You are on page 1of 19

BAB I PENDAHULUAN

Fraktur kolum femoris merupakan merupakan komplikasi utama akibat jatuh pada lansia, diderita oleh 200.000 lebih lansia di AS pertahun, sebagian besar wanita. Di estimasikan 1% lansia yang jatuh akan mengalami fraktur kolum femoris, 5% akan mengalami fraktur tulang lain seperti iga, humerus, pelvis dan lain-lain, 5% akan mengalami perlukaan jaringan lunak. Perlukaan jaringan lunak yang serius seperti subdural hematom, hemarthroses, memar dan keseleo otot juga sering merupakan komplikasi akibat jatuh (Kane et al, 1994). Fraktur kolum femoris merupakan fraktur yang berhubungan dengan proses menua dan osteoporosis. Wanita mempunyai risiko tinggi dibanding laki-laki untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh. Risiko untuk terjadinya perlukaan akibat jatuh merupakan efek gabungan dari penurunan respon perlindungan diri ketika jatuh dan besar kekuatan terbantingnya

Page 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 SKENARIO TERJATUH

Seorang nenek umur 65 tahun dibawa ke rumah sakit dengan keluhan tungkai kanan tidak dapat digerakkan sejak 2 hari setelah terjatuh di kamar mandi. RPT : Hipertensi dan gangguan penglihatan RPO: Nifedipine Dari hasil pemeriksaan: TD : 160/90 mmHg, FN: 96x/menit, FP: 24x/menit Pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai adanya memar, deformitas (+) berupa pemendekan pada tungkai kanan, setelah pemasangan bidai, dokter menganjurkan foto pelvic AP.

2.2 LEARNING OBJECTIVE 1. Mengetahui tentang definisi Jatuh pada lansia 2. Mengetahui tentang etiologi Jatuh pada lansia 3. Mengetahui tentang faktor risiko Jatuh pada lansia 4. Mengetahui tentang tanda dan gejala Jatuh pada lansia 5. Mengetahui tentang cara penatalaksanaan Jatuh pada lansia

Page 2

2.3 JATUH Pengertian Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2004). Jatuh merupakan suatu kejadian yang menyebabkan subyek yang sadar menjadi berada di permukaan tanah tanpa disengaja. Dan tidak termasuk jatuh akibat pukulan keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah dari penyebab yang spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006).

Faktor Resiko a. Faktor instrinsik Faktor instrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan mengapa seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama mungkin tidak jatuh (Stanley, 2006). Faktor intrinsik tersebut antara lain adalah gangguan muskuloskeletal misalnya menyebabkan gangguan gaya berjalan, kelemahan ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope yaitu kehilangan kesadaran secara tibatiba yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otak dengan gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin, pucat dan pusing

b. Faktor ekstrinsik

Page 3

Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya) diantaranya cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tersandung benda-benda (Nugroho, 2000). Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain lingkungan yang tidak mendukung meliputi cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tempat berpegangan yang tidak kuat, tidak stabil, atau tergeletak di bawah, tempat tidur atau WC yang rendah atau jongkok, obat-obatan yang diminum dan alat-alat bantu berjalan (Darmojo, 2004).

Penyebab Jatuh Dari Lingkungan Rumah Faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan jatuh adalah penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), lantai yang licin dan basah, tempat berpegangan yang tidak kuat/tidak mudah dipegang dan alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang tidak stabil dan tergeletak di bawah. (Darmojo, 2004). Menurut Friedman, 1998 adalah kondisi interior rumah meliputi bagaimana ruangan-ruangan tersebut dilengkapi oleh perabot , kelayakan perabot, penerangan yang tidak memadai dan eksterior rumah meliputi lantai, tangga, jeruji dalam keadaan buruk, tempat obat-obatan tidak terjangkau dan pintu masuk dan pintu keluar ke rumah tidak terdapat penerangan dan ruang gerak yang cukup untuk keluar dari rumah, kabel listrik telanjang di lantai, kolam renang yang tidak di pagari secara memadai.

Akibat Jatuh Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah fraktur

Page 4

pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percayadiri, penbatasan dalam aktivitas sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh (Stanley, 2006).

