You are on page 1of 11

5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penelitian-penelitian mengenai backward-facing step mulai sering dilakukan belakangan ini, hal ini untuk membuktikan kebenaran dari berbagai teori-teori dasar mengenai fluida yang nantinya dapat dijadikan suatu acuan untuk mendapatkan analisa- analisa mengenai sistem aliran fluida dengan tingkat efisiensi dan performa emisi yang baik. Disamping itu dengan adanya perkembangan teknologi seperti kemajuan teknologi komputer, laser, optik. Maka diciptakan suatu alat yang mendukung proses penelitian untuk mencari data visualisasi serta harga dari medan kecepatan, medan vortisitas dan medan turbulensi. Salah satu alat visualiasasi yang berperan dalam pencarian gambarangambaran aliran fluida dalam penelitian ini adalah PIV (Particle Image Velocimetry).Dengan adanya PIV serta teori- teori dasar yang mendukung penelitian ini diharapkan didapatkan suatu hasil yang lebih komprehensif. 2.1 Separate-Reattaching Flow Sejak zaman dulu banyak para ahli yang mengamati fenomena fisika di alam semesta ini, hal ini semata mata untuk mengetahui kelakuan dari fenomena fisika tersebut, kemudian mengaplikasikannya pada kehidupan untuk kesejahteraan manusia. Salah satu dari pengamatan tersebut adalah tentang pergerakan partikel fluida ( trayektori partikel fluida ), baik fluida dalam bentuk liquid atau gas. Trayektori atau lintasan ( dalam matematika dapat dideskripsikan dengan vektor posisi ) sangatlah penting, karena dari vektor posisilah kita dapat mengetahui vektor kecepatan dan vektor percepatan, oleh karena itu banyak para ahli yang mencoba membuat suatu model dari visualisasi aliran fluida.

Universitas Indonesia

Berikut adalah visualisasi aliran di sekitar airfoil dan distribusi dari medan vektor kecepatannya, dimana aliran udara terseparasi di belakang sayap dan membentuk sebuah vortisitas.

Gambar 2.1 Aliran yang terseparasi dibelakang sayap yang divisualisasi dengan peralatan modern Separate-reattaching Flow merupakan suatu kejadian atau fenomena dimana fluida terseparasi dekat dengan batas padatnya lalu bertaut kembali dengan batas padatnya sehingga menghasilkan aliran fluida dengan karakteristik tertentu. Hal ini dapat terjadi karena adanya adverse pressure gradient, namun hal ini bukan menjadi syarat utama untuk terjadinya separasi. 2.2 Zona Resirkulasi Zona resirkulasi merupakan daerah tertutup ysng terbentuk adanya aliran ekspansi mendadak mendadak dimana aliran tersebut terperangkap didalam daerah tersebut . Dalam penelitian ini yang melatarbelakangi penulis meneliti karakteristik medan aliran pada aliran resirkulasi akibat injeksi gas panas pada backward-facing step.

Universitas Indonesia

Gambar 2.2 Zona resirkulasi pada backward-facing step Fluida yang melewati backward-facing step juga akan mengalami separasi. Titik separasi muncul pada ujung atap step.. Aplikasi dari fenomena ini mencakup banyak hal diantaranya airfoil, geometri kendaraan, mesin mesin turbo dan yang paling umum dalam aplikasi sistem pembakaran yang menggunakan aliran resirkulasi untuk membuat pembakaran menjadi stabil. 2.3 Backward-Facing Step Backward-facing step adalah suatu geometri dimana suatu lintasan aliran mengalami pembesaran mendadak sehingga tampak seperti anak tangga terbalik. Aliran yang melewati ini akan menghasilkan aliran separasi sehingga terbentuk lapisan geser, zona resirkulasi dan lapisan batas yang berkembang kembali. Aliran separasi mulai terjadi tepat pada titik di ujung tinggi step dan membentuk lapisan geser bebas. Pada titik separasi, garis streamline hampir parallel dengan dinding. Timbulah daerah aliran resirkulasi kecepatan rendah pada bagian bawah separasi. Diantara aliran dua dimensi, backward-facing step merupakan sebuah geometri paling sederhana untuk menghasilkan aliran separasi dan reattaching. Karena alasan inilah para peneliti memanfaatkan backward-facing step untuk mengembangkan model aliran turbulent. Meskipun backward-facing step merupakan aliran reattaching yang paling sederhana , daerah alirannya masih sangat rumit. Ketika lapisan batasnya laminar, akan terbentuk transisi secara cepat setelah separasi, walaupun bilangan Reynoldnya sangat rendah. Lapisan geser terseparasi akan terlihat lebih besar ketika melewati bagian pertama dari zona

