You are on page 1of 14

MAKALAH HUKUM PAJAK Peran dan Upaya Pemerintah terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Oleh Nama : Ayu Retno Kusuma Astuti NIM Kelas : 11010111120056 :J

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Peran dan Upaya Pemerintah terhadap Kepatuhan Wajib Pajak tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memberikan informasi tentang kepatuhan wajib pajak dan juga untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Pajka. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 30 Desember 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan, pemerintah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut dikumpulkan dari segenap potensi sumber daya yang dimiliki suatu negara, baik berupa hasil kekayaan alam maupun iuran dari masyarakat. Salah satu bentuk iuran yang diperoleh dari masyarakat tersebut adalah pajak. Menurut Undang-undang No. 28 Tahun 2007, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UndangUndang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebagai salah satu unsur penerimaan negara, pajak memiliki peran yang sangat besar dan semakin diandalkan untuk kepentingan pembangunan dan pengeluaran pemerintahan. Kontribusi penerimaan pajak terhadap penerimaan negara diharapkan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun fiskal 1984 pemerintah memberlakukan reformasi perpajakan dengan menerapkan sistem self assessment dalam pemungutan pajak. Sistem self assessment memberikan kepercayaan penuh kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan seluruh pajak yang menjadi kewajibannya. Sistem self assessment ini menuntut adanya peran serta aktif dari masyarakat dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya. Kesadaran dan kepatuhan yang tinggi dari Wajib Pajak merupakan faktor terpenting dari pelaksanaan sistem tersebut. Dianutnya sistem self assessment membawa misi dan

konsekuensi perubahan sikap (kesadaran) warga masyarakat untuk membayar pajak secara sukarela (voluntary compliance). Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela merupakan tulang punggung sistem self assessment. Wajib pajak bertanggung jawab

menetapkan sendiri kewajiban perpajakan dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar dan melaporkan pajak tersebut. Peranan pemerintah tentu diperlukan untuk menciptakan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya sebagai wajib pajak. Pemerintah harus melakukan upaya-upaya tertentu untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak sebagai suatu langkah untuk

mengoptimalkan penerimaan pajak. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan penulis di atas, penulis tertarik untuk mengangkat judul makalah mengenai Peranan Pemerintah terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan kepatuhan wajib pajak? 2. Faktor-faktor apa sajakah yang memengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak? 3. Bagaimanakah peran dan upaya pemerintah terhadap kepatuhan wajib pajak?

BAB II ISI
A. Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut Simon James et al yang dikutip oleh Gunadi (2005) dalam (Wahyu Santoso,2008), pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) adalah wajib pajak mempunyai kesediaan untuk

memenuhi kewajiban pajaknya sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi seksama, peringatan, atau pun ancaman dan penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi. Ismawan (2001:82) mengemukakan prinsip administrasi pajak yang diterima secara luas menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah kepatuhan sukarela. Kepatuhan sukarela merupakan tulang punggung sistem self assessment di mana wajib pajak bertanggung jawab menetapkan sendiri kewajiban pajaknya dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar dan melaporkan pajak tersebut. Kepatuhan perpajakan yang dikemukakan oleh Norman D. Nowak sebagai suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan tercermin dalam situasi (Devano, 2006:110) sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas. Menghitung jumlah pajak yang rutang dengan benar. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.

