You are on page 1of 12

PENINGKATAN BERPIKIR KRITIS DAN CINTA LINGKUNGAN TEKNIK SCAFFOLDING DI LABORATORIUM ALAM MATERI GEOMETRI Ema Butsi Prihastari1),

Sukestiyarno2), Masrukan3) 1) Program Studi Pendidikan Matematika PPs UNNES Kampus Bedan Ngisor Semarang 50233, e-mail: butsinegara@gmail.com Abstract. The characters are memorable cause only education-oriented intellectual abilities and skills such as critical thinking is lacking, but it is useful in order to establish the character of the material geometry and problem solving grade V. In fact, teachers do not use the device that guides the learning towards that goal. Therefore, efforts to develop a valid mathematical learning tools, practis, and effective which refers to a laboratory model of Plomp in nature with the goal of improving critical thinking skills and character loving environment. Subjects are class VB in Nature School Ar-Ridho Semarang as many as 22 students. Analysis of data used is the average, proportion test, multiple regression, and n-gain test. The development of learning outcomes as follows: (1) valid, (2) practis, (3) effective learning is shown by (a) the completion of learning, b) love the character of the environment and critical thinking skills together positive influence on the ability to critical thinking amount 74,2%, (4) an increase in implementation design telling formation love the character environment and critical thinking skills subjects purposive sampling in heterogeneous with scaffolding techniques in a natural laboratory. Keyword: critical thingking; love environment; natural laboratory Abstrak. Karakter yang terlupakan menyebabkan pendidikan hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual seperti kemampuan dan keterampilan berpikir kritis yang kurang, padahal hal ini berguna dalam rangka pembentukan karakter dan pemecahan masalah materi geometri siswa kelas V. Kenyataannya, guru belum menggunakan perangkat pembelajaran yang memandu kearah tujuan tersebut. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika yang valid, praktis, dan efektif yang mengacu pada model Plomp di laboratorium alam dengan tujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter cinta lingkungan. Subyek penelitian siswa kelas VB Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang sebanyak 22 siswa. Analisis data yang digunakan adalah rata-rata skor, uji proporsi, uji regresi ganda, dan uji n-gain. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran sebagai berikut: (1) perangkat valid, (2) perangkat praktis, (3) pembelajaran efektif ditunjukkan dengan (a) pembelajaran tuntas, b) karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis sebesar 74,2%, (4) peningkatan pembelajaran yang dirancang berdampak pada pembentukan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritissubyek terpilih dalam kelompok heterogen dengan teknik scaffolding di laboratorium alam. Kata kunci: berpikir kritis; cinta lingkungan; laboratorium alam PENDAHULUAN Pentingnya pendidikan karakter di sekolah yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Nasional, menuntut guru menyusun rencana pembelajaran, dengan mewajibkan penambahan pengembangan karakter siswa di dalam silabus dan RPP (Pusat Kurikulum, 2010). Pembentukan karakter terlupakan dikarenakan pendidikan hanya berorientasi pada

kecerdasan intelektual. Kekeliruan tersebut terjawab dengan lahirnya sekolah berbasis karakter. Aspek terbentuknya karakter seiring dengan perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak. Perkembangan kognitif anak dilihat dalam perubahan dan keseimbangan pola pikir, afektif dari tingkah laku, sedangkan psikomotor dari keterampilan dalam mengerjakan sesuatu (Winkel, 2009). Pendidikan matematika diharapkan menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari pengetahuan tentang diri sendiri, alam sekitarnya, serta prospek pengembangan karakter dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Anak bisa membedakan baik dan buruk, bahkan anak bisa mengambil tindakan dari permasalahan yang ada dan menjadi bekal dalam kehidupan ke depannya (Kemendiknas, 2010). Materi geometri di kelas V ditekankan pada bentuk-bentuk bidang dan bangun, untuk mempelajarinya siswa diajak pada setting konkrit karena tidak mudah mengajak siswa menyelesaikan masalah yang didasarkan logika. Siswa sekolah dasar (berkisar 7-11 tahun) menurut Piaget seperti yang disampaikan Tim MKPBM (2001) termasuk dalam kategori operasional konkret, yaitu permulaan berpikir rasional, membuat keputusan secara logis, dan menggunakan pengalaman belajarnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas VI, guru matematika kelas V dan pengamatan di sekolah alam Ar-Ridho Semarang saat di kelas, kemampuan berpikir kritis untuk tema geometri dilihat dari hasil belajar siswa belum memuaskan, antara lain: 1) sebagian besar siswa dalam materi sifat-sifat bangun kesulitan dalam menentukan karakteristik bangun karena alat peraga yang kurang bervariatif ketika di kelas, 2) kebingungan dalam menentukan rumus yang akan digunakan, 3) kesempatan siswa untuk bertanya dan menyimpulkan berkurang atau tidak merata antara siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, karena waktu yang tidak efektif, dan 4) siswa kemampuan rendah langsung menyatakan sulit, pusing ketika guru akan memulai pembelajaran geometri. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Bikmaz, et al (2010), guru kelas V memilih melakukan tes geometri karena kebanyakan siswa melakukan kekeliruan dalam menyelesaikan masalah. Menurut Amir (Nebula, 2010),untuk meningkatkan belajar matematika diperlukan penyampaian yang menyenangkan, siswa merasa bisa, dan diberikan kebebasan. Peningkatan kemampuan dan keterampilan berpikir kritis perlu didukung dengan pengembangan pembelajaran yang kontekstual. Blancard (2001) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual identik dengan lingkungan sekitar tempat belajar atau mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi nyata yang memotivasi untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya. Sekolah alam menjadi alternatif pendidikan di

