You are on page 1of 20

RADIKULOPATI

I. Pendahuluan Radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan struktur radiks akibat proses patologik yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf dengan pola gangguan bersifat dermatomal.

II. Etiologi Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya radikulopati, diantaranya yaitu proses kompresif, proses inflammatory, proses degeneratif sesuai dengan struktur dan lokasi terjadinya proses.

a. Proses kompresif Kelainan-kelainan yang bersifat kompresif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah seperti : hernia nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus, tumor medulla spinalis, neoplasma tulang, spondilolisis dan spondilolithesis, stenosis spinal, traumatic dislokasi, kompresif fraktur, scoliosis dan spondilitis tuberkulosa, cervical spondilosis

b. Proses inflammatori Kelainan-kelainan inflamatori sehingga mengakibatkan radikulopati adalah seperti : Gullain-Barre Syndrome dan Herpes Zoster

b. Proses degeneratif Kelainan-kelainan yang bersifat degeneratif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah seperti Diabetes Mellitus

III. Tipe-tipe radikulopati

a. Radikulopati lumbar Radikulopati lumbar merupakan problema yang sering terjadi yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi radiks saraf daerah lumbal. Ia juga sering disebut sciatica. Gejala yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa sebab seperti bulging diskus (disk bulges), spinal stenosis, deformitas vertebra atau herniasi nukleus pulposus.

Radikulopati dengan keluhan nyeri pinggang bawah sering didapatkan (low back pain) b. Radikulopati cervical Radikulopati cervical umunya dikenal dengan pinched nerve atau saraf terjepit merupakan kompresi [ada satu atau lebih radix saraf uang halus pada leher. Gejala pada radikulopati cervical seringnya disebabkan oleh spondilosis cervical. c. Radikulopati torakal Radikulopati torakal merupakan bentuk yang relative jarang dari kompresi saraf pada punggung tengah. Daerah ini tidak didesain untuk membengkok sebanyak lumbal atau cervical. Hal ini menyebabkan area thoraks lebih jarang menyebabkan sakit pada spinal. Namun, kasus yang sering yang ditemukan pada bagian ini adalah nyeri pada infeksi herpes zoster.

Pengetahuan anatomi, pemeriksaan fisik diagnostik dan pengetahuan berbagai penyebab untuk radikulopati sangat diperlukan sehingga diagnosa dapat ditegakkan secara dini dan dapat diberikan terapi yang sesuai.

Terdapat 5 ruas tulang vertebra lumbalis dan diantaranya dihubungkan dengan discus intervertebralis. Vertebra lumbalis ini menerima beban paling besar dari tulang belakang sehingga strukturnya sangat padat.

Tiap vertebra lumbalis terdiri dari korpus dan arkus neuralis. Korpus vertebra lumbal paling besar dibandingkan korpus vertebra torakal dan cervikal. Arkus neuralis terdiri dari 2 pedikel, prosesus tranversus, faset artikularis (prosesus

artikularis) superior dan inferior, lamina arkus vertebra dan prosesus spinosus. Tiap vertebra dihubungkan dengan diskus intervertebralis, beberapa ligament spinalis dan prosesus artikularis/faset artikularis/sendi faset. Diskus intervertebralis berfungsi sebagai shock absorbers dan bila terjadi rupture ke dalam kanalis spinalis dapat menekan radiksradiks saraf. Pada vertebra lumbalis yang lebih atas, hubungan antara prosesus artikularis arahnya vertical, faset inferior menghadap ke lateral dan faset superior menghadap ke medial. Akibat susunan anatomi yang dem,ikian menyebabkan terbatasnya rotasi ke aksial yang memungkinkan fleksi atau ekstensi.

Pada dua vertebra lumbalis yang paling bawah, hubungan antara faset artikularis tersebut lebih horizontal sehingga mobilitas rotasi aksialnya lebih besar atau luas. Hal ini menjelaskan sering terjadinya herniasi diskus pada lumbal 4 dan 5.

