You are on page 1of 10

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG
Dewasa ini kita telah mengetahui bahwa negara berkembang khususnya Indonesia memiliki angka kehidupan yang cukup tinggi,dan juga memiliki angka kebutuhan yang cukup besar pula. Sehingga sehingga memungkinkan sumber daya alam menipis. Untuk menanggulangi hal tersebut,maka di butuhkan suatu cara untuk dapat menanggulangi masalah tersebut. Pemerintah telah menyediakan BBM,salah satunya minyak tanah sebagai bahan bakar untuk menganti bahan bakar dari kayu yang lebih efisiensi. Akan tetapi bahan bakar seperti minyak tanah merupakan bahan bakar yang sulit untuk diperbaharui.karena bahan bakar ini berasal dari fosil fosil yang telah mati dan membutuhkan waktu yang cukup lama bahkan hingga beratusratus tahun untuk dapat terurai. Melihat hal ini,pemerintah telah berusaha mengeluarkan bahn bakar lain yaitu gas elpigi. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan gas elpigi untuk mensejaterakan rakyat,namun gas elpigi juga ternyata memiliki kekurangan yang dapat menimbulkan keresahan didalam masyarakat. Melihat hal ini,kami berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut.salah satunya dengan memanfaatkan tempurung kemiri. Karena kita sendiri mengetahui bahwa tempurung kemiri di masyarakt telah menjadi sampah dan sebagian masyarakat tidak tahu mengetahui cara mengelolah tempurung kemiri menjadi suatu barang yang beguna. Sehingga masyarakat hanya membuangnya begitu saja. Inisiatif ini kami ambil sebagi bahan karya ilmiah remaja (KIR) karena ternyata tempurung kemiri mudah didapatkan dan juga dapat dimanfaatkan. Pembutan briket telah banyak dilakukan oleh masyarakat, namun kami mencoba untuk membuat briket dari bahan yang berbeda yaitu tempurung kemiri.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan Masalah : Pembuatan briket tempurung kemiri ini dapat dirumuskan beberapa masalah:

1. Apakah tempurung kemiri dapat dimanfaatkan sebagai briket? 2. Berpa lama briket dapat bermanfaat sebagai bahan bakar ?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian:
1. Untuk mengetahui pemanfaatan tempurung kemiri menjadi bahan bakar. 2. untuk mengetahui cara pembutan briket bahan bakar dari tempurung kemiri. 3. Untuk mengetahui manfaat dari briket tempurung kemiri.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi siswa:

Dapat mengembangkan kreativitas siswadalam pembuatan karya ilmiah Meningkatkan kepedulian terhadap lingkukngan sekitar

2. Bagi lingkungan:

Mengurangi volume sampah masyarakat disekitar Membantu menjaga kelestarian lingkungan Dapat meringankan beban ekonomibagi masyarakat dalam konsumsi energy.

3. Bagi masyarakat:

Memberikan alternatif sebagai penganti bahan bakar Memajukan teknologi tepat guna didalam masyarakat

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian pustaka a. Pengertian Sampah
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

b. Jenis-jenis sampah berdasarkan sumbernya


ampah alam Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman. 1. Sampah manusia Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

2. Sampah konsumsi Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri. 3. Sampah nuklir Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat- tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktifitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan). 4. Sampah industri. 5. Sampah pertambangan

c. Berdasarkan sifatnya
1. Sampah organik - dapat diurai (degradable) Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun,dan tempurunf kemiri. 2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable) Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan. Ada banyak sekali sampah plastik yang kita jumpai disekeliling kita saat ini. Sampah plastik telah menjadi salah satu ancaman global diseluruh dunia dengan sulitnya proses penguraian sampah plastik dan jumlahnya yang semakin lama semakin meningkat. Ternyata dari semua sampah plastik tersebut terdapat jenis dan

