You are on page 1of 5

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK Mariam Aprilia Lamia1,

R. J. Wenas 2 ,V. E. Regar3.


1

Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Manado, Mariam.lamia@ymail.com 2 Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Manado, 3 Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Manado, vivi_65@ymail.com

ABSTRAK: Mariam Aprilia Lamia. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Materi Pecahan Dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik. Skripsi. (Penelitian Tindakan kelas Pada Siswa Kelas VII SMP Kristen Kaneyan). Universitas Negeri Manado. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Matematika.2013.Apakah dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika reaistik dapat meningkatkan hasil belajar siswa? Merupakan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.Penelitian ini dilaksannakan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswamelalui peningkatan pemecahan masalah pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika realistic.Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kristen Kaneyan. Aspek yang diukur dari subjek penelitian ini adalah ketuntasan belajar secara individu. Teknik pengumpulan data menggunakan LKS, dan tes hasil belajar serta analisis tentang kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan diperoleh melalui lembar observasi.Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh 93,4% siswa atau 14 dari 15 siswa telah mencapai ketuntasan belajar dan 6,6% siswa atau 1 dari 15 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar. Kata Kunci: Pemecahan Masalah, Pendekatan Matematika Realistik, Pecahan ABSTRACT: The problem solving ability improvement about fraction lesson using Realistik Mathematics Education(Class Action Research to Grade VII SMP Kristen Kaneyan Students). When we using problem solvingability improvement about fraction with Realistic Mathematics Education can the students achievement will be better? This is a problem that writer analyzein the research. Subject of reserarsh is grade VII SMP Kristen Kaneyan students the measurenment aspect of this research is completeness of studying by individual.Collection method by using student worksheet, achievement test and analyxing compability between planning and implementation of action through observation sheet. Based on the research, the result is 93,4% of students or 14 from 15 students could get the complements of studying and 6,6% of studebt or 1from 15 student fail to get the completeness of studying. The result shows that improvements of problem solving about fraction with Realistic Mathematics Education approach could improved student achievement and student could reach the completeness of studying grade. Key words: Problem Solving, Realistic Mathematics Education, Approach

PENDAHULUAN Mempelajari matematika tidak terlepas dengan bilangan. Salah satu klasifikasi bilangan adalah sistem bilangan pecahan. Dalam bilangan pecahan ini seperti halnya pada bilangan bulat, terdapat materi pembelajaran operasi hitung. Operasi hitung bilangan pecahan secara teoritis tidak terlalu sulit. Namun bila pendekatan pembelajaran yang dipakai tidak tepat maka bisa membuat siswa tidak dapat menguasai materi pecahan ini dengan baik dan benar. Dari hasil wawancara secara tidak formal dengan guru matematika di SMP KRISTEN KANEYAN, menunjukkan hasil belajar siswa pada umumnya belum mencapai harapan, yaitu mencapai ketuntasan belajar khususnya pada materi pecahan. Setelah diteliti ternyata ada

beberapa hal yang membuat siswa tidak mencapai ketuntasan belajar antara lain, guru matematika belum mampu menerapkan model atau pendekatan yang sesuai dengan materi, dan kurangnya motivasi siswa dalam mempelajari matematika. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, guru memegang peranan yang sangat penting. Kemampuan guru dalam memberikan pelajaran merupakan landasan dalam mencapai sukses mengajar. Oleh karena itu guru harus memikirkan dan membuat perencanaan dalam meningkatkan hasil belajar siswa antara lain dengan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu cara dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah menggunakan pendekatan

pembelajaran matematika realistic. Pembelajaran matematika realistic adalah salah satu upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dan pada dasarnya pendekatan pembelajaran matematika realistic membimbing siswa untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika yang pernah ditemukan oleh para ahli matematika atau memungkinkan siswa dapat menemukan hal yang sama sekali belum pernah ditemukan. Ini disebabkan karena siswa menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya motivasi dan minat siswa untuk belajar sehingga pada waktu proses kegiatan belajar mengajar kebanyakan siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, kebanyakan dari mereka hanya bermain dengan teman sebangkunya dan ada yang memperhatikan penjelasan dari guru tapi siswa tersebut tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan. Karena banyaknya permasalahan yang mengakibatkan gagalnya pembelajaran matematika maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan hasil belajar matematika salah satunya dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika reaistik. Pendidikan matematiaka realistic (RME) diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di negeri Belanda. Beberapa penelitian pendahuluan dibeberapa Negara menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan realistic, sekurang-kurangya dapat membuat: 1) Matematika lebih menarik, relevan, dan bermakna, tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak. 2) Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa. 3) Menekankan belajar matematika pada learning by doing. 4) Memfasilitasi penyelesaian masalah matematika dengan tanpa menggunakan penyelesaian yang baku. 5) Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistic.Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah Bagi Guru : 1. Meningkatkan usaha dan kreatifitas guru matematika dengan mempersiapkan bahan ajar matematika dalam bentuk pengetahuan, pengalaman nyata yang dapat ditemukan di lingkungan.

