You are on page 1of 11

OSN 2012

Newsletter

Edisi 6 September 2012

Mengasah Budaya Jujur, Mengukir Tradisi Berprestasi

OSN

Laporan Utama

Laporan Utama

OSN

Mengasah Budaya Jujur, Mengukir Tradisi Berprestasi


EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

Generasi Emas yang Inovatif, Berbudaya, dan Berdaya Saing. Kata berbudaya pada tema tersebut, menurut Direktur Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Totok Suprayitno, Ph.D., merupakan sikap dari peserta OSN yang mencerminkan sistem nilai. Budaya itu kan merupakan sebuah sistem nilai yang harus kita junjung tinggi. Misalkan di dalam berkompetisi itu harus jujur, jelas Totok Suprayitno. Nilai budaya seperti kejujuran memang penting bagi masa depan ilmuwan. Bila seorang ilmuwan tidak menjadikan kejujuran sebagai dasar kehidupannya, dapat dipastikan masa depannya menjadi suram. Sebab, hampir tidak ada ilmuwan pembohong yang mendapat hati di dunia ilmiah. Penjelasan Totok Suprayitno tersebut selaras dengan pendapat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA., yang berharap kejujuran tertanam di jiwa setiap peserta OSN. Apabila kita ingin membangun bangsa yang berbasis ilmu pengetahuan, maka prinsip kejujuran harus ditanamkan, tegas Mohammad Nuh, pada pembukaan OSN di Padepokan Pencak Silat, Jl Taman Mini 1, Jakarta Timur, Senin (3/9) kemarin. Ketika kejujuran telah tertanam dan menjadi karakter setiap peserta OSN, harapan terhadap lahirnya generasi emas yang memiliki tradisi mengukir prestasi di setiap kompetisi bukan lagi sekedar mimpi. OSN merupakan wahana terciptanya proses yang mengasah budaya jujur, sekaligus mengukir tradisi berprestasi. (M. Adib Minanurokhim)

Foto: Alvein Pengarah: Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Penasihat: Sekretaris Ditjen Pendidikan Dasar Penanggung Jawab: Nono Adya S. Pemimpin Redaksi: Yudistira Wakil Pemred : M. Akbar, Engkus Kusnandar Redaktur Pelaksana : Satriyo Wibowo, Syamsul Arifin Redaktur: Billy Antoro, M. Adib Minanurrokhim Reporter : M. Rizal, Benny Susanto, Sulaiman, Robert, Dwi Riyanto, Eky, Farhan, Ghofur, Senoaji, Hery S, Freddy, Baydhowi, Mauludy, Adinanto, Syafrizal, Rasis, Fanar Fuadi, Denny, Vico, Sugeng, Ronny Fotografer : Alvein, Yudi S, Qiqi, Sawy Tata Letak: Ihyak Ulumuddin Laman: Dadang Latif

Foto: Billy

Alamat Redaksi: Bagian Perencanaan dan Penganggaran Setditjen Pendidikan Dasar, Kemdikbud Jl. Jenderal Sudirman, Gedung E Lantai 5, Senayan, Jakarta. Telp. 021 5725613 Laman: http://dikdas.kemdikbud.go.id

OLIMPIADE SAINS NASIONAL (OSN) adalah proses tiada henti. Siswa-siswi dan segenap stakeholder pendidikan yang terlibat di dalamnya, secara bergantian melakukan kerja produktif. Mulai dari memilah calon peserta OSN, menanamkan ilmu pengetahuan, merawat dan mengembangkan penguasaan ilmu pengetahuan, hingga menuai hasilnya sebagai ilmuwan muda. Pola seleksi OSN yang berjenjang, yang dimulai dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, dan kemudian berkompetisi di tingkat nasional adalah proses pemilahan bibit-bibit unggul dalam bidang sains, sekaligus penamaman ilmu pengetahuan. Sementara penghargaan dan pembinaan berkelanjutan terhadap para juara OSN adalah bagian dari

proses merawat sekaligus menuai hasil berupa lahirnya para ilmuwan muda. Hal ini, menjadi semacam siklus, yang akan kembali berulang secara teratur dengan generasi yang berbeda-beda. Yang awalnya dibina, pada 5 atau 10 tahun kemudian akan menjadi pembina, mendidik dan mengantarkan generasi selanjutnya pada proses keilmuan. Ketika OSN menjadi proses yang produktif, di dalamnya harus ditanamkan nilai-nilai budaya agar peserta didik menjadi manusia yang berbudaya. Hal ini seperti yang tertuang dalam tema OSN tahun ini, yaitu Membentuk

