You are on page 1of 36

MANAJEMEN PEMASARAN DALAM BISNIS SYARIAH Rizky I.

Y, Alfiah M, Helen P, Violita I, Siti F, Nuril H ABSTRAK


Kegiatan berbisnis syariah semakin berkembang.Perkembangan yang paling pesat terlihat pada lembaga syariah.Dalam menghadapi bisnis syariah yang semakin luas, perusahaan mempunyai strategis tersendiri untuk menghadapi persaingan.,terutama dalam melakukan strategi pemasaran dalam sebuah instansi , misalkan saja dalam perbankan syariah. Pemasaran syariah adalah sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan organisasi sesuai dengan prinsip syariah. Bank syariah dalam menjalankan usahanya mengutamakan konsistensi penerapan prinsip syariah dengan menggunakan sistem non bunga dan penerapan kualitas pelayanan syariah. Sistem non bunga syariah dalam istilah ekonomi diartikan dengan pembagi laba, secara definisi diartikan sebagai distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai suatu perusahaan. Strategi pemasaran perbankan syariah diantaranya komunikasi eksternal yang baik, melakukan inovasi produk dan inovasi proses, mengembangkan budaya syariah, strategi diferensiasi, dan strategi yang berfokus melayani kebutuhan spesifik ceruk pasar. Jenis produk yang ditawarkan dalam lembaga yang berprinsip syariah tidak kalah dengan lembaga konvensial, adanya perbedaan lembaga konvensional dengan lembaga syariah dalam konsep pemasaran syariah .Ancaman dari luar bagi bank syariah dapat menghambat jalannya perusahaan, namun lembaga syariah seperti bank syariah terus meningkatakan pelayanan serta mengembangkan inovasi terbaru dalam meningkatkan jumlah nasabah. Kata kunci : pemasaran syariah, pemasaran konvensional, strategi pemasaran
I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manajemen merupakan hal yang penting yang dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan. Selain itu dengan manajemen manusia mampu mengenali kemampuannya baik itu kelebihannya maupun kekurangannya sendiri. Manajemen juga berfungsi mengurangi hambatan-hambatan dalam mencapai suaru tujuan. Manajemen islam sangat berpengaruh bagi masyarakat, melalui produk syariah islam, masyarakat akan merasa lebih aman dan nyaman, karena manajemen syariah merupakan sektor riil, bukan pasar uang, baik pembiayaan

bagi hasil, patungan atau penyertaan modal maupun jual beli, semuanya terkait dengan sektor riil. Bisnis islam adalah unit usaha yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam, dengan mengacu kepada Al-Quran dan al hadis, prinsip islam dimaksudkan di sini adalah beroperasi mengikuti ketentuan ketentuan syariah Islam, khususnya cara bermuamalah secara islam, misalnya dengan menjauhi praktik yang mengandung riba dan melakukan investasi atas dasar bagi hasil pembiayaan perdagangan. Bisnis dalam syariah mengalami persaingan yang cukup ketat, misalkan banyak perbankan syariah, asuransi syariah . Oleh karena itu harus pintar dalam melakukan persaingan tersebut, salah satunya melihat dari segi pemasaran yang dialakukan secara islam. Pemasaran menurut perspektif syariah adalah segala aktivitas yang dijalankan dalam kegiatan bisnis berbentuk kegiatan penciptaan nilai (value creating activities) yang memungkinkan siapa pun yang melakukannya bertumbuh serta mendayagunakan kemanfatannya yang dilandasi atas kejujuran, keadilan, keterbukaan dan keikhlasan sesuai dengan proses yang berprinsip pada akad bermuamalah islami atau perjanjian transaksi bisnis dalam Islam. Seiring dengan sejarah manusia dalam memenuhi kebutuhannya, ada pihak yang meminta dan ada yang menawarkan. Pemasaran menarik perhatian yang sangat besar baik dari perusahaan, lembaga maupun antar bangsa. Bergesernya sifat baik dari perusahaan, lembaga maupun antar bangsa. Berbagai organisasi dalam melaksanakan pemasaran seperti lembaga-lembaga pemerintah, orgnisasi keagamaan dan lain-lain memandang pemasaran sebagai suatu cara baru untuk berhubungan dengan masyarakat umum. Pada awal sejarah bahwa pemasaran dilakukan dengan casra pertukaran barang (Barter) dan terus berkembang menjadi perekonomin dengan menggunakan uang sampai dengan pemasaran yang modern. Jika kita bandingkan masyarakat yang masih sederhana dan yang sudah maju akan tampak bahwa ada perbedaan di antara keduanya, terutama dalam sifat dan kemajuan perekonomian. Pada masyarakat yang masih sederhana orang

berusaha memproduksi apa yang menjadi kebutuhannya dan keluarganya. Belum ada produksi untuk tujuan memuaskan kebutuhan orang lain. Pada suatu kenyataan, utamanya faktor alam, terdapat suatu jenis barang dalam jumlah besar pada suatu tempat, sedangkan di tempat lain hampir tidak didapat. Keadaan seperti ini menghendaki kecakapan orang tertentu di tempat tertentu pula. Misalnya ikan di tepi pantai relative banyak, sedangkan buahbuahan di pegunungan relatif banyak. Untuk itu perlu adanya kecakapan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, diperlukan pemasaran di situ terlihat antara produsen dan konsumen dengan tempat yang saling berjauhan dan produk yang berbeda pada tempat yang berbeda pula. Pemasaran khusunya jual beli di lakukan dengan barter sudah sukar dilakukan. Dengan demikian akan digunakan uang sebagai alat tukar atau sebagai alat perantara. Orang yang melakukan kegiatan menyampaikan barang dan jasa itu telah melakukan kegiatan pemasaran. Pada umumnya pemasaran dianggap sebagi tempat bagi para penggeruk keuntungan, orang penuh muslihat, penjaja barang yang menggoda keinginan orang. Oleh sebab itu banyak konsumen yang ditelan oleh orang-orang jahat, tapi apabila kita menerapkan sistem-sistem islam di pemasaran itu maka hal-hal seperti itu tidak akan terjadi. Pada dasarnya, bagi umat islam Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita bagaiman sistem pemasaran islami. Akan tetapi, karena di masyarakat sudah berakar sistem pemasaran konvensional maka sistem pemasaran islam kurang dikenal. Hal ini juga menjadi pelajaran untuk kita agar dapat mengenalkan kembali dan menjadikan sistem pemasaran berkembang di kalangan masyarakat. Dari latar belakang itulah, kami akan membahas tentang manajemen syariah yang dilihat dari segi pemasaran dalam bisnis syariah.
I.2 Rumusan Masalah

Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen pemasaran syariah?

2. Apa yang membedakan antara system pemasaran konvensional dengan

system pemasaran islam


3. Bagaimana pengembangan kegiatan usaha dalam kerangka islam dari segi

pemasaran?
1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui arti dari pemasaran syariah 2. Untuk mengetahui perbedaan antara system pemasaran konvensional dengan

system pemasaran islam.


3. Untuk mengetahui pengembangan kegiatan usaha dalam kerangka islam dari

segi pemasaran.

II.