2. Bagi Siswa : Membantu siswa mengatasi rendahnya hasil belajar khususnya materi pecahan. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMP Kristen Kaneyan pada siswa kelas VII. Waktu penelitian dilaksanakan pada awal semester ganjil tahun ajaran 2012/2013, bulan September 2012. Jenis enelitian ii adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini mengikuti prosedur sebagai berikut :1) perencanaan,2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, 4) refleksi.Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap perencanaan, yaitu: 1) RPP sesuai dengan model pembelajaran 2) LKS 3) Lembar Observasi (pedoman pemantauan) sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan 4) Alat bantu pengajaran yang diperlukan dalam rangka mengoptimalkan proses pembelajaran 5) Alat evaluasi berupa tes produk dan proses. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah pelaksanaan yang merupakan implmentasi atau penerapan isi rancangan yaitu penggunaan pendekatan matematika realistic. Pemantauan dalam penelitian ini adalah kegiatan mengamati dan mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Tujuan dilakukannya pengamatan untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi. Dalam penelitian ini yang akan diapantau, secara garis besar meliputi (1) mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan, dan (2) mengetahui seberapa besar pelaksanaan tindakan yang sedang dilaksanakan dapat menghasilkan perubahan yang diharapkan.Hal ini dapat diartikan bahwa lembar observasi dengan tujuan untuk mengamati dan mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Kegiatan pemantauan diakukan oleh guru matematika. Hasil pemantauan pada setiap pertemuan langsung diolah dan dimaknai oleh peneliti. Refleksi melibatkan kegiatan menganalisis, mensintesis, memaknai, menjelaskan, dan menyimpulkan. Kegiatan refleksi ini dapat dipandang sebagai upaya untuk memaknai dan memahami proses dan hasil yang tercakup kegiatan mengingat dan merenungkan kembali tindakan apa yang telah dilakukan. Hasil yang diproleh merupakan informasi tentang apa yang perlu diperbaiki. Data kualitatif diperoleh melalui pemantauan dan dianalisi mengikuti alur kegiatan yang terjadi bersamaan, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Analisis data ini berlangsung selama peneliti berada dilokasi

penelitian hingga akhir pengumpulan data. Sedangkan data kuantitatif berupa tes tertulis dianalisis dan menghitung presentase keberhasilan. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa, dan guru matematika.Jenis data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah data kualitaif dan data kuantitatif. Data kuantitatif berupa hasil pekerjaan siswa dalam mengerjakan tes akhir setiap pokok bahasan. Sedangkan data kualitatif adalah data hasil observasi.Data hasil belajar diperoleh melalui tes setelah tindakan penelitian individu tiap pertemuan serta tes akhir. Data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan diperoleh melalui lembar observasi.Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Data kuantitatif dianalisis dengan analisis deskriptif dalam hal ini dengan menghitung presentase ketuntasan hasil belajar siswa. Adapun tes hasil belajar siswa diolah untuk mengukur ketuntasan dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar secara individual. Prestasi belajar dikatakan berhasil apabila siswa secara individual telah memperolah nilai 65 atau lebih. Data Kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif model alur yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi refleksi. Dalam reduksi data yang diperoleh dari hasil observasi ditulis dalam bentuk rekaman data, dikumpulkan, dirangkum, dan dipilih hal-hal yang pokok, kemudian dicari polanya. Jadi, rekaman data sebagai bahan data mentah singkat disusun lebih sistematis, ditonjolkan pokok-pokok yang penting sehingga lebih tajam hasil pengamatan dalan penelitian ini, juga mempermudah peneliti untuk mencatat kembali data yang diperoleh bila diperlukan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada pertemuan pertama seluruh siswa kelas VII hadir mengikuti materi pembelajaran. Saat memasuki kelas, seluruh siswa yang dikomando ketua kelas untuk memberi salam. Peneliti memulai proses pembelajaran di kelas dengan pertama memberi motivasi kepada siswa, tentang betapa pentingnya materi pecahan yang akan dipelajari. Dan memberitahu penggunaan pecahan yang tanpa disadari telah dilakukan siswa sehari-sehari. Setelah itu peneliti mengadakan sedikit Tanya jawab seputar materi pecahan. Kemudian peneliti menjelaskan materi tentang Operasi pada Pecahan khususnya operasi penjumlahan dan pengurangan antar pecahan. Saat peneliti memberikan penjelasan terlihat beberapa siswa begitu antusias dalam mengikuti

