You are on page 1of 6

PERBANDINGAN VARIASI AKUISISI DATA I MAGI NG (2D)

METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS


Mahendra Dwi Santoso
1
, Samsul Hidayat
2
, Burhan Indriawan
3

1
Mahasiswa Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
2
Dosen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
3
Dosen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
Email: bboymahe2@yahoo.com
Abstrak
Data 2 dimensi tersusun atas beberapa data 1 dimensi. Oleh karena itu, beberapa titik sounding yang
berdekatan dapat memberikan gambaran resistivitas 2D (imaging). Variasi akuisisi data imaging yang
dilakukan adalah data imaging yang diakuisisi sounding pada beberapa titik horisontal (mapping) yang
berdekatan dan data imaging yang diakuisisi mapping pada beberapa titik kedalaman (sounding) yang
berdekatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan data imaging yang diakuisisi secara sounding-
mapping dengan data imaging yang diakuisisi secara mapping-sounding, dan diharapkan dapat dijadikan
rujukan dalam memilih teknik akuisisi data imaging. Anomali buatan digunakan dalam penelitian ini untuk
membandingkan teknik sounding-mapping dengan teknik mapping-sounding. Masing-masing teknik
mengambil data pada 3 line (line 1, line 2, dan line 3) yang saling sejajar dengan hanya line 2 yang
melintasi anomali. Line yang digunakan sepanjang 29,2 m dengan spasi 0,4 m. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dalam akuisisi data imaging, teknik sounding-mapping memberikan hasil yang lebih
teliti daripada teknik mapping-sounding. Dalam menentukan ukuran anomali pada line 2, teknik sounding-
mapping mempunyai kesalahan 0,2 m secara horizontal dan 0,6 m secara vertikal sedangkan teknik
mapping-sounding mempunyai kesalahan 0,6 m secara horizontal dan 0,8 m secara vertikal. Teknik
sounding-mapping juga mempunyai nilai rms error yang lebih sedikit dibandingkan teknik mapping-
sounding.
Kata kunci: Geolistrik, Resistivitas, Akuisisi, Imaging

I. Pendahuluan
Berdasarkan tujuan dan cara pengubahan jarak
elektroda, survey geofisika dibagi menjadi dua
cara: mapping dan sounding [1]. Mapping
dimaksudkan untuk mengetahui variasi horizontal
atau lateral tahanan jenis batuan pada kedalaman
tertentu. Sedangkan sounding dimaksudkan untuk
mengetahui variasi tahanan jenis batuan terhadap
kedalaman (secara vertikal). Gabungan antara
teknik sounding dan mapping adalah teknik
sounding-mapping yang menggambarkan variasi
resistivitas 2D (imaging).
Dibandingkan teknik mapping-sounding, teknik
sounding lebih mudah dilakukan karena pada
dasarnya hanya elektroda arus saja yang
dipindahkan sedangkan elektrode potensialnya
tetap. Sehingga teknik sounding membutuhkan
lebih sedikit tenaga dalam pengambilan data.
Teknik sounding juga mempunyai kelebihan yaitu
mampu mendeteksi batas antar lapisan batuan.
Pada dasarnya, yang membedakan teknik
sounding dan teknik imaging adalah sebaran datum
point-nya. Teknik sounding mengambil datum
point pada satu garis vertikal sedangkan teknik
imaging mengambil datum point pada bidang 2
dimensi (vertikal dan horizontal). Data 2 dimensi
tersusun atas beberapa data 1 dimensi. Oleh karena
itu, beberapa titik sounding yang berdekatan dapat
memberikan gambaran resistivitas 2D (imaging).

II. Teori
II.1. Geolistrik
Metoda ini merupakan salah satu metoda
geofisika yang dapat memberikan gambaran
susunan dan kedalaman lapisan batuan, dengan
mengukur sifat kelistrikan batuan [2]. Pada bidang
geoteknik, metode geolistrik banyak digunakan
untuk mengetahui letak rongga di bawah
permukaan, patahan dan retakan, penentuan
kedalaman batuan dasar, dan lain-lain [3]. Prinsip
pelaksanaan survey tahanan jenis adalah dengan
menginjeksikan arus listrik melalui elektroda arus
dan mengukur responnya (tegangan) pada elektroda
potensial dalam suatu susunan (konfigurasi)
tertentu [1].
II.2. Teknik Sounding
Istilah sounding diambil dari Vertical Electrical
Sounding (VES), yaitu teknik pengukuran geofisika
yang bertujuan untuk memperkirakan variasi
resistivitas sebagai fungsi dari kedalaman dari suatu
titik pengukuran. Batasan terbesar dari teknik
sounding adalah teknik ini tidak mencatat
perubahan lateral pada resistivitas lapisan.
Ketidakmampuan dalam mengikutkan perubahan
lateral dapat mengakibatkan kesalahan dalam
interpretasi resistivitas lapisan atau ketebalannya
[4].


