You are on page 1of 34

Heartless

Karya : Rovina Elisabeth Hulu

-12 Oktober 2012Hai, namaku adalah Fay Vivian. Kalian boleh memanggilku Fay, atau Vivi, atau bagaimana kalian ingin memanggilku. Ini adalah hari ke 50 aku bersekolah di sini. Di SMA Altaviata Jakarta Selatan. Aku sering pindah sekolah, pindah rumah, tergantung dimana papaku ditempatkan bekerja. Sebenarnya hal ini cukup menggangguku, karena aku bukanlah seorang gadis yang dapat dengan mudah bersosialisasi dengan lingkungan baru. Aku, sebenarnya cukup buruk dalam hal tersebut. Tapi, apapun yang terjadi, hidup harus tetap berjalan bukan? Tahukah kalian apa yang paling buruk dengan menjadi anak baru? Kalian terlihat seperti mainan baru yang berkilauan dimana semua orang ingin bermain, dan berteman dengan kalian. Tapi begitu kalian sudah tidak menarik lagi di mata mereka, mereka akan meninggalkan kalian, dan kembali dengan aktivitas mereka sebelumnya, bersikap seolah-olah kalian tidak termasuk dalam ekosistem mereka. Aku tidak pernah benar-benar punya teman. Dan aku tetap ingin selamanya seperti itu. Dulu aku pernah ingin memiliki teman. Teman yang sesungguhnya, teman yang tetap, kalau bisa tidak hanya teman, melainkan teman-teman. Namun, setelah aku melihat begitu banyaknya masalah yang terdapat dalam pertemanan, aku tidak lagi menginginkannya. Biar aku beri contoh. Aku mengenal seorang gadis cantik di sekolah lamaku yang bernama Nicole, dan dia memiliki sahabat yang bernama Sophie. Awalnya mereka terlihat tak terpisahkan, namun tiba-tiba saja mereka bermusuhan hanya karena mereka menyukai pria yang sama. Aku hampir tak mengerti mengapa kita harus bermusuhan demi hal tak penting seperti yang kucontohkan tadi. Aku ingin sendiri, lebih baik sendiri, karena dengan sendiri, aku tidak akan memiliki masalah dengan orang lain bukan? Fay, kamu udah ngerjain pr belum? Pr yang mana? Jangan bilang kamu belum ngerjain! Pr matematika yang kemarin di salin di papan tulis Ooh, iya iya aku ingat! Aku udah ngerjain kok, kenapa? Mau nyalin? Nih ambil aja. Hehe, tau aja kamu. Thanks ya! Aku mau nyalin dulu, entar kalo udah siap aku bakal balikin langsung ke kamu, oke? Oke Namanya adalah Amanda Fulvia. Ia cantik, tinggi, langsing, dan merupakan gadis tereksis di sekolah. Ia sangat membenci matematika, begitulah yang ia katakan padaku di hari pertama ia bersekolah. Ia juga sangat bangga akan namanya, kurasa begitu. Karena dihari pertama aku bersekolah, ia langsung memperkenalkan namanya, sekaligus dengan artinya. Amanda yang berasal Page 1 of 34

dari bahasa Latin berarti cantik, dan Fulvia yang juga berasal dari bahasa Latin berati gadis emas. Jadi, arti keseluruhan dari namanya adalah gadis emas yang cantik. Aku rasa itu sangat cocok dengan dirinya. Tapi aku tak peduli, karena aku tak ingin berteman dengan siapapun, walaupun itu adalah gadis tercantik dan tereksis di sekolah seperti dia. Tiba-tiba saja terdengar jeritan. Oh, ternyata itu berasal dari Ingrid dan Pamela. Mereka langsung menyerbu meja amanda. Aku lupa kalo kita ada pr matematika hari ini!, teriak Ingrid. Apaansih kalian, engga usah alay gitu juga. Nih, salin aja punya aku, balas Amanda sambil menuju ke arahku. Thanks ya Fay, katanya mengembalikan buku prku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ingrid dan Pamela. Mereka adalah teman dekatnya Amanda. Atau lebih terlihat seperti pengikut. Mereka juga cantik, dan dan eksis. Sama halnya seperti Amanda. Aku banyak mendengar hal tentang mereka. Ada yang bilang mereka adalah cewek-cewek tercantik, terkaya dan terkeren di sekolah. Ada juga yang bilang kalau mereka hanyalah gadis bodoh dan borju yang banyak gaya. Ah sudahlah, lebih baik kita tidak usah membicarakan mereka. Aku rasa hal itu tidak penting. Aku memandang ke arah pintu. Mencoba menebak siapa lagi yang akan datang. Ternyata Reuben. Dia masuk sambil membawa gitar, yang dia beri nama Epiphone. Reuben itu ganteng, menurutku, cukup keren dan sangat ahli dalam bermain gitar. Tapi aku belum pernah berbicara dengannya. Yang aku tahu, Amanda menyukainya setengah mati. Itu terlihat dengan jelas dari sikapnya yang tak berhenti mengganggu Reuben. Kalo aku jadi Amanda, aku tidak akan melakukan hal tersebut. Karena itu memalukan, mana ada perempuan yang mengejar-ngejar laki-laki. Setidaknya begitulah yang dikatakan mamaku. Lalu Stella datang. Meletakkan tasnya, dan langsung berjalan ke arahku. Hay Fay!, sapanya. Hay, balasku singkat. Stella, dia berkacamata, dan lumayan pintar dan setahuku, ia membenci Amanda, Ingrid dan Pamela yang selalu dipanggilnya dengan sebutan 3 bunga bangkai. Namun aku rasa Stella membenci banyak orang di kelas. Maksudku adalah, dia bisa menceritakan semua kekurangan orang lain! Ya, semua orang pasti punya salah dimatanya. Sebenarnya aku tak terlalu suka dekat-dekat dengannya. Aku tak mau tertular hobinya yang suka menceritakan orang lain. Jangan-jangan ia juga sudah bercerita buruk mengenaiku kepada orang-orang. Semakin lama kelas semakin penuh. Dan tepat sebelum bel berbunyi, seorang perempuan berkulit langsat berambut ikal masuk ke kelas dan duduk di sebelahku. Dia terlihat lelah. Ia mengehla napas panjang. Sepertinya ia berlari melewati gerbang sekolah, bersaing dengan murid-murid terlambat lainnya di detik-detik sebelum gerbang sekolah di tutup. Ia Helena Estelle. Teman sebangkuku, anak yang paling ramah di kelas, menurutku. Ia adalah orang yang pertama kali berbicara denganku saat aku pertama pindah, ia juga yang menawarkan aku untuk duduk di

Page 2 of 34

sebelahnya. Ia cukup menyenangkan. Ia ceria, pintar, tidak suka pamer, dan yang pastinya juga tidak hobi menjelek-jelekkan orang lain. Aku suka berbicara banyak hal dengan dia. Haahh, kamu tau kalo di depan macet banget, aku ngga tau mau parkir mobil dimana, Helena memulai pembicaraan. Makanya jangan datang terlambat, kaya aku dong datangnya pagi gitu, balasku sambil tersenyum. Ngaa semudah itu ya Fay buat berangkat pagi, kamu tau rumah aku jauh banget, harus bangun jam berapa aku supaya bisa berangkat pagi. Kamu udah ngerjain pr matem kan?, Helena bertanya kepadaku. Udah dong, jawabku singkat. Aku tak tahu mau jawab apalagi. Baguslah, aku kirain kamu belum buat. Karena kalo kamu belum buat, kamu liat aja punya aku, oke? Enggak usah malu-malu. Aku tersenyum. Bu Armine masuk ke kelas, dan seluruh sisa waktu jam pelajaran pun berlangsung seperti biasa. Bel tanda waktu istirahat berbunyi. Kamu nggak jajan?, Helena bertanya kepadaku. Enggak ah males. Aku nitip aja ya sama kamu Yaudah kamu mau nitip apa? Terserah kamu aja deh, aku ngikut Helena pun pergi meninggalkanku. Kelas sudah sepi. Aku melihat ke belakang. Tidak ada siapa-siapa selain aku di sana. Aku melihat gitar Reuben di sudut kelas. Hal ini mengingatkan aku akan sesuatu. Aku melihat ke sekelilingku sekali lagi, hanya untuk memastikan tidak ada orang yang melihatku. Yap, aku benarbenar sendirian. Aku berjalan ke sudut kelas, mengambil sebuah kursi dan gitar tersebut, lalu aku mulai memainkannya. Heartless dari Justin Nozuka. Aku terus memainkannya, dan tiba-tiba saja tanpa aku sadari, Reuben sudah berdiri di depan kelas. Eh, hai! Sorry aku mainin gitar kamu, ucapku sambil berdiri. Enggak apa-apa kok. Lanjut aja, balasnya sambil tersenyum dan berjalan ke arahku. Astaga suara dia benar-benar bagus, dan matanya berwarna coklat tua. Baru kali ini aku melihatnya dari jarak sedekat ini. Aku rasa aku mulai menyukainya. Kamu mainin lagu Heartless Justin Nozuka ya tadi?, ia lanjut bertanya sambil duduk di depanku. Iya, jawabku sambil tersenyum. Wow, balasnya singkat sambil menunjukkan raut wajah agak terkejut.

Page 3 of 34

Emang kenapa?, tanyaku penasaran. Enggak ada. Jarang-jarang ada yang tau Justin Nozuka, apalagi cewek, katanya tersenyum. Aku tidak tahu apakah itu pujian atau tidak, yang pasti aku senang mendengarnya. Kamu mainin lagu apa aja lagi? Ehm, lumayan banyak sih, kayak, Eliza Doolittle, Lawson, Lucy Schwartz, The Afters, dan yang lainnya. Yang sejenis dengan band atau penyanyi yang barusan aku bilang. Ohya? Kalo Ed sheeran? Yep, aku juga suka, balasku sambil tersenyum. Pembicaraan terus berlanjut. Aku terus memainkan Epiphone, di depan pemiliknya. Sepertinya Reuben tidak masalah kalau aku terus memainkannya. Tiba-tiba Reuben menanyakan sesuatu yang membuatku nyaris tersedak. Siapa yang ngajarin kamu main gitar?, tanya Reuben. Aku terdiam, cukup lama. Mama aku yang ngajarin, waktu aku smp dulu, aku membalasnya pelan. Mama kamu keren banget bisa main gitar. Pasti bakat main gitar kamu nurun dari mama kamu. Aku diam. Dadaku terasa sesak. Kurasa mataku sudah berkaca-kaca. Mama udah meninggal, dua tahun yang lalu, balasku sambil menundukkan wajah. Aku meletakkan Epiphone, berdiri, dan berbalik. Berjalan keluar kelas. Sempat kulihat raut wajah Reuben yang terkejut. Fay!, Reuben memanggilku di saat aku hampir mencapai pintu. Aku berbalik dan melihatnya. Aku, bener-bener minta maaf, katanya dengan raut wajah penuh penyesalan. Aku tersenyum, dan segera ke luar kelas. Aku ingin mencari Helena. Di perjalanan menuju kantin, aku bertemu dengan Helena. Ia terkejut melihat keadaanku. Astaga, kamu kenapa? Sini cerita sama aku Kami segera berjalan menuju taman di depan perpustakaan. Aku menceritakan semua yang terjadi barusan. Fay, kamu enggak suka sama Reuben kan?, tanya Helena sambil menatapku. Ha? emang kenapa?, tanyaku bingung. Helena langsung menghela napas panjang, Kamu tahukan kalo Amanda dan Stella samasama suka sama Reuben? Dan mereka jadi saling memusuhi semenjak mereka tahu kalo mereka menyukai orang yang sama. Aku terdiam,Aku, aku enggak suka sama Reuben. Bukannya aku ngelarang kamu suka sama dia, tapi ya, aku Cuma kamu gak mau dapat masalah aja, balas Helena sambil tersenyum. Page 4 of 34

