Вы находитесь на странице: 1из 6

CARA MENENTUKAN USIA FOSIL

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Evolusi yang dibimbing oleh Bapak Dr. Abdul Ghofur, M. Si dan Ibu Siti Imroatul Maslikah, S. Si, M. Si

Oleh : Offering A Dyah Afiat Mardikaningtyas ( 100341400675)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Januari 2013

CARA MENENTUKAN USIA SUATU FOSIL DALAM SUATU ILMU ARKEOLOGI

Penemuan-penemuan arkeologi di seantero dunia telah membantu para ilmuwan untuk meneliti kisah evolusi manusia dan migrasi manusia.Bagian yang cukup penting adalah penelitian usia fosil dan artefak.Namun bagaimana ilmuwan menentukan usia dari mereka..?.Ada beberapa metode yang dipergunakan yang akan dibahas berikut ini : 1. Metode : Penanggalan Radiokarbon ( Mengukur usia hingga 14.300 tahun ) Suatu ketika arkeolog menemukan tulang belulang, sisa-sisa tanaman dan kotoran-kotoran yang telah memfosil. DNA yang tersisa menunjukkan mereka berasal dari manusia tetapi tidak diketahui usia mereka. Untuk itu, para ilmuwan melihat ke karbon yang terkandung dalam kotoran kuno tersebut. Menurut definisi, setiap atom dari elemen tertentu memiliki sejumlah tertentu proton pada intinya. Misal nya unsur karbon memiliki enam proton, tetapi jumlah neutron dalam inti dapat bervariasi. Iniberbeda dengan bentuk elemen yang disebut isotop secara inheren bisa stabil atau tidak stabil. Yang tidak stabil disebut isotop radioaktif, dan dari waktu ke waktu mereka akan membusuk, membentukpartikel (neutron atau proton) dan energi (radiasi) karena itu berubah menjadi isotop atau elemen lain. Mereka melakukan ini dengan laju yang konstan disebut isotop setengah-hidup (half life). Kebanyakan unsur karbon berada dalam bentuk stabil karbon-12 (12C)- (enam proton, enam neutron) atau karbon-13(13C),, namun sejumlah yang sangat kecil (sekitar 0,0000000001%) ada sebagai radioaktif karbon-14(14C)-(enam proton, delapan netron). Tumbuhan hidup dan hewan terdiri dari 14C bersama dengan isotop karbon lainnya, tetapi ketika mereka mati dan fungsi metabolis mereka berhenti, mereka berhenti menyerap karbon. Seiring dengan itu, 14C meluruh menjadi nitrogen-14(14N); setengahnya akan terjadi setelah sekitar 5730 tahun (ini adalah isotop yang setengahhidup), setelah sekitar 60.000 tahun, semua 14C akan hilang. Segala sesuatu yang suatu ketika dulu merupakan bagian dari obyek kehidupan seperti arang,kayu, tulang, tepung sari atau kotoran yang memfosil (coprolites) yang ditemukan dapat dikirim kelaboratorium, dimana para ilmuwan dapat mengukur berapa

banyak 14C yang masih tersisa. Karena mereka mengetahui berapa banyak yang ada di atmosfer dan, oleh karena itu, berapa banyak seseorang telah menyerapnya selama hidupnya. Sehingga mereka bisa menghitung berapa lama telah mati atau dari banyaknya pengendapan. Coprolite rata-rata berumur sekitar 14.300 tahun, tapi ada juga yang berusia lebih dari itu. Penanggalan Karbon telah dikembangkan oleh ilmuwan Amerika Willard Libby dan teamnya di Universitas Chicago pada 1962, yang berhasil mengkalkulasi lebih akurat 5730 dengan +/- 40 tahun (Libby half-life). 2. Metode : Penanggalan Argon-Argon ( Mengukur usia kira-kira 154.000 s/d 160.000 tahun ) Metode penanggalan Radiokarbon bekerja dengan baik untuk beberapa penemuan arkeologi, namun memiliki keterbatasan, sampai saat ini hanya dapat digunakan untuk mengukur usia bahan organik kurang dari sekitar 60.000 tahun. Namun, ada isotop radioaktif lain yang dapat digunakan untuk mengukur usia bahan non-organik (seperti batu) dan bahan-bahan yang lebih tua (sampai miliarantahun). Salah satu dari radioisotop ini adalah adalah kalium- 40, yang dapat ditemukan di batuan vulkanik. Setelah batu vulkanik mendingin, kalium- 40(40K) akan meluruh menjadi argon-40(40Ar) dengan waktu paruh 1,25 miliar tahun. Dengan ratio ini memungkinkan untuk mengukur rasio 14K terhadap 40Ar,dengan ini dapat diperkirakan umur batu tersebut, tetapi metode ini kadang kurang tepat. Namun, pada 1960 para ilmuwan menemukan satu cara bahwa jika sampel batu tersebut disinari dengan neutron, maka terjadi 40K berubah menjadi Argon- 39(39Ar), sebuah isotop tidak mudah ditemukan di-alam tapi lebih mudah untuk diukur. Walaupun lebih rumit, proses ini menghasilkan pengukuran usia yang lebihtepat. Sebagai contoh, para ilmuwan dari Universitas California di Berkeley mampu mengukur usiasampel batuan dari letusan tahun 79M dari gunung berapi Vesuvius, letusan yang terjadi dalam kurun waktu 7 tahunan. Ketika pada tahun 1997 mereka menemukan peralatan dari batu, dan fosil sisa-sisabeberapa jenis hewan, termasuk kuda nil, dan tiga tengkorak hominid, yang tidak dapat diukur dengan14C karena usianya terlalu tua. Karena tengkorak Hominid dan artefak yang ditemukan di Herto tidak dapat diukur usianya secara langsung karena bahan-bahan organiknya telah lama memfosil menjadi batu. Maka para ilmuwan meneliti batuan-batuan dan pasir vulkanik yang menempel dan

