You are on page 1of 3

Mendongkrak Penyerapan Anggaran Semeser II Rendahnya penyerapan anggaran pada semester pertama di sebagian besar Kementrian/Lembaga menjadi tolok

ukur kinerja yang rendah. Menurut Ditjen Perbendaharaan sampai dengan Juli 2010, Kementerian/Lembaga baru menyerap sebesar Rp131 triliun atau 36 % dibandingkan dengan nilai pagu anggaran sebesar Rp362 triliun. Belanja modal (barang) merupakan jenis belanja dengan penyerapan terendah. Nilai realisasi belanja modal Kementerian/Lembaga baru mencapai Rp20 triliun atau 22 % dari jumlah pagu sebesar Rp92 triliun. Bahkan, masih ada satuan kerja yang belum menggunakan anggaran belanja modal mereka, atau nilai penyerapan belanja modal 0 %. Bulan Juli bisa jadi awal dari analisa panjang dalam penerimaan Negara di sektor pajak dari APBN. Dan seperti biasanya, pertanyaan-pertanyaan yang timbul adalah kenapa penerimaan Negara dari tiap bendaharawan pemerintah masih jauh panggang dari api. Analisa selalu berkutat dari penyerapan anggaran dari masing masing satuan kerja yang diwakili oleh masing-masing bendaharawan pemerintah. Adalah suatu hal yang naif apabila kejadian seperti ini selalu berulang dari tahun ke tahun. Kenapa kita selalu masuk ke lubang yang sama dalam penyerapan anggaran ini? Belanja pemerintah dan penerimaan negara dari bendaharawan pemerintah adalah dua hal yang sangat berkaitan erat. Makin tinggi belanja pemerintah, maka secara otomatis penerimaan pajaknya akan semakin tinggi. Apabila dikaji lebih runut, penerimaan negara dari sektor pajak, terutama dari belanja barang/jasa pemerintah selalu melonjak drastis di akhir semester kedua tahun anggaran. Trennya adalah tiga bulan terakhir selalu melonjak dengan sangat tajam. Dari sini paralel sekali dengan penyerapan anggaran, semester kedua terutama ditiga bulan terakhir, penyerapan anggaran melonjak dengan drastis, bahkan terkesan agak dipaksakan. Apa sebenarnya yang terjadi? Ada stigma yang terbentuk bahwa penyerapan anggaran sangat lamban dikarenakan faktor hambatan dari kurang akomodatifnya peraturan dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Dan adanya ketakutan para pelaku pengadaan dengan aspek-aspek hukum yang sering menimpa petinggi-petinggi negara. Sebetulnya ada dua peraturan presiden yang patut untuk dibaca lebih dalam. Pertama aturan mengenai pengadaan barang/jasa pemerintah. Kedua adalah aturan yang menjadi pedoman dalam pencairan anggaran Negara. Dua hal ini diwakili dengan lugas oleh dua kepres dengan tahun yang berbeda. Pertama Kepres 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang kedua adalah Keppres 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dua Keppres ini merepresentasikan dan bisa menjawab kenapa hal yang sama selalu terjadi dalam penyerapan anggaran dan Belanja Negara, baik secara substansial maupun secara administrasi. Untuk Keppres 42 tahun 2002 pun telah direvisi menjadi Perpres nomor 53 Tahun 2010. Dalam kaitannya dengan belanja barang/jasa, Keppres 80 tahun 2003 yang akan dibahas lebih lanjut. Peraturan Presiden nomor 54 Tahun 2010. Berbekal dari begitu banyak masukan dari publik mengenai debottlenecking dalam penyerapan anggaran. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) kemudian melahirkan revisi Keppres 80 menjadi Peraturan Presiden nomor 54 Tahun 2010. Sedikitnya ada enam arah perubahan yang bisa disoroti dari revisi Presidential Decree ini. Pertama adalah menciptakan iklim yang kondusif untuk persaingan sehat, effisiensi belanja negara, dan mempercepat pelaksanaan APBN/APBD. Hal