Foto: Adib

Foto: Sawi

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

OSN

Jenjang SD

Jenjang SD

OSN

Diwarnai Uraian, Soal OSN SD Dianggap Sulit

Wawancara dengan Rahim, Guru Pendamping dari Provinsi Sulawesi Tenggara

Contoh Soal Tidak Update


Sulawesi Tenggara memberangkatkan peserta berdasarkan seleksi dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Dari seleksi dipilih enam siswa SD; tiga peserta untuk bidang matematika dan tiga peserta bidang IPA. Sebelum diberangkatkan ke Jakarta, mereka dikarantina selama empat bulan. Soal-soal yang diujikan sekarang sangat sulit karena soal yang diberikan adalah soal-soal untuk tingkat nasional. Kendala yang dihadapi, contoh soal yang diberikan Pusat tidak update. Jadi kita hanya terfokus pada soal-soal atau materi-materi terbaru yang aktual dan nyata. Dibandingkan dengan jenjang SD, jenjang SMP lebih baik dalam memberikan materi karena mereka diberikan kisi-kisi yang membuat mereka lebih siap menghadapi soal-soal. Kami yakin dan optimis bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Sebab kami selalu memberikan semangat dan motivasi kepada siswa-siswi kami. Apalagi kami memiliki tim khusus olimpiade untuk membantu dan mengawasi kontingen kami. (Eky Fajri)

Foto: Denny

Tes tertulis bagi peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang Sekolah Dasar (SD) diselenggarakan mulai Selasa, 4 September 2012. Bertempat di ruang Utari Hotel Bidakara, Jakarta, seluruh peserta OSN jenjang SD yang berjumlah hampir 200 orang mengikuti ujian tersebut dengan serius. Tes tertuis ini dilakukan dalam dua tahapan. Panitia memberikan jeda waktu istirahat selama 30 menit kepada peserta di antara dua tahapan ujian tertulis tersebut. Meskipun telah mengikuti seleksi dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, beberapa peserta mengaku terkejut dengan soal yang disajikan pada tingkat nasional ini. Soalnya berbeda sekali dengan tingkat kota maupun provinsi. Ini lebih susah, ungkap Gabriela Valerie Katanto, peserta OSN SD bidang IPA dari provinsi Banten. Perempuan yang akrab disapa Gaby ini menambahkan, adanya soal uraian pada soal OSN yang membuatnya lebih sulit. Di tingkat kota dan provinsi tidak ada soal uraian. Begitu di OSN soalnya ada uraian, itu yang bikin keliatan susah, papar siswi kelas VI SDK Penabur Kota Modern, Tangerang, ini. Ternyata soal seperti ini disengaja. Tujuannya agar peserta lebih siap dengan kompetisi di tingkat internasional semisal International Mathematics and Science Olympiad (IMSO). Desain soal yang disajikan pada tingkat nasional memang sengaja dibuat dengan tingkat kesulitan yang tak jauh berbeda di tingkat internasional, ungkap Dr. Saladin Uttunggadewa, Ketua Dewan Juri OSN SD. Namun, Saladin mengaku dewan juri memiliki prinsip dasar bahwa soal yang dibuat harus sesuai dengan kurikulum SD. Peserta olimpiade, ucapnya, seharusnya dilatih sesuai dengan kurikulum yang sepadan dengan pelajaran di sekolah. Soal yang kami buat akan lebih sulit bila dikerjakan dengan menggunakan cara yang lazim dilakukan pada level lebih tinggi seperti SMP maupun SMA, tandas pengajar di Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung ini. (Denny Mahardy)

Foto: Eky

Lomba Jenjang SD Berjalan Kondusif


Di hari pertama penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional jenjang Sekolah Dasar (SD), semua berjalan kondusif. Peserta SD bertanding di Hotel Bidakara. Lomba berjalan begitu tenang dan tertib.
Foto: Mauludy

Saat lomba berlangsung, orang tua dan pembina menunggu di luar tempat ujian. Layar besar tersedia sehingga mereka dapat menyaksikan siswa didiknya menjalani ujian. Soal ujian sudah dibuat sesuai silabus. Untuk soal sudah standar olimpiade internasional. Akan tetapi kurikulum atau KTSP sudah kita naikkan kualitasnya agar bisa mencari yang terbaik dan siap untuk ajang internasional, ujar Taufik Rahman dan Abdul Waris selaku juri dari Institut Teknologi Bandung. Ketatnya peraturan tidak membuat beban dan tegang peserta. Karena mereka masih kelihatan bercanda dan bermain dengan teman-temannya. Takut sih ada sedikit, tapi ya senang karena bisa bertemu dengan teman banyak, ujar Erlangga Putra dari SD 002 Bukit Besar, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dalam lomba ini, di sesi pertama juri dan panitia sengaja membuat soal yang sedikit ringan agar siswa bisa melakukan pemanasan dan pikiran siswa tidak kaget. Untuk sesi kedua siswa diberikan soal yang lebih banyak uraiannya. Ini semua dilakukan untuk mencari siswa yang terbaik dan patut memperoleh penghargaan dan medali. (Mauludy)