Pembahasan

2.1 Pengertian Pemasaran Syariah Pemasaran syariah atau sering disebut dengan syariah marketing merupakan sebuah frasa yang berasal dari dua kata asing yakni al-syarah ( )dan marketing. Kata al-syarah ( )berasal dari bahasa Arab dengan akar kata syaraa (), yang secara etimologis (Lisnul Arab, VIII/175) berarti sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Adapun secara terminologis (Mujam al- Wasith, I/479), diartikan dengan : m syiratillahi li-ibdihi minal-aqidi wal-ahkami segala sesuatu yang ada pada syirah Allah untuk makhluk yang beribadah kepada-Nya yang mencangkup kaidah-kaidah dan hukum-hukum.Kata syirah (

)yang dijelaskan dalam pengertian tersebut, diartikan sebagi aturan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Taal dalam Qs. Al-Midah [5]:48 : Likullin jaaln minkum syiratan wa minhj untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang... Jika pemasaran (marketing) merupakan serangkaian proses untuk

memberikan nilai yang dibawa oleh sebuah organisasi kepada para pihak yang memiliki kepentingan terhadapnya (stakeholder), maka pemasaran syariah (syarah marketing) dapat didefinisikan sebagai serangkaian proses untuk memberikan nilai yang dibawa oleh sebuah organisasi kepada para pihak yang memiliki kepentingan terhadapnya serta dalam setiap prosesnya berkaitan erat dengan aturan atau hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Taal. Nilai ketauhidan juga termanifestasi dalam aktifitas pemasaran syariah. Hal inilah yang menyebabkan setiap aktifitas pemasaran syariah senantiasa berlandaskan atas sikap ketundukan dan ketaatan terhadap nilai-nilai moral yang telah diatur oleh syariah. Setiap muslim yang taat, memiliki keyakinan bahwa Allah Taal adalah tujuan akhir dari setiap aktifitas, serta kecintaan kepada Allah Taal adalah puncak dari seluruh aktifitas spiritual. Ibnu al-Qayyim mengatakan bahwa aktifitas ibadah kepada Ar-Rahman adalah puncak dari rasa cinta kepada-Nya, yang diiringi puncak perasaan rendah dari seorang hamba di hadapan-Nya (Abdurrahman, 2009:51). Pemasaran syariah juga diartikan sebagai wakalah (pelimpahan wewenang), karena untuk mencapai optimalisai kinerja pemasaran produk, organisasi perlu membentuk struktur khusus yang menjalankan tugas pemasaran. Orang atau sekelompok orang yang memiliki kewenangan atas organisasi akan melimpahkan wewenangnya kepada orang lain atau sekelompok orang untuk menjalankan tugas dalam hal strategi dan teknis pemasaran pada organisasi tersebut. Wakalah (perwakilan/pelimpahan wewenang) merupakan tinjauan pemasaran dari sisi fiqh muamalah. Al-Hamd (2005:341) mengatakan bahwa dalam Al-Fath,

al-Waklah ( )dengan fathah wawu dan terkadang dikasrahkan (alWiklah) memiliki makna mewakilkan, melimpahkan, dan penjagaan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jika seseorang mengatakan wakkaltu fulanan ( )maka dapat diartikan saya meminta agar dia menjaganya, sedangkan jika seseorang mengatakan wakaltu al-amra ilaihi ( ) dengan tanpa tasydid pada huruf kaf ( )maka diartikan saya melimpahkan sesuatu kepadanya. Adapun al-Waklah/al-Wiklah ( )secara terminologi syariah (al-Jaziri, 1969: 167-168 dalam Suhendi, 1997:231-232) bermakna menjadikan seseorang sebagai pengganti orang lain untuk mengisi posisinya secara mutlak atau bersyarat.

Dasar hukum al-Waklah/al-Wiklah (selanjutnya disebut wakalah) adalah sebagai berikut: 1. Qs. Al-Kahfi [18]: 19 Fb ats ahadakum biwariqikum hdzih ill-madnah Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. 2. Qs. An-Nisa [4]: 35 F-b ats hakman min ahlihi wa hakman min ahlih Maka kirimlah seorang utusan dari keluarga laki-laki dan hakam dari keluarga perempuan. 3.Hadist Riwayat Abu Dawud (beliau mensahihkannya) dari sahabat Jabir bin Abdullah radiyal-Lahuanhu (Bulghul-Marm min AdilatilAhkm, kitab al-Buyu, bab asy-Syirkah wal-Waklah, hadist no. 905)

an jbirin radiyal-Lahanhu, qla aradtul-khurju il khaibara fa-ataitun-nabiyya alla-Lahualaihi wa sallam, faqla idz ataita wakliy bi khaibara minhu khamsata asyara wasqan Dari Jabir Radiyal-Lahu anhu ia berkata: Aku keluar ke Khaibar, lalu aku datang kepada Rasulullah allal-Lahu alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda, Bila engkau datang pada wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya 15 wasaq. 4. Kaidah Uul Fiqh al-alu fil-asy-y-i al-ibhah hatta yadul-ad-dallu alt-tahrmi Hukum asal dalam segala hal adalah boleh hingga datang dalil yang menunjukkan keharamannya. Wakalah memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh para pihak yang berinteraksi, agar kegiatan muamalah sesuai dengan syariah serta memiliki nilai dan kemanfaatan. Adapun rukun-rukun wakalah adalah sebagai berikut (Suhendi, 1997: 234-235) : 1. Muwakkil yakni orang yang memiliki kekusaan atas barang 2. Wakil, yakni orang yang mewakili muwakkil untuk menjalankan tugas yang dilimpahakan sesuai kesepakatan. Adapun syarat wakil adalah berakal, maka jika wakil tersebut idiot atau gila maka kesepakatan wakalah batal. 3. Muwakkal fh, yakni sesuatu yang diwakilkan. Syarat-syaratnya adalah : 4. Menerima penggantian, maksudnya boleh diwakilkan pada orang lain untuk mengerjakannya. 5. Hal yang diwakilkan dimiliki oleh orang yang berwakil. 6. Hal yang diwakilkan diketahui dengan jelas, maka batal jika mewakilkan sesuatu yang masih samar . 7. ighat, yakni ucapan perwakilan setelah adanya kesepakatan yang jelas antara muwakkil dan wakil. ighat merupakan simbol keridhaan antara para pihak. Pemasaran syariah sebagai wakalah merupakan aktifitas internal sebuah organisasi jasa syariah yang apabila diterapkan secara sempurna akan memperkokoh internal organisasi tersebut.

II.2 Manajemen Pemasaran Konvensional dan Manajemen Pemasaran

Syariah
II.2.1 Pemasaran Konvesional II.2.1.1

Pengertian Pemasaran

Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :


a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang

diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.


b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses

sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang

untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan

usaha

yang

ditujukan

untuk

merencanakan,

menentukan

harga,

mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

II.2.1.2

Konsep Pemasaran

Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan pasar, pemasaran dan pasar. Kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar tertentu. Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sedangkan Permintaan

adalah keinginan akan produk yang spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.
II.2.1.3

Manajemen Pemasaran

Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan tujuan organisasi.
II.2.1.4

Macam Macam Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep pemasaran global. 1. Konsep produksi Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk

tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka. 2. Konsep produk Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri ciri terbaik 3. Konsep penjualan Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif. 4. Konsep pemasaran Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. 5. Konsep pemasaran sosial Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. 6. Konsep Pemasaran Global Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.