Indonesia yang akan membawa sistem pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Sistem pembelajaran di alam menginspirasi peneliti untuk mengembangkannya menjadi laboratorium alam karena memungkinkan peneliti untuk menyelediki faktor yang ada pada situasi dan faktor individu yang mempengaruhi pembelajaran (Hill, 2012). Lingkungan alam menjadi terobosan dari kebutuhan sistem pendidikan yang berjalan selama ini, tanpa mengesampingkan sekolah regular yang ada (Kompasiana, 2012). Siswa akan dihadapkan pada berbagai masalah untuk dipecahkan, penggunaan pengalaman, dan secara tidak langsung akan menimbulkan kepekaan diri pada lingkungan sehingga budaya cinta lingkungan dapat berkembang dan terbentuk. Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media utama dalam laboratorium alam akan mendorong pada penghayatan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan karakter cinta lingkungan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di lokasi penelitian dengan kepala sekolah alam Ar-Ridho menyatakan bahwa sekolah belum memiliki alat evaluasi dan perangkat pembelajaran untuk kolaborasi kurikulum alam dan nasional khususnya dalam pembelajaran matematika, sehingga kesulitan untuk menilai karakter secara tepat. Kenyataan tersebut membutuhkan perhatian dan bimbingan guru untuk menyusun perangkat pembelajaran yang valid, praktis dan efektif (Nieveen, 1999) sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini akan menguji coba suatu perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dengan teknik scaffolding untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter cinta lingkungan siswa. Perangkat pembelajaran ini pada dasarnya menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari laboratorium alam. Siswa membentuk pengetahuan dari lingkungan, yaitu dari apa yang mereka ketahui dan bukan duplikasi dari apa yang mereka temukan. Menurut Vygotsky hal tersebut dikarenakan adanya konsep Zone of Proximal Development dan scaffolding yang berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Scaffoldingialah arah jembatan yang digunakan untuk menghubungkan apa yang sudah diketahui dengan sesuatu yang baru akan diketahui (Amiripour, 2012). Mengacu pada pemberian bantuan yang diberikan teman sebaya atau orang dewasa yang lebih kompenten, selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Bikmaz, et al, 2010). Penggunaan kelompok kecil yang terdiri dari dua sampai delapan siswa (Winkel, 2009) akan efektif dan memudahkan siswa saling bertukar ide dan saling memunculkan strategi-strategi dalam memecahkan masalah yang efektif dalam ZPD mereka.Kelompok kecil tersebut akan diatur oleh guru (Winkel, 2009), yaitu kelompok yang beranggotakan heterogen dari segi

kemampuan (tinggi, sedang, rendah) yang akan berfungsi dalam kerjasama. Jadi, akan memaksimalkan kondisi dan tujuan belajar sebab akan ada perbedaaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pembelajaran matematika teknik scaffolding dengan model cooperative learning di laboratorium alam untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan karakter cinta lingkungan pada materi geometri kelas V yang efektif dengan perangkat pembelajaran yang valid dan praktis.

METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan secara kualitatif (Putra, 2012) yaitu pengembangan perangkat pembelajaran matematika teknik scaffolding di laboratorium alam untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi geometri siswa kelas V sebanyak 1 kelas.Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi: silabus, RPP, buku siswa, lembar pengamatan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis,

keterlaksanaan RPP, respon teman sejawat, respon siswa serta tes kemampun berpikir kritis. Pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan pendidikan umum dari Plomp. Model yang dikemukakan Plomp (2007) terdiri dari lima tahap yaitu: (1) investigasi awal, (2) perancangan, (3) realisasi/konstruksi, (4) tes, evaluasi, dan revisi, (5) implementasi. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri atassilabus, RPP, buku siswa, tes kemampuan berpikir kritis, lembar pengamatan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis, lembar pengamatan keterlaksanaan RPP, angket teman sejawat dan respon siswa, serta pedoman wawancara yang masing-masing divalidasi berdasarkan lembar validasi perangkat pembelajaran. Teknik pengambilan sampel penelitian secara purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009) untuk menentukan kelompok heterogen yang akan diamati secara mendalam.Varibel penelitian yang diukur, yaitu variabel independen: karakter cinta lingkungan (X1) dan keterampilan berpikir kritis (X2) serta variabel independen: kemampuan berpikir kritis (Y). Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tes, observasi, wawancara, dokumentasi, angket, dan analisis data. Analisis data validitas perangkat yaitu data hasil penilaian para ahli untuk setiap aspek dari setiap perangkat yang dikembangkan dianalisis berdasarkan rerata skor dengn rentang skor 1-5. Rerata skor penilaian validator dihitung dengan cara rerata jumlah skor perangkat pembelajaran dibagi dengan banyaknya aspek penilaian perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajarandikatakan valid jika mendapat kategori minimal penilaian baik. Analisis tes

kemampuan berpikir kritis adalah soal bentuk uraian yang mengacu pada kriteria kemampuan berpikir kritis Ennis (1985), yaitu memberi penjelasan, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut, dan menggunakan strategi dan taktik yang akan dianalisis validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal, kemudian dipilih soal yang reliabel, valid, sedang atau sukar, dan signifikan. Analisis pengamatan didasarkan pada rubrik penilaian kemudian hasilnya dirata-rata dan dibandingkan dengan kriteria dari pertemuan pertama hingga pertemuan kelima. Analisis data kepraktisan yang digunakan adalah analisis data keterlaksanaan RPP, respon teman sejawat, dan respon siswa terhadap pembelajaran. Analisis keterlaksanaan RPP dan respon teman sejawat dihitung dengan rerata skor dari tiap aspek dengan kriteria minimal baik. Analisis data respon siswa terhadap proses pembelajaran yang digunakan adalah analisis persentase. Persentase tiap respons positif dihitung dengan cara jumlah respon positif tiap aspek yang muncul dibagi dengan jumlah seluruh siswa dikalikan dengan 100%. Respon siswa dikategorikan positif jika rata-rata persentase respon siswa yang diperoleh lebih dari 75%. Analisis uji keefektifan uji awal yang harus dilakukan adalah uji normalitas data yang bertujuan untuk mengetahui apakah data keadaan awal sampel berdistribusi normal atau tidak. Penerimaan Ho dengan menggunakan signifikansi yang diperoleh dari kolom Kolmogorof-Smirnov program SPSS yaitu jika nilai Sig > 5%. Dilanjutkan dengan menguji ketuntasan siswa dengan uji proporsi satu pihak. Hasil ketuntasan didapat yaitu, H0 diterima jika z hitung z ( 1 ) dengan =5% dan kriteria proporsi 75%.
2