Bel segera berbunyi. Sisa jam pelajaran berlangsung datar. Aku masih memikirkan Reuben. Dan saat aku melihat ke belakang, ternyata Reuben sedang melihatku. Aku langsung membalikkan badanku, berpura-pura sedang menyusun buku. Tak lama kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi. Guys, minta perhatiannya bentar dong, tiba-tiba Pamela berteriak di depan kelas. Hai semuanya, sapa amanda sambil tersenyum. Berdiri di depan kelas, didampingi dengan dayang-dayangnya. Aku mau ngasi udangan ulang tahun aku yang ke-16. Yang bakal dirayain 3 hari lagi di rumah aku. Pada taukan rumah aku dimana? Datang yaa semuanyaa. Pamela dan Ingrid segera membagikan undangan ke semua orang di kelas. Fay, aku pulang duluan ya, seru Helena meninggalkanku. Oke, balasku sambil tersenyum. Aku masih harus menyusun bukuku. Baru setelah itu aku berjalan ke luar sekolah. Aku menunggu di depan gerbang sekolah sambil menatap jam tanganku. Masih jam 14.30. Pak Yayat masih belum menjemputku. Tiba-tiba sebuah Camry berhenti di depanku. Jendela mobil tersebut turun. Ternyata Reuben. Hai Fay! Masih nunggu jemputan? Iya Hening cukup lama. Aku bener-bener minta maaf soal yang tadi siang di kelas. Aku bener-bener enggak sengaja, lanjutnya lagi. Aku diam sambil tersenyum. Kamu mau aku antar? Yaa, sebagai tanda permintaan maaf aku. Rumah kamu dimana? Enggak usah Reu. Aku nunggu jemputan aku aja. Bentar lagi datang kok. Kamu yakin? Rumah aku jauh Reu. Kamu bakal tersesat dan nggak tau jalan pulang setelah kamu ngantar aku, balas ku bercanda. Reuben tertawa. Oke kalau gitu. Selamat menunggu, semoga jemputan kamu cepet datang ya. Aku mengangguk. Mobil hitam tersebut segera melaju. Aku melihat Stella berdiri di seberang jalan setelah mobil Reuben berlalu. Stella menatapku. Aku jadi teringat apa yang dikatakan Helena mengenai Stella, Amanda dan Reuben di taman tadi. Stella segera menghampiriku. Masih belum pulang Fay? Belum, kamu sendiri Stell? Kayaknya Reuben suka sama kamu Page 5 of 34

Aku terkejut mendengar Stella berkata demikian. Stella menatapku tajam. Reuben belum pernah ngajak bicara cewek lain duluan, tapi dia ngajak kamu bicara duluan. Itu artinya dia suka sama kamu. Dia sama sekali nggak suka sama aku Stell, aku juga nggak suka sama dia, aku m ulai kesal mendengar ucapannya. Stella tersenyum dan mengalihkan pembicaraan,Kamu bakal datang ke acara Amanda? Datang, kenapa emangnya? Stella tertawa,Saran aku sih, kamu mending ga usah datang ke acara dia. Mending kamu dengerin omongan aku. Kamu jangan temenan sama Amanda. Dia itu cuma cewek nyebelin, bodoh, dan suka ngeggangu Reuben. Dia bahkan terlalu bodoh untuk bisa masuk sekolah ini. Sama seperti dua dayang-dayangnya yang lain. Aku rasa dia bisa masuk sini karena papanya adalah pejabat tinggi di kota ini. Beruntung mobil jemputanku segera datang. Aku sudah tak ingin lagi berbicara dengan Stella. Namun aku tak ingin kasar kepadanya. Aku pulang dulu ya, ujarku sambil masuk ke dalam mobil. Setengah jam kemudian aku sampai di rumah. Ternyata papa sudah pulang. Aku selalu merasa kesepian dengan hanya ada aku, papa, Pak Yayat dan Bik inah di rumah.

-Hari ke 51Bel tanda sekolah berakhir berbunyi. Semua orang dalam kelas segera keluar dengan tergesa-gesa. Hari ini aku ingin jalan-jalan dengan Helena. Sambil membeli hadiah untuk Amanda. Udah nyusun bukunya?, tanya Helena kepadaku. Iya bentar lagi ini selesai Oke. Oya kamu udah bilang ke papa kamu kan kalo kamu pulang sama aku entar? Aku tersenyum, Aku nggak perlu izin sama papaku. Dia enggak terlalu memperhatikanku. Dia, terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku udah siap, yuk pergi sekarang, kataku memecah keheningan sambil menarik tangan Helena menuju keluar kelas. Kami segera menuju ke parkiran mobil. Aku melihat mobil Reuben. Aku menatapnya lama. Berharap sang pemilik ada di dalam. Ternyata memang ada, kaca mobil tersebut turun, dan Reuben pun tersenyum ke arahku sambil berlalu membawa mobilnya keluar halaman belakang. Aku menatap mobil tersebut sambil masuk ke dalam mobil Helena. Hey!, helena mengejutkanku. Kamu yaaa, ngeliat Reuben segitunya, sampe mobilnya aja dipelototin gitu, ucapnya bercanda.

Page 6 of 34

Apaansih Len, balasku ogah-ogahan. Udah deh kamu ngaku aja kalo kamu emang suka sama dia. Kalian cocok kok. Lagian aku lihat dia juga suka sama kamu, lanjut Helena lagi sambil menjalankan mobilnya. Aku tersenyum, aku senang Helena berkata begitu. Namun tiba-tiba aku teringat dengan Stella dan Amanda. Tapi, gimana kalo sampe Amanda sama Stella tahu? Gini yah Fay, awalnya aku emang ngelarang kamu buat suka sama Reuben, yaaa, supaya kamu gak dapat masalah sama mereka. Tapi kalo emang kamunya udah suka, yaudah lanjut aja. Kalo mereka ngejauhin kamu, kan masih ada aku yang bakal nemenin kamu. Lagian mereka kan bukan siapa-siapanya Reuben, jadi mereka gak punya hak buat nentuin siapa aja yang boleh buat deket sama Reuben. Aku senang mendengar ucapan Helena. Aku rasa sekarang aku bisa mempercayainya sebagai teman. Aku mau berteman dengannya. Helena benar-benar menyenangkan. Tak lama kemudian kami sampai di PIM. Kamu mau ngasih apa beli apa ntar buat Amanda?, tanyaku pada Helena. Entahlah, aku nggak tahu. Dia masih butuh hadiah? Dia udah punya semuanya, aku jadi gatau mau ngasih apaan, jawab helena. Aku tertawa mendengar jawabannya. Kami segera keluar dari mobil dan masuk ke mall. Kami mengunjungi banyak toko pakaian, aksesoris dan segala macam toko yang menjual barang-barang yang mungkin akan cocok dengan Amanda. Tapi kami benar-benar kehabisan ide. Akhirnya kami berhenti di sebuah kafe dan memesan makanan. Aku membuka BBM. Dengan bosan aku menggeser RU ke bawah. Aku berhenti di kontak Amanda. Aku segera membuka profilnya dan melihat display picture yang dia gunakan. Dia berfoto bersama Pamela dan Ingrid dengan pose tertawa. Mereka bertiga terlihat sangat cantik. Mungkin foto itu di ambil di sebuah pesta karena mereka bertiga memakai gaun. Kamu liat apa?, tanya Helena padaku. Enggak aku lagi liat kontaknya Amanda, jawabku. Menurut kamu, Amanda itu anaknya gimana sih?, tanyaku balik. Dia itu, sebenarnya baik. Cuma kalo kita enggak kenal sama dia, yah dia kelihatan sombong. Kamu pasti banyak denger hal jelek tentang dia ya?. Aku mengangguk sambil menyendok Fusili dan memasukkannya ke mulutku. Dia enggak seburuk yang orang-orang bilang kok, lanjut Helena sambil memotong donatnya. Aku tau, aku Cuma mau tau pendapat kamu tentang dia aja. Kalo Ingrid sama pamela menurut kamu gimana? Ingrid sama Pamela itu, ya temen deketnya Amanda. Tapi menurut aku sih lebih kayak pengikutnya Amanda. Mereka selalu mengikuti ke manapun amanda pergi, dan melakukan apapun

Page 7 of 34

yang Amanda lakukan. Mungkin mereka menganggap Amanda adalah pemimpin mereka, jawab Helena. Aku juga mikir gitu, tapi kamu nggak benci mereka kan?, tanyaku lagi. Tentu aja enggak, mereka sama sekali enggak mengganggu, kenapa aku harus benci sama mereka, balas Helena setelah ia selesai memakan donatnya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali mencari hadiah Amanda. Saking putus asanya, kami pun membeli Teddy Bear sebagai hadiah yang akan kami berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Amanda. Setelah itu Helena mengantarku pulang. Rumahku sepi. Papa belum pulang, hanya ada aku Pak Yayat dan Bik Inah. Aku lihat makanan di atas meja makan sama sekali tak disentuh, tanda kalau papa sama sekali tidak pulang ke rumah hari ini. Bahkan untuk makan siang sekalipun. Bik, aku berteriak memanggil Bik Inah. Iya non, bik Inah datang tergopoh-gopoh ke hadapanku. Ini makanan di meja makan mending di simpan aja deh Bik, diangetin buat ntar malam. Atau kalo nggak bibik kasih aja buat pengemis yang biasanya ada di dekat perempatan di ujung jalan sana. Mubazir kan kalo dibuang Iya non. Nanti saya kasih, jawab Bik Inah sambil membereskan meja makan. Aku segera ke atas menuju kamarku. Aku melempar tasku di atas tempat tidur, memutar lagu-lagu Justin Nozuka dan bersiap-siap untuk mandi. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Selesai mandi aku langsung menuju ruang makan. Aku lapar. Fusili tadi siang tak cukup untuk memenuhi energiku yang terkuras akibat berkeliling PIM. Papa baru pulang. Kudengar pagar dibuka dan suara mobil papa masuk ke garasi. Aku langsung makan tanpa menunggu papa. Karena ku tahu papa pasti udah makan di luar. Halo Fay anak kesayangan papa. Baru makan kamu?, tanya papa tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Dia sibuk berjalan menuju ruang kantornya. Iya pa, papa sendiri enggak makan?, tanyaku balik. Enggak, papa udah makan tadi. Papa duluan ya, jawab papa sambil masuk ke kamarnya. Aku tidak membalas ucapan papa. Aku cepat-cepat menyelesaikan makanku dan segera menuju kamar. Aku membuka buku pelajaran, memeriksa apakah ada pr atau ulangan untuk besok. Ternyata tidak ada. Aku langsung menghidupkan laptopku dan online membuka twitter. Tiba-tiba BBku berbunyi. Ada BBM, dari Reuben. Aku terdiam melihat namanya muncul. Perasaanku mendadak campur aduk. Akupun membuka chat tersebut. Reuben Nathaniel : Hey! :D Fay Vivian: Hey Juga! :D Reuben Nathaniel : Lagi ngapain nih?