Gb.1. Susunan Elektroda untuk Konfigurasi
Schlumberger [5]
II.3. Teknik Mapping
Teknik pengukuran secara lateral mapping (2D)
digunakan untuk mengetahui sebaran harga
resistivitas pada suatu areal tertentu [6].


Gb.2. Teknik Akuisisi Secara Lateral Mapping [6]
II.4 Teknik Imaging
Teknik imaging (Resistivity 2D) merupakan
gabungan antara teknik sounding dan teknik
mapping sehingga akan tampak variasi resistivitas
lateral dan vertikal. Survey geolistrik metode
resistivitas mapping dan sounding menghasilkan
informasi perubahan variasi harga resistivitas baik
arah lateral maupun arah vertical [5].


Gb.3. Susunan Elektroda dan Urutan Pengukuran untuk
Survey 2D [4]
II.5. Resistivitas Semu (Apparent Resistivity)
Bumi tersusun atas lapisan-lapisan dengan
resistivitas yang berbeda-beda, sehingga potensial
yang terukur merupakan pengaruh lapisan-lapisan
tersebut atau bersifat anisotropi. Harga resistivitas
yang diukur seolah-olah merupakan harga
resistivitas untuk satu lapisan saja.


Gb.4. Konsep Resistivitas Semu

Sehingga resistivitas yang terukur adalah
resistivitas semu (
a
), yang besarnya ditentukan
dengan,
I
V
K
a
A
=
(1)

dengan I adalah arus listrik yang diinjeksikan, V
adalah beda potensial yang ditimbulkan dan K
adalah faktor geometri [7]. Faktor geometri
merupakan besaran korelasi terhadap perbedaan
letak titik pengamatan. Oleh karena itu, faktor
geometri sangat ditentukan oleh jenis konfigurasi
pengukuran yang digunakan [6].
II.6. Konfigurasi Wenner-Schlumberger
Dibandingkan dengan konfigurasi Wenner
(dengan jarak elektroda terluar (C1-C2) sama),
konfigurasi Schlumberger mempunyai kedalaman
penetrasi 10% lebih besar [8]


Gb.5. Pengukuran Resistivitas 2D Konfigurasi Wenner-
Schlumberger [5]

Prinsip konfigurasi Schlumberger idealnya jarak
P1P2 dibuat sekecil-kecilnya, sehingga jarak P1P2
secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena
keterbatasan kepekaan alat ukur, maka ketika jarak
C1C2 sudah relatif besar maka jarak P1P2
hendaknya diubah.Perubahan jarak P1P2
hendaknya tidak lebih besar dari 1/5 jarak C1C2
[9].
Beda potensial yang terdapat antara P1dan P2
diakibatkan oleh injeksi arus pada C1 dan C2
adalah:

1
2 2 2 1 1 2 1 1
2 2 2 1 1 2 1 1
1 1 1 1
2
1 1 1 1
2

(
(

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

A
=
(
(

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
= = A
P C P C P C P C I
V
P C P C P C P C
I
V V V
N M
t
t

Besaran
1
2 2 2 1 1 2 1 1
1 1 1 1
2

(

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

P C P C P C P C
t
disebut faktor geometri konfigurasi elektroda (K)
[10].
Jika s adalah jarak antara elektroda arus dengan
titik ukur dan b adalah jarak antara elektroda
potensial dengan titik ukur, resistivitas semu
dirumuskan:
( )
I
V
b
b s
a
A
=
2
2 2
t

(2)