Universitas Indonesia

lairan separasi. Garis arus pembagi ( deviding streamline) digambarkan dengan garis putus putus pada gambar 1.1, dan lapisan gesernya cukup tipis dan tidak dipengaruhi oleh keberadaan dinding di sekitarnya. Dilihat dari dua dimensi, reattachment turbulent didefinisikan sebagai proses suatu kondisi lapisan bebas yang berpisah menjadi makin meningkat mempengaruhi dan akhirnya didominasi oleh adanya permukaan padat yang membatasinya. Reattachment dapat dilukiskan sebagai suatu daerah penyesuaian diri kembali dimana karakteristik struktur turbulensi pada lapisan campuran bebas mulai mendapatkan kembali struktur kondisi batas dinding datar. Untuk aliran dua dimensi, reattachment point X r didefinisikan sebagai tempat dimana gesekan permukaan local rata rata sama dengan nol. Pada daerah reattachment, kecepatan searah aliran rata rata terbobot waktu sangat kecil dan membalikkan secara tiba tiba arah aliran yang terjadi menjadi turbulent. Pengaruh momentum searah aliran relatif diabaikan untuk tekanan dan gaya geser, sehingga gradient tekanan searah aliran kira kra seimbang dengan gradient tegangan geser normal fluida total permukaan. Geseran total rata rata pada permukaan di daerah reattachment kecil, tetapi hal ini menjadi besar pada lapisan geser di atas permukaan. Konsekuensinya, kenaikan tekanan yang besar terjadi pada daerah reattachment. 2.4 Lapisan batas (Boundary Layer) Lapisan batas pada suatu kajian mekanika fluida adalah lapisan fluida yang parameter kecepatannya dipengaruhi oleh tegangan geser, dimana kecepatan lapisan batas ini mendekati kecepatan pada aliran utamanya. Lapisan batas mempunyai karakteristik mengikuti garis aliran dan dengan bergeraknya lapisan ini sepanjang benda alir maka tegangan geser akan menghambat partikel partikel fluida hingga melambat. Dengan melambatnya fluida maka lapisan batas akan semakin tebal seiring jarak dari titik hulu. Fluida yang berada di dalam lapisan batas juga mengalami gradient tekanan dimana jika tekanan berkurang ke arah hilir akan memperbesar momentum lapisan ataupun sebaliknya.

Universitas Indonesia

Struktur dari aliran kondisi batas turbulensi sangat kompleks. Dalam kenyataannya, kecepatan di lokasi yang ditetapkan pada suatu aliran fluida tak tunak memiliki bentuk yang tidak teratur. Aliran ini memberikan gagasan sebagai kumpulan jaringan eddy pada perbedaan ukuran. 2.5 Eksitasi Eksternal Eksitasi adalah suatu gangguan, gangguan dapat berasal dari dalam ataupun luar sistem, dalam hal ini eksitasi berasal dari luar sistem. Eksitasi atau gangguan pada skripsi ini berupa eksitasi gas panas dimana temperature gas ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan temperatur lingkungan. Eksitasi ini dapat ditempatkan ditempatkan di berbagai posisi dan salah satunya adalah pada medan resirkulasi untuk kanal terbuka, yaitu zona dimana fluida terperangkap dan membentuk aliran resirkulasi. Pengkajian mengenai eksitasi eksternal untuk geometri backward-facing step dimulai menggunakan fluida jet injeksi sekunder dari bagian bawah kanal pada bagian hulunya sehingga menghasilkan perubahan koefisien perpindahan panas yang cukup besar pada kanal. Penelitian eksitasi eksternal ini kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa jumlah aliran massa dapat merubah aliran utama, bentuk dan intensitas turbulensi serta laju perpindahan panas pada kanal aliran tersebut. 2.6 Sistem dan Volume Atur Sebuah sistem menunjukkan kuantitas massa tertentu dan membedakannya dari semua massa di lingkungannya. Batas suatu sistem membentuk permukaan tertutup. Permukaan Permukaan ini dapat saja berubah seiring dengan waktu, sedemikian sehingga permukaan tersebut melingkupi massa yang tetap selama terjadi perubahan terhadap kondisinya. Dalam kasus di atas sistem berisi massa yang terbatas jumlahnya dan terdiri dari fluida yang bergerak di dalam geometri backward-facing step.