Komplikasi Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2004), komplikasi-komplikasi jatuh adalah : a. Perlukaan (injury) Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena, patah tulang atau fraktur misalnya fraktur pelvis, femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas. b. Disabilitas Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak. c. Mati

Pencegahan Menurut Tinetti (1992), yang dikutip dari Darmojo (2004), ada 3 usaha pokok untuk pencegahan jatuh yaitu : a. Identifikasi faktor resiko

Page 5

Pada setiap lanjut usia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor instrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assessment keadaan sensorik, neurologis, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat, peralatan rumah tangga yangsudah tidak aman (lapuk, dapat bergerser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktivitas lanjut usia. Kamar mandi dibuat tidak licin sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

b. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait) Setiap lanjut usia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medis. Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah kakinya menapak dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan. c. Mengatur/ mengatasi faktor situasional. Faktor situasional yang bersifat serangan akut yang diderita lanjut usia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lanjut usia secara periodik. Faktor

Page 6

situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan , faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan lanjut usia. Aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehgkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Maka di anjurkan lanjut usia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk tiap kasus karena perbedaan faktor-faktor yang bekerjasama mengakibatkanjatuh. Bila penyebab merupakan penyakit akut penangananya menjadi lebih mudah, lebih sederhana, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh secara efektif. Tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat, rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lanjut usia itu. Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan bepergian/aktivitas fisik, penggunaan alat bantu gerak. Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot sehingga memperbaiki fungsionalnya. Sering terjadi kesalahan, terapi rehabilitasi hanya diberikan sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh. Padahal terapi ini diperlukan secara terus-menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fungsional.

Page 7

Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan difokuskan untuk mengatasi penyebab/faktor yang mendasarinya. Penderita dimasukkan dalam progam gait training dan pemberian alat bantu berjalan. Biasanya progam rehabilitasi ini dipimpin oleh fisioterapis. Penderita dengan dizziness syndrom, terapi ditujukan pada penyakit kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat-obat yang menyebabkan hipotensi postural seperti beta bloker, diuretic dan antidepresan. Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah/tempat kegiatan lanjut usia seperti tersebut di pencegahan jatuh (Darmojo, 2004).

Perubahan fisiologis berkaitan jatuh Perubahan fisiologis pada lanjut usia yang berkaitan dengan kejadian jatuh diantaranya adalah perubahan sistem musculoskeletal, sistem persyarafan dan sistem sensoris a. Perubahan Muskuloskeletal Menurut Lueckenotte (1997), tulang-tulang pada sistem skelet (rangka) membentuk fungsi penunjang, pelindung, gerakan tubuh dan penyimpanan mineral. Jaringan otot rangka melekat pada rangka dan bertanggung jawab untuk gerakan tubuh volunter. Persendian diklasifikasikan secara struktural dan fungsional. Klasifikasi struktural didasarkan pada ikatan materi tulang dan apakah ada rongga persendia. Klasifikasi fungsional didasarkan pada jumlah gerakan yangdimungkinkan pada persendian. Bila artikulasis di antara tambahan tulang, sendi menahan tulang dan memungkinkan gerakan.

Page 8

Penurunan progesif pada massa tulang total terjadi sesuai proses penuaan. Beberapa kemungkinan penyebab dari penurunan ini meliputi ketidakaktifan fisik, perubahan hormonal, dan resorpsi tulang. Efek penurunan tulang adalah makin lemahnya tulang: vertebra lebih lunak dan dapat terteka, dan tulang berbatang panjang kurang tahanan terhadap penekukan dan menjadi lebih cenderung fraktur. Serat otot rangka berdegenerasi. Fibrosis terjadi saat kolagen menggantikan otot, mempengaruhi pencapaian suplai oksigendan nutrisi. Massa, tonus dan kekuatan otot semunya menurun: otot lebih menonjol dari ekstremitas yang menjadi kecil dan lemah, dan tangan kurus dan tampak bertulang. Penyusupan dan sklerosis pada tendon dan otot mengakibatkan perlambatan respon selama tes reflex tendon. Menurut Pujiastuti (2003), perubahan muskuloskeletal antara lain pada jaringan penghubung, kartilago, tulang, otot dan sendi. 1. Jaringan penghubung (kolagen dan elastin) Kolagen sebagai protein pendukung utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi tidak teratur dan penurunan hubungan pada jaringan kolagen, merupakan salah satu alasan penurunan mobilitas pada jaringan tubuh. Sel kolagen mencapai puncak mekaniknya karena penuaan, kekakuan dari kolagen mulai menurun. Kolagen dan elastin yang merupakan jaringan ikat pada jaringan penghubung mengalami perubahan kualitas dan kuantitasnya. Perubahan pada kolagen itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa nyeri, penurunan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot, kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan danhambatan dalam melekukan aktivitas sehari-hari.upaya fisioterapi