kandungan yang berbeda-beda tergantung dari bahan. Dari yang memiliki kandungan kimia ringan hingga yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Jadi ada baiknya kita tahu jenis-jenis plastik yang sering kita gunakan sebagai kemasan makanan, bahan mainan atau peralatan lainnya dan tahu kandungan yang terdapat didalamnya. Kode 1 bertuliskan PET atau PETE PET atau PETE (Polyethylene Terephthalate) sering digunakan sebagai botol minuman, minyak goreng, kecap, sambal, obat, maupun kosmetik. Plastik jenis ini tidak boleh digunakan berulang-ulang atau hanya sekali pakai. Jadi ada baiknya jika kalian segera menghabiskan isinya jika tutup wadah telah dibuka. Semakin lama wadah terbuka, maka kandungan kimia yang terlarut semakin banyak. Kode 2 Bertuliskan HDPE HDPE atau High Density Polyethylene banyak ditemukan sebagai kemasan makanan dan obat yang tidak tembus pandang. Plastik jenis ini digunakan untuk botol kosmetik, obat, minuman, tutup plastik, jeriken pelumas, dan cairan kimia. Kode 3 Bertuliskan PVC PVC atau Polyvinyl Chloride (PVC) sering digunakan pada mainan anak, bahan bangunan, dan kemasan untuk produk bukan makanan. PVC dianggap sebagai jenis plastik yang paling berbahaya. Beberapa negara Eropa bahkan sudah melarang penggunaan PVC untuk bahan mainan anak di bawah tiga tahun.

Kode 4 Bertuliskan LDPE LDPE atau Low Density Polyethylene (LDPE) sering digunakan untuk membungkus, misalnya sayuran, daging beku, kantong/tas kresek. Kode 5 Bertuliskan PP Polypropylene (PP) PP memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia, kuat, dan memiliki titik leleh yang tinggi sehingga cocok untuk produk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, tempat obat dan botol minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang menjadi casing baterai, sapu, sikat dan masih banyak lagi yang lainnya. Kode 6 Bertuliskan PS

Polystyrene (PS) PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, tempat CD, karton tempat telur, dll. Pemakaian bahan ini sangat dihindari untuk mengemas makanan karena bahan styrine dapat masuk ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf manusia. Bahan ini sudah mulai dilarang penggunaannya di beberapa negara bagian Amerika untuk pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk di Cina. Kode 7 Bertuliskan PC Plastik yang menggunakan kode ini terbuat dari resin yang tidak termasuk enam golongan yang lainnya atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan biasanya digunakan dalam kombinasi multi-layer. Kita tahu kandungan kimia yang terdapat di semua plastik sekitar kita. Jadi kita harus cerdas dalam memilih penggunaannya terutama yang berkaitan dengan makanan yang kita konsumsi dan tentunya berusaha untuk mengurangi sekecil penggunaan plastik untuk mengurangi menumpuknya timbunan sampah plastik yang akan menimbulkan masalah besar nantinya. Rajin daur ulang dan gunakan kantong plastik kita berulangulang. B. Dampak Negatif Dari Sampah Bagi Masyarakat Dampak negatif dari sampah sangatlah besar dan menrugikan banyak masyarakat, apabila masyarakat membuang sampah sembarangan seperti di sungai, dapat mengakibatkan banjir dan apabila masyarakat membuang sampah sembarang di sekitar lingkunganny dapat mengakibatkan sumber penyakit bagi luas.

C. Pengertian kemiri Kemiri merupakan hasil hutan kayu (HHBK) potensial dengan beragam kegunaan, diantaranya yang belum banyak disentuh adalah pemanfaatan tempurung kemiri. Pada umumnya masyarakat menjadikan tempurung kemiri sebagai limbah dan hanya sebagian kecil saja yang memanfaatkannya sebagai pengeras jalan dan lantai rumah. Tempurung kemiri sebenarnya mempunyai prospek sebagai bahan baku pada pembuatan arang aktif. Tujuan penelitian ini adalah `untuk mengetahui sifat dan kualitas arang aktif dari tempurung kemiri. Tempurung kemiri dibuat arang menggunakan tungku dari drum bekas pakai kapasitas 200 liter yang dimodifikasi, kemudian arang yang dihasilkan direndam dalam larutan H3PO4 pada konsentrasi 2,5%, 5,0% dan 7,5% selama 24 jam. Selanjutnya di panaskan dalam retort pada suhu 750C dan 800C. Apabila suhu telah dicapai maka dialirkan uap air panas selama 60