pembelajaran, tapi ada juga siswa yang tidak serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah itu peneliti membagikan LKS 1. Pada LKS yang telah peneliti sediakan telah tersedia soal cerita yang akan dilkerjakan berdasarkan kerangka pemecahan masalah yang telah dijelaskan.LKS dikerjakan secara individu. Sementara siswa mengerjakan LKS, peneliti mengawasi dan membimbing para siswa yang mengalami kesulitan. Tetapi selama mengerjakan LKS ada satu siswa yang sebenarnya cerdas namun tidak serius dalam proses pembelajaran, dia kerap kali menggangu siswa yang lain. Sehingga peneliti pun memindahkan siswa tersebut ke tempat duduk peneliti, agar supaya dia tidak mengganggu siswa yang lain. Setelah waktu mengerjakan LKS habis, para siswa mempresentasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas. Hasil diskusi peneliti dan guru pengamat, diperoleh bahwa ada beberapa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan oleh peneliti yaitu peneliti harus lebih memberikan dorongan atau motivasi pada siswa dan peneliti harus aktif melihat keadaan siswa terutama kesiapan siswa sebelum mempelajari materi dan peneliti harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Pada LKS 1 dapat digambarkan bahwa hampir setiap siswa mampu memecahkan masalah dan menguasai operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan. Untuk jelasnya hasil LKS 1 dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 1 Hasil LKS 1 Memenuhi Skor Nama Siswa Total skor Armando.M 85 Christova K 90 David P 85 Jimli S 75 Josua M 80 Jeremia K 70 Kalvari S 70 Melani T 75 Enjella L 75 Patred M 90 Preity K 85 Prisilia R 85 Sindhy O 100 Trini S 75 Victoryana L 100 Dari tabel diatas dapat ditunjukkan bahwa dalam mengerjakan LKS 1 semua siswa memenuhi skor Setelah itu peneliti membagikan kuis 1. Hasil tes kuis setelah pertemuan pertama selesai, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2 Hasil Kuis 1 belum Tunta % tuntas s Keber (Skor (Skor ha 65) silan 65) 15 15 100 Pada pertemuan kedua 14 siswa hadir dan 1 tidak hadir dengan alasan sakit. Saat memasuki kelas, seluruh siswa yang dikomando ketua kelas memberi salam.Peneliti memulai proses pembelajaran di kelas dengan pertama memberi motivasi kepada siswa, tentang betapa pentingnya materi pecahan yang akan dipelajari.. Setelah itu peneliti mengadakan sedikit Tanya jawab seputar materi pecahan. Kemudian peneliti menjelaskan materi tentang Operasi pada Pecahan khususnya operasi perkalian dan pembagian antar pecahan. Saat peneliti memberikan penjelasan terlihat beberapa siswa begitu antusias dalam mengikuti pembelajaran, tapi ada juga siswa yang tidak serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah itu peneliti membagikan LKS 2. Pada LKS yang telah peneliti sediakan telah tersedia soal cerita yang akan dilkerjakan berdasarkan kerangka pemecahan masalah yang telah dijelaskan.LKS dikerjakan secara individu. Sementara siswa mengerjakan LKS, peneliti mengawasi dan membimbing para siswa yang mengalami kesulitan. Dan terlihat beberapa siswa meminta bantuan kepada siswa yang lain. Setelah waktu mengerjakan LKS habis, para siswa mempresentasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas. Pada pertemuan kedua para siswa banyak mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah karena banyak siswa yang belum hafal perkalian. Namun meskipun sedikit lambat tapi sebagian para siswa mampu menyelesaikan LKS 2. Pertemuan kedua proses pembelajarannya lebih baik dibandingkan dengan pertemuan pertama. Dengan melihat hasil pertemuan pertama maka pertemuan kedua dibuat beberapa perbaikan proses pembelajaran. Peneliti mengelola kelas, mengatur siswa untuk belajar lebih aktif serta dapat membimbing siswa dengan baik. Dalam kegiatan pembelajaran menyampaikan ide, ada beberapa siswa yang masih terlihat kurang aktif dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKS, sehingga siswa diarahkan dan diberikan motivasi untuk lebih aktif , bertanya pada teman atau Peneliti agar bisa mengerti. Pada LKS 2 dapat digambarkan bahwa hampir setiap siswa mampu memecahkan masalah dan menguasai operasi perkalian dan pembagian pada pecahan. Untuk jelasnya hasil LKS 2 dapat dilihat dalam tabel berikut Banya k-nya siswa Tabel 3 Hasil LKS 2 Memenuhi Skor Nama Siswa Total skor Armando M 75 Christova K 85 David P Jimli S 65 Josua M 70 Jeremia K 70 Kalvari S 65 Melani T 70 Enjella L 70 Patred M 85 Preity K 80 Prisilia R 80 Sindhy O 90 Trini S 70 Victoryana L 90 Hasil tes kuis setelah pertemuan pertama selesai, dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Hasil Kuis 2 Banyak Tuntas Belum % nya (Skor tuntas (Skor Keberha siswa 65) -silan 65) 15 14 1 93,4 Tes Akhir diikuti oleh 15 siswa. Waktu yang ditentukan dalam menyelesaikan tes akhir adalah 90 menit. Hasil tes akhir dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Hasil Tes Akhir Banyak Tuntas Belum % nya (Skor tuntas Keberha siswa 65) -silan (Skor 65) 15 14 1 93,4 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa 14 siswa mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan cara mengoperasikan bilangan pecahan dan 1 siswa yang belum tuntas. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, menunjukkan dengan menggunakan pendekatan matematika realistic dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat menumbuhkan antusias siswa dalam belajar Matematika khususnya pada materi pecahan.Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan hasil kegiatan siswa yang pada LKS 1, semua siswa berhasil mengerjakan soal. Pada LKS 2 para siswa pun berhasil mendapat nilai yang baik, meskipun memang mengalami penurunan nilai dibandingkan dengan hasil LKS 1. Dan pada hasil tes akhir, 14 siswa mampu menyelesaikan masalah.Menurut hasil observasi pembelajaran matematika, materi bilangan pecahan tentang operasi pada pecahan,

penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian antar pecahan dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan matematika realistic dapat membuat siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran. Hal ini berarti hipotesis penelitian yang dirumuskan bahwa jika pembelajaran matematika di SMP kelas VII pada materi pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah maka dapat meningkatkan penguasaan belajar siswa dapat diterima. PENUTUP Kesimpulan Penggunaan pendekatan matematika realistic dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah materi bilangan pecahan pada siswa SMP Kristen Kaneyan Kelas VII. Dengan memperoleh hasil 14 dari 15 siswa atau 93,4 % siswa tuntas dalam mengerjakan hasil tes akhir dan 1 dari 15 siswa atau 6,6% siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Pengefektifan pendekatan matematika realistic dengan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi pecahan dapat menningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi bilangan pecahan. Saran Pendekatan matematika realistic dapat digunakan sebagai salah satu alternative untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan materi pembelajaran matematika pada materi pecahan. Bagi para calon peneliti agar dapat meneliti kembali materi-materi yang dapat diajarkan dengan menggunakan pendekatan matematika realistic untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, karena tidak semua materi dapat diajarkan dengan pendekatan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Suparno, P. 2001. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Suherman (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia. (2001). Pengembangan kurikulum Pembelajaran Matematika . Malang. Universitas Negeri Malang.

Trianto

(2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktibistik. Surabaya: Prestasi Pustaka

Sukino & Simangunsong, (2007). Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga Weken, (2008). Pendekatan Realistik dengan Model Pembelajaran Tipe TAI Pada Materi Bangun Ruang. Tondano: UNIMA

Hudojo

Arikunto, dkk (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara