi untuk melakukan episiotomi dapat timbul dari pihak ibu maupun pihak janin 1. Indikasi janin a. Sewaktu melahirkan janin prematur. Tujuannya untuk mencegah terjadinya trauma yang berlebihan pada kepala janin b. Sewaktu melahirkan janin letak sungsang, melahirkan janin dengan cunam, ekstraksi vakum, dan janin besar.

2. Indikasi ibu Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan sehingga ditakuti akan terjadi robekan perineum, umpama pada primipara, persalinan sungsang, persalinan dengan cunam, ekstraksi vakum dan anak besar.

Cara Episiotomi Episiotomi dilakukan bila perineum telah tipis atau kepala bayi tampak sekitar 3 4 cm. Letakkan 2 jari di antara kepala bayi dan perineum dengan menggunakan sarung tangan steril Gunakan gunting dan buat sayatan 3 4 cm mediolateral

26

Jaga perineum dengan tangan pada saat kepala bayi lahir agar insisi tidak meluas.

Gambar cara melakukan insisi dengan meletakkan 2 jari untuk melindungi kepala bayi

Teknik 1. Episiotomi medialis a. Pada teknik ini insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas otot-otot sfingter ani. Cara anestesi yang dipakai adalah cara anestesi infiltrasi antara lain dengan larutan procaine 1% - 2%, atau larutan lidonest 1% - 2%, atau larutan xylocaine 1% - 2%. Setelah pemberian anestesi, dilakukan insisi dengan mempergunakan gunting yang tajam dimulai dari bagian terbawah introitus vagina menuju anus, tetapi tidak sampai memotong pinggir atas sfingter ani, hingga kepala dapat dilahirkan. Bila kurang lebar disambung ke lateral, (episiotomi medio lateralis).

27

b. Untuk menjahit luka episiotomi medialis mula-mula otot perineum kiri

dan kanan dirapatkan dengan beberapa jahitan. Kemudian fasia dijahit dengan beberapa jahitan. Lalu selaput lendir vagina dijahit pula dengan beberapa jahitan. Terakhir kulit perineum di jahit dengan empat atau lima jahitan. Jahitan dapat dilakukan secara terputus-putus (interrupted suture) atau secara jelujur (continuous suture). Benang yang dipakai untuk menjahit otot, fasia dan selaput lendir adalah catgut khromik, sedang untuk kulit perineum dipakai benang sutera.

28

2. Episiotomi mediolateralis a. Pada teknik ini insisi dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah belakang dan samping. Arah insisi ini dapat dilakukan ke arah kanan atau pun kiri, tergantung pada kebiasaan orang yang melakukannya. Panjang insisi kira-kira 4 cm.
b. Teknik menjahit luka pada episiotomi mediolateralis hampir sama

dengan teknik menjahit episiotomi medialis. Penjahitan dilakukan

29

sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya harus simetris.

3. Episiotomi lateralis a. Pada teknik ini insisi dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira pada jam 3 atau 9 menurut arah jarum jam. b. Teknik ini sekarang tidak dilakukan lagi oleh karena banyak menimbulkan komplikasi. Luka insisi ini dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pudenda interna, sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita. Perbaikan Episiotomi : o A dan antisepsis pada daerah episiotomi

30

o Jika luka episiotomi meluas, tangani seperti robekan tingkat III dan IV o Jahit mukosa vagina jelujur dengan catgut kromik 2-0 Mulai dari sekitar 1 cm di atas puncak episiotomi sampai pada batas vagina Gunakan pinset untuk menarik jarum melalui jaringan vagina.

o Jahit otot perinuem dengan benang 2-0 secara interuptus o Jahit kulit secara interuptus atau subkutikuler dengan benang 2-0 Komplikasi episiotomi : 1. Nyeri post partum dan dyspareunia. 2. Rasa nyeri setelah melahirkan lebih sering dirasakan pada pasien bekas episiotomi, garis jahitan (sutura) episiotomi lebih menyebabkan rasa sakit. Jaringan parut yang terjadi pada bekas luka episiotomi dapat menyebabkan dyspareunia apabila jahitannya terlalu erat. 3. Nyeri pada saat menstruasi pada bekas episiotomi dan terabanya massa 4. Trauma perineum posterior berat. 5. Trauma perineum anterior 6. Cedera dasar panggul dan inkontinensia urin dan feses 7. Infeksi bekas episiotomi Infeksi lokal sekitar kulit dan fasia superfisial akan mudah timbul pada bekas insisi episiotomi. 8. Gangguan dalam hubungan seksual Jika jahitan yang tidak cukup erat, menyebabkan akan menjadi kendur dan mengurangi rasa nikmat untuk kedua pasangan saat melakukan hubungan seksual. Penanganan Kompilkasi Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka. Berikan :

31

Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama 5 hari Dan metronidazol 400 mg per oral tiga kali sehari selama 5 hari.