Gambar 1. Koluman Vertebra

Gambar 2. Radiks Saraf

Gambar 3. Diskus Intervertebralis potongan aksial

Manifestasi klinis radikulopati pada daerah lumbal antara lain : Rasa nyeri pada daerah sakroiliaka, menjalar ke bokong, paha, hingga ke betis, dan kaki. Nyeri dapat ditimbulkan dengan Valsava maneuvers (seperti : batuk, bersin, atau mengedan saat defekasi). Pada ruptur diskus intervertebra, nyeri dirasakan lebih berat bila penderita sedang duduk atau akan berdiri. Ketika duduk, penderita akan menjaga lututnya dalam keadaan fleksi dan menumpukan berat badannya pada bokong yang berlawanan. Ketika akan berdiri, penderita menopang dirinya pada sisi yang sehat, meletakkan satu tangan di punggung, menekuk tungkai yang terkena (Minors sign). Nyeri mereda ketika pasien berbaring. Umumnya penderita merasa nyaman dengan berbaring telentang disertai fleksi sendi coxae dan lutut, dan bahu disangga dengan bantal untuk mengurangi lordosis lumbal. Pada tumor intraspinal, nyeri tidak berkurang atau bahkan memburuk ketika berbaring. Gangguan postur atau kurvatura vertebra. Pada pemeriksaan dapat ditemukan berkurangnya lordosis vertebra lumbal karena spasme involunter otot-otot punggung. Sering ditemui skoliosis lumbal, dan mungkin juga terjadi skoliosis torakal sebagai kompensasi. Umumnya tubuh akan condong menjauhi area yang sakit, dan panggul akan miring, sehingga sendi coxae akan terangkat. Bisa saja tubuh penderita akan bungkuk ke depan dan ke arah yang sakit untuk menghindari stretching pada saraf yang bersangkutan. Jika iskialgia sangat berat, penderita akan menghindari ekstensi sendi lutut, dan berjalan dengan bertumpu pada jari kaki (karena dorsifleksi kaki menyebabkan stretching pada saraf, sehingga memperburuk nyeri). Penderita bungkuk ke depan, berjalan dengan langkah kecil dan semifleksi sendi lutut disebut Neris sign. Ketika pasien berdiri, dapat ditemukan gluteal fold yang menggantung dan tampak lipatan kulit tambahan karena otot gluteus yang lemah. Hal ini merupakan bukti keterlibatan radiks S1. Dapat ditemukan nyeri tekan pada sciatic notch dan sepanjang n.iskiadikus. Pada kompresi radiks spinal yang berat, dapat ditemukan gangguan sensasi, paresthesia, kelemahan otot, dan gangguan refleks tendon. Fasikulasi jarang terjadi. Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya terletak di posterolateral dan mengakibatkan gejala yang unilateral. Namun bila letak hernia agak besar dan

sentral, dapat menyebabkan gejala pada kedua sisi yang mungkin dapat disertai gangguan berkemih dan buang air besar.

Gambar 13. Penjalaran nyeri pada radikulopati lumbal

Tabel 1. Common Root Syndromes of Intervertebral Disc Disease Disc space Root affected Muscles affected L3-4 L4 L4-5 L5 L5-S1 S1 C4-5 C5 Deltoid, biceps C6-7 C7 Triceps, wrist exrensors C7-T1 C8 Intrinsic hand muscles

Gluteus maximus, gastrocne mius, plantar flexor of toes Great toe, Lateral Area of Anterior dorsum of foot, small pain and thigh, toe sensory medial shin foot loss Reflex affected Straight leg raising Knee jerk Posterior tibial Many not Aggravate increase s root pain pain Ankle jerk Aggravate s root pain

Quadriceps Peroneals, anterior tibial, extensor hallucis longus

Shoulder, anterior arm, radial forearm Biceps -

Thumb, middle fingers

Index, fourth fifth finger Triceps -

Triceps -

Pemeriksaan Penunjang Radikulopati Radikulopati dapat didiagnosa dari menifestasi klinis yang khas, seperti rasa nyeri, baal, atau paresthesia yang mengikuti pola dermatomal. Namun demikian gejala-gejala tersebut dapat disebabkan oleh banyak hal, sehingga untuk menentukan penatalaksanaan radikulopati, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang, antara lain : a. Rontgen