Analisis uji regresi ganda dalam penelitian ini menggunakan program SPSS. H0 ditolak jika nilai sig < 5%. Untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel X1 dan X2 terhadap Y dapat dilihat dari nilai R square (Sukestiyarno, 2011). Untuk mengetahui peningkatan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis siswa pada kelas uji coba perangkat dikatakan meningkat jika hasil normalitas gain (Hake,1998) ada pada kriteria sedang berdasarkan nilai di setiap pertemuannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Validator memberikan masukan agar perangkat yang dikembangkan direvisi. Saran dari validator dianalisis untuk diadakan perbaikan. Hasil perbaikan perangkat diberikan kembali kepada validator untuk diberikan penilaian ulang, jika belum valid maka dilakukan

revisi kembali, dan seterusnya hingga diperoleh perangkat pembelajaran yang valid menurut ahli dan menghasilkan draf 2. Hasil penilaian secara umum oleh validator terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran No Perangkat Silabus RPP Buku Siswa Tes KBK L.P. karakter cinta lingkungan 6 L.P keterampilan berpikir kritis 7 8 9 L.keterlaksanaan RPP Respon teman sejawat Respon siswa Nilai Rata-Rata V1 4,1 4,3 4,1 4,7 4,7 V2 4,6 4,8 4 4,7 4,7 V3 4,2 4,4 4 4,3 4,2 V4 4,7 4,6 4,8 4,6 4,8 V5 4,8 4,8 4,8 4,7 4,8 RataRata 4,44 4,54 4,32 4,46 4,5 Kriteria

1 2 3 4 5

Sangat baik

4 4,2 4 4

4,6 5 4,8 4,6

4,1 4,2 4,2 4,2

4,1 4,8 4,6 4,6

5 5 4,8 4,8

4,38 4,6 4,48 4,44

Berdasarkan Tabel 1 hasil validasi ahli terhadap perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan mempunyai rata-ratadengan klasifikasi baik dan sangat baik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, maka dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid. Perangkat pembelajaran dikatakan praktis apabila memenuhi: (1) keterlaksanaan RPP minimal baik, (2) respon teman sejawat minimal baik, dan (3) respon siswa dalam pembelajaran positif. Rerata hasil skor pengamatan keterlaksanaan RPP sebesar 3,82. Jadi, keterlaksanaan RPP yang dilaksanakan guru termasuk kategori baik. Hasil rerata skor dari pengisian angket respon teman sejawatadalah 4,4. Jadi, respon teman sejawat terhadap perangkat pembelajaran dalam kategori sangat baik dan hasil pengisian angket respon siswa yang diprosentase menyatakan bahwa 87% siswa memberikan respon positif, dengan kata lain siswa memberikan respon positif lebih dari 75%, maka dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon positif dan baik untuk pembelajaran menggunakan teknik scaffolding dengan model cooperative learning pada materi geometri.

Pembelajaran dikatakan efektif, jika tujuan yang diharapkan dari pengembangan perangkat minimal mencapai kategori efektif yaitu: (1) pembelajaran tuntas, (2) ada pengaruh positif antara karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa (3) peningkatan pembelajaran yang dirancang berdampak pada pembentukan karakter dan keterampilan berpikir kritis dengan hasil minimal kategori sedang. Uji ketuntasan siswa digunakan uji proporsi satu pihak dengan menggunakan uji proporsi yang telah disebutkan di atas maka diperoleh hasil perhitungannya pada Tabel 2 sebagai berikut. Tabel 2. Hasil Uji Ketuntasan Siswa Kelas Eksperimen N 22 Persentase ketuntasan () 91 % zhitung 1,724 ztabel 1,64

Tolak Ho jika zhitung> ztabel. Pada kelas eksperimen didapatkan zhitung yaitu1,724 dan ztabel yaitu 1,64 dengan tingkat kesalahan 5% maka H0 ditolak, sehingga bisa disimpulkan bahwa proporsi siswa pada kelas eksperimen yang mencapai KKM 75 telah melampaui 75%. Untuk uji pengaruh, variabel bebas dalam penelitian ini adalah karakter cinta lingkungan (X1) dan keterampilan berpikir kritis (X2), sedangkan variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis (Y). Data tentang karakter cinta lingkungan dan data keterampilan berpikir kritis diambil dari hasil pengamatan yang direkam dalam lembar pengamatan. Data kemampuan berpikir kritis diambil melalui TKBK yang dilaksanakan pada akhir pertemuan. Predictors: (Constant) KCL KBK KCL,KBK Tabel 3. Rekapitulasi Model Summary Adjusted R Std. Error of R R Square Square the Estimate a .742 .551 .529 4.596 a .797 .634 .616 4.147 a .861 .742 .714 3.578