Dengan adanya reformasi perpajakan yang pertama kali terjadi pada tahun 1984 ciri dan corak sistem pemungutan pajak yang berlaku adalah sistem self assessment, yang berarti bahwa Wajib Pajak diwajibkan menghitung, memperhitungkan dan membayar sendiri jumlah pajak yang seharusnya terhutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, sehingga penentuan besarnya pajak yang terhutang berada pada Wajib Pajak sendiri. Selain dari pada itu Wajib Pajak diwajibkan pula melaporkan secara teratur jumlah pajak yang terhutang dan yang telah dibayar sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kepatuhan sebagai pondasi self assessment dapat dicapai apabila elemen- elemen kunci telah diterapkan secara efektif. Elemen- elemen kunci (Ismawan, 2001:83) tersebut adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Program pelayanan yang baik kepada wajib pajak. Prosedur yang sederhana dan memudahkan wajib pajak. Program pemantauan kepatuhan dan verifikasi yang efektif. Pemantapan law enforcement secara tegas dan adil. Ada dua macam kepatuhan, yaitu kepatuhan formal dan kepatuhan material. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam undang- undang perpajakan. Kepatuhan material adalah suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa undang-undang perpajakan. Kepatuhan material dapat juga meliputi kepatuhan formal. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 544/KMK.04/2000, wajib pajak dimasukkan dalam kategori wajib pajak patuh apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Tepat waktu dalam menyampaikan surat pemberitahuan untuk semua jenis pajak dalam dua tahun terakhir. 2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. 3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu sepuluh tahun terakhir. 4. Dalam dua tahun pajak terakhir menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 UU KUP dan dalam hal terhadap wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang terakhir untuk tiap-tiap jenis pajak yang terutang paling banyak 5%. 5. Wajib pajak yang laporan keuangannya untuk dua tahun terakhir diaudit oleh akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiskal. Laporan auditnya harus disusun dalam bentuk panjang (long form report) yang menyajikan rekonsiliasi laba rugi komersial dan fiskal. Dalam hal wajib pajak yang laporan keuangannya tidak diadit oleh akuntan publik dipersyaratkan untuk memenuhi ketentuan pada huruf a, b, c, dan d di atas.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak


Salah satu ciri negara maju adalah tingginya kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan Negara terbesar yang nantinya digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Berbagai pendekatan dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kepedulian sukarela Wajib pajak. Menurut Darussalam (pengamat pajak), saat ini jumlah pekerja aktif mencapai hingga 110 juta jiwa, sementara yang memasukkan surat pemberitahuan (SPT) hanya 8,5 juta atau 7,73 persen saja. Dari sisi badan usaha juga seperti itu, jumlah badan usaha saat ini mencapai 12,9 juta jiwa, sementara yang memasukkan SPT hanya 466 ribu atau 3,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak masih rendah." (Sumber : Artikel online Koran Tempo, 1Agustus 2012). Wajib pajak di Indonesia masih rendah dalam hal kesadaran membayar pajak rendah karena disebabkan berbagai faktor. Tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: besarnya penghasilan, tarif pajak, persepsi wajib pajak atas penggunaan uang pajak, perlakuan perpajakan, pelaksanaan penegakan hukum, berat (ringan) sanksi perpajakan, dan kelengkapan dan keakuratan database (AIm, Bahl, Murray. 1990; AIm, Jackson, McKee. 1992; Witte dan Woodbury (1985), Dubin dan Wilde (1988), Andreoni et al. 1998; Alm.1991) Indikasi tingginya tingkat kesadaran dan kepedulian Wajib Pajak antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Realisasi penerimaan pajak terpenuhi sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Tingginya tingkat kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dan SPT Masa. Tingginya Tax Ratio Semakin Bertambahnya jumlah Wajib Pajak baru. Rendahnya jumlah tunggakan / tagihan wajib pajak. Tertib, patuh dan disiplin membayar pajak atau minimnya jumlah pelanggaran pemenuhan kewajiban perpajakan. Dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaran dan kepedulian sukarela Wajib Pajak harus ditinjau terlebih dahulu ruang lingkup pembahasannya. Karena jika dibandingkan antara Wajib Pajak PPh, PPN dan PBB sangat berbeda karakter masyarakat Wajib Pajaknya. Hal ini juga dipengaruhi sistemnya dimana PBB dalam penghitungannya masih menganut sistem office assesment sedangkan yang non PBB sudah menganut self assesment. 1. Pemahaman terhadap Self Assessment System Sistem self assessment yang diterapkan dalam perpajak di Indonesia memeberikan

kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang wajib pajak. Sistem ini akan efektif apabila wajib pajak memiliki kesadaran pajak, kejujuran, dan kedisiplinan dalam menjalankan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Hasil penelitian Chusnul Chotimah, 2007 yang dilakukan terhadap wajib pajak orang pribadi menunjukkan bahwa pemahaman terhadap system self assessment berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi dalam pemahaman wajib pajak terhadap self assessment system akan semakin meningkat pula kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan sehingga akan meningkat pula penerimaan pajak. 2. Kualitas Pelayanan Untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan. Pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan caracara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar tercipta kepuasan dan keberhasilan (Boediono, 2003: 60). Hakikat pelayanan umum adalah sebagai berikut : o Meningkatkan mutu dan produktivitas pelaksanaan tugas dan instansi pemerintah di bidang pelayanan umum. o Mendorong upaya mengefektifkan sistem dan tata laksana pelayanan sehingga pelayanan umum dapat diselenggarakan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna (efisien dan efektif). o Mendorong tumbuhnya kreativitas, prakarsa, dan peran serta masyarakat dalam pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. o Pelayanan yang berkualitas harus dapat memberikan 4K, yaitu keamanan, kenyamanan, kelancaran, dan kepastian hukum. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan kemampuan memberikan pelayanan yang memuaskan, dapat memberikan pelayanan dengan tanggapan, kemampuan, kesopanan, dan sikap dapat dipercaya yang dimiliki oleh aparat pajak. Di samping itu, juga kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, memahami kebutuhan wajib pajak, tersedianya fasilitas fisik termasuk sarana komunikasi yang memadai, dan pegawai yang cakap dalam tugasnya. (Ni Luh, 2006) Hasil Penelitian Chusnul Chotimah, 2007 membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan pelayanan informasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.

3. Tingkat Penghasilan Penghasilan wajib pajak sebagai objek pajak dalam pajak penghasilan sangat terkai dengan besarnya pajak terutang. Di samping itu, tingkat penghasilan juga akan memengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak tepat pada waktunya. Kemampuan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajak terkait erat dengan besarnya penghasilan, maka salah satu hal yang dipertimbangkan dalam pemungutan pajak adalah tingkat penghasilan. Hasil penelitian Chusnul CHotimah, 2007 menemukan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan tingkat penghasilan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. 4. Persepsi Wajib Pajak Terhadap Sanksi Perpajakan Sanksi perpajakan diberikan kepada wajib pajak agar wajib pajak mempunyai kesadaran dan patuh terhadap kewajiban pajak. Snaksi perpajakan dalam Undang-Undang perpajakan berupa sanksi administrasi (dapat berupa denda dan bunga) dan sanksi pidana. Adanya sanksi perpajakan diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian Chusnul Chotimah, 2007 menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh kesadaran terhadap sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan pajak penghasilan. Hasil penelitian Sulu Kahono, 2003 membuktikan bahwa sikap wajib pajak tentang sanksi denda PBB berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Faktor yang dapat menurunkan tingkat kesadaran dan kepedulian sukarela wajib pajak antara lain: 1. Prasangka negatif kepada aparat perpajakan harus digantikan dengan prasangka positif. Sebab, prasangka negatif ini akan menyebabkan para wajib pajak bersikap defensif dan tertutup. Mereka akan cenderung menahan informasi dan tidak kooperatif. Mereka akan berusaha memperkecil nilai pajak yang dikenakan pada mereka dengan memberikan informasi sesedikit mungkin. Perlu usaha keras dari lembaga perpajakan dan media massa untuk membantu menghilangkan prasangka negatif tersebut. 2. Hambatan atau kurangnya intensitas kerjasama dengan Instansi lain (pihak ketiga) guna mendapatkan data mengenai potensi Wajib Pajak baru, terutama dengan instansi daerah atau bukan instansi vertikal.

3.

Bagi Calon Wajib Pajak, Sistem Self Assessment dianggap menguntungkan, sehingga sebagian besar mereka enggan untuk mendaftarkan dirinya bahkan menghindar dari kewajiban ber-NPWP. Data-data tentang dirinya selalu diupayakan untuk ditutupi sehingga tidak tersentuh oleh DJP.

4.

Masih sedikitnya informasi yang semestinya disebarkan dan dapat diterima masyarakat mengenai peranan pajak sebagai sumber penerimaan negara dan segi-segi positif lainnya.

5.

Adanya anggapan masyarakat bahwa timbal balik (kontra prestasi) pajak tidak bisa dinikmati secara langsung, bahkan wujud pembangunan sarana prasana belum merata, meluas, apalagi menyentuh pelosok tanah air.

6.

Adanya anggapan masyarakat bahwa tidak ada keterbukaan pemerintah terhadap penggunaan uang pajak.

