You are on page 1of 24

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH STATUS PASIEN KASUS I Nama Mahasiswa NIM : Imyadelna

Ibma : 030.07.113 Pembimbing : Dr. Tjahaja Bangun, Sp.A Tanda tangan:

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : An. H : 1 tahun 7 bulan Jenis Kelamin : Laki-laki Suku Bangsa : Jawa Agama : Islam

Tempat / tanggal lahir : Jakarta, 27 Juni 2011 Alamat Pendidikan Orang tua / Wali Ayah : Nama Umur Alamat Pekerjaan Penghasilan : Tn. A : 32 th : : Karyawan : Rp 2.000.000 / bulan Ibu Nama Umur Alamat : :-

: : Ny. S : 28 th : : Ibu Rumah Tangga :-

Pekerjaan Penghasilan

Suku bangsa : Jawa Agama : Islam

Suku bangsa : Jawa Agama : Islam

Hubungan dengan orang tua : pasien merupakan anak kandung I. RIWAYAT PENYAKIT A. ANAMNESIS Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. S (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu Tanggal masuk Keluhan utama Keluhan tambahan : Bangsal lantai V Timur, kamar 511 : 28 Januari 2013 pk. 06.30 : 27 Januari 2013 : Kejang sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit : Demam, muntah, mencret

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG : 2 hari SMRS, pasien mulai demam. Demam muncul tiba-tiba terus menerus sepanjang hari. Demam disertai menggigil. Demam diukur oleh ibu pasien suhunya mencapai 39C. Pasien lalu diberikan obat paracetamol sirup dua sendok teh oleh ibu pasien namun demamnya tidak turun. Pasien juga BAB cair sebanyak 3x berwarna kuning kecoklatan, ada lendir, tidak ada darah, berbau asam, sedikit-sedikit. Pasien juga ada muntah sebanyak 2x berisi susu, tidak menyemprot. 30 menit SMRS, pasien tiba-tiba kejang. Kejang terjadi selama 1 menit, kejang terjadi kelojotan di seluruh tubuh, mata mendelik keatas. Setelah kejang pasien menangis dan kembali bergerak aktif. Pasien lalu segera dibawa ke IGD RS Budhi Asih oleh orang tua pasien. Pasien masih demam namun suhunya tidak diukur oleh ibu pasien. Pasien sudah tidak mencret dan muntah Saat berada di IGD Budhi Asih pasien kembali kejang untuk yang kedua kalinya. Kejang terjadi selama 1 menit, kejang terjadi kelojotan diseluruh tubuh, mata mendelik keatas. Setelah kejang pasien langsung menangis. Kejang ini merupakan kejang yang pertama kali dialami pasien. Pasien belum pernah kejang sebelumnya. Pasien tidak ada batuk, pilek, keluar cairan dari telinga, nyeri berkemih. Pasien juga tidak pernah mengalami trauma di kepala. B. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA Penyakit Alergi Cacingan DBD Otitis Parotitis Umur (-) (-) (-) (-) (-) Penyakit Difteria Diare Kejang Morbili Operasi Umur (-) (-) (-) (-) (-) Penyakit penyakit jantung Penyakit ginjal Radang paru TBC Lain-lain Umur (-) (-) (-) (-) (-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita : pasien belum pernah menderita keluhan seperti sekarang maupun mengidap penyakit lain.

C. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN Morbiditas kehamilan KEHAMILAN Perawatan antenatal Sehat Rutin kontrol ke klinik bidan 2 minggu sekali dan sudah mendapat imunisasi vaksin TT 2 kali Tempat persalinan Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi KELAHIRAN Rumah Sakit Dokter Kandungan SC Penyulit : Cukup bulan Berat lahir : 3100 gram Panjang lahir : 48 cm Lingkar kepala : (tidak tahu) Keadaan bayi Langsung menangis (+) Kemerahan (+) Nilai APGAR : (tidak tahu) Kelainan bawaan : tidak ada Kesimpulan riwayat kehamilan / kelahiran D. RIWAYAT PERKEMBANGAN Pertumbuhan gigi I : Umur 7 bulan (Normal: 5-9 bulan) : Baik

Gangguan perkembangan mental : Tidak ada Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara Perkembangan pubertas Rambut pubis Payudara Menarche : belum : belum : belum
3

: Umur 4 bulan : Umur 9 bulan : Umur 11 bulan : Umur 13 bulan : Umur 12 bulan

(Normal: 3-4 bulan) (Normal: 6-9 bulan) (Normal: 9-12 bulan) (Normal: 13 bulan) (Normal: 9-12 bulan)

Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan : baik (sesuai usia) E. RIWAYAT MAKANAN

Umur (bulan) 02 24 46 68 8 10 10 -12

ASI/PASI

Buah / Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

ASI ASI PASI PASI PASI PASI

+ + +

+ +

Umur diatas 1 tahun Jenis Makanan Nasi / pengganti Sayur Daging Telur Ikan Tahu Tempe Susu (merk / takaran) Lain lain Frekuensi dan Jumlah 3 x / hari (nasi, bubur) setiap hari (bayam, wortel) Jarang Telur ayam, 2 x / hari 3 x / minggu 2 x / hari 2 x / hari SGM -

Kesulitan makan : menurut pengakuan ibu, tidak sulit makan Kesimpulan riwayat makanan : pasien tidak sulit, asupan cukup baik

F. RIWAYAT IMUNISASI Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis Dasar ( umur ) 1 bulan 2 bulan 0 bulan 0 bulan 4 bulan 2 bulan 1 bulan 6 bulan 4 bulan 9bulan 6 bulan Ulangan ( umur )

Kesimpulan riwayat imunisasi : imunisasi dasar sesuai jadwal dan lengkap, imunisasi ulangan belum dilakukan G. RIWAYAT KELUARGA a. Corak Reproduksi No 1. 2. 3. Tanggal lahir (umur) 5 tahun 3 tahun 1 tahun 7 bulan Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Laki-laki Hidup + + + Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Sehat Pasien

b. Riwayat Pernikahan Ayah / Wali Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Kosanguinitas Tn. A 1 26 tahun SMA Islam Jawa Sehat Ibu / Wali Ny. S 1 22 tahun SMA Islam Jawa Sehat -

Penyakit, bila ada

c. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita peyakit kejang. Ibu dan ayah tidak menderita penyakit hipertensi, dan pembengkakan jantung, kencing manis. Kesimpulan Riwayat Keluarga : pasien anak ketiga dari 3 bersaudara . anggota keluarga yang mengalami keluhan sama dengan OS. Tidak ada

H. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Pasien tinggal bersama ayah, ibu, kakak dan adik di sebuah rumah tinggal di perumahan dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, beratap genteng, berlantai keramik, berdinding tembok. Keadaan rumah cukup luas, pencahayaan baik, ventilasi baik. Sumber air bersih dari air PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik. Kesimpulan Keadaan Lingkungan : Cukup baik

I.

RIWAYAT SOSIAL DAN EKONOMI Ayah pasien bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan Rp.2.000.000,- /bulan.

Sedangkan ibu pasien tidak bekerja. Menurut ibu pasien penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Sehari-hari pasien lebih sering diasuh oleh ibunya. Kesimpulan sosial ekonomi: Cukup baik II. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 28 Januari 2012 jam 06.30 WIB) A. Status Generalis Keadaan Umum Kesan Sakit Kesadaran Kesan Gizi Keadaan lain Data Antropometri Berat Badan sekarang : 11 kg Berat Badan sebelum sakit : tidak tahu Tinggi Badan : 77cm Lingkar Kepala : 40 cm Lingkar Lengan Atas : 14 cm : tampak sakit sedang : Comos Mentis : baik : anemis (-), ikterik (-), sianosis (-), dyspnoe (-)