Page 9

untuk mengurangi dampak tersebut adalah memberikan latihan untuk menjaga mobilitas. 2. Kartilago Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi akhirnya permukaan sendi menjadi rata. Selanjutnya kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung ke arah progesif. proteoglikan yang merupakan komponen dasar matrik kartilago.berkurang atau hilang secara bertahap. Sehingga jaringan fibril pada kolagen kehilangan kekuatanya dan akhirnya kartilago cenderung mengalami fibrilasi. Kartilago mengalami kalsifikasi di beberapa tempat seperti pada tulang rusuk dan tiroid. Fungsi kartilago menjadi tidak efektif tidak hanya sebagai peredam kejut, tetapi sebagai permukaan sendi yang berpelumas. Konsekuensinya kartilago pada persendian menjadi rentan terhadap gesekan. Perubahan tersebut sering terjadi pada sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mudah mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak dan terganggunya aktivitas sehari-hari.. untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dapat diberikan teknik perlindungan sendi. 3. Tulang Kekurangan kepadatan tulang, setelah diobservasi adalah bagian dari penuaan fisiologis. Trabekula longitudinal menjadi tipis trabekula tranversal terabsorbsi kembali, sehingga akibat perubahan itu, jumlah tulang spongiosa berkurang dan tulang kompakta menjadi tipis. Perubahan lain yang terjadi adalah penurunan estrogen sehingga produksi osteoklas tidak terkendali, penurunan penyerapan

Page 10

kalsium di usus, peningkatan haversi sehingga tulang keropos.Berikutnya jaringan tulang secara keseluruhan menyebabkan kekuatan dan kekakuan tulang menurun. Dampak berkurangnya kepadatan akan mengakibatkan osteoporosis. Osteoporosis lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas, fraktur. Latihan fisik dapat diberikan sebagai cara untuk mencegah osteoporosis. 4. Otot Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi. Menurunnya jumlah dan ukuran serabut otot, meningkatnya jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negatif. Perubahan otot pada penuaan antara lain menurunya jumlah serabut otot, atrofi pada beberapa serabut otot dan fibril menjadi tidak teratur dan hipertropi pada serabut otot yang lain, penurunan 30% massa otot, meningkatnya jaringan lemak, degenerasi miofibril. Dampak dari perubahan otot tersebut adalah menurunya kekuatan, menurunnya fleksibilitas, meningkatnya waktu reaksi dan menurunnya kemampuan fungsional otot. Untuk mencegah perubahan lebih lanjut dapat diberikan latihan untuk mempertahankan mobilitas. 5. Sendi Pada lanjut usia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligamen dan fasia mengalami penurunan elastis, ligamen, kartilago dan jaringan periartikular mengalami penurunan daya lentur dan elastisitas. Terjadi degenerasi, erosi, kalsifikasi pada kartilago dan kapsul sendi. Sendi kehilangan fleksibilitasnya sehingga terjadi penurunan luas gerak sendi, gangguan jalan dan aktivitas keseharian lainnya. Upaya pencegahan kerusakan sendi antara lain memberikan teknik perlindungan sendi dalam beraktivitas.

Page 11

Perubahan Sistem Persarafan Sistem neurologis , terutama otak adalah suatu faktor utama dalam penuaan. Neuron-neuron menjadi semakin komplek dan tumbuh, tetapi neuron-neuron tersebut tidak dapat mengalami regenerasi. Perubahan struktural yang paling terlihat terjadi pada otak itu sendiri. Walaupun bagian lain dari sistem saraf pusat juga terpengaruh. Perubahan ukuran otak yang dipengaruhi oleh atrofi girus dan dilatasi sulkus dan ventrikel otak. Korteks serebral adalah daerah otak yang paling besar dipengaruhi oleh kehilangan neuron. Penurunan aliran darah serebral dan penggunaan oksigen dapat pula terjadi dengan penuaan. Perubahan dalam sistem neurologis dapat termasuk kehilangan dan penyusutan neuron, dengan potensial 105 kehilangan yang diketahui pada usia 80 tahun. Secara fungsional terdapat suatu perlambatan reflek tendon, terdapat kecenderungan ke arah tremor dan langkah yang pendek-pendek atau gaya berjalan dengan langkah kaki melebar disertai dengan berkurangnya gerakan yang sesuai. Waktu reaksi menjadi lebih lambat, dengan penurunan atau hilangnya hentakan pergelangan kaki dan pengurangan reflek lutut, bisep dan trisep terutama karena pengurangan dendrite dan perubahan pada sinaps, yang memperlambat konduksi ( Stanley, 2006) Menurut Pujiastuti (2003), lanjut usia mengalami penurunan koordinasi dan

kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respon motorik pada susunan SSP . hal ini terjadi karena SSP pada lanjut usia mengalami perubahan. Berat otak pada lansia berkurang berkaitan dengan berkurangnya kandungan protein dan lemah pada otak

