You are on page 1of 30

ITAS COLLECTION

XVI

GESTOSIS dan PENYULIT KEHAMILAN A. GESTOSIS Gestose ialah penyakit yang khas untuk kehamilan, jadi penyakit ini tidak terdapat pada wanita yang tidak hamil. Dalam golongannya penyakit ini termasuk : 1. Gestose dini yang timbul pada hamil mudah ialah Hyperemesis Gravidarum. 2. Gestose lambat yang timbul pada kehamilan lanjut ialah hypertensi dalam kehamilan. 1. HYPEREMESIS GRAVIDARUM Di katakan Hyperemesis Gravidarum ketika seorang ibu memuntahkan segalah apa yang dimakan dan di minum hingga berat badan sangat turun, turgor kulit kurang,diurese kurang dan timbul aceton dalam air kencing , maka keadaan ini memerlukan perawatan di Rumah Sakit. a. Etiologi Pada Wanita hamil yang terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan. Misalnya yang dapat menyebabkan mual dan muntah ialah masuknya bagian vilus ke dalam peredaran darah ibu, perubahan endokrin misalnya hypofungsi kortex glandula suprarenalis, perubahan metabolik dan kurangnya pergerakan lambung, pengaruh lainnya juga karena faktor predisposisi yaitu Primigravida, Mola Hidatidosa dan kehamilan Ganda, faktor organik yaitu alergi, serta faktor psikologis. b. Manifestasi Klinik Menurut berat ringanya gejala, hyperemesisi Gravidarum di bagi dalam tiga tingkatan yaitu : Tingkat I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, napsu makan tak ada, berat badan turun, dan nyeri epigastrium. Frekuensi nadi pasien naik sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistolik turun, turgor kulit berkurang, lidah kering dan mata cekung. Tingkat II : Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor nadi kecil dan cepat , suhu kadang naik dan mata sedikit ikterik. Berat badan pasien turun, timbul Hipotensi, hemokonsentrasi, oligouria, konstipasi dan napas berbau aseton. Tingkat III : kesadaran pasien menurun dari somnolen sampai koma, muntah berhenti, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tekanan darah makin turun. c. Diagnosa Dari anamnesis di dapatkan Amenore, tanda kehamilan mudah, dan muntah terus-menerus. Pada pemeriksaan pasien di dapatkan keadaan umum pasien Lemah, apatis sampai koma, nadi meningkat sampai 100 kali permenit, suhu meningkat, tekanan darah turun. Pada pemeriksaan elektrolit darah ditemukan kadar natrium dan klorida turun. Pada pemeriksaan urin kadar klorida turun dan dapat ditemukan keton.
1

ITAS COLLECTION

XVI

d. Terapi Hindari konsumsi makanan yang dapat menyebabkan Mual. Pemberian luminal 30 mg sebelum makan jug sangat menolong. Juga Librium, dramamine dan lain-lain, biasanya juga diberikan vitamin B6, B1,B complex, Vitamin C, selain itu juga dapat diberikan Clorpromazine yang tidak hanya menenagkan tapi juga bersifat anti muntah. e. Prognosis Yang menjadi pegangan bagi kita atas maju mundurnya pasien adalah adanya aceton dan acidum diaceticum dalam urin dan berat badan. 2. PENYAKIT-PENYAKIT HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN Merupakan kelainan vasculer yang timbul sebelum kehamilan, dalam kehamilan atau pada permulaan Nifas. Golongan penyakit ini ditandai dengan adanya hypertensi kadang-kadang di sertai protein uria, edema, konvulsi, koma atau gejala-gejala lain. Yang menjadi pegangan untuk memasukan pasien ke RS adalah : 1. Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan apalagi kalau berlangsung sudah lama. 2. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berat badan normal. 3. Turgor Kurang dan lidah kering. 4. Adanya aceton di dalam urin. Pada 24 jam pertama di rumah sakit tidak diberikan apa-apa per os. Makanan diberikan berupa glukosa 10% dan larutan garam fisiologis cairan yang masuk dan keluar di catat dengan teliti termasuk muntah. Cairan yang diberikan kurang lebih 3000 cc sehari atau lebih menurut kebutuhan. Obat yang diberikan melalui infus ialah : Phenothiazin, ACTH 20S, Vit B1 200mg, Vit B6 200mg, Vit B12 150mg, dan Vit C 2000mg. Pada umumnya preeklamsia dan eklamsia baru timbul sesudah minggu ke 20 dan makin tua kehamilan, makin besar kemungkinan timbulnya penyakit tersebut. Pada mola hydatidosa penyakit ini dapat menjelma sebelum minggu ke 20. Setelah persalinan gejalah-gejala berangsur hilang sendiri. Untuk diagnosa preeklamsia, pada wanita yang hamil 20 minggu atau lebih harus di ketemukan hypertensi dengan proteinuria dan oedema atau sekurang-kurangnya hypertensi dan proteinuria. 1. Tekanan sistolik 140mmHg /lebih/kenaikan 30mmHg diatas tekanan biasa, Tekanan Diastolik 90mmHg/lebih/kenaikan 15mmHg di atas tekanan biasa. Tekanan darah yang meninggi ini sekurang-kuranganya diukur 2 kali antara 6 jam. 2. Proteinuria ialah protein lebih dari 0,3 g/l dalam urin 24 jam atau lebih dari 1g/l pada urine yang sembarangan. Urin yang diambil untuk pemeriksaan harus urin yang bersih atau urin yang diperoleh dengan penyadapan. Proteinuria ini harus ada pada 2 hari berturut-turut atau lebih.
2

ITAS COLLECTION

XVI

3. Oedema yang tetap pada jari tangan dan mata. Klasifikasi menurut American Committee and Maternal Welfare. I. Hypertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan dan khas untuk kehamilan ialah preeklamsi dan Eklamsi. Diagnosa dibuat atas dasar Hypertensi dengan Proteinuri atau oedema atau keduaduanya pada wanita hamil setelah minggu ke 20. II. Hypertensi yang kronis (apapun sebabnya). Diagnose dibuat atas adnya hypertensi sebelum kehamilan atau penemuan hypertensi sebelum minggu ke 20 dari kehamilan dan hypertensi ini tetap setelah kehamilan berakhir. III. Preeklampsi dan Eklampsi ini terjadi atas dasar hypertensi cronis. Pasien dengan hypertensi yang kronis ini sering memberat penyakitnya dalam kehamilan, dengan gejala-gejala hypertensi naik, proteinuri, oedema dan kelainan retina. IV. Transient hypertension. Diagnosa dibuat kalau timbul hypertensi dalam kehamilan atau dalam 24 jam pertama dari nifs pada wanita yang tadinya normotensi dan ang hilang dalam 10 hari postpartum Penyakit hypertensi yang khas untuk kehamilan meruoakan penyakit hypertensi yang akut pada wanita hamil dan wanita dalam nifas. Pada tingkat tanpa kejang di sebut preeklamsi dan pada tingkat dengan kejang di sebut eklamsi. Preeklamsi memperlihatkan gejala hypertensi, proteinuri, atau hypertensi dengan oedema. Sedangkan eklamsi sama gejala-gejalanya dengan eklamsi ditambah dengan kejang dan atau coma. Gejala Subjektif tersebut ialah : 1. Sakit kepala yang keras karena vasospasme atau oedema otak. 2. Sakit diulu hati karena regangan selaput hati oleh haemorrhagia atau oedema, atau sakit karena perubahan pada lambung. 3. Gangguan Penglihatan : penglihatan menjadi kabur malah kadang-kadang pasien buta. Gangguan ini disebabkan vasospasmus oeema atau albatio retina. Perubahan-perubahan ini dapat dilihat dengan ophtalmoskop. Etiologi Sebab preeklamsia belum diketau dengan jelas tapi pada penderita yang meninggal karena eklamsi terdapat perubahan yang khas pada berbagai organ, tapi kelainan yang mmenyertai penyakit ini adalah spasmus arteriole, retensi Na dan air dan koagulasi intravaskuler. Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini akan tetapi penyakit ini yang menimbulkan gejala yang menyertai eklamsi. Vasospasme menyebabkan : hypertensi, pada otak sebabkan sakit kepala kejang, pada ginjal sebabkan oliguri insuffisiensi, pada hati sebabkan ikterus, pada retina sebabkan amourose.