Universitas Indonesia

10

Gambar 2.3 Volume atur Suatu volume atur diilustrasikan pada gambar 2.3 menunjukkan suatu daerah dalam ruang dan bermanfaat dalam analisis terhadap situasi situasi dengan terjadinya aliran ke dalam serta keluar dari ruang tersebut. Ukuran serta bentuk volume atur adalah sepenuhnya sembarang, tetapi acapkali sebagian demi sebagian dibuat berhimpit dengan batas batas benda padat. 2.7 Aliran Laminar dan Turbulent Perbedaan yang jelas antara aliran laminar dan turbulent adalah, pada

aliran laminar gerakan fluida terlihat tersusun dan berlapis, dan memungkinkan mengidentifikasi garis garis streamline sepanjang gerakan partikel fluida. Gerakan fluida sepanjang garis garis streamline dikarakteristikan dengan komponen kecepatan pada arah arah sumbu tertentu, Sebaliknya, gerakan fluida pada lapisan batas turbulent sangat tidak teratur dan dikarakteristikan dengan dengan fluktuasi kecepatan. Fluktuasi kecepatan ini meningkatkan transfer momentum dan energy. Lapisan batas pada awalnya laminar, tetapi pada suatu jarak dari sisi masuk, gangguan kecil akan mengakibatkan perubahan menjadi aliran turbulent, fluktuasi aliran mulai terjadi pada daerah transisi. Pada daerah yang sepenuhnya turbulent, kondisinya dikarakteristikan dengan gerakan acak. Perubahan dari aliran laminar ke aliran turbulent akan meningkatkan ketebalan lapisan batas. 2.8 Particle Image Velocitimetry ( PIV ) Particle Image Velocitimetry adalah sebuah metode optikal dari visualisasi aliran yang biasa digunakan dalam bidang pendidikan dan penelitian. PIV digunakan untuk mendapatkan kecepatan sesaat dan property property yang

Universitas Indonesia

11

terkait dalam fluida. Fluida primer yang ditaburi partikel tambahan berupa minyak zaitun disumsikan mengikuti lintasan dari aliran fluida primer. Fluida primer yang telah tercampur disinari agar pertikel partikelnya terlihat. Gerakan dari partikel pencampur digunakan untuk menghitung laju dan arah ( medan vector kecepatan ) dalam fluida yang diamati. Berikut ini adalah Ilustrasi visualisasi medan kecepatan dengan PIV

Gambar 2.4 Ilustrasi visualisasi aliran dengan PIV (sumber: M Raffel, Particle Image Velocimetry, 2007) Particle Image Velocitimetry adalah sebuah metode nonintrusive ( tidak mengganggu jalannya aliran ) untuk mengukur kecepatan lokal sesaat dalam sebuah medan aliran. PIV digunakan dalam suatu penelitian untuk mengukur berbagai macam fenomena aliran dibawah kondisi tertentu. Penggunaan PIV pun tergolong sederhana dan tidak seperti metode pengukuran konvensional dimana sensor sistem tidak menggangu medan aliran, oleh karena itu keuntungan utama PIV adalah dapat secara bersamaan menentukan pemetaan profil kecepatan dalam dua dimensi ( bahkan tiga dimensi ). Berikut adalah contoh medan vektor kecepatan dua dimensi yang dihasilkan oleh PIV.

Universitas Indonesia

12

vortisitas

Gambar 2.5 Medan vektor kecepatan Dari gambar 2.5 dapat kita lihat suatu medan vektor kecepatan dimana terdapat dua buah daerah yang membentuk pusaran atau vortisitas. Eksperimental menggunakan sistem PIV terdiri dari beberapa subsistem. Pada kebanyakan aplikasi, sistem ini menggunakan partikel tambahan ( tracer particle ) yang didistribusikan pada aliran fluida primer. Partikel tambahan ini harus diterangi pada bidang aliran kurang lebih dua kali dalam rentang waktu yang sangat singkat. Cahaya tadi diuraikan ( berinteraksi secara refraksi dan absorbsi ) oleh partikel dan direkam oleh kamera. Image perpindahan partikel antara rentang denyut pencahayaan dapat ditentukan melalui rekaman PIV , berikut adalah hasil pencitraan sebuah pola dari medan aliran saat awal ( t = t0 ) dan akhir( t = t0 + t )