Jika infeksi mencapai otot dan terdapat nekrosis, lakukan debridemen dan berikan antibiotika secara kombinasi sampai pasien bebas demam 48 jam. Penisilin G 2 juta unit setiap 6 jam I.V Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan setiap 24 jam I.V Ditambah metronidazol 500 mg setiap 8 jam I.V Sesudah pasien bebas demam selama 48 jam, berikan : o Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama 5 hari o Ditambah metronidazol 400 mg per oral tiga kali sehari selama 5 hari. Luka dapat di jahit bila telah tenang, 2 4 minggu kemudian.

PROSEDUR MERAWAT LUKA EPISIOTOMI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. menyiapkan lingkungan pasien / keluarga diberi penjelasan mengenai tindakan yang cuci tangan mengatur posisi pasien denga dorsal recumbent membuka bagian bawah pasien mengenakan sarung tangan steril membersihkan luka denga kapas DTT dari arah atas ke bawah kapas kotor dibuang pada tempatnya mengompres luka dengan cairan NaCl, bila luka basah cairan memasangan kain pembalut merapihkan pasien membersikan dan mengembalikan peralatan ke tempat semula

akan dilakukan

NaCl dicampur gentamicyn

32

13.

mencuci tangan

B. PENANGANAN PADA ROBEKAN DINDING VAGINA Perlukaan vagina sering terjadi sewaktu : a. Melahirkan janin dengan cunam b. Ekstraksi bokong c. Ekstraksi vakum d. Reposisi presentasi kepala janin, umpamanya pada letak

oksipitoposterior. e. Sebagai akibat lepasnya tulang simpisis pubis (simpisiolisis)

Komplikasi : 1. Perdarahan Pada umumnya pada luka robek yang kecil dan superfisial tidak terjadi perdarahan yang banyak, akan tetapi jika robekan lebar dan dalam, lebih-lebih jika mengenai pembuluh darah dapat menimbulkan perdarahan yang hebat. 2. Infeksi Jika robekan tidak ditangani dengan semestinya dapat terjadi infeksi, bahkan dapat timbul septikemia. Penanganan : Pada luka robek yang kecil dan superfisial, tidak diperlukan penanganan khusus. Pada luka robekan yang lebar dan dalam, perlu dilakukan penjahitan secara terputus-putus atau jelujur. Biasanya robekan pada vagina sering diiringi dengan robekan pada vulva maupun perineum. Jika robekan mengenai puncak vagina, robekan ini dapat melebar kearah rongga panggul, sehingga kavum dauglas menjadi terbuka. Keadaan ini disebut kolporeksis.

33

C. PENANGANAN PADA ROBEKAN SERVIKS UTERI Robekan serviks dapat terjadi pada: 1. Partus presipitatus 2. Trauma karena pemakaian alat-alat operasi (cunam, perforator, vakum ekstraktor) 3. Melahirkan kepala janin pada letak sungsang secara paksa padahal pembukaan serviks uterus belum lengkap. 4. Partus lama, dimana telah terjadi serviks edema, sehingga jaringan serviks sudah menjadi rapuh dan mudah robek.

Komplikasi : Komplikasi yang segera terjadi adalah perdarahan. Kadang-kadang perdarahan ini sangat banyak sehingga dapat menimbulkan syok bahkan kematian. Pada keadaan dimana robekan serviks ini tidak ditangani dengan baik, dalam jangka panjang dapat terjadi komplikasi serviks (servikal inkompetence). Teknik menjahit robekan serviks : 1. Pertama-tama pinggir robekan sebelah kiri dan kanan dijepit oleh klem, sehingga perdarahan menjadi berkurang atau berhenti 2. Kemudian serviks ditarik sedikit, sehingga lebih jelas kelihatan dari luar. 3. Jika pinggir robekan bergerigi, sebaiknya sebelum dijahit, pinggir tersebut diratakan dulu, dengan jalan menggunting pinggir yang bergerigi tersebut. 4. Setelah itu robekan dijahit dengan catgut kromik no 00 atau 000. Jahitan dimulai dari ujung robekan dengan cara dijahit terputus-putus atau jahit angka delapan (figure of eight suture).

34

5. Pada robekan yang dalam, jahitan harus dilakuakn lapis demi lapis. Ini dilakukan untuk menghindari terjadinya hematom dalam rongga dibawah jahitan. Perbaikan Robekan serviks : Tindakan a dan antisepsis pada vagina dan serviks. Berikan dukungan emosional dan penjelasan. Pada umumnya tidak diperlukan anestesia. Jika robekan luas atau

jauh sampai keatas, berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan atau ketamin. Asisten menahan fundus. Bibir serviks dijepit dengan klem ovum, pindahkan bergantian

searah jarum jam sehingga semua bagian serviks dapat diperiksa. Pada bagian yang terdapat robekan, tinggalkan 2 klem diatas robekan. Jahit robekan serviks dengan catgut kromik 0 secara jelujur,

mulai dari apeks. Jika sulit dicapai dan diikat, apeks dapat dicoba dijepit dengan

klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam. Kemudian : Sesudah 4 jam dilepaskan sebagian saja Sesudah 4 jam berikutnya dilepas seluruhnya. Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina maka

lakukan laparotomi.