Page 12

sehingga otak menjadi lebih ringan. Akson, dendrit dan badan sel saraf banyak mengalami kematian, sedang yang hidup banyak mengalami perubahan. Dendrit yang berfungsi untuk komunikasi antar sel mengalamiperubahan menjadi lebih tipis dan kehilangan kontak antar sel. Daya hantar saraf mengalami penurunan 10% sehingga gerakan menjadi lamban. Akson dalam medula spinalis menurun 37%. Perubahan tersebut mengakibatkan penurunan kognitif, koordinasi,

keseimbangan, kekuatan otot, reflek, perubahan postur dan waktu reaksi. Hal itu dapat dicegah dengan latihan koordinasi dan keseimbangan. Menurut Stanley (2006), manifestasi klinis yang berhubungan dengan defisit neurologis pada klien lanjut usia dapat dipandang dari berbagai perspektif: fisik, fungsional, kognisi dan komunikasi. 1) Fisik Dampak dari penuaan pada SPSS sukar untuk ditentukan, karena hubungan fungsi sistem ini dengan sistem tubuh yang lain. Dengan gangguan perfusi dan gangguan aliran darah serebral, lanjut usia berisiko lebih besar untuk mengalami kerusakan serebral. Dan metabolism yang sudah diketahui. Dengan penurunan kecepatan konduksi saraf, reflek yang lebih lambat, dan respon yang tertunda untuk berbagai stimulus yang dialami maka terdapat pengurangan sensasi kinestetik. 2) Fungsi Defisit fungsional pada gangguan neurologis berhubungan dengan penurunan mobilitas pada lanjut usia, yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, rentang gerak dan kelenturan. Penurunan pergerakan merupakan akibat dari kifosis, pembesaran sendi-sendi, kesenjangan dan penurunan tonus otot. Atrofi dan penurunan jumlah

Page 13

serabut otot dengan jaringan fibrosa secara berangsur-angsurmenggantikan jaringan otot. Dengan penurunan massa otot, kekuatan dan pergerakan secara keseluruhan, lamjut usia memperlihatkan kelemahan secara umum dihubungkan dengan degenerasi system ekstrapiramidal. Kekejangan dapat diakibatkan oleh cedera motor neuron di dalam SSP. Kejang yang berat dapat mengakibatkan berkurangnya fleksibilitas, postur tubuh dan mobilitas fungsional, juga nyeri sendi, kontraktur dan masalah dengan pengaturan posisi. Tendon dapat mengalami sklerosis dan penyusutan, yang menyebabkan penurunan hentakan tendon. Deficit mobilitas fungsional dan pergerakan membuat lanjut usia menjadi sangat rentan untuk mengalami gangguan integritas kulit dan jatuh. c. Perubahan Sensoris Banyak lanjut usia memiliki masalah sensoris yang berhubungan dengan perubahan normal akibat penuaan. Perubahan sensoris dan permasalahn yang dihasilkan merupakan faktor yang turut berperan paling kuat dalam perubahan gaya hidup yang bergerak ke arah ketergantungan yang lebih besar dan persepsi negatif tentang kehidupan. Defisit sensoris perubahan penglihatan merupakan bagian dari penyesuaian berkesinambungan yang datang dalam kehidupan usia lanjut. Perubahan penglihatan mempengaruhi pemenuhan AKS. Perubahan penglihatan dan fungsi mata yang dianggap normal dalam proses penuaan termasuk penurunan kemampuan untuk melakukan akomodasi, konstriksi pupil akibat penuaan dan perubahan warna serta kekeruhan lensa mata. Perubahan penglihatan pada awalnya dimulai dengan terjadinya presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif di mulai pada dekade ke empat kehidupan,

