You are on page 1of 16

LANDASAN ETIKA DALAM BISNIS SYARIAH ABSTRAK Etika merupakan ilmu yang menjelaskan tentang baik buruknya tingkah

laku manusia. Bisnis merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang individu untuk mengelola sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendapatkan keuntungan. Dalam Islam Etika Bisnis setiap orang tidak boleh merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Misalnya mencuri, menyuap, berjudi, menipu, mengaburkan, mengelabui, riba, pekerjaan lain yang diperoleh dengan jalan yang tidak dibenarkan. Ada lima prinsip dalam ilmui Ekonomi Islam yang diterapkan dalam bisnis syariah, yaitu: Tauhid, Keseimbangan atau kesejajaran, Kehendak Bebas, Tanggung Jawab dan Kebenaran. Kata Kunci : Etika, Bisnis, Prinsip .

BAB 1. LATAR BELAKANG Kegagalan yang paling terasa dari modernisasi yang merupakan akibat langsung dari era globalisasi adalah dalam bidang ekonomi. Kapitalisme modern yang walaupun akhirnya mampu membuktikan kelebihannya dari sosialisme, kenyataannya justru melahirkan berbagai persoalan, terutama bagi negara-negara Dunia Ketiga (termasuk negara-negara Muslim) yang cenderung menjadi obyek daripada menjadi subyek kapitalisme. Dikaitkan dengan kegagalan kapitalisme Barat di negara-negara Muslim tersebut, kesadaran bahwa akar kapitalisme bukanlah dari Islam kemudian membangkitkan keinginan untuk merekonstruksi sistem ekonomi yang dianggap otentik berasal dari Islam. Apalagi sejarah memperlihatkan bahwa pemikiran ekonomi, telah pula dilakukan oleh para ulama Islam, bahkan jauh sebelum Adam Smith menulis buku monumentalnya The Wealth of Nations. Di samping itu, Iklim perdagangan yang akrab dengan munculnya Islam, telah menempatkan beberapa tokoh dalam sejarah sebagai pedagang yang berhasil. Keberhasilan tersebut ditunjang oleh kemampuan skill maupun akumulasi modal yang dikembangkan. Dalam pengertiannya yang sangat umum, maka bisa dikatakan bahwa dunia kapitalis sudah begitu akrab dengan ajaran Islam maupun para tokohnya. Kondisi tersebut mendapatkan legitimasi ayat al-Quran maupun sunnah dalam mengumpulkan harta dari sebuah usaha secara maksimal. Dengan banyaknya ayat al-Quran dan Hadis yang memberi pengajaran cara bisnis yang benar dan praktek bisnis yang salah bahkan menyangkut hal-hal yang sangat kecil, pada dasarnya kedudukan bisnis dan perdagangan dalam Islam sangat penting. Prinsip-prinsip dasar dalam perdagangan tersebut dijadikan referensi utama dalam pembahasan-pembahasan kegiatan ekonomi lainnya dalam Islam sebagai mana pada mekanisme kontrak dan perjanjian baru yang berkaitan dengan negara non-muslim yang tunduk pada hukum perjanjian barat. Pada dasarnya etika (nilai-nilai dasar) dalam bisnis berfungsi untuk menolong pebisnis (dalam hal ini pedagang) untuk memecahkan problem-problem (moral) dalam praktek bisnis mereka. Oleh karena itu, dalam rangka

mengembangkan sistem ekonomi Islam khususnya dalam upaya revitalisasi perdagangan Islam sebagai jawaban bagi kegagalan sistem ekonomi baik kapitalisme maupun sosialisme-, menggali nilai-nilai dasar Islam tentang aturan perdagangan (bisnis) dari al-Quran maupun as-Sunnah, merupakan suatu hal yang niscaya untuk dilakukan. Dengan kerangka berpikir demikian, tulisan ini akan mengkaji permasalahan revitalisasi perdagangan Islam, yang akan dikaitkan dengan pengembangan sektor riil.