III. Metode
III.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan konfigurasi
Wenner-Schlumberger untuk mengambil data
geolistrik tahanan jenis dengan menggunakan alat
geolistrik (OYO). Akuisisi data dilakukan pada
tanggal 24 - 26 Maret 2013 di tanah lapang di
perbatasan kelurahan Arjosari, Malang. Sebelum
akuisisi di lapangan, dibuat anomali buatan berupa
rongga di dalam tanah dengan kedalaman 2 meter
dari tepi atas anomali dan dengan volume rongga
sebesar 1 m
3
(1 m x 1 m x 1 m). Anomali buatan ini
berfungsi sebagai acuan dalam menentukan hasil
penelitian. Panjang lintasan yang digunakan adalah
29,2 m dengan panjang konfigurasi maksimum
adalah 23,6 m. Penampang bawah tanah yang akan
dicari nilai resistivitasnya adalah sepanjang 5,6 m
dengan kedalaman mencapai 4,31 m. Data diambil
untuk 3 line (line 1, line 2, dan line 3) yang terletak
sejajar di mana line 2 melintasi permukaan di atas
anomali. Pada setiap line diambil 2 jenis data, yaitu
data imaging yang diakuisisi dengan teknik
sounding-mapping dan data imaging yang
diakuisisi dengan teknik mapping-sounding. Satu
data imaging teknik sounding-mapping diwakili
oleh 30 titik sounding pada 15 titik mapping.

Gb.6. Skema Lintasan Pengukuran
III.2. Teknik Akuisisi Data
1. Akuisisi Data Imaging Teknik Sounding-
mapping
Teknik sounding merupakan pengukuran
resistivitas 1D. Sehingga penggabungan beberapa
teknik sounding akan menghasilkan kontur hasil
inversi berbentuk segiempat. Kontur hasil inversi
pada teknik ini berbeda dengan kontur hasil inversi
pada umumnya yang berbentuk segitiga.
a. Pada titik awal diambil data sounding dengan
spasi awal antar elektroda 40 cm kemudian
dicatat nilai resistivitasnya.
b. Untuk pengukuran selanjutnya spasi antar
elektroda potensial dibuat tetap sedangkan spasi
C1-P1 dan P2-C2 diperbesar 40 cm kemudian
dicatat resistivitasnya.
c. Langkah b diulangi hingga mendapat 30 titik
sounding
d. Semua elektroda digeser 40 cm sesuai line dan
langkah a sampai c diulangi kemudian semua
elektroda kembali digeser 40 cm dst hingga 15
titik mapping
e. Langkah a sampai d digunakan pada setiap line
(line 1, line 2, dan line 3)


2. Akuisisi Data Imaging Teknik Mapping-
sounding
Pada penelitian ini dikondisikan kontur hasil
inversi Software Res2DInv berupa segiempat untuk
mempermudah saat membandingkan dengan kontur
hasil inversi pada teknik sounding-mapping
sekaligus menghindari data yang tidak perlu.
a. Pada lintasan pertama digunakan spasi 40 cm
untuk semua elektroda kemudian dicatat nilai
resistivitasnya.
b. Semua elektroda digeser 40 cm sesuai line
kemudian diukur resistivitasnya.
c. Langkah b diulangi hingga C2 mencapai akhir
line.
d. Pada lintasan berikutnya, elektroda diletakkan
pada titik awal tapi dengan spasi C1 P1 dan
P2-C2 diperbesar 40 cm. Setelah itu dicatat nilai
resistivitasnya.
e. Langkah b sampai d diulangi sampai lintasan
ke-30.
f. Langkah a sampai e digunakan pada setiap line
(line 1, line 2, dan line 3).
IV. Hasil Penelitian
Pengolahan awal data geolistrik akan
menghasilkan datum point dan resistivitas semu.
Dari data tersebut ditambah dengan data ketinggian
tempat penelitian kemudian diolah dengan
menggunakan program notepad dan hasilnya
diinversikan dengan menggunakan Software
Res2DInv. Hasil inversi dari pengolahan data
menggunakan Res2DInv akan dihasilkan gambar
dengan pola sebaran resistivitas pada tiap lintasan
yang tampak vertikal.
Hasil interpretasi dari hasil inversi
menggunakan Software Res2DInv adalah sebagai
berikut:
1. Line 1 yang menggunakan teknik sounding-
mapping.


Gb.7. Line 1 Teknik Sounding-mapping

Berdasarkan Gb.7, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Pada line ini tidak
ditemukan anomali karena pada jarak 13,0 m dan
kedalaman 2,0 3,0 m tidak terdapat resistivitas
yang besar (warna merah ungu). Hal ini sudah
benar karena anomali dibuat pada line 2. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
26,9%.
2. Line 1 yang menggunakan teknik mapping-
sounding.


Gb.8. Line 1 Teknik Mapping-sounding

Berdasarkan Gb.8, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Pada line ini tidak
ditemukan anomali karena pada jarak 13,0 m dan
kedalaman 2,0 3,0 m tidak terdapat resistivitas
yang besar (warna merah ungu). Hal ini sudah
benar karena anomali dibuat pada line 2. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
28,4%.
3. Line 2 yang menggunakan teknik sounding-
mapping.


Gb.9. Line 2 Teknik Sounding-mapping

Berdasarkan Gb.9, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Selain itu, tanah di atas
anomali merupakan tanah bekas galian sehingga
distribusi resistivitas semakin tidak merata. Pada
line ini ditemukan anomali yang ditandai dengan
adanya resistivitas yang besar (warna merah
ungu). Anomali terdeteksi pada jarak 12,8 14,0 m
pada kedalaman 1,4 3,0 m sedangkan posisi
anomali yang sebenarnya adalah pada jarak 13,0
14,0 m pada kedalaman 2,0 3,0 m. Dalam
mengidentifikasi anomali terjadi kesalahan 0,2 m
secara horizontal dan 0,6 m secara vertikal. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
17,9%.
4. Line 2 yang menggunakan teknik mapping-
sounding.


Gb.10. Line 2 Teknik Mapping-sounding

Berdasarkan Gb.10, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Selain itu, tanah di atas
anomali merupakan tanah bekas galian sehingga
distribusi resistivitas semakin tidak merata. Pada
line ini ditemukan anomali yang ditandai dengan
adanya resistivitas yang besar (warna merah
ungu). Anomali terdeteksi pada jarak 12,6 14,2 m
pada kedalaman 1,0 2,8 m sedangkan posisi
anomali yang sebenarnya adalah pada jarak 13,0
14,0 m pada kedalaman 2,0 3,0 m. Dalam
mengidentifikasi anomali terjadi kesalahan 0,6 m
secara horizontal dan 0,8 m secara vertikal. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
18,1%.
5. Line 3 yang menggunakan teknik sounding-
mapping.


Gb.11. Line 3 Teknik Sounding-mapping

Berdasarkan Gb.11, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Pada line ini tidak
ditemukan anomali karena pada jarak 13,0 m dan
kedalaman 2,0 3,0 m tidak terdapat resistivitas
yang besar (warna merah ungu). Hal ini sudah
benar karena anomali dibuat pada line 2. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
29,4%.
6. Line 3 yang menggunakan teknik mapping-
sounding.


Gb.12. Line 3 Teknik Mapping-sounding

Berdasarkan Gb.12, tampak variasi resistivitas
yang besar pada daerah dekat permukaan tanah. Hal
ini dapat disebabkan karena daerah dekat
permukaan tanah banyak dipengaruhi cuaca dan
kelembaban udara sehingga penyebaran nilai
resistivitas tidak merata. Pada line ini tidak
ditemukan anomali karena pada jarak 13,0 m dan
kedalaman 2,0 3,0 m tidak terdapat resistivitas
yang besar (warna merah ungu). Hal ini sudah
benar karena anomali dibuat pada line 2. Kontur
hasil inversi ini mempunyai rms error sebanyak
29,7%.
Res2DInv menampilkan sebaran resistivitas
sebagai fungsi kedalaman pada massing-masing
line. Sebaran resistivitas pada lapisan tanah yang
dilalui ketiga line ditampilkan menggunakan
software Surfer.
1. Teknik sounding-mapping


Gb.13. Imaging Teknik Sounding-mapping Pada
Beberapa Kedalaman

Berdasarkan Gb.13, terlihat bahwa anomali
berada pada line 2 di jarak 12,8 13,8 m yang
ditandai dengan kontur berwarna biru tua. Jadi,
pada penampilan menggunakan Software Surfer
memperlihatkan bahwa ukuran horizontal anomali
adalah 1,0 m. Hal ini sudah sesuai dengan ukuran
horizontal anomali yang sebenarnya yaitu 1,0 m.
2. Teknik mapping-sounding


Gb.14. Imaging Teknik Mapping-sounding Pada
Beberapa Kedalaman

Berdasarkan Gb.14, terlihat bahwa anomali
berada pada line 2 di jarak 12,7 13,9 m yang
ditandai dengan kontur berwarna biru tua. Jadi,
pada penampilan menggunakan Software Surfer
memperlihatkan bahwa ukuran horizontal anomali
adalah 1,2 m. Hal ini hampir sesuai dengan ukuran
horizontal anomali yang sebenarnya yaitu 1,0 m.
Dari pembahasan di atas terlihat bahwa dalam
akuisisi resistivitas 2D (imaging), teknik sounding-
mapping memberikan gambaran yang lebih akurat
dibandingkan teknik mapping-sounding
sebagaimana terlihat pada Tb.1.