Teknik Pemeriksaan Lumbosakral Persiapan pemeriksaan pasien a.Persiapan Pasien 1.Pasien ganti baju dan melepaskan benda-benda yang mengganggu gambaran radiograf. 2.Petugas menjelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien. b.Persiapan Alat dan bahan Alatalat dan bahan yang dipersiapkan dalam pemeriksaan vertebra lumbosakral antara lain : 1.Pesawat sinar-X siap pakai

2.Kaset dan film sinar-X sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan (30 x 40 atau 35 x 43)

3.Marker untuk identifikasi radiograf

4.Grid atau bucky table

5.Alat fiksasi bila diperlukan 6.Alat pengolah film 2.2.2Proyeksi pemeriksaan a.Proyeksi Anteroposterior 1.Tujuan : Untuk melihat patologi lumbal, fraktur dan scoliosis. 2.Posisi Pasien : Pasien tidur supine, kepala di atas bantal, knee fleksi. 3.Posisi Obyek : (a) Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan (jika pakai buki). (b) Letakkan kedua tangan diatas dada. (c) Tidak ada rotasi tarsal / pelvis.

Gambar 2.6 Posisi Anteroposterior 4.Sinar CR : Tegak lurus kaset CP : (a) Setinggi Krista iliaka (interspace L4-L5) untuk memperlihatkan lumbal sacrum dan posterior Cocygeus. (b) Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas crista iliaka) untuk memperlihatkan lumbal. SID : 100 cm Eksposi : Ekspirasi tahan nafas. Kriteria : Tampak vertebra lumbal, space intervertebra, prosessus spinosus dalam satu garis pada vertebra, prosessus transversus kanan dan kiri berjarak sama. c.Proyeksi Lateral 1.Tujuan : Untuk melihat fraktur, spondilolistesis dan osteoporosis. 2.Posisi Pasien : Pasien lateral recumbent, kepala di atas bantal, knee fleksi, di bawah

knee dan ankle diberi pengganjal. 3.Posisi Obyek : (a) Atur MSP tegak lurus kaset/meja pemeriksaan (jika pakai buki). (b) Pelvis dan tarsal true lateral (c) Letakkan pengganjal yang radiolussent di bawah pinggang agar vertebra lumbal sejajar pada meja (palpasi prosessus spinosus).

Gambar 2.10 Posisi Lateral (Bontrager, 2001)

Tujuan utama foto polos Roentgen adalah untuk mendeteksi adanya kelainan struktural. Seringkali kelainan yang ditemukan pada foto roentgen penderita radikulopati juga dapat ditemukan pada individu lain yang tidak memiliki keluhan apapun. b. MRI/CT Scan Pemerisaan CT SCAN 1. Pengertian CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak 2. Indikasi 1) Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa radioisotop 2) Menilai kondisi pembuluh darah misalnya pada penyakit jantung koroner, emboli paru, aneurisma (pembesaran pembuluh darah) aorta dan berbagai kelainan pembuluh darah lainnya. 3) Menilai tumor atau kanker misalnya metastase (penyebaran kanker), letak kanker, dan jenis kanker. 4) Kasus trauma/cidera misalnya trauma kepala, trauma tulang belakang dan trauma lainnya pada kecelakaan. Biasanya harusdilakukan bila timbul penurunan kesadaran, muntah, pingsan ,atau timbulnya gejala gangguan saraf lainnya. 5) Menilai organ dalam, misalnya pada stroke, gangguan organ pencernaan dll. 6) Membantu proses biopsy jaringan atau proses drainase/pengeluaran cairan yang menumpuk di tubuh. Disini CT scan berperan sebagai mata dokter untuk melihat lokasi yang tepat untuk melakukan tindakan.