Page 8 of 34

Fay Vivian: Lagi online, sambil dengerin lagu, sambil BBMan sama kamu, kamu sendiri lagi ngapain? Reuben Nathaniel :Lagi tidur-tiduran sambil BBMan sama kamu :D Aku bingung mau membalas apa, lalu aku mengetikkan kata-kata yang kemudian terlintas di pikiranku, dengan niat bercanda. Fay Vivian: Cuma sama aku aja nih BBMannya? :p Reuben Nathaniel : Iya Cuma sama kamu aja. Emang harusnya aku BBMan sama siapa lagi?:p Aku terkejut membaca balasan dari dia. Fay Vivian: Ya sama siapa aja. Kamu kan banyak yang suka :p Reuben Nathaniel : Tau dari siapa? Kamu mata-matain aku ya? :p Fay Vivian: Enak aja, kamu kira aku gak ada kerjaan lain apa. Yaaaa, aku denger dari orangorang sih. Banyak yang bilang gitu._. Reuben Nathaniel : Ohh, enggak. Aku males balas BBM dari mereka.... Fay Vivian: Kenapa? Reuben Nathaniel : Ya aku gasuka aja. Mereka gak tipe aku aja._. Fay berpikir lagi. Reuben membalas BBM dariku. Apa artinya Reuben suka padaku? Ah sudahlah, lebih baik tidak usah terlalu GR. Daripada nanti sakit hati di akhir. Fay Vivian: Oh gituuu._. Reuben tak membalas BBMku. Hanya tanda R yang muncul. Apa hanya sampai disini saja? Namun tiba-tiba BB ku berbunyi lagi. Reuben Nathaniel : Kita ada pr atau ulangan besok? :o Fay Vivian: Enggak. Kalo ada pastilah aku lagi belajar sekarang._. Reuben Nathaniel : Cie anak rajin :p Fay Vivian: Haa? Enggak ah biasa aja. Aku bukan tipe anak pintar yang pagi siang malam sore belajar yaa Reuben Nathaniel : Aku kan nggak nanya wek :P Fay Vivian: Yaudah Reuben Nathaniel : Marah nii? Maaflahh Fay Vivian: Tenot! Kena kamu, aku Cuma pura-pura marah kok. Lagian ngapain aku marah coba-_-

Page 9 of 34

Reuben Nathaniel : Okeeeee, oya kamu kok belum tidur? :o Aku langsung menatap jam dinding di kamarku, baru menunjukkan pukul 22.15 Fay Vivian: Enggak ah ntar aja. Lagian kalo tidur sekarang, entar paling kebangun lagi, kamu sendiri kok belum tidur? Reuben Nathaniel : Belum ngantuk. Udah mending kamu tidur sekarang, gak bagus tau tidur malam-malam Fay Vivian: Lah kamu sendiri tidur malam-malam wek :p Reuben Nathaniel : kalo gitu aku temenin kamu sampe tidur yaa :D Fay Vivian: okeeeeeeee :D Reuben Nathaniel : Oya kamu kemana tadi siang sama Helena? :o Fay Vivian: Nyari hadiah buat Amanda. Bingung aku mau ngasih hadiah apaan buat dia, yaudah aku beli boneka aja buat dia. Kalo kamu mau ngasih apaan ke dia? Reuben Nathaniel : Ga tau. Kayaknya sih aku nggak bakal ngasih apa-apa._. Fay Vivian: Kok gituuu? Kamu gak datang ke acara dia? Reuben Nathaniel : Datang kok. Aku sama band aku kan ntar nyanyi di acara dia._. Fay Vivian: Oh, jadi kamu ngisi acara gitu.. Reuben Nathaniel : iya :D Fay Vivian: Kok bisa? :o Reuben Nathaniel : Dia sendiri yang minta langsung ke aku buat nyanyi di acara ulang tahun dia._. Perasaanku langsung bercampur aduk. Yang pasti aku senang Reuben datang, tapi aku juga tidak suka kalau dia mau mengikuti permintaan Amanda. Aku mulai merasa kalau aku jahat. Fay Vivian: Oh gitu Reuben Nathaniel : Kenapa? Kamu cemburu? :p Gimana Reuben bisa tahu?! Oke bersikap biasa. Fay Vivian: Enggak ah, GR kamu :p Reuben Nathaniel : Hehehe iyaiya, kamu ada acara nggak besok habis pulang sekolah? Fay Vivian: Enggak, emang kenapa? Reuben Nathaniel : Aku mau nyari hadiah buat Amanda. Yaa, gara-gara kamu aku jadi pengen kasih hadiah ke dia. Kamu temenin aku besok ya? Page 10 of 34

Fay Vivian: Oke deh :3 Percakapan antara aku dan Reuben terus berlanjut hingga malam. Sampai aku tertidur dan bangun besok paginya.

-Hari ke 52Aku sampai di kelas. Kelas masih terlihat sepi. Bangku Reuben masih kosong. Aku tersenyum mengingat betapa banyaknya hal yang kami bicarakan tadi malam. Dor!, Helena mengagetkan aku dari belakang. Helenaaa, untung aja jantung aku nggak keluar dari mulut!, balasku pura-pura kesal. Cie yang tadi bengong natapin bangku Reuben, segitu sukanya sampe-sampe bangkunya juga dipelototin! Hahahaha! Apa sih Len, gak kok, elakku sambil duduk.Tumben pagi-pagi gini kamu udah sampe di sekolah. Kesambet apa tadi malam?, tanyaku mengalihkan topik. Hah, biasa kerjaan OSIS. Di suruh datang pagi-pagi, mau rapat kayaknya. Ohya, entar aku nggak bakal masuk kelas, jadi siap-siap kesepian ya tanpa aku!, helena tak berhentinya menggangguku. Enak aja, siapa juga lagi yang kesepian tanpa kamu. Aku bahagia-bahagia aja kok wek, kataku sambil memeletkan lidah. Tiba-tiba Reuben datang. Dia tersenyum kepadaku. Astaga senyumnya manis sekali. Aku berusaha untuk tidak melihatnya. Tapi ternyata Helena menyadari bahwa aku sedang salah tingkah. Oh, aku tahu kenapa sekarang kamu enggak kesepian lagi kalo aku pergi. Kan udah ada pangeran Reuben. Mana tadi kalian pake acara pandang-pandangan lagi. Tinggal akunya deh yang jadi obat nyamuk. Plis stop Len. Iya aku suka dia, kenapa? Mau ngejekin terus?, tanyaku sebal. Helena justru tertawa lebar. Entahlah, aku tak bisa marah padanya. Mungkin itu karena aku mulai menganggapnya sebagai temanku. Apa yang di katakan Helena ternyata memang benar. Dia izin keluar kelas mulai dari jam plejaran ke 2, dan sampai sekarang masih belum kembali. Aku mulai merasa bosan. Sebentar lagi jam istirahat dan aku enggak tahu harus melakukan apa. Biasanya Helena yang membelikan makanan untukku. Tapi sekarang keadaan benar-benar berbeda. Saat istirahat, aku lebih memilih duduk di kelas, sendirian, sambil membaca novel dan mendengarkan lagu Porcelain dari Lucy Schwartz. Tiba-tiba Reuben sudah berdiri di depan pintu kelas. God Reuben! Kamu bisa nggak sih bilang-bilang dulu kalo datang? Kamu tu kayak hantu tau, datangnya tiba-tiba mulu, kataku sambil melepaskan handsfree. Reuben hanya tertawa. Astaga tawa dia sangat indah. Tidak bisakah dia berhenti tersenyum atau tertawa? Habisnya kamu serius banget bacanya, jadi ya aku gak enak aja kalo mesti ganggu kamu, jawabnya sambil duduk di sebelahku. Kamu enggak ke kantin?, tanyaku padanya. Page 11 of 34

Udah kok tadi, kamu sendiri kok enggak ke kantin?, tanyanya balik. Males, jawabku singkat sambil membolak-balikkan lembaran halaman novel yang ada di tanganku. Yaudah, kamu suka es krim kan?, tanya Reuben. Ha? Emang kenapa?, tanyaku balik. Enggak ada, jawabnya singkat. Tapi dia segera meletakkan es krim yang dari tadi dipegangnya ke hadapanku. Buat kamu aja, lanjutnya lagi sambil berdiri dan berbalik menuju kursinya. Aku terdiam, tersenyum, lalu berbalik melihatnya ke belakang ,Thanks ya Reu! Reuben hanya tersenyum melihatku. Aku langsung membuka dan memakan es krim tersebut. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Kelas ramai kembali, namun Reuben bersama teman-temannya justru keluar. Entahlah aku tak tahu kemana mereka pergi, lalu pak Nasril, guru Fisika kami masuk. Ternyata beliau hanya ingin menyampaikan kalau guru-guru akan mengadakan rapat, dan kami hanya diberi tugas untuk dikerjakan di kelas. Yang tentu saja tidak akan ada yang mengerjakannya. Setelah pak Nasril keluar, kelas kembali ribut. Tiba-tiba Amanda mendatangiku bersama Pamela dan Ingrid. Hay Fay! Kamu mau ikut gak sama kita?, tanya Amanda dengan ceria. Kemana?, tanyaku balik. Ya kemana ajalah asal jangan di sekolah. Ngebosenin tau, jawab Ingrid. Oke, aku tau mereka mau cabut, dan aku tau itu nggak baik, jadi aku lebih memilih untuk tidak bergabung dengan mereka. Sorry, bukannya aku gak mau ikut, tapi aku mau ngerjain soal yang di kasih sama pak Nasril tadi, mungkin lain kali, jawabku tersenyum. Oke kalo kamu emang gak mau, balas Amanda seraya meninggalkanku diikuti oleh dayangdayangnya. Aku menghela napas panjang. Tentu saja aku tidak akan mengerjakan tugas dari pak Nasril. Selang beberapa waktu Reuben masuk kembali ke kelas bersama teman-temannya, Bagas, Yuda, Jeremy dan satu lagi yang aku lupa namanya sambil tertawa. Mereka terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu. Reuben melihatku. Aku tersenyum padanya dan menundukkan kepala purapura sedang mengerjakan soal Fisika tersebut. Tak kusangka dia berjalan ke arahku, dan duduk di sebelahku. Ehem serius banget ngerjain fisikanya, katanya bukan tipe anak rajin, Reuben mulai berbicara denganku. Enggak kok, siapa lagi yang lagi belajar, aku Cuma lagi mikir gimana caranya supaya soalsoal ini bisa ngilang dari hadapan aku, balasku sembarangan sambil merapikan buku. Reuben tertawa dan mengeluarkan BB serta handsfree. Ia menyuruhku mendengarkan sesuatu. Ternyata lagu My Heart Is Yours dari Justin Nozuka. Dia mengatakan kalau itu adalah lagu kesukaan dia. Aku tersenyum dan tanpa disadari kami terus berbicara banyak hal sampai bel pulang Page 12 of 34

berbunyi. Reuben kembali ke kursinya. Aku pun segera merapikan mejaku. Dia kembali mendatangiku, dan kami berjalan ke luar bersama menuju parkiran. Karena seperti yang sudah dijanjikan tadi malam, aku akan menemani dia untuk membeli hadiah Amanda. Tepat di saat aku akan keluar kelas, aku melihat Stella menatap kami dengan tajam. Aku merasa tidak enak dengan pandangannya yang seperti itu. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa nantinya.

Oke, yang terjadi di mall sekarang adalah kami tidak jadi membeli hadiah untuk Amanda dan justru nonton. Reuben yang traktir. Awalnya dia ingin nonton film yang aku rasa romantis. Aku tidak tahu judulnya apa, tapi dari covernya sudah terlihat jelas bahwa film itu adalah film romantis. Aku langsung menolaknya. Ew Reu, sorry ya, tapi aku gasuka film romantis, ujarku langsung begitu dia hendak membeli tiket. Oke, kalo gitu kita nonton yang lain aja, balasnya. Dan yang akhirnya terjadi adalah kami sekarang menonton The Possesion, salah satu film horror yang diangkat dari kisah nyata. Setelah film selesai, aku dan Reuben langsung pulang. Hari sudah cukup sore. Saat ia mengantarku pulang, kami hanya diam sepanjang perjalanan, sampai akhirnya dia mulai bicara. Kok bisa sih kamu gasuka film romantis?, tanyanya. Gasuka aja, gatau kenapa, jawabku singkat. Jadi kamu sukanya film yang gimana? Ehm, semacam film action mungkin, adventure, horror, time travel terus film-film dari Marvel gitu. Jadi kamu suka film yang kaya LOTR, Iron Man, The Ring dan teman-temannya gitu?, tanya Reuben lagi. Yep, jawabku singkat. Yaa, termasuk juga The Avengers, Teleporter, Donnie Darko, SHUTTER, yah gitulah, aku menambahkan. Reuben tak membalas omonganku. Dia hanya diam dan menatapku. Aku jadi risih. Ada apa?, tanyaku padanya. Enggak, aku Cuma, Cuma kaget aja. Aku nggak nyangka kamu bakal suka film kayak gitu. Aku kira kamu bakalan suka film-film romantis gitu. Aku emang gak seperti yang kamu kira kok. Oya Reu, nanti di depan belok kiri ya, kataku mengingatkannya.

