You are on page 1of 14

1

ANALISIS ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA PEDAGANG DI PASAR BARU BANDUNG Penulis: Puji Lestari Silmi Kaffah Winda Nurkomala Dewi Hajra Indrayati Dini Nurhayati Moch. Bayu Sadewa Aen Nurfalah.

Abstract The purpose of this research is to investigate the use of code switching and mixing in Pasar Baru Bandung, especially Bandung souvenirs traders. This research examines thet ypes of code switching and mixing that occurs in the dialogue by the traders to the visitors, the reason why they switch or mix their dialogue, and the context of code switching and mixing in the dialog. Data were collected by writing dialogues of code mixing and switching and then mark the words or phrases or sentences in the dialogue. Data were analyzed by using the theory of Hudson about the types of code switching and code mixing. Moreover, the theory of Suwito and Mutmainnah about the reason of code switching and mixing is used in this research. In this study calculated how much frequency traders use code switching and mixing. The results showed that most of them use the conversational code switching and inner code mixing in workings of their conversation because there are many Regional and English languages that are familiar to them, so they can use in their sentences easily. The results showed that most of them use code switching and mixing in their dialogue as express their group identity. Keywords: Code Mixing, Code Switching.

Abstrak Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan alih kode dan campur kode pada para pedagang di Pasar Baru Bandung, khususnya pada para pedagang oleh-oleh khas Bandung. Studi ini mengkaji tentang jenis alih kode dan campur kode yang terjadi dalam dialog yang diucapkan oleh para pedagang kepada para pengunjung, alasan mengapa mereka beralih atau mencampur dialog mereka, dan konteks alih kode dan campur kode dalam dialog kode. Data dikumpulkan dengan menulis dialog berisi campur kode dan alih kode dalam catatan lapangan dan kemudian menandai kata-kata atau frasa campuran atau kalimat dalam dialog. Data dianalisis menggunakan teori Hudson mengenai jenis alih kode dan campur kode. Selain itu, teori Suwito dan Mutmainnah tentang alasan alih kode dan campur kode juga digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini dihitung seberapa banyak frekuensi para pedagang menggunakan alih kode dan campur kode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mereka menggunakan conversational code switching dan inner code mixing dalam percakapan mereka karena ada banyak istilah bahasa daerah dan Inggris yang akrab bagi mereka sehingga dapat mereka gunakan dalam kalimat mereka dengan mudah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menggunakan alih kode dan campur kode dalam dialog mereka karena mengekspresikan identitas kelompok mereka. Kata Kunci: Campur Kode, Alih Kode.

1.

Pendahuluan Alih kode (code switching) merupakan salah satu wujud penggunaan bahasa

oleh seorang dwibahasawan, yaitu penggunaan lebih dari satu bahasa oleh seorang dwibahasawan yang bertutur dengan cara memilih salah satu kode bahasa disesuaikan dengan keadaan (Hudson 1996:51-53). Terdapat dua jenis alih kode, yaitu Situational code-switching dan Metaphorical codeswitching (Hudson, 1996:52-53; Wardhaugh, 1986: 102-103; Istiati. S, 1985). Situational code-switching adalah adanya perubahan bahasa yang terjadi karena adanya perubahan situasi. Seorang dwibahasawan menggunakan satu bahasa dalam satu situasi tutur dan menggunakan bahasa yang lain pada situasi tutur yang lain (Hudson 1996:52; Wardhaugh 1986:102-103). Menurut Hudson (1996), alih kode jenis ini dinamakan situational code-switching karena perubahan bahasa-bahasa oleh seorang dwibahasawan selalu bersamaan dengan perubahan dari satu situasi eksternal (misalnya berbicara kepada anggota keluarga) ke situasi eksternal lainnya (misalnya berbicara dengan tetangga). Dalam disertasinya, Istiati (dalam Mutmainnah 2008:44-45) menyatakan bahwa alih bahasa jenis ini terjadi terutama disebabkan oleh latar dan topik. Selain itu, umur, seks, pengetahuan penutur, status, sosial, dan kesukuan menentukan pula terjadinya alih kode. Dengan demikian, kaidah-kaidah sosial budaya merupakan faktor yang dominan. Jenis alih kode yang kedua ialah Metaphorical code-switching, yaitu ketika sebuah perubahan topik membutuhkan sebuah perubahan bahasa yang digunakan. Alih kode ini terjadi apabila penutur merasa bahwa dengan beberapa kata atau kalimat yang diucapkan dalam bahasa lain, maka ia dapat menekankan apa yang diinginkan sehingga akan mendapat perhatian dari pendengarnya. Suwito (dalam Oktora 2012) membagi alih kode menjadi dua, yaitu alih kode ekstern bila alih bahasa, seperti dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Inggris atau sebaliknya, dan alih kode intern, yaitu bila alih kode berupa alih varian, seperti dari bahasa Jawa ngoko merubah ke krama. Beberapa faktor yang menyebabkan alih kode sebagai yaitu; penutur, seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena suatu tujuan. Misalnya mengubah situasi dari resmi menjadi tidak resmi atau sebaliknya. Mitra tutur, yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud alih varian dan bila mitra tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda

cenderung alih kode berupa alih bahasa. Hadirnya penutur ketiga, untuk menetralisasi situasi dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda. Pokok pembicaraan atau topik merupakan faktor yang dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan yang bersifat formal biasanya diungkapkan dengan ragam baku, dengan gaya netral dan serius dan pokok pembicaraan yang bersifat informal disampaikan dengan bahasa tak baku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya. Untuk membangkitkan rasa humor biasanya dilakukan dengan alih varian, alih ragam, atau alih gaya bicara. Untuk sekadar bergengsi walaupun faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor sosio-situasional tidak mengharapkan adanya alih kode, terjadi alih kode, sehingga tampak adanya pemaksaan, tidak wajar, dan cenderung tidak komunikatif. Campur kode (code-mixing) merupakan wujud penggunaan bahasa lainnya pada seorang dwibahasawan. Berbeda dengan alih kode, dimana perubahan bahasa oleh seorang dwibahasawan disebabkan karena adanya perubahan situasi, pada campur kode perubahan bahasa tidak disertai dengan adanya perubahan situasi (Hudson, 1996:53). Menurut Istiati (dalam Mutmainnah 2008:46), campur kode dilakukan oleh penutur bukan semata-mata karena alasan situasi pada saat terjadinya interaksi verbal, melainkan oleh sebab-sebab yang bersifat kebahasaan. Sumber dari campur kode bisa datang dari kemampuan berbahasa, bisa pula datang dari kemampuan berkomunikasi, yakni tingkah laku. Jika gejala itu hadir karena penutur telah terbiasa menggunakan bahasa campur demi kemudahan belaka sebagai hasil dari sistem budaya, sistem sosial atau sistem kepribadian secara terus menerus, maka gejala itu datang dari sistem tingkah laku. Artinya, gejala ini bersumber dari kemampuan berkomunikasi. Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, dan rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada

keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence). Campur kode dibagi menjadi dua, yaitu: campur kode ke dalam (innercodemixing), merupakan campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya dan campur kode ke luar (outer code-mixing), merupakan campur kode yang berasal dari bahasa asing. Adapun latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sikap (attitudinal type), merupakan latar belakang sikap penutur dan kebahasaan (linguistik type) merupakan latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa. Beberapa wujud campur kode antara lain berupa penyisipan kata, frasa, klausa, ungkapan atau idiom, dan penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing). Berdasarkan teori-teori tersebut perlu adanya penelitian mengenai pemilihan kode tersebut untuk mengetahui apakah benar bahwa masyarakat pada umumnya menggunakan Alih Kode dan Campur Kode, dalam penelitian ini diambil sample yaitu para pedagang oleh-oleh. Dalam penelitian ini dapat diketahui seberapa sering para pedagang oleh-oleh di Pasar Baru menggunakan Alih Kode dan Campur Kode dalam perdagangan. 2. Metode Penelitian Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas maka perlu diuraikan lebih lanjut tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini. Bagian metode penelitian ini dibagi menjadi dua pokok bahasan, yaitu objek penelitian dan metode penelitian. Objek kajian bisa diteliti berdasarkan tiga langkah-langkah yang penting, yaitu langkah penyediaan data, langkah analisis data, dan langkah penyajian hasil analisis. Satu hal yang harus diperhatikan dalam penelitian sosiolinguistik, yaitu bahwa aspek luar bahasa sangat signifikan menjelaskan atau dijelaskan oleh bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, konsep dasar kajian sosiolinguistik adalah konsep korelasi. Yang dilakukan peneliti di bidang ini adalah mengkorelasikan bahasa dengan aspek sosial.

3. Objek Penelitian Penelitian ini merupakan sebuah penelitian pemakaian alih kode dan campur kode pada pedagang dalam sosialisasi bahasa dalam konteks multikultural di Pasar Baru Bandung. Pasar Baru Bandung merupakan sebuah pasar yang dihuni mahasiswa yang heterogen atau multikultural, baik asal daerah, suku, bahasa, agama, pendidikan, dan adat-istiadat. Pasar Baru Bandungberalamat di Jl. Otto Iskandardinata No. 99, Pasar Baru, Kota Bandung 40181, Indonesia Pemilihan Pasar Baru Bandung sebagai lokasi penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data sesuai dengan topik penelitian. Data dalam penelitian ini bersumber dari penggunaan campur kode dalam sosialisasi bahasa pedagang yang terjadi Pasar Baru Bandung. Penggunaan bahasa itu terjadi secara alami dari peristiwa tutur yang wajar dalam komunikasi sehari-hari di pasar. Setiap penelitian ilmiah tentu berhubungan dengan masalah sumber data. Pemilihan dan penentuan sumber data pada suatu penelitian tergantung pada permasalahan yang akan diselidiki dan hipotesis yang hendak diuji kebenaran atau ketidakbenarannya. Populasi pada penelitian ini adalah populasi heterogen, yaitu pemakaian campur kode dalam sosialisasi bahasa hanya pada suatu masyarakat bahasa tertentu, yakni pedagang. Selain itu, populasi pada penelitian ini merupakan populasi teoritis, artinya ialah sejumlah sumber data yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif, sehingga dari segi jumlah, secara kuantitatif tidak dapat ditetapkan secara tegas (Nawawi 1993). Sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan alih kode dan campur kode dalam sosialisasi bahasa pada pedagang dengan konteks multikultural di Pasar Baru Bandung dan mendeskripsikan faktorfaktor yang mempengaruhi bentuk sosialisasi bahasa sehari-hari pedagang di Pasar Baru Bandung, maka sampel pada penelitian ini adalah tuturan pedagang di Pasar Baru Bandung yang ditemukan pada ranah-ranah penelitian yang mengandung unsurunsur campur kode dalam sosialisasi bahasa sehari-hari. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan jenis purposive sample, yaitu salah satu jenis sample yang pemilihan subyeknya didasarkan atasciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah

diketahui sebelumnya, yaitu tuturanpada pedagangoleh-oleh di Pasar Baru Bandung yang ditemui. 1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, dan analisis data bersifat kualitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan Metode ini disebut juga metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) (Sugiyono 2010:14). Objek kajian pada penelitian ini diteliti berdasarkan tiga langkah penting, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) analisis data, dan (3) penyajian hasil analisis data. 1.1 Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan seorang peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan. Dengan metode pengumpulan data yang tepat dalam suatu penelitian akan memungkinkan pencapaian pemecahan masalah secara valid dan terpercaya yang akhirnya akan memungkinkan dirumuskannya generalisasi yang obyektif (Nawawi 1991:13). Penelitian ini menggunakan metode observasi Menurut Gunarwan (2001a:44), metode wawancara mirip dengan metode survei, yakni menggunakan sejumlah pertanyaan untuk menjaring informasi atau data dari responden. Peneliti terlibat langsung selama proses pengumpulan data. Data dikumpulkan selama kurang lebih satu minggu baik secara langsung maupun tidak langsung selama ada tuturan dari sampel terkait penggunaan alih kode dan campur kode dalam perdagangan. Teknik yang digunakan adalah dengan mencatat tuturan sampel untuk mendapatkan data yang valid dan lengkap. Tuturan yang menjadi data penelitian ini terealisasi di dalam penggalan tuturan pedagang.

Setelah data diperoleh, tugas peneliti selanjutnya adalah menganalisis data tersebut. Langkah analisis data ini adalah langkah terpenting untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang ingin dipecahkan. Kaidah dan simpulan aspek-aspek alih kode dan campur kode dalam sosialisasi bahasa pada pedagang dengan konteks multikultural di Pasar Baru Bandung dianalisis dengan menggunakan metode analisis kontekstual. Dalam kaitannya dengan penelitian Sosiolinguistik, bahasa dipandang sebagai variabel dependen atau varibel terikat, sedangkan unsur luar bahasa dalam hal ini konteks situasi dan konteks sosial budaya dipandang sebagai variabel independen atau variabel bebas (Arimi dalam Mutmainnah 2008:61). Analisis data pada penelitian ini dilakukan melalui empat langkah, yaitu 1) reduksi data, 2) transkripsi data, 3) pengelompokan kategori data dari catatan, dan 4) penyimpulan pola penggunaan alih kode dan campur kode dalam sosialisasi bahasa pada pedagang oleh-oleh di Pasar Baru. 1.2 Hasil Analisis Data Pada penelitian ini, hasil analisis data disajikan dengan menggunakan metode informal. Penerapan metode informal dalam penelitian ini tampak pada pemaparan hasil analisis tentang penggunaan alih kode dan campur kode dalam sosialisasi bahasa. Dengan metode informal ini, penyajian hasil analisis data dilakukan dengan menyajikan diskripsi khas verbal dengan kata-kata. 4. Diskusi dan Temuan: Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka pembahasan dibagi menjadi tiga bagian. Secara lengkap pembahasan tersebut sebagai berikut. 1. Penggunaan Alih Kode Penggunaan alih kode pada para pedagang oleh-olehdi Pasar Baru Bandung dapat dilihat dari dialog berikut: Percakapan 1 Tempat : Kios oleh-oleh 1 Waktu : 11.30 WIB

Konteks: Pedagang sedang menunggu pembeli Penutur : Hajra (ingin menukarkan uang) Petutur : Pedagang Keripik Tempe Pedagang kios 1 Hajra : Sok Neng mangga cobian kiripikna! :Aduh Bu maaf saya mau nuker uang sama sepuluh ribuan lima. Pedagang kios 1 : Aduh Ibu gak punya uang kecil.

Pada percakapan di atas umumnya menggunakan Bahasa Indonesia (BI) untuk bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari. Kemultikulturalan yang ada di Pasar Baru mengharuskan para pedagang menggunakan BI karena pembeli berasal dari daerah yang berbeda. Di antara penggunaan bahasa dalam percakapan di atas terdapat alih kode ke dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Sunda. Berdasarkan dialog di atas alih kode yang terjadi disebabkan oleh situsasi yang memaksa pedagang tersebut beralih dari Bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia karena Hajra tidak mengerti Bahasa Sunda. Pecakapan 2 Tempat Waktu Konteks : Kios oleh-oleh 5 : 11.45 WIB : Pedagang sedang menunggu pembeli sambil berbincang-bincang dengan pedagang yang lain. Penutur Petutur : Pedagang Kios 6 : Pedagang Kios 5 Pedagang kios 5 sedang menunggu pembeli sambil berbincang-bincang dengan pedagang kios 6. Pedagang kios 5: Iyo tukang ojeg nan dakek rumah ambo bacarito ado panumpang nan lupo bayia ongkos. Pedagang kios 6: Oiyo? Manga bisa coitu?

10

Tiba-tiba ada pembeli datang ke kios 5, dan secara spontan pedagang kios 5 mengalihkan bahasanya menjadi bahasa Indonesia. Pedagang kios 5: Mari-mari, silahkan dipilih oleh-olehnya. Dalam percakapan tersebut, terjadi alih kode dari Bahasa Padang ke Bahasa Indonesia. Alih kode tersebut terjadi karena adanya perubahan situasi dimana ada pembeli yang datang saat mereka berbincang-bincang, pedagang tersebut tidak mengetahui bahasa apa yang digunakan oleh pembeli itu. Jadi, pedagang itu mensiasati hal tersebut dengan mengalihkan ke bahasa Indonesia. 2. Penggunaan Campur Kode Percakapan 1 Tempat Waktu Konteks : Kios oleh-oleh 7 : 12.15 WIB : Pedagang sedang menawarkan oleh-oleh kepada pembeli di depan tokonya Penutur Petutur Pedagang kios 7 Winda Pedagang kios 7 : Pedagang Kios 7 : Winda : Sok teh, mau apa oleh-olehnya sok dicoba dulu? : Teh, upami dodol sekilonya berapa? : Sekilonya 12 ribu neng.

Dari percakapan diatas, para pedagang secara tidak sadar mencampurcampurkan atau menyisipkan bahasa Sunda ke Bahasa Indonesia maupun sebaliknya. Hal tersebut terjadi karena kebiasaan bahasa mereka yang digunakan sehari-hari. Pecakapan 2 Tempat : Kios oleh-oleh 12 Waktu : 13.00 WIB Konteks: Pedagang sedang sibuk melayani pembeli. Penutur : Pedagang Kios 12

11

Petutur : Ibu-ibu Pedagang kios 12: Sok kripikna-kripikna 12 ribu sekilo-sekilo! Ibu-ibu: Naha mang awis-awis teuing, biasana oge 10 sakilona. Dari percakapan diatas, pedagang kios 12 menyisipkan kata Sekilo dalamkalimat Sunda yang secara tidak langsung itu merupakan campur kode. Percakapan-percakapan di atas merupakan beberapa contoh dari hasil pengamatan pada para pedagang oleh-oleh di Pasar Baru Bandung. Setelah menganalisis 30 sample penggunaan Alih Kode dan Campur Kode yang telah dilampirkan, maka diperoleh data sebagai berikut : 3 dari 30 sample menggunakan Situational Code Switching. 7 dari 30 sample menggunakan Conversational Code Switching. 16 dari 30 sample menggunakan Inner Code Mixing 1 dari 30 sample menggunakan Outer Code Mixing. Dan 3 dari 30 sample tidak menggunakan Code Switching maupun Code Mixing. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar dari mereka menggunakan Inner Code Mixing dan Conversational Code Mixing. 5. Simpulan Dari hasil penelitian di atas dapat di simpulkan bahwa sebagian besar Pedagang oleh-oleh di Pasar Baru Bandung menggunakan Inner Code Mixing dan Conversational Code Switching, hal tersebut di pengaruhi oleh keberagaman bahasa serta perbedaan budaya yang ada antara pedagang dan pembeli di Pasar tersebut. Hasil penelitian ini menggambarkan dan memberi penjelasan tentang penggunaan campur kode pada pedagang dalam sosialisasi bahasa dengan konteks multikultural di Pasar Baru Bandung. Meskipun demikian, hasil penelitian ini bukanlah sebuah generalisasi penggunaan alih kode dan campur kode di Pasar Baru Bandung. Hal tersebut dikarenakan masing-masing daerah memiliki adat yang berbeda-beda walaupun masih satu wilayah. Oleh karena itu, penelitian berikutnya

12

dapat dilakukan di wilayah yang lebih luas untuk mendeskripsikan lebih jauh penggunaan campur kode dalam sosialisasi bahasa. Selanjutnya, dalam upaya memperdalam dan memperluas pemahaman tentang alih kode, campur kode, dan sosialisasi bahasa perlu dilakukan kajian yang lebih mendetail. 6. Daftar Pustaka Arsanti, Meilan. 2012. Alih Kode dan Campur Kode. (Diunduh 11 April 2013) Hudson, Richard A. 1996. Sociolinguistics. Second edition. Cambridge: Cambridge University Press.