Status Gizi BB / U = 11 / 11,8 x 100 % = 93,22 % (Gizi Baik) TB / U = 77 / 83 x 100 % = 92,77 % (Tinggi normal) BB / TB = 11 / 10,4 x 100 % = 105,7 % (Gizi Normal) Kehilangan BB = tidak diketahui

Tanda Vital Nadi : 70 x / menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular

Tekanan Darah : tidak dapat diukur Nafas Suhu : 16 x / menit, tipe abdomino-torakal, inspirasi : ekspirasi = 1 : 2 : 37,3O C, axilla (diukur dengan termometer air raksa)

KEPALA RAMBUT WAJAH MATA Visus

: Normocephali, ubun-ubun besar cekung (-) : Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabut, cukup tebal : wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka atau jaringan parut : : tidak dinilai : -/Ptosis : -/-

Sklera ikterik

Lagofthalmus : -/Cekung : -/-

Konjunctiva anemis : -/Exophthalmus Strabismus Nistagmus Refleks cahaya TELINGA : Bentuk Nyeri tarik aurikula Liang telinga Serumen Cairan HIDUNG : Bentuk Sekret Mukosa hiperemis : simetris : -/: -/: normotia : -/: lapang : -/: -/: -/: -/: -/-

Kornea jernih : +/+ Lensa jernih Pupil : +/+ : bulat, isokor

: langsung +/+ , tidak langsung +/+

Tuli Nyeri tekan tragus Membran timpani Refleks cahaya

: -/: -/: sulit dinilai : sulit dinilai

Napas cuping hidung Deviasi septum

::-

BIBIR : Simetris saat diam, mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-)

MULUT : Oral higiene baik, gigi : tumbuh 2 insisor sentral lateral atas dan bawah (8), caries (-), trismus (-), mukosa gusi dan pipi : merah muda, hiperemis (-), ulkus (-), halitosis (-), lidah : normoglosia, ulkus (-), hiperemis (-) massa (-) TENGGOROKAN : tonsil T1-T1 tidak hiperemis, kripta tidak melebar, detritus (-), faring tidak hiperemis, ulkus (-) massa (-) LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid maupun KGB, tidak tampak deviasi trakea, tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, kaku kuduk (-), Brudzinski 1 (-), trakea teraba di tengah THORAKS : Inspeksi : Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada pernafasan yang tertinggal, pernafasan abdomino-torakal, pada sela iga tidak terlihat adanya retraksi, pembesaran KGB aksila -/- , tidak ditemukan efloresensi pada kulit dinding dada, ictus cordis terlihat pada ICS V linea midclavicularis kiri, pulsasi abnormal (-) Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan dan benjolan, gerak napas simetris kanan dan kiri, vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri, teraba ictus cordis pada ICS V linea midclavicularis kiri, denyut kuat Perkusi : sonor di kedua lapang paru, jantung dalam batas normal Auskultasi : suara napas vesikuler, reguler, ronchi -/-, wheezing -/-, bunyi jantung I-II reguler, punctum maksimum pada ICS V 1 cm linea midclavicularis kiri, murmur (-), gallop (-) ABDOMEN : Inspeksi : perut rata, tidak dijumpai adanya efloresensi pada kulit perut maupun benjolan, kulit keriput (-) gerakan peristaltik (-) Palpasi : dinding abdomen kenyal dan tidak teraba adanya massa maupun pembesaran organ, nyeri tekan (-), turgor kulit baik Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut, nyeri ketok abdomen (-), nyeri ketok CVA -/Auskultasi : bising usus (+), frekuensi 3 x / menit

ANOGENITALIA : jenis kelamin laki-laki, tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-), fissura ani (-), diaper rash (-). KGB : Preaurikuler Postaurikuler : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar
8

Submandibula Supraclavicula Axilla Inguinal ANGGOTA GERAK : Ekstremitas Tangan Tonus otot Sendi Refleks fisiologis Refleks patologis Lain-lain

: tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar

: akral hangat ++/++ Kanan normotonus aktif (+) (-) oedem (-) Kiri normotonus aktif (+) (-) oedem (-)

Kaki Tonus otot Sendi Refleks fisiologis Refleks patologis Laseq Kerniq Brudzinski 2 Lain-lain

Kanan normotonus aktif (+) (-) (-) (-) (-) oedem (-)

Kiri normotonus aktif (+) (-) (-) (-) (-) oedem (-)

KULIT : warna sawo matang merata, anemis (+), tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik, lembab, pengisian kapiler < 2 detik TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-), ruam (-)

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

TANGGAL : 27 Januari 2013


JENIS PEMERIKSAAN HEMATOLOGI RUTIN Leukosit Hb Hematokrit Trombosit KIMIA DARAH Glukosa ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida 134 4,3 101 mEq/L mEq/L mEq/L 135 - 155 3,6 - 5,5 98 109 99 mg/dl 33-111 28,7 8,8 30 545 ribu / l g/dl % ribu / l 6-17 10,8-12,8 35 43 217 497 HASIL SATUAN

IV. RESUME Seorang anak laki-laki, umur 19 bulan, dibawa oleh ibunya ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan utama berupa kejang sejak 30 menit sebelum masuk rumah sakit disertai dengan demam, muntah dan mencret. Pada anamnesis didapatkan 2 hari SMRS, pasien mulai demam yang muncul tiba-tiba terus menerus sepanjang hari dan disertai menggigil. Demam diukur oleh ibu pasien suhunya mencapai 39C. Pasien juga BAB cair sebanyak 3x berwarna kuning kecoklatan, ada lendir, tidak ada darah, berbau asam, sedikit-sedikit. Pasien juga ada muntah sebanyak 2x berisi susu. 30 menit SMRS, pasien kejang yang terjadi selama 1 menit kelojotan di seluruh tubuh, setelah kejang pasien menangis dan bergerak aktif. Pasien masih demam. Saat berada di IGD Budhi Asih pasien kejang untuk yang kedua kalinya. Kejang terjadi selama 1 menit, terjadi kelojotan diseluruh tubuh. Setelah kejang pasien langsung menangis. Pada Pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan umum = tampak sakit sedang, kesadaran Compos Mentis, TV = N : 70 x/mnt, kuat, reguler, RR : 16 x/mnt, S : 37,3C. Pada pemeriksaan penunjang Lab : Leukosit 28,7 rb/ul, Hb : 8,8 g/dl, Hematokrit 30 %, Trombosit : 545 ribu / l, Natrium 134 mEq/L

10

V. DIAGNOSIS BANDING 1. Kejang Demam Kompleks 2. Epilepsi 3. Meningitis

1. Susp anemia defisiensi besi 2. Susp anemia aplastik 3. Susp anemia defisiensi vitamin B 12 VI. DIAGNOSIS BANDING 1. Kejang Demam Kompleks 2. Susp anemia defisiensi besi

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN Hematologi rutin EEG Fe, TIBC SADT

VII. PENATALAKSANAAN Non Medikamentosa 1. Rawat inap 2. Edukasi Setelah diperbolehkan pulang, jika anak kembali kejang, anak diposisikan ditempat yang rata dan aman, masukkan benda lunak ke mulut agar lidah tidak tergigit Anak harus dibawa ke rumah sakit bila kejang berlangsung lama, kejang fokal, kejang berulang, setelah kejang anak menjadi tidak sadar. Orang tua pasien sebaiknya mengetahui suhu berapa anaknya kejang demam

Medikamentosa IVFD Kaen-1B 3cc/kgbb/jam Injeksi ampicilin 4 x 250 mg Paracetamol 4 x 125 mg Diazepam 1 mg (bila suhu > 39C) Feriz Syrup 3 x 7,5 cc
11