Fotografer:

Sawy, Mauludy, Eky

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

OSN

Jenjang SMP

Jenjang SMP

OSN

MUHAMMAD IKHSAN
SMP Negeri 1 Padang, Sumatera Barat Peserta Bidang Biologi

Ditimbang-timbang
Dari 110 soal (60 pilihan ganda, 40 soal analisis, 10 isian singkat), saya tak bisa mengerjakan semuanya. Soalnya ada sistem minus untuk pilihan ganda dan isian. Jadi harus ditimbang diisi atau tidak. Tema yang sulit menyebar. Ada yang susah, ada yang mudah. Untuk persiapan, saya tidak menjalani karantina. Saya hanya mengikuti pelatihan praktikum di Universitas Negeri Padang (UNP). Pembinanya dosen UNP. Materi soal, ada yang sesuai dengan materi yang diberikan saat karantina. Sebenarnya soal praktikum lebih kepada apakah kita mengerti dengan soal yang dipraktikkan.
Foto: Billy

Belum Semua Materi Dibahas Saat Karantina


M. AFIFURRAHMAN SMP Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, Banten Peserta Bidang Matematika
Hana Izdihar Nafisyahrin tak begitu yakin bisa mengerjakan dua soal praktikum fisika, terutama pada soal pertama. Soal tersebut tentang cairan yang diisi pipa U. Dua jam waktu yang disediakan juri terasa kurang. Soalnya belum terlalu paham, ujar siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Limboto, Gorontalo, ini usai keluar dari ruang ujian Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMP yang digelar di SMPK Immanuel, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu 30 Juni 2012. Ia bukannya belum belajar materi soal itu. Namun penguasaan terhadap materi belum tuntas. Sebelum berangkat ke Pontianak, Hana dikarantina selama dua hari di sebuah hotel di Gorontalo. Seorang dosen dan guru membimbingnya memahami materi pelajaran fisika. Waktu pergi belum semuanya dibahas. Ada yang belum tahu, ujarnya. Apakah di sekolah Hana pernah menggunakan alat praktik yang digunakan dalam lomba? Ia menjawab belum. Padahal sekolahnya memiliki alat itu. Di hari pertama ini, Hana tak begitu optimis dengan hasil yang diraih. Ia melihat teman-temannya, terutama yang pernah menjalani bimbingan di Pulau Jawa, begitu tangguh. Tapi ia berusaha untuk tampil yang terbaik. OSN bidang Fisika, Biologi, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial digelar di SMPK Immanuel. Hari pertama siswa menghadapi soal-soal praktik. Hari kedua mereka bergelut dengan soal teori. Soal ujian praktik bidang fisika dua butir dan soal teori lima butir. (Billy Antoro)

Foto: Billy

Tak Ada yang Bimbing


Untuk persiapan OSN, saya tak menjalani karantina. Belajar sendiri di rumah. Mengerjakan soal-soal tahun lalu. Tak ada yang membimbing, baik guru maupun orang Provinsi. Ternyata soal-soal di sini lebih sulit daripada di sekolah. Melihat persaingan dengan teman-teman se-Indonesia rasanya berat sekali. Tapi saya yakin dapat medali. Sebab saya selalu ingat dan melakukan nasihatnya, yaitu rajin shalawat.

BAYU SATRIA TAKARIPUTRA SMP Negeri 1 Surabaya, Jawa Timur Peserta Bidang Matematika

Hanya Sebagian
Tadi hanya bisa mengerjakan soal sebagian. Dari lima soal, hanya tiga yang yakin bisa dikerjakan. Dua soal tidak yakin. Tiga soal itu tentang perbandingan, geometri, dan aljabar. Soal sulit diselesaikan karena banyak soal modifikasi. Saya menjalani karantina selama dua hari. Yang bimbing guru dari SMP Petra. Di hotel. Insya Allah saya optimis dapat medali.

RAHMATIA SMP Negeri 1 Kodeoha, Sulawesi Tenggara Peserta Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial
Soalnya 40 pilihan ganda, 3 esai, dan 10 isian. Saya kerjakan semuanya walau ada soal yang belum pernah dipelajari. Rasanya banyak soal yang merupakan pelajaran SMA. Materi yang menurut saya sulit adalah tentang sejarah karena harus mengingat masa lalu. Tak ada karantina. Saya belajar di rumah dibimbing guru IPS. Persiapan hanya satu bulan. Optimis ya optimis, tapi kalau tidak menang ya mau apalagi.

Foto: Billy

Fotografer:
Alvein

Foto: Billy

Foto: Billy

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

OSN

Jenjang PK-LK Dikdas

Jenjang PK-LK Dikdas

OSN

IPA Itu Asyik, Seru, dan Menantang!