II.2.1.5

Sistem Pemasaran

Sistem adalah sekolompok item atau bagian-bagia yang saling berhubungan dan saling berkaitan secara tetap dalam membentuk satu kesatuan terpadu. Jadi dapat diartikan sistem pemasaran adalah kumpulan lembagalembaga yang melakukan tugas pemasaran barang, jasa, ide, orang, dan faktorfaktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya.. Dalam pemasaran kelompok item yang saling berhubungan dan saling berkaitan itu mencakup : 1. Gabungan organisasi yang melaksanakan kerja pemasaran. 2. Produk, jasa, gagasan atau manusia yang dipasarkan. 3. Target pasar. 4. Perantara (pengecer, grosir, agen transportasi, lembaga keuangan). 5. Kendala lingkungan (environmental constraints). Sistem pemasaran yang paling sederhana terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan, yaitu organisasi pemasaran dan target pasarnmya. Unsur-unsur dalam sebuah sistem pemasaran serupa dengan unsur-unsur yang ada pada sistem radio stereo. Bekerja secara terpisah, tetapi pada waktu dipertemukan secara tepat.
II.2.2 Pemasaran Syariah II.2.2.1

Pengertian Pemasaran Syariah

Pemasaran syariah sendiri menurut definisi adalah adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Jadi Pemasaran syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hermawan Kartajaya, nilai inti dari Pemasaran syariah adalah Integritas dan transparansi, sehingga marketer tidak boleh bohong

dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya. Pemasar adalah garis depan suatu bisnis, mereka adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan konsumen sehingga setiap tindakan dan ucapannya berarti menunjukkan citra dari barang dan perusahaan. Namun sayangnya pandangan masyarakat saat ini menganggap pemasar diidentikkan dengan penjual yang dekat dengan kecurangan, penipuan, paksaan dan lainnya yang telah memperburuk citra seorang pemasar. Tidak terelakkan lagi banyak promosi usahausaha yang kita lihat sehari-hari tidak menjelaskan secara detail tentang produknya, yang mereka harapkan adalah konsumen membeli produk mereka dan banyak dari konsumen merasa tertipu atau dibohongi ketika mencoba produk yang dijual pemasar tersebut. Apabila ini terus berlanjut maka akan mungkin terjadi lagi kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya yang akan menghancurkan sebuah perusahaan. Sekarang jelaslah akan pentingnya sebuah nilai integritas dan transparansi seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya diatas agar bisnis berjalan lancar.
II.2.2.2

Konsep Pemasaran Syariah

Konsep Pemasaran syariah sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dari konsep pemasaran yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah ilmu dan seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan dengan para stakeholdersnya. Namun pemasaran sekarang menurut Hermawan juga ada sebuah kelirumologi yang diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya atau pemasaran yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Berbedanya adalah marketing syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar terperosok pada kelirumologi itu tadi karena ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.

Pemasaran syariah bukan hanya sebuah pemasaran yang ditambahkan syariah karena ada nilai-nilai lebih pada pemasaran syariah saja, tetapi lebih jauhnya pemasaran berperan dalam syariah dan syariah berperan dalam pemasaran. Pemasaran berperan dalam syariah diartikan perusahaan yang berbasis syariah diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam dunia bisnis, karena dengan profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan kosumen. Syariah berperan dalam pemasaran bermakna suatu pemahaman akan pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas pada pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja ia juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkan dapat merubah suatu values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya sehingga menjadi bisnis yang sustainable.

Dalam hal teknisnya pemasaran syariah, salah satunya terdapat syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan, sehingga contohnya perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya sehingga mampu mendapatkan heart-share. Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran.
II.2.2.3

Manajemen Pemasaran Syariah

Kata syariah (al-syariah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam Taurat dan Injil. Kata syariat dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan pada makna kehendak Tuhan yang diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan manusia. Dalam Al-Quran kata syariah disebutkan hanya sekali dalam Surah AlJatsiyah, Kemudian Kami Jadikan kamuberda didalam suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kalu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al-Jatsiyah: 18). Kemudian kata itu muncul dalam bentuk kata kerja dan turunnya sebanyak tiga kali ; Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan_Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa (QS As-Syura: 13) Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan (syiah) dan jalan (QS Al-Maidah:48). Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menetuka (dari Alllah), tentulah merteka telah dibinasakan. Dan sesunggguhnya orang-orang yang zalim ituakan memperoleh azabyang amat pedih (QS As-Syur: 21). Kata syariah berasal dari kata syaraa al-syaia yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau berasal dari kata syirah dan syariah yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidal memerlukan bantuan alat lain. Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, cakupan dari pengertian syariah menurut pandangan Islam sangatlah luas dan komprehensif (al-syumul). Didalamnya mengandung makna mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari

aspek ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat, warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi, utang-piutang, pemasaran, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, bait, al-maf, faI, ghanimah), aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang hingga hubungan antar Negara. Pemasaran sendiri adalah bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah. Maka, syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad danprinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam. Salah satu ketentuan dalam bisnis Islami yang tertuang dalam kaidah fiqih yang mengatakan, al-muslimuuna alaa syuruuthihim illa syarthan harroma halaalan aw ahalla haraaman (kaum muslimin terikat dengan kesepakatan-kesepakatan bisnis yang mereka buat, kecuali kesepakatan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram). Selain itu, kaidah fiqih lain mengatakan alashlu fil muaamalahtil ibahah illah ayyadulla daliilun alaa tahriimihaa (pada dasarnya semua bentuk muamalah (bisnis) boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan) Ini artinya bahwa dalam syariah marketing, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimoangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan. Ada 4 karakteristik syariah marketingyang dapat menjadi panduan bagi para pemasar sebagai berikut: Teistis (rabbaniyyah) : jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hokum-hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah yang

paling adil, paling sempurna, paling selaras dengan segala bentuk kebaikan, paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemaslahatan. Etis (akhlaqiyyah) : Keistimewaan lain dari syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah) juga karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak (moral, etika) dalam seluruh aspek kegiatannya, karena nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat universalo, yang diajarkan oleh semua agama. Realistis (al-waqiyyah) : syariah marketer adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah islamiyah yang melandasinya. Syariah marketer adalah para pemasar professional dengan penampilan yang bersih, rapid an bersahaja, apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya, bekerja dengan mengedepankan nilai-nilai religius, kesalehan, aspek moral dan kejujuran dalan segala aktivitas pemasarannya. Humanistis (insaniyyah) : keistimewaan syariah marketer yang lain adalah sifatnya yang humanistis universal, yaitu bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan syariah. Syariat islam diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, warna kulit, kebangsaan dan status.Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariah humanistis universal.

II.2.2.4 a.

Implementasi Marketing Syariah

Berbisnis Cara Nabi Muahammad Saw Muhammad adalah Rasulullah, Nabi terakhir yang diturunkan untuk

menyempurnakan ajaran-ajaran Tuhan yang menjadi suri tauladan umat-Nya.