ITAS COLLECTION

XVI

Preeklamsi adalah penyakit primigravida dan kalu timbul pada seorang multigravida biasanya ada factor predisposisi seperti hyperensi, diabetes atau kehamilan ganda. Gejala-gejala : 1. Hypertensi : Gejala yang paling dulu timbul ialah hypertensi, sebagai batas 140 mm sistolik dan 90mm diastolic tapi juga kenaikan sistolik 30mm atau diastole 15 mm. Tekanan darah dapat mencapai 180mm sistolik dan 110mm diastolic tapi jarang mencapai 200mm. jika tekanan darah melebihi 200mm sebabnya biasa hipertensi esentialis. 2. Oedema : timbulnya oedema ditandai dengan bertambahnya berat badan yang berlebihan. Penambahan berat kg pada seorang yang hamil dianggap normal, tapi kalau mencapai 1 kg dalam seminggu atau 3kg dalam sebuan preeklamsi harus dicurigai. Tambah berat badan sekonyong-konyongnya ini disebakan retensi air dalam jaringan dan kemudia baru oedema Nampak, oedema tidak hilng dengan istirahat. 3. Proteinuria : sering ditemukan pada preeklamsi, rupa-rupanya karena vasospasmus pembuluhpembuluh darah Ginjal. Proteinuri biasanya timbul lebih lambat dari hypertensi dan tambah berat. 4. Gejala-gejala Subectiv : perlu ditekankan bahwa hypertensi, tambah berat dan proteinuri yang merupakan gejala-gejala yang terpenting dari preeklamsi tidak diketahui oleh penderita. Baru pada preeklamsi yang lanjut timbul gejala-gejala subjective yag membawa pasien ke dokter. 2.1. PREEKLAMPSIA Preeklampsia diketahui dengan timbulnya hypertensi, proteinuria dan oedema pada seorang gravida yang tadinya normal. Penyakit ini timbul sesudah minggu ke 20 dan paling sering terjadi pada primigravida yang muda. Kematian bayi ini terutama disebabkan partus prematurus yang merupakan akibat dari penyakit jantung hypertensi. Dari gejala gejala klinik preeklampsia dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan dan berat. a. Preeklampsia Ringan Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel. Diagnosis preeklampsia ringan ditegakkan berdasarkan atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan / atau setelah kehamilan 20 minggu. Hipertensi : sistolik / diastolik 140/90 mmHg. Proteinuria : 300 mg / 24 jam atau 1 + dipstik Edema : edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata. b. Preeklampsia Berat
4

ITAS COLLECTION

XVI

Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolik 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 gr/24 jam. Preeklamsia disebut berat kalau ditemukan satu atau lebih gejala berikut : Tekanan darah sistolik 160 atau lebih atau diastolik 110 atau lebih, diukur 2 kali dengan antara sekurang-kurangnya 6 jam dan pasien dalam istirahat rebah. Proteinuria 5 gram atau lebih dalam 24 jam. Oliguri 400 cc atau kurang dalam 24 jam. Gangguan cerebral atau gangguan penglihatan. Edema paru-paru atau cyanosis. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson). Hemolisis mikroangiopatik Trombositopenia berat : < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan cepat. Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular) Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat. Sindrom HELLP. Preeklampsia berat dibagi menjadi (a) preeklampsia berat tanpa impending eclampsia dan (b) preeklampsia berat dengan impending eclampsia. Disebut impending eclampsia bila preeklampsia berat disertai gejala gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, nyeri epigastrium, muntah muntah dan kenaikan progresif tekanan darah. Etiologi Penyebab preeklamsi belum diketahui dengan pasti. Meskipun demikian penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil yang : a) Primigravida b) Hiperplasentosis : pada kehamilan kembar, anak besar, mola hidatidosa, dan hidrops fetalis. c) Mempunyai dasar penyakit vascular hipertensi atau diabetes mellitus. d) Mempunyai riwayat preeklamsi/eklamsi dalam keluarganya. Berbagai Teori yang dukemukakan mengenai factor yang berperan dalam penyakit ini antara lain: 1) Factor imuunologis, endokrin, atau genetic hal ini di dasarkan atas pengamatan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada : a) Primigravida. b) Hiperplasentosis. c) Kehamilan dengan inseminasi Donor.
5

ITAS COLLECTION

XVI

d) Penurunan konsentrasi Komplemen C4. e) Wanita dengan fenotip HLA DR4. f) Adanya aktifitas system komplemen netrofil dan makrofag, atau diantara kelompok atau keluarga tertentu. 2) Faktor Nutrisi : Ada yang mengemukakan bahwa penyakit ini berhubungan dengan beberapa keadaan kekurangan kalsium, protein, kelebihan garam natrium, atau kekurangan asam lemak tak jenuh dalam makanannya. 3) Faktor Endotel : berhubungan dengan peranan dalam mengatur keseimbangan antara kadar zat vasokonstriksi dan vasodilator serta pengaruh pada system pembekuan darah. Patogenesis Walaupun etiologinya belum jelas, hampir semua ahli sepakat bahwa vasospasme merupakan awal dari kejadian penyakit ini. Vasospasme bisa merupakan akibat dari kegagalan invasi trofoblas ke dalam lapisan otot polos pembuluh darah, reaksi imunologi, maupun radikal bebas. Vasokonstriksi yang meluas akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada banyak organ/sistem, antara lain: a. Kardiovaskular : 1) Hipertensi, 2) Pengurangan Curah Jantung, 3) Trombositopenia, 4) Gangguan pembekuan darah, 5) Perdarahan, 6) Disseminated intravascular Coagulation 7) Pengurangan volume plasma, 8) Permeabilitas pembuuluh darah meningkat, 9) edema b. Plasenta : 1) Nekrosis, 2) Pertumbuhan janin terhambat, 3) Gawat janin, 4) Solusio Plasenta. c. Ginjal : 1) Endoteliosis kapiler ginjal, 2) Penuruan klirens asam urat, 3) Penurunan laju filtrasi Glomerulus, 4) Oliguri, 5) Proteinuria, 6) Gagal ginjal. d. Otak : 1) Edema, 2) Hipoksia, 3) Kejang, 4) Gangguan Pembuluh darah otak. e. Hati : 1) Gangguan Fungsi hati, 2) Peninggian kadar enzim hati, 3) Ikterus, 4) edema, perdarahan dan regangan kapsuler hati. f. Mata : 1) Edema papil, 2) Iskemia, 3) Perdarahan, 4) Ablasio Retina. g. Paru : 1) Edema, iskemia dan nekrosis 2) Perdarahan, 3) Gangguan pernapasan hingga apnue. Diagnosis Diagnosis preeklampsia ditegakan apabila pada seorang wanita hamil dengan umur kehamilan 20 minggu atau lebih ditemukan gejala hipertensi, proteinuria, dan atau edema. Penyakit yang harus disingkirkan adalah penyakit Ginjal misalnya glomerulonefritis akut dan hipertensi esensial. Membedakan penyakit ini dari hipertensi essensial kadang-kadng sulit, tetapi gejala yang mengarah ke hipertensi essensial yaitu : Tekanan darah >200, pembesaran jantung, Multiparitas terutama jika pasien di atas 30 tahun, pernah menderita preeklamsi pada kehamilan yang lalu, tidak adanya edema dan proteinuria, perdarahan dalam retina.
6

ITAS COLLECTION

XVI

Prognosis Bergantung pada terjadinya eklamsia. Prognosis untuk anak juga berkurang, tetapi bergantung pada saatnya preeklamsi menjelma dan pada beratnya preeklamsi. Ada ahli yang berpendapat bahwa preeklamsi dapat menyebabkan hipertensi yang menetap, terutama jika preeklamsi berlangsung lama atau dengan perkataan lain jika gejala-gejala preeklamsi timbul dini. Pengobatan a. Profilaksis Pada permuaan preeklamsi tidak memberikan gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh pasien sendiri, oleh karena itu diagnosis dini hanya dapat dibuat selama prenatal care yang baik. Pasien juga harus mengetahui tanda-tanda bahaya, yaitu sakit kepala, gangguan penglihatan, dan bengkaknya tangan dan muka. Jika salah satu gejala muncul harus segera memeriksakan diri jangan menunggu pemeriksaan rutin. Beberapa cara pencegahan preeklamsia digunakan sebagai berikut : Perbaikan Nutrisi a) Diet rendah garam, b) diet rendah protein, c) Suplemen kalsium, d) suplemen Magnesium, e) Suplemen Seng, f) Suplemen asam Linoleat Intervensi Farmakologi a) Obat antihipertensi, b) teofilin, c) Dipiridamol, d) Asam asetil salisilat (aspirin), e ) heparin, f) Vitamin E, g) Diuretikum b. Preeklampsia Ringan Masih akan mengalami perbaikan dengan cara istirahkan dengan pemberian sedative. Namun harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Rawat Jalan : banyak istirahat, diet cukup protein rendah karbohidrat lemak dan garam, sedative ringan berupa fenobarbital 3x 30 mg per oral atau Diazepam 3 x 2 mg per oral selama 7 hari, lalu Roboransia, lalu anjurkan lakuan kunjungan ulang setiap minggu 2. Rawat Inap : setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak ada perbaikan pada gejala klinis, berat badan meningkat >2 kg/minggu selama dua kali berturut-turut, timbul salah satu atau lebih gejalah preekamsi berat. c. Preeklampsia Berat Tujuan pengobatan Preeklamsi adalah : mencegah terjadinya eklamsi, anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar, persalinan harus dengan trauma yang sedikit-dikitnya dengan upaya menghindari kesulitan pada kehamilan atau persalinan berikutnya, dan mencegah hipertensi yang menetap. Pengobatan Medikamentosa
7

