You are on page 1of 7

Asia Tenggara, Rukun dan Sejahtera?

Oleh Sabam Siagian APAKAH akan timbul dampak positif yang kongkret sebagai hasil rangkaian kegiatan pertemuan puncak ASEAN di Bali? Pertanyaan ini timbul dalam pemikiran pengamat ini ketika melihat kehiruk-pikuk di daerah pusat perhotelan di Nusa Dua, pada awal minggu lalu. Sepuluh kepala negara dan kepala pemerintahan negara anggota ASEAN berkumpul. Itu berarti bahwa para menteri luar negeri mereka sudah lebih dulu mengadakan rapat-rapat persiapan. Itu berarti juga bahwa para pejabat senior mereka (tingkat direktur jenderal dan lainnya) sudah jauh sebelumnya bertemu dalam berbagai rapat kerja di berbagai tempat di Asia Tenggara. Bukan para menlu saja yang diikutsertakan. Karena masalah pertanian, perdagangan dan perikanan merupakan topik-topik penting untuk menggalang kerja sama ekonomi antar-ASEAN, maka para menteri bidang-bidang itu nampak juga di Bali. -------------------------Tiga dokumen utama ditandatangani selama pertemuan puncak ASEAN berlangsung. Masingmasing meliputi kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi; kerja sama masalah sekuriti dan kerja sama sosial budaya. Tiga dokumen itulah yang disebut sebagai Kesepakatan Bali II (Bali Concord II). Pertemuan puncak ASEAN pertama berlangsung pada tahun 1976, ketika organisasi kerja sama regional ini berumur 9 tahun dan keanggotaannya masih tetap 5 negara pendiri: Malaysia, Filipina, Muangthai, Singapura dan Indonesia. Kerukunan Asia Tenggara Saya masih ingat jelas pertemuan puncak ASEAN pertama itu yang diselenggarakan di Pertamina Cottage, 27 tahun lalu. Selama itu begitu banyak perubahan penting terjadi, baik di kawasan Asia Tenggara - apalagi di dunia internasional. Pertemuan puncak itu terutama membahas perkembangan di kawasan ini setelah perang Vietnam berakhir pada tahun 1975. Untuk menciptakan suasana dan kondisi kerukunan di Asia Tenggara, maka ditanda-tangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama. (Treaty of Amity and Cooperation). Namun timbul konflik Kambodja, karena Vietnam ingin mengamankan lambung strategisnya dengan menyerang rezim Khmer Merah yang amat kejam itu. Bertahun-tahun lamanya ASEAN memprakarsai resolusi di sidang umum PBB untuk mengecam Vietnam sebagai agresor. Akhirnya setelah berbagai usaha diplomasi yang dilancarkan, berkaitan juga dengan membaiknya hubungan Washington - Beijing, semua masalah itu dapat diselesaikan. Vietnam bersatu, sesuai dengan cita-cita Ho Chi Minh. Perekonoiannya berorientasi pasar dan gigih menarik investasi asing. Vietnam sekarang aktif di ASEAN. Meskipun Kambodia menghadapi persoalan politik dalam negeri, tapi kepemimpinan Hun Sen mampu mengangkat Kambodja dari keterpurukannya. Situasi dalam negeri Kambodja secara keseluruhan stabil dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan, antara lain karena bantuan internasional yang cukup besar. Sedangkan setelah krisis moneter '97 dan krisis politik '98, bobot Indonesia sebagai faktor penting di ASEAN dan Asia Tenggara amat menciut. Ketidakmampuannya untuk melakukan koreksi intern serta mendorong pembaruan politik, dan mengatur suksesi kepemimpinan telah menimbulkan krisis yang berkepanjangan. Negara-negara Asia lainnya, seperti Muangthai dan Korea Selatan, yang pada waktunya mampu melakukan pembaruan politik ternyata lebih efektif menanggulangi akibat krisis