Akan tetapi disisi lain Nabi Muhammad Saw juga manusia biasa; beliau makan, minum, berkeluarga dan bertetangga, berbisnis dan berpolitik, serta sekaligus memimpin umat. Aa Gym dalam salah satu tulisannya, mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw, selain sebagai pedagang yang sukses juga pemimpin agama sekaligus kepala Negara yang sukses. Jarang ada nabi seperti ini.Ada yang hanya sukses memimpin agama, tetapi tidak memimpin sebuah Negara. Maka, sebenarnya kita sudah menemukan figure yang layak dijadikan idola, dan dijadikan contoh dalam mengarungi dunia bisnis. Nabi Muhammad sebagi seorang pedagang memberikan contoh yang baik dalam setiap transaksi bisnisnya. Beliau melakukan transaksi secara jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, apalagi kecewa.Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standar kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagang yang benar dan jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawab terhadap setiap transaksi yang dilakukan.
b. Muhammad sebagai Syariah Marketer

Muhammad buka saja sebagai seorang pedagang, beliau adalah seorang nabi dengan segala kebesaran umatnya dan kemuliannya. (berdagang), Nabi Muhammad berbisnis sangat dapat menganjurkan berbisnis karena

menimbulkan kemandirian dan kesejahteraan bagi keluarga tanpa tergantung atau menjadi beban orang lain. Beliau pernah betkata, Berdaganglah kamu, sebab dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang. Al-Quran juga memberi motivasi untuk berbisnis pada ayat berikut: Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. (QS Al-Baqarah : 198) Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS Al-Baqarah : 275)
c.

Muhammad sebagai Pedagang Profesional

Dalam transaksi bisnisnya sebagai pedagang professional tidak ada tawar menawar dan pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya, sebagaimana sering disaksikan pada waktu itu di pasar-pasar sepanjang jazirah Arab. Segala permasalahan antara Muhammad dengan pelanggannya selalu diselesaikan dengan adil dan jujur, tetapi bahkan tetap meletakkan prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur tersebut. Disini terlihat bahwa beliau tidak hanya bekerja secara professional, tetapi sikap profesionalisme beliau praktikkan pula ketika telah dilantik menjadi Nabi.Beliau memimpin sahabat-sahabatnya dengan prinsip-prinsip profesionalisme; memberinya tugas sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Tidak bersifat KKN, semuanya berjalan dengan professional dan tentunya dengan tuntunan Allah.
d. Muhammad sebagai Pebisnis yang Jujur

Muhammad benar-benar mengikuti prinsip-prinsip perdagangan yang adil dalam transaksi-transaksinya.Beliau telah mengikis habis transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktik yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, gharar, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap. Beliau juga melakukan standardisasi timbangan dan ukuran, serta melarang orang-orang menggunakan timbangan dan ukuran lain yang tidak dapat dijadikan pegangan standar. Nabi Muhammad juga mengatakan, pedagang, pada hari kebangkitan akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, jujur, dan selalu berkata benar(HR.AlTirmidzi,IbnMajah,danAlDarimi).
e.

Muhammad Menghindari Bisnis Haram Nabi Muhammad melarang beberapa jenis perdagangan , baik karena

sistemnya maupun karena ada unsur-unsur yang diharamkan didalamnya. Memperjual-belikan benda-benda yang dilarang dalam Al-Quran adalah haram. AlQuran, misalnya, melarang mengkonsumsi daging babi, darah, bangkai dan alcohol, sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah:175).

f.

Muhammad dengan Penghasilan Halal

Barang yang bersih berarti sehat dan diperoleh dengan cara yang halal. Karena itu apa yang dihasilkannya pun menjadi halal. Sembilan Etika (Akhlak) Pemasar

Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi prinsip-prinsip bagi syariah marketer dalam menjalankan fungi-fungsi pemasaran, yaitu:
Memiliki kepribadian spiritual (takwa) Berprilaku bail dan simpatik (Shidq) Berprilaku adil dalam bisnis (Al-Adl) Bersikap melayani dan rendah hati (Khidmah) Menepati janji dan tidak curang Jujur dan terpercaya (Al- Amanah) Tidak suka berburuk sangka (Suuzh-zhann) Tidak suka menjelek-jelekkan (Ghibah) Tidak melakukan sogok (Riswah)

Salah satu ayat Al-Quran yang dipedomani sebagai etika marketing adalah QS. Al-Baqarah. Surat kedua dalam Al-Quran ini terdiri atas 286 ayat, 6.221 kata dan 25.500 huruf, dan tergolong surat Madaniyah. Sebagian besar ayat dalam surat ini diturunkan pada permulaan hijrah, kecuali ayat 281 yang diturunkan di Mina saat peristiwa Haji Wada. Surat ini yang terpanjang dalam Al-Quran. Dinamakan Al-Baqarah yang artinya sapi betina karena di dalamnya terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Surat ini juga dinamakan Fustatul Quran (Puncak Al-Quran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamakan juga surat Alif Lam Mim karena dimulai dengan huruf Arab Alif Lam

dan Mim. Ayat 1-2 Al-Baqarah berarti: Kitab ini (Al-Quran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 1-2) Makna ayat secara keseluruhan Allah Taala memberitahukan bahwa Al-Quran yang diturunkanNya kepada hamba dan RasulNya adalah merupakan kitab yang sangat besar dan agung yang sama sekali tidak mengandung keraguan dan dugaan bahwa ia adalah bukan wahyu Allah dan kitabNya. Hal itu disebabkan ia adalah sebagai mukjizat, disamping petunjuk dan cahaya yang dibawanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa hal mana dengan keduanya (iman dan taqwa) dapat mengantarkan. Ayat tersebut sangat relevan untuk dipedomani dalam pelaksanaan tugas marketing, sebab marketing merupakan bagian sangat penting dari mesin perusahaan. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui pula, Pertama, perusahaan harus dapat menjamin produknya. Jaminan yang dimaksud mencakup dua aspek material, yaitu mutu bahan, mutu pengolahan, dan mutu penyajian; aspek non-material mencakup kehalalan dan keislaman dalam penyajian. Kedua, yang dijelaskan Allah adalah manfaat produk. Produk bermanfaat apabila proses produksinya benar dan baik. Ada pun metode yang dapat digunakan agar proses produksi benar dan baik, menurut Al-Quran, sesuai petunjuk dalam QS. Al-Anam: 143, yang artinya, Beritahukanlah kepadaku (berdasarkan pengetahuan) jika kamu memang orang-orang yang benar. Ayat ini mengajarkan kepada kita, untuk meyakinkan seseorang terhadap kebaikan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan, data, dan fakta. Jadi, dalam menjelaskan manfaat produk, nampaknya peranan data dan fakta sangat penting. Bahkan sering data dan fakta jauh lebih berpengaruh dibanding penjelasan. Ketiga, penjelasan mengenai sasaran atau customer dari produk yang dimiliki oleh perusahaan. Makanan yang halal dan baik yang menjadi darah dan daging manusia akan membuat kita menjadi taat kepada Allah. Sebab konsumsi yang dapat menghantarkan manusia kepada ketakwaan harus memenuhi tiga syarat: (1) Materi yang halal, (b) Proses pengolahan yang bersih ( thaharah), dan (3) Penyajian yang islami.