yang pernah

ITAS COLLECTION

XVI

1. Obat Antikejang a) Terapi pilhan pada preeklamsi adalah magnesium sulfat di berikan 4 gram 20% (20cc) IV dan disusul dengan 8 gram 40% (20cc) IM. Sebagai dosis pemeliharaan diberikan 4 gram lagi magnesium sulfat 40% IM setip 6 jam sekali setelah dosis awal. Syarat-syarat pemberian magnesium sulfat : *) Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas 10% ( 1 grm dalam 10 cc) *) Frekuensi pernapasan 16 kali permenit *) Produksi urin 30 cc per jam ( 0,5 cc/kgBB/jam) *) Reflex Patela positif Magnesium sulfat dihentian pemberiannya apabila : *) Ada tanda-tanda Intoksikasi *) Setelah 24 jam Pasca persalinan *) Dalam 6 jam pasca persalinan, sudah terjadi perbaikan (normotensi) Diazepam : apabila tidak tersedia magnesium sulfat , dapat di berikan injeksi diazepam 10 mg IV , dapat diulangi setelah 6 jam. 2. Obat Antihipertensi dapat di pilih antara lain : a. Hidralazin 2 mg IV, dilanjutkan dengan 100mg dalam 500cc NaCl dengan titrasi sampai tekanan darah sistolik < 170 mmHg dan diastolic < 110 mmHg. b. Klonidin 1 ampul dalam 10 cc NaCl IV, dilanjutkan dengan titrasi 7 ampul dalam 500 cc cairan A2 atau Ringer Lactat. c. Nifedipin peroral 3-4 kali 10 mg. d. Obat-obat lain seperti : metildopa, etanolol, dan labetalol. e. Obat antihipertensi hanya diberikan jika tekanan darah sistolik > 180mmHg dan diastolic >110 mmHg. Pengelolahan Obstetrik Pengelolahan obstetric yang terbaik untuk preeklamsi ialah mengakhiri kehamilan karena : 1) Kehamilan itu sendiri 2) Preeklampsia akan membaik setelah persalinan. 3) Untuk mencegah kematian janin dan ibunya. Meskipun demikian, pabila kehamilannya belum matur, ibu dan janin masih baik maka dapat dirawat secara konservatif untuk mempertahankan kehamilan sampai berumur 37 minggu. Apabila persyaratan konserfativ belum dipenuhi, sebaiknya segera di akhiri dengan induki atau augmentasi. Persalinan pervaginam di selesaikan dengan partus buatan dan bila ada indikasi dapat dilakukan seksio sesarea.
8

ITAS COLLECTION

XVI

2.2. EKLAMPSIA Eklampsi adalah kasus akut pada penderita preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma, eklampsia dapat timbul pada ante, intra dan postpartum. Eklampsi anterpartum adalah eklampsi yang terjadi sebelum persalinan dan yang paling sering terjadi, eklampsi intrapartum adalah eklampsi sewaktu persalinan, dan eklampsi setelah persalinan biasanya timbul dalam 24 jam setelah partus. Eklampsi paling sering terjadi pada trimester akhir dan menjadi semakin sering mendekati aterm. Eklampsia lebih sering terjadi pada : 1. Kehamilan kembar 2. Hydramnion 3. Mola hydatidosa, pada mola hydatidosa eklampsi dapat terjadi sebelum bulan ke 6. Gejala gejala eklampsi : Eklampsi selalu didahului oleh gejala-gejala preeklampsi. Gejala-gejala preeklampsi yang berat seperti : Sakit kepala yang keras Penglihatan kabur Nyeri di ulu hati Kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahului kejang. Serangan kejang biasanya dimulai di sekitar mulut dalam bentuk kedutan-kedutan wajah. Setelah beberapa detik, seluruh tubuh menjadi kaku dalam suatu kontraksi otot generalisata. Fase ini dapat menetap selama 15 sampai 20 detik. Mendadak rahang mulai membuka dan menutup secara kuat, dan segera diikuti oleh kelopak mata. Otot-otot wajah yang lain dan kemudian semua otot melakukan kontraksi dan relaksasi bergantian secara cepat. Gerakan otot sedemikian kuatnya sehingga wanita yang bersangkutan dapat terlempar dari tempat tidur dan, apabila tidak dilindungi, lidahnya tergigit oleh gerakan rahang yang hebat. Fase ini, saat terjadi kontraksi dan relaksasi otot-otot secara bergantian, dapat berlangsung sekitar satu menit. Secara bertahap, gerakan otot menjadi lemah dan jarang, dan akhirnya wanita yang bersangkutan tidak bergerak. Sepanjang serangan, diafragma terfiksasi dan pernapasan tertahan. Selama beberapa detik wanita yang bersangkutan seolah-olah sekarat akibat henti napas, tetapi kemudian ia menarik napas dalam, panjang, dan berbunyi lalu kembali bernapas. Ia kemudian mengalami koma. Ia tidak akan mengingat serangan kejang tersebut atau pada umumnya, kejadian sesaat sebelum dan sesudahnya. Seiring dengan waktu ingatan ini akan pulih.

ITAS COLLECTION

XVI

Kejang pertama biasanya menjadi pendahulu kejang-kejang berikutnya yang jumlahnya dapat bervariasi dari satu atau dua pada kasus ringan sampai bahkan 100 atau lebih pada kasus berat yang tidak diobati. Pada kasus yang jarang, kejang terjadi berurutan sedemikian cepat sehingga wanita yang bersangkutan tampak mengalami kejang yang berkepanjangan dan hampir kontinu. Durasi koma setelah kejang bervariasi, apabila kejangnya jarang wanita bersangkutan biasanya pulih sebagian kesadarannya setelah setiap serangan. Sewaktu sadar, dapat timbul keadaan setengah sadar dengan usaha perlawanan. Pada kasus yang sangat berat, koma menetap dari satu kejang ke kejang yang lainnya dan pasien dapat meninggal sebelum ia sadar. Meski jarang, satu kali kejang dapat diikuti koma yang berkepanjangan walaupun, umumnya kematian tidak terjadi sampai setelah kejang berulang-ulang. Diagnosa Untuk diagnosa eklampsi harus dikesampingkan keadaan-keadaaan lain dengan kejang dan koma seperti uraemi, keracunan, epilepsi, hysteri, encephalitis, meningitis, tumor otak dan atrofi kuning dari hati. Diagnosa eklampsi lebih dari 24 jam postpartum harus dicurigai. Diagnosis Banding : Umumnya eklampsia lebih sering kemungkinannya terlalu sering didiagnosis (overdiagnosis) daripada kurang terdiagnosis karena epilepsi, ensefalitis, meningitis, tumor serebri, sistiserkosis, dan ruptur aneurisma serebri pada kehamilan tahap lanjut dan masa nifas dapat menyerupai eklampsia. Namun, sampai kausa-kausa lain ini disingkirkan, semua wanita hamil dengan kejang harus dianggap menderita eklampsia. Prognosis : Prognosis untuk eklampsia selalu serius, penyakit ini adalah salah satu penyakit paling berbahaya yang dapat mengenai wanita hamil dan janinnya. Ini juga dipengaruhi oleh paritas artinya bagi multipara lebih buruk, dipengaruhi juga oleh umur terutama kalau masuk umur lebih dari 35 tahun dan juga keadaan pada waktu pasien masuk Rumah Sakit. Gejala gejala lain yang memberatkan prognosa dikemukakan oleh Eden ialah : Coma yang lama. Nadi di atas 120x. Suhu di atas 390 C. Tensi di atas 200 mm Hg. Lebih dari 10 serangan. Proteinuria 10 gram sehari atau lebih.
10

ITAS COLLECTION

XVI

Tidak adanya oedema. Terapi : Profilaksis : Dengan pencegahan, diagnosa dini dan terapi yang cepat dan intesif dari preeklampsia. Maka pengaturan diit dan berat badan selanjutnya, pengukuran tensi, pemeriksaan urine dan tambah berat badan merupakan pekerjaan yang sangat penting disusul dengan pengobatan dan kalau perlu pengakhiran kehamilan. Pengobatan Medikamentosa : 1. Pengendalian kejang dengan magnesium sulfat intravena dosis bolus. Terapi magnesium sulfat ini dilanjutkan dengan infus kontinu atau dosis bolus intramuskular dan diikuti oleh suntikan intramuskular berkala. 2. Pemberian obat antihipertensi oral atau intravena intermitten untuk menurunkan tekanan darah apabila tekanan diastolik dianggap terlalu tinggi dan berbahaya. Sebagian dokter mengobati pada saat tekanan diastolik mencapai 100 mmHg, sebagian pada 105 mmHg, dan sebagian lagi pada 110 mmHg. Antihipertensi yang digunakan untuk terapi eklampsi adalah : Hidralazin untuk mengendalikan hipertensi berat, hidralazin diberikan secara intravena apabila tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih. Sebagian penulis merekomendasikan terapi apabila tekanan diastolik melebihi 100 mmHg dan sebagian lagi menggunakan 105 mmHg sebagai batasan (Cunningham dan Lindheimer, 1992; Sibai, 1996). Karena belum ada data yang pasti, the Working Group (National High Blood Pressure Education Program, 2000) menganjurkan angka kompromi, yaitu tekanan sistolik menetap sama dengan atau lebih dari 160 mmHg dan /atau tekanan diastolik lebih dari 105 mmHg. Hidralazin diberikan dengan dosis 5 sampai 10 mg setiap 15 sampai 20 menit sampai tercapai respon yang memuaskan. Labetalol intravena juga digunakan untuk mengobati hipertensi akut pada kehamilan. Labetalol lebih cepat menurunkan tekanan darah, tetapi hidralazin menurunkan tekanan darah arteri rata-rata ke tingkat aman secara lebih efektif. Obat Antihipertensi lain, The Working Group merekomendasikan Nifedipin dosis oral 10 mg yang diulang dalam 30 menit. Verapamil melalui infus intravena dengan kecepatan 5 sampai 10 mg per jam, tekanan arteri rata-rata menurun sebesar 20%. Nimodipin yang diberikan melalui infus kontinu serta per oral efektif menurunkan tekanan darah pada wanita dengan preeklampsia berat. Ketanserin intravena, suatu penyekat selektif reseptor serotonin.
11