Page 13 of 34

Sip, aku enggak lupa kok, balasnya sambil tersenyum. Mobil Reubenpun berhenti tepat di depan rumahku. Kamu yakin enggak mau mampir dulu Reu?, tanyaku basa-basi sambil keluar dari mobil. Enggak deh Fay, kapan-kapan aja. Udah sore, jawabnya. Oiya kamu tau enggak sih kao rumah kita sebenernya deket?, tanyanya balik. Aku hanya menggeleng. Reuben tersenyum, lalu bertanya lagi,Kamu mau berangkat sekolah sama sama aku gak besok? Ehm, boleh, jawabku singkat sambil tersenyum. Yaudah kalo gitu, sampai jumpa besok ya, balasnya sambil berlalu dari hadapanku. Jantungku hampir keluar dari mulut saat dia mengajakku untuk berangkat bersama besok. Aku langsung berlari masuk ke rumah, menuju kamarku memutar lagu-lagu kesukaanku, dan mandi. Aku melihat mobil papa di garasi saat aku berlari ke rumah, pertanda kalau papa sudah pulang. Selesai makan malam, aku kembali ke kamarku, mengerjakan tugas fisika yang tadi siang aku abaikan. Papa terlihat sangat serius membaca koran di saat aku naik tangga. Ya, papa benar-benar serius, sampaisampai tak menyadari kalau anak semata wayangnya baru saja melewatinya. Sesampainya di kamar, aku langsung mengerjakan tugas fisika tersebut. Tiba-tiba BB ku berbunyi. Ada BBM dari Reuben. Aku senang setengah mati dan langsung membukanya. Ternyata Reuben mengirimku vn. Aku segera membukanya. Isi vn tersebut adalah lagu Waiting dari Matt Wertz yang di cover oleh Reuben. Aku pun segera membalasnya dengan menyanyikan lagu Heartless dari Justin Nozuka. Aku menunggu balasannya dengan tak sabar, dan soal fisika yang ada dihadapanku lagi-lagi kuabaikan. Biarlah pikirku, tinggal beberapa soal lagi, entar aja lagi dikerjain. Bbku kembali berbunyi. Reuben membalas laguku dengan lagu aku sama sekali tak tau. Aku langsung bertanya padanya. Fay Vivian: Itu judulnya apa? Aku bener-bener gatau itu lagu siapa._. Reuben Nathaniel: Hehehe, gatau ya? Judulnya If Its For you :D Fay Vivian: Penyanyinya? :o Reuben Nathaniel: Aku dong! :D Fay Vivian: Hem-_- Reu, lagu itu emang kamu yang nyanyiin barusan, tapi bukan berarti kamu penyanyinya :p Reuben Nathaniel: Kok kamu gak percaya sih? itu lagu ciptaan aku. Ya berarti aku dong penyanyinya :p Aku terkejut membaca balasan darinya. Fay Vivian: Serius? Reuben Nathaniel: Iya aku serius! Fay Vivian: Keren tau lagunya bagus, kamu kapan nyiptainnya? Dapat inspirasi dari mana?

Page 14 of 34

Reuben Nathaniel: Tadi sore, pulang dari ngantar kamu. Inspirasinya? Ya dari mana-mana aja. Gimana, kamu suka lagunya? Fay Vivian: Suka! Bagus sih, kayaknya kamu ada bakat gitu jadi penulis lagu hehe :D Reuben Nathaniel: Hehehe, makasih. Kalo gitu lagunya kamu simpan yaa, jangan dihapus ;) Aku terdiam membaca BBM terakhir dari Reuben. Dia ngasih lagu ciptaan dia ke aku? Aku berusaha untuk tidak GR. Namun tanpa kusadari aku jadi senyum-senyum sendiri. Fay Vivian: Iya iya aku gak bakal hapus lagunya kok Anyway, thanks banget ya Reu :D Reuben Nathaniel: Iya sama-sama Kamu lagi ngapain sekarang? Fay Vivian: Lagi ngerjain soal fisika tadi siang, kamu? Reuben Nathaniel: Lagi nonton tv sama keluarga aku. Yaudah deh, dilanjutin sana belajarnya, habis belajar langsung tidur ya! Jangan begadang lagi :p Sial, aku jadi menyesal telah mengatakan bahwa aku sedang mengerjakan soal fisika tadi siang. Fay Vivian: Iya iya, yaudah kamu juga lanjutin sana nontonnya, Bay! Reuben Nathaniel: Bay Fay! Jam dinding menunjukkan pukul 21.30 saat aku sudah selesai mengerjakan pr fisika tersebut. Aku menatap BB ku dengan penuh harapan bahwa Reuben akan segera mengirim BBM kepadaku. Aku menatap BB ku seperti orang bodoh selama hampir setengah jam. Aku ingin menyapanya lebih dahulu, tapi aku tak berani melakukannya. Akhirnya aku tertidur sambil menunggu BBM dari Reuben yang tak kunjung datang saat itu.

-Hari ke 53Aku sedang sarapan disaat Reuben tiba untuk menjemputku. Aku langsung menyelesaikan sarapanku dan hendak berangkat, disaat tiba-tiba saja Bik inah datang. Non, di depan ada temen non. Katanya mau jemput non, buat berangkat bareng ke sekolah, seru Bik Inah dengan logat jawanya. Siapa Fay?, tanya papa sambil menghentikan sarapannya. Reuben kayaknya deh pa, teman sekelas Fay. Ehm yaudah bilang sama dia tunggu sebentar ya Bik, kataku sambil memakai sepatu. Suruh masuk aja dulu. Papa mau lihat anaknya yang mana, balas papaku dengan datar. Aku terdiam mendengar ucapan papa. Sementara itu Bik Inah langsung keluar memanggil Reuben. Reuben masuk ke ruang makan dengan senyumnya yang biasa.

Page 15 of 34

Pagi Om, pagi Fay, sapa Reuben sambil tersenyum. Reuben langsung menyalam tangan papa. Ia menatapku dengan tatapan b ingung, aku pun membalasnya dengan tatapan yang tak kalah membingungkan. Pagi. Jadi kamu temennya Fay yang mau berangkat bareng itu? Iya Om Tinggal dimana kamu? Sebenarnya lumayan dekat dari sini sih Om. Saya tinggal di Jalan Soekarno Hatta gang Palapa nomor 12. Tunggu dulu, papa menyela omongan Reuben. Bukannya itu rumahnya Brahmantyo ya? Iya Om, jawab Reuben lagi. Oke, aku mulai risih dengan semua pertanyaan papa. Jadi, kamu ini anaknya Brahmantyo sama Yvone ya?, lagi-lagi papa bertanya. Iya Om, jawab Reuben lagi, sepertinya dia juga mulai risih dengan semua pertanyaan papa. Okedeh kalo gitu, kalian berangkat sana, hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut, kata papa akhirnya. Aku langsung berangkat setelah mencium tangan papa. Sesampainya di mobil Reuben langsung menghela napas panjang. Papa kamu polisi ya Fay? Aku baru aja mau ngajak kamu berangkat bareng udah diinterogasi gitu, Reuben memulai percakapan sambil mulai menjalankan mobil. Aku juga kaget waktu papa aku nyuruh kamu masuk. Mana aku tau kalo kamu bakal ditanya-tanyain sama papa aku, balasku sambil tertawa. Ampun deh, kata Reuben lagi. Mendengar itu, aku langsung bertanya padanya,Jadi kamu udah kapok ke rumah aku nih ceritanya? Reuben menatapku. Aku menatapnya balik. Yaa, kalau Cuma papa kamu ajasih, aku bisa ngadepinnya, balas Reuben sambil tersenyum dan mengangkat kerah seragamnya. Sombong, balasku tersenyum. Ntar aku bilangin ke papaku loh. Reuben hanya tertawa. Kami pun terus melanjutkan pembicaraan kami diiringi lagu American Honey dari Lady Antebellum sampai akhirnya kami tiba di sekolah. Kelas masih sepi saat aku dan Reuben sampai. Hanya ada Stella, dan beberapa anak-anak lain di dalamnya. Stella menatap kedatangan kami dengan tatapan sinis, ia berjalan dan dengan sengaja menabrakku. Aku berbalik dan memanggilnya,Stel, kamu kenapa sih? Page 16 of 34

Stella berhenti berjalan, dan tanpa berbalik dia menjawab pertanyaanku,Katanya enggak suka, tapi masih aja dideketin. Ia pun kembali berjalan ke luar kelas. Aku kesal melihat Stella. Lalu aku melirik Reuben, memastikan bahwa ia tak melihat adegan tabrakan aku dengan Stella. Sepertinya ia tak sempat melihatnya, ia sibuk merapikan lacinya. Aku langsung duduk dan menunggu kedatangan Helena. Dan seperti kebiasaan Helena sehari-hari, tepat di detik-detik sebelum bunyi bel, dia baru datang. Len kamu lama banget sih datangnya, kataku kesal. Sorry, biasa orang sibuk, balasnya cuek. Aku mau cerita nih sama kamu, kataku sambil menarik lengan Helena. Helena langsung menghadapkan badannya ke arahku, Oke kamu mau cerita apa? Si Stella kayaknya lagi musuhin aku deh, kataku sambil bisik-bisik kepada Helena. Helena langsung melirik ke arah Stella, Hem Fay, dia lagi ngeliatin kita loh. Jadi gimana dong? tanyaku pada Helena. Kamu mendingan cuekin dia deh, palingan dia cemburu gara-gara kamu deket sama Reuben, jawab Helena santai. Aku masih panik. Lalu Helena melanjutkan, Udaah tenang aja kali Fay, kan masih ada aku. Aku tersenyum mendengar ucapan Helena. Tak lama kemudian Pak Tandiono guru sejarah kami masuk. Aku sama sekali tak memperhatikan pelajarannya. Aku benar-benar tak menyukai pelajaran sejarah. Setelah melewati pelajaran sejarah yang saaaaaaaaaaaangat lama, dan pelajaran matematika, akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku sangat malas keluar kelas, dan Helena juga tak pergi ke kantin. Kami berdua sibuk memakan bekal yang di bawa Helena, sampai tiba-tiba Reuben datang menghampiriku. Kamu nggak ke kantin?, tanya Reuben padaku. Enggak Reu, kamu duluan aja , balasku tersenyum. Mau aku beliin sesuatu?, tanyanya lagi sambil membalas senyumku. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Reuben pun pergi ke luar kelas bersama temantemannya. Aku kembali makan bersama Helena. Si Reuben kayaknya emang beneran suka deh sama kamu Fay, ujar Helena mengagetkanku. Kok kamu mikir gitu sih?, tanyaku berpura-pura tenang. Yaiyalah, orang dia aja enggak menyadari kehadiran aku waktu ngomong sama kamu tadi. Matanya tu ngeliat kamu aja tau selama ngomong, jawab Helena penuh semangat.