7) Alat bantu pemeriksaan bila hasil yang dicapai dengan pemeriksaan radiologi lainnya kurang memuaskan atau ada kondisi yang tidak memungkinkan anda melakukan pemeriksaan selain CT scan. 3. Kontraindikasi 1. Pasien dengan berat badan kurang dari145 kg. 2. Pasien tidak mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-25 menit. 3. Pasien dengan alergi iodine 4. Persiapan alat Persiapan alat dan bahanAlat dan bahan yang digunakan untukpemeriksaan kepala dibedakan menjadi dua, yaitu : a) Peralatan sterill meliputi: 1. Alat-alat suntik 2. Spuit. 3. Kassa dan kapas 4. Alkohol b) Peralatan non-steril meliputi: 1. Pesawat CT-Scan 2. Media kontras 3. Tabung oksigen Persiapan Media kontras dan obat-obatan dalam pemeriksaan CT-scan kepala pediatrik di butuhkan media kontras nonionik, karena untuk menekan reaksi terhadap media kontras seperti pusing, mual dan muntah serta obat anastesi jika diperlukan. Media kontras digunakan agar struktur-struktur anatomi tubuh seperti pembuluh darah dan orgaorgan tubuh lainnya dapat dibedakan dengan jelas. Selain itu dengan penggunaan media kontras maka dapat menampakan adanya kelainan-kelainan dalam tubuh seperti adanya tumor.Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 ). 1. Jenis media kontras : omnipaque, visipaque 2. Volume pemakaian : 2 3 mm/kg, maksimal 150 m 3. Injeksi rate : 1 3 mm/sec. 5. Persiapan pasien a. CT scan otak : 1) Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan 2) Inform concent 3) Jelaskan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan serta resiko-resiko yang timbul akibat pemeriksaan tersebut, khususnya akibat pemakaian bahan kontras. 4) Pasien di anjurkan untuk puasa .Pasien sebaiknya puasa minimal 6 8 jam sebelum pemeriksaan. Hal ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai akibat penyuntikan bahan kontras secara intra vena. 5) injeksi dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena. tumor. Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 ) Jenis media kontras : omnipaque, visipaque Volume pemakaian : 2 3 mm/kg, maksimal 150 m

Injeksi rate : 1 3 mm/sec b. CT scan thorax : 1) Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan 2) Inform concent 3) Jelaskan tujuan tindakan kepada klien dan keluarga 4) Pasien di anjurkan untuk puasa .Pasien sebaiknya puasa minimal 6 8 jam sebelum pemeriksaan. Hal ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai akibat penyuntikan bahan kontras secara intra vena. 5) injeksi dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena. tumor. Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 ). c. CT Scan abdomen 1) Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan 2) inform consent 3) Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada klien 4) Pasien meminum kontras : Pasien minum kontras 300 cc 2 jam sebelum pemeriksaan. Satu jam sebelum pemeriksaan pasien minum 200 cc yang kedua. Ketika akan dilakukan pemeriksaan pasien minum bahan kontras ke tiga sebanyak 200 cc, dimasukkan bahan kontras per anal sebanyak 500 cc. 6. Prosedur 1. Preinteraksi 1. Lihat catatan keperawatan dan catatan medis 2. Jelaskan tujuan dilakukan pemeriksaan kepada klien 2. Interaksi 1. Cuci tangan 2. Memakai handscone 3. Posisi terlentang dengan tangan terkendali. 4. Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner. 5. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan. 6. Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit. 7. Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer. 8. Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan. 9. Cuci tangan 3. Terminasi 1. Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan. 2. Evaluasi 3. Dokumentasi 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikan. Bila terjadi alergi dapat diberikan deladryl 50 mg. 2. Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung. 3. Ukur intake dan out put. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal, memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter

Pemeriksaan MRI 1. Pengertian 1. Pemeriksaan MRI merupakan salah satu bentuk pemeriksaan radiologi yang menggunakan prinsip magnetisasi. Medan magnet digunakan untuk proses magnetisasi komponen ion hidrogen dari kandungan air di tubuh. MRI dapat menggambarkan dengan sangat jelas dan kontras berbagai bagian organ tubuh 2. Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) adalah suatu alat diagnostik muthakhir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun bahan radioaktif, yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran terhadap inti atom hydrogen (Satya Negara, dkk,2010). 3. Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu teknik penggambaran penampang tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hydrogen (Eko Bastiansyah 2008) 2. Tujuan 1. MRI dapat mengidentifikasikan zat kimia yang terdapat pada area yang membedakan tumor otak dan abses otak 2. Perfusi MRI dapat di gunakan untuk mengestiminasi aliran darah