Noverian Primaski keluar dari ruang ujian dengan wajah sumringah. Ia baru saja menyelesaikan soal-soal Olimpiade MIPA SMPLB yang digelar di Sanur Paradise Plaza Hotel, Denpasar, Bali, Selasa 4 September 2012. Adakah soal-soal itu membuatnya pusing tujuh keliling? Memang ada sejumlah materi yang belum dipelajarinya di sekolah. Namun ia coba menyelesaikannya dengan baik. Pokoknya mencoba sebisa mungkin. Pakai nalar. Semua pertanyaan dijawab, ujar siswa kelas II SMP Eka Mandiri Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Dengan begitu ia optimis menyandang predikat juara. Tahun ini merupakan kali kedua keikutsertaannya di ajang Olimpiade Sains Nasional. Tahun lalu ia menjadi peserta lomba IPA dan merebut juara II pada OSN di Manado, Sulawesi Utara. Lalu kenapa Noverian suka MIPA? Kalau di IPA seru, asyik, dan menantang, ucapnya. Kunci rahasianya, katanya, semangat dan keyakinan. Juni Padimanto, pendamping, mengatakan, sejumlah alat uji yang digunakan dalam Olimpiade terdapat

Foto: Billy

di sekolah. Namun bukan berarti semua siswa memahami kondisinya. Materi pelajarannya pun disesuaikan dengan kondisi siswa. Pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Yang diprioritaskan adalah pelajaran

yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, ucapnya. Melihat kondisi Noverian, Juni Padimanto tampak ceria. Ia optimis anak didiknya meraih medali. (Billy Antoro)

Fotografer:
Alvein

Wawancara Dr. Bambang Ismanto, Juri Lomba Kewirausahaan SMPLB

Usaha Sebagai Budaya Memandirikan


Kewirausahaan merupakan satu bidang lomba dalam Olimpiade Sains Nasional jenjang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar yang baru, kali pertama digelar. Sambutannya pun ternyata sangat bagus. Saya melihat kewirausahaan sebagai konsep kemandirian. Dengan kemandirian mereka seharusnya tidak takut dengan segala kondisi inklusivitas, misalnya saat mereka mau jalan, mengakses informasi, dan membuat usaha. Itu sangat mungkin. Jika kewirausahaan dipahami sebagai proses sekadar menolong, maka pertolongan itu akan ada batas waktunya. Tetapi jika usaha dipahami sebagai budaya untuk memandirikan, maka saya punya prediksi 10-15 tahun mendatang generasi muda Indonesia akan banyak yang menjadi wirausaha yang andal. Untuk di luar negeri banyak mereka yang sudah membuka usaha sendiri. Harapan untuk OSN ke depannya agar lomba seperti ini tidak hanya di jenjang pendidikan dasar saja, tetapi juga di tingkat SMA dan SMK bahkan Madrasah karena hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. (Adinanto Mahulae)
Foto: Vico

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

OSN

Jenjang SMA

Jenjang SMA

OSN

Sangat Terbantu Sosok Ayah


REYNATHA C. A. Pangsibidang, siswa SMAK Barana Toraja Utara, Sulawesi Selatan langsung menunjuk sosok ayah tatkala ditanya tentang orang yang berada di belakang keberhasilannya menjadi peserta OSN tingkat SMA bidang Astronomi. Papaku sangat mendukung sekali, ucap Reynatha C. A. Pangsibidang, di Pelataran Universitas Indonesia, Depok, Selasa (4/9). Menurut Reynatha C. A. Pangsibidang, ayahnya senantiasa memberikan motivasi tiap kali ia mengikuti ujian seleksi OSN bidang Astronomi. Seperti tahun sebelumnya di mana perjuangannya hanya bertahan di tingkat Provinsi, ayahandanya setia mendampinginya dan selalu membesarkan hatinya. Hingga kemudian, tahun ini ia berhasil lolos di tingkat provinsi dan terpilih sebagai duta OSN dari Sulawesi Selatan. Sebagai bentuk terima kasih kepada ayahandanya, ia telah mempersiapkan diri secara matang sebelum tiba di Jakarta. Ia latih dirinya dengan berbagai soalsoal olimpiade dari tahun lalu dan aktif mengikuti bimbingan OSN. Selain itu, ia juga menimba ilmu Astronomi kepada orangtuanya yang nota bene merupakan guru dan alumni Fakultas Astronomi. Aku yakin bisa lebih baik dari tahun sebelumnya karena Papaku sangat membantuku selama persiapan mengikuti Lomba OSN 2012 ini, tambah Reynatha C. A. Pangsibidang, bangga. Dan ternyata, ayahanda Reynatha C. A. Pangsibidang tidak hanya membimbing, tapi juga menemaninya terbang ke Jakarta. Jangan takut apalagi minder, karena setiap orang punya kesempatan yang sama untuk jadi pemenang. Tuhan tahu usaha dan pengorbananmu, nak, kata Reynatha C. A. Pangsibidang, meniru ucapan ayahandanya. (Qiqi)