Model 1 1 1

Berdasarkan Tabel 3 data pengaruh karakter cinta lingkungan terhadap kemampuan berpikir kritis pada Tabel 3 diperoleh R Square= 0,551 = 55,1%. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh karakter cinta lingkungan siswa sebesar 55,1% dan 44,9% dipengaruhi faktor lain. Pengaruh keterampilan berpikir kritis terhadap kemampuan berpikir kritis diperoleh R Square= 0,634 = 63,4%. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh keaktifan siswa sebesar 63,4% dan 36,6% dipengaruhi oleh faktor lain serta diperolehnya R Square = 0,741, yang berarti kedua variabel karakter cinta lingkungan dan

keterampilan berpikir kritis berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel kemampuan berpikir kritis sebesar 74,2 %, dan sisanya 25,8 % dipengaruhi oleh faktor yang lain. Uji peningkatan dilakukan dengan pengamatan, dokumentasi, dan wawancara terhadap satu kelompok heterogen terpilih yang terdiri dari 1 siswa tinggi (S1), 2 siswa sedang (S2 dan S3), 1 siswa rendah (S4) di luar jam pelajaran. Berikut cuplikan wawancara analisis awal terhadap S3 untuk karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis. P : senang belajar di lingkungan alam? S2 : senang sekali (sambil tersenyum) P :kalau ada jadual piket, melaksanakan tidak ? S2 : tentu melaksanakan kalau ingat,Bu. Tapi, saya sering piket P : ketika jam makan siang cuci tangan dulu atau langsung makan? S2 : nggak Bu, tempatnya jauh kadang antri (aspek KCL) P : Ibu punya pertanyaan, coba lihat dua buah gambar yang Ibu tunjukkan. Coba gambar apakah itu

S3 : segitiga P : apa nama masing-masing segitiga itu S3 : apa ya? P : coba diingat-ingat S3 : lupa (aspek KBK)

Gambar

Gambar 1. Hasil identifikasi awal S3

Hasil wawancara aspek psikomotor S3 siswa tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti sehingga siswa masih tergolong rendah dalam mengolah keterampilan berpikir kritisnya, siswa hanya terampil dalam memprediksi. Uji peningkatan karakter cinta lingkungan subyek terpilih didasarkan pada 3 aspek yang dimodifikasi menurut Sutjipto (2010), yaitu kegiatan di dalam kelas, di laboratorium, dan di luar kelas. Peneliti bandingkan seperti pada Grafik 1.

KCL Subyek Penelitian


5 skor pengamatan 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 pertemuan tinggi sedang 1 sedang 2 rendah

Grafik 1. Perbandingan Skor Pengamatan KCL Subyek Penelitian Perbandingan pada Grafik 1 menyatakan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan lebih cocok digunakan pada siswa dengan tingkat kemampuan sedang dikarenakan peningkatan yang lebih signifikan dan subyek terpilih mengalami peningkatan dengan kategori sedang sebesar 0,41. Dibuktikan dengan kegiatan siswa berkemampuan sedang selama pembelajaran diantara seperti Gambar 2.

Gambar 2. S3 sedang membuang sampah saat indoor laboratorium alam Uji peningkatan terhadap keterampilan berpikir kritis subyek terpilih didasarkan pada kriteria keterampilan berpikir kritis menurut Kneedler (1985), yaitu mengidentifikasi dan mengklarifikasi masalah, menilai informasi d masalah, dan pemecahan masalah atau gambaran kesimpulan. Peneliti bandingkan dan hasilnya seperi Grafik 2.

KBK Subyek Penelitian


6 skor pengamatan 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 pertemuan tinggi sedang 1 sedang 2 rendah

Grafik 2. Perbandingan Skor Pengamatan KBK Subyek Penelitian Perbandingan pada Grafik 2 menyatakan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan lebih cocok digunakan pada siswa dengan tingkat kemampuan sedang dikarenakan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa terlihat meningkat signifikan dan subyek terpilih mengalami peningkatan dengan kategori sedang sebesar 0,43. Bukti peningkatan KBK siswa berkemampuan sedang dalam pembelajaran seperti Gambar 3 dan Gambar 4.

Gambar 3. S3 terampil menggunakan jangka pada pertemuan II

Gambar 4. Cuplikan hasil tes individu S3 pertemuan I Siswa berkemampuan sedang dengan analisis awal yang belum peduli dengan lingkungan dan belum terampil dalam soal geometri, setelah pembelajaran dengan perangkat yang dikembangkan sudah meningkat.