moneter '97. Apakah Indonesia akan mampu membenahi gumpalan persoalan dalam negerinya dan menghasilkan pemerintahan yang fungsional serta efektif setelah rangkaian pemilu tahun depan akan amat menentukan, apakah hasil-hasil pertemuan puncak ASEAN di Bali dapat dilaksanakan secara konkret sesuai jadwal. Membangun Komunitas Rukun Mentransformasikan masyarakat bangsa-bangsa Asia Tenggara yang berjumlah kira-kira 500 juta manusia itu sebagai komunitas yang rukun dan sejahtera merupakan tugas kesejahteraan yang sungguh berat. Namun mengingat arus globalisasi yang amat deras, tugas ini mau tidak mau harus ditangani secara urgen. Negara-negara ASEAN patut meningkatkan tempo kerjanya untuk mempercepat tercapainya susunan bersama itu. Menyelenggarakan beratus-ratus pertemuan dan rapat kerja setahun jangan ditonjolkan sebagai bukti bahwa ASEAN adalah organisasi kerja sama yang bekerja keras. Godaan yang cenderung menghinggapi kalangan ASEAN, khususnya Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan puncak di Bali itu, adalah menganggap rangkaian pertemuan yang dapat diselesaikan dengan baik dan penanda-tanganan dokumen-dokumen Bali Concord II sebagai sukses yang sudah komplit. Padahal tokok ukur kesuksesan adalah kualitas dan tempo pelaksanaan dari semua kesepakatan yang dicapai. Tolok ukur lainnya, apakah semangat kerukunan keluarga ASEAN memang meningkat setelah pertemuan puncak Bali adalah penyelesaian sejumlah masalah bilateral antaranggota ASEAN. Percuma saja menyelenggarakan pertemuan puncak yang serta megah atau pertemuan tahunan para menlu yang kemudian nyanyi bersama sambil pegangan tangan untuk menandakan rasa persaudaran, padahal kalau timbul perselisihan bilateral, kasusnya dibawa ke Mahkamah Internasional di Den Haag atau Mahkamah Peradilan Maritim Internasional di Hamburg. Negara-negara dan bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang berwadah di ASEAN sebenarnya menghadapi masa depan bersama yang amat potensial. Kehadiran empat negara Asia yang rata-rata mencapai Produk Domestik Bruto (GNP) lebih tinggi dengan landasan industri, sains dan teknologi yang lebih maju, seperti diwakili oleh PM Wen Jiaban (RRC), PM Atal Behari Vajpayee (India), Presiden Roh Moo-hyun (Korea Selatan) dan PM Junichiro Koizumi (Jepang) menunjukkan bahwa simpati dan keinginan membantu dari empat negara penting Asia itu memang besar. Kalau dalam 10 tahun mendatang ini, negara-negara ASEAN tidak mampu membangun komunitas yang rukun dan sejahtera di Asia Tenggara ditopang oleh tataan sekuriti yang mantap, maka yang patut disalahkan adalah diri kita (ASEAN) sendiri. Penulis, pengamat perkembangan sosial politik di Indonesia, serta masalah Internasional, tinggal di Jakarta

KhmerMerah
KhmerMerah(seringkalidisebutKhmerRouge,yangmerupakannamanyadalamBahasaPerancis) adalahcabangmiliterPartaiKomunisKampuchea(namaKambojakalaitu).Khmeradalahnamasuku bangsayangmendiaminegaraini. Padatahun1960andan1970an,KhmerMerahmelaksanakanperanggerilyamelawanrezimPangeran ShihanoukdanJendralLonNol.PadabulanApril1975,KhmerMerahyangdipimpinolehPolPot berhasilmenggulingkankekuasaandanmenjadipemimpinKamboja.Iamemerintahsampaitahun1979 dandalammasapemerintahannya,terjadipembunuhanmassalterhadapkaumintelektualdanlainlain. SetelahdiusirolehorangVietnam,KhmerMerahmasihbercokoldidaerahhutandiKamboja. Padadasawarsa1990an,KhmerMerahmengundurkandirikepegununganDongrek. SudahsekianlamaPBBmencobamendirikansebuahtribunaluntukmengadiliparaanggotaKhmer Merah.TetapiupayainisecarakontinudijegaliolehbanyakpolitisiKambojakarenabanyakyang memilikihubungandenganKhmerMerah.Akhirnyadicapaikompromipadatanggal3Oktober2004di manaakhirnyapemerintahmendukungdidirikannyasebuahtribunal. Diperolehdari"http://id.wikipedia.org/wiki/Khmer_Merah" Kategori:Komunis

PerangVietnam
PerangVietnam BagiandariPerangDingin

DesaVietCongsetelahdiserang. Tanggal 1957April30,1975 Lokasi AsiaTenggara Hasil KekalahanpolitisdanmiliterAmerikaSerikat Perubahanwilayah BersatunyaVietnam. Pihakyangterlibat RepublikVietnam AmerikaSerikat KoreaSelatan Thailand Australia SelandiaBaru Filipina ~1.200.000(1968) RV tewas:230.000 terluka:300.000 AmerikaSerikat tewas:58.209 RepublikDemokratikVietnam FrontNasionalKemerdekaanVietnamSelatan RepublikRakyatCina KoreaUtara Kekuatan ~520.000(1968) Jumlahkorban RDV/FNKV tewas:600.000 terluka:600.000 RepublikRakyatCina tewas:1.100

terluka:153.303 KoreaSelatan tewas:5.000 terluka:11.000 Australia tewas:520

terluka:4.200

Sipil(wargaVietnam):1.000.000 PerangVietnam,jugadisebutPerangIndochinaKedua,adalahsebuahperangyangterjadiantara 1957dan1975diVietnam.PeranginimerupakanbagiandariPerangDingin. DuakubuyangsalingberperangadalahRepublikVietnam(VietnamSelatan)danRepublik DemokratikVietnam(VietnamUtara).AmerikaSerikat,KoreaSelatan,Thailand,Australia,Selandia BarudanFilipinabersekutudenganVietnamSelatan,sedangkanUSSRdanTiongkokmendukung VietnamUtarayangmerupakannegarakomunis. Jumlahkorbanyangmeninggaldiperkirakanadalah280.000dipihakSelatandan1.000.000dipihak Utara. PeranginimengakibatkaneksodusbesarbesaranwargaVietnamkenegaralain,terutamanyaAmerika Serikat,AustraliadannegaranegaraBaratlainnya,sehinggadinegaranegaratersebutbisaditemukan komunitasVietnamyangcukupbesar. Setalahberakhirnyaperangini,keduaVietnamtersebutpunbersatupadatahun1976. SalahsatukorbanpalingterkenaldariPerangVietnamadalahKimPhuc