II.2.2.5

Strategi Pemasaran Dalam Islam

Semua aktivitas kehidupan perlu dilakukan berdasarkan perencanaan yang baik. Islam agama yang memberikan sintesis dan rencana yang dapat direalisasikan melalui rangsangan dan bimbingan. Perencanaan tidak lain memanfaatkan karunia Allah secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu, dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan nilai kehidupan yang berubahubah. Dalam arti lebih luas, perencanaan menyangkut persiapan menyusun rancangan untuk setiap kegiatan ekonomi. Konsep modern tentang perencanaan, yang harus dipahami dalam arti terbatas, diakui dalam Islam. Karena perencanaan seperti itu mencakup pemanfaatan sumber yang disediakan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan dan kesenangan manusia. Meski belum diperoleh bukti adanya sesuatu pembahasan sistematik tentang masalah tersebut, namun berbagai perintah dalam Al-Quran dan Sunnah menegaskannya. Dalam Al-Quran tercantum: QS. Al-Jumuah: 10, yang artinya, Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Berdasarkan ayat ini dapat dijelaskan makna dalam kata carilah karunia Allah yang digunakan di dalamnya dimaksudkan untuk segala usaha halal yang melibatkan orang untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping itu, pelaksanaan rencana pemasaran dalam Islam, kita tergantung pada prinsip syarikat (kerjasama) yang telah diakui secara universal. Hal ini berarti pelaksanaan perencanaan dilaksanakan melalui partisipasi sektor pemerintah dan swasta atas dasar kemitraan. Yakni terlaksana melalui prinsip abadi mudharabah, yakni tenaga kerja dan pemilik modal dapat disatukan sebagai mitra. Dalam arti, dengan mempraktekkan prinsip mudharabah dan dengan mengkombinasikan berbagai unit produksi, proyek industri, perdagangan dan pertanian dalam kerangka perencanaan dapat diterapkan atas dasar prinsip tersebut. Pendapatan yang dihasilkan oleh usaha seperti itu dapat dibagi secara sebanding setelah dikurangi segala pengeluaran yang sah. Dalam sistem perencanaan Islam, kemungkinan rugi sangat kecil karena merupakan hasil kerjasama antara sektor pemerintahan dan swasta. Investasi yang

sehat akan mendorong kelancaran arus kemajuan ekonomi menjadi lebih banyak. Dalam kegiatan pemasaran, tentu lebih dahulu menyusun perencanaan strategis untuk memberi arah terhadap kegiatan perusahaan yang menyeluruh, yang harus didukung rencana pelaksanaan lebih rinci di bidang-bidang kegiatan perusahaan. Dalam Islam, bukanlah suatu larangan bila seorang hamba mempunyai rencana atau keinginan untuk berhasil dalam usahanya. Namun dengan syarat, rencana itu tidak bertentangan dengan ajaran (syariat) Islam. Ditandaskan dalam Al-Quran, yang artinya, Atau apakah manusia akan mendapat segala yang diciptakannya? Tidak, maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (QS. AnNajm: 24-25) Dari kedua ayat tersebut, bila dihubungkan dengan strategi pemasaran, kegiatan strategi (rencana) pemasaran merupakan suatu interaksi yang berusaha untuk menciptakan atau mencapai sasaran pemasaran seperti yang diharapkan untuk mencapai keberhasilan. Dan sudah menjadi sunnatullah bahwa apa pun yang sudah kita rencanakan, berhasil atau tidaknya, ada pada ketentuan Tuhan (Allah). Dalam pelaksanaan suatu perencanaan dalam Islam haruslah bergerak ke arah suatu sintesis yang wajar antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial melalui penetapan kebijaksanaan yang pragmatik, namun konsisten dengan jiwa Islam yang tidak terlepas dengan tuntunan Al-Quran dan Hadis, juga sesuai dengan kode etik ekonomi Islam. Selain itu, dalam kegiatan perdagangan (muamalah), Islam melarang adanya unsur manipulasi (penipuan), sebagaimana hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam: Jauhkanlah dirimu dari banyak bersumpah dalam penjualan, karena sesungguhnya a memanipulasi (iklan dagang) kemudian menghilangkan keberkahan. (HR. Muslim, An-Nasai dan lbnu Majah). Islam menganjurkan umatnya untuk memasarkan atau mempromosikan produk dan menetapkan harga yang tidak berbohong, alias harus berkata jujur (benar). Oleh sebab itu, salah satu karakter berdagang yang terpenting dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa taala adalah kebenaran. Sebagaimana dituangkan dalam hadis: Pedagang yang benar dan terpercaya bergabung dengan para nabi, orang-orang benar (siddiqin), dan para syuhada di surga. (HR. Turmudzi).

Pada dasarnya ada tiga unsur etika yang harus dilaksanakan oleh seorang produsen Muslim. Yakni bersifat jujur, amanat dan nasihat. Jujur artinya tidak ada unsur penipuan. Misal dalam promosi/harga. Amanat dan nasihat bahwa seorang produsen dipercaya memberi yang terbaik dalam produksinya, sehingga membawa kebaikan dalam penggunaannya. Saat ini semakin banyak masyarakat dunia yang sadar tentang kegiatan bermuamalah secara Islam. Salah satu buktinya adalah pesatnya perkembangan minat masyarakat dunia terhadap ekonomi Islam dalam dua dekade terakhir, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia juga mengalami hal yang sama. Hal ini dibuktikan dengan semakin bermunculan berbagai produk syariah (Islam). Saat ini perkembangan yang menyolok adalah produk yang bersentuhan dengan bidang lembaga keuangan. Namun pesatnya perkembangan produk ekonomi Islam belum bisa diimbangi oleh pesatnya perkembangan dari sisi keilmuan yang lebih luas. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, akan terjadi ketimpangan perkembangan ekonomi Islam ke depan. Untuk itu pengembangan ekonomi Islam dari sisi keilmuan menjadi hal mutlak, untuk menjadi penyeimbang pesatnya perkembangan yang terjadi saat ini. Pemasaran adalah suatu aktivitas yang selalu dikaitkan dengan perdagangan. Jika meneladani Rasulullah saat melakukan perdagangan, maka beliau sangat mengedepankan adab dan etika dagang yang luar biasa. Etika dan adab perdagangan inilah yang dapat disebut sebagai strategi dalam berdagang. Oleh karena itu, Seykh Sayyid Nada membeberkan sejumlah adab yang harus dijunjung pedagang Muslim dalam menjalankan aktivitas jual-eli, berdasarkan hadis-hadis Rasulullah, sebagai berikut: 1. Tidak menjual sesuatu yang haram. Umat Islam dilarang menjual sesuatu yang haram seperti minuman keras dan memabukkan, narkotika dan barang-barang yang diharamkan Allah Subhanahu wa taala. Hasil penjualan barang-barang itu hukumnya haram dan kotor, 2. Tidak melakukan sistem perdagangan terlarang. Contohnya menjual yang tidak dimiliki. Rasul Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jangan kamu menjual sesuatu yang tidak engkau miliki. (HR Ahmad, Abu Daud,

an-Nasai). Selain itu Islam juga melarang umatnya menjual buah-buahan yang belum jelas hasilnya serta sistem perdagangan terlarang lainnya. 3. Tidak terlalu banyak mengambil untung. 4. Tidak membiasakan bersumpah ketika berdagang. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam: Janganlah kalian banyak bersumpah ketika berdagang, sebab cara seperti itu melariskan dagangan lalu menghilangkan keberkahannya. (HR Muslim) 5. Tidak berbohong ketika berdagang. Salah satu perbuatan berbohong adalah menjual barang yang cacat namun tidak diberitahukan kepada pembelinya. 6. Penjual harus melebihkan timbangan. Seorang pedagang sangat dilarang mengurangi timbangan. 7. Pemaaf, mempermudah dan lemah lembut dalam berjual beli. 8. Tidak boleh memakan dan memonopoli barang dagangan tertentu. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: Tidaklah seorang menimbun barang melainkan pelaku maksiat. (HR Muslim). Lantas, bagaimana dengan sistem pemasaran? Tentu punya strategi. Strategi pemasaran sebenarnya dapat dijelaskan sebagai cara melakukan segmentasi pasar dan tempat pembidikan pasar, strategi produk, strategi harga, tempat dan strategi promosi. Pasar yang menonjol pada masa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah pasar konsumen. Berikut penjabarannya.