Foto: Qiqi

Fotografer:

Robert, Dwi Riyanto

10

Foto: Qiqi

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

11

OSN

Jenjang SMA

Jenjang SMA

OSN

Bidang Kimia Makin Diminati di Indonesia


DRS. ISMUNARYO MUNANDAR, M. PHIL, Juri OSN tingkat SMA bidang Kimia menilai, perkembangan Ilmu Kimia di Indonesia sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dahulu, Kimia dipandang tidak menarik. Namun sejalan dengan perkembangan industri di tanah air, dan permintaan tenaga pekerja di bidang Kimia bertambah, maka bidang Kimia makin diminati. Buktinya, dalam kurun waktu 4-5 tahun terakhir ini banyak mahasiswa yang mengambil jurusan Kimia, tutur Ismunaryo Munandar, di SMAN 70 Jakarta, Selasa (4/9). Berangkat dari fenomena tersebut, Ismunaryo Munandar berharap, bidang Kimia bisa lebih dikembangkan agar dapat menyebar secara merata, dan bisa menyentuh di daerah-daerah terpencil, pulau terluar, dan daerah perbatasan. Perhelatan OSN Bidang Kimia tahun ini diikuti 84 orang peserta dari 33 provinsi di Indonesia. Paling banyak, peserta berasal dari Provinsi Jawa Tengah (10 orang). Ujian OSN Bidang Kimia ini dibagi menjadi 2, yaitu ujian praktikum dan teori. Bobot penilaian praktikum sebesar 40% dan teori 60%. Pada ujian praktikum alat yang digunakan relatif sudah banyak dikenal peserta, meski ada juga yang masih belum terbiasa. Materi yang diangkat dalam ujian praktikum ini adalah kimia organik dan kimia anorganik, tutur dosen FMIPA Universitas Indonesia ini. (Dwi Riyanto)

Foto: Sulaiman

Optimis Juara Sebab Persiapan Dirasa Sempurna


DITEMUI pada acara pembukaan OSN ke XI yang dilaksanakan di Padepokan Pencak Silat, Jl Taman Mini 1, Jakarta Timur, Firman Habib, peserta OSN tingkat SMA bidang Komputer, mengaku bisa memetik hasil maksimal dan meraih medali emas sebab telah melakukan persiapan yang sempurna. Selama duduk di kelas I SMA saya sudah dibekali latihan-latihan yang mencakup teori dan praktikum. Ada juga persiapan khusus sebelum menuju ke OSN, yaitu mengikuti pelatihan yang diselenggarakan di sekolah sehingga saya dapat mengembangkan ilmu komputer ini, ujar Firman Habib, Senin, (3/9). Secara keseluruhan persiapan yang dilakukan oleh Firman Habib telah berjalan selama satu tahun, termasuk masa karantina yang dikoordinir dinas provinsi. Di sini ia diberikan tes, pelatihan dan lainnya. Tesnya berupa tes programming dan logika, kata siswa SMAN 1 Padang Panjang, Sumatera Barat ini. Kepercayaan diri yang besar tersebut, makin bertambah saat ia mendapatkan dukungan dari pihak keluarga dan juga pihak sekolah. Dukungan dari orang tua dan sekolah membuat saya tetap semangat dalam mengikuti OSN ini, apalagi sekolah selalu memfasilitasi saya untuk terus berlatih dan belajar sehingga saya selalu siap mendalami bidang Komputer, tuturnya. (Sulaiman)
Foto: Dwi Riyanto

Fotografer:
Yudi S., Qiqi

12

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

13

OSN

Jenjang SMA

Jenjang SMA

OSN

Senang Bisa Berkenalan dengan Siswa se-Indonesia


ALAMSYAH, siswa kelas 10 SMA I Lubuk Sikaping, Sumatera Barat, merasa senang bisa berkenalan dengan siswa-siswi se-Indonesia dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Baginya, perkenalan ini amat berharga karena baru kali ini ia bisa bertemu dengan siswa-siswi yang berasal dari 33 provinsi Indonesia. Saya senang karena bisa berkumpul dengan pelajar seluruh Indonesia, kata Alamsyah, Selasa
Foto: Robert