BAB 2. PEMBAHASAN A. 1. Pengertian Etika Bisnis Dalam Islam Definisi Etika Etika (ethics) yang berasal dari bahasa Yunani ethikos mempunyai beragam arti : petama, sebagai analisis konsep-konsep mengenai apa yang harus, mesti, ugas, aturan-aturan moral, benar, salah, wajib, tanggung jawab dan lainlain. Kedua, pencairan ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Ketiga, pencairan kehidupan yang baik secara moral (Tim Penulis Rasda Karya : 1995) Etika memiliki dua pengertian : Pertama, etika sebagaimana moralitas, berisikan nilai dan norma-norma konkret yang menjadi pedoman dan pegangan hidup manusia dalam seluruh kehidupan. Kedua, etika sebagai refleksi kritis dan rasional. Etika membantu manusia bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggung-jawabkan. Etika itu sendiri merupakan salah satu disiplin pokok dalam filsafat, ia merefleksikan bagaimana manusia harus hidup agar berhasil menjadi sebagai manusia (Franz Magnis-Suseno :1999) Menurut K. Bertens dalam buku Etika, merumuskan pengertian etika kepada tiga pengertian juga; Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-niai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika dalam pengertian kumpulan asas atau nilai-nilai moral atau kode etik. Ketiga, etika sebagai ilmu tentang baik dan buruk Menurut Ahmad Amin memberikan batasan bahwa etika atau akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti yang baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.

2.

Definisi Bisnis Sedangkan bisnis mengutip Straub, Alimin (2004: 56), sebagai suatu

organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Secara umum bisnis diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien (Muslich, 2004: 46). Menurut Anoraga dan Soegiastuti dalam Yusanto (2002: 15), bisnis memiliki makna dasar sebagai the buying and selling of goods and services. Adapun dalam pandangan Straub dan Attner, bisnis tak lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Dalam Islam, bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya, yaitu aturan halal dan haram (Yusanto, 2002: 18). Sedangkan menurut Hughes dan Kapoor dalam Arifin (2009: 21) bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisir untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan masyarakat dan ndustri. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa bisnis adalah aktivitas yang dilakukan oleh seorang individu utnuk mengelola sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendapatkan keuntungan sebagai imblan dari usaha yang telah dilakukannya. 3. Pengertian Etika Bisnis Islam Apabila etika dipahami sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan antara yang benar dari apa yang salah, maka dalam Islam banyak padanan kata yang dekat dengan makna tersebut, antara lain: khuluq,khair, birr, adl, haq, dan taqwa. Dengan mengacu pada term tersebut, maka kajian tentang etika bisnis dalam Islam berakar pada dua sumber utama hukum Islam yaitu al

Quran dan al al Hadits (Muhammad, 2008: 62). Misal dalam al-Quran Allah SWT dengan tegas melarang seorang hamba memakan sebagian harta yang lain dengan cara yang batil. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat al Baqarah ayat 188 : Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. Ayat ini memberikan syarat boleh dilangsungkannya perdagangan dengan dua hal. 1) perdagangan itu harus dilakukan atas dasar saling rela antara kedua belah pihak. Tidak boleh bermanfaat untuk satu pihak dengan merugikan pihak lain. 2) Kedua, tidak boleh saling merugikan baik untuk diri sendiri( vested interest) maupun orang lain. Dengan demikian ayat ini memberikan pengertian, bahwa setiap orang tidak boleh merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Sebab hal demikian, seolah olah dia menghisap darahnya dan membuka jalan kehancuran untuk dirinya sendiri. Misalnya mencuri, menyuap, berjudi, menipu, mengaburkan, mengelabui, riba, pekerjaan lain yang diperoleh dengan jalan yang tidak dibenarkan (Qardhawi, 1993: 38). Dengan dasar normatif di atas jelaslah bahwa urusan ekonomi dan bisnis dalam Islam tidak dapat dipandang sebagai sebuah entitas yang berdiri lepas dari nilai-nilai etika-religius yang bersumber dari wahyu Tuhan. Etika bisnis dalam perspektif Islam memadukan unsur-unsur yang bersifat profan dengan etika yang bersifat sakral secara seimbang (Muhammad, 2008: 63). Bisnis Islami ialah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram (lihat. QS. 2:188, 4:29). Bisnis Islam sebenarnya telah diajarkan Nabi Saw. saat menjalankan perdagangan. Karakteristik Nabi Saw., sebagai pedagang adalah, selain dedikasi