ini tercermin dari treshold yang diperbesar untuk lelang sederhana dan seleksi sederhana, persyaratan pelelangan yang dipermudah. Kemudian dimungkinkannya pelaksanaan pelelangan/seleksi sebelum tahun anggaran, walaupun SPPBJ (Surat Penunjukkan Penyedia Barang/Jasa) diterbitkan setelah DIPA/DPA disahkan, munculnya aturan tentang kontrak payung. Kedua adalah adanya aturan, sistem, metoda dan prosedur yang lebih sederhana dengan tetap memperhatikan good governance, juga dikenalkan pengadaan yang berwawasan lingkungan. Dengan menghapuskan metoda pemilihan langsung menjadi pelelangan sederhana, mendorong pelaksanaan e-announcement, eprocurement, e-catalogue dan konsep ramah lingkungan. Ketiga adalah semakin banyak aturan yang mempercepat proses pengadaan yang artinya juga mempercepat proses penyerapan anggaran. Tercermin dari lelang sederhana yang cukup menghemat waktu pengadaan, semua pengadaan hampir menggunakan pascakualifikasi, kecuali untuk pekerjaan komplek. Dimungkinkannya pembiayaan bersama Pusat dan Daerah ( co-financing) sepanjang diperlukan. Keempat adalah mendorong terjadinya inovasi, tumbuh suburnya ekonomi kreatif, kemandirian industri stratetgis, serta keberpihakan pada Usaha Kecil Menengah. Terlihat jelas dengan munculnya pengaturan mengenai swakelola dan metode sayembara/kontes untuk mendorong inovasi dan ekonomi kreatif berkembang serta mengharuskan Pengadaan Alutsista TNI dan Almatsus Polri oleh Industri strategis Dalam Negeri, untuk paket pekerjaan untuk UKM naik dari Rp1 milyar menjadi Rp2,5 milyar. Arah perubahan yang kelima adalah klarifikasi aturan pengadaan yang belum jelas. Pada perpres ini jenis-jenis pengadaan, besaran uang muka, kelengkapan data administrasi, penggunaan metode evaluasi, kondisi kahar (force majeur), penyesuaian harga (price adjustment), dan beberapa aturan rinci telah lebih diperjelas. Terakhir adalah memperkenalkan sistem Reward & Punishment yang lebih adil. Terlihat jelas dengan pengaturan yang mensyaratkan insentif yang wajar kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) termasuk anggota Unit Layanan Pengadaan (ULP), memberlakukan jaminan sanggahan banding, dan penegasan kapan aparat hukum seyogyanya masuk dalam kasus pengadaan. Dari enam arah perubahan tersebut, jelas sekali bahwa semangat perubahan Kepres 80 tahun 2003, pembuat regulasi memang telah berusaha memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatasi penyerapan anggaran yang selalu rendah di semester pertama. Disamping itu adanya ketakutan pelaksana di lapangan, diberikan penegasan kapan aparat hukum seyogyanya masuk dalam kasus pengadaan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Peraturan Presiden nomor 54 Tahun 2010, cukup akomodatif dalam menjawab tantangan di masa depan. Sosialisasi Pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya diselesaikan adalah bagaimana cara yang paling efektif dan efisien dalam menyosialisasikan Peraturan Presiden ini pada seluruh lapisan masyarakat, terutama Kementrian, Lembaga, Daerah, dan Institusi Lainnya. LKPP sebagai ibu kandung perpres no 54 ini, selayaknya mengambil peranan paling besar dalam pelaksanaan sosialisasi. Ada beberapa hal penting harus segera disebarluaskan ke seluruh stakeholder pengadaan, terutama mengenai aturan peralihan. Dalam Perpres No 54 di dalam ketentuan peralihan disebutkan bahwa, dengan berlakunya Perpres No 54 ini maka pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan sebelum tanggal 1 Januari 2011 tetap dapat berpedoman pada Keputusan Presiden 80 Tahun 2003. Untuk pengadaan Barang/Jasa yang sedang dilaksanakan berdasarkan Keppres 80, dilanjutkan dengan tetap berpedoman pada aturan tersebut. Perjanjian/Kontrak yang telah ditandatangani berdasarkan Keppres 80, tetap berlaku sampai dengan

berakhirnya Perjanjian/Kontrak. Lalu penayangan pengumuman Pengadaan Barang/Jasa di surat kabar nasional dan/atau provinsi, tetap dilakukan oleh ULP/Pejabat Pengadaan di surat kabar nasional dan/atau provinsi yang telah ditetapkan, sampai dengan berakhirnya perjanjian/Kontrak penayangan pengumuman Pengadaan Barang/Jasa. Aturan peralihan ini yang menjadi dasar bagi Kementrian/Lembaga untuk tidak ragu dalam bertindak. Dengan berlakunya Perpres ini, masyarakat luas juga diberi keleluasaan lebih besar dalam ikut serta untuk menjalankan fungsi pengawasan dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Diharapkan dengan Peraturan Presiden nomor 54 ini, kinerja tiap Kementrian/Lembaga dapat terdongkrak dengan signifikan. Oleh : Hermawan Kepala Seksi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Kesempatan UsahaLembaga Kebijakan