Dua Aspek Penilaian OSN Tingkat SMA Bidang Ekonomi


DALAM Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA bidang Ekonomi terdapat dua aspek penilaian, yaitu aspek akademis dan kreativitas. Hal ini disampaikan Dumairy, MA., salah satu dewa juri OSN tingkat SMA bidang Ekonomi. Ada dua aspek penilaian yang kita nilai, yaitu; dari segi akademik dan dari segi kreativitas, ujar Dumairy, di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (4/9). Dumairy menjelaskan, pada hari pertama, siswa menjalani tes tertulis berupa pilihan ganda selama 3 jam. Kemudian dilanjutkan dengan penulisan makalah untuk melihat tingkat kreativitas dan kemampuan siswa dalam menguraikan sebuah ide terkait dengan persoalan ekonomi. Pada hari kedua adalah presentasi makalah di Gedung Bursa Efek. Pada tahap ini peserta dibagi dalam beberapa grup dan masing-masing dinilai oleh 3 orang juri. Pada tahap ini yang dinilai adalah penguasaan materi dan kepercayaan diri. Setelah itu dilakukan interaksi antarpeserta untuk melihat bagaimana peserta mempertahankan isi materi makalahnya, jelas Dumairy. OSN bidang Ekonomi tahun ini diikuti 90 siswa yang berasal dari 33 provinsi. Sementara jurinya berjumlah 17 orang, yang berasal dari Fakultas Ekonomi UI, Fakultas Ekonomi UGM, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dan unsur-unsur dari Bursa Efek Indonesia, Bank Indonesia, maupun dari pemerintahan. OSN bidang Ekonomi berbeda dengan OSN bidang lainnya, sebab di tingkat internasional OSN bidang ekonomi belum ada. Karena itu, penghargaan yang diberikan kepada para juara OSN bidang ekonomi hanya beasiswa langsung untuk memasuki perguruan tinggi pilihannya. Untuk juara-juara OSN sebelumnya, ada beberapa siswa yang melanjutkan ke FE UGM dan diterima tanpa tes sebagai bentuk apresiasi dari perguruan tinggi, dan setahu saya selain di UGM juga terdapat siswa-siswi yang langsung diterima dan sekarang sedang studi di UI maupun beberapa universitas lainnya, ujar Dumairy. (Robert L. Tenggara)

Fotografer:

Foto: Fanar Fuadi

Qiqi, Yudi S., Sulaiman, Senoaji

(4/9) di SMA 28 Jakarta.

Selain itu, menurut Alamsyah, perkenalan ini memiliki nilai istimewa karena ia bisa bertukar pikiran dengan para jawara tingkat provinsi yang berkumpul dan berkompetisi di bidang sains di Jakarta. Lebih-lebih tambahnya. bisa saling bertukar pikiran,

Sementara itu, mengenai soal ujian OSN bidang Matematika yang baru saja dia kerjakan, Alamsyah mengaku kesulitan. Padahal materimaterinya sudah dipelajari semua sebelumnya. Ia pun merasa gentar karena sadar bahwa OSN merupakan kegiatan berskala nasional. Namun demikian, ia masih berharap untuk bisa memetik juara meski bukan juara pertama. Target medali hanya perak, karena saya masih kelas I SMA. Terlalu tinggi bila saya bicara target medali emas, ujarnya kalem. Sebelum tiba di Jakarta, Alamsyah sudah melakukan persiapan selama tiga bulan, dan juga mengikuti masa karantina di kota Padang selama satu minggu. Pada masa karantina dia dibimbing oleh Tim Pembina Olimpiade dari Bandung. Materi yang didapat selama masa karantina adalah Aljabar, Teori Bilangan, Geometri dan Kombinatorik. (Fanar Fuadi)

14

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

15

OSN

Jenjang PK-LK Dikmen

Jenjang PK-LK Dikmen

OSN

Merasa Berat Sebab Lawan dari Sekolah Inklusi


KEVIN, siswa SLB Pangudi Luhur Jakarta Barat, merasa berat mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2012 ini karena di antara saingannya terdapat siswa dari sekolah inklusi, yaitu sebuah sekolah reguler yang menyelenggarakan kelas khusus untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal ini disampaikan pendamping Kevin, yaitu Samuel Angga. Karena siswa sekolah inklusi mendapatkan materi pelajaran yang jauh lebih baik dan lebih lengkap dibanding anak-anak sekolah SLB, kata Samuel Angga, di Twin Plaza Hotel Jakarta, Selasa (4/9). Dari sisi panca indra saja, lanjut Samuel Angga, siswa sekolah inklusi yang ikut OSN memiliki panca indra yang normal dan lengkap. Mereka hanya memiliki kekurangan dari sisi fisik saja. Jadi penguasan mereka terhadap materi akan menyamai siswa normal secara umum. Sementara Kevin masih memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Jadi, dari sisi soal saja dia sudah mengalami kesulitan untuk memahami maksud dari soal tersebut, tambah Samuel Angga. Pernyataan Samuel Angga tersebut benar. Sebab saat ditanya mengenai tingkat kesulitan soal-soal mata pelajaran fisika yang diujikan, Kevin hanya bisa menjawab secara singkat; Susah semua. Pada OSN di Jakarta ini, Kevin mengikuti OSN bidang Matematika tingkat PKLK Dikmen. Untuk berhasil menjawab berbagai soal OSN, Kevin telah melakukan persiapan khusus selama tiga bulan di sekolah, dan juga mengikuti karatina di tingkat provinsi selama 2 hari. Meski kondisinya demikian, saya berharap Kevin bisa mendapatkan medali, harap Samuel Angga. (Dadang Latief)