dan keuletannya juga memiliki sifat shidiq, fathanah, amanah dan tabligh. Ciri-ciri itu masih ditambah Istiqamah. Shidiq berarti mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan dan amal perbuatan atas dasar nilai-nilai yang diajarkan Islam. Istiqamah atau konsisten dalam iman dan nilai-nilai kebaikan, meski menghadapi godaan dan tantangan. Istiqamah dalam kebaikan ditampilkan dalam keteguhan, kesabaran serta keuletan sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal. Fathanah berarti mengerti, memahami, dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sifat ini akan menimbulkan kreatifitas dan kemampuan melakukakn berbagai macam inovasi yang bermanfaat. Amanah, tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban. Amanah ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihsan (kebajikan) dalam segala hal. Tablig, mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (berbagai sumber). Berdasarkan sifat-sifat tersebut, dalam konteks corporate social responsibility (CSR), para pelaku usaha atau pihak perusahaan dituntut besikap tidak kontradiksi secara disengaja antara ucapan dan perbuatan dalam bisnisnya. Mereka dituntut tepat janji, tepat waktu, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), selalu memperbaiki kualitas barang atau jasa secara berkesinambungan serta tidak boleh menipu dan berbohong. Pelaku usaha/pihak perusahaan harus memiliki amanah dengan menampilkan sikap keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihsan (berbuat yang terbaik) dalam segala hal, apalagi berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Dengan sifat amanah, pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan kewajiban-kewajibannya. Sifat tablig dapat disampaikan pelaku usaha dengan bijak (hikmah), sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang solid dan kuat. Para pelaku usaha dituntut mempunyai kesadaran mengenai etika dan moral, karena keduanya merupakan kebutuhan yang harus dimiliki. Pelaku usaha atau perusahaan yang ceroboh dan tidak menjaga etika, tidak akan berbisnis

secara baik sehingga dapat mengancam hubungan sosial dan merugikan konsumen, bahkan dirinya sendiri. Berikut ini merupakan penegasan dari Allah Swt. bahwa Islam memiliki sistem yang sempurna dalam rangka membahas berbagai persoalan bisnis yang ada di dunia baik yang bersifat materi maupun bukan. Termasuk dalam hal ini menyangkut mengenai bisnis, dalam usaha melakukan bisnis Allah telah menegaskan dalam firman-firmannya, sebagai berikut : 1) Al-Baqarah : 282 "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika orang yang berutang itu orang kurang akalnya atau lemah (keadaanya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada saksi dua orang laki-laki, maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi yang ada, agar jika ada yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik utang itu kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dekat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dari begitu juga saksi. Jika kamu lakukan yang demikian, maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah,

Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". 2) An-Nisaa : 29 "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu". Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin memakan harta sesamanya dengan cara yang bathil dan cara mencari keuntungan yang tidak sah dan melanggar syari'at seperti riba, perjudian dan yang serupa dengan itu dari macam-macam tipu daya yang tampak seakan-akan sesuai dengan hukum syari'at tetapi Allah mengetahui bahwa apa yang dilakukan itu hanya suatu tipu muslihat dari sipelaku untuk menghindari ketentuan hokum yang telah digariskan oleh syari'at Allah. Allah mengecualikan dari larangan ini pencaharian harta dengan jalan perdagangan (perniagaan) yang dilakukan atas dasar suka sama suka oleh kedua belah pihak yang bersangkutan. 3) At-Taubah : 24 "Katakanlah jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasulnya dan dari berjihad di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik" Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin menjauhi orang-orang kafir, walaupun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, atau saudara-saudara mereka sendiri, dan melarang untuk berkasih saying kepada mereka yang masih lebih mengutamakan kekafiran mereka daripada beriman. 4) An-Nur : 37 "Bertasbih dan bertahmidlah Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari membayar zakat.

Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang" Allah SWT berfirman menceritakan tentang hamba-hamba-Nya dan memperoleh pancaran nur iman dan takwa di dada mereka, bahwa mereka itu tekun dalam ibadahnya, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan selalu beri'tikaf di dalam masjidbertasbih, bertahmid dan bertahlil. Mereka sekalikali tidak tergoda dan tidak akan dilalaikan dari ibadah itu, kegiatan yang mereka lakukan untuk mencari nafkah, berusaha dan berdagang (berniaga). Mereka itu benar-benar cakap membagi waktu di antara kewajiban ukhrawi dan kewajiban duniawi, sehingga tidak sedikitpun tergesr amal dan kewajiban ukhrawi mereka oleh usaha duniawi mereka. 5) Fatir : 29 "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi" Allah SWT berfirman tentang hamba-hamba-Nya yang mukmin yang selalu membaca kitab Allah dengan tekunnya, beriman bahwasanya kitab itu adalah wahyu dari sisi-Nya kepada Rasul-Nya dan mengerjakan apa yang terkandung di dalamnya seperti perintah shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah karuniakan kepadanya untuk tujuan-tujuan yang baik yang membawa ridha Allah dan restu-Nya, menafkahkan secara diam-diam tidak diketahui orang lain atau secara terang-terangan, mereka itulah dapat mengharapkan perdagangan (perniagaan) yang tidak akan merugi dan akan disempurnakanlah oleh Allah pahala mereka serta akan ditambah bagi mereka karunia-Nya berlipat ganda. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri amal-amal baik hamba-hamba-Nya yang sekecil-kecilnya pun. 6) As-Shaff : 10 "Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab pedih?" 7) Al-Jumah : 11

"Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggallah engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah , "Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan," dan Allah pemberi rezeki yang terbaik". B. Prinsip-Prinsip Dasar dalam Etika Bisnis Islam Ada lima prinsip (aksioma) dalam ilmu ikonomi Islam yang mesti diterapkan dalam bisnis syariah, yaitu: Tauhid (Unity/kesatuan), Keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium), Kehendak Bebas (Free Will), Tanggung Jawab (Responsibility) dan Kebenaran (kebajikan dan kejujuran). 1) Tauhid Tauhid merupakan fondasi utama untuk semua umat Islam dalam menjalankan semua fungsi kehidupannya. Dengan tauhid ini, manusia bersaksi bahwa tiada sesuatu yang layak disembah selain Allah dan tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain daripada Allah (QS. 2:107, 5:17, 120, 24:33). Dengan bersaksinya manusia, maka sikap dan prilaku atau perbuatan manusia harus mencerminkan sikap yang sesuai dengan tolak ukur dan penilaian Allah (bersifat mutlak dan pasti kebenarannya). Hal ini seperti yang dinyatakan Allah dalam QS. Al-Anam ayat 126-127 sebagai berikut : Jalan lurus yang ditunjukkan Allah ini, menurut kebenaran agama Islam, pasti keakuratannya. Dan kebenarannya banyak diakui oleh para pemikir dan ilmuan dengan logika yang digunakan mereka. Namun, dari semua kebenaran itu ada beberapa manusia yang tidak memahami seperti halnya pemahaman manusia yang lain. Adakalanya untuk memahami kebenaran tersebut manusia harus mengalami serangkaian pengalaman empirik maupun analitik perenungan atau perjalanan spiritual yang cukup panjang oleh seorang yang telah dianugrahi hidayah dari Allah SWT. Landasan tauhid ini dikonotasikan dalam surat AlAnam ayat 162 yakni sebagai berikut : Dalam konteks pembahasan ini, manusia harus mencerminkan sifat dan prilaku Allah yang terdapat dalam 99 Asmaul husna. Termasuk dalam mengelola

dan mengembangkan kegiatan bisnisnya. Kegiatan bisnis seperti produksi, konsumsi, perdagangan dan distribusi harus bertitik tolak pada keridhoan Allah SWT dan sesuai dengan tata cara syariah-Nya. Hal ini dijabarkan pada landasan normatif sebagai berikut: Manusia muslim berproduksi karena memenuhi perintah Allah, QS. Al-Mulk ayat 15 : Manusia mengkonsumsi dengan konteks niat beribadah melaksanakan perintah Allah, QS. Al-Baqarah ayat 168, QS. Al-Baqarah 172, Al-Araf 21 dan 32. Dalam sejarah penciptaanya, manusia diciptakan oleh Allah kedunia sebagai kholifah, karena selain manusia memiliki sifat-sifat baik dan hawa nafsu dalam dirinya manusia juga memiliki potensial yang dapat diandalkan. Adanya unsur daya materi, akal, insting, emosi dan unsur lainnya manusia punya potensi untuk berkreasi dan mampu memanag sesuatu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Manusia yang seperti inilah yang harapkan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Berdasarkan pertimbangan hal tersebut Allah memutuskan untuk tetap menciptakan manusia dimuka bumi. Dengan potensi yang dimiliki manusia, manusia dapat melakukan beberapa hal dengan fasilitas Wasilah al hayah. Dan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus melakukan dua hal pokok menurut Ibnu Sina, yaitu: 1. Menyempurnakan kemampuan teoritis naturalnya. 2. Menyempurnakan praktis naturalnya. Tauhid mengantarkan manusia pada pengakuan akan keesaan Allah selaku Tuhan semesta alam. Dalam kandungannya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini bersumber dan berakhir kepada-Nya. Dialah pemilik mutlak dan absolut atas semua yang diciptakannya. Oleh sebab itu segala aktifitas khususnya dalam muamalah dan bisnis manusia hendaklah mengikuti aturan-aturan yang ada jangan sampai menyalahi batasan-batasan yang telah diberikan. 2) Keseimbangan (Keadilan) Allah adalan pencipta segala sesuatu, dan salah satu sifat-Nya adalah adil. Ajaran Islam salah satunya berorientasi pada terciptanya karakter manusia yang