Gambar 2.6 Pola partikel tambahan saat perekaman

Universitas Indonesia

13

2.9 Medan Kecepatan Aliran Salah satu variabel fluida yang paling penting adalah medan kecepatanya.
V = u ( x, y, z , t )i+ v( x, y, z , t ) j + w( x, y, z , t )k

(2.2)

Dimana u, v, dan w adalah komponen-komponen vektor kecepatan dalam arah x, y, dan z. Menurut definisi, kecepatan sebuah partikel adalah laju perubahan per satuan waktu dari vektor posisi partikel tersebut. Seperti diilustrasikan pada Gb. 2.2, posisi partikel A relatif terhadap sistem koordinat diberikan oleh vektor posisi, rA, yang merupakan fungsi dari waktu (jika partikel bergerak). Turunan terhadap waktu dari posisi ini memberikan kecepatan dari partikel tersebut

drA / dt = VA , dengan menuliskan kecepatan untuk seluruh partikel, kita dapat


memperoleh gambaran medan dari vektor kecepatan V=V(x,y,z,t).

Gambar 2.7 Tempat kedudukan partikel yang dinyatakan dengan vektor posisi (sumber: munson 2002) 2.10 Garis Arus Garis arus (streamlines) adalah sebuah garis yang menyinggung (tangen terhadap) medan kecepatan. Jika aliran tunak, tidak ada yang berubah terhadap waktu disebuah titik (termasuk juga arah kecepatan), sehingga garis-garis arusnya adalah garis-garis tetap didalam ruang. Untuk aliran tak tunak , garis-arus dapat berubah bentuknya menurut waktu. Garis arus diperoleh secara analitik dengan

Universitas Indonesia

14

mengintegralkan persamaan garis yang menyinggung medan kecepatan. untuk aliran dua dimensi kemiringan dari garis-arus, dy/dx, harus sama dengan tangen dari sudut yang dibuat oleh vektor kecepatan dengan sumbu-x atau
dy v = dx u

(2.1)

Jika medan kecepatan diketahui sebagai fungsi dari x dan y (dan t jika aliranya tak-tunak), maka persamaan ini dapat diintegralkan untuk mendapatkan persamaan dari garis-arus. Untuk menghasilkan garis-arus secara eksperimental dilaboratorium, seperti pada Gb. 2.3 penggunaan asap atau bahan penjejak lainya yang diinjeksikan kedalam aliran dapat memberikan informasi yang berguna berkaitan dengan garis-arus pada aliran tak tunak.

Gambar 2.8 Aliran melalui pelat miring (sumber: munson, 2002) 2.11 Vortisitas Vortisitas , didefinisikan sebagai sebuah vektor yang memiliki besar dua kali vektor rotasi; artinya,

= 2 = V

Universitas Indonesia

15

i = x u

j y v

k z w

(2.2)

w v u w v u = i + j + k y z z x x y Penggunaan vortisitas untuk menggambarkan karakteristik perputaran sebuah fluida. Secara lebih umum jika V =0, maka rotasi (dan vortisitas adalah nol, dan medan aliaran yang memiliki kondisi ini disebut sebagai tak-berotasi (irrational). 2.12 Turbulensi Mekanika fluida adalah cabang dari ilmu fisika yang mempelajari tentang fluida bergerak (dinamis) ataupun fluida tak bergerak (statis). Pecahnya garis arus dan timbulnya arus eddi dikenal sebagai fenomena turbulensi. Kapan terjadinya arus laminar dan turbulensi belum bisa terpecahkan sampai Osborne Reynolds memperkenalkan bilangan reynolds. Bilangan Reynold ini berbanding lurus dengan kecepatan, massa jenis fluida dan diameter pipa yang dilalui fluida serta berbanding terbalik dengan viskositas Turbulensi disini memiliki sifat-sifat viscous (kekentalannya tidak bisa diabaikan) dan rotasional yaitu alirannya berolak. Berikut ini persamaan yang menggambarkan hubungan antara viskositas dan tingkat turbulensi :

(2.3)

Dimana: Re = Bilangan Reynold (2300<Re<4000, kondisi turbulen) = Massa jenis fluida (kg/m3) V = kecepatan Fluida (m/s) D = Diameter (m) = Viskositas dinamis (kg/m.s)

Universitas Indonesia