dan 90 menit pada tekanan 4 bar dengan laju alir 1,5 - 2,5 ml/menit yang sebelumnya melewati ruang pemanas pada suhu 400C. Arang yang direndam dengan menggunakan larutan H3PO4 2,5%, 5% dan 7,5% pada suhu 750C dan 800C yang dialiri uap air panas selama 90 menit telah menghasilkan daya serap terhadap yodium di atas 750 mg/g (SNI), kecuali pada suhu 750C yang direndam dalam larutan H3PO4 7,5%. Kondisi optimum pembuatan arang aktif dihasilkan pada suhu 750C, direndam dalam larutan H3PO4 2,5% dengan waktu aktivasi selama 90 menit. Kemiri (Aleurites moluccana Willd) adalah salah satu jenis tanaman yang sejak lama telah ditanam dan dikembangkan melalui program hutan kemasyarakatan dan hutan rakyat. Di Indonesia tanaman kemiri tersebar hampir di seluruh Nusantara dengan produksi biji 79.137 ton/tahun. Biji kemiri terdiri dari karnel (daging biji) dan tempurung (kulit biji). Karnel kemiri memiliki banyak manfaat, antara lain digunakan sebagai bumbu masak dan bahan baku untuk menghasilkan beberapa produk industri. Akan tetapi sebaliknya dengan tempurung kemiri yang sampai saat ini hanya sejumlah kecil telah digunakan secara langsung sebagai bahan bakar atau sebagai bahan baku pembuatan arang. Arang aktif adalah produk yang bernilai lebih ekonomis dan memiliki lebih banyak kegunaan dibandingkan dengan arang. Produk ini dapat dibuat dengan cara mengaktivasi arang dengan maksud memperbaiki sifat penyerapannya terhadap bahan dalam bentuk larutan atau gas. Arang aktif memiliki banyak manfaat dan telah digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, bidang pertanian dan kedokteran. Beberapa bahan yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang aktif, antara lain batu bara, kayu dan limbah pertanian seperti tempurung dan kulit biji. D. Pengertian Briket Briket adalah sumber energi alternatif pengganti Minyak Tanah dan Elpiji dari bahanbahan bekas atau bahan yang sudah tidak terpakai.. E. Briket Sebagai Bahan Braket Alami Pengamatan yang jeli akan lingkungan sekitar dan sedikit kreatif ternyata bisa menjadi mata pencaharian baru. Setidaknya itu yang dilakukan Kaffi, warga Desa Langkea Raya, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. "Gara-gara istri di rumah marah-marah melulu ketika BBM menghilang seperti minyak tanah dan harganya yang naik turun, saya lalu jalan-jalan di lingkungan sekitar sini. Saya perhatikan ada serbuk gergaji yang menumpuk dan kurang termanfaatkan di kecamatan ini.

Sementara saya pernah menonton di televisi pembuatan briket dari ampas tebu. Maka saya coba-coba buat secara manual untuk kebutuhan sendiri membuat briket dari serbuk gergaji dan ternyata bisa," ujar Kaffi, menjelaskan ide awalnya membuat briket dari serbuk gergaji. Sejak memakai briket serbut gergaji, tambah Kaffi, istri menjadi lebih tenang. "Selain tidak pusing lagi dengan BBM, juga tidak perlu abu gosok untuk membersihkan peralatan masak. Karena dengan briket serbuk gergaji, tidak menjadi alat-alat masak menjadi hitam atau terlihat gosong. Selain itu tentu menghemat belanja bulanan," terang Kaffi. Keberhasilan Kaffi membuat briket serbuk gergaji menarik tim community development PT Inco. "Dalam pertemuan dengan Karang Taruna dan tim community development PT Inco, saya sampaikan tentang briket serbuk gergaji yang saya buat, yang saya konsumsi sendiri. Dari Inco, ternyata diusulkan supaya tidak hanya dinikmati sendiri, tapi briket ini bisa juga digunakan oleh masyarakat sebagai bahan bakar alternatif. Untuk itu, Inco bantu peralatan produksi yang saya butuhkan," ungkap Kaffi. Hasilnya, sementara ini, setiap hari Kaffi bisa memproduksi 100 briket besar dan 50 kg briket kecil. "Saya menjual untuk satu briket besar seharga Rp.500 rupiah, sedang briket kecil harganya 3 ribu rupiah perkilogram. satu briket besar bisa tahan untuk memasak kurang lebih selama satu setengah jam. kalau apinya ingin lebih besar tinggal tambah briket-briket kecil. ini ada kompornya sekalian, harganya lima puluh ribu rupiah per satuan," ujar kaffi. Selain dari,percobaan diatas,ada pula upaya pemanfaatan limbah tempurung kemiri, dimana tempurung kemiri merupakan bahan yang masih mengikat energi, oleh karena itu rantai pelepasan energi dimaksud diperpanjang dengan cara memanfaatkan tempurung kemiri sebagai bahan pembuatan briket arang. Eugenius Manukule membuat briket tempurung kemiri dan kompor briket karena begitu banyak limbah tempurung kemiri di kampungnya di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Di wilayah ini, kemiri merupakan salah satu komoditas unggulan dan banyak warga setempat menggantungkan ekonomi dari hasil kemiri.Namun yang menjadi masalah adalah limbah kemiri. Pada umumnya warga setempat membuang begitu saja kemiri, meski sebagian lagi digunakan untuk bahan bakar pengasap kemiri agar tetap kering. Di sisi lain, limbah atau tempurung kemiri ini bisa membahayakan pejalan kaki khususnya mereka yang tidak menggunakan alas kaki karena biasanya kulit luar kemiri yang