C. Peran dan Upaya Pemerintah terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


Sejak tahun 1984 pemerintah memberlakukan reformasi perpajakan dengan menerapkan sistem self assessment dalam pemungutan pajak. Sistem self assessment memberikan

kepercayaan penuh kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan seluruh pajak yang menjadi kewajibannya. Dengan kata lain, wajib pajak menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Sistem self assessment menuntut adanya

peran serta aktif dari masyarakat dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya. (Wirawan, 2010:30) Masalah kepatuhan pajak merupakan masalah klasik yang dihadapi di hampir semua negara yang menerapkan sistem perpajakan. Berbagai penelitian telah dilakukan dan kesimpulannya adalah masalah kepatuhan dapat dilihat dari segi keuangan publik (public finance), penegakan hukum (law enforcement), struktur organisasi (organizational structure), tenaga

kerja (employees), etika (code of conduct), atau gabungan dari semua segi tersebut (Andreoni et al. 1998). Dari segi keuangan publik, jika pemerintah dapat menunjukkan kepada publik bahwa pengelolaan pajak dilakukan dengan benar dan sesuai dengan keinginan wajib pajak, maka wajib pajak cenderung untuk mematuhi aturan perpajakan. Namun sebaliknya bila pemerintah tidak dapat menunjukkan penggunaan pajak secara transparan dan akuntabilitas, maka wajib pajak tidak mau membayar pajak dengan benar. Dari segi penegakan hukum, pemerintah harus menerapkan hukum dengan adil kepada semua orang. Apabila ada wajib pajak tidak membayar

pajak, siapapun dia (termasuk para pejabat publik ataupun keluarganya) akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan. Dari segi struktur organisasi, tenaga kerja, dan etika, ditekankan pada masalah internal di lingkungan kantor pajak. Apabila struktur organisasinya memungkinkan kantor pajak untuk melayani wajib pajak dengan profesional, maka wajib pajak akan cenderung mematuhi berbagai aturan. Kesadaran dan kepatuhan yang tinggi dari Wajib Pajak merupakan faktor terpenting dari pelaksanaan sistem tersebut. Kepatuhan sukarela dalam membayar pajak perlu diwujudkan antara lain dengan melakukan proses pemungutan pajak yang mudah, penggunaan atau alokasi penerimaan pajak yang transparan, sehingga diperlukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai UU dan peraturan yang terkait, kinerja aparat pajak, agar timbul kepercayaan dari Wajib Pajak. Pemerintah masih terus berupaya untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan baik dari penyampaian SPT, ketepatan pembayaran pajak, dan perhitungan atau pelaporan yang seharusnya, agar penerimaan Negara dari sektor pajak meningkat. Upaya untuk terus menerus mengawasi potensi perpajakan tersebut di antaranya adalah dengan melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan. Intensifikasi pajak merupakan kegiatan optimalisasi penggalian penerimaan pajak terhadap objek serta subjek pajak yang telah tercatat atau terdaftar dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dan dari hasil pelaksanaan ekstensifikasi pajak. Ekstensifikasi pajak adalah kegiatan yang berkaitan dengan penambahan jumlah wajib pajak terdaftar dan perluasan objek pajak dalam administrasi DJP.Tindakan ekstensifikasi ini adalah merupakan pencarian data dan atau pengecekan data terhadap Wajib Pajak yang telah mempunyai penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) akan tetapi mereka itu belum mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak, yaitu dengan melakukan penyisiran (Canvassing), dan pengolahan data dari pihak ketiga atau sumber data lainnya, yang kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian pemberitahuan atau himbauan untuk menjadi Wajib Pajak. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk terus meningkatkan kepatuhan wajib pajak baik denan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi antara lain : 1. 2. Menerbitkan dan mengirimkan surat teguran, imbauan, surat tagihan pajak. Memberikan sosialisasi perpajakan yang menyangkut pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan.

3.

Menyampaikan ucapan terima kasih kepada wajib pajak yang mengirimkan SPT Tahunan tepat waktu.

4.

