You are on page 1of 4

OPTIMASI KESTABILAN EMULSI SEBAGAI MEMBRAN CAIR UNTUK EKSTRAKSI FENOL DALAM AIR 1.

Latar belakang atau masalah penelitian Pemisahan senyawa senyawa hidrokarbon biasanya membutuhkan larutan organic dalam jumlah yang tidak sedikit dan cara yang dilakukanpun tidak mudah serta membutuhkan beberapa tahapan proses. Dengan digunakannya pemisahan sistem emulsi (dapat berupa a/m), pemisahan menjadi relative lebih mudah.

2. Pemecahan masalah / tujuan penelitian Mempelajari hubungan antara kestabilan emulsi dengan kemampuannya sebagai membran untuk memisahkan senyawa fenol dalam air.

3.

Metode Penelitian Dilakukan dengan dua proses, yaitu : - Pembuatan emulsi a/m beserta kestabilannya Span 60 dan tween 80 dicampurkan pada suhu 50 C untuk pembuatan pelarut organic (fasa membrane) , didinginkan kemudian dicampurkan dalam campuran paraffin dalam kerosin. Homogenkan. Larutan NaOH didispersikan untuk membuat emulsi a/m (fasa internal) kedalam fasa membrane. Aduk dengan kecepatan tinggi. Ukur kestabilan dengan menggunakan conductivity bridge. - Ekstraksi dengan teknik emulsi membrane cair Dispersikan 30 ml emulsi a/m kedalam 150 ml fasa eksternal (membrane) yang mengandung fenol. Aduk selama 15 menit dengan kecepatan rendah. Diamkan selama waktu tertentu. Jumlah fenol yang terekstraksi ditentukan dengan cara memisahkan larutan eksternal dari emulsi dengan corong pisah. Fenol yang tersisa dari fasa eksternal dapat langsung ditentukan dengan metode 4-aminoantipirin.

4. Kesimpulan Sifat fisik emulsi (Konsentrasi NaOH) sangat mempengaruhi hasil. Penggunaan optimum NaOH yaitu 0,2 M, namun NaOH masih belum terbungkus membrane sehingga persen recovery ekstraksi fenol yang diperoleh yatu 76,20 %. Pada konsentrasi NaOH kurang dari 0,2 M, kecepatan difusi fenol menembus membran akan rendah. Pada konsentrasi NaOH lebih dari 0,2 M, membrane menipis dan hantaran emulsi meninggi sehingga keluarnya fasa internal dari membran. Kestabilan emulsi juga dipengaruhi viskositas membrane. Sistem kestabilan

emulsi a/m akan meningkat dengan meningkatnya viskositas membran karean membrane menguat dan interaksi antar fasa internal emulsi berkurang.

5. Catatan Penting Kestabilan emulsi a/m dipengaruhi oleh : - Konsentrasi fasa internal - nilai HLB - Konsentrasi surfaktan - Perbandingan volume fasa internal dan fasa organic - waktu pengadukan - Kecepatan pembentukan emulsi

Emulsion stability of cosmetic creams based on water-in-oil high internal phase emulsions
1. Latar belakang
Keberadaan emulsi yang mengandung fase internal yang tinggi (High Internal Phase Emulsion (HIPE)) lebih dari 9 telah lama diketahui. Mengetahui faktor faktor formasi dan stabilitas HIPE merupakan suatu studi kuno. Literatur terbaru menyatakan dengan jelas bahwa bahan bahan suka-jel dari emulsi a/m dapat berkembang lanjut menjadi fasa minyak, hanya pada suhu sekitaran HLB (Kesetimbangan hidrofil dan lipofil). Penetrasi molekul minyak kedalam surfaktan dapat mempengaruhi stabilitas jel. Elektrolit dapat menyebabkan pelemahan cloud poin surfaktan dalam pelarut air yang juga berhubungan dengan stabilitas pada emulsi a/m pada system HIPE. Penambahan jumlah fasa air melawan fase minyak juga merupakan suatu perhatian khusus. Perbandingan antara keduanya menghasilkan konsistensi emulsi yang tergantung pada emulsifier. Efek dari konsentrasi elektrolit dan kepolaran minyak pada bahan bahan yang viskoelastis pada bahan kosmetik krim diuji pada berbagai volume fraksi air. Dengan menaikkan volume air akan dapat mengubah komplek dari emulsi dan dapat memberikan perubahan konsistensi emulsi a/m system HIPE. 2. Pemecahan masalah / tujuan penelitian Mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi elektrolit dan pengaruh penambahan volume pada fasa air pada emulsi a/m system HIPE 3. Metode Penelitian Bahan bahan yang digunakan: Cetyl dimethycone copolyol (emulsifier) , squalene, cyclomethycone, dan octyl dodecanol, glyserin, MgSO4 atau NaCl (sebagai elektrolit) . Formulasi emulsi ditentukan terlebih dahulu. Rasio volume fasa air dijaga pada 0,81. Konsentrasi dari MgSO4 dan eutanol G diuji dengan menentukan tampilan emulsi terlebih dahulu. Fase air dan fase minyak dipanaskan hingga 80 C hingga tercampur sempurna secara homogen, aduk fase minyak , secara perlahan masukkan fase air kedalam fase minyak agar menghasilkan suatu emulsi yang seragam. Emulsifikasi diproses menggunakan homomixer pada 3500 rpm selama 10 menit. Kekerasan krim dijaga pada ruangan 25C menggunakan fudoh rheometer untuk mengetahui konsistensi secara rheology , setelah penyimpanan selama 2 bulan. 4. Kesimpulan

Konsistensi dari kestabilan suatu emulsi tergantung dari konsentrasi elektolit. Penambahan magnesium sulfat pada fasa air menambahkan sifat kekerasan dari suatu krim emulsi. Hasil dari konsistensi secara rheology tergantung pada waktu,dan juga kepolaran minyak .