Masih Banyak Orang Tua yang Anggap Pendidikan Kurang Penting


TERHADAP pendidikan, ternyata masih banyak dari orang tua siswa yang menilainya kurang penting. Hal ini disampaikan M. Jumadi, S.Pd, Pembina peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah bidang

Matematika dari SLB. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH., Jambi. Menurut M. Jumadi sebagian besar siswa berkebutuhan khusus yang rata-rata dari kalangan kurang mampu banyak mengalami kesulitan mendapat ijin dari orang tuanya. Tentu hal ini menjadi kendala dalam pemerataan pendidikan dan pertumbuhan kualitas siswa PKLK di Jambi, ujarnya di Twin Plaza Hotel Jakarta, Selasa (4/9). Persoalan tersebut, tambah M. Jumadi, karena pemahaman para orangtua yang pesimis terhadap kondisi fisik anaknya. Sikap pesimis ini menjadi persoalan utama Pemrpov Jambi. Orang tua lebih menganjurkan anaknya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi, asalkan sudah bisa baca tulis cukup SD saja, tambah Jumadi.

Soal OSN Harus Sesuai Kondisi ABK Menurut M. Jumadi, soal-soal OSN di tahun mendatang harus lebih disesuaikan dengan kondisi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Soal Matematika yang diberikan kepada siswa tuna netra misalnya, yang mengacu pada hitungan Algoritma, Cosinus, Garis Bidang yang rumit, atau soal lainnya yang sangat tidak memungkinkan siswa berkebutuhan khusus melanjutkan pada jenjang profesi diharap tidak lagi diujikan. Karena siswa tuna netra tidak mungkin menjadi profesional di bidang sipil, arsitek atau yang berperan besar menggunakan indra penglihatan, jelas M. Jumadi. Sebaiknya, tambah M. Jumadi, Matematika untuk siswa tuna netra hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa berpikir logis dan sistematis. (Ronny)

Foto: Ronny

Fotografer:
EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

Ronny, Yudi S., Dadang Latief


NEWSLETTER OSN 2012

16

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

17

OSN

Jenjang Guru

Jenjang Guru

OSN

Si Pendatang Baru Di OSN Guru


Tahun ini bidang studi Kimia bisa dibilang menjadi pendatang baru dalam ajang olimpiade yang sudah dilaksanakan untuk pertama kalinya pada 2002. Di tahun-tahun sebelumnya OSN Guru hanya diikuti oleh guru bidang studi Fisika dan Matematika, ujar Haryono Fajar, koordinator lapangan OSN Guru. Haryono menjelaskan bahwa tidak adanya Kimia tahun lalu dikarenakan terbatasnya anggaran, namun pada tahun ini masalah anggaran tersebut bisa diatasi sehingga memungkinkan guru Kimia ikut serta. Jika anggaran tahun depan cukup, kita akan usahakan agar guru Biologi bisa ikut juga, tambah Haryono. Hampir semua guru merasakan hal yang sama ketika terpilih sebagai salah satu peserta di ajang olimpiade tingkat nasional, di antaranya I Putu Yudista. Guru Kimia yang sehariharinya mengajar di SMA St. Peter, Kelapa Gading, Jakarta tersebut merasa bangga menjadi salah satu guru yang bisa mewakili Jakarta. Sebelumnya saya tidak pernah ikut. Ini menjadi pengalaman yang pertama dan luar biasa, ucap Putu. Mengenai peta persaingan di bidang studi Kimia, Putu tidak begitu memikirkannya. Ia tidak memiliki target khusus namun ia mengakui bahwa saingan yang paling berat adalah dari luar Jakarta.

Sementara itu Maria Paristiowati, salah satu tim juri bidang studi Kimia mengatakan, belum terlihat jelas siapa yang akan keluar sebagai juara sebab tim juri belum melakukan penilaian. Namun, dari segi kuantitas, peserta ini didominasi oleh guru yang berasal dari pulau Jawa. Ada kemungkinan salah satu dari mereka bisa menang, tetapi belum tentu juga karena setiap peserta ini memiliki potensi yang bagus, tegasnya. Maria menambahkan, semua peserta sudah melewati berbagai seleksi di tingkat kabupaten dan provinsinya masingmasing. Ia percaya mereka yang hadir saat ini sudah yang terbaik walaupun ia masih menyayangkan masih ada daerah yang belum memiliki wakil. Menurutnya ini dikarenakan kurang maksimalnya sosialisasi di tingkat daerah. Sangat disayangkan memang, saya harap tahun depan akan lebih banyak daerah yang mengirim perwakilannya. Sosialisasi OSN Guru harus tepat sasaran dengan kerja sama antara penyelenggara dan dinas pendidikan daerah setempat, tutupnya. (Vicharius Dian Jiwa)