Menjadikan masyarakat sadar pajak dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Dalam rangka menjaga kesinambungan penerimaan pajak sebagai penerimaan Negara

terbesar, Direktorat Jenderal Pajak juga telah merumuskan dan melaksanakan kebijakan strategis (initiative measures) dengan melakukan penyempurnaan seperangkat kebijakan peraturan perpajakan dan administrasi perpajakan (tax policy and administrative reforms). modernisasi administrasi perpajakan dengan mendirikan Kantor Pelayanan Pajak

Madya (medium taxpayer office) pada setiap kantor wilayah dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama(small taxpayer office). Dalam jangka panjang, perlu dikaji penerapan common identity berupa Single Identity Number (SIN) dalam sistem administrasi kependudukan dan pencatatan non cash payment. Dengan menggunakan SIN, maka penomoran KTP, SIM, NPWP, paspor, pembukaan rekening bank, akan menggunakan nomor yang sama. Dari nomor yang identik, maka seluruh transaksi keuangan akan dapat diketahui pemilik sebenarnya. Proyek e-KTP Kemendagri dan INAFIS Polri yang ada saat ini bisa menjadi awal penerapan konsep SIN. Pada hakikatnya, pengenaan sanksi perpajakan diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Penerapan sanksi perpajakan dapat berupa sanksi administrasi (denda, bunga dan kenaikan) dan sanksi pidana (kurungan atau penjara) mendorong kepatuhan wajib pajak. Namun penerapan sanksi harus konsisten dan berlaku terhadap semua wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakan.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Kesinambungan penerimaan negara dari sektor pajak diperlukan karena penerimaan pajak merupakan sumber utama penerimaan APBN. Untuk menjamin hal tersebut, kepatuhan wajib pajak merupakan salah satu kunci keberhasilan pemerintah dalam menghimpun penerimaan pajak. Berdasarkan pembahasan di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak yaitu pemahaman terhadap self assessment system, besarnya penghasilan, persepsi Wajib Pajak terhadap sanksi perpajakan dan penggunaan uang pajak secara transparan dan akuntabilitas, serta kualitas pelayanan. Kepatuhan wajib pajak berpengaruh besar terhadap penerimaan negara dari sektor pajak. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak, pemerintah telah melakukan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. Pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak, mulai dari sosialisasi, pendekatan persuasive, pelayanan yang lebih baik, penegakan hukum, dsb.

DAFTAR PUSTAKA

Buku : Boediono B. 2003. Pelayanan Prima Perpajakan. Jakarta : PT Rineka Cipta. Devano Sony, Siti Kurnia Rahayu. 2006. Perpajakan: Konsep, Teori, dan Isu. Jakarta : Prenada Media Group. Harahap Abdul Asri. 2004. Paradigma Baru Perpajakan Indonesia Perspektif Ekonomi-Politik. Jakarta: Dinamika Press. Ilyas, B. Wirawan. 2010. Hukum Pajak. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Ismawan Indra. 2001. Memahami Reformasi Perpajakan 2000. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. Mardiasmo. 2002. Perpajakan. Edisi Revisi Tahun 2002. Yogyakarta: Penerbit Andi. Surat Edaran Nomor SE-06/PJ.9/2001, tanggal 1 Juli 2001, Tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Wa jib Pajak Dan Intensifikasi Pajak Jurnal : Aim, James, Bahl, Roy; Murray, Matthew N., 1990, Tax Structure and Tax Compliance, The Review of Economics and Statistics, Vol. 72, NO.4. (Nov., 1990), pp.603-613 Aim, J., B. R. Jackson dan M. McKee, 1992, Estimating the Determinants of Taxpayer Compliance with Experimental Data, National Tax Journal, 45 (March), 107-114 Andreoni, James; Erard, Brian; dan Feinstein, Jonathan, 1998, Tax Compliance, Journal of Economic Literature, Vol. 36, NO.2., pp. 818-860. Artikel Majalah Gunadi, Peningkatan Tax ratio Dalam RAPBN 2000, Dalam Majalah Berita Pajak NO.1415/Tahun XXXII/15 Maret 2000, hal. 40 Internet http://anaaimestarlight.blogspot.com/2012/05/meningkatkan-kepatuhan-wajib-pajak.html http://www.tempo.co/read/news/2012/08/01/087420735/Pemerintah-Diminta-TingkatkanKepatuhan-Wajib-Pajak http://www.pajak.go.id/node/4673?lang=en