You are on page 1of 7

BAB IV ANALISIS KASUS Dari hasil anamnesis pada tanggal 5 Januari 2013 pukul 17.

30, didapatkan data bahwa pasien merasa hamil 8 bulan. Pasien telah memiliki seorang anak laki-laki, dulu bersalin di bidan, umur anak pertama 6 tahun, usia kehamilan pertama 9 bulan, persalinan normal spontan belakang kepala dengan BBL 2600 gram. Pasien tidak memiliki riwayat keguguran, mola, curetase ataupun tumor pada organ reproduksi. Bila dihitung dari HPHT yakni 9 Mei 2012, usia kehamilan saat ini adalah 32 minggu. Menurut periodeisasi usia kehamilan, kehamilan pasien saat ini berada pada masa kehamilan preterm. Pasien mengatakan sekitar pukul 13.00 (5/1/23) keluar sedikit air bening selanjutnya keluar darah campur lendir, dan perut tearsa kencengkenceng disertai mules, pasien juga merasa nyeri perut menjalar sampai punggung bawah. Dari hasil anamnesa ini, dapat mengarah pada keadaan partus preterm iminen. Sesuai dengan teori, partus preterm iminen adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan dimana akan timbul persalinan pada umur kehamilan yang belum aterm (20 sampai 37 minggu). Partus prterm iminen menunjukkan gejala adanya kontraksi uterus dengan atau tanpa rasa sakit, rasa berat dipanggul, kejang uterus yang mirip dengan dismenorea, keluarnya cairan pervaginam dan nyeri punggung. Partus preterm iminen dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor resiko terjadinya partus preterm iminen adalah perdarahan placenta, dengna pembentukan prostaglandin dan mungkin induksi stress. janin mati, kelainan konsepsi, atau kelainan congenital, KPD, infeksi lain, bakteriuri, kolonisasi genital (infeksi akan membentuk sitokin dan pelepasan lemak bioaktif yang natinya membentuk prostaglandin), plasentasi yang kurang baik, distensi uterus (gameli, hidramnion), oligohidramnion , riwayat pernah melahirkan prematur atau keguguran, kelainan cerviks yang inkompeten atau yang pendek, penyakit berat pada ibu , kurang gizi mengakibatkan anemia, kekurangan zn, asam folat penambahan berat yang kurang saat kehamilan , anomali uterus atau fetal. Setelah keluar sedikit air bening pada pukul 13.00, pada pukul 16.00, kembali keluar air banyak, bening, tidak bau, keadaan ini terjadi setelah buang air kecil. Hal ini mengarah pada adanya

keadaan ketuban pecah dini. Menrut teori, ada beberapa batasan ketuban pecah dini. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Sedangkan sumber lain menyebutkan bahwa Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Hal-hal yang dapat menyebabkan hal tersebut adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks, Serviks inkompeten, Ketegangan rahim berlebihan (trauma, kehamilan ganda, hidramion.) Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang. Kemungkinan kesempitan panggu, bagian terendah belum masuk PAP, Infeksi yang menyebabkan terjadinya biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk preteolitik sel sehingga memudahkan ketuban pecah. Selanjutnya dilakukan anamnesis untuk mencari data tentang faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini dan partus pretrm iminen. Dari hasil anamnesa didapatkan data sebagai berikut tidak ada riwayat trauma, tidak tanda-tanda infeksi misalnya demam, ketuban tidak keruh dan tidak berbau, keputihan jarang-jarang hanya bila kecapaian, tidak ada stress fisik ataupun psikis, pasien tidak melakukan coitus dalam beberapa waktu ini. Pasien sering terpapar asap rokok karena suaminya sering merokok, menurut teori merokok dapat menjadi faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini, karena merokok dapat menyebabkan kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur abnormal pada selaput ketuban, sehingga selaput ketuban menjadi rapuh. Pecahnya selaput ketuban (spontan atau artifisial ) akan mengawali rangkaian proses berikut : Cairan amnion mengalir keluar dan volume uterus menurun, Produksi prostaglandine, sehingga merangsang proses persalinan, HIS mulai terjadi (bila pasien belum inpartu) ; menjadi semakin kuat ( bila sudah inpartu). Dari anamnesa juga didapatkan bahwa kurang lebih 1 minggu yang lalu, pasien sempat opname di klinik bersalin selama 2 hari karena mengalami perdarahan, tidak terasa nyeri, ketika itu perut keneceng-kenceng, tidak keluar air, dilakukan USG hasilnya plasenta letak rendah. Dari anamnesa ini dapat mengarahkan faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini dan partus preterm iminen. Placenta previa dapat menyebabkan terhalangnya bagian terbawah janin untuk fiksasi ke

dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kesalahan letak janin, misalnya letak kepala mengapung. Pada Kelainan letak, tidak ada bagian trendah anak yang menutup PAP, yang dapat mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah sehingga beresiko untuk terjadinya ketuban pecah dini. Pada placenta previa sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulum darah pada serviks. Selain itu jika banyak Placenta yang lepas, kadar progesterone turun dan dapat terjadi his. Dari hasil memeriksan fisik pada tanggal 5 januari 2013 didapatkan keadaan umum cukup, Kesadaran Compos mentis, tidak ada anemia, ikterus, cianosis maupun dispneu. Keadaan gizi baik, pasien tidak tau penambahan berat badanya salama hamil, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88 x/menit, suhu36,60C, pernapasan 20 x/menit. Dari pemeriksaan Leopold I teraba bagian janin yang menonjol dan empuk, tinggi fundus uteri 3 jari bawah procecus xipoideus (26 cm). Leopold II Perut bagian kanan, teraba bagian kecil janin, Perut bagian kiri, teraba bagian panjang, keras, dan rata. Leopold III Teraba bagian bulat dan keras, Bagian terendah belum masuk PAP. Leopold IV Teraba bagian bulat dan keras, Bagian terendah belum masuk PAP. Didapatkan his 2. 10. 10. Pada auskultasi didapatkan Cortenen 137 x/menit, dengan irama teratur. Pada pemeriksaan genetalia eksterna tidak ditemukan fluor maupun fluxus, air ketuban masih ngerembes, jernih, tidak ada bau busuk. Ukuran panggul luar tidak diperiksa karena pasien merupakan seorang multipara, dengan partus yang lalu aterm, hidup, dan spontan. Tidak dilakukan VT, karena riwayat Ante Partum bleeding. Dari hasil pemeriksaan fisik secara umum dalam batas normal, namun ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu pasien mengalami his sebayak 2 kali dalam 10 menit dengan durasi 10 detik, hal ini menunjukkan adanya partus preterm iminen. Ketika dilakukan pemeriksaan sudah tidak ditemukan adanya pengeluaran darah ataupun lendir dari vagina. Pada pemeriksaan didapatkan air ketuban masih ngerembes, tidak ada bau pesing yang menunjukkan cairan yang keluar bukan urine. Secara teori dapat dilakukan pemeriksaan dengan kertas lakmus untuk mengetahui pH cairan yang keluar. Jika rembesan cairan tersebut adalah air ketuban, maka akan didapatkan hasil reaksi basa. Cairan yang keluar jernih dan tidak berbau busuk, yang menyingkirkan adanya tanda infeksi amnion.

Dari hasil pemeriksa laboratorium 5 Januari 2013 didapatkan ahsil Hemoglobin 9,9 g%, HBsAg negatif, PCV 34%, Trombosit 286.000/ cmm. Terapi yang diberikan pada tanggal 5 januari 2013 Infus D5% drip MgSO4 40% 30 tpm, Inj. Transamin 3 x 1, Inj. Dexametason 1 x 15 mg diulang dalam 24 jam, Inj. Cefotaxim 1 x 1 gram. Pada tanggal 7 januari 2013 dilakukan USG, didapatkan hasil Janin tunggal, hidup, presentasi kepala, punggung di kiri, Cairam amnion cukup, Placenta previa partial, Umur kehamilan 31-32 minggu. Dengan perkiraan berat janin 200 gram. Pada tanggal 8 januari 2013 mulai pukul 17.00 pasien mengalami perdarahan ngerembes, darah segar, tidak nyeri, dan tidak terlalu banyak, disertai keluarnya cairan, terjadi his kurang lebih sekali dalam 10 menit selama 5 detik. Perdarahan berhenti dan his hilang setela diinjeksi trasamin1 ampul dan diberi tokolitik berupa infuse D5% drip MgsO4 40% 20 tpm. Pada tanggal 9 januari 2013 mulai pukul 01.30 pasien mengalami perdarahan merah segar, bercampur cairan dengan volume total kurang lebih 600 cc, kadang mengalir kadang ngerembes. Pasien mengeluh sakit di bagian punggung, kemudian sesak dan dada terasa berat, dipasang oksigen dengan aliran 3 lpm, gerak janin masih terasa dan DJJ masih dalam batas stabil berkisar antara 130-146 kali per menit. His hilang timbul kurang lebih 1.10. 15 . Keadaan umum lemah, kesadaran kompos mentis, 110/80 mmHg, N : 100 x/menit, RR : 24 x/menit, pasien nampak anemis, akral hangat, CRT 1 detik. Pada palpasi diluar his, perut tidak tegang. Perdarahan berhenti pada pukul 05.00 setelah dipasang 2 buah tampon. Adanya perdarahan merah segar, tanpa sebab,tanpa rasa nyeri, dan riwayat perdarahan seminggu sebelumnya menunjukan terjadinya perdarahan berulang (pailess, recurrent bleeding), keadaan ini semakin dipertegas dengan hasil USG pada tanggal 7 januari 2013, yang menyataka adanya placenta previa partial. Dari semua data yang diperoleh, maka pasien mengalami perdarahan ante partum akibat placenta previa partial.

