You are on page 1of 18

Permintaan dan Penawaran Komoditas Tanaman Industri Kelapa Sawit

Kelompok 9 Disusun Oleh:


Adwar Ardhi Pradana (0910483044) Faridh Kurniawan Fachrudin Zain Ar Ismuha Nasution (0910483059) (0910483058) (0910483061)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2012
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit adalah salah satu komoditi yang diharapkan mampu memberikan kontribusinya dalam perekonomian yang berasal dari sub-sektor perkebunan. Kelapa sawit merupakan komoditi penting dalam mendorong perekonomian Indonesia dan Sumatera Utara, sebagai penghasil devisa negara kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong Pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan ekspor minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit mempunyai peran yang cukup strategis dalam perekonomian Indonesia. Minyak kelapa sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, pasokan yang kontinyu ikut menjaga kestabilan harga minyak goreng. Kestabiian harga minyak goreng penting sebab minyak goreng merupakan salah satu dari 9 bahan pokok kebutuhan masyarakat sehingga harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kelapa sawit juga merupakan komoditi pertanian andalan. Pada tahun 1996, Pemerintahan Orde Baru merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai eksportir minyak sawit terbesar di dunia dengan cara menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dua kali lipat, yaitu menjadi 5,5 juta hektar pada tahun 2000. Separuh dari luas perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing. Pengembangan perkebunan kelapa sawit kebanyakan dibangun di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Pertambahan luas areal perkebunan kelapa sawit ini, pada awalnya (sebelum krisis ekonomi) diharapkan produksi minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 7.2 juta ton pada tahun 2000 dan 10.6 juta ton pada tahun 2005. Komoditi kelapa sawit dengan produk primer Minyak Sawit
2

Kasar (Crude Palem Oil/CPO) dan Minyak Inti Sawit (Kernel Palm Oil/KPO) berperan signifikan terhadap perekonomian nasional, kontribusi perolehan Produk Domestik Bruto (PDRB) mencapai sekitar 20 triliun rupiah setiap tahun dan cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu komoditi kelapa sawit menyumbang lapangan kerja yang tidak sedikit, serta berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan. Saat ini total kebutuhan dunia disuplai oleh Indonesia sekitar 5 juta ton per tahun. Pada tahun 1968 luas kebun kelapa sawit semakin bertambah besar. Sampai dengan akhir tahun 1968 luas areal kelapa sawit mencapai 119.600 hektar. Pada tahun 1978 luas berkembang menjadi 250.116 hektar. Kemudian, sejak tahun 1979 hingga tahun 1997 laju pertambahan areal kelapa sawit mencapai rata-rata 150,000 hektar per tahun. Saat ini, total luas areal sawit di Indonesia telah jauh berkembang hingga lebih dari tiga juta hektar. Hal itu, tentu saja mempengaruhi tingkat produksi yang terus berkembang. Periode tahun 1979 hingga tahun 1991 laju produksi rata-rata per tahun mencapai sekitar 230.000 ton. Sementara itu, laju pertumbuhan periode tahun 1992 hingga 1997 meningkat hingga 420.000 ton per tahun. Pada masa itu produksi sawit Indonesia mencapai lebih dari 5 juta ton per tahun. 1.2 Tujuan Agar mahasiswa dapat memahami dari materi permintaan dan penawaran. Agar mahasiswa mengetahui mekanisme permintaan dan penawaran kelapa sawit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekonomi Pertanian Ekonomi pertanian terdiri dari kata ekonomi dan pertanian. Banyak definisi dari ekonomi dan pertanian pada buku-buku. Namun secara singkat dapat diberikan pengertiannya sebagai berikut: Ekonomi adalah ilmu yang menjelaskan hubungan manusia dengan kebu- tuhannya, baik dengan manusia atau dengan non-manusia. Sosial adalah hubungan manusia dengan manusia, tidak boleh hubungan antara manusia dengan materi (non-manusia) Pertanian adalah salah satu cabang produksi biologis. Jadi ekonomi pertanian adalah bagian ilmu pertanian yang menjelaskan fenomena pertanian dari sudut ekonomi, atau bagian dari ilmu ekonomi yang diterapkan pada sektor pertanian. (Ari, 1989) 2.2 Peran Ekonomi Pertanian Aplikasi ilmu ekonomi di sektor pertanian dalam kompleksitas perekonomian pasar tentunya melibatkan beragam aktivitas baik di level mikro maupun makro ekonomi. Pada level mikro pakar ekonomi produksi pertanian umumnya memberikan kontribusi dengan meneliti permintaan input dan respon suplai. Bidang kajian pakar pemasaran pertanian terfokus pada rantai pemasaran bahan pangan dan serat dan penetapan harga pada masing-masing tahap. Pakar pembiayaan ekonomi pertanian mempelajari isu-isu yang erat kaitannya dengan pembiayaan bisnis dan suplai modal pada perusahaan agrobisnis. Sedangkan pakar ekonomi sumberdaya pertanian berperan pada bidang kajian tentang pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam. Pakar ekonomi lainnya mempelajari penyusunan program pemerintah atas suatu komoditi dan dampak penetapan kebijakan pemerintah baik terhadap konsumen maupun produsen produk pertanian.

Pada level makro minat para pakar terarah pada bagaimana agribisnis dan sektor pertanian pada umumnya mempengaruhi perekonomian domestik dan dunia. Selain itu juga dipelajari bagaimana kejadian-kejadian khusus atau penetapan kebijakan tertentu di pasar uang dapat mempengaruhi fluktuasi harga bahan pangan dan serat alam. Untuk kepentingan ini, biasanya ekonom menggunakan pendekatan formulasi model berbasis analisis komputerisasi. (Boediono, 1989) 2.3 Permintaan (Demand) Permintan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Hukum Permintaan (the low of demand) Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: Hubungan antara barang yang diminta dengan harga barang tersebut dimana hubungan berbanding terbalik yaitu ketika harga meningkat atau naik maka jumlah barang yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila harga turun jumlah barang meningkat. (Sukirno,1997). Kurva Permintaan Kurva Permintaan dapat didefinisikan sebagai : Suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan antara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang diminta para pembeli. Kurva permintaan berbagai jenis barang pada umumnya menurun dari kiri ke kanan bawah. Kurva yang demikian disebabkan oleh sifat hubungan antara harga dan jumlah yang diminta yang mempunyai sifat hubungan terbalik. (Sukirno,1997). Teori Permintaan Dapat dinyatakan : Perbandingan lurus antara permintaan terhadap harganya yaitu apabila permintaan naik, maka harga relatif akan naik, sebaliknya bila permintaan turun, maka harga relatif akan turun. Gerakan sepanjang dan perubahan kurva permintaan. (Sukirno,1997). Gerakan sepanjang kurva permintaan
5

Perubahan sepanjang kurva permintaan berlaku apabila harga barang yang diminta menjadi makin tinggi atau makin menurun. Pergeseran kurva permintaan Kurva permintaan akan bergerak kekanan atau kekiri apabila terdapat perubahan perubahan terhadap permintaan yang ditimbulkan oleh faktorfaktor bukan harga, sekiranya harga baranglain, pendapatan para pembeli dan berbagai faktor bukan harga lainnya mengalami perubahan, maka perubahan itu akan menyebabkan kurva permintaan akan pindah ke kanan atau ke kiri. (Sukirno,1997). EX:

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan diantaranya: 1. Harga barang tersebut 2. Harga barang lain 3. Pendapatan 4. Populasi 5. Selera 6. Dan lain-lain (Sukirno,1997).

(Sukirno,1997). 2.4 Penawaran (Supply) Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu. (Ari, 1989). Hukum Penawaran Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa : Semakin tinggi harga suatu barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan. (Ari, 1989).

Teori Penawaran Yaitu teori yang menerangkan sifat penjual dalam menawarkan barang yang akan dijual. Gerakan sepanjang dan pergeseran kurva penawaran. Perubahan dalam jumlah yang ditawarkan dapat berlaku sebagai akibat dari pergeseran kurva penawaran (Ari, 1989). Kurva Penawaran Kurva penawaran dapat didefinisikan sebagai : Yaitu suatu kurva yang menunjukkan hubungan diantara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan. (Ari, 1989). Kalau penawaran bertambah diakibatkan oleh faktor-faktor di luar harga, maka supply bergeser ke kiri atas. Kalau berkurang kurva supply bergeser ke kiri atas Terbentuknya harga pasar ditentukan oleh mekanisme pasar. (Ari, 1989). .EX:

(Ari, 1989).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran diantaranya: 1. Harga barang tersebut 2. Harga barang lain 3. Harga Input 4. Teknologi 5. Tujuan Produsen 6. Dan lain-lain
8

(Ari, 1989).

(Ari, 1989).

(Ari, 1989).

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Permintaan dan Penawaran Kelapa Sawit Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit agar mengendalikan harga minyak goreng local. Untuk kebijakan domestic dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Di masa yang akan datang, terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan. Setiap perekonomian tidak selalu mencapai tingkat yang tinggi. Adakalanya ia mengalami resesi dan kemunduran dan adakalanya tenaga kerja dan barang-barang modal hampir sepenuhnya digunakan (berarti kegiatan ekonomi Negara mencapai tingkat kegiatan yang sangat tinggi). Perubahan tingkat kegiatan ekonomi ini akan mempengaruhi permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa, termasuk terhadap hasil-hasil pertanian. Perubahan permintaan yang disebabkan oleh naik turunnya kegiatan ekonomi ini akan menimbulkan perubahan harga. Akan tetapi sifat perubahan harga ini adalah berbeda untuk berbagai jenis barang. Barang-barang pertanian cenderung mengalami perubahan harga yang lebih besar daripada harga barang-barang industri. Sifat perubahan

10

yang seperti itu disebabkan karena penawaran terhadap barang-barang pertanian, seperti juga dengan sifat permintaannya, adalah tidak elastis. (Gustone,2009) Ada beberaapa faktor yang menyebabkan penawaran terhadap barang pertanian bersifat tidak elastis: Barang-barang pertanian dihasilkan secara bermusim. Kita lihat saja sebagai contoh masa menanam padi. Ia selalu dilakukan dalambulan-bulan tertentu dan dari tahun ke tahun kebiasaan ini tidak akan berubah walaupun terjadi perubahan harga yang cukup besar. Kapasitas memproduksi sector pertanian cenderung untuk mencapai tingkat yang tinggi dan tidak terpengaruh oleh perubahan permintaan. Petani cenderung untuk secara maksimal menggunakan tanah yang dimilikinya. Pada waktu harga turun mereka akan bekerja giat dan berusaha mencapai produksi yang tinggi agar pendapatan mereka tidak dapat menaikan produksi karena kapasitas produksi mereka (dalam jangka pendek) telah mencapai tingkat maksimal. Beberapa jenis tanaman memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum hasilnya dapat diperoleh. Tanaman seperti ini antara lain adalah tanaman buah-buahan dan bahan-bahan mentah pertanian seperti minyak kelapa sawit dan karet. Penawaran barang pertanian yang sukar berubah tersebut, yang diikuti pula oleh ketidakelasitan permintaannya, dapat menyebabkan perubahan harga yang sangat besar apabila berlaku perubahan permintaan. Hal ini dapat dengan jelas ditunjukan secara grafik, yaitu yang seperti digambarkan dalam gambar OP. (Mielke, 2010)

11

(Mielke, 2010) Di dalam gambar tersebut dibandingkan akibat perubahan permintaan terhadap harga barang pertanian dan barang-barang industri. Gambar OP (i) menunjukan keadaan permintaan dan penawaran barang pertanian, dan gambar OP (ii) menunjukan permintaan dan penawaran barang industri.Misalkan, pada mulanya permintaan dan penawaran terhadap barang pertanian berturut-turut ditunjukan oleh kurva Dp dan Sp. Sesuai dengan sifat permintaan dan penawaran barang pertanian, yaitu keduanya bersifat tidak elastis, kurva Dp dan Sp adalah tidak elastis. Keseimbangan adalah di Ep dan berarti harga adalah P dan jumlah barang yang diperjualbelikan adalah Q. Selanjutnya dimisalkan, oleh karena beberapa faktor tertentu, perekonomian mengalami resesi kemunduran ekonomi ini menyebabkan permintaan keatas barang pertanian pindah dari menjadi dp.. Karena penawaran tidak mengalami perubahan maka keseimbangan yang bari dicapai di titik ep.. Dengan demikian harga barang pertanian telah merosot menjadi P1 dan jumlah barang yang diperjualbelikan turun menjadi Q1. Seterusnya perhatikanlah keadaan permintaan dan penawaran terhadap barang industri. Pada mulanya dimisalkan, permintaan dan penawarannya berturut-turut adalah Di dan Si. Berdasarkan pemisalan ini pada mulanya keseimbangan dicapai di titik Ei. Sesuai dengan sifat permintaan dan penawaran barang industri maka kedua kurva tersebut adalah relatif lebih elastis. Apabila berlaku kemerosotan ekonomi, perubahan permintaan ke atas barang industri telah memindahkan kurva dari Di menjadi di . Maka keseimbangan yang baru adalah adalah pada ei , yang berarti harga telah turun ke Pi dan jumlah barang yang diperjualbelikan berkurang menjadi Qi.
12

Jelas kelihatan bahwa PP1 dalam grafik (i) adalah jauh lebih besar daripada PPi dalam grafik (ii) (walaupun digambarkan bahwa perubahan permintaan terhadap barang industri adalah kira-kira sama besar dengan perubahan terhadap barang pertanian). Ini membuktikan bahwa perubahan permintaan menimbulkan perubahan harga yang lebih besar terhadap harga barang pertanian daripada terhadap harga barang industri.

Untuk melihat bagaimana elastisitas permintaan dapat mempengaruhi insiden pajak akan dimisalkan bahwa penawaran adalah sama sifatnya pada kedua keadaan yang dibandingkan. Dengan pemisalan ini selanjutnya akan dibandingkan keadaan di mana permintaan adalah elastis dengan permintaan adalah tidak elastis. Keadaan seperti itu ditunjukan dalam Gambar XX, yaitu bagian (i) menggambarkan insiden pajak apabila permintaan elastis di bagian (ii) menggambarkan keadaan apabila permintaan tidak elastis. Coba perhatikan keadaan itu secara satu demi satu. (Pahan,2007).

(Pahan,2007) Kasus Permintaan Elastis

13

Dalam Gambar XX (i) dimisalkan sebelum adanya pajak penjualan, kurva permintaan dan penawaran berturut-turut adalah DD dan SS. Maka keseimbangan adalah pada titik E dan keseimbangan ini menunjukan bahwa harga adalah P dan jumlah barang yang diperjualbelikan adalah Q. Kemudian misalkan pemerintah mengenakan pajak penjualan sebanyak T. Akibatnya pajak penjualan ini kurva penawaran akan berubah dai SS menjadi SiSi yang selanjutnya mengakibatkan perubahan keseimbangan dari E kepada E1. Dapat dilihat bahwa harga naik menjadi P1 dan jumlah barang yang diperjualbelikan hanya mencapai jumalh Q1. Kalau dibandingkan harga sebelum adanya pajak penjualan dan harga sesudah pajak tersebut dikenakan, uraian di atas menunjukan bahwa harga naik sebanyak PP1 dan selebihnya yaitu (T-PP1)=PA ditanggung oleh penjual. (Pahan,2007) Kasus Permitaan Tidak Elastis Dalam Gambar XX (ii) dimisalkan sebelum pemerintahan memungit pajak penjualan, permintaan dan penawaran adalah DD dan SS. Kurva penawaran SS Gambar XX (ii) adalah sama dengan kurva penawaran Gambar XX (i). Akan tetapi kurva permintaan D1D1 lebih tidak elastis darpada kurva permintaan DD. Berdasarkan pemisalan yang dibuat keseimbangan pemulaan adalah pada titik E, yaitu pada harga P dan jumlah barang yang diperjualbelikan adalah Q. Seperti dakan Gambar XX (i), dimisalkan pemerintah mengenakan pajak penjualan sebesar T dan akibatnya kurva penawaran begeser dari SS menjadi S1S1 serta keseimbangan dari menjadi E1. Keadaan keseimbangan yang baru menunjukan harga telah naik menjadi P1 dan jumlah barang yang dipejualbelikan turun menjadi Q1. Gambar XX (ii) menunjukan oajak penjualan dibayar konsumen adalah PP1 dan produsen membayar sebanyak PA. Dalam grafik jelas terlibat P1P > PA, yang berarti beban pajak yang ditanggung konsumen adalah lebih besar dari yang ditanggung produsen. Dengan demikian minyak sawit adalah produk inelastis, hal ini dapat dijelaskan karena minyak sawit selama ini merupakan barang komoditas yang sebagian besar diolah lebih lanjut sebagai bahan pangan.

14

(Mielke, 2010)

Secara teoritis pengaruh peningkatan pajak ekspor terhadap minyak goreng sawit domestik disajikan pada Gambar 1.

(Gustone,2009)

15

Pengenaan pajak ekspor CPO akan menggeser kurva penawaran ekspor dari Se1 menjadi Se. Harga ekspor akan naik, sedangkan harga di pasar domestik akan turun (Gambar 1a). Volume CPO dalam negeri akan meningkat dari dari OQ2 menjadi OQ (Gambar 1b dan c), volume ekspor CPO Indonesia menurun dari AB menjadi CD (Gambar 1b). Dengan meningkatnya ketersediaan CPO sebagai input bagi industri minyak goreng maka penawaran minyak goreng sawit domestik meningkat dari QCPOt
MG

ke QMGt (Gambar 1d) Pergeseran kurva

penawaran minyak goreng tersebut akan mengakibatkan harga minyak goreng turun (Gambar 1e). Jika pajak ekspor CPO naik, maka harga ekspor akan naik dan volume ekspor CPO akan turun, dan harga CPO domestik akan turun dan jumlah permintaan CPO akan meningkat. Peningkatan CPO berpengaruh positif terhadap penawaran minyak goreng dan menurunkan harga minyak goreng.

(Gustone,2009) Grafik di atas menggambarkan kondisi demand dan supply pasar minyak goreng domestik. Karena minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok bagi masyarakat, maka kurva demand-nya inelastis. Sementara itu, karena minyak goreng berasal dari kelapa sawit, yang mana membutuhkan waktu untuk panen, maka dalam jangka pendek, kurva supply juga inelastis. Sebelum ada pajak, keseimbangan pada pasar minyak goreng akan terjadi pada titik E. Lalu, ketika

16

pemerintah menetapkan pajak sebesar T pada produsen, kurva supply akan bergeser dari S1 menjadi S2. Akibat pergeseran kurva supply, tercipta keseimbangan baru di E, dengan tingkat harga yang lebih tinggi dan jumlah barang yang lebih rendah.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Permintan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan diantaranya: 1. Harga barang tersebut 2. Harga barang lain 3. Pendapatan 4. Populasi 5. Selera 6. Dan lain-lain Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran diantaranya: 1. Harga barang tersebut 2. Harga barang lain 3. Harga Input 4. Teknologi
17

5. Tujuan Produsen 6. Dan lain-lain Dapat disimpulkan bahwa dengan demikian minyak sawit adalah produk inelastis, hal ini dapat dijelaskan karena minyak sawit selama ini merupakan barang komoditas yang sebagian besar diolah lebih lanjut sebagai bahan pangan. 4.2 Saran Terimakasih atas bimbingan Mbak Indah dan Mbak Erik.

DAFTAR PUSTAKA Ari. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. BPFE. Yogyakarta. Boediono. 1989. Ekonomi pertanian. Edisi Kedua. BPFE. Yogyakarta Gunstone. 2009. Commodity Oils and Fats Palm Oil. The Lipid Library. USA Mielke. 2010. World Supply,Demand for Palm and Laurics Oils. USA Pahan. 2007. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Depok Sukirno. 1997. Pengantar Ekonomi pertanian. Grafindo Persada. Jakarta

18