SIMPULAN Pengembangan perangkat pembelajaran matematikateknik scaffolding di

laboratorium alam materi geometri kelas V yang dikembangkan dalam penelitian ini telah dinyatakan valid setelah mendapatkan validasi dari tim ahli dan teman sejawat. Perangkat tersebut juga secara praktis dimana keterlaksanaan RPP baik, respon teman sejawat sangat baik, dan siswa memberikan respon positif sebesar 87%. Hasil analisis terhadap keefektifan pembelajaran tersebut telah mencapai indikator efektif, yaitu kemampuan pemahaman siswa kelas eksperimen mencapai ketuntasan dengan melampaui 75 sebagai KKM dan proporsi 75%.Terdapat pengaruh positif karakter cinta lingkungan terhadap kemampuan berpikir kritissiswa sebesar 55,1%, keterampilan berpikir kritis terhadap kemampuan berpikir kritissiswa sebesar 63,4%, serta karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis secara bersama-sama terhadap kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 74,2%, terjadi peningkatan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada subyek terpilih dan ditemukan bahwa perangkat pembelajaran cocok digunakan khususnya pada tingkat kemampuan sedang dengan kategori peningkatan sedang. Dari hasil penelitian pengembangan menggunakan teknik scaffolding di aboratorium alam materi geometri kelas V, peneliti dapat memberikan saran yaitu perangkat pembelajaran dalam penelitian ini dapat digunakan guru sebagai alternatif dalam proses pembelajaran karena perangkat pembelajaran telah valid, praktis, dan terbukti efektif, karena mampu membentuk dan meningkatkan karakter cinta lingkungan dan keterampilan berpikir kritis sehingga siswa tuntas dan cocok digunakan pada siswa dengan tingkat kemampuan sedang. DAFTAR PUSTAKA Amiripour, P. 2012. Scaffolding as Effective Method for Mathematical Learning. Indian Journal of Science and Technology. Volume 5 No. 9. Bikmaz, et al. 2010. Scaffolding Strategies Applied by Student Teachers to Teach Mathematics. The International Journal of Research in Teacher Education. No. 1 (Special Issue): Ankara University. Hal. 25-36. Blancard, A. 2001. Contextual Teaching and Learning.B.E.S.T:USA http://coe.csusb.edu/faculty/scarcella/siu463/Contextual%20Learning.htm Ennis, R. H. 1985. Goal Critical Thingking Curriculum. Dalam Costa, A.L. (Ed): Developing Minds: Resource Book for Teaching Thingking. Alexandria, Virginia: Association For Suvervision and Curriculum Developing (ASCD). Hal. 63-65

Hake, R. R. 1998. Interactive-Engagement Versus Traditional Methods A Six-ThousandStudent Survey of Mechanics Test Data for Introductory Physics Courses. American Journal Physics. 61 (1) Hill, W. 2012. Theories of Learning. Bandung: Nusamedia. Kompasiana. 2012. Melongok Keberadaan Sekolah Alam26 Juni. Kemendiknas. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter. Jakarta: Depdiknas. Kneedler, P. 1985. California Assesses Critical Thingking. Dalam Costa, A.L. (Ed): Developing Minds: Resource Book for Teaching Thingking. Alexandria, Virginia: Association For Suvervision and Curriculum Developing (ASCD). Hal. 275-279. Nebula. 2010. Character Building Membangun Bangsa Unggul. No.16. Hal. 16-19. Nieveen. 1999. Prototyping to Reach Product Quality. In Jan Van den Akker. R.M. Branch, K. Gustafon, N. Nieveen dan Tj. Plomp (Eds) Design Approaches and Tools in Education and Training (pp 125-135). Dordrecht, Netherland : Kluwer Academic Publisher. Plomp, Tjeerd. 2007. An Introduction to Educational Design Research. Proceedings of the Seminar Conducted at the East China Normal University, Shanghai (PR China), November 23-26. Pusat Kurikulum. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Depdiknas Putra, N. 2012. Penelitian Pengembangan:Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persana. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Penerbit ALFABETA. Sukestiyarno. 2011. Olah Data Penelitian Berbantuan SPSS. Semarang. Unnes. Sutjipto. 2010. Rintisan Pengembangan Pendidikan Karakter Di Satuan Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Volume 16 No. 3 Mei. Winkel. 2009. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Penerbit Media Abadi. Tim MKPBM Pendidikan Matematika. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung: JICA-UPI