mengubur fossil tersebut. Hasil pengukuran batuan ini menunjukkan usia sekitar 154.000 sampai dengan 160.000 tahun, dengan demikian tengkorak tersebut dapat disimpulkan berusia sekitar tahun yang sama, sehingga Homo Sapien ini dapat dianggap yang tertua yang telah ditemukan selama ini. 3. Metode : Penanggalan Termoluminisen/Thermoluminescence ( Mengukur usia lebih dari 77.000 tahun ) Seperti dalam Penanggalan Argon-Argon, metode penanggalan Termoluminisen ini dialakukan dengan cara sampel dipanasi dengan suhu tinggi, kemudian dihitung/diamati mulai dari sejak mula dipanasi. Dengan pemanasan suhu ekstrim tinggi menyebabkan sebagian elektron yang terdapat pada kristal tertentu seperti kuarsa dan felspar dalam batuan tereliminir, sedang seiring dengan lepasnya elektron tersebut maka dapat ditemukan jumlah jejak atom radioaktif yang ditemukan dilingkungannya. Dengan cara memanasi ulang batuan tersebut ilmuwan dapat melepaskan energi yang tersimpan, yang berupa pelepasan sebekas cahaya, ini yang dinamakan Termoluminisen. Intensitas cahaya menunjukan Intensitas cahaya menunjukkan berapa lama batuan tersebut sejak terakhir telah dipanaskan. Seperti tengkorak Herto, berhubung batuan pada ukiran di goa Blombos tidak dapat langsung ditentukan. Maka lapisan batuan yang sama pada bagian ukiran dipanaskan, sehingga didapati Penanggalan Termoluminisen yang menunjukan usia yang sama dengan bagian yang lainnya. Dimana hasil pemanasan tersebut menunjukkan usia sekitar 77.000 tahun. Sehingga dapat dikatakan ukiran tersebut merupakan temuan yang berusia tertua selama ini. Begitu seekor organisme hidup mati, ia berhenti memproduksi karbon baru. Perbandingan carbon-12 dengan carbon-14 di saat kematian sama untuk setiap mahluk hidup, namun carbon- 14 meluruh dan tidak tergantikan. Peluruhan carbon-14 memiliki waktu paruh 5.700 tahun, sementara jumlah carbon-12 tetap dalam sampel. Dengan melihat eprbandingan carbon-12 dengan carbon-14 pada sampel dan membandingkannya dengan perbandingan dalam organisme hidup, adalah mungkin menentukan usia mahluk yang dulunya hidup ini dengan cukup teliti. Rumus untuk menghitung berapa tua sebuah sampel dengan penanggalan carbon14 adalah : t = [ ln (Nf/No) / (-0.693) ] x t1/2

Dimana ln : logaritma natural, dalam jaringan hidup, t1/2 : waktu paruh carbon-14 (5.700 tahun). Nf/No : persentase carbon-14 dalam sampel dibandingkan dengan jumlahnya

Jadi, bila anda menemukan fosil dengan 10 persen carbon-14 dibandingkan sampel hidup, maka fosil itu akan berusia t = [ ln (0.10) / (-0.693) ] x 5,700 tahun t = [ (-2.303) / (-0.693) ] x 5,700 tahun t = [ 3.323 ] x 5,700 tahun t = 18,940 tahun

Karena waktu paruh carbon-14 5.700 tahun, ia hanya sah untuk penentuan usia benda hingga 60.000 tahun. Walau demikian, prinsip carbon-14 berlaku pada isotop lainnya pula. Potassium- 40 adalah unsur radioaktif lainnya yang alami ditemukan dalam tubuh anda dan memiliki waktu paruh 1,3 miliar tahun. Radioisotop lainnya yang berguna untuk penanggalan radioaktif termasuk Uranium-235 (waktu paruh = 704 juta tahun), Uranium-238 (Waktu paruh = 4,5 miliar tahun), Thorium-232 (waktu paruh = 14 miliar tahun) dan Rubidium-87 (waktu paruh = 49 miliar tahun).

DAFTAR RUJUKAN

Anonim, 2012. Cara Mengukur Usia Artefak Dan Fosil Dalam Ilmu Arkeologi, (Online) http://www.scribd.com/doc/108967831/Cara-Mengukur-UsiaArtefak-Dan-Fosil-Dalam-Ilmu-Arkeologi, diakses tanggal 23 Januari 2013 Damayanti, Desy, dkk. 2010. Pemanfaatan Radioktivitas Dalam Menentukan Umur Fosil. (online) http://www.scribd.com/doc/117438992/radioaktivitasdalam-fosil, diakses tanggal 23 Januari 2013