You are on page 1of 10

Analisa Kasus

Abortus ; pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, usia <20 minggu dan atau berat janin <500 gr Pasien (sesuai dengan HPHT ) didapatkan kehamilan 12 minggu, datang dengan perdarahan pervaginam, jadi dapat disimpulkan adanya perdarahan pada kehamilan < 20 minggu (trimester pertama)

Dari anamnesis : Ny. S 44 tahun datang dengan keluhan perdarahan pervaginam dan keluarnya darah sedikit-sedikit tetapi lama-kelamaan menjadi banyak berwarna merah segar kadang-kadang merah kehitaman dan disertai sedikit gumpalan sejak 5 jam SMRS Diagnosis abortus didapatkan selain dari adanya perdarahan pervaginam dan keluarnya gumpalan darah keluhan disertai perut terasa sering mules sehingga perut bagian bawah kadang-kadang terasa nyeri.

Pa da PF didapatkan: VT: PortioKenyal, ostium terbuka 2 cm , teraba jaringan Abortus inkomplit jika dilakukan pemeriksaan vagina didapatkan: Kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jarngan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum USG didapatkan:
Tampak massa hiperechoic dgn ukuran 7,2 x 3,6 cm Kesan : Sisa Hasil konsepsi pada abortus inkomplit jika dilakukan pemeriksaan USG: Di kavum uteri akan tampak

massa hiperechoic yang bentuknya tidak beraturan.

Berdasarkan teori penyebab abortus secara garis besar terbagi menjadi tiga berdasarkan faktor maternal, factor paternal dan faktor hasil konsepsi pada pasien ini penyebabnya pastinya masih perlu di cari. Dari faktor konsepsi: bisa berupa kelainan kromosom, dari beberapa penelitian tamapak bahwa 50-60% dari abortus dini spontan berhubungan dengan anomali kromosom pada saat konsepsi dikenal sebagai abortus aneuploidi lebih sering pada kehamilan dini yaitu kurang dari 8 minggu

Faktor maternal : infeksi, usia ibu dan riwayat multiparitas. Pada pasien ini didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium, berupa lekositosis (21.600 ), usia ibu 44 thn (resiko terjadi abortus aneuploidi dgn usia > 35 thn). Gangguan endokrin yang sering menjadi penyebab pada abortus yaitu gangguan hormon tiroid, baik hipotiroid maupun hipertiroid pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan tanda-tanda manifestasi dari kedua kelainan tersebut, namun perlu diperhatikan adanya gangguan tiroid laten yaitu tidak adanya gejala klinis, oleh karena itu perlu dianjurkan pemeriksaan kadar T3,T4, TSH dalam darah, Diabetes Mellitus juga tidak ditemukan pada pasien ini karna berdasarkan hasil pemeriksaan GDS pasien adalah 96 mg/dl dan masih dalam batas normal.

Pada kasus abortus, selain memperhatikan perdarahannya, perlu dicari penyebab pasti terjadinya abortus pada pasien dan menentukan sikap dalam penanganan selanjutnya. Pemeriksaan penunjang selanjutnya yang dapat dilakukan antara lain : - Pemeriksaan golongan darah dan skrining antibody - Pemeriksaan kadar progesteron serum - Fibrinogen dan faktor- faktor pembekuan. - Pemeriksaan TSH, T3,T4

Berdasarkan keluhan utama pasien berupa perdarahan pervaginam, pada kehamilan kurang dari 20 minggu, selain abortus perlu juga dicurigai adanya mola hidatidosa sebagai diagnosis banding. Setelah dilakukan pemeriksaan USG transabdominal didapatkan bahwa hasil konsepsi berada dalam kavum uteri dengan kesan abortus inkomplit sehingga diagnosis banding mola hidatidosa dapat disingkirkan mola hidatidosa gambaran USG akan tampak gambaran khas badai salju (snow flake

Kesimpulan
Penegakkan diagnosis abortus didapatkan dari data sebagai berikut: Dari anamnesis dimana keluhan utama pada abortus adalah perdarahan pervaginam pada pasien ini, Ny. S 44 tahun datang dengan keluhan perdarahan pervaginam Dari pemeriksaan fisik didapatkan Pemeriksaan dalam (VT): Portio Kenyal, ostium terbuka 2 cm , teraba jaringan

Berdasarkan teori penyebab abortus secara garis besar terbagi menjadi tiga berdasarkan faktor maternal, factor paternal dan faktor hasil konsepsi . pada pasien ini penyebabnya pastinya masih perlu di cari Setelah dilakukan pemeriksaan USG transabdominal didapatkan bahwa hasil konsepsi berada dalam kavum uteri dengan kesan abortus inkomplit sehingga diagnosis banding mola hidatidosa dapat disingkirkan. Penanganan untuk abortus inkomplit dengan dilakukannya tindakan kuretase sudah sesuai dengan yang seharusnya dilakukan. Pada pasien ini diberikan antibiotik sebagai profilaksis dan mengatasi leukositosis yang dicurigai adanya infeksi pada ibu, dan pemberian metergin untuk membantu kontraksi uterus, bertujuan untuk menghentikan perdarahan.