Foto: Vico

Guru Siap Jalani Semua Tahapan Ujian


Setelah empat jam bergulat dengan soal, akhirnya para guru itu keluar ruangan dengan perasaan lega. Sembari menyantap hidangan makan siang, beberapa dari mereka membicarakan soal-soal yang mereka jawab tadi dengan penuh canda. Salah satunya ialah I Putu Mahardika, guru Fisika asal SMA I Singaraja, Bali. Ia begitu antusias ketika ditanya mengenai kesannya setelah melewati ujian pertama. Soal-soalnya lumayan sulitlah. Tapi saya pribadi kesulitan dalam mengerjakan soal tentang pedagogi, aku Putu. Soal pedagogi memang menjadi bagian dari tes teori ini selain soal-soal mengenai bidang studi masing-masing. Menurut Maria Paristiowati, juri, hal tersebut dilakukan karena kompetisi ini ditujukan untuk guru yang notabene pendidik. Baginya, seorang pendidik yang baik bukan hanya menguasai teori bidang studi melainkan juga teori pedagogik. Nanti akan ada juga tes praktik seperti praktik mengajar di mana peserta diminta untuk melakukan simulasi mengajar, katanya.

Walaupun sulit, I Putu Mahardika yang datang ke Jakarta bersama-sama guru dari Bali lainnya mengakui amat menikmati suasana di dalam kompetisi ini. Sebagai seorang guru, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti ajang di tingkat nasional. Biasanya saya hanya menjadi pembimbing buat murid-murid saya yang mau ikut olimpiade, sekarang giliran saya ikut juga, ujarnya. Putu merasa siap menghadapi semua ujian yang disajikan walaupun ia belum memiliki bayangan mengenai bentuk ujian praktiknya. Pihak panitia tidak menjelaskan dengan detail, kata Putu sembari bersiap-siap mengikuti ujian sesi kedua. (Vicharius Dian Jiwa)

Foto: Vico

Fotografer:
Denny, Vico, Sawy

18

NEWSLETTER OSN 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

EDISI 3 / 6 SEPTEMBER 2012

NEWSLETTER OSN 2012

19

O S N SIAPA DIA
OSN ini juga sebagai ajang untuk mengembangkan semangat berkompetisi dan tradisi berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. OSN yang diselenggarakan di Jakarta tahun ini, merupakan OSN yang ke-11 setelah diadakan di Yogyakarta tahun 2002. OSN merupakan agenda tahunan Kemdikbud yang diselenggarakan bagi peserta didik dan guru untuk mengembangkan kreativitas dan mengaktualisasikan diri untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari tahun ke tahun, penyelenggaran OSN telah berkembang menjadi sarana terbaik dalam mencari tunas-tunas bangsa berprestasi dan membanggakan di berbagai komptesi di level internasional. (Hamid Muhammad, Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kemdikbud)

Foto: Ronny

Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu wahana

strategis untuk membentuk generasi yang selalu berusaha mengembangkan kemampuan yang dimilikinya seoptimal mungkin sesuai dengan karakteristiknya. Dalam jangka panjang, mereka menjadi generasi yang berkepribadian, kokoh, kompetitif, dan mandiri. (Prof. Suyanto, Ph.D., Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Kemdikbud)

S O N

Foto: Sawy

Foto: Adib

Bagi PKLK Dikmen, OSN yang diikuti oleh SMA LB dan Inklusi ini bertujuan: 1) Dengan adanya OSN ini maka anak-anak harus berpacu untuk belajar, kemudian bersaing di provinsi dan di event nasional. Mereka diharapkan bisa menunjukkan kreativitas, inovasi, dan kecerdasannya sehingga mereka bisa dinobatkan sebagai juara. 2) OSN ini juga melahirkan pemerataan kecerdasan anak, karena OSN membuka peluang bagi seluruh anak Indonesia untuk berkompetisi dalam bidang sains. Sehingga, anak-anak yang ada di daerahdaerah, baik di pulau-pulau besar dan kecil, sudah merata kecerdasannya dan siap untuk bersaing di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional. Kemudian, para juaranya nanti akan ditindaklanjuti dengan even-even yang diselenggarakan secara internasional. Karena ada lomba bidang sains untuk anak-anak berkebutuhan khusus di tingkat Asia Pasifik, khususnya untuk Tuna Rungu dan Tuna Netra. (Dr. Sutji Haryanto, Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik, Dit. Pembinaan PKLK Dikmen)