ITAS COLLECTION

XVI

3. Menghindari diuretik dan pembatasan pemberian cairan intravena, kecuali apabila pengeluaran cairan berlebihan. Zat-zat hiperosmotik dihindari. 4. Pelahiran. 2.3. Hipertensi Kronik Hipertensi kronik dalam kehamilan ialah hipertensi yang didapatkan sebelum timbulnya kehamilan. Apabila tidak diketahui adanya hipertensi sebelum kehamilan, maka hipertensi kronik didefinisikan bila didapatkan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg sebelum umur kehamilan 20 minggu. Diagnosis hipertensi kronik ialah bila didapatkan hipertensi yang telah timbul sebelum kehamilan, atau timbul hipertensi < 20 minggu umur kehamilan. Ciri-ciri hipertensi kronik : Umur ibu relatif tua di atas 35 tahun. Tekanan darah sangat tinggi ( di atas 140/90 mmHg). Umumnya multipara. Umumnya ditemukan kelainan jantung, ginjal, dan diabetes mellitus. Obesitas. Penggunaan obat-obat antihipertensi sebelum kehamilan. Hipertensi yang menetap pascapersalinan. Dampak hipertensi kronik pada kehamilan Dampak pada ibu Hipertensi kronik yang diperberat oleh kehamilan akan memberikan tanda (a) kenaikan mendadak tekanan darah, yang akhirnya disusul proteinuria dan (b) tekanan darah sistolik > 200 mmHg diastolik > 130 mmHg, dengan akibat segera terjadi oliguria dan gangguan ginjal. Penyulit hipertensi kronik pada kehamilan ialah (a) solusio plasensa : resiko terjadinya solusio plasenta 2 3 kali pada hipertensi kronik dan (b) superimposed preeklampsia. Dampak pada janin Dampak hipertensi kronik pada janin ialah pertumbuhan janin terhambat atau fetal growth restriction, intra uterin growth restriction : IUGR . Insidens fetal growth restriction berbanding langsung dengan derajat hipertensi yang disebabkan menurunnya perfusi uteroplasenta, sehingga menimbulkan insufisiensi plasenta. Dampak lain ialah peningkatan persalinan preterm. Pemeriksaan Laboratorium

12

ITAS COLLECTION

XVI

Pemeriksaan khusus berupa ECG ( eko kardiografi ), pemeriksaan mata, dan pemeriksaan USG ginjal. Pemeriksaan laboratorium lain ialah fungsi ginjal, fungsi hepar, Hb, hematokrit, dan trombosit. Pemeriksaan Janin Perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi janin. Pengelolaan pada kehamilan Untuk meminimalkan atau mencegah dampak buruk pada ibu ataupun janin akibat hipertensi ataupun akibat obat-obat antihipertensi. Terapi Medikamentosa Jenis antihipertensi yang digunakan pada hipertensi kronik, ialah : Metildopa : Suatu 2 - reseptor agonis, dosis awal 500 mg 3x per hari, maksimal 3 gram per hari Calcium channel blockers : Nifedipin dosis bervariasi antara 30 90 mg per hari. Diuretik thiazide : tidak diberikan karena akan mengganggu volume plasma sehingga mengganggu aliran darah utero-plasenta. B. PENYULIT KEHAMILAN 1. KELAINAN ALAT KANDUNGAN Perkembangan Duktus Mlleri Diferensiasi seksual terjadi pada awal kehidupan janin. Sampai usia janin 6 minggu system genitalia pria dan wanita tanpa perbedaan. Terdapat 2 duktus genitalia: 1. Duktus Mesonefrik (Wolffian) 2. Duktus paramesonefrik (Mlllerian) Duktus Wolffii melakukan degenerasi dan membuat pematangan duktus Mlleri. Duktus mlleri berkembang kea rah ekor dan tertutup pada arah peritoneal fold yang kemudian berkembang menjadi ligamentum latum dari uterus, ovarium, tuba fallopii dan uterus melekat. Pada kehamilan 9 minggu, septum yang memisahkan bagian yang menyatu mulai di serap, membentuk suatu saluran canalis uterovaginal. Suatu hari nanti saluran ini akan membentuk uterus dan bagian atas vagina, bagian cranial duktus mlleri tidak menyatu membentuk tuba falloppii. Bagian bawah, dibentuk oleh tuberositas sinovaginal dari pada sinus urogenitalis. Kanalis uterovaginalis memanjang dan menyatu dengan sinus urogenitalis untuk membentuk saluran traktus reproduksi perempuan. a. Klasifikasi 1) Septum Uterus (Uterus Septus)
13

ITAS COLLECTION

XVI

Penyerapan yang tidak lengkap dari septum uterovaginalis. Paling banyak terjadi pada masyarakat. Septum (jaringan fibromuskular) terjadi pada uterus uteri memanjang sampai membagi kavum uteri menjadi 2 bagian sampai dengan osteum uteri. Dapat pula membentuk dinding yang segmental/tidak sempurna pada kavum uteri. Septum uteri dapat menghambat pertumbuhan janin, kegagalan vaskularisasi dengan mengurangi kapasitas endometrium, terjadi keguguran pada trimester II dan persalinan teratur. Pengobatan: insisi septum dengan histeroskopi di antara dinding anterior dan posterior dengan menggunakan gunting mikro, elektrosurgery atau fiberoptic laser energy. Gunting lebih efektif di banding laser karena tidak adanya resiko kerusakan pendarahan miometrium karena panas yang dapat menyebakan terjadinya sinekhia intrauterin. 2) Uterus Unikornis Terbentuknya uterus saja atau kornu yang rudimenter. Bila hanya terbentuk kavum dengan kornu yang rudimenter, pasien akan mengalami nyeri panggung unilateral karena siklus haid sebagai keluhan akibat terbentuknya hematometra. Pathogenesis kehilangan kehamilan terutama berhubungan dengan berkurangnya volume intraluminal atau perdarahan pada janin yang sedang mengalami perkembangan, kemungkinan besar terjadinya servical incompetence karena kelainan uterus. Di anjurkan untuk melakukan reseksi pada uterus unikornis dengan kornu yang rudimenter karena indikasi dismenoroe dan hematometra serta kemungkinan kehamilan ektopik. 3) Uterus Didelfis Terdapat dua uterus, dua serviks dan dua vagina. Septum pada vagina akan menyebabkan kesulitan dalam berhubungan intim dan persalinan melalui jalan lahir. Reseksi septum vagina mungkin di perlukan apabila terdapat keluhan. Teknik bedah untuk menyatukan uterus adalah metode metroplasti Strassman. Prosedur ini membiarkan adanya dua serviks dan menyatukan fundus uteri dengan cara insisi melintang di fundus uteri dari kornu ke kornu untuk memperlihatkan kavum uteri kemudian penutupan secara vertical akan mendekatkan ke dua kornu. 4) Uterus Bikornis Fusi yang tidak sempurna kornu uterus setinggi fundus, sehingga terdapat 2 kavum uteri yang saling berhubungan dan satu serviks. Ada 2 bentuk : Uterus bikornis kompletus Uterus bikornis parsialis

14

ITAS COLLECTION

XVI

Terjadi belahan yang dimulai dari luar uterus sampai mencapai ostium uteri pada uterus bikornis kompletus dan kurang dari itu pada uterus bikornis kompletus. Intervensi bedah: metroplasti Strassman. 5) Uterus Akuartus Septum uterovaginal meninggalkan tonjolan di kavum ueri bagian fundus. 6) DES Exposure DES adalah estrogen aktif sistesis oral. Kehilangan janin sering terjadi pada penggunaan pengobatan DES. Bentuk T kavum uteri, uterus yang kecil, ring konstriksi, tidak terbentuknya kavum uteri. b. Kelainan uterus didapat: 1. Perlekatan Intrauterin Trauma intrauterine akibat endometritis pasca abortus adalah penyebab terjadinya perlengkatan. Sindrom Asherman yaitu perlengkatan ringan sampai dengan ablasi seluruh kavum uteri. Perlekatan ini menyebabkan penurunan volume kavum uteri dan dapat berpengaruh pada pertumbuhan placenta. Eksisi bedah dengan histeroskopi mengurangi perlekatan intrauterin 2. Kelainan pada kavum uteri Kelainan pada cavum uteri leiomiomas dan polip dapat menyebabkan terjadinya kehilangan kehamilan. Mioma adalah mioma yang paling sering terjadipada perempuan usia reproduksi. Tumor diklafikasikan berdasarkan letaknya pada uterus dan disebut sesuai dengan letaknya sebagai mioma uteri subserosa, intramural dan submukosa. Fibroid dikelompokkan sebagai mioma uteri subserosa apabila letaknya dibawah jaringan serosa dan apabila 50% tumor menonjol keluar dari permukaan serosa. Apabila penonjolan kurang dari 50% dan fibroid berada dalam miometrium di sebut mioma uteri intramural. Fibroid submukosa menonjol ke arah submukosa menonjol kedalam cavum uteri dan terletak di samping endometrium. 3. Inkompetensi serviks (cervical Incompetence) Diagnosis didasarkan pada adanya ketidakmampuan cerviks uteri untuk mempertahankan kehamilan. Sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada trimester II. Kelainan ini dapat berhubungan dengan kelainan uterus yang lain seperti septum uterus dan bikornis dan jarang berhubungan dengan DES. Sebagian besar kasus merupakan akibat dari trauma bedah pada serviks pada konisasi, prosedur eksisi loop electrosurgical, dilatasi berlebihan serviks pada terminasi kehamilan atau laserasi obstetrik. 2. PENYAKIT INFEKSI DALAM KEHAMILAN PENYAKIT INFEKSI
15