Page 17 of 34

Ya tentulah dia bicaranya sambil ngeliat aku, gak mungkin kan dia bicara sama aku, tapi matanya justru ngeliat orang lain, kan aneh jadinya. Udah ah ngapain kita ngomongin dia. Oya, kamu pergi ke pesta Amanda sama siapa ntar?, tanyaku mengalihkan pembicaraan. Gak tau, kayaknya sendirian deh Fay, kenapa?, tanya helena balik. Aku nebeng ya sama kamu, plis yayayaya?, tanyaku penuh harap. Lah, kenapa kamu gak sama Reuben aja? Dia pasti seneng banget kalo kamu minta tebeng sama dia, jawab helena kepadaku. Helena, dia enggak bisa nebengin aku. Entar malam tu dia pasti sibuk banget, soalnya kan dia mau nyanyi sama bandnya di acara ulang tahun Amanda. Lagian, masa kamu tega sih ngebiarin aku pergi sendirian. Ayo dong, plis yaa?, aku memohon sambil membuat wajah ingin menangis. Iyuh gak usah sok imut gitu deh Fay, iya iya aku perginya sama kamu. Entar aku jemput kamu jam 18.30 ya, awas kamu jangan sampe telat. Pokoknya pas aku jemput, kamu mesti udah siap, ujar Helena sok sok tegas.

Bbku bergetar saat aku sedang turun tangga. Ternyata helena menelfonku lagi. Aku langsung berlari menuju halaman. Kamu nih gak sabaran banget sih len? Aku kan udah bilang kalo aku bentar lagi siap, seruku padanya sambil masuk ke dalam mobil. Ya kamu sih habisnya lama banget. Kan aku bilang aku bakal jemput kamu jam 18.30, eh kamu baru turun 19.00. Telat 30 menit tau. Helena menghidupkan mobilnya dan segera melaju menuju rumah Amanda. Aku dan Helena memasuki halaman rumah Amanda. Setelah Helena memarkirkan mobilnya, aku langsung melihat sekeliling. Amanda emang benar-benar kaya, pikirku. Tiba-tiba Helena menarik tanganku. Kenapa Len?, tanyaku padanya. Aku ke tempat Seno ya. Bentar doang kok, kamu enggak akan langsung merasa kesepian, jawab Helena. Aku langsung memeletkan lidahku mendengar ucapan Helena. Aku melihat Helena berjalan meninggalkanku menuju Seno, pacarnya. Aku enggak tahu banyak soal Seno, karena Helena enggak banyak cerita, dan aku juga malas mengurusi hubungan orang lain. Aku melewati halaman rumah Amanda. Ada banyak orang-orang di halamannya. Lalu aku memasuki ruang tamunya. Aku melihat ke sekeliling. Sangat ramai di sana-sini, tapi tak ada satu pun yang aku kenal. Aku rasa Amanda mengundang seluruh angkatan untuk datang ke acara ulang tahunnya, enggak, mungkin dia mengundang anak-anak sekolah lain juga. Benar-benar eksis, pikirku. Aku pergi ke arah belakang rumah Amanda. Sesampainya di sana, ternyata itu adalah taman belakang dan kolam renang. Aku teringat Reuben. Dia bakal nyanyi di mana ya? Aku keluar menuju halaman depan rumah Amanda. Ternyata ada panggung di sudut halaman yang tidak dijadikan daerah parkiran. Aku mendekati panggung tersebut. Berharap pemilik Epiphone ada di sana. Tapi

Page 18 of 34

ternyata enggak ada siapa-siapa. Aku kecewa. Akhirnya aku mencari Helena, yang ternyata juga sedang mencariku. Kamu kemana aja sih Fay?, tanya Helena panik. Aku kira kamu ilang tau. Aku hanya tersenyum. Helena segera menarikku ke dalam ruang tamu Amanda. Masuk yuk, acaranya udah mau dimulai tahu. Acara ulang tahun Amanda berjalan sangat lambat. Aku tidak memperhatikan lagi betapa ributnya orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Amanda, aku tidak lagi peduli betapa cantiknya Amanda malam ini dengan gaun di atas lututnya yang berwarna pink pastel. Saat acara makan malam, aku lebih memilih makan di taman belakang rumah Amanda. Helena makan bersama Seno. Dan aku benar-benar mencapai titik bosanku, di saat tiba-tiba saja orang-orang mulai berpindah ke halaman depan dan mulai ribut di sana. Aku mengikuti kerumunan. Aku melihat ke arah panggung, dan sekarang aku mengerti mengapa orang-orang berkerumun di sini. Reuben dan bandnya sudah berada di atas panggung. Aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Reuben karena teriakan semua perempuan yang berada terlalu dekat dengan panggung. Aku melambaikan tanganku berharap Reuben dapat melihatku, walaupun aku tahu sangat mustahil ia dapat melihatku di antara desakan orang-orang. Suasana mulai tenang di saat Reuben mulai menyanyikan Missing dari Eliza Doolittle. Suaranya terdengar jelas ditelingaku. Aku mulai mengikutinya menyanyi, sampai akhirnya lagu tersebut selesai. Reuben menyanyikan lagu keduanya, When She Was Mine dari Lawson. Aku terdiam memikirkannya. She? Siapa cewek yang dimaksud Reuben dengan she? Reuben punya mantan? Aku terus memikirkannya sampai reuben selesai menyanyi. Orang-orang mulai bubar dan dan kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Aku melihat jam tanganku. Menunjukkan pukul 21.00. Aku rasa pesta ini tak akan berakhir sampai tengah malam. Aku berjalan menuju taman belakang rumah Amanda, di sana tak terlalu ramai. Jauh lebih baik, pikirku. Aku duduk diam sendirian di antara orang ramai, sampai tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Di sini kamu rupanya, sapa Reuben sambil duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum. Kamu enggak kenapa-kenapa kan? Kamu udah makan?, tanya Reuben lagi. Aku hanya diam menatap Reuben. Apa iya dia lagi galauin mantannya? Tiba-tiba Reuben memberikan aku permen kapas. Ni deh buat kamu, biar kamu gak cemberut melulu. Emang aku cemberut?, tanyaku padanya. Reuben mengangguk, lalu menatap langit. Kamu pernah pacaran?, tanya Reuben membuatku nyaris tersedak. Enggak, jawabku singkat sambil memakan permen darinya. Kalau suka sama seseorang?, tanyanya lagi. Enggak juga, jawabku. Reuben langsung menoleh ke arahku. Pernah, sekali, Page 19 of 34

ralatku sambil melihat matanya. Reuben langsung tertawa mendengar jawabanku. Dia kembali diam menatapku. Aku mulai sesak napas saat melihat mata coklat tuanya. Bicara Fay bicara, perintah otakku pada mulutku. Kalo kamu sendiri? Pernah pacaran atau suka sama seseorang?, akhirnya aku bisa berbicara juga. Reuben tertawa. Pacaran, aku belum pernah pacaran. Suka sama seseorang, sebelumnya enggak, tapi sekarang lagi sih , jawabnya. Sama siapa?, tanyaku cepat. Astaga kenapa aku jadi antusias begini. Reuben menatapku lama, lalu di tersenyum, lalu dia tertawa dan dia akhirnya bicara,Ehm cewek itu... Di sini kamu rupanya Fay. Oh hai Reuben, sapa Helena memotong ucapan Reuben. Aku dan Reuben langsung berpandangan dan berdiri. Astaga kalian benar-benar cocok tau. Kenapa sih kalian nggak jadian aja? Hah?, aku bingung menatap Helena dan Reuben yang hanya tersenyum. Kenapa kalian nggak bercermin berdua? Pakaian kalian benar-benar serasi, lanjut Helena lagi. Aku sontak memperhatikan pakaian Reuben dan membandingkannya dengan pakaianku. Reuben tertawa melihat tingkahku. Aku harus pulang sekarang Fay, udah lewat jam 21.00. Papa aku udah nelfon, kita pulang sekarang yuk, tambah Helena. Aku menatap Reuben, berharap dia melakukan sesuatu yang dapat menahanku untuk tetap tinggal. Seolah dapat menangkap sinyal dariku, Reuben langsung menahan tanganku, Biar aku aja yang antar Fay pulang nanti. Kamu pulang aja duluan. Oh yaudah, Fay Reu, aku pulang dulu ya. Ingat Fay jangan pulang malam-malam, nanti papa kamu marah loh, seru Helena sambil keluar. Iya aku bakal nganterin Fay kok bentar lagi, balas Reuben berteriak. Reuben kembali menatapku. Aku melihat tanganku, begitupun dengan dia. Reuben langsung melepas tanganku. Kami hanya tertawa, dan tiba-tiba hening. Pesta masih berlanjut. Kamu mau aku ambilin minum?, tanya Reuben memecah keheningan. Ya boleh, jawabku singkat. Aku melihat punggung Reuben berjalan meninggalkanku. Bahkan punggungnya pun terlihat sangat menarik. Fay kamu liat Reuben gak? Aku dari tadi nyariin dia tapi enggak ketemu-ketemu, tiba-tiba Amanda sudah berada di sebelahku. Fay nih aku udah..., ucapan Reuben terhenti begitu melihat Amanda di sebelahku. Amanda, kok tiba-tiba udah ada di sini?, tanya Reuben. Iya, aku tuh dari tadi nyariin kamu tau, jawab Amanda centil. Aku mau ngenalin kamu sama mama papa aku, yuk sini ikut sama aku, Amanda langsung menggandeng Reuben. Sementara Reuben hanya melihatku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan. Ia sama sekali tak melepaskan pegangan Amanda, apa maksudnya? Aku ambil minum aku sendiri deh, ucapku sambil meninggalkan mereka. Aku tak dapat lagi mendengar dengan jelas kalau Reuben memanggil namaku. Aku tak mengambil minum. Aku langsung keluar dari rumah Amanda. Aku benci amanda. Aku tahu aku tak boleh begitu, tapi aku benar-benar tak dapat menahan emosiku lagi. Aku berlari keluar dari halaman rumah Amanda. Dan Page 20 of 34

segera pulang naik taksi. Beruntung sekali ada taksi yang lewat malam-malam begini, kalau tidak aku pasti terpaksa pulang jalan kaki yang sebenarnya sangat mustahil aku dapat melakukannya. Saat aku tiba di kamarku, aku langsung menghempaskan badanku di atas tempat tidur. Aku tidak menangis walaupun dadaku terasa sesak dan jantungku berdebar keras. BB ku berbunyi, aku melihat nama Reuben muncul di chat BBM ku. Aku tidak membalasnya, aku ingin tidur. BB ku berbunyi lagi, kali ini tidak BBM, tapi telfon dari Reuben. Aku sudah tak tahan lagi. Aku mencabut baterai BB ku dan melemparnya entah kemana. Aku memejamkan mataku, memaksa untuk tidur.