sudah pecah keras dan tajam."Biasanya kulit kemiri ini dibuang begitu saja, ada juga yang dipakai untuk pengasapan kemiri. Padahal kilit ini bisa digunakan untuk bahan bakar," jelas Eugenius Manukule yang ditemui di Anjungan BPMD-Pameran Pembangunan di Arena Promosi Fatululi, Jumat (21/8/2008) malam. Dengan penuh semangat, Eugenius Manukule mengatakan kulit tempurung kemiri yang begitu banyak di kampungnya membuatnya berpikir untuk memanfaatnya untuk bahan bakar. Dan, ia mencoba dengan membuat arang kemiri. "Tapi saya tidak puas dengan ini sehingga saya terus melakukan riset. Dan, selama satu tahun melakukan riset, baru saya temukan briket ini," jelas Manukule. Melalui inovasi ini, briket bio kemiri ini menjadi salah satu komoditi yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan bakar altenatif yang murah untuk rumah tanggah dan industri kecil. Tujuan dari penelitian pembuatan biobriket dari tempurung kemiri sebagai bahan bakar alternatif, yaitu mengetahui pengaruh komposisi bahan baku pada biobriket terhadap nilai kalor dan membandingkan antara biobriket dari tempurung kemiri dengan biobriket di pasaran. Prosedur penelitian pembuatan biobriket dari tempurung kemiri meliputi beberapa kegiatan, antara lain mencampur bahan baku (tempurung kemiri) dan bahan penolong (oksidator dan larutan starch) sesuai variabel yang telah ditentukan. Lalu mengaduk hingga semua bahan tercampur. Lalu memasukkan bahan yang sudah tercampur dalam cetakan untuk dipres dengan alat pengepresan. Setelah itu proses selanjutnya yaitu mengeringkan biobriket hasil cetakan tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah oksidator yang digunakan berupa KMnO4 berfungsi untuk mempercepat proses pembakaran dalam biobriket. Laju pengurangan massa dipengaruhi oleh kadar abu dan volatile matter bahan baku dan penambahan oksidator. Laju pengurangan massa tercepat diperoleh dari 15% penambahan KMnO4 sebesar 0,011 g/s dan laju pengurangan massa terlama diperoleh dari 5% penambahan KMnO4 yaitu sebesar 0,00829 g/s. Nilai kalor terbesar diperoleh dari 15% penambahan KMnO4 yaitu 6140,202 cal/gr bentuk bulat lobang 160 mesh dan nilai kalor terkecil diperoleh dari 5% penambahan KMnO4 yaitu sebesar 4040,444 cal/gr bentuk bulat gepeng 80 mesh. Bila dibandingkan dengan biobriket batubara (5000 - 6000) nilai kalor tempurung lebih besar. Biobriket tempurung kemiri hasil penelitian layak untuk dijual dipasaran. Melalui beberapa orang yang telah melakukan percobaan yang kami dapatkan dari internet(www.google.com)kami,kemudian mengambil judul yang sama

Pemanfaatan Tempurung Kemiri Menjadi Briket tetapi ada perbedaannya,yaitu terletak pada alat pencetakan.