Pada pukul 11.00 dilakukan tindakan sectio caesaria, dibawah SAB, Bayi lahir jenis kelamin perempuan, apgar score 7-8, BB 2100 gram, PB 44 cm, LD 28 cm, LA 26 cm, T : 35,8 oC, anus (+), caput (-), cacat (-), ketuban jernih, PRM (+) 3 hari. Bayi dirawat oleh bagian perinatologi. Keadaan ibu setelah SC relative stabil, dan dilakukan perwatan rutin post partus dengan section caesaria berupa perwatan luka operasi dan terapi medikamentosa berupa Ketorolac 3 x 1, Ondansetron 3 x 1, Ranitidine 3 x 1, Cefotaxim 3 x 1, Gentamicin 3 x 1, Transamin 3 x 1. Pada hari ketiga ibu boleh pulang dengan luka operesi yang sudah mulai kering.

BAB V KESIMPULAN Dari hasil anamnessis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penjunjang dpat disimpulkan bahwa pasien mengalami Ketuban pecah dini dan partus preterm iminen, dengan riawayat perdarahan ante partum karen palsenta letak rendah, selama observasi di rumah sakit, dilakukan USG ulang, dengan hasil placenta previa partial, pasien juga kembali mengalami perdarahan ante partum yang semakin mempertegas adanya placenta previa. Dari data yang diperoleh, didapatkan faktro resiko dan kaitan antara keadaan-keadaan patologis yang dialami pasien.

Fikasasi bagian terbawah janin ke PAP terhalang kelainan letak janin (letak kepala mengapung) tidak ada bagian trendah yang menutup PAP, yang dapat mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah.

Placen ta previa

terbentuknya SBR tapak placenta mengalami pelepasanlaserasi akibat perdarahan

jika banyak Placenta yang lepas kadar progesterone turun dapat terjadi his

Perdara han ante partum

Papar an asap rokok

Ketub an pecah dini

Cairan amnion mengalir keluar dan volume uterus menurun, Produksi prostaglandine, sehingga merangsang proses persalinan, HIS mulai terjadi (bila pasien belum inpartu) ; menjadi semakin kuat ( bila sudah inpartu).

Partus preter m iminen

kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur abnormal pada selaput ketuban, sehingga selaput ketuban menjadi rapuh

Secara umum prinsip penatalaksanaan Ketuban pecah dini, Partus preterm iminen adalah tindakan konservatif dan tindakan aktif. Pada kasus ini telah diupayakan tindakan konservatif yaitu pasien dirawat dengan tirah baring, pemberian Infus D5% drip MgSO4 40% 30 tpm sebagai tokolitik. Inj. Transamin 3 x 1 mencegah atau menghentikan perdarahan. Inj. Dexametason 1 x 15 mg diulang dalam 24 jam, untuk mematangkan paru janin. Inj. Cefotaxim 1 x 1gram, untuk mencegah terjadinya infeksi. Selama observasi di rumah sakit, pasien kembali mengalami perdarahan ante partum akibat placenta previa partial, dengan jumlah perdarahan kurang lebih 600 cc, keadaan pasien lemah dan nampak anemis, dari hasil USG didapatkan tafsiran berat janin 2000 gram sehingga diputuskan tindakan aktif, yaitu terminasi kehamilan dengan section caesaria.