II.2.2.6

Membangun Bisnis dengan Nilai-Nilai Syariah

Sifat jujur adalah merupakan sifat para nabi dan rasul yang diturunkan Allah Swt. Nabi dan rasul datang dengan metode (syariah) yang bermacam-macam, tetapi sama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Ulama terkemuka abad ini Syaikh Al-Qardhawi mengatakan, diantara nilai transaksi yang terpenting dalam bisnis adalah al-amanah (kejujuran). Ia merupakan puncak moralitas iman dan karakteristik yang paling menonjol dari

orang yang beriman. Bahkan kejujuran merupakan karakteristik para nabi. Tanpa kejujuran kehidupan agama tidak akan berdiri tegak dan kehidupan dunia tidak akan berjalan baik. Ada empat hal yang menjadi key success factors (KSF) dalam mengelola suatu bisnis, agar mendapat celupan nilai-nilai moral yang tinggi. Untuk memudahkan mengingat, kita singkat dengan SAFT, yaitu: 1. Shiddiq (benar dan jujur) : jika seorang pemimpin senantiasa berprilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya, jika seorang pemasarsifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh prilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya. 2. Amanah (terpercaya, kredibel) : artinya, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah. 3. Fathanah (cerdas) : dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya. 4. Thabligh (komunikatif) : artinya komunikatif dan argumentatif. Orang yang memiliki sifat ini akan menyampaikannya denga benar (berbobota0 dan dengan tutur kata yang tepat (bi al-hikmah). Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahsa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan. Keempat KSF ini merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang sudah sangat dikenal tapi masih jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.
II.2.2.7

Segmentasi Pasar Dalam Syariah

Segmentasi pasar dan pembidikan pasar. Terdiri atas segmentasi geografis,

demografis, psikografi; segmentasi perilaku dan segmentasi manfaat. Segmentasi geografis membagi pasar menjadi unit-unit geografis berbeda. Misal wilayah, negara, provinsi, kota, kepulauan dan berdasarkan musim. Allah berfirman, yang artinya, Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (yaitu) kebiasaan mereka bepergian (berdagang) pada musim dingin dan musim panas. (QS. Al-Quraisy: 1-2). Pada musim panas biasanya mereka berdagang sampai Busra (Syria). Pada musim dingin mereka berdagang sampai Yaman. Demikian pula yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, terutama sebelum pada masa kenabian. Pasar yang terkenal pada masa jahiliyah yang terletak di utara kota Mekkah meliputi Busra, Dumatul Jandal dan Nazat. Pasar yang terletak di Selatan kota Mekkah mencakup Mina, Majinna, Ukaz, Sana, Aden, Shihr, Rabiyah, Sohar dan Doba. Sedangkan pasar yang di Timur kota Mekkah terdiri dari Musyaqqar, Sofa dan Hijar.
Segmentasi demografi yang dilakukan Muhammad adalah pasar yang

dikelompokkan berdasarkan keluarga, kewarganegaraan dan kelas sosial. Untuk keluarga, Muhammad menyediakan produk peralatan rumah tangga. Sedangkan produk yang dijual Nabi untuk warga negara asing di Busra terdiri dari kismis, parfum, kurma kering, barang tenunan, batangan perak dan ramuan.
Segmentasi psikografi yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi

wa sallam adalah mengelompokkan pasar dalam gaya hidup, nilai dan kepribadian. Gaya hidup ditunjukkan oleh orang yang menonjol daripada kelas sosial. Minat terhadap suatu produk dipengaruhi oleh gaya hidup, maka barang yang dibeli oleh orang-orang tersebut untuk menunjukkan gaya hidupnya. Nabi mengetahui kebiasaan orang Bahrain, cara hidup penduduknya, mereka minum dan cara mereka makan.
Segmentasi perilaku yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa

sallam adalah dengan membagi kelompok berdasarkan status pemakai, kejadian, tingkat penggunaan, status kesetiaan, tahap kesiapan pembeli dan sikap.

Pasar dikelompokkan menjadi bukan pemakai, bekas pemakai, pemakai potensial, pemakai pertama kali dan pemakai tetap dari suatu produk,atau manfaat yang terkandung dalam suatu produk. Berangkat dari kajian sebelumnya, kiranya perlu kajian mendalam terkait dengan bagaimana seharusnya aktivitas pemasaran dapat dibenarkan oleh syariah atau kita memformulasikan konsep pemasaran syariah secara benar. Kajian tentang pemasaran syariah belum banyak dilakukan. Di sisi lain, lembaga berbasis syariah dan produk sudah berkembang dan beredar di sekitar kita. Di sisi lain, kondisi masyarakat dalam mensikapi lahirnya dan beroperasinya lembaga syariah dapat dikelompokkan ke dalam masyarakat yang mengedepankan pada emosional keagamaan dan masyarakat yang mengedepankan rasional ekonomi. Oleh karena itu, dari titik tolak yang terjadi ini, perlu dilakukan kajian tentang kalau meminjam istilah pemasaran konvensional konsep marketing mix yang sesuai dengan tuntunan syariah. Dengan kata lain, konsep marketing mix ini akan dianalisis dan dikaji secara mendetail dengan menggunakan rujukan dari AlQuran, Al-Hadis, ijma dan qiyas. Dengan harapan hasilnya dapat ditemukan konsep marketing mix berdasarkan tuntunan ajaran Islam. Pengertian marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursuit its marketing objectives in the target market . Oleh karena dalam menggagas bisnis islami haruslah memperhatikan implementasi syariat pada marketing mix. Implementasi syariat dapat diterapkan dalam variabelvariabel marketing mix yakni product, price, place, dan promotion. Berdasar pembahasan kajian di atas pemasaran dalam Islam, penulis berkesimpulan, konsep pemasaran, yang dalam hal ini difokuskan pada tinjauan marketing mix, sebenarnya telah ada sejak lebih dari 1.400 tahun lalu. Penemuan-penemuan ahli pemasaran dunia tentang konsep marketing mix seperti Neil Borden pada 1953, Rasmussen (1955), McCharthy (1960) dan Kotler (1967), sebenarnya sudah dipraktekkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta para sahabat dan tabiin sejak ribuan tahun lalu. Namun memang jarang bahkan mungkin belum ada yang mendefinisikan itu sebagai konsep marketing mix.