ITAS COLLECTION

XVI

Ibu hamil yang sangat peka terhadap terjadinya infeksi dari berbagai mikroorganisme. Secara fisiologik, system imun pada ibu hamil menurun, kemungkinan sebagai akibat dari toleransisistem imun ibu terhadap bayi yang merupakan jaringan semi-alogenik, meskipun tidak memberikan pengaruh secara klinik. Bayi intra uterine baru membentuk system imun pada umur kehamilan sekitar 12 minggu, kemudian meningkat pada kehamilan 26 minggu hampir sama pada system imun ibu hamil itu sendiri. Pada masa perinatal bayi akan mendapat antibody yang dimiliki oleh ibu, tetapi setelah 2 bulan antibody akan menurun. Secara anatomic dan fisiologik ibu hamil juga mengalami perubahan, mis pada ginjal dan saluran kencing sehingga mempermudah terjadinya infeksi. Infeksi bisa di akibatkan oleh bakteri, virus dan parasit sedangkan penularan bisa terjadi intrauterine pada waktu persalinan atau pascalahir. Transmisi bisa secara transplasental ataupun melalui aliran darah atau cairan amnion. a. INFEKSI VIRUS Parvovirus Parvovirus B19 merupakan single stranded DNA yang mengadakan replikasi pada sel yang berproliferasi cepat. Karena itu pada perempuan dengan anemia hemolitik infeksi parvovirus dapat menyebabkan aplastik krisis, tetapi infeksinya sendiri tidak dipengaruhi oleh kehamilan. Manisfestasi klinik umumnya ringan dan pada orang dewasa 20-30% tanpa gejala, tetapi dapat menimbulkan kematian janin dalam kandungan. Penularan terjadi melalui saluran nafas atau oral dan viremia akan terjadi 4-14 hari setelah terjadi dengan keluhan panas, sakit kepala seperti influenza kemudian disertai dengan bercak merah dan adanya eritroderma di muka yang menyebar ke badan dan kaki. Pada pemeriksaan darah akan didapatkan IgM antibody dalam 1012 hari setelah infeksi dan menetap 3-6 bulan. IgG akan positif beberapa hari setelah IgM positif dan menetap seumur hidup. Dampaknya terhadap janin, akan menyebabkan abortus hidrop nonimun dan kematian janin dan secara total menyebabkan kegagalan kehamilan sebesar 10%. Masa kritis pada infeksi ini adalah pada umur kehamilan 22-23 minggu. Varisela - Zoster Virus ini termasuk kelompok DNA Herpes Virus. Pada kehamilan infeksi varisela terjadi lebih parah dan terjadi komplikasi pneumonia. Infeksi pmimer varisela bisa mengalami reaktivasi setelah beberapa tahun dalam bentuk herpes Zoster. Infeksi varisela pada ibu hamil trimester I mungkin menyebabkan cacat bawaan seperti korioretinitis, atrofi korteks serebri, hidronefrosis, dan kelainan pada tulang dan kulit. Masa inkubasi virus ini umumnya kurang dari 2 minggu. Jika masa persalinan terjadi sebelum masa inkubasi maka karena antibody pada tubuh ibu belum terbentuk maka bayi akan terinfeksi dan
16

ITAS COLLECTION

XVI

menimbulkan cacat pada usus dan susunan saraf pusat. Oleh karena itu bayi yang lahir dari ibu hamil tersebut harus disuntik dengan (Vericella Zoster Immunoglobin) VZIG atau ZIG dengan dosis 125 U/10kgBB. Influenza Disebabkan infeksi RNA virus influenza A dan B. Virus influenza A menyebar lewat droplet dan menyebabkan komplikasi pneumonia pada kasus ibu hamil dengan influenza. Virus H5N1 (avian influenza) merupakan epidemic yang menyebar lewat unggas yang terinfeksi. Amantadine atau rimantadine 200mg/hari sebagai profilaksis pada ibu yang rentan dan pengobatan dapat mencegah 50-90% infeksi klinik dan bila diberikan dalam 48 jam setelah timbul gejala dapat mengurangi tingkat keparahan. Rubella Disebabkan oleh virus. Kalau timbul pada wanita dalam triwulan pertama dari kehamilannya maka 50% dari anak akan lahir dengan cacat bawaan seperti katarak, kelainan jantung, kelainan dalam telinga yang menyebabkan tuli. Makin muda kehamilannya waktu ibu diserang penyakit ini maka besar kemungkinan anak menderita cacat bawaan. Virus Hepatitis Tujuh macam Virus Hepatitis (HVA, HVB, HCV, HDV, HEV, TTV, HGV). Infeksi virus yang memberikan pengaruh khusus pada kehamilan adalah Virus Hepatitis B, Virus Hepatitis D dan Virus Hepatitis E. Virus Hepatitis B Kehamilan sendiri tidak akan memperberat infeksi virus hepatitis, akan tetapi jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan mortalitas tinggi pada ibu dan bayi. Gejala fulminan antara lain: sangat ikterik, nyeri perut kanan atas, kesadaran menurun dan hasil pemeriksaan urin warna seperti teh pekat, urobilin dan bilirubin positif, pada pada pemeriksaan darah selain urobilin dan bilirubin positf SGOT dan SGPT sangat tinggi di atas 1.000 pada ibu dapat menimbulkan abortus dan tejadinya perdarahan pasca persalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat gangguan fungsi hati. Biasanya bayi tidak terjadi masalah pada masa neonatus, tetapi pada masa dewasa. Jika terjadi penularan vertikal VHB maka menjadi pengidap kronik VHB dan kemungkinan akan menderita kanker hati sirosis hati sekitar 40 tahun kemudian. Imunisasi, penularan dari ibu ke bayi sebagian besar dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah telah menaruh perhatian dengan program pemberian vaksinsi HB bagi semua
17

ITAS COLLECTION

XVI

bayi yang lahir terhadap penularan vertical VHB dengan dosis 5 mikrogram pada hari ke 0, umur 1, dan 6 bulan tanpa mengetahui bayi tersebut lahir dari ibu dengan HBsAg positif atau tidak. Selektif imunisasi dilakukan pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, yaitu dengan pemberian Hepatitis B ImmunoGlobulin (HBIG) + vaksin HB, vaksin mengandung pre S2 atau pemakaian vaksin dengan dosis dewasa pada hari 0, 1 bulan, dan 2 bulan. Virus Hepatitis A (VHA) VHA ditularkan secara fekal oral, di Jayapura anak usia lebih dari 15 tahun 100% positif di tahun 1990. Yang menjadi masalah ialah pada golongan social ekonomi relative tinggi dimana hygiene dan sanitasi baik, antibodi orang dewasa terhadap VHA rendah sehingga jika terjadi wabah sangat mudah tertular. Pada kehamilan masalah yang bisa terjadi adalah kalau Hepatitis fulminan pada infeksi akut, kemungkinan terjadi perdarahan karena ganguan pembekuan darah. Virus Hepatitis Delta (VHD) VHD memerlukan HBsAg untuk replikasi. Jadi baru bisa menyebabkan infeksi jika jika terdapat infeksi VHB. Ada 2 tipe infeksi VHD: Super infeksi, pada awalnya terdapat infeksi VHB, kemudian baru terinfeksi oleh VHD. Ko-infeksi, VHB dan VHD menginfeksi bersama-sama. Virus ini ditularkan secara seksual atau melalui jarum suntik. Pasien yang terinfeksi secara ko-infeksi akan berakhir dengan kesembuhan tetapi yang terinfeksi secara super infeksi akan berakhir seperti halnya pada infeksi VHB, dimana 90% akan menjadi pengidap kronik dan jika hepatitis fulminan akan menyebabkan kematian 5-20%. Virus Hepatitis E (VHE) VHE mirip dengan VHA dimana keduanya ditularkan secara fekal oral. VHE mempunyai suatu kekhususan dalam terjadinya proporsi infeksi akut yang tinggi pada kehamilan jika terjadi wabah, dan besar kemungkinana akan terjadinya hepatitis fulminan dengan resiko kematian yang tinggi. Demam Dengue Merupakan infeksi oleh Virus Dengue. Penyakit ini umumnya di tularkan dari satu orang kepada orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti tetapi bisa juga Aedes Albupictus dan Aedes Poly nesiensis. Secara umum penyakit ini disebut Dengue syndrome dan dibagi menjadi 3 sesuai dengan gejalanya:
18

