You are on page 1of 2

BPOM: 48 Persen Zat Berbahaya di Jajanan Anak

http://apakabarsidimpuan.com/2012/05/bpom-48-persen-zat-berbahaya-di-jajanan-anak/

Setiap hari kita memerlukan makanan untuk mendapatkan energi (karbohidrat dan lemak) dan untuk pertumbuhan sel-sel baru, menggantikan sel-sel yang rusak (protein). Selain itu, kita juga memerlukan makanan sebagai sumber zat penunjang dan pengatur proses dalam tubuh, yaitu vitamin, mineral, dan air. Sehat tidaknya suatu makanan tidak bergantung pada ukuran, bentuk, warna, kelezatan, aroma, atau kesegarannya, tetapi bergantung pada kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh. Suatu makanan dikatakan sehat apabila mengandung satu macam atau lebih zat yang diperlukan oleh tubuh. Setiap hari, kita perlu mengonsumsi makanan yang beragam agar semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh terpenuhi. Hal ini dikarenakan belum tentu satu jenis makanan mengandung semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh setiap hari. Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Halim Nababan mengatakan keamanan dan kualitas pangan yang pihaknya teliti pada 2008 sampai 2010 menunjukkan sekitar 48 persen bahan-bahan berbahaya ada pada makanan jajanan anak Sekolah Dasar (SD). Komitmen pemerintah melalui program Gerakan Pangan Menuju Gerakan Sehat yang Wakil Presiden, Budiono canangkan (31/1) tahun lalu, kita tindak lanjuti dan sasaran kita saat ini adalah anak SD, kata Halim kepada pers, di Jakarta, Kamis. Menurut Halim, anak SD merupakan sasaran yang tepat untuk melakukan program tersebut, karena edukasi mengenai jajanan yang sehat diberikan saat usia tersebut sangatcocok diterapkan kepada mereka. Dikatakan Halim, ini merupakan langkah kecil, namun dapat memberikan efek yang besar nantinya bagi penerus bangsa Indonesia. Pada kesempatan sama, dokter spesial anak sekaligus Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dr. Rachmat Sentika, mengatakan jajanan anak yang banyak mengandung zat aditif dapat berbahaya bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Rachmat menjelaskan, efek dari zat tersebut memang tidak akan terlihat pada jangka waktu dekat, tapi dalam jangka waktu lama akan muncul kerusakan pada ginjal dan gangguan tumbuh kembang anak. Beberapa waktu lalu bersama BPOM, kami melakukan sidak ke SD di kabupaten Bandung, dari sidak tersebut sejumlah makanan ditemukan 12,3 persen mengandung formalin, 10,2 persen mengandung metanil yelow, 10,9 persen mengandung rhodamin B dan 56,7 persen mengandung boraks. Selain dapat merusak ginjal dan mengganggu tumbuh kembang anak, Rachmat menuturkan, apabila zat aditif terus dikonsumsi anak, maka proses pembentukan sel darah dapat terganggu, dan dapat menimbulkan penyakit kanker di kemudian hari. Permasalahan Apakah makanan yang kamu makan mengandung bahan-bahan yang aman di konsumsi? Apakah kadar/ jumlah zat yang ditambahkan sesuai dengan kesehatan? Kalau mengakibatkan timbulnya penyakit, apakah sebaiknya tidak menggunakan zat aditif pada makanan?

Apa langkah yang tepat untuk menghindari efek samping yang diakibatkan penggunaan zat aditif?