Tb.1. Perbandingan Analisis Teknik Sounding-mapping
dan Teknik Mapping-sounding
Teknik Sounding-
mapping
Teknik Mapping-
sounding
Dalam menentukan
ukuran anomali pada
line 2, kontur
Res2Dinv mempunyai
kesalahan 0,2 m secara
horizontal dan 0,6 m
secara vertikal.
Kontur Surfer
menunjukkan ukuran
anomali yang sama
dengan ukuran
anomali yang
sebenarnya.
Rms error, pada line 1
= 26,9%; line 2 =
17,9%; line 3 = 29,4%.
Dalam menentukan
ukuran anomali pada
line 2, kontur
Res2DInv mempunyai
kesalahan 0,6 m secara
horizontal dan 0,8 m
secara vertikal.
Kontur Surfer
menunjukkan ukuran
anomali 0,2 m lebih
besar dari ukuran
anomali yang
sebenarnya.
Rms error, pada line 1
= 28,4%; line 2 =
18,1%; line 3 = 29,7%.
V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
perbandingan teknik sounding-mapping dan teknik
mapping-sounding untuk akuisisi data imaging,
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Didapatkan anomali yang diidentifikasi
berdasarkan teknik sounding-mapping dan
teknik mapping-sounding mempunyai
resistivitas tinggi yang ditandai oleh warna
merah pada kontur Res2DInv.
2. Ukuran anomali data imaging yang diakuisisi
dengan teknik sounding-mapping hasil olahan
Res2DInv mempunyai kesalahan 0,2 m secara
horizontal dan 0,6 m secara vertikal dengan
rms error pada line 1 = 26,9%; line 2 = 17,9%;
line 3 = 29,4%. Hasil olahan Surfer
menunjukkan ukuran anomali yang sama
dengan ukuran anomali yang sebenarnya. Data
imaging yang diakuisisi dengan teknik
mapping-sounding hasil olahan Res2DInv
mempunyai kesalahan 0,6 m secara horizontal
dan 0,8 m secara vertikal dengan rms error
pada line 1 = 28,4%; line 2 = 18,1%; line 3 =
29,7%. Hasil olahan Surfer menunjukkan
ukuran anomali 0,2 m lebih besar dari ukuran
anomali yang sebenarnya.

VI. DAFTAR PUSTAKA
[1] Hochstein M, P. 1982. Introduction to
Geothermal Prospecting. Geothermal
Institut.University of Auckland.
[2] Yulianto, Toni &Widodo, Sugeng. 2008.
Identifikasi Penyebaran dan Ketebalan Batu
Bara Menggunakan Metode Geolistrik
Resistivitas. Berkala Fisika, 11(2):59-66.
[3] Reynolds, J.M.1998. An Introduction to Applied
and Environmental Geophysics. New York:
John Willey and Sons.
[4] Loke, M.H. 2004. Tutorial: 2-D and 3-D
Electrical Imaging Surveys. (Online),
(http://www.geoelectrical.com, diakses 20
Januari 2009).
[5] Loke, M.H. 1999. RES2DINV Rapid 2D
Resistivity & IP Inversion (Wenner, dipole-
dipole, pole-pole, pole-dipole, Schlumberger,
rectangular arrays) on Land, Underwater and
Cross-borehole Surveys; Software Manual
Ver.3.3 for windows 3.1, 95 and NT.
Malaysia: Penang.
[6] Astawa, I Nyoman. 2009. Indikasi Keberadaan
Gas Biogenik, Berdasarkan Hasil Pendugaan
Geolistrik di Delta Cimanuk, Indramayu, Jawa
Barat. Buletin Sumber Daya Geologi, 4(1):
54-65.
[7] Setiawan, Tri S. 2011. Metode Geolistrik
Resistivitas, (Online),
(http://trisusantosetiawan.wordpress.com/2011
/01/04/metode-geolistrik-resistivitas, diakses 6
September 2012).
[8] Maganti, Dharmateja.2008. Subsurface
Investigations Using High Resolution
Resistivity. Tesis tidak diterbitkan. Texas:
Civil Engineering The University of Texas at
Arlington.
[9] Broto, Sudaryo & Afifah, Rohima Sera. 2008.
Pengolahan Data Geolistrik Dengan Metode
Schlumberger. TEKNIK, 29(2):120-128
[10] Telford W.M, Geldart L.P. & Sheriff R.E.
1990, Applied Geophysics.Second
Edition.Cambridge University Press.