ITAS COLLECTION

XVI

Dengue fever (DF), panas mendadak dan berkesinambungan, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot, sendi dan tulang belakang, mual-muntah, nyeri perut, dan luekopenia. Dengue hemorrhagic fever (DHF), pada awal seperti dengue fever, kemudian tourniquet test positif, petekie/ekimosis/purpura, perdarahan ( pada gusi dan bekas suntik, epistaksis, hematemesis, melena, hematuri), efusi pleura dan asites. Pemeriksaan lab; trombosit 100.000 atau kurang, peningkatan hematokrit 20%, atau penurunan hematokrit 20% setelah terapi cairan. Dengue shock syndrome, timbul tanda-tanda syok terutama narrow pulse pressure kurang atau sama dengan 20mmHg. Penanganan : istirahat, antipiretik untuk panas di atas 39C dengan paracetamol setiap 6 jam, kompres dengan air hangat, terapi rehidrasi, pemeriksaan lab (Hb, luekosit,trombosit, hematokrit), pemeriksaan penunjang (foto torax dan USG). Pengaruh demam dengue terhadap kehamilan, mungkin yang akan terjadi kematian janin intra uterin. Jika infeksi terjadi pada masa persalinan dilaporkan bisa terjadi msa transmisi vertical dan bayi lahir dengan gejala trombositopenia, panas, hepatomegali dan gangguan sirkulasi. Keadaan ini tidak akan terjadi jika infeksi terjadi jauh dari masa persalinan. Pada saat persalinan bisa terjadi perdarahan karena adanya trombositopenia. b. INFEKSI BAKTERIAL Grup A Streptokokus Streptokokus piogenes, relatif jarang tetapi bakteri ini bisa menghasilkan banyak toksin dan dapat menyebabkan infeksi berat, seperti toxic shock like syndrome. Jika menghasilkan eksotoksin terjadi scarlet fever, erysipelas. Infeksi umumnya berupa infeksi pasca persalinan, radang otot uterus, peritonitis dan abortus septik Grup B streptokokus Grup B Sterptokokus-Sagalaktiae (GBS) sering terdapat pada vagina dan rectum. Selama kehamilan kolonisasi bisa transien, intermiiten, atau kronik dan sprectum infeksi bervariasi dari adanya kolonisasi yang asimptomatik sampai sepsis. Transmisi bakteri intrapartum dari ibu ke bayi akan menyebabkan infeksi berkembang menjadi sepsis neonatal pada masa nifas. TBC PARU Kehamilan tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ini. Namun pada kehamilan dengan infeksi TBC resiko prematuritas, IUGR, dan berat badan lahir rendah meningkat, serta resiko kematian perinatal meningkat 6 kali lipat. Keadaan ini terjadi baik akibat diagnosis yang
19

ITAS COLLECTION

XVI

terlambat, pengobatan yang tidak teratur dan derajat keparahan lesi di paru, maupun infeksi ekstrapulmoner. Infeksi TBC dapat menginfeksi plasenta, biasanya dalam bentuk granuloma. Bentuk tuberkel jarang menginfeksi plasenta. Keadaan ini dapat menyebabkan infeksi pada janin yang menyebabkan tuberculosis congenital. Tuberculosis congenital juga termasuk bayi yang terinfeksi dari aspirasi secret pada proses persalinan. Neonatal tuberculosis dapat menstimulasi infeksi congenital lainnya, hepatosplenomegali, distress pernapasan, demam dan limfadenopati. Neonatal tuberculosis jarang terjadi bila ibu sudah mendapatkan pengobatan sebelum persalinan atau bila uji sputum BTA negative. Pada ibu dengan TBC aktif, resiko penularan pada bayi 50% pada tahun pertama. Penanganan Sebelum kehamilan perlu diberi konseling mengenai pengaruh kehamilan dan TBC serta pengobatan. Adanya TBC tidak merupakan indikasi untuk melakukan abortus. Pengobatan TBC dengan isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid tidak merupakan kontraindikasi pada kehamilan. Pengobatan TBC dengan amino-glikosida (streptomisin) merupakan kontraindikasi pada kehamilan karena dapat menyebabkan ototoksik pada janin. Pengobatan TBC dalam kehamilan menurut rekomendasi WHO aadalah dengan pemberian 4 regimen kombinasi isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid selama 6 bulan. Angka kesembuhan 90% pada pengobatan selama 6 bulan directly observed therapy (DOT) pada infeksi baru. Saat persalinan mungkin diperlukan pemberian oksigen yang adekuat dan cara persalinan sesuai indikasi obstetric. Pemakaian masker dan ruangan isolasi diperlukan untuk mencegah penularan. Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapatkan obat anti-TBC. Perlu dilakukan vaksinasi BCG setelah profilaksis dengan isoniazid 10 mg/kg/hari pada bayi dari ibu dengan tuberculosis. SYPHILIS Kehamilan tidak mempengaruhi jalannya syphilis. Sebaliknya pengaruh syphilis terhadap kehamilan sangat besar karena menyebabkan partus immaturus, partus praematurus, kematian anak dalam rahim atau anak lahir dengan lues congenital. Syphilis masih merupakan sebab yang penting dari kematian anak. Infeksi dari janin dengan spirochaeta pallid paling dini terjadi pada bulan ke V kehamilan. Kalau infeksi terjadi pendek sebelum persalinan tidak lebih lama dari 6 minggu maka anak lahir sehat. Tapi sebaliknya makin jauh infeksi ibu terjadi maka makin buruk
20

ITAS COLLECTION

XVI

prognosanya bagi anak. Placenta pada lues sering lebih besar dari biasa dan banyak infarknya. Diagnosa - Kalau dalam anamneses terdapat partus immaturus, partus praematurus atau kelahiran mati maka syphilis harus dipertimbangkan. - Reaksi serologis yang positif, tetapi kita harus ingat bahwa framboesia juga menyebabkan reaksi serologis yang positif. - Adanya gejala-gejala lues pada ibu seperti affect primer atau condylomata lata. - Tanda lues pada anak ialah: o o o o o Hati dan limpa membesar Osteochondritis luetica Pemphigus luetica, ialah gelembung-gelembung berisi cairan pada kulit, juga pada kulit telapak kaki dan tangan. Rhinitis haemorrhagica, dari hidung anak keluar lendir berdarah. Anemia

Kadang-kadang anak sehat waktu lahir tapi gejala-gejala lues timbul setelah beberapa minggu atau bulan. Kita juga mengenal lues congenital tarda dengan trias huchinson. Karena kebanyakan pasien tidak memperlihatkan gejala-gejala maka pemeriksaan serologis (Kahn, Meinicke, WR, VDRI) secara rutin pada wanita hamil sangatlah penting. Terapi Biasanya diberikan prokain penicillin dalam minyak sebanyak 4,8 6 juta satuan. Cara pemberian: 4,8 juta satuan : 8 x 2 cc (600.000 S) tiap 2 hari 6 cc 6 cc 4 cc dengan antara 3 hari 6 juta satuan : 10 x 2 cc tiap 2 hari 8 cc 4 cc 4 cc 4 cc tiap 3 hari Jadi dosis seluruhnya diberikan dalam 1 3 minggu, kalau perlu pengobatan ini dapat diulangi lagi. Setelah anak lahir, reaksi serologisnya diperiksa. Tanda-tanda bahwa anak menderita syphilis ialah: - Titer WR dalam darah anak lebih tinggi dari pada dalam darah ibu. - Titer yang naik dalam bulan-bulan pertama dari kehidupan. - Reaksi positif setelah 3 bulan. - Adanya tanda-tanda osteochondritis atau periostitis pada gambaran Rontgen. - Adanya spirochaeta pallid dalam preparat yang dibuat dari kelainan kulit anak.
21

ITAS COLLECTION

XVI

Terapi untuk bayi: Anak diberi 600.000 S penicillin G per kg berat badan. Untuk menghindarkan reaksi Herxheimer, penicillin ini diberikan dengan dosis yang mulamula rendah dan setiap hari dinaikkan dosisnya. LYMPHOPATHIA VENEREUM (lymphogranuloma inguinale) Penyakit ini disebabkan oleh virus dan termasuk penyakit kelamin. Dapat menimbulkan pengisulan jaringan misalnya pada rectum hingga terjadi strictur. Juga vagina kadang-kadang menyempit sedemikian rupa hingga persalinan harus diselesaikan dengan Sectio Caesarea. Pengobatan dengan aureomycin. GONORRHEA Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Kuman ini bersifat Gram negative, tampak di luar dan di dalam leukosit polimorfnuklear, tidak dapat bertahan di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan pada suhu 39C dan tidak tahan zat disinfektan. Sarang pada wanita adalah pada urethra, serviks, dan kelenjar bartolini. Daerah yang paling sering terinfeksi adalah serviks. Gejala-gejalanya ialah: Kencing sakit, air kencing bernanah Fluor albas bernanah yang kadang-kadang luar biasa banyaknya hingga menimbulkan condylomata acuminata. Gonorrhoea tidak mempengaruhi kehamilan, baru pada persalinan nifas dapat menimbulkan penyulit sebagai berikut: Biasanya gonococcus tidak dapat menjalar keatas karena terhalang oleh lendir kental dalam cerviks. Pada persalinan lendir ini lenyap dan ostium terbuka hingga gonococcus ada kesempatan untuk menjalar ke atas berturut-turut menyebabkan endometritis dan salpingitis. Salpingitis selanjutnya dapat menimbulkan kemandulan, hingga ibu dengan gonorrhea sering kali hanya beranak seorang (kemandulan anak seorang). Dapat juga menyebabkan sebab kehamilan ektopik. Anak yang melalui jalan lahir dapat kemasukan gonococcus kedalam matanya dan menderita conjunctivitis gonorrhoica (blennorrhoea neonatorum). c. INFEKSI MALARIA Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa dan disebarkan oleh gigitan nyamuk anopheles. Terdapat 4 plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia, yaitu palsifarum, vivax, ovale, malariae. Penyakit malaria yang terutama disebabkan oleh P. falsiparum dapat
22