-Hari ke 54Aku sengaja bangun lebih pagi hari ini. Aku berangkat bersama Pak Yayat. Aku tak ingin melihat Reuben pagi ini. Aku juga sengaja tidak membawa BB ku yang tadi malam aku lempar entah kemana. Aku sampai di kelas. Masih aku sendiri. Aku membanting tasku dan pergi ke taman di depan perpustakaan. Aku menunggu di sana sampai akhirnya bel berbunyi, dan saat aku masuk kelas, ternyata guru kimiaku sudah ada dalam kelas. Dari mana kamu Fay? Kok baru masuk? Saya dari toilet tadi bu, jawabku bohong. Yaudah kalau gitu kamu sekarang cepetan ambil jas lab sama buku paket kamu karena kita mau praktek, perintah guruku. Ya bu, jawabku sambil mengambil jas dan lainnya. Aku sengaja tidak melihat Reuben di belakang. Tiba-tiba Helena menarikku keluar kelas. Kamu kenapa sih Fay? Kenapa kamu enggak ada di kelas tadi, Helena menodongku dengan pertanyaan. Aku enggak kenapa-kenapa. Aku habis dari toilet kok tadi, jawabku bohong lagi. Jangan bohong. Aku udah tau semuanya dari Reuben, balas Helena. Aku terdiam. Aku melihat Reuben melewati kami. Ia tak menyadari keberadaan aku dan Helena. Kalo kamu udah tau, kenapa kamu masih tanya?, sahutku meninggalkan Helena. Aku Cuma mau dengar semuanya dari kamu Fay, enggak biasanya kamu diam kayak gini. Kamu harusnya cerita dong sama aku kalo ada apa-apa, itukan gunanya temen? Aku kan udah bilang sama kamu kalau aku bakal selalu ada buat kamu, balas Helena sambil mengejarku. Aku berhenti berjalan dan berbalik ke arah Helena.Maafin aku ya Len, aku udah salah sama kamu. Helena langsung memelukku, Yaudahlah gak papa kok, mending kita ke lab aja sekarang, oke?. Aku tak dapat berkonsentrasi selama praktek berlangsung. Aku terus melihat punggung Reuben yang berdiri dua meja di depanku. Ya, aku dan Helena mendapat meja paling belakang

Page 21 of 34

karena kami datang paling terakhir. Tiba-tiba Reuben menoleh ke belakang. Aku langsung menundukkan kepalaku, berpura-pura sedang mengerjakan praktikum. Dua jam pelajaran telah berlalu. Saat aku dan Helena kembali ke kelas, Stella mencegat kami di perjalanan. Aku mau bicara sama kamu, kata Stella datar. Sama aku?, tanyaku padanya. Stella mengangguk. Aku mengisyaratkan pada Helena untuk lebih dulu masuk ke kelas. Sekarang, yang tersisa hanyalah aku dan Stella. Kamu mau ngomong apasih Stel?, tanyaku tak sabar. Dasar munafik!, ucap Stella sambil menatapku tajam. Aku terkejut mendengar ada seorang cewek yang tak mengenalku sama sekali tapi bisa-bisanya mengataiku munafik. Kamu bilang, kamu gasuka sama Reuben, eh tapi masih aja kamu deketin, tambah Stella. Bukan aku yang deketin dia, tapi dia yang deketin aku duluan. Udalah, kalo kamu Cuma mau ngomongin ini doang, mending aku pergi, balasku meninggalkannya. Gimana rasanya tadi malam ngeliat Reuben di peluk-peluk sama Amanda? Pasti kamu sakit hatikan, aku liat kamu langsung pulang begitu Amanda meluk Reuben, ucap Stella semakin sinis padaku. Aku kan dah pernah bilang sama kamu buat gak temenan sama Amanda, perempuan jahat yang merebut semua keinginan orang lain. Kamunya aja yang bodoh enggak mau ngikutin saran aku. Dasar cewek bodoh!, Stella berteriak padaku. Aku berbalik dan berlari ke arah Stella. Aku mendorongnya sampai terjatuh.Denger ya Stell, aku bukan cewek bodoh, dan Amanda juga enggak sejahat yang kamu pikir. Sedangkan kamu, kamu adalah cewek yang bermasalah dengan kepribadian kamu sendiri, karena apa? Karena kamu cemburu sama aku, karena kamu enggak pernah bisa dekat sama Reuben, bahkan untuk bicara sekalipun, bentakku padanya. Semua yang keluar dari mulutku bahkan tidak kurencanakan sama sekali. Wajah Stella terlihat terkejut, namun tiba-tiba dia berdiri sambil tertawa. Ooh, jadi gini ya kamu aslinya, kasar dan suka ngebentak orang lain. Kamu gak pernah diajarin sopan santun ya sama ibu kamu? Oiya, aku lupa, ibu kan udah mati, jadi wajar aja kalo kamu tumbuh jadi anak yang munafik dan gak punya sopan santun sama orang lain!. Stella mendorongku balik hingga terjatuh dan meninggalkanku sendiriran di depan lab. Aku benar-benar sakit mendengar dia menghina mama. Dia boleh menghina aku, tapi dia nggak boleh menghina mama. Aku menangis sendirian, aku ingin menghubungi Helena tapi aku lupa membawa BB ku yang aku lemparkan entah kemana tadi malam. Tak lama kemudian Helena datang. Dia sangat terkejut melihat keadaanku yang terlihat seperti gembel kumuh duduk di lantai. Astaga Fay, kamu kok bisa kayak gini sih?, tanya helena sambil membantuku berdiri. Kamu kok bisa ada di sini?, tanyaku balik. Page 22 of 34

Aku langsung punya perasaan gak enak waktu Stella balik ke kelas sendirian, tapi kamu gak ikut. Yaudah aku balik lagi ke sini, jawab Helena sambil membawakan buku dan jas lab milikku. Aku teringat semua ucapan Stella tadi. Aku benar-benar sakit hati mendengarnya. Akhirnya aku menceritakan semuanya ke Helena. Tu anak emang gapunya otak kayaknya Fay, komentar Helena setelah aku selesai menceritakan semua kejadian antara aku dan Stella. Dia mesti dikasi pelajaran, tambah Helena sambil berdiri. Sepertinya dia ingin menghajar Stella. Udalah Len biarin aja, kataku sambil menahan Helena. Dia itu kayaknya punya masalah sama dirinya sendiri, anak yang kayak gitu mending kita abaikan aja. Lagian aku udah enggak papa lagi kok. Aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Aku ingin menunjukkan pada Stella bahwa aku baik-baik saja, dan bisa bertahan walaupun harus menghadapi anak sepertinya. Namun saat jam istirahat, aku lebih memilih sendiri. Aku pergi ke perpustakaan sementara Helena pergi ke kantin bersama Seno. Aku kembali mengingat Reuben. Pertama kali aku berbicara dengannya di saat jam istirahat. Di saat aku memainkan gitarnya. Bel berbunyi tanda jam istirahat telah berakhir. Helena sudah berada di kursinya saat aku tiba di kelas. Aku tersenyum kepadanya, ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Sekarang jam pelajaran seni. Aku lupa kalau hari ini ambil nilai menyanyi di depan kelas. Sehingga saat namaku dipanggil untuk maju ke depan, aku hanya bisa diam di kursiku. Aku sama sekali enggak siap! Aku bahkan enggak tau mau nyanyi apa. Namun tiba-tiba Reuben maju sambil membawa gitarnya dan berbicara pada bu guru. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang terjadi adalah Reuben menyanyi untuk menggantikan giliranku. Hai semuanya, sapa Reuben. Aku tahu sekarang bukan giliran aku buat nyanyi, tapi aku pengen nyanyi sekarang. Sebelumnya, aku mau minta maaf buat seseorang yang tadi malam udah aku buat kecewa, dan tadi nangsi di depan lab karena aku juga, lanjut Reuben sambil menatapku. Aku langsung melirik Helena. Pasti dia yang menceritakan semuanya pada Reuben. Aku bakal nyanyi dua lagu buat seseorang itu, sebagai permintaan maaf dariku. Aku harap seseorang itu mau maafin aku dan memberikan aku kesempatan kedua. Reuben menyanyikan Falling Slowly dari Glen Hansard dan Everything Will be Alright dari Matt Wertz. Harus kuakui bahwa suara Reuben sangat merdu, dan wajahnya sangat ganteng di saat dia menyanyi. Semua orang langsung bertepuk tangan ketika dia selesai bernyanyi. Reuben kembali ke kursinya sambil melihatku. Aku hanya menunduk dan melihat ujung-ujung sepatuku.

Aku mondar mandir di depan gerbang sekolah menunggu Pak Yayat. Sepertinya Pak Yayat mengira bahwa aku akan pulang bersama Reuben lagi. Padahal hari ini ini aku tidak pulang bersamanya. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 15.15. Aku kepanasan dan keringatku mulai menetes. Aku tak bisa menghubungi pak Yayat karena aku tidak membawa BBku. Aku ingin Page 23 of 34

meminjam BB Helena, tapi aku juga tetap tak bisa menghubungi pak Yayat karena aku tak hafal nomor supirku itu. Sementara aku juga tak bisa nebeng pulang dengan Helena karena dia sendiri hari ini berangkat bersama Seno. Ah benar-benar sial. Di saat aku sedang mengumpat dalam hatiku, tibatiba mobil Reuben berhenti di depanku. Dia keluar dari mobilnya. Fay, pulang sama aku yuk, Reuben mulai bicara. Aku hanya diam sambil melihat ujungujung sepatuku. Fay plis, kamu bicara dong. Kamu masih marah sama aku?, tanyanya lagi. Kali ini aku mengangkat kepalaku dan tersenyum kepadanya, tapi aku masih diam. Reuben terus menatapku. Lalu tanpa kusadari, dia menarik tanganku dan membawaku ke sebelah mobilnya. Kamu pulang sama aku ya, katanya sambil membukakan pintu mobil. Aku terpaksa masuk. Akhirnya aku pulang juga. Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami hanya diam. Sesekali Reuben melihatku. Tapi dia tak memulai percakapan sama sekali. Akhirnya setelah sampai di depan rumahku, aku buka mulut. Thanks ya Reu udah nganterin aku pulang. Maafin aku juga ya, soalnya aku udah diemin kamu seharian.Bukan salah kamu kok Fay, aku yang salah, balas Reuben. Aku tersenyum dan keluar dari mobil dia. Aku menatap mobilnya yang meninggalkan rumahku. Sampai mobilnya belok di persimpangan dan tak terlihat lagi, baru aku masuk ke rumah.

-Hari ke 756 November 2012 Hari ini tepat 3 minggu setelah Reuben meminta maaf padaku di depan kelas. Semakin hari kami semakin dekat. Tapi hanya sebatas teman. Aku tak berharap lebih, karena dengan begini saja aku sudah merasa senang. Aku juga tak berani meminta lebih, karena bisa saja dia mengiraku seorang cewek penuntut, dan akhirnya justru meninggalkanku. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah bersama Reuben. Pagi, Reuben menyapaku sambil tersenyum saat aku masuk ke dalam mobilnya. Pagi juga, balasku tersenyum. Reuben langsung menjalankan mobilnya. Sementara aku memutar lagu-lagu kesukaan kami. Hey aku ingat lagu ini, seru Reuben saat lagu Heartless dari Justin Nozuka terputar. Ini lagu yang kamu mainin pake gitar aku waktu pertama kali kita bicara. Aku tersenyum sambil menatapnya. Aku tak menyangka ia masih ingat dengan lagu ini. Kelas sudah lumayan penuh saat kami tiba. Sebagian besar anak-anak sibuk memegang buku Biologi. Kenapa ya? Halo, sapa Helena sambil terus memainkan Bbnya. Hay, balasku. Kok orang pada sibuk belajar sih Len?