3. Difusi MRI dapat digunakan untuk mendeteksi akumulasi cariran (edema) secara tiba-tiba. 3. Indikasi 1. Neoplasma 2. Infection 3. Infarction 4. Di bidang saraf: stroke, tumor otak, kelainan mielinisasi otak, gangguan aliran cairan otak/hidrocephalus, beberapa bentuk infeksi otak, gangguan pembuluh darah otak, dsb. 5. Di bidang muskuloskeletal: tumor jaringan tulang atau otot, kelainan saraf tulang belakang, tumor spinal, jeputan akar saraf tulang belakang, dsb. 6. Di bidang kardiologi: pembuluh darah besar, pemeriksaan MRA (Magnetic Resonance Angiografi) carotis, dsb. 4. Kontraindikasi 1. Relatif : a. Anemia hemolitika b. Riwayat alergi dengan bahan yodida 2. Mutlak : a. Kehamilan dan menyusui b. Gagal ginjal 3. Untuk pasien yang menggunakan alat pacu jantung (pace marker), 4. Pasien dengan alat bantu dengar 5. pasien dengan alat/klip/protesa berupa logam, yang di pasang pada bagian tubuhnya, antara lain dapat berupa klippadaoperasi aniurisma, facemarker pada jantung, alat bantu dengar, gigi palsu dan sebagainya 6. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi, pasien dengan pompa insulin di mohon untuk melaporkan pada dokter. Pada kasus- kasus di atas, MRI dapat di batalkan dengan alas an trakut melukaipasien. 5. Persiapan alat 1. Meja MRI 2. Bel 6. Persiapan klien 1. Pasien diharap tidak mengenakan aksesoris tubuh yang berasal dari bahan logam secara berlebih. Hal ini penting karena MRI menggunakan prinsip magnetisasi. 2. Pasien akan diminta diam untuk beberapa saat sampai prose magnetisasi selesai. 3. Memberikan kesempatan pada pasien melihat dulu alat MRI beberapa saat sebelum prosedur untuk menghindari ketakutan terhadap ruang sempit (klustrofobia 4. Memberikan inform cocent 5. Berikan medikasi sebelum tes 6. Kaji kemungkinan reaksi iodin 7. Prosedur 1. Preinteraksi 1. Cuci tangan 2. Jelaskan tujua dilakukan pemeriksaan pada klien 2. Interaksi 1. Pasien berbaring terlentang dengan posisi kedua tangan disamping badan

2. Meja MRI akan bergerak maju kedalam posisi medan magnet yang tepat 3. Pasien akan mendengar suara dari gelombang radio frekuensi,seperti suara ketukan selama jalannya pemeriksan 4. Selama pemeriksaan MRI,pasien akan selalu dibawah pengawasan petugas,dan komunikasi dengan petugas MRI 5. Pasien akan diberi bel ditangan dan dapat ditekan untuk memanggil petugas MRI,atau mengalami kondisi yang kurang nyaman 6. Pada umumnya pemeriksaan ini membutuhkan waktu sekitar 40 menit 7. Setelah pemeriksan MRI selesai pasien dapat melakukan aktifitas normal seperti biasa 8. Cuci tangan 3. Terminasi 1.Evaluasi 2.Dokumentasi 8. Hal-hal yang perlu diperhatikan 1. Pada pemeriksaan MRI ini tidak boleh dilakukan pada wanita yang hamil muda(trisemester 1) 2. Pasien memberikan informasi kepada petugas sebelum dilakukan pemeriksaan 9. Diagnosa yang mungkin muncul 1. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap prosedur pemeriksaan ditandai dengan klien nampak bingung dan tekanan darah klien meningkat. 2. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan tingkat pendidikan yang rendah ditandai dengan klien tidak memahami prosedur pemeriksaan.

MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi kelainan diskus intervertebra. MRI selain dapat mengidentifikasi kompresi medula spinalis dan radiks saraf, juga dapat digunakan untuk mengetahui beratnya perubahan degeneratif pada diskus intervertebra. Dibandingkan dengan CT Scan, MRI memiliki keunggulan, yaitu adanya potongan sagital, dan dapat memberikan gambaran hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf yang jelas; sehingga MRI merupakan prosedur skrining yang ideal untuk menyingkirkan diagnosa banding gangguan struktural pada medula spinalis dan radiks saraf.

CT Scan dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan baik, dan memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus intervertebra. Namun demikian sensitivitas CT Scan tanpa myelography dalam mendeteksi herniasi masih kurang bila dibandingkan dengan MRI.

c. Myelografi Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomik yang detail, terutama elemen osseus vertebra. Myelografi merupakan proses yang invasif karena melibatkan penetrasi pada ruang subarachnoid. Secara umum myelogram dilakukan sebagai test preoperatif, seringkali dilakukan bersama dengan CT Scan.

d. Nerve Concuction Study (NCS), dan Electromyography (EMG) NCS dan EMG sangat membantu untuk membedakan asal nyeri atau untuk menentukan keterlibatan saraf, apakah dari radiks, pleksus saraf, atau saraf tunggal. Selain itu pemeriksaan ini juga membantu menentukan lokasi kompresi radiks saraf. Namun bila diagnosis radikulopati sudah pasti secara pemeriksaan klinis, maka pemeriksaan elektrofisiologis tidak dianjurkan. EMG / NCS dapat memberikan informasi tentang : 1. Adanya kerusakan pada saraf 2. Lama terjadinya kerusakan saraf ( akut atau kronik ) 3. Lokasi terjadinya kerusakan saraf ( bagian proksimalis atau distal ) 4. Tingkat keparahan dari kerusakan saraf 5. Memantau proses penyembyhan dari kerusakan saraf Hasil dari EMG dan MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi fisik pasien dimana mungkin perlu dilakukan tindakan selanjutnya yaitu pambedahan. Penatalaksanaan Radikulopati 1. Informasi dan edukasi 2. Farmakoterapi a. Akut : asetaminofen, NSAID, muscle relaxant, opioid (nyeri berat), injeksi epidural. b. Kronik : antidepresan trisiklik (amitriptilin), opioid (kalau sangat diperlukan). 3. Terapi nonfarmakologik a. Akut : imobilisasi (lamanya tergantung kasus), pengaturan berat badan, posisi tubuh dan aktivitas, modalitas termal (terapi panas dan dingin), masase, traksi (tergantung kasus), alat bantu (antara lain korset, tongkat). b. Kronik : terapi psikologik, modulasi nyeri (akupunktur, modalitas termal), latihan kondisi otot, rehabilitasi vokasional, pengaturan berat badan, posisi tubuh dan aktivitas. 4. Invasif nonbedah Blok saraf dengan anestetik lokal.

Injeksi steroid (metilprednisolon) pada epidural untuk mengurangi pembengkakan edematous sehingga menurunkan kompresi pada radiks saraf. 5. Bedah Indikasi operasi : Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih dari 4 minggu : nyeri berat / intractable / menetap / progresif. Defisit neurologik memburuk. Sindroma kauda. Stenosis kanal : setelah terapi konservatif tidak berhasil. Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologik dan radiologik.

Daftar Pustaka
Smeltzer, S. C.,& Bare, B. G. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah brunner & suddarth. (Vol. 2). Jakarta:EGC. Sunardi. (2008). Retikulopati . Diperoleh tanggal 15 Oktober 2008 darihttp://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi43.pdf. Iskandar. (2002). Retikulopati thorakalis. Diperoleh tanggal 15 oktober 2008 darihttp://www.perdossi.or.id/show_file.html?id=149 Malueka, RG. 2008. Radiologi Diagnostik. Pustaka Cendekia Press. Yogyakarta. Turana Y, Rasyid A, Wibowo BS. Gambaran klinis , radiologis dan EMG pada nyeri servikal. Departemen Neurologi FKUI / RSCM