ITAS COLLECTION

XVI

menyebabkna keadaan yang buruk pada ibu hamil. Seorang primigravida yang terkena penyakit malaria umumnya paling mudah mendapatkan komplikasi berupa anemia, demam, hipoglikemi, malaria serebral, edema paru, sepsis puerperalis, bahkan sampai kematian. Daerah epidemic atau transmisi malaria rendah Perempuan dewasa yang belum pernah terkena perasit dalam jumlah banyak sering kali menjadi sakit bila terinfeksi oleh parasit pertama kali. Kematian ibu hamil biasanya diakibatkan oleh penyakit malarianya sendiri atau akibat langsung anemia yang berat. Masalah yang bisa timbul adalah meningkatnya kejadian berat bayi lahir rendah, prematuritas, pertumbuhan janin terhambat, infeksi malaria dan kematian janin. Daerah dengan transmisi malaria sedang sampai tinggi Pada ini kebanyakan ibu hamil telah mempunyai kekebalan yang cukup karena telah sering mengalami infeksi. Gejala biasanya tidak khas untk penyakit malaria. Yang paling sering adalah berupa anemia berat dan ditemukan parasit dalam plasentanya. Janin biasanya mengalami gangguan pertumbuhan dan selain itu menimbulkan gangguan pada daya tahan neonatus. Diagnosis Gejala tiap-tiap jenis biasa berupa meriang, panas dingin menggigil, dan keringat malam. Jenis malaria yang paling ringan adalah tersiana yang di sebabkan oleh P. vivaks dengan gejala demam dapat tejadi 2 hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi 2 minggu setelah infeksi). Malaria tropika disebabkan oleh P. falsiparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organism ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau serta kematian. Malaria kuartana disebabkan oleh P. malariae memiliki masa inkubasi yang lebih lama daripada penyakit malaria tersiana atau tropika. Gejala pertamanya biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari. P. ovale merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan. Pencegahan Transmisi Pemberian obat malaria profilaksis Pemberian klorokuin basa 5 mg/kgBB (2tablet) sekali seminggu, tetapi untuk daerah yang resisten klorokuin tidak di anjurkan pada kehamilan dini tetapi setelah itu dapat diganti dengan meflokuin. Obat lain yang sering digunakan adalah kombinasi sulfadoksinpirimetamin dengan dosis 1 tablet per minggu tetapi tidak di anjurkan untuk trimester I karena pirimetamin dapat menyebabkan teratogenik. Doksisiklin: dipakai pada daerah P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Dosis 1,5 mg/kgBB/hari selama tidak lebih dari 4-6 minggu. Pemakaian kelambu
23

ITAS COLLECTION

XVI

Pemakaian kelambu di nilai efektif untuk menurunkan jumlah khasus malaria pada ibu hamil dan neonatus. Terapi malaria Obat antimalaria dalam kehamilan: Semua trimester Trimester II Trimester III Kontraindikasi a. Penyakit Jantung Penyakit jantung terbanyak disebabkan oleh rheuma (90%) dan biasanya dalam bentuk stenosis mitralis, disamping itu dapat disebabkan kelainan jantung congenital dan penyakit otot jantung. Penyakit jantung pada wanita hamil masih merupakan sebab kematian yang penting. Sulit untuk di diagnosa, baru diketahui kalau ada dekompensasi seperti sesak nafas, sianosis, kelainan nadi, edeme atau ascites, jantung yang berdebar-debar dan lain-lain. Dokter dapat mendiagnosa penyakit jantung atas adanya: - Bising diastolik atau bising systolik yang kuat. - Pembesaran jantung pada gambar Rontgen. - Adanya arythmia (bunyi jantung yang tidak teratur). Pasien dengan penyakit jantung biasanya dibagi dalam 4 golongan, yaitu: Gol. 1 Gol. 2: Gol. 3 Gol. 4 : Pasien yang tidak usah membatasi kegiatan badannya. Pasien yang harus membatasi diri sedikit, kalau melakukan pekerjaan sehari-harinya maka terasa capek, jantung berdebar-debar, sesak nafas atau terjadi angina pectoris. : Pasien yang sangat harus membatasi diri, pasien golongan ini senang dalam istirahat tapi kalau bekerja sedikit saja langsung merasa capek, sesak dan lain-lain. : Pasien yang memperlihatkan gejala-gejala dekompensasi walaupun dalam istirahat. Klasifikasi ini penting untuk prognosa. Selain dari itu, hal-hal dibawah ini mempengaruhi prognosa : - Umur pasien. - Anamnesa penyakit; kalau pernah dalam keadaan dekompensasi, prognosanya kurang baik. - Fibrilasi jantung.
24

: kuinin, artesunate/artemeter/arteeter : meflokuin, pirimetamin/sulfadoksin : sama trimester II : primakuin, tetrasiklin, doksisiklin, halofantrin.

3. PENYULIT KEHAMILAN KARENA PENYAKIT ORGAN-ORGAN

ITAS COLLECTION

XVI

Penyakit jantung yang berat dianggap menyebabkan partus praematurus atau kematian intrauterin karena janin kekurangan oksigen. Sebaliknya kehamilan sangat memberatkan kerja jantung sehingga golongan 1 dan 2 dalam kehamilan dapat masuk ke dalam golongan 3 atau 4. Pengobatan : Pada penderita penyakit jantung diusahakan untuk membatasi penambahan berat badan yang berlebihan, bila terdapat anemia secepatnya diatasi dan preeklampsi sebisanya dijauhkan karena sangat memberatkan kerja jantung. Dalam pengobatan penyakit jantung, ada 4 hal yang harus diperhatikan: 1. Cukup istirahat. 10 jam istirahat malam, jam setiap kali setelah makan. Hanya pekerjaan ringan yang diizinkan. 2. Menghindarkan infeksi terutama infeksi jalan pernafasan bagian atas. Pasien harus menjauhkan diri dari orang-orang yang terjangkit flu. 3. Tanda-tanda dini dekompensasi harus cepat diketahui, yaitu batuk, rhonci basal, dyspnoe dan haemoptoe. 4. Baiknya pasien masuk RS 2 minggu sebelum persalinan untuk istirahat. b. Penyakit Hati dan Usus Hepatitis Infectiosa Gejala-gejala permulaan ialah panas, anorexia, perasaan lelah, sakit kepala, mual dan muntah, kencing berwarna lebih tua dari normal, muncul ikterus. Pada mual dan muntah harus diingat kemungkinan hepatitis, jangan selalu mengira bahwa mual dan muntah disebabkan oleh kehamilan. Pada wanita hamil dapat menyebabkan abortus dan partus praematurus. Perdarahan sesudah persalinan mungkin banyak sekali dan setelah partus kadang-kadang timbul atrofi hati yang akut dan bisa menyebabkan kematian. Terapinya adalah hospitalisasi (perawatan di rumah sakit), istirahat rebah dan diet yang baik. Kadang-kadang diberi kortikosteroid. Untuk mencegah perdarahan postpartum sering diberikan vitamin K. Appendicitis Acuta Gejala-gejala sama dengan di luar kehamilan, hanya titik nyeri berpindah ke atas dengan lanjutnya kehamilan karena appendix terdesak ke atas oleh rahim yang membesar. Serangan biasanya terjadi pada triwulan I dan II. Appendicitis harus segera dioperasi, walaupun pasien hamil karena kalau dibiarkan dapat timbul ruptur appendix disusul dengan peritonitis yang sangat berbahaya.