memiliki sikap dan prilaku seimbang atau adil, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, sesama manusia, dan dengan lingkungannya. Dalam banyak ayat, Allah memerintahkan manusia untuk selalu berbuat adil hampir dalam semua prilaku yang dilakukan dan termasuk juga dalam kegiatan bisnisnya. Hal ini tampak dalam QS. Al-Hadid ayat 25 dan QS. Al-Anfaal ayat 29: Implementasi ajaran keseimbangan dan keadilan pada kegiatan bisnis harus dikaitkan dengan pembagian manfaat pada semua komponen dan pihak yang terlibat secara langsung atau tidak langsung sesuai dengan peran dan kontribusi tang telah mereka berikan terhadap keberhasilan atau kegagalan dari kegiatan bisnis yang dilakukan pelaku bisnis. Semua yang diperoleh baik kerugian atau keuntungan atau resiko harus didistribusikan secara berimbang sesuai dengan kontribusi yang diberikan mereka. Jadi antara hak dan kewajiban semua para pelaku yang terlibat terpenuhi sesuai dengan hak dan kewajiban yang mereka lakukan.QS. Al-Baqarah ayat 195, QS. Al-Furqaan ayat 67 dan 68,dan QS AlIsraa ayat 35. 3) Landasan Kehendak Bebas Dengan potensi yang ada, manusia diberi keleluasaan untuk memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Manusia bebas berkreasi, malakukan transaksi, melakukan bisnis dan berinvestasi dengan anugrah yang diberikan Allah berupa kemampuan dasar spiritual, akal budi dan insting. Dengan adanya kebebasan berkehendak maka mekanisme pasar dan perekonomian akan terjadi. Namun kebebasan manusia dalam berkreasi ini dihadapkan pada dua konsekuensi pada pilihan-pilihan penggunaannya. Pertama, niat dan konsekuensi baik dan kedua niat dan konsekuensi buruk. Dan manusia diberikan kebebasan untuk memilih antara baik dan buruk konsekuensi yang akan dilakukan. Konsekuensi dan niat baik, tentunya akan menghasilkan manfaat yang berguna dan berdampak baik bagi diri sendiri dan orang lain(masyarakat), demikian juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 85, QS. Al-Mudatstsir ayat 38. Dalam memfungsikan potensi sumber daya yang ada, yang harus diingat oleh pelaku bisnis ialah meraka masih membutuhkan orang lain untuk

melakukannya. Dan masih membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sumber daya lain yang tidak dimiliki. Mengingat manusia adalah mahluk sosial, jadi dalam keinginan mencapai tujuan, pelaku bisnis harus memperhatikan kesejahteraan bersama diantara manusia-manusia dan menjunjung tinggi kejujuran serta keserasian dalam kehidupan seperti yang dianjurkan Al-Quran. Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis islam,tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat.infak dan sedekah. 4) Tanggung Jawab (Responsibility) Manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi sumber daya dan melakukan aktifitas bisnis. Namun kebebasan itu mesti memiliki batas-batas tertentu, dan tidak digunakan sebebas-bebasnya melainkan dibatasi oleh hukum, norma dan etika yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Dan tentunya semua perbuatan dan aktivitas manusia di bumi tidak lepas dari pertanggungjawaban yang akan dimintai kelak di akhirat. Semua yang ada di bumi adalah milik Allah, manusia hanya diamanahi oleh Allah dan bukan pemilik yang hakiki. Manusia diberi amanah untuk mengelola sumber daya yang ada secara benar sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah (Manhaj Al Hayat) yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Tidak kemudian digunakan untuk melakukan kegiatan bisnis terlarang atau yang diharamkan. Gunakanlah untuk melakukan bisnis yang halal, dan caranya pun atau prosesnya juga harus dengan cara-cara yang benar dan adil. Dengan begitu kegiatan bisnis akan menghasilkan manfaat yang optimal bagi semua komponen masyarakat yang secara kontributif ikut mendukung dan terlibat dalam bisnis yang dilakukan.

5) Kebenaran: kebajikan dan kejujuran Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan,mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat,sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan. Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islam sangat menjaga dan berlaku preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang melakukan transaksi ,kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.

BAB 3. KESIMPULAN Dalam etika bisnis syariah terdapat prinsip-prinsip bisnis syariah antara lain : 1. Kesatuan (Tauhid/Unity) adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Dari konsep ini maka islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. 2. Keseimbangan (Equilibrium/Adil) dalam Islam sangat dianjurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan. Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. 3. Kehendak Bebas (Free Will) merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya. Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah. 4. Tanggungjawab (Responsibility). Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. 5. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran. Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.