Di dalam konsep marketing mix islami ternyata didapat bahwasannya dalam melakukan suatu pemasaran, baik barang maupun jasa, tidaklah bebas nilai. Sebagai seorang khalifah di muka bumi, manusia juga dituntut untuk menjaga kesejahteraan masyarakat secara umum, dengan berdagang menggunakan cara yang halal dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa taala. Kajian lanjutan dapat dilakukan dengan mengkaji lebih dalam dan lebih luas lagi tentang manajemen pemasaran dalam Islam. Sehingga nantinya akan didapat suatu konsep manajemen pemasaran syariah yang kompleks dan komprehensif, yang nantinya dapat digunakan untuk memperkaya khasanah manajemen pemasaran syariah. Berkaitan dengan bauran pemasaran konvensional, maka penerapan dalam syariah akan merujuk pada konsep dasar kaidah fikih. Yakni: Al-ashlu filmuamalah al-ibahah illa ayyadulla dalilun ala tahrimiha, yang artinya, Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
II.2.2.8

Prinsip Prinsip Marketing Syariah ( Pemasaran Syariah)

Ada 17 prinsip syariah marketing sebagai berikut: Prinsip 1 : Information Technology Allows Us to be Transparent (change) Prinsip 2 : Be Respectful to your Competitors (Competitor) Prinsip 3 : The Emergence of Customers Global Paradox (Cuctomer) Prinsip 4 : Develop A Spiritual-Based Organization (Company) Prinsip 5 : View Market Universally (Segmentation) Prinsip 6 : Target Costumers Heart and Soul (Targeting) Prinsip 7 : Build A Belief System (Positioning) Prinsip 8 : Differ Yourself with A Good Package of Content and Context (Differentiation)

Prinsip 9 : Be Honest with Your 4 Ps (Marketing-mix) Prinsip 10 : Practice A Relationship-based Selling (Selling) Prinsip 11 : Use A spiritual Barand Character (Brand) Prinsip 12 : Services Should Have the Ability to Transform (Service) Prinsip 13 : Practice A reliable Business Process (Process) Prinsip 14 : Create Value to Your Stakeholders (Scorecard) Prinsip 15 : Create A Noble Cause (Inspiration) Prinsip 16 : Develop An Ethical Corporate Culture (Culture) Prinsip 17 : Measurement Must Be Clear and Transparent (Institution) Ketujuh belas prinsip tersebut dibuat berdasarkan pengamatan penulis

terhadap peran pemasaran untuk pasar syariah. Keempat prinsip pertama menjelaskan lanskap bisnis syariah (4C-Diamond) yang terdiri dari change, competitor, customer dan company. Ketiga elemen utama adalah elemen utama dari lanskap bisnis, sedangkan factor terakhitr, company adalah berbagai factor internal yang penting dalam proses pembuatan strategi. Sembilan prinsip berikutnya (prinsip 5 - prinsip13) menerangkan sembilan elemen dari Arsitektur Bisnis Strategis. Yang dibagi menjadi tiga paradigma, yaitu: - Syariah Marketing Strategy untuk memenangkan mind-share, - Syariah Marketing Tactic unutuk memenangkan market-share, dan - Syariah Marketing Value untuk memenangkan heart share. Dalam syariah marketing strategy yang pertama harus dilakukan dalam mengeksplorasi pasar. Besarnya ukuran pasar (market size), pertumbuhan pasar (market growth),, keungguklan kompetitif (competitive advantages) dan situasi persaingan (competitive situation).

Setelah

menyusun

strategi,

kita

harus

menyusun

taktik

untuk

memenangkan market-share yang disebut Syariah Marketing Tactic. Pertamatama, setelah mempunyai positiong yang jelas di benak masyarakat, perusahaan harus membedakan diri dari perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu diperlukan differensiasi sebagai core tactic dalam segi content (apa yang ditawarkan), context (bagaimana menawarkannya) dan infrastruktur (yang mencakup karyawan, faslitas dan teknologi). Kemudian menerapkan differensiasi secara kreatif pada marketing mix (product, price, place, promotion). Karena itu marketing-mix disebut sebagai creation tactic. Walaupun bergitu selling yang memegang peranan penting sebagai capture tactic juga harus diperhatikan karena merupakan elemen penting yang berhubungan dengan kegiatan transaksi dan langsung mampu menghasilkan pendapatan. Dalam Syariah Marketing Value, bahwa strategi dan taktik yang sudah dirancang dengan penuh perhitungan tidaklah berjalan dengan baik bila tidak disertai dengan value dari produk atau jasa yang ditawarkan. Pelanggan biasanya mementingkan manfaat atau value apa yang didapat jika ia diharuskan berkorban sekian rupiah. Untuk itu, membangun value preposition bagi produk atau jasa kita sangatlah penting. Rumusan value preposition ini adalah sebagai berikut : Value preposition = Total Get Functional Benefit (Fb)+Emotional Benefit (Eb)Total Give Price (P) + Other Expenses (Oe) Pada dasarnya terdapat lima generic value strategy : 1. More for more: adalah formula value yang menawarkan total get (Fb+Eb) dan total give (P+Oe) yang lebih tinggi dibandingkan value yang ditawarkan pesaing. 2. More for same: menawarkan total get yang lebih tinggi dan total give yang sama

3. More for less: menawarkan total get yang lebih tinggi dan total give yang sama 4. Same for less: menawarkan total get yang samadan total give yang lebih rendah 5. Less for less: menawarkan total get dan total give yang lebih rendah dibandingkan pesaing Prinsip selanjutnya, Prinsip 14, menjelaskan Syariah Scored yang bermakna bahwa anda harus terus menerus menyeimbangkan proposisi-proposisi nilai anda yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tadi kepada tiga stakeholders utama yaitu karyawan (people), pelanggan (customer), dan pemegang saham (share-holders). Itulah maka penulis menyebutkan PCS-Circle. Kemudian tiga prinsip terakhir (prinsip 15 sampai prinsip 17) adalah prinsip-prinsip yang membahas tentang inspirasi (inspiration), Buday (culture), dan institusi (institution. Ketiganya disebut sebagai Syariah Enterprise. Inspirasi menyangkut impian: sebuah perusahaan harus memiliki sebuah impian yang akan memberikan inspiras, membimbing dan merangsang semua orang yang ada didalamnya. Budaya menyangkut kepribadian; sebuah perusahaan harus memiliki kepribadian yang kuat, yang memberikan perekatyang menyatukan organisasi itu pada saat tumbuh dan berkembang. Akhirnya, institusi adalah tentang aktivitas: sebuah perusahaan harus mampu mengelola aktivitas-aktivitasnya dengan efisien dan efektif untuk merealisasikan visi serta sasaran-sasarannya. Tentu saja, ketiga elemen Syariah Enterprise ini juga harus berlandaskan nilai-nilai syariah. Sebuah perusahaan tidaklah bisa memiliki inspirasi untuk menjadi economic animal semata tanpa peduli nilai-nilai lingkungan dan pemberdayaan komunitas disekitarnya. Budaya perusahaanpun harus dilandasi syariah; dengan menerapkan nilai-nilai luhur yang mesti dianut setiap karyawannya.
II.3 Pengembangan Kegiatan Usaha Dalam Kerangka Islam