Page 24 of 34

Biasa. Remed, jawabnya masih sibuk. Kamu sendiri kok gak belajar?, aku kembali bertanya. Ngapain aku belajar, orang aku gak remed. Kamu niya, kayak aku bodoh banget gitu, Helena menatapku pura-pura kesal. Aku hanya tertawa. Dan untungnya hari ini bagiku dan Helena adalah, yang tidak remed boleh belajar sendiri di perpustakaan. Dari 30 siswa, ada 17 siswa yang remed. Termasuk diantaranya adalah Amanda, Pamela dan Ingrid. Perpustakaan sudah cukup ramai di saat aku dan Helena masuk ke dalamnya. Aku melirik ke arah Stella yang juga tuntas sepertiku. Aku tak mengerti mengapa dia masih memusuhiku. Aku dan Helena langsung menuju sudut perpustakaan yang paling belakang, di antara lorong-lorong rak buku. Bbku bergetar. Ada BBM. Aku sudah dapat menebak siapa yang mengirim BBM ini. Reuben Nathaniel: Kamu dimana? :o Fay Vivian: Di perpus, kamu? Reuben Nathaniel: Aku juga di perpus. Kamu dimananya? Kok aku gakliat. Fay Vivian: Aku di lorong belakang, di dekat sudut._. Reuben Nathaniel: Pantesan aku gak liat. Aku ke sana ya? :D Fay, bisik Helena. Mmm, balasku malas tanpa sedikitpun menolehnya. Fay, Helena memanggilku lebih keras. Haa, balasku sambil menatap Bbku, aku tak tahu harus jawab apa ke Reuben Fayy, Helena bahkan sampai menarik Bbku. Iya kenapa sih Len?, akhirnya aku mengalihkan pandanganku padanya. BBMan sama siapa sih? Biasa Reuben? Aku mengangguk. Udah ah sini BB aku, aku mau balas BBM dulu. Aku berusaha mengambil Bbku dari tangan Helena, tapi ia malah menjauhkannya. Fay, hubungan kamu sama Reuben itu sebenarnya apa sih? Kamu gak capek digantungin terus?, tanya Helena tanpa memberikan Bbku. Apaansih Len, ya temenanlah emang mau gimana lagi?.

Page 25 of 34

Apanya yang temenan, kalian itu udah terlalu dekat buat jadi teman. Kalian udah melebihi orang pacaran malah. Kemana-mana berdua, berangkat bareng, pulang bareng. Kamu HTS sama dia? Aku diam. Aku tak tahu harus jawab apa pada Helena. Fay, bukannya aku mau ikut campur urusan kamu sama dia, tapi, aku nggak mau kalo dia sampe PHP-in kamu. Kamu ngerti kan maksud aku? Aku ngerti Len, aku ngerti. Tapi aku gaktau mesti gimana, pikirku tanpa menjawab pertanyaan Helena. Kamu gak pernah tanya sama dia? Kalau misalnya dia ninggalin kamu gitu aja gimana Fay? Aku, gaktau, jawabku akhirnya. Helena menghela napas panjang. Mending kamu tanya deh sama dia. Kalo emang dia sayang sama kamu, dia pasti gak bakal biarin hubungan kalian kayak gini terus menerus. Tapi kalo dia masih gantungin kamu, artinya dia sama sekali enggak ada rasa sama kamu. Berarti dia Cuma mainin kamu aja. Dan, mendingan kamu segera lupain dia, daripada nanti jadi berlarut-larut dan ujung-ujungnya kamu yang susah Helena menceramahiku panjang lebar. Perasaanku jadi tak karuan mendengar apa yang dikatakan Helena. Semuanya benar. Aku harus tanya pada Reuben. Tapi bagaimana jadinya kalau dia yang justru meninggalkanku karena aku bertanya begitu. Aku menatap helena bingung, sementara Helena menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan. Saat jam istirahat, aku akhirnya pergi ke kantin bersama Helena, setelah sekian lama aku lebih suka memilih duduk di kelas. Helena pergi membeli sesuatu yang dia inginkan, sementara aku hanya berdiri sendirian di tengah keramaian. Aku melihat Reuben bersama teman-temannya. Ia melambaikan tangannya ke arahku. Hey, tumben kamu mau ke kantin, tiba-tiba Reuben sudah berada di depanku. Iya, aku Cuma nemenin Helena aja kok. Enggak mau makan sesuatu? Aku menggeleng sambil tersenyum. Kok BBM aku Cuma di read? Ohya, BB aku mati. Habis baterai tadi, jawabku bohong. Helena datang menghampiri kami. Hay Reuben udah di sini aja rupanya. Yuk Fay kita balik aja ke kelas, aku udah beli makanan yang banyak nih, Helena segera menarik tanganku. Bay, Reu, kataku sambil meninggalkan Reuben.

Page 26 of 34

Hari ini aku tidak pulang bersama Reuben. Aku harus berlatih musikalisasi puisi bersama Amanda, Pamela, Ingrid dan beberapa temanku yang lain. Jadi disinilah aku sekarang. Di rumah Amanda yang luas, bersama dengan sebuah gitar. Pamela, enggak kayak gitu nada yang benar, teriak Amanda saat Pamela menyanyi. Jadi mesti gimana lagi sih?. Pamela terlihat putus asa. Nih biar aku contohin, lanjut Amanda lagi sambil menyanyikan lagu yang dinyanyikan Pamela. Aku tak pernah menyangka kalau Amanda pintar menyanyi. Aku mengiringi Amanda menyanyikan lagu tersebut. Latihan hari ini benar-benar melelahkan. Pamela masih sering salah nada, sementara Ingrid masih suka lupa lirik. Padahal perlombaan tinggal beberapa hari lagi. Fay, kamu pacaran sama Reuben ya?, tanya Ingrid padaku saat kami sedang istirahat. Ha? Enggak kok, kita Cuma temenan aja, jawabku sambil melirik Amanda. Tapi kok kalian kayaknya deket banget. Berangkat bareng, pulang bareng, tambah Ingrid lagi. Gak ada apa-apa di antara mereka Ingrid, seru Amanda sambil berdiri. Reuben itu sukanya sama aku, bukan sama Fay. Amanda membawakan minum untuk kami. Lagian kan tadi fay udah bilang kalo mereka Cuma temen. Aku mengangguk. Kamu yakin Nda? Yang aku liat Reuben cuek-cuek aja sama kamu, Pamela menambahkan. Itu karena dia malu sama aku. Tapi yang pasti aku percaya dia pasti suka sama aku, Amanda semakin percaya diri. Aku hanya diam sambil memetik gitarku. Tiba-tiba Bbku berbunyi. BMM dari Reuben. Aku tidak langsung membukanya. Amanda memperhatikanku. BBM dari siapa Fay? Enggak, Cuma BC kok Oh. Kamu lagi suka sama seseorang ya?, tanyanya lagi. Sial, apa Amanda tahu aku suka Reuben. Aku hanya tersenyum. Cerita aja lagi. Kita gabakal bilang sama siapa-siapa kok, Ingrid menambahkan. Sekarang mereka bertiga duduk tepat di depanku. Ada sih, tapi, orangnya gasuka sama aku. Siapa?, teriak mereka bertiga serempak. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Kamu kayaknya gapercaya ya sama kita? Yaudah deh gapapa. Tapi saran aku, kamu jangan menyerah buat dia. Kalo kamu emang beneran suka sama dia, kamu harus terus berjuang, sama kayak aku ke Reuben, seru Amanda meninggalkan aku dan yang lain. Page 27 of 34

Aku terdiam mendengar ucapan Amanda. Dia mendukungku untuk mendapatkan orang yang aku suka. Bagaimana kalau dia tahu yang aku suka adalah Reuben?

Terik matahari membakar seluruh tubuhku. Entah mengapa mobil yang dikendarai pak Yayat mogok di tengah jalan. Gimana pak?, tanyaku sambil mengelap keringat. Kabel businya putus non, harus dibawa ke bengkel ini, Pak Yayat terus memperhatikan mobil. Aku melihat ke sekeliling untuk mencari tempat berteduh. Tak ada sama sekali. Aku tak mau berteduh di dalam mobil, karena dalam mobil lebih panas lagi. Kepalaku mulai terasa pusing. Akhirnya setelah menunggu selama berjam-jam, mobil hidup kembali. Aku dan pak Yayat harus berkeliling mendorong mencari bengkel terdekat. Aku sudah sangat lemas saat sampai di rumah. Fay, sini sebentar nak, papa memanggilku. Ternyata papa sudah di rumah. Aku berjalan ke ruang keluarga. Iya pa? Papa dipindah kerjakan ke Pekanbaru. Dan seperti biasa, dalam beberapa hari lagi kita sudah harus pindah. Aku terkejut mendengarnya. Aku tahu hal ini akan terjadi. Tapi aku baru saja dapat teman! Pa, papa enggak bisa tolak pemindahan kerjanya? Emangnya kenapa Fay? Fay udah nyaman di sini pa, Fay bahkan udah dapat temen di sini. Lagian Fay kan udah kelas 2 SMA, kalau pindah lagi ntar bakal susah belajarnya Kamu kan bisa cari teman lagi di Pekanbaru dan soal pelajaran, papa yakin kamu bisa ngikutin pelajaran di tempat yang baru. Kamu kan pintar. Lagian gaji yang bakal papa terima kalau pindah ke sana bakal lebih besar, balas papa tak mau kalah. Papa ngelakuin ini demi kamu juga Fay, tambah papa lagi. Tapi pa, Jangan membantah!, bentak papa. Kenapa kamu jadi anak pelawan kayak gini? Ini pasti akibat kamu berteman sama teman-teman kamu itu itu. Mau atau tidak mau, kita tetap pindah, papa meninggalkanku. Page 28 of 34

Aku tak percaya papa membentakku. Papa egois. Aku berlari ke kamarku sambil menangis. Aku membanting tasku dan melempar semua barang-barang di kamarku. Aku baru sedikit bersenang-senang di sini, dan sudah harus pindah lagi! Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku meraba hidungku. Sial, aku mimisan. Padahal sudah lama sekali aku tak mimisan lagi. Ini semua pasti karena tadi siang aku berjemur terlalu lama, ditambah lagi dengan masalah papa. Aku menutup hidungku dengan banyak tisu sampai darahnya berhenti mengalir. Aku tak dapat berhenti menangis. Sampai akhirnya aku tertidur dan tak ingat apa-apa lagi.

-Hari ke 76Aku melirik jam. Sial sudah jam 6. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Aku langsung menuju mobil Reuben. Hay, sory aku telat bangun tadi, sapaku saat tiba di dalam mobil. iya gak papa kok, Reuben tersenyum menatapku. Kamu sakit?, tanya Reuben tiba-tiba sambil sambil memegang dahiku. Ha, emang kenapa?, tanyaku balik. Lingkar mata kamu hitam Fay, kamu beneran enggak papa kan? Pipi kamu hangat, tangannya berada di pipiku. Iya, aku Cuma kecapekan aja kok. Kita berangkat sekarang yuk, seruku sambil menurunkan tangannya. Reuben pun menjalankan mobilnya. Kami tak berbicara selama perjalanan. Sesekali Reuben melirikku. Aku benar-benar lemas. Sialnya lagi, aku lupa sarapan dan jam pelajaran pertama adalah olahraga. Aku baru berlari 2 keliling lapangan di saat kepalaku terasa mau pecah. Kamu gakpapa Fay? Muka kamu udah pucat banget loh!, seru Helena sambil memegangku. Iya aku gak papa, balasku sambil lanjut berlari. Aku berlari 1 keliling lapangan lagi sampai akhirnya aku tak sanggup lagi berjalan. Tiba-tiba ada yang menetes di lengan bajuku. Aku langsung memegang hidungku. Sial, aku mimisan lagi! Aku mengangkat kepalaku. Semuanya berputar, dan tiba-tiba gelap. Sepertinya aku pingsan cukup lama. Entahlah aku tak tahu. Yang pasti aku bangun saat jam istirahat. Udah baikan?, tanya Helena sambil membantuku duduk. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Kamu kenapa sih sebenarnya?, tanyanya lagi. Lupa sarapan Len, jawabku berusaha turun dari tempat tidur. Page 29 of 34

Lupa sarapan sampe mimisan gitu. Ngarang kamu. Tiba-tiba Reuben muncul dari pintu. Hay, kamu udah baikan?, tanyanya sambil memberikanku minum. Aku mengangguk dan menerima minum darinya. Gimana? Mau pulang aja? Biar aku antar sekarang? Enggak usah. Aku gak papa kok. Aku mau belajar aja, jawabku sambil berjalan keluar UKS. Aku tak memperhatikan pelajaran sama sekali. Yang ada di pikiranku hanya Reuben. Aku terus memikirkannya sampai bel pulang berbunyi.

