You are on page 1of 3

Aku Mau Pinter: Mengembangkan Sekolah Berbasis Komunitas

Menjadi pintar, menjadi tahu sesuatu

merupakan hak setiap orang. Bukan hanya hak istimewa mereka yang berduit, melainkan hak dasar bagi tiap anak yang dilahirkan di dunia. Pendidikan harus menjamin pemerataan dan tidak boleh ada diskrimanasi (education for all), sekolah harus mampu menampung semua elemen masyarakat tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Hasil dari pendidikan bukanlah seberapa banyak yang tersimpan dalam ingatan atau berapa banyak yang diketahui. Tetapi, dengan adanya pendidikan kita mampu membedakan antara yang diketahui dengan yang tidak diketahui. Sekolah yang merupakan wakil dari pendidikan sudah seharusnya tidak lagi dibatasi oleh kendala ruang dan tempat, sekolah tidak melulu membicarakan gedung, seragam, SPP, tata tertib dan lain legal formal lainnya, sekolah sudah seharusnya memberikan ruang yang besar untuk anak dapat belajar. Kapanpun dan dimanapun (long life education).

AKU MAU PINTER, merupakan sebuah pernyatan yang keluar dari setiap anak yang bukan saja ingin memperoleh pendidikan yang lebih baik, namun menuntut sebuah keadilan bahwa mereka juga butuh pendidikan dan sekolah. Berdasarkan laporan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2009 menyebutkan, jumlah anak yang belum terlayani oleh pendidikan di Indonesia mencakup: a. SD/MI (7 12 Tahun), 1.422.141 anak (5,50 %). b. SLTP/MTs (13 15 Tahun), 5.801.122 anak (44,30 %). c. SMU/MA (16 18 Tahun) 9.113.941 anak (67,58 %).
Sekolah berbasis komunitas (SBK) merupakan salah satu solusi untuk anak-anak tersebut. Pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Tanpa mengharuskan mereka berhenti bekerja karena bekerja adalah kebutuhantanpa harus mengesampingkan hak mereka untuk belajar. Dalam salah aktifitasnya, PKPU berusaha mengembangkan SBK yang dilandasi pada nilainilai: pertama, visi sekolah bukanlah membangun dan mendidik anak an-sich, tapi membangun dan mengembangkan komunitas. Karena pada dasarnya anak-anak adalah generasi penerus dari komunitas itu sendiri. Kedua, sekolah, harus mampu mengembangkan kemandirian dan tidak bergantung pada keadaan tertentu, meskipun UUD 1945 memberikan tanggung jawab penuh kepada pemerintah untuk mengelola

pendidikan, Namun sejatinya komunitas tidak lepas tangan, karena berkepentingan terhadap pendidikan anak adalah masyarakat itu sendiri.

yang

paling

Ketiga, dengan adanya sekolah, mestinya keluarga merasa dimuliakan, karena nilai-nilai dan budaya keluarga, tersebut akan terus diwarisi. Bukan sebaliknya merasa terbebani dengan persoalan-persoalan yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan pendidikan anak, seperti SPP, Seragam dan UN. Keempat, kebersamaan belajar dalam SBK menjadi ciri yang menonjol, pola pembelajaran lebih diarahkan pada penyelesaian sebuah masalah. Semangat tim mampu mereduksi setiap perbedaan yang terjadi pada diri setiap anak, setiap perbedaan pada diri anak diarahkan pada arah yang positif. Kelima, SBK mampu memberi ruang lebih besar untuk memaksimalkan kecerdasan anak (multiple intelegen), Keenam, keseharian proses belajar mengajar dalam sistem SBK mampu menumbuhkan semangat enterpreunership dan trainership.

Sasaran dari program sekolah komunitas ini meliputi: a. Komunitas Anak Jalanan, seperti; di perempatan Coca Cola, Semper, Taman Plumpang, Kelapa Gading (Jakarta Utara), perempatan Pancoran, Pasar Rumput Pejompongan, Makam Kalibata (Jakarta Selatan), Lampu Merah Cengkareng, Jl Pesing raya, Daan Mogot Mall (Jakarta Barat), PG Cililitan, UKI Cawang, Arion, Pasar Induk Kramat Jati (Jakarta Timur), Lampu Merah Golden Trully, Pasar Senen, Cikini (Jakarta Pusat) b. Komunitas Anak Nelayan, contoh; lokasi di Penjaringan, dan Cilincing Jakarta Utara c. Komunitas Anak Pemulung, Contoh Lokasi Bantar Gebang, Bekasi. d. Komunitas Anak yang tinggal di station Kereta Api, Sepeti di Tanah Abang, Karet, Blora, station Tebet, Cawang dan lain-lain. e. Komunitas Anak Teminal, seperti Terminal Pasar Minggu, Tanjung Prior, Manggarai, Blok M dan lain sebagainya. f. Komunitas Anak Perbatasan g. Komunitas Anak Pulau h. Dan Komunitas Marjinal Lainnya, Seperti Komunitas anak terpinggirkan di Sulawesi Tenggara

Jutaan anak Indonesia putus sekolah karena harus bekerja. Melalui pengembangan Sekolah Berbasis Komunitas, akses terhadap pendidikan tetap bisa didapatkan tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka. Salurkan kepedulian Anda melalui rekening BCA 600.034.777 126.000.1005.114 untuk membantu mereka kembali meraih cita-cita. Informasi kerjasama, hubungi : Eman Sulaiman (Individu ) : Aan Suherlan (Corporate) : 021-32222608 / 0858 551 3020 0813 222 85471 atau B Mandiri

Best Regard,

Heny Arisandi Diana, SE Customer Relation 021 70334923 YM: elqirnie@yahoo.com Direktorat Penghimpunan Jl Raya Ps Minggu Kav. 3 No 49 Pancoran (Depan Sucopindo) Jakarta Selatan Telp 021 798 8314 ext 216/200 Faks 021 798 2372 ext 224