25

ITAS COLLECTION

XVI

Untuk memperkecil kemungkinan abortus dan partus praematurus sebelum dan sesudah operasi diberi progesteron. c. Kelainan Endokrin Diabetes Mellitus Sebelum insulin ditemukan, kebanyakan wanita dengan diabetes mandul, bahkan menderita amenorrhea. Sejak ditemukannya insulin maka infertilitas pada diabetes mellitus turun dari 95% ke 2%. Penyebab kemandulan ini masih kurang jelas, mungkin karena gangguan perimbangan hormonal atau karena kekurangan gizi. Diabetes biasanya ditemukan pada wanita yang sudah agak lanjut umurnya. Adanya gula dalam urin harus mendorong kita untuk memeriksa ada tidaknya diabetes, walaupun kadang-kadang reduksi yang positif pada wanita hamil disebabkan oleh lactosuri (adanya lactose yaitu gula air susu dalam urin) atau karena glukosuri renal, dimana ambang ginjal untuk glukosa turun, hingga ada glukosuri walaupun kadar glukosa dalam darah normal. Lactosuri dapat timbul dalam 6 minggu terakhir dari kehamilan dan dalam nifas. Diagnosa : Wanita dengan anamnesa keluarga yang dibebani diabetes, kegemukan, bayi-bayi yang berat, bayi dengan kelainan kongenital, hydramnion, gestose, dan abortus harus dicurigai akan adanya kemungkinan diabetes. Harus ditanyakan mengenai polydipsi, poliphagi, polyuri dan pruritus vulvae. Diagnosa biasanya dibuat dengan glucose tolerance test. Glucose tolerance test bisa dilakukan oral atau intravenosa. Beberapa ahli menganggap kadar gula darah sebesar 130 mg % pada waktu puasa sebagai bukti yang cukup untuk diabetes. Pengaruh kehamilan pada diabetes : Diabetes dalam kehamilan lebih sukar diatur karena toleransi terhadap glukosa berubahubah, kadang-kadang diperlukan insulin lebih banyak, kadang-kadang kurang; wanita hamil juga mudah menderita acidosis. Pengaruh diabetes pada kehamilan : Pengaruh ini tergantung apakah diabetes dibiarkan saja atau diobati dengan baik tapi walaupun diobati dengan baik, diabetes tetap meninggikan kematian perinatal. Pengaruh diabetes pada kehamilan ialah : 1. Kemungkinan gestose 4 lebih besar 2. Infeksi lebih mudah terjadi terutama pyelitis dan pyelonefritis.
26

ITAS COLLECTION

XVI

3. Kemungkinan abortus dan partus praematurus sedikit lebih besar 4. Bayi sering besar, diduga sebabnya ialah hormon pertumbuhan yang berlebihan atau faktor genetis. Walaupun anaknya besar, fungsionil sering bersifat sebagai anak prematur sehingga digunakan istilah foetus dysmaturus. Bayi-bayi ini harus dirawat sebagai anak prematur. 5. Anak sering mati intrauterin terutama sesudah minggu ke 35. Kematian ini diduga disebabkan oleh hypoglycaemia. 6. Setelah lahir, anak sering mengalami hypoglycaemia dan hypoxia. 7. Hydramnion sering terjadi, kalau timbul hydramnion maka kematian intrauterin meningkat sampai 35%. 8. Kelainan kongenital lebih sering dijumpai. 9. Perdarahan postpartum lebih besar kemungkinannya. 10. Laktasi kadang-kadang kurang Prognosa : Kalau dulu angka kematian ibu 50% maka sekarang berkisar antara 0,4% 2%. Sebaliknya angka kematian anak tetap tinggi, sekitar 10% - 20%. Prognosa anak dipengaruhi oleh beratnya diabetes, lamanya ibu menderita diabetes, apakah sudah ada kelainan pembuluh darah dan apakah terjadi penyulit kehamilan. Sebab-sebab kematian anak ialah : a. Kelainan metabolik : acidosis, koma, hypoglycaemia. b. Penyakit kehamilan : gestosis, hydramnion dan lain-lain. c. Kelainan petumbuhan janin. Selain dari kematian, juga morbiditas dari anak-anak ini lebih tinggi, kelainan kongenital lebih sering terjadi, anak dapat keturunan diabetes, kelainan neurologis dan psikologis dapat terjadi. Pengobatan : Kerjasama dengan ahli penyakit dalam merupakan syarat yang mutlak untuk keselamatan ibu dan anak. Untuk mencegah embryopathia, kerjasama ini sudah harus dimulai pada hamil muda. Tujuan terpenting ialah pengawasan dan pengendalian diabetes, di samping itu harus diperiksa keadaan pembuluh darah (pemeriksaan fundus oculi) dan faal ginjal. Penting juga pengawasan paru-paru karena pada diabetes lebih mudah terjadi aktivitas dari penyakit paruparu (TBC).

27

ITAS COLLECTION

XVI

a. Segera setelah diagnosa dibuat, pasien dimasukkan ke RS untuk penilaian dan menentukan pengobatannya. Kemudian dilakukan pengawasan, pada kehamilan yang masih muda setiap dua minggu sekali dan pada kehamilan tua dilakukan setiap minggu. Pengawasan meliputi pemeriksaan laboratorium, penentuan diet dan penyesuaian dosis insulin. b. Pada bulan ke-7, pasien sebaiknya masuk RS untuk beberapa hari karena pada saat ini sering terjadi perubahan toleransi. c. Pada kehamilan 34 minggu, pasien dirawat lagi di RS untuk persiapan persalinan. Persalinan anjuran 2 3 minggu sebelum persalinan perlu diperhitungkan mengingat kemungkinan kematian anak menjelang akhir kehamilan. Penentuan oestriol dalam urin dan pencatatan bunti jantung anak dapat membantu dalam mengambil keputusan. d. Penyakit Hematologik Anemia dapat disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya perdarahan, penyakit darah, penyakit-penyakit menahun seperti TBC, malaria kronik, ankylostomiasis atau karena makanan tidak sempurna misalnya kekurangan besi, protein, vitamin-vitamin dan lain-lain. Maka pengobatannya pun berbeda-beda disesuaikan dengan penyebabnya. Pengukuran hemoglobin merupakan pemeriksaan yang penting dalam antepartum care dan harus dilakukan sekali 3 bulan. Nilai hemoglobin yang dianggap normal pada wanita di negara barat sekitar 12 15 g%, sedangkan nilai hemoglobin pada wanita Indonesia lebih rendah. Seorang wanita dikatakan menderita anemia bila Hb < 12 g% dalam keadaan tidak hamil dan < 10 g% dalam keadaan hamil. Anemia defisiensi besi disebabkan karena pada umumnya cadangan besi pada wanita kurang, disebabkan kehilangan darah tiap bulan waktu haid. Pada wanita yang hamil , cadangan besi akan berkurang bahkan habis karena kebutuhan janin akan zat besi sangat besar. Profilaksis : Semua wanita yang hamil harus diberi garam besi extra terutama pada 4 5 bulan terakhir. Pengobatan : Pemberian garam ferro lebih baik ketimbang garam ferri karena lebih mudah diserap oleh usus. Suntikan intramuskuler hanya diberikan kalau : - Obat tidak masuk per os (muntah) - Tidak di absorpsi (mencret) - Persalinan sudah dekat
28

ITAS COLLECTION

XVI

Dengan preparat imferon akan kebutuhan ibu akan Fe, dapat diberikan dalam satu dosis secara infus. Kalau anemia sangat berat dan persalinan sudah dekat, perlu dipertimbangkan transfusi darah. e. Penyakit Saluran Kencing Nefritis Acuta Dapat terjadi sesudah infeksi akut seperti tonsilitis atau sebagai akibat keracunan timah, air raksa atau arsen. Gejala-gejala : Hematuria, oliguri hingga anuria, proteinuria, edema dan hipertensi. Hipertensi dipakai untuk membedakan nefritis dengan preeklampsi karena pada preeklampsi, hematuria tidak ada atau ringan sekali. Penyakit ini dapat menimbulkan abortus dan gestosis. Cystitis Terutama terjadi dalam masa nifas. Penyebabnya ialah trauma kandung kemih karena persalinan, kurang sensitifnya kandung kemih hingga ada urin sisa; semuanya memudahkan terjadinya infeksi. Gejalanya ialah sakit waktu kencing, sering kencing, nyeri di atas symphisis dan kadangkadang ada demam. Terapi : Pencegahan trauma pada kandung kemih, menghindarkan urin sisa dengan kateterisasi setiap 8 jam atau dengan pemasangan kateter menetap dan pemberian antibiotika. Pyelitis Merupakan radang dari piala ginjal (pyelum), biasanya bilateral tapi kalau unilateral biasanya sebelah kanan. Penyakit ini lebih sering terjadi pada triwulan terakhir kehamilan. Gejala-gejalanya ialah nyeri di pinggang biasanya kanan, panas tinggi dan dalam urin terdapat leukosit yang berkelompok. Di samping bentuk yang akut, ada juga bentuk sub atau afebril dengan gejala satu-satunya nyeri pinggang; maka nyeri pinggang dalam kehamilan tidak boleh diremehkan. Penyebabnya adalah bacil coli. Yang memudahkan terjadinya infeksi ialah bendungan urin karena atoni ureter. Penjalaran bacil coli ialah dari usus besar melalui jalan limfe ke pyelum. Bendungan dan atoni ureter dalam kehamilan mungkin disebabkan progesteron, obstipasi atau tekanan uterus yang membesar pada ureter. Kadang-kadang infeksi pyelum meluas ke jaringan ginjal hingga terjadi pyelonefritis. Pengaruh pyelonefritis pada kehamilan :
29

ITAS COLLECTION

XVI

a. Dapat menimbulkan gestosis (5%) b. Dapat membahayakan janin karena dapat terjadi infeksi coli diaplacenter, kerusakan karena toksin atau gestosis (insuffisiensi plancenta atau hypoxaemia) c. Dapat terjadi partus praematurus karena demam yang tinggi Pengobatan : Sulfadiazin, gantrisin, furadantin, atau chloramphenicol baik sekali untuk pengobatan pyelitis. Pasien dianjurkan banyak meminum air agar urin banyak; supaya tidak ada bendungan dalam rongga panggul, buang air besar harus teratur.

30