VIII. PROGNOSIS Ad Vitam Ad Sanationam Ad Fungtionam : bonam : bonam : bonam

FOLLOW UP Tgl 28/01/13 Perawatan hari 1 S Demam (+) Kejang (-) O A P IVFD Kaen-1B

KU : Tampak sakit Kejang demam sedang kompleks Anemia

3cc/kgbb/jam Injeksi ampicilin 4 x 250 mg Paracetamol 4 x 125 mg Diazepam 1 mg (bila suhu > 39C) Periksa Fe, TIBC, Darah SADT lengkap,

Mencret 2x (+) KS : CM cairan> ampas, TV : N =70x/mnt, R warna kuning, = lendir darah (-), Muntah (-) 16x/mnt,
0

(+), 37,3 C Kepala : normosefali Mata : CA -/-, SI -/THT : dbn, sekret (-) Leher : KGB ttm Tho : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-, BJ I-II reguler, m (-), g (-) Abd : BU (+)

3x/menit Ext : akral hangat ++/++ 29/01/201 3 Perawatan hari 2 Demam (+) Kejang (-) Mencret (-) KU : Tampak sakit sedang KS : compos mentis TV : N =1510x/mnt, R = 22x/mnt, S = 37,4 C Kepala : normosefali Mata : CA -/-, SI -/0

Kejang demam kompleks Anemia

IVFD

Kaen-1B

3cc/kgbb/jam Injeksi ampicilin 4 x 250 mg Paracetamol 4 x 125 mg Diazepam 1 mg (bila suhu > 39C)

12

THT : dbn, sekret (-) Leher : KGB ttm Tho : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-, BJ I-II reguler, m (-), g (-) Abd: supel, BU + 3x/menit Ext : akral hangat Laboratorium : L : 20,7 ribu / l Eritrosit :5,3 juta / l Hb : 8,3 g/dl Ht : 28 % T : 558 ribu / l LED : 30 mm/jam Hitung Jenis : 1/0/0/52/36/10 30/01/13 Perawatan hari 3 Demam (-) Kejang (-) Mencret (-) Muntah (-) KU : Tampak sakit Kejang demam ringan KS : CM =20x/mnt, S= 36,80C Kepala : normosefali Mata : CA -/-, SI -/THT : dbn, sekret (-) Leher : KGB ttm Tho : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-, BJ I-II reguler, m (-), g (-) Abd : BU (+) 2x/ menit Ext : akral hangat ++/++ kompleks Anemia Injeksi ampicilin 4 x 250 mg Paracetamol 4 x 125 mg Diazepam 1 mg (bila suhu > 39C) Feriz Syrup 3 x 7,5 cc

TV : N =108/mnt, R defisiensi besi

13

SADT : Anemia mikrositis hipokrom Leukositosis ringan Laboratorium : Fe : 15 l/dL TIBC : 423 l/dL 31/01/13 Perawatan hari 4 Demam (-) Kejang (-) Muntah (-) Mencret (-) KU : Tampak sakit Kejang demam ringan KS : CM =18x/mnt, S= 370C Kepala : normosefali Mata : CA -/-, SI -/THT : dbn, sekret (-) Leher : KGB ttm Tho : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-, BJ I-II reguler, m (-), g (-) Abd : BU (+) 3x/ menit Ext : akral hangat ++/++ kompleks Anemia Paracetamol 4 x 125 mg Diazepam 1 mg (bila suhu > 39C) Feriz Syrup 3 x 7,5 cc

TV : N =120/mnt, R defisiensi besi

14

TINJAUAN PUSTAKA KEJANG DEMAM KOMPLEKS I. PENDAHULUAN Kejang demam merupakan bentuk kejang yang sering dijumpai dan terjadi pada 2 5% anak. Dalam 25 tahun terakhir ini diketahui bahwa kejang demam sebenarnya tidaklah menakutkan. Kejang demam tidak berhubungan dengan adanya kerusakan otak dan hanya sebagian kecil saja yang akan berkembang menjadi epilepsi.

Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam.

Kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu: 1. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) 2. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)

II.

DEFINISI

Kejang Demam Kompleks adalah kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini: 1. Kejang lama > 15 menit 2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial 3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitam kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.

15

III.

EPIDEMIOLOGI Kejang demam terjadi pada 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa

Barat, sedangkan di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kejang demam seringkali terjadi pada usia 6 bulan-3 tahun dengan insidensi tertinggi pada usia 18 bulan. Sekitar 6-15% terjadi pada usia >4 tahun. IV. ETIOLOGI Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi saluran kemih. V. FAKTOR RESIKO Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi. Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah adanya gangguan perkembangan neurologis, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi dalam keluarga dan lamanya demam.

VI.

PATOFISIOLOGI Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu

energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sitem kardiovaskuler. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.

16

Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya: 1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. 2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. 3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 380C sedangkan pada anak denagn ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
17

biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejangt lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan antomis di otak hingga terjadi epilepsi.

VII.

MANIFESTASI KLINIS

Serangan kejang demam berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral dan dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.

VIII. DIAGNOSIS 1. Anamnesis Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat. Riwayat perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga.

18

2. Pemeriksaan fisik Kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningeal, tanda peningkatan tekanan intrakranial, tanda infeksi di luar SSP.

IX.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1 Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi

dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam atau keadaan lain. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningits, terutama pada pasien kejang pertama. Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Bayi < 12 bulan : diharuskan. 2. Bayi antara 12 18 bulan : dianjurkan. 3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.

Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal. Foto X-Ray kepala atau pencitraan seperti Computed Tomography Scan (CT-Scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti: 1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) 2. Paresis nervus VI 3. Papiledema

19

X.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Saat Kejang

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3 0,5 mg/kgBB perlahan lahan dengan kecepatan 1 2 mg/menit atau dalam waktu 3 5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5 0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3 0,5 mg/kgBB. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4 8 mg/kgBB/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.

Pemberian Obat Pada Saat Demam a. Antipiretik Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5 10 mg/kgBB/kali, 3 4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan. b. Antikonvulsan Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko berulangnya kejang pada 30 % - 60 % kasus, begitu pula dengan
20

diazepam rektal dosis 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu > 38,5 o C. Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25 % - 39 % kasus. Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

Pemberian Obat Rumat a. Indikasi pemberian obat rumat Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu): 1. Kejang lama > 15 menit. 2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus. 3. Kejang fokal. 4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan. Kejang demam > 4 kali per tahun. Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan indikasi pengobatan rumat. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan merupakan indikasi pengobatan rumat. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik.

b. Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat

Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan resiko berulangnya kejang. Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40 % - 50 % kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15 40 mg/kgBB/hari dalam 2 3 dosis, dan fenobarbital 3 4 mg/kgBB/hari dalam 1 2 dosis.
21

Edukasi Pada Orang Tua Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya : a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik. b. Memberitahukan cara penanganan kejang. c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali. d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat. XI. KOMPLIKASI Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lebih lama (>15 menit) biasanya disertai apnoe, hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat, hipotensi artrial, suhu tubuh makin meningkat, metabolisme otak meningkat.

XII.

PROGNOSIS Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak

menyebabkan kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%, umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Resiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

22

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2000; XXVII : 2059 2060. 2. Hendarto S. K. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 27. 1982 : 6 8. 3. Mansjoer Arif, Suprohaita, Wardhani Wahyu Ika, et al. Neurologi Anak, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius FK Universitas Indonesia, Jakarta. 2000 : 48, 434 437. 4. Pusponegoro Hardiono D, Widodo Dwi Putro, Ismael Sofyan. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta. 2006 : 1 14. 5. Saharso Darto. Kejang Demam, dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU dr. Soetomo, Surabaya. 2006 : 271 273. 6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta. 1985 : 25, 847 855.

24