Page 14

ketika seseorang memiliki masalah dalam membaca huruf-huruf yang kecil. Kerusakan akomodasi mata terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lemah dan lebih kendur, dan lensa mengalami sklerosis dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan data (penglihatan jarak dekat). Ukuran pupil menurun karena sfingter pupil mengalami sklerosis. Miosis pupil dapat mempersempit lapang pandang dan mempengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu. Perubahan warna misalnya menguning dan meningkatnya kekeruhan lensa Kristal yang terjadi dari waktu ke waktu dapat menimbulkan katarak. Katarak menimbulkan tanda dan gejala penuaan yang mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari. Penglihatan yang kabur dan seperti terdapat selaput di atas mata adalah gejala umum, yang mengakibatkan kesukaran dalam mengfokuskan penglihatan dan membaca.. selain itu lanjut usia harus didorong untuk menggunakan lampu yang terang dan tidak menyilaukan. Sensitivitas terhadap cahaya sering terjadi, menyebabkan lanjut usia sering mengedipkan mata terhadap cahaya terang atau ketika berada di luar pada siang hari yang cerah. Lanjut usia memerlukan penggunaan cahaya pada malam hari di dalam rumah dan waktu tambahan untuk melakukan penyesuaian penglihatan terhadap perubahan kekuatan penerangan ketika meninggalkan suatu lingkungan yang memiliki pencahayaan baik ke suatu lingkungan yang pencahayaan redup. Lanjut usia harus diajarkan untuk menggunakan tangan mereka sebagai pemandu pada pegangan tangga dan menggunakan cat yang terang pada bagian tepi anak tangga. Menurut Pujiastuti (2003), perubahan penglihatan pada lanjut usia erat kaitanya dengan presbiopi. Lensa kehilangan elastisitasnya dan kaku, otot penyangga lensa lemah dan kehilangan tonus. Ketajaman penglihatan dan daya akomodasi dari jarak

Page 15

jauh atau dekat berkurang. Penggunaan kacamata dan sistem penerangan yang baik dapatdigunakan untuk mengkompensasi hal tersebut. Perubahan penglihatan pada lanjut usia antara lain penglihatan menurun, akomodasi lensa menurun, iris mengalami arkus senilities, koroid memperlihatkan atrofi di sekitar discus, lensa dibutuhkan lebih banyak cahaya untuk melihat warna, konjungtiva menipis dan terlihat kekuningan, air mata menurun infeksi dan iritasi meningkat, pupil ukuranya berbeda, kornea terdapat arkus senilis. Kehilangan pendengaran pada lanjut usia disebut presbikusis. Penyebab tidak

diketahui tetapi berbagi factor yang telah diteliti adalah nutrisi, faktor genetika, suara gaduh, hipertensi, stress emosional. Penurunan pendengaran terutama berupa sensorineural, tetapi juga dapat berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbikusis. Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran, batang otak atau jalur kortikal pendengaran). Penyebab dari perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih berkaitan dengan perubahan pada tulang di dal;am telinga tengah, dalam bagian koklear atau di dalam tulang mastoid. Dalam presbikusis, suara konsonan derngan nada tinggi merupakan yang pertama kali terpengaruh, dan perubahan dapat terjadi secara bertahap.. karena perubahan berlangsung lambat, lanjut usia mungkin tidak segera mencari bantuan yang dalam hal ini sangat penting sebab semakin cepat kehilangan pendengaran dapat diidentifikasi dan alat bantu diberikan, semakin besar kemungkinan untuk berhasil. Karena kehilangan pendengaran pada umunya berkangsung secara bertahap. Dua masalah fungsional pendengaran pada populasi lanjut usia adalah ketidakmampuan

Page 16

untuk mendeteksi volume suara dan ketidakmampuan untuk mendeteksi suara dengannada frekuensi tinggi seperti beberapa konsonan misalnya f, s, sk,sh dan l. Perubahanperubahan ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua telinga.

Page 17

BAB III KESIMPULAN

Jatuh adalah suatu kejadian mengakibatkan seseorag mendadak terbaring /terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka. Penyebab Jatuh Pada Lansia Kecelakaan Nyeri kepala atau vertigo Hipotensi orthostatik Obat-obatan Proses penyakit Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

Faktor resiko jatuh pada lansia dibagi dua yaitu : faktor intrinsik : kondisi fisik dan neuropsikiatrik penurunan visus dan pendengaran perubahan neuromuskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua Faktor-faktor ekstrinsik Obat-obat yang diminum Alat-alat bantu berjalan Lingkungan yang tidak mendukung

Page 18

DAFTAR PUSTAKA

Gallo,Joseph.1998.Buku Saku Gerontologi.Jakarta:Buku Kedokteran EGC Nugroho, Wahjudi.1995.Perawatan Lanjut Usia.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Darmojo-Boedhi.2004.Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). FKUI : Jakarta

Page 19