D. PENANGANAN ROBEKAN KORPUS UTERI Perlukaan yang paling berat pada waktu persalinan yaitu robekan uterus. Robekan ini dapat terjadi pada waktu kehamilan atau pada waktu persalinan, namun yang paling sering terjadi ialah ketika persalinan. Mekanisme terjadinya robekan uterus bermacam-macam. Ada yang terjadi secara spontan dan ada pula yang terjadi secara ruda paksa. Lokasi robekan

35

dapat korpus uteri atau segmen bawah uterus. Robekan bisa terjadi pada tempat yang lemah pada dinding uterus, misalnya pada waktu parut bekas seksio sesarea atau bekas miomektomi. Robekan bisa pula terjadi tanpa ada parut bekas operasi, apabila segmen bawah uterus sangat tipis dan renggang karena janin mengalami kesulitan untuk melalui jalan lahir. Robekan uterus akibat ruda paksa umumnya terjadi pada persalinan buatan, misalnya pada ekstraksi dengan cunam atau pada versi dan ekstraksi. Dorongan Kristeller bila tidak dikerjakan sebagaimana mestinya, dapat menimbulkan uterus. Secara anatomik, robekan uterus dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu : 1. Robekan inkomplet, yakni robekan yang mengenai endometrium dan miometrium, tetapi perimetrium masih utuh; 2. Robekan komplet, yakni robekan yang mengenai endometrium, miometrium, dan perimetrium sehingga terdapat hubungan langsung antara cavum uteri dan rongga perut. Robekan uterus komplet yang terjadi ketika persalinan berlangsung menyebabkan gejala yang khas, yaitu : nyeri perut mendadak, anemia, syok, dan hilangnya kontraksi. Pada keadaan ini detik jantung janin tidak terdengar lagi serta bagian-bagian janin dengan mudah dapat diraba di bawah dinding perut ibu. Gejala-gejala robekan uterus inkomplet umumnya lebih ringan. Pada waktu selesai persalinan, bila penderita pucat dan kelihatan dalam syok, sedang perdarahan keluar tidak banyak, apabila diraba tumor di parametrium maka pada keadaan ini patut dicurigai adanya robekan uterus inkomplet. Untuk lebih memastikan hal ini dianjurkan melakukan eksplorasi dengan memasukkan tangan ke dalam rongga uterus. Demikian pula sesudah selesainya melakukan persalinan buatan yang sulit, hendaknya secara rutin dilakukan eksplorasi jalan lahir serta rongga uterus, untuk mengetahui sedini mungkin adanya robekan di dalamnya. Penanganan pada robekan uterus ialah pemberian transfusi darah segera, kemudian laparotomi. Jenis operasi yang dilakukan ialah penjahitan luka

36

pada diniding uterus dan pengangkatan uterus. Pilihan yang akan dikerjakan tergantung pada lokasi dan bentuk robekan, tanda-tanda radang, dan paritas.

II.9. PEMERIKSAAN PASCA SALIN Ibu diharap kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pasca persalinan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum, keadaan payudara dan putingnya, dinding perut apakah ada hernia, keadaan perineum, kandung kemih apakah ada rektokel, tonus otot sfingter ani dan adanya fluor albus.

KESIMPULAN

37

Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari, menurut hitungan awam, merupakan masa nifas yang penting untuk terus dipantau. Nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Darah nifas mengandung banyak trombosit, sel-sel degeneratif, sel-sel mati, dan sel-sel endometrium sisa. Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat. Delapan jam pasca persalina, ibu harus tidur terlentang untuk mencegah perdarahan. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi ditempatkan pada satu kamar. Pada hari ke dua, bila perlu dilakuakan latihan senam. Pada hari ke tiga umumnya sudah dapat duduk. Pada hari ke empat berjalan, dan pada hari ke lima dapat dipulangkan.

DAFTAR PUSTAKA

38

Bagian Obstetri & Ginekologi FK UNPAD Bandung.Edisi 1983.Bandung: 1983

Cunningham, F. Gary.2005. Obstetri Williams. Edisi 21.Jakarta

Wiknjosastro,Prof.dr.Hanifa. ilmu Kandungan. Edisi Ketiga. Jakarta : 1999

(http://creasoft.wordpress.com/2008/04/21/perawatan-luka-perineum-pada-postpartum) , Didownload tanggal 13 Oktober 2008, Pukul 20.00 WIB

http://www.geocities.com/klinikobgin/nifas&kelainannya/nifas.htm,

Didownload tanggal 13 Oktober 2008, Pukul 20.00 WIB

http://ksuheimi.blogspot.com/2007/08/episiotomi.html, Didownload tanggal 13 Oktober 2008, Pukul 20.00 WIB

39