Bisnis latihan beberapa kegiatan inti dalam rangka mencapai tujuan yang tinggi dan mencapai tujuan mereka. Meskipun beberapa perbedaan dalam rincian kegiatan ini tergantung pada peranan perusahaan dalam perekonomian nasional

atau global, ada kesepakatan umum mengenai kerangka kegiatan tersebut dan menggolongkan mereka dalam hal membagi kualitatif.
a. Produksi : yang pertama dari kegiatan atau fungsi fungsi ini adalah sebuah

kegiatan produktif, apakah bisnis ini membuat baik atau diekstrak dari tanah bahan baku atau mineral tertentu, atau jika perusahaan atau operator selular yang melakukan hal komersial. Oleh karena itu, di sini oleh Islam telah ditetapkan barang dan jasa tertentu yang mungkin tidak dapat diproduksi atau ditangani secara komersial dari dekat atau jauh, termasuk produk produk maskara dan daging dari beberapa hewan dan jasa, perjudian dan prostitusi. Untuk ini jelas bahwa setiap fasilitas Anda ingin bekerja di bawah syarat-syarat hukum untuk menjadi baginya untuk menghindari tabu ini dan pergi dari situ. JIka kita melihat dengan hati-hati untuk barang dan jasa dilarang (dengan persediaan yang mereka terlibat), kita menemukan bahawa kerangka tidak terbatas. Valhoom teralarang atauh tidak disembelih secara legal di samping alcohol dan amoralitas, judi dan malpraktik lainnya, ketika kami mengumpulkan seluruh mereka tidak signifikan dari total produksi di negaranegara Barat, dan bahkan di sebagian besar negara-negara Muslim. Valmncop Muslim harus menghindari semua barang atau jasa dan tinggal jauh dari mereka sama sekali. Hal ini dilarang dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa tersebut karena mereka harus menahan diri dari memberikan semua fasilitas atau promosi atau kontribusi dalam keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan produksi atau pemasaran.
b. Marketing, ada dua kegiatan utama yaitu pemasaran yang meliputi cara-cara

ilmiah untuk beberapa faktor, terutama harga, penyimpanan, distribusi, riset pasar, bekerja di adaptasi barang di bawah keinginan pelanggan, iklan dan metode promosi lainnya. Deklarasi, misalnya tidak boleh berisi kemunafikan atau distorsi atau berlebihan, karen ia haus tidak melibatkan metode terlarang untuk mendapatkan public untuk membeli seperti penggunaan alcohol atau pornografi seksual. Berurusan dengan pelanggan harus ditandai oleh kejujuran, keadilan, juga harus harga barang dan jasa di bawah kriteria objektif yang bersatu dan tanpa diskriminasi antara pelanggan dan lainnya. Sibuk perangkat

dalam katalog perusahaan agara memenuhi keinginan pelanggan dalam hal spesifikasi, mutu, waktu dan lokasi dari item tersebut dalam keseluruhan karya, bertujuan untuk mengembangkan bisnis dan melayani masyarakat luas juga. Dan mendirikan tajam kepercayaan dengan pelanggan , karena berusaha untuk menyediakan mengelola Annbha bernilai tinggi harga yang dibayar oleh pembeli yang akan memperkuat hubungan dan melayani penyebab kemajuan ekonomi pada umumnya.
c. Pendanaa, sebaliknya riba, hukum Islam telah melegalkan beberapa cara yang

efekti, termasuk prinsip partisipasi, yang berarti bahwa partisipasi sekelompok orang atau lembaga untuk penciptaan modal yang diperlukan dari perusahaan secara keseluruhan atau untuk proyek.
d. Personil : ada juga cara leasing, yang berarti bahwa uang bisa membeli produk

kemudian di bawah harga sewa dan kondisi sepakat untuk fasilitas yang mereka butuhkan. Disini akan diperlukan untuk berkomunikasi pihak-pihak antara lain, pemeliharaan mereka dan potensi untu meningkatkan atau mengurangi sewa di masa depan dan bagaimana untuk menyelesaikan dengan memuaskan dan tanggung jawab lessor sehubungan dengan cacat atau kerusakan yang terjadi pada komoditas.
e. Fungsi lain : pos manapun fitur kuat sebagai suatu kegiatan terutama

disebabkan oleh sifat bisnis dan lingkungan sekitarnya harus dipilih bagian yang terpisah untuk membawa mereka keluar. Oleh karena itu, kita melihat bahwa kasus-kasus lain bahwa ada beberapa tantangan Islam yang telah ditetapkan : apa pun sifat dari fungsi-fungsi lain ini, , pengiriman dengan cara yang sesuai dengan kerangka Islam alah pilar utama pembentukan Islam.
f. Bidang keuangan : pengembangan kinerja yang didirikan Islam harus

bertahap dan bahwa pencarian selama jangka pendek dan menengah harus fokus pada pengurangan unsur tak bertuan ke tingkat terendah mungkin.
g. Bidang produksi dan pemasaran: semua ini salah satu tugas utama dalam hal

ini adalah pengembangan dan perluasan pilar keuangan berdasarkan prinsip-

prinsip Islam dalam rangka untuk mengimbangi secara bertahap dasar-dasar dan lembaga-lembaga non muslim.
h. Lain- lain di bidang pemasaran , menyatakan bahwa perlunya upaya

pemasaran yang sama tetap kuat dan aktif dalam semua cabang cabangnya, karena peran sentral yang dimainkan oleh pemasaran yang efektif dalam keberhasilan usaha dan kemakmuran. Tetapi juga dalam konteks kegiatan pemasaran, dengan komitmen terhadap kejujuran dan untuk menyediakan manfaat dari harga tinggi yagn dibayar oleh pelanggan dan penggunaan sarana boleh mempromosikan dan berpengaruh dalam waktu yang sama.

III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.1.1 Manajemen Pemasaran Konvensional

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah sebagai kegiatan yang direncanakan, dan diorganisasiknan yang meliputi pendistribusian barang, penetapan harga dan dilakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat yang tujuannya untuk mendapatkan tempat dipasar agar tujuan utama dari pemasaran dapat tercapai.
3.1.2 Manajemen Pemasaran Syariah

Manajemen pemasaran Syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad danprinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam.Ini artinya bahwa dalam syariah marketing, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimoangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan.

DAFTAR PUSTAKA
Rivai Veithzal, Nurrudin Amiur dan Arfa, 2012. Islamic Business and Economics Ethics, Jakarta : Bumi Aksara) http://elqorni.wordpress.com/2012/03/17/pemasaran-perusahaanberbasis-syariah/ http://adistiar-feb06.web.unair.ac.id/artikel_detail-41681-Marketing %20-Definisi%20Pemasaran%20Syariah.html http://zenky-maiyya.blogspot.com/2011/08/manajemen-pemasaransyariah.html http://mbegedut.blogspot.com/2012/06/pengertian-manajemenpemasaran-menurut.html#.USJG41dubHY http://matakuliahekonomi.wordpress.com/2010/10/08/pengertianmanajemen-syariah/ http://makalahqsyamlah.blogspot.com/2012/06/manajemenpemasaran-islam.html http://arierachmatsunjoto.wordpress.com/2012/06/30/strategipemasaran-swalayan-pamella-dalam-perspektif-islam/ http://mes-solo.org/index.php/recipes/87-marketing-syariah http://manajemenpemasran.blogspot.com/2008/12/etika-marketingdalam-islam.html http://majalah.pengusahamuslim.com/pemasaran-dalam-perspektifislam/ http://www.syakirsula.com/index.php? option=com_content&task=blogcategory&id=31&Itemid=60