Kamu yakin masih mau latihan?, tanya Reuben sambil menghidupkan mesin mobilnya. Yakin. Aku nggak papa kok. Lagian lombanya tinggal bentar lagi, kalo aku enggak ikut latian, ntar tampilnya malah kacau lagi, aku memasang sabuk pengamanku. Aku terus memperhatikan Reuben selama perjalanan ke rumah Amanda. Aku teringat katakata Helena. Aku juga teringat perkataan papa tadi malam. Aku harus segera menanyakan semuanya pada Reuben. Sebelum aku pindah. Reu, aku mau ngomong sesuatu, cetusku memecah keheningan. Ngomong aja lagi. Tumben kamu jadi serius gini, Reuben tersenyum mendengarku. Aku mau pindah Reu. Pindah rumah. Pindah sekolah. Jauh dari sini, kataku cepat. Reuben langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia menatapku tanpa bicara sedikit pun. Aku mulai tak sabar menunggu jawaban darinya. Kamu enggak mau bilang sesuatu?, tanyaku lagi. Kenapa kamu baru bilang sekarang?, tanyanya padaku. Aku juga baru tahu kalau aku harus pindah Reu, napasku mulai tak teratur. Semoga kamu senang di sekolah baru kamu, pinta Reuben akhirnya. Mulutku langsung menganga mendengar perkataannya. Aku rasa aku akan menangis. Benar yang dikatakan Helena. Reuben hanya mempermainkanku. Oh gitu, jadi kamu senang aku pindah?. Akhirnya air mataku turun juga. Bukan gitu Fay, Reuben memegang tanganku. Aku segera menepisnya. Udahlah Reu, aku tau kok kalo selama ini kamu emang gak peduli sama aku. Buktinya kamu baik-baik aja aku pindah. Dan satu lagi, aku bahkan gaktau hubungan kita ini apa. Kita selalu samaPage 30 of 34

sama, tapi semuanya gak ada artinya. Aku gak ada artinya buat kamu. Padahal bagi aku kamu itu segalanya. Aku capek. Aku muak. Kamu gak perlu antar aku latihan. Aku bisa pergi sendiri. Reuben terpaksa menghentikan mobilnya. Aku segera keluar dan berjalan. Fay, Reuben mengejarku. Aku segera memanggil taksi. Aku tak peduli lagi dengan apa yang dikatakannya. Jalan langsung pak. Cepet pak, perintahku pada supir. Reuben terus mengejarku sampai akhirnya dia berhenti. Aku berusaha menghentikan tangisku. Kepalaku semakin pusing memikirkan semuanya. Aku baru sadar gitarku tertinggal di mobil Reuben saat aku tiba di rumah Amanda. Sial, pikirku. Amanda, kamu punya gitar gak?, tanyaku menghampiri Amanda. Kening Amanda langsung berkerut begitu mendengar pertanyaanku.Ohya, aku punya. Punya abang aku sih sebenernya. Kamu ke ruang tengah, terus entar kan ada lemari tinggi, nah gitar nya ada dalam lemari yang paling atas. Udah gapernah lagi dipake, soalnya abang aku kan kuliah di luar kota sekarang, Amanda menjawab panjang lebar. Oke, kamu punya tangga nggak? Biar aku ambil gitarnya sekarang. Ada. Biar aku suruh pembantu aku ambil. Maaang, mang Ujang. Ambilin tangga dari gudang tolong. Bawa ke sini yaa, teriak Amanda pada pembantunya. Tak berapa lama muncullah orang yang pasti Mang Ujang tersebut. Makasih ya mang, ucapku setelah menerima tangga tersebut. Iya neng sama-sama. Aku langsung menuju ruang tengah. Tidak sulit menemukan lemari yang dimaksud Amanda. Lemari itu menjulang tinggi di antara guci-guci indah yang lebih rendah. Aku berusaha mencapai gitar dengan tanganku. Masih belum sampai. Aku naik beberapa anak tangga lagi. Aku kembali berusaha mengambil gitar tersebut. Dapat! Namun tiba-tiba kepalaku terasa berat. Aku memegang tangga dengan erat. Sial, jangan sekarang,pikirku. Aku tak kuat lagi, peganganku lepas dan aku terjatuh. Apa aku akan mati?

-Hari ke 78Aku membuka mataku. Pandanganku masih kabur. Aku mencium sesuatu. Sepertinya aku mengenal bau ini. Ya, ini bau obat. Aku pasti sedang berada di rumah sakit. Kamu udah sadar?, tanya suster yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelahku. Kok aku bisa ada di sini?, tanyaku balik. Page 31 of 34

Anemia. Kamu kena anemia. 2 hari yang lalu kamu ditemukan pingsan ditimpa tangga. Sepertinya kamu jatuh, jawab suster tersebut sambil mengukur tekanan darahku. Aku ingat. Aku ingat semuanya. Aku ingat hari dimana aku meninggalkan Reuben di jalan. Tiba-tiba papa muncul dari dari pintu. Kamu udah bangun? Udah baikan?, tanya papa sambil mengelus rambutku Aku mengangguk sambil tersenyum. Fay, maafin papa ya kalau papa terlalu egois selama ini. Papa enggak akan nerima pekerjaan di Pekanbaru. Kita akan tetap tinggal di sini demi kamu, papa menambahkan sambil tersenyum. Aku sangat senang mendengar ucapan papa. Tapi tiba-tiba aku teringat Reuben kembali. Untuk apa aku masih bertahan di sini kalau dia bahkan tak menginginkanku, batinku dalam hati. Ada teman kamu nunggu di luar, cetus papa. Tiba-tiba Helena masuk sambil membawakan balon. Hay Fay. Akhirnya kamu sadar juga, kata Helena sambil duduk di sebelahku. Apa kabar kamu?, tanyaku senang dengan kehadirannya. Baik. Kamu sendiri?, tanya balik. Seperti yang kamu lihat, jawabku pada Helena. Helena tertawa kecil. Ada yang mau ketemu sama kamu Fay, sambung Helena lagi. Siapa?, pikirku. Apa Reuben? Ternyata yang masuk adalah Amanda. Dia juga membawa balon. Aku tak mengerti mengapa Helena dan Amanda membawa balon. Hay Fay, sapa Amanda pelan. Hay, balasku singkat. Aku udah tau semuanya Aku terkejut mendengar omongan Amanda. Apa yang dia tahu? Dia bener-bener sayang sama kamu Fay. Dan aku ikhlas kalo kamu sama dia. Kalian cocok, dan aku nggak bisa menghalangi kalian berdua. Udah saatnya aku berhenti mengejar dia, karena dia selama ini Cuma peduli sama kamu, Amanda mulai menangis. Oke, ada apa ini? Dia siapa? Aku masih diam mendengar ucapan Amanda. Kamu harus terima dia Fay, lanjut Amanda sambil berdiri dan menuju ke sebelah Helena.

Page 32 of 34

Aku semakin tak mengerti dengan semuanya. Tiba-tiba saja aku mendengar seseorang menyayi dari luar. Tunggu, sepertinya aku tau lagu ini. Ya, My Heart Is Yours dai Justin Nozuka. Tapi siapa yang nyanyi? Satu persatu teman sekelasku masuk sambil membawa balon. Aku benar-benar bingung, bahkan aku yakin ekspresiku sekarang pasti terlihat seperti orang bodoh. Sampai pada akhirnya orang yang terakhir masuk ke kamarku adalah Reuben, dengan gitarnya. Dia yang menyanyikan lagu tersebut. Aku terus memandanginya tanpa berkedip. Aku senang melihatnya ada di sini, tapi kenapa dia melakukan ini semua? Reuben langsung meletakkan gitarnya disaat ia selesai menyanyi. Dia mengeluarkan sebuah kertas dari saku celananya, membacanya sebentar, lalu menyimpannya kembali. Dia lalu menatapku, dan aku mulai sesak napas melihat matanya. Hay Fay, sapa Reuben sambil tersenyum kikuk ke arahku. Aku langsung melirik ke arah papaku. Tapi papa justru tersenyum. Apa maksudnya semua ini? Aku masih ingat saat kamu pertama kali datang ke sekolah. Dan memperkenalkan dirimu di depan kelas. Fay Vivian, itulah pertama kali aku mendengar suara kamu, lanjut Reuben lagi. Harus kuakui kalau aku langsung suka dari pertama aku ngeliat kamu. Dan semakin suka setelah mendengar suara kamu. Tapi aku gakpernah berani buat bicara ke kamu, jadi aku hanya memperhatikanmu setiap hari dari belakang. Aku masih ingat pertama kali bicara. Aku semakin suka disaat kamu mainin gitar aku. Dan semakin suka disaat kamu menyukai lagu yang sama denganku. Dan semakin suka disaat aku mengetahui kalo kamu berbeda dengan yang lain. Semakin lama aku sama kamu, semakin suka dan sayang aku sama kamu. Dan sangatlah bohong disaat aku katakan aku rela ngelepasin kamu pergi. Aku benar-benar pengecut, aku nyesal Fay. Reuben berhenti bicara. Aku menangis mendengar semua yang dikatakannya. Fay Vivian, aku sayang kamu apa adanya, betapa berbedanya kamu dari yang lain. Dan sekarang aku mau nanya sesuatu ke kamu, kamu mau jadi pacar aku?, tanya Reuben sambil mendekatiku. Aku tak dapat bicara sepatah katapun. Air mataku terus mengalir, tapi aku tersenyum. Akhirnya aku mengangguk karena aku sama sekali tak sanggup bicara. Reuben langsung memelukku dan teman-teman sekelas bertepuk tangan melihat kami. Lalu Reuben melepaskan pelukannya dan memberiku sebuah permen kapas, Aku tahu kamu gaksuka mawar, jadi aku ngasi ini ke kamu. Aku tertawa melihat permen kapas tersebut. Aku akan selalu ada buat kamu Fay. Di saat kamu senang, aku akan ada di depan kamu. Di saat kamu sedih, aku akan ada di belakangmu, dan di saat kamu galau, aku akan ada di sebelahmu. Aku nggak akan pernah ngelepasin kamu, lanjut Reuben lagi. Aku tersenyum mendengar ucapan Reuben, dan aku memeluknya sekali lagi. Temantemanku kembali ribut. Aku nggak akan pernah ngelupain hari ini. Hari ke 78, tanggal 9 November 2012. Hari di saat Reuben nembak aku di depan papa, suster, dan 28 teman sekelasku. Hari di saat Reuben nembak aku di saat aku sedang diopname di Rumah Sakit Santa Maria kamar 319, di saat Page 33 of 34

aku mengenakan infus dan kanula, dan dikelilingi balon-balon. Aku sayang Reuben, dan selamanya akan begitu. Hari-hariku berikutnya berlangsung menyenangkan. Reuben mengenalkanku pada keluarganya, dan aku sangat dekat dengan adik bungsunya. Kami selalu bersama, dan mengenai Stella? Yang kutahu dia pindah sekolah karena harus pulang kampung, tapi ada juga yang mengatakan kalau dia pindah sekolah karena tak sanggup melihatku bersama Reuben. Tapi aku tak peduli. Jadi inilah awal cerita kehidupanku yang sebenarnya. Aku menetap di kota ini, mendapatkan sahabat yang tak kan pernah meninggalkanku, teman baru yang akan mewarnai hari-hariku, dan pacar baru yang akan selalu setia menemaniku.

SELESAI

1. Fusili : makanan sejenis sphagetti 2. Kanula : Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1-6 liter/menit dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.

Page 34 of 34