http://books.google.co.id/books/about/Sociolinguistics.html?hl=id&id=B2kST 7BcVtwC (Diunduh 19 Juni 2012). Mutmainnah, Yulia (2008) Pemilihan Kode dalam Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik pada Masyarakat Jawa di Kota Bontang Kalimantan Timur. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

http://eprints.undip.ac.id/17680/(Diunduh 19 Juni 2012). Rokhman, Fathur. 2003. Pemilihan Bahasa pada Masyarakat Dwibahasa: Kajian Sosiolinguistik di Banyumas. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Rokhman, Fatur. 2009. Fenomena Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Multilingual: Paradigma Sosiolinguistik

http://fathurrokhmancenter.wordpress.com/2009/06/04/fenomena-pemilihanbahasa-dalam-masyarakat-multilingual-paradigmasosiolinguistik/?blogsub=confirming#subscribe-blog (Diunduh 6 Juni 2012). Wardhaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.http://books.google.co.id/books/about/An_Introduction_to_Sociolin guistics.html?id=0J2VOzNYtKQC&redir_esc=y (Diunduh 19 Juni 2012).

13

Lampiran Berikut merupakan pengelompokan Alih Kode dan Campur Kode dari hasil pengamatan pada para pedagang oleh-oleh di Pasar Baru Bandung: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kalimat Ujaran Sok neng barade? Sayang mau apa oleh-olehnya? Sok teh mau apa oleh-olehnya say? Hayu neng makanan pedesnya dua belas ribu. Mangga, silahkan teh cobian dulu. Ayo teh cobain dorokdokna. Ayo Ibu belanja, mau yang mana? Sok neng mau dodolnya lima belas ribu, darimana neng? De belanja dulu oleh-olehnya. Dua limaan weh bu, sok teh mangga. Ini semua pasna sabarahaeun bu? Aya artos alit teu? Ibu belum dapet penglaris. Ibu ieu kiripik sabarahaan? Boleh nyobain dulu engga? Pa, aya kiripik Maicih teu? Sekilonya berapa? Mang mahal banget. Biasana oge sapuluh rebu sakilo. Sok neng sini, cobian heula. Nyobian mah gratis da. Semprong sekilo ne piro mas? Pedagang kios 1 : Sok Neng manga cobiankiripikna! Hajra : Aduh Bu maaf saya mau nuker uang sama sepuluh ribuan lima. Pedagang kios 1 : Aduh Ibu gak punya uang kecil. Pedagang kios 5: Iyo tukang ojeg nan dakek rumah ambo bacarito ado panumpang nan lupo Alih Campur Kode Kode Keteragan Conversational Code Switching Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Conversational Code Switching Conversational Code Switching Conversational Code Switching Conversational Code Switching Inner Code Mixing Inner Code Mixing

17

Situational Code Switching

18

Situational Code Swiitching

14

19

20

22 23 24 25 26

bayia ongkos. Pedagang kios 6: Oiyo? Manga bisa coitu? Tiba-tiba ada pembeli datang ke kios 5, dan secara spontan pedagang kios 5 mengalihkan bahasanya menjadi bahasa Indonesia. Pedagang kios 5: Mari-mari, silahkan dipilih oleholehnya. Pedagang kios 7: Sok teh, mau apa oleh-olehnya sok dicoba dulu? Winda: Teh, upami dodol sekilonya berapa? Pedagang kios 7: Sekilonya 12 ribu neng. Pedagang kios 12: Sok kripikna-kripikna 12 ribu sekilo-sekilo! Ibu-ibu: Naha mang awis-awis teuing, biasana oge 10 sakilona. Hoyong kue anu mana bu? Boleh nyobain dulu kok silahkan. Oleh-olehna Bos buat di rumah. Kurupukna, Kiripikna, Dodolna, sok manga kesini dulu. Sok dicobain dulu Bu peuyeumna, diical mirah kok. Ibu Bapak kerupuk seblaknya dijual murah. Pedagang : sepuluh ribu tiga bungkus, siapa lagi ayo-ayo. Pembeli :ari nu ieu sami wae sapuluh tilu? Pedagang : muhun bu sadayana oge sapuluh tilu. Pedagang : Colenak colenak aneka rasa, sapuluh rebu sabungkus. Pembeli : Didiscount ya Bu? Pisang sale asli ti Bandung, mangga mangga dua belas rebu sakilo. Bapak, Ibu, Teteh sok mangga wajitnya diborong.

Inner Code Mixing

Inner Code Mixing Conversational Code Switching

Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Inner Code Mixing Situational Code Switching

27

28 29